Seorang anak gadis berambut panjang dikepang, berlari tunggang langgang di tengah kebun jagung. Dia terus berlari dengan napas menderu dan degup jantung abnormal. Anak perempuan berparas cantik itu terus menyibak pohon jagung yang ada di samping kanan dan kirinya dengan napas terengah-engah.
Ia mendengar suara gonggongan anjing dan saat ia menoleh ke belakang, kakinya terantuk batu dan ia langsung terjungkal ke depan dan berguling-guling di atas tanah. Setelah ia jatuh dengan posisi terlentang, ia segera bangun, bangkit berdiri dan kembali berlari tunggang langgang sekencang-kencangnya.
Akhirnya, Nirwana berpihak kepadanya. Ia berhasil sampai di pinggir jalan besar. Saat sinar lampu di jalan mengenai dirinya, ia refleks menundukkan kepalanya dan ai tersentak kaget saat ia meiihat ada pisau berlumuran darah di genggaman tangan kanannya. Dia langsung melemparkan pisau itu ke arah belakang.
Lalu, ia melompat ke tengah jalan begitu saja sambil mengangkat kedua tangannya ke atas dan melambaikannya.
Ckiiiitttt! Sebuah mobil dengan nyala lampu yang sangat terang berhenti tepat di depan anak gadis berkepang itu dan anak gadis berkepang dan mengenakan baju tidur berupa dress panjang berwarna putih lusuh itu, jatuh pingsan.
"Bagaimana keadaannya?" Seorang pria tampan bertanya ke wanita cantik di depannya.
Dokter dengan nametag Indira, menjawab pertanyaan pria tampan itu, "Dia penuh luka. Ada dua luka di pergelangan tangannya dan luka itu luka ikatan. Lalu, yang aneh adalah, ada luka di punggungnya yang masih berdarah. Luka itu membentuk sebuah gambar. Lihatlah sendiri!" Dokter tersebut membuka kancing baju yang ada di punggung anak gadis itu
Pria tampan itu menautkan alisnya saat ia melihat bentuk luka di punggung anak gadis itu. Lalu, ia mengeluarkan ponselnya untuk memfoto luka di punggung anak gadis itu.
Dokter Indira kemudian mengancingkan kembali kancing baju di punggung anak gadis misterius itu.
"Bentuknya aneh. Simbol apa.itu?" Farrel spontan menautkan kedua alisnya dengan bergidik ngeri.
"Iya bentuknya aneh. Cari tahu gambar apa itu?! Aku akan jaga anak ini. Kasihan dia" Sahut Indira.
"Baiklah. Aku pamit dulu untuk mencari tahu gambar apa ini" Farrel Herlambang pamit pulang ke Indira Istrinya dan saat ia hendak mencium kening Istrinya, ia mendengar suara lenguhan.
Farrel spontan menoleh ke arah suara bersamaan dengan istrinya dan mereka berdua melihat, anak gadis yang tergolek lemas di ranjang rumah sakit dengan tubuh penuh luka, sudah sadar.
Anak gadis itu membuka kedua matanya saat ia mendengar ada suara orang tengah bercakap-cakap
Indira tersenyum dan mendekati ranjang dengan berucap lembut, "Kamu sudah bangun? Siapa nama kamu? Kenapa kamu ada di jalan besar semalam? Dan kenapa tubuh kamu........."
Farrel menyentuh pundak Istrinya untuk berkata, "Seharusnya aku yang menanyainya. Aku adalah seorang detektif dan kamu itu seorang dokter psikiater, Sayang"
Indira menoleh ke Farrel dengan senyum lembutnya , lalu menoleh ke anak gadis itu, "Aku adalah dokter yang bertugas mengawasi kesehatan psikologis kamu, anak manis. Namaku dokter Indira. Dan ini adalah suamiku, dia adalah seorang detektif, namanya Farrel. Dan siapa nama kamu?"
Anak gadis itu hanya menatap Indira dan Farrel di dalam kebisuan.
Farrel akhirnya berbisik di telinga istrinya, "Sepertinya, kita harus pelan-pelan mendekatinya. Aku ke kantor dulu untuk mengecek gambar apa yang ada di punggung anak itu"
Indira menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke suaminya dengan penuh cinta.
Farrel langsung menghubungi telepon genggam istrinya saat ia telah menemukan jawaban atas gambar atau simbol yang ada di punggung anak gadis yang semalam menghentikan mobilnya di tengah jalan besar, "Halo, Sayang Aku telah temukan gambar apa itu Itu adalah sebuah simbol yang bentuknya seperti salib. Tapi, simbol itu nggak ada kaitannya sama sekali dengan salib. Simbol itu namanya Ankh. Ankh merupakan salah satu simbol kekuatan terdahsyat dari dunia mistik hitam. Bila ditelusuri sejarahnya, Ankh berasal dari mistik Mesir kuno.Dalam ajaran Mesir kuno, Ankh bermakna sebagai keabadian hidup. Syarat utama untuk menggunakan simbol ini, orang-orang Mesir kuno diwajibkan mempersembahkan kesucian para gadis perawan atau wanita yang memiliki hati suci, dalam sebuah pesta ritual yang menyeramkan. Sepertinya anak itu lari di saat ia dipaksa untuk mempersembahkan kesuciannya. Ada yang ingin mendapatkan kesaktian dengan cara mempersembahkan kesucian anak gadis itu sepertinya"
"Baiklah. Terima kasih untuk infonya. Aku akan pulang sebentar lagi" Sahut Indira.
Setelah dirawat selama sebulan di rumah sakit, Anak gadis itu akhirnya mau mengeluarkan suara. Anak gadis itu tiba-tiba memeluk Indira sambil berkata, "Namaku Claire. Tapi, aku tidak tahu nama keluargaku. Aku berumur sepuluh tahun"
Indira tersentak kaget dan seketika itu juga ia balas memeluk anak gadis yang mengaku bernama Claire itu dengan senyum bahagia dan berkata, "Hai, Claire. Senang berkenalan denganmu"
Sesampainya di rumah, Indira langsung mengajak suaminya bercinta dan setelah bercinta dengan liar dan penuh gairah, pasangan suami istri itu saling berpelukan. India berkata sambil memainkan jari jemarinya di dada polos suaminya, "Sayang, kita udah lima tahun menikah dan belum dikaruniai anak. Bagaimana kalau kita bawa pulang Claire dan kita adopsi dia?"
"Kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti ini? Kita nggak tahu siapa orangtuanya"
"Karena, dia anak yang sangat manis dan cerdas. Namanya Claire. Dia berkata kalau aku membuatnya merasa nyaman dan aman. Dan karena selama sebulan nggak ada yang datang mencarinya, maka aku rasa, kita bisa mengadopsinya, kan?"
"Lalu bagaimana kalau orangtuanya tiba-tiba datang? Ini baru sebulan belum ada setahun, Sayang" Sahut Farrel sembari mengelus punggung polosnya Indira.
"Aku tahu. Kalau orangtuanya datang, aku akan merelakan Claire untuk merek bawa pulang. Namun, selama belum ada yang datang mencari Claire, aku ingin dia tinggal di sini. Aku kasihan melihatnya tinggal di rumah sakit terus. Lagian, biaya rawat inap rumah sakit mahal, kan? Selama ini kita yang bayar semua biaya pengobatan dan rawat inapnya Claire"
Farrel diam membisu Dia merasa ragu untuk menyetujui permintaan istrinya. Dia tidak mengetahui asal-usul anak itu dan dia belum bisa mengungkap permasalahan di balik kemunculan anak itu di tengah jalan besar dengan baju lusuh dan tubuh penuh luka dan bahkan di punggung anak itu ada simbol mistik hitam Mesir kuno yang sangat janggal. Bahkan, nggak ada satu orang pun yang datang mencari anak itu dan tidak ada laporan orang hilang terkait dengan hilangnya anak itu selama sebulan.
Indira lalu mengangkat wajahnya untuk mencium bibir suami tampannya.
Farrel yang sangat mencintai istrinya dan tidak pernah bisa lepas dari jerat rayu ciuman istri cantiknya, akhirnya menganggukkan kepalanya sambil memperdalam ciumannya.
Keesokan harinya, Indira membawa masuk Claire ke dalam rumahnya dengan wajah semringah.
"Mulai sekarang, kamu tinggal di sini bersama denganku. Kamu suka?" Indira tersenyum ke Claire.
Claire memeluk Indira dan berkata, "Aku suka, Bu. Boleh aku memanggilmu, Ibu?"
Indira berucap, "Boleh" dengan genangan air mata haru di kedua pelupuk matanya.
Farrel pulang ke rumah dan terkejut saat ia melihat ada Claire di meja makan. Lalu, Farrel tersenyum, "Hai, Claire"
Claire diam membisu dan tidak menjawab sapaannya Farrel.
Indira langsung memeluk pinggang suaminya dan menuntun suaminya masuk ke kamar, "Jangan kau masukkan ke dalam hati sikap Claire. Dia masih anak-anak dan dia masih trauma dengan kejadian yang menimpanya"
"Hmm" Farrel mencium bibir Indira dan masuk ke kamar mandi.
Indira balik ke meja makan dan lima belas menit kemudian, Farrel muncul di meja makan. Dan Farrel langsung berjalan ke lemari es dan saat ia hendak mengambil botol air mineral dingin, ada suara brakkkkk!!!!! Dan terdengar bunyi "Kaaaooookkk!!!!!! Kaaaooookkkk!!!!! yang sangat keras
Farrel sontak berlari ke pintu depan dan dia tersentak kaget saat ia melihat ada burung gagak hitam yang sangat besar jatuh di depan pintu rumahnya. Burung gagak hitam itu tergeletak tak bernyawa di lantai teras depan rumah Farrel.
Indira berlari menyusul suaminya dan saat ia melihat suaminya menengadahkan kepala ke atas langit, ia ikutan menengadahkan kepala ke atas langit dan ia melihat ada banyak burung gagak terbang di atas atap rumah mereka dan salah satu dari kawanan burung gagak itu mati tergelak di atas rumput setelah menabrak kaca jendela ruang makan mereka sampai retak.
Farrel menoleh ke Indira, "Fenomena aneh apa ini? Kenapa tiba-tiba ada burung gagak banyak banget terbang di atas atap rumah kita?" Farrel seketika itu merinding.
Indira langsung mengajak suaminya masuk kembali ke dalam rumah sambil berkata, "Mereka mungkin bermigrasi. Biarkan saja! Jangan berpikiran yang aneh-aneh"
Mereka kemudian kembali ke.meja makan dan saat Farrel hendak memasukkan sendok ke dalam mulutnya, Claire menatap Farrel dengan wajah datar sambil berucap, "Bukankah seharusnya kita berdoa dulu?"
Farrel meletakan kembali sendok di atas piring sambil berkata, "Ah, iya. Kau benar. Om akan pimpin kita berdoa dan........"
"Aku saja. Aku yang akan pimpin berdoa".Sahut Claire masih dengan wajah dingin dan datarnya.
Indira tersenyum dan berkata, "Baik, Claire"
Claire lalu menangkupkan kedua tangannya, menundukkan kepala, memejamkan kedua matanya dan mengucapkan kata doa, "Berkati makanan kamu dan pimpin makan kami saat ini, ya, Raja Iblis, junjungan kami. Amin"
Farrel sontak menatap Indira setelah ia mendengar kata amin sambil menautkan kedua alisnya dan berkata, "Doa yang aku tahu selama ini, bukanlah doa yang seperti itu"
Indira tersenyum ke Farrel dan berkata, "Dia masih anak-anak. Biarkan ia berdoa sesuai dengan imajinasinya. Aku akan mengajarinya nanti secara pelan-pelan cara berdoa yang benar"
Farrel kemudian mengangkat kedua bahunya dan berkata, "Yeeeaahhh, terserah kau saja, Sayang"
Keesokan harinya, Farrel kembali menyusuri tepi jalan besar di mana Claire muncul dan menghentikan mobilnya sebulan yang lalu. Farrel tidak menyerah walaupun udah sebulan ia tidak menemukan apapun di sana.
Farrel keluar dari dalam mobilnya dan sambil memakai sarung tangan di kedua tangan, ia masuk lebih dalam ke rerimbunan pohon jagung, ia menyibak satu persatu pohon jagung yang ada di kanan dan kirinya dengan lebih pelan dan teliti. Sampai akhirnya dia melihat ada kilatan cahaya matahari yang memantul dario sebuah benda. Farrel segera berjongkok dan saat ia menyibak pohon jagung, ia langsung menautkan alisnya saat ia menemukan sebilah pisau yang biasa digunakan untuk memotong daging dan ada darah kering di di pisau itu. Farrel mengambil kantong plastik dari saku belakang celana kainnya dan memasukkan pisau itu ke dalam plastik.
Farrel kemudian melangkah lebih dalam lagi sampai ke ujung pohon jagung dan ia menemukan sebuah rumah yang tidak begitu besar, namun berlantai dua. Dan Farrel tertegun saat tiba-tiba datang sekawanan burung gagak terbang di tas atap rumah itu dan terus mengitari atap rumah itu sembari terus mengeluarkan suara, "Kaaakkkkl!!!!" yang sangat mengerikan sekaligus memekakkan telinga.
Farrel melangkah pelan sembari menyelipkan plastik yang berisi pisau ke pinggangnya, lalu ia menarik lepas pistolnya sembari bergumam, "Kapan rumah berlantai dua ini muncul? Sebulan yang lalu waktu aku ke sini, rumah ini nggak ada" Bulu kuduk Farrel mulai berdiri, tengkuknya mulai berkeringat dan degup jantungnya mulai berdegup kencang abnormal.
Farrel mulai merasakan kecemasan saat ia melihat area di sekita rumah itu menggelap. Dia sontak melihat ke atas dan dia menatap kawanan burung gagak hitam bertambah banyak dan menutup sinar matahari
Farrel bergegas masuk ke dalam rumah berlantai dua itu dengan terus mengarahkan moncong pistolnya ke depan.
Farrel merasakan buku kuduknya semakin meremang. Desir aneh merayapi hatinya saat ia melihat bunga Edelweis berserakan hampir memenuhi lantai bawah rumah berlantai dua itu. Ia merasakan aura di dalam rumah itu begitu dingin.
Detektif berhati emas, memiliki insting yang sangat kuat dan tidak pernah menyerah sebelum mengungkap tuntas suatu kasus itu, dikejutkan dengan kemunculan seorang pria dengan seekor anjing berjenis Doberman. Pria itu berseragam seperti seorang sherif di film-film.
Farrel sontak berteriak "Jangan bergerak!" Sambil mengarahkan moncong pistolnya ke orang itu.
"Simpan pistol kamu! Apa kabar Farrel Herlambang. Apakah kau ke sini dengan anak gadis yang memiliki luka di punggung?" Tanya pria berseragam seperti Sherif itu.
Farrel menelisik pria itu, menatapnya dalam diam untuk mengingat siapa pria itu. Umur awal 40 tahunan, cukup tampan dan tubuhnya proporsional.
Namun, Farrel melihat tidak ada pijar kehidupan di kedua bola mata pria itu.
Kemudian,.ia bertanya sambil mengunci kembali pistolnya dan menyelipkan kembali pistol itu di pinggang, "Kau siapa? Kenapa kau tahu namaku dan tahu soal Claire?"
Farrel hampir terjengkang ke belakang saking terkejutnya saat pria berseragam Sherif itu tiba-tiba berdiri sangat dekat dengannya. Dan sambil memegang tangan Farrel ia berkata, "Dia jelmaan iblis. Dia Iblis kecil yang manis. Apakah dia pernah kasih bunga Edelweis ke Istri kamu?"
Farrel membeku saat ia merasakan tangan pria itu sangat dingin. Farrel pun membisu dan hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Lalu, apakah rumah kalian pernah didatangi sekawanan burung gagak?" Pria itu menatap lekat kedua bola matanya Farrel.
Farrel seolah terhipnotis dan dia kembali menganggukkan kepalanya.
"Maka bergegaslah pulang dan selamatkan Istri kamu dari Iblis kecil itu! Cepat!!!!!!!" Setelah berteriak sangat kencang dengan diiringi gonggongan anjing, pria berseragam Sherif itu hilang.
Seketika itu pula, rumah berlantai dua lenyap. Farrel tidak lagi dinaungi atap rumah melainkan dinaungi sekawanan burung gagak yang terbang di atasnya.
Farrel sontak berlari kencang sembari menunduk dan melindungi kepalanya dengan kedua telapak tangannya saat burung-burung gagak itu mulai terbang rendah dan menyerangnya. Namun, anehnya, saat ia masuk ke kebun jagung, burung-burung gagak itu berhenti mengejarnya.
Farrel melihat lengannya sambil terus berlari saat ia merasakan ada rasa perih di sana. Farrel melihat ada beberapa luka kecil di lengan Farrel akibat serangan dari burung-burung gagak itu. Dan Farrel mengumpat kesal saat ia kehilangan pisau yang ia temukan.
Farrel segera masuk ke dalam mobil, menekan gas dan ia memasang sabuk pengaman sembari menekan lebih dalam pedal gasnya. Dia juga memasang lampu sirene di atas atap mobilnya dan membunyikannya untuk mencari jalan supaya ia bisa sampai di rumah lebih cepat. Ia sangat mengkhawatirkan istrinya.
Sementara itu, Indira mulai merasakan hal-hal aneh
Dia merasa diawasi oleh Claire yang berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Namun, saat Indira mengangkat wajahnya, tidak Claire di sana. Lalu, Indira bangkit berdiri sambil bergumam, "Aku berhalusinasi melihat Claire pasti karena aku belum makan siang"
Dan saat Indira sampai di kantin, ia dikejutkan dengan kemunculan seekor burung gagak yang masuk dari jendela kantin dan burung gagak itu langsung menukik tajam ke arahnya. Indira berteriak ketakutan, "Aaaaaaa!!!!" Dan spontan berjongkok sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.
Koleganya menyentuh pundak Indira sambil bertanya, "Ra, kau kenapa? Kau lihat apa?"
Indira membuka kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya. Lalu, ia mendongak dan berkata, "A......ada burung gagak hitam yang sangat besar. Ia ingin menyerangku" Indira mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin dan dia tidak menemukan satu pun burung gagak di sana.
Koleganya Indira membantu Indira berdiri lalu memapah Indira yang masih tampak syok ke kursi terdekat dan membantu Indira duduk.
Indira yang terbiasa menelepon suaminya untuk menceritakan hal sekecil apapun, meraba saku celana panjangnya.
Koleganya bertanya, "Cari apa?"
"Telepon genggamku kok nggak ada? Beberapa detik yang lalu masih ada" Indira berucap sembari mengedarkan pandangan ke lantai.
"Di lantai juga nggak ada" Sahut temannya.
Indira seketika itu juga merasakan desiran aneh. Dia lalu bangkit berdiri dan berkata, "Aku nggak enak badan. Aku akan pulang sekarang juga"
Indira.lalu berlari kencang meninggalkan koleganya.
Farrel memasang headset nirkabel dan mencoba menelepon Indira. Detektif tampan itu menautkan alisnya, "Indira adalah milikku. Jangan cari dia!" Klik! Sambungan telepon itu tiba-tiba terputus. Dan saat Farrel mencoba menghubungi ponsel istrinya lagi, ponsel itu tidak aktif. Farrel sontak memperdalam lagi pedal gas mobilnya saat ia mendengar bukan Indira yang mengangkat telepon.
Setengah jam berikutnya, Indira sampai di rumah dan di melihat rumahnya tampak gelap gulita. Dia turun dari mobilnya sambil melihat ke atas dan dia menautkan alisnya saat ia melihat ada sekawanan burung gagak hitam mengitari atap rumahnya dan saling banyaknya, kawanan burung gagak itu menutupi sinar matahari.
Indira bergidik ngeri dan bergegas berlari masuk ke dalam rumah. Indira kaget saat ia melihat pintu rumahnya terbuka, "Bi Ijah nggak pernah membiarkan pintu rumah terbuka. Apakah ada penjahat masuk ke dalam rumah?" Indira melangkah masuk ke dalam rumah, ia langsung menutup pintu rumah karena ia nggak ingin ada burung gagak masuk ke dalam rumahnya. Lalu, Indira melangkah masuk ke dalam dengan pelan dan sikap waspada.
Indira menaikan kedua alisnya ke atas dan menutup mulutnya yang ternganga saat ia melihat bunga edelweis berserakan di lantai ruang tamu sampai ke dapur.
Napas Indira tercekat saat ia melihat ada darah menggenang di lantai dapur.
Indira melangkah maju dan berteriak kaget dan dengan jantung yang berdegup abnormal ia melihat nanar ke atas. Ia kemudian terisak menangis saat ia melihat Bi Ijah asisten rumah tangganya tergantung di balok kayu dengan posisi kepala di bawah dan darah segar mengucur terus dari mulutnya Bi Ijah. Indira melangkah mundur saat ia melihat perut dan dada Bi Ijah berlubang.
Indira bergegas berputar badan dan berlari meninggalkan dapur. Indira mengerem langkahnya saat ia melihat Claire berdiri di tengah ruang tamu dengan memakai mahkota yang terbuat dari bulu burung gagak hitam dan Claire memakai sayap yang juga terbuat dari bulu burung gagak hitam.
Peluh Indira mulai mengucur deras di sekujur tubuhnya dan kedua alisnya terus terangkat ke atas saat ia melihat tangan Claire menggenggam pisau yang biasa Indira pakai untuk memotong daging sapi Semakin keraslah isak tangisnya Indira. Ketakutan dan kecemasan mendekap erat jiwanya Indira
"Indira. Kau menjadi yang terpilih" Claire berucap sembari melangkah pelan mendekati Indira.
Indira terus melangkah mundur dengan wajah ketakutan dan terus terisak.
Claire menyeringai, "Kenapa kau terus melangkah mundur? Kau harus korbankan hati kamu untuk memperkuat kekuatan raja Iblis di dunia ini. Kau harusnya bangga menjadi yang terpilih"
Indira terus melangkah mundur dan memberanikan diri untuk bertanya, "A.....apa kamu juga yang telah membunuh Bi Ijah?"
Claire menghentikan langkahnya dan sambil menyeringai mengerikan ia menganggukkan kepalanya dan berkata, "Iya. Burung peliharaanku butuh makan. Untuk itulah aku ambil jantungnya Ijah"
Indira menutup mulutnya yang ternganga dan semakin keras Isak tangisnya.
Claire kembali melangkah maju dan Indira kembali melangkah mundur.
"Sekarang aku akan ambil hari kamu untuk ku persembahkan ke raja Iblis karena, hati kamu suci" Claire menyeringai ke Indira lalu ia berlari ke Indira.
Indira sontak menahan tangan Claire yang memegang pisau untuk melindungi dadanya. Indira menendang perutnya Claire dan segera berputar badan untuk berlari ke ruang tengah dan mengunci pintu dengan cepat
Namun, saat Indira berputar badan, ia tersentak kaget saat ia melihat Claire berada tidak jauh di depannya.
"Ba.....bagaimana kau bisa masuk? Aku sudah kunci pintunya" Jantung Indira berdegup abnormal dan keringat dingin mulai mengucur di sekujur tubuhnya. Indira berucap sembari melangkah ke samping. Dia meraih was bunga dan ia lemparkan vas bunga itu ke Claire.
Claire jatuh terjengkang dan Indira segera membuka kembali pintu ruang keluarga dan berlari keluar menuju ke teras depan rumahnya. Namun, saat ia membuka pintu, sekawanan burung gagak hitam meringsek masuk dan menyerangnya. Indira dengan cepat meraih sapu dan mengusir kawanan burung gagak hitam yang meringsek masuk ke dalam rumahnya dengan sapu, lalu ia tutup kembali pintu depan.
Saat Indira berbalik badan, ia melihat seringaian mengerikan di wajah Claire.
Indira mengusap air mata di kedua pipinya dan bergumam, "Aku harus melawan Iblis kecil di depanku sendirian. Aku nggak boleh cengeng"
Claire terbang ke Indira dengan mengarahkan pisau ke dada Indira. Indira berhasil menangkis pisau itu dengan gagang sapu. Namun, pisau itu mengenai pipinya. Seketika itu juga Indira terjengkang ke belakang saat pipinya berdenyut nyeri dan darah segar mengucur di sana.
Setengah jam kemudian, Farrel sampai di rumahnya bersama dengan teman-temannya. Ia menemukan pintu rumahnya terbuka lebar dan istrinya berada di bawah kungkungannya Claire.
Indira menoleh ke Farrel dengan wajah penuh darah.
Deg! Jantung Farrel hampir berhenti saat ia melihat wajah istrinya penuh darah. Ia langsung menarik lepas pistolnya yang sudah siap memuntahkan peluru dan tanpa ragu, ia menembak Claire tepat di dahinya Claire.
Claire terbang ke atas dengan kondisi kening berlubang. Farrel dan teman-temannya menatap heran fenomena itu Anak berumur sepuluh tahun dengan kening berlubang bisa terbang dan menukik tajam hendak menyerang Farrel. Teman-temannya Farrel langsung menembaki Claire. Dan saat satu peluru mengenai jantungnya Claire, Claire langsung terjatuh ke lantai dan tak bernyawa
Farrel menghela napas lega melihat istrinya masih hidup. Farrel langsung menyerahkan situasi menyeramkan yang ada di dalam rumahnya ke teman-temannya yang semuanya adalah detektif kepolisian dan Farrel langsung membawa istrinya ke rumah sakit terdekat.
Saat ia menunggui istrinya di rumah sakit, Farrel tiba-tiba tersentak kaget dan dengan bulu kuduk yang meremang, ia bergumam, "Makasih, Bro. Kamu udah datang bersama dengan Charlie anjing kamu untuk memperingatkan aku. Makasih, Indira bisa selamat berkat kamu"
Tiga bulan kemudian, Farrel mengunjungi makam sahabatnya yang meninggal di tengah hutan yang terbakar, Sahabatnya Farrel meninggal bersama dengan anjingnya. Dia dimakamkan berdampingan dengan makam anjingnya. Farrel tersenyum dan berkata di depan makam itu, "Kau dan anjing kamu bukan hanya seorang penjaga hutan yang hebat. Kau juga sahabat yang setia. Bahkan di alam sana, kau masih peduli sama aku dan mau datang untuk menyelamatkan aku dan Indira"
Sementara itu, Indira yang telah pulih dari luka sayatan pisau di pipi dan pulih dari trauma, naik kereta api ke luar kota. Dan saat ia masuk ke toilet, ia menemukan ada seorang wanita muda tergeletak di lantai toilet kereta api dengan wajah penuh darah. Indira bergegas berlari ke depan dan menarik seorang pramugari kereta sambil berkata panik, "Ada jasad wanita dengan wajah penuh darah tergeletak tak bernyawa di toilet.
Namun, saat Indira dan pramugari kereta itu sampai di depan toilet, toiletnya kosong dan bersih bahkan wangi. Tidak ada jasad wanita bersimbah darah di sana.
Indira menarik kedua alisnya ke atas dengan wajah tertegun dan pramugari kereta itu menatap Indira dengan wajah penuh tanda tanya.
.