"'KOSAN ANINDYA'"
Ini kali kedua Pevita datang lagi ke Kosan Anindya, sebuah kos khusus wanita berlantai tiga.
Seminggu yang lalu dia datang untuk melihat-lihat keadaan dan mengecek ketersediaan kamar kosong.
Pevita beruntung, ada beberapa kamar kos yang masih kosong di lantai dua dan lantai tiga.
Ia memilih mem-booking sebuah kamar di lantai dua. Lantai tiga terlalu tinggi, butuh dua kali naik tangga untuk sampai ke sana.
Pevita membayangkan jika bolak-balik naik-turun ke lantai tiga, itu cukup menghabiskan energinya. Ia merasa lantai dua masih lebih mudah dijangkau.
"Hai dek... Yang kemarin booking kamar di lantai dua ya!?" Mbak Sisca, pengelola Kosan Anindya, menyapa Pevita dengan ramah.
"Iyah, mbak. Saya yang datang minggu lalu." Sahut Pevita.
"Iya, iya. Mbak ingat. Ayo, masuk nggih..." Mbak Sisca mempersilahkan Pevita masuk ke dalam sebuah ruangan yang didesain seperti sebuah kantor.
Ada sebuah meja yang cukup lebar dengan sebuah PC dan printer tergeletak di atasnya. Sofa-sofa berwarna biru pastel tertata dengan rapi di dalam ruangan tersebut.
"Silahkan duduk, dek..." Ucap Mbak Sisca.
Pevita menuruti perintah Mbak Sisca. Ia duduk di sofa yang empuk. Mbak Sisca bergegas mengambil buku catatan dan buku kwitansi.
"Pevita ya?" Tanya Mbak Sisca sambil menuliskan nama Pevita di kwitansi.
Pevita menyerahkan sejumlah uang untuk membayar sewa kamar kosannya.
"OK. Ini untuk tiga bulan nggih..." Mbak Sisca menghitung jumlah uang yang dibayarkan oleh Pevita.
Pevita mengangguk sambil tersenyum. Ia langsung membayar untuk tiga bulan karena melihat fasilitas yang ada di Kosan Anindya cukup bagus dan lengkap. Ia juga merasa nyaman dengan suasana dan aura di kosan tersebut.
"Uangnya sudah mbak terima. Terima kasih. Ini kwitansi dan kunci kamarnya. Hanya kita pengelola yang punya kunci serap. Jadi Dek Pevita tidak perlu khawatir ya. Keamanan di sini cukup terjaga. Ada security juga kan di depan." Terang Mbak Sisca.
"Iya, mbak. Sama-sama." Ucap Pevita.
Pevita memang sudah jatuh hati dari awal dengan Kosan Anindya. Salah satunya karena sistem pengamanan yang lengkap. Dua orang security selalu berjaga di pos depan selama 24 jam. Kemudian di setiap sisi bangunan, ada CCTV yang selalu aktif memantau suasana di sekitarnya.
"Siang ini saya masukin barang ya, mbak..." Pevita meminta izin pada Mbak Sisca.
"Ohhh... Nggih... Monggo..." Sahut Mbak Sisca sambil tersenyum lebar.
"Semoga betah di sini..." Lanjut Mbak Sisca sambil ikut mengantar Pevita keluar dari ruangan itu.
*****
Pevita melihat ke sekeliling kamar kosnya yang lama. Dia memastikan sekali lagi tidak ada barang yang tertinggal di sana.
Setelah yakin semua sudah beres, Pevita masuk ke dalam mobilnya dan mulai memandu jalan menuju Kosan Anindya. Sebuah single cabin yang membawa barang-barang mengikutinya dari belakang.
Tidak banyak barang-barang besar yang dibawa. Karena sejak awal ngekos semester lalu, Pevita langsung mencari kamar kos yang sudah menyediakan fasilitas yang cukup lengkap di dalam kamar. Sesuai dengan arahan ibunya. Ia tidak ingin terlalu repot dengan furniture besar ketika pindahan.
Sebenarnya kosnya yang lama cukup nyaman. Namun sejak pipa air sering mengalami kerusakan, anak-anak kos sering kesulitan mendapatkan air bersih. Air yang mengalir dari keran seringkali keruh.
Pemilik kos sering mengabaikan keluhan anak-anak kos. Sehingga satu per satu anak kos mulai pindah. Pevita juga merasa tidak betah. Dia bersyukur sekali bisa menemukan Kosan Anindya tepat waktu. Jadi dia tidak perlu menyambung sewa di kosan yang lama.
Mobil Pevita sudah masuk ke pekarangan Kosan Anindya. Single cabin di belakangnya ikut berhenti. Dua orang laki-laki dengan sigap mengikuti Pevita naik ke lantai dua sambil membawa beberapa barang.
Setelah beberapa kali naik-turun, semua barang Pevita sudah berada di dalam kamarnya yang cukup luas. Ia lalu membayar ongkos pindahan barang tersebut sesuai perjanjian pada kedua laki-laki yang telah membantunya.
"Nice... Tinggal aku dekor dikit, kamar ini bakalan manis!" Ujar Pevita penuh semangat.
Pevita berdiri di depan kamar, dia melihat setiap kamar memiliki balkon kecil di depannya. Hal ini yang paling disukai oleh Pevita. Ini akan menjadi personal space yang nyaman. Apalagi posisi kamar Pevita berada di sudut paling kanan. Sempurna!
"Hai... Baru pindahan ya?" Seorang cewek dengan rambut digulung menyapa Pevita.
"Ehhh... Iyah..." Sahut Pevita sambil tersenyum tipis.
Cewek itu mendekati Pevita dan mengajaknya berkenalan.
"Aku, Niki." Ucap cewek itu ramah.
"Aku, Vita. Pevita." Pevita menyebutkan nama panggilannya.
"Wahhh... Banyak juga yah barang kamu. Hehehe..." Canda Niki.
"Hehehe... Cuma printilan-printilan doang." Sahut Pevita.
"Kamar kamu yang mana?" Tanya Pevita pada Niki.
"Itu tuh... Selang satu kamar di sebelah. Nomor 18." Niki menunjuk letak kamarnya.
"Owhhh... Iya. Ini kosong ya?" Pevita menunjuk kamar yang berbatasan langsung dengan kamarnya, kamar nomor 19.
"Oh... Ga, itu ada orangnya. Itu kamar Sinta." Jawab Niki.
"Dia lagi nginap di rumah sepupunya, ga jauh dari sini. Mungkin besok atau lusa, dia bakal balik." Jelas Niki.
"Owhhh..." Pevita melihat-lihat sekeliling mereka.
"Si Sinta jarang sih nginap di kos. Dia tuh lebih sering nginap di rumah sepupunya. Kalau lagi padat jadwal kuliah aja baru dia nginap di sini." Niki melanjutkan ceritanya tentang Sinta.
"Oh ya...?" Pevita pura-pura bertanya sekedar untuk memberi respon.
"Ho-ohhh... Dia takut di sini. Katanya di sini ada hantu." Niki berbisik pelan.
"Hah... Wahhh... Masa sih?" Pevita sedikit kaget mendengar kata-kata Niki.
"Tahu tuh anak! Emang rada-rada pengecut sih dia! Lebay juga iya! Hehehe..." Ujar Niki santai.
Pevita tersenyum tipis. Setiap kosan pasti punya cerita horor tersendiri. Jadi dia tidak mau ambil pusing dengan sekilas info dari Niki tadi.
Toh, dia merasa suasana di Kosan Anindya ini nyaman. Dia tidak merasakan ada aura yang aneh atau mengerikan di sini.
***BERSAMBUNG***