Siang itu Rama, Bio dan Alen sedang fokus melihat lowongan kerja di group facebook berdasarkan kota tempat mereka tinggal. Rama, Bio dan Alen adalah tiga orang pria yang memiliki karakter unik, mereka sudah bersahabat sejak SMA atau Sekolah Menengah Atas, Rama hidup di lingkungan keluarga kaya raya sehingga Rama memiliki karakter sombong, egois, fashionable namun mudah bergaul, selanjutnya Bio memiliki karakter kekanak - kanakan karena Bio adalah anak satu - satunya dan sangat di sayang oleh maminya, Bio sangat manja, kekanak - kanakan, manja, walau begitu Bio menganggap karakternya sebagai kelemahannya, di luar rumah Bio selalu berpura - pura mandiri padahal membuka tutup plastik agar untuk adik gebetannya saja tidak bisa namun Bio memiliki kelebihan yaitu selalu berpikir positiv dalam hal apapun sekalipun ada gempa Bio sangat santai menghadapinya dan tetap lebih memilih tidur saat semua orang di rumahnya berlarian keluar rumah, Bio selalu mengakurkan Rama dan Alen yang sering bertengkar karena Rama selalu mengejek Alen. Berikut Alen, namanya memang sangat unik seperti orangnya, Alen memiliki bakat menyanyi yang baik, suaranya pun merdu, hanya saja sejak kecil Alen selalu dibelikan hadiah barbie, boneka dan mainan perempuan lainnya oleh ayah dan ibunya, semakin dewasa Alen justru menjadi sosok laki - laki gemulai seperti perempuan pada umumnya, walaupun Alen masih memakai pakaian pria namun karakternya yang ke wanita - wanitaan dan sering bersolek atau berdandan, Alen sering diejek Rama dan sering di panggil banci kaleng oleh orang - orang di sekelilingnya.
Setelah sebulan Rama, Bio dan Alen di wisuda, mereka bertiga sibuk mencari lowongan kerja di facebook, sampai suatu hari Bio melihat lowongan kerja di salah satu Resort di kotanya membutuhkan pegawai untuk penempatan di bagian administrai dan kebetulan sekali membutuhkan sebanyak tiga orang, akhirnya mereka pun mengirimkan email ke kambojaresort@...com pada hari kamis pagi.
Tepat hari kamis malam jumat mereka masing - masing mendapat email masuk. Email tersebut berisikan bahwa mereka diterima kerja di Kamboja Resort tanpa proses seleksi, interview ataupun tes. Mereka di beritahukan untuk mulai bekerja pada hari kamis malam jumat minggu depan.
Rama, Bio dan Alen bersemangat berangkat menuju Kamboja Resort, Mami Bio berpesan jangan lupa ibadah dimanapun berada, sedangkan ayah dan bundanya Rama sangat cuek, ayah Rama justru memberikan kartu kredit unlimited agar Rama tidak kekurangan uang saat berada di Resort, Ibunda Alen justru membawakan boneka kesayangan Alen dan beberapa cemilan manisan untuk Alen agar Alen bisa tidur nyenyak di tempat kerjanya.
Kamboja Resort sudah menyiapkan mobil jemputan untuk mereka bertiga, tepat berada di depan rumah sakit tak berpenghuni mobil jemputan tersebut menunggu, Bio mulai merasa aneh, bulu kuduknya berdiri san merasakan merinding sepanjang perjalanan, sedangkan Allen yang berperilaku seperti perempuan berteriak - berteriak manja seolah melihat sesuatu yang aneh di kuar jendela, beda dengan Rama yang asyik mendengarkan headset dan memejamkan matanya sambil menikmati aroma bunga kamboja yang dia pikir aroma parfum mobil.
Sesampainya di Resort mereka bertiga turun dari mobil dan melihat banyak sekali pengunjung dan pelayan Resort.
"Makasih pak". Kata Rama, Bio, dan Alen.
"Pantas Kamboja Resort, bau banget bunga Kamboja, terus kita kemana nih guys". Kata Rama
"Ki..ki..kita tanya reseptionis aja gayes". Kata Alen dengan lemah gemulainya.
Mereka bertiga pun melangkah menuju reseptionis, setelah bercakap - cakap dengan reseptionis, mereka bertiga di arahkan ke sebuah lorong Resort menuju sebuah kantor, sesampainya di kantor mereka masuk dan diberikan pengarahan oleh manager. Setelah mereka di tunjukan tempat mereka bertiga bekerja, mereka pun di berikan satu Resort sebagai tempat mereka tinggal.
Setelah di kamar mereka bertiga melakukan aktivitas masing - masing, Alen pergi ke kamar mandi, Rama tidur - tiduran di atas kasur sambil menonton televisi namun tidak ada siaran, sedangkan Bio melihat - lihat sekeliling Resort. Kamboja Resort terdiri dari tiga puluh kamar yang mengelilingi kolam renang, reseptionis dan kantor berada di depan dekat pintu masuk, sedangkan aula tempat makan ada di belakang dekat pantai, Kamboja Resort juga memiliki bar tempat hiburan malam.
Malam pertama mereka tinggal tidak terjadi apa - apa. Keesokan paginya saat bangun tidur mereka merasa aneh karena semalam nampak ramai namun di pagi hari justru sangay sepi, mereka bertiga berjalan ke arah restoran nampak sepi dan tidak ada makanan ataupun karyawan satupun. Mereka memeriksa di sekeliling Kamboja Resort namun tidak seorangpun mereka temui.
"Kok sepi guys, pada kemana nih, mana gue udah lapar banget". Kata Rama sambil menepuk bahu Bio.
"Gue juga heran pada kemana ya!, padahal semalam pengunjungnya rame banget". Kata Bio sambil menoleh ke arah Rama.
"Gue atut nih, gue pengen balik aja pulang ke rumah gue, gue ngeri, biarin deh gue tinggal di rumah aja asalkan gak ketemu yang aneh - aneh, mami...help Alen!". Kata Alen sambil teriak memanggil maminya dan memeluk boneka kesayangannya dengan erat.
"Tenang- tenang, gimana kalau kita cari sarapan di luar Resort sekalian tanya sama orang - orang di sekeliling sini". Kata Bio sambil merangkul Rama dan Alen.
Waktu menunjukan pukul tujuh pagi, mereka bertiga pun berjalan keluar Kamboja Resort, setelah beeada di pagar, mereka saling memangdang dan menoleh ke kanan san kiri, mereka hanya melihat jalanan aspal yang sepi kendaraan dan pepohonan besar di sepanjang jalan. Mereka pun menunggu dan berharap ada tukang bubur yang lewat di depan Resort mereka. Tiba - tiba ada seorang tukang lontong sayur melewati Resort tersebut, kemudian Alen langsung berlari keluar pagar dan menghadang tukang lontong sayur, sontak saja tukang lontong sayur itu terkaget dan bertanya sedang apa mereka di Reaort itu, kemudian Alen menjelaskan, tukang lontong sayur pun merinding mendengar cerita mereka, lalu tukang lontong sayur bertanya pada Alen dimana dua orang teman mereka, Alen mengatakan ada di pos security di dekat pagar.
"Maaf, anak muda coba anak muda lihat ke arah Resort". Kata tukang lontong sayur sambil menunjuk ke arah Kamboja Resort. Sontak saja Alen ketakutan dan kaget karena Kamboja Resort tempat mereka bekerja sudah hancur bekas kebakaran tiga bulan lalu. Tukang lontong sayur menceritakan semua pada Alen dan menyuruh mereka untuk pergi dari sana sebelum malam jumat hari kamis ini, mereka masih punya wakti enam hari untuk melarikan diri.
"Alen, cepatan! , gue dan Rama udah lapar nih, lama banget ngobrolnya". Sahut Bio dari tempat security yang sudah nampak hancur dan gosong.
"Iya, ma..ma..makasih ya Pak". Kata Alen sambil berjalan ketakutan ke arah gerbang Resort dan langkahnya berhenti di depan Resort.
Bio dan Rama menyuruh Alen masuk ke dalam Resort namun Alen menolak, Alen menjelaskan semua yang dibicarakannya dengan tukang lontong sayur namun Bio dan Rama tidak mempercayainya, Bio dan Rama juga bersih kukuh tidak mau keluar pagar dan melihat kondisi Resort yang sebenarnya.
Saat Alen dipaksa masuk ke dalam pagar, semua berubah, Resort tak nampak seperti habis terbakar, Resort yang Alen lihat beda sekali dari yang dia lihat di luar. Langkah Alen sangat berat setelah mengetahui tentang Kamboja Resort, Alen berusaha menceritakan pada kedua sahabatnya namun kedua sahabatnya tidak mempercanyainya. Kejadian - kejadian aneh pun di mulai dari malam kedua sampai malam kelima.
Malam kedua Alen tidak keluar kamar sama sekali, sedangkan Bio dan Rama menikmati suasana Resort di bar club malam. Saat sendirian di dalam kamar Alen mendengat suara minta tolong dari dalam kamar mandi, Alen berusaha menenangkan dirinya dan membuka pintu kamar mandi, Alen melihat ada sosok wanita bertubuh gosong dan penuh luka, wajahnya hancur dan wanita tersebut berjalan ke arag Alen, Alen berteriak - teriak sampai kedengeran Rama yang sedang asyik duduk berdua di pinggir pantai dengan pelayan restoran gebetannya, saat Rama ijin ke kamar untuk memeriksa Alen, tiba - tiba tangan pelayan itu menggandeng Rama, sesampainya di kamar, Rama langsung masuk ke dalam dan mendapati Alen sedang menutup wajahnya dengan boneka dan memojok di pinggir pintu kamar. Rama menepuk bahunya namun tangan kanannya masih memegang gadengan erat tangan pelayan itu. Alen yang mulai tenang menurunkan bonekanya dari wajahnya kemudian melihat Rama yang memegangan tangan buntung, Alen kembali berteriak dan mengatakan tangan buntung di tangan Rama, Rama tertawa sambil menepuk kembali bahu Alen dan memperkenalkan gebetannya, saat Rama menoleh ke arah tangan pelayan tersebut, Rama sangat kaget ternyata yang dia gandeng tangan buntung, kemudian pelayan tersebut mengetuk pintu dari luar kamar dan meminta tangannya kembali, Rama kemudian melemparkannya keluar dengan raaa ketakutan, keduanya pun ketakutan dan memikirkan dimana Bio berada.
Beberapa menit kemudian Bio kembali ke kamar dan melihat teman - temannya sudah pucat, Bio menanyakan ada apa dengan mereka, mereka berdua menceritakan semua yang terjadi, namun Bio tidak bisa menerima cerita mereka begitu saja tanpa melihat buktinya.
Keesokan paginya mereka mengalami hal - hal yang sama setiap hari, kecuali Bio yang tidak pernah di ganggu, sampai suatu malam tepat sehari sebelum malam jumat keliwon, Alen menghilang, Bio dan Rama pun berusaha mencari Alen pada malam kelima mereka di Kamboja Resort, entah mengapa malam kelima begitu menyengat aroma bunga Kamboja, Bio dan Rama menyelinap ke setiap sisi Resort untuk mencari Alen, sampailah mereka di tempat terakhir yang mereka belum cek yaitu dapur, saat menyelinap ke dapur, mereka melihat Alen berlumuran darah, mereka pikir Alen sudah mati namun Alen mengintipkan matanya ke arah Bio, dia menandakan bahwa dirinya masih hidup dan hanya pura - pura mati, darah yang ada di sekujur tubuhnya adalah darah karyawan yang bernasib sama seperti mereka.
Bio dan Rama pun merencanakan untuk menolong Alen besok pagi. Keesokan paginya Bio dan Rama bersiap diri, mereka memakai tas mereka dan membawa semua barang - barang mereka menuju dapur, saat di dapur pintu dapur terkunci. Bio dan Rama berusaha mencari kunci dapur namun tidak ketemu, mereka pun berusaha membuka pintu hingga pukul dua siang hari mereka belum juga bisa membukanya. Akhirnya mereka berpikir untuk meninggalkan Alen dan meminta bantuan di luar Resort, setiap orang yang melewati mereka dan dimintai tolong, hanya berpikir mereka sudah gila dengan Resort bekas terbakar.
Waktu menunjukkan pukul dua siang, mereka masih menunggu seseorang yang mungkin bisa membantu mereka menolong Alen, Namun tidak ada satupun orang yang lewat. Sudah hampir satu jam mereka menunggu sambil gelisah.
"Bi, gue mulas nih pengen bab, udah kita tinggalin aja si Alen, ikhlasin aja, gue dah tahan nih cepirit di celana". Kata bio sambil memegangi pinggangnya dan merungkuk tiga puluh derajat.
"Loe kebanyakan makan di resort ini padahal loe makan angin doank, gila bau banget loe, udah loe sana sekarang loe masuk lagi ke Resort ganti celana loe, bersihin tuh". Kata Bio menatap ke arah Rama sambil sesekali menoleh ke jalan.
"Gue takut bro, gue takut banget, ngeri gebetan gue si pelayan tangan buntung tiba - tiba muncul depan gue pas gue buang hajat". Kata Rama bermuka melas di hadapan Bio.
Akhirnya Bio pun mengantar Rama ke kamar mandi Resort, mereka memasuki pagar Resort kembali tepat pukul empat sore, saat mereka berjalan masuk ke lobby resort menuju kamar mandi, tiba - tiba angin yang sangat dingin menyentuh tubuh mereka dan membuat mereka merinding.
"Ram, buruan, udah belum, udah jam setengah lima sore nih, waktu kita tersisa satu setengah jam lagi untuk nyelamatin Alen". Kata Bio yang menunggu Rama di depan toilet lobby Resort.
"Bro, gue udah selesai, gue baru ingat bro, gue tahu caranya nyelamatin Alen, gimana kalau kita temuin gebetan gue pelayan tangan buntung dan minta tolong sama dia, dia pasti mau". Kata Rama membisikan ke telinga Bio.
"Enggak...enggak, gue gak setuju, gila loe, itu namanya kita bertiga cari mati, gak ada yang selamat dari sini dan Resort ini akan terus makan korban". Kata Bio dengan suara lantang.
"Ssstttt... diam bro jangan kencang - kencang suara loe, loe ingat ini malam jumat, gue takut ada yang dengar terus kita gak bisa keluar dari sini". Kata Rama menyuruh Bio untuk berbicara pelan dengan mengaba - abakan jari telunjuknya yang di dekatkan ke bibirnya.
Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu terbanting seperti tertutup, kemudian Rama menarik tangan Bio dan mengisyaratkan untuk lari keluar. Mereka berdua pun berlari kencang ke arah pintu lobby, hampir saja mereka terkunci di dalam lobby.
"Bio kenapa berhenti berlari, cepat Bi kita harus berada di luar pagar, atau kita akan terkunci di dalam resort ini". Kata Rama sambil menarik lengan Bio dengan erat.
"Tunggu Ram, kita gak bisa meninggalkan Alen sendiri, kita bertiga sudah bersahabat sejak kelas satu SMA, persahabatan kita erat, hidup dan mati kita akan sama - sama terus". Kata Bio yang menghela nafas karena kelelahan berlari.
"Ok, kalau begitu kita keluar dan minta tolong dengan orang pintar penduduk di sini". Kata Rama sambil terus memegang lengan Bio.
Mereka berdua pun bergegas keluar pagar dan mencari penduduk yang melewati Resort tempat mereka berdiri. Beberapa menit kemudian tukang lontong sayur yang waktu itu mereka temui berjalan melewati Resort merekan, kemudian Bio dan Rama bergegas menghampiri bapak tukang lontong sayur itu.
"Pak, tolong kami Pak, teman kami Alen masih terkurung di dalam". Kata Bio sambil memohon kepada bapak tukang lontong sayur dengan isyarat kedua tangannya.
Bapak tukang lontong sayur itu hanya terdiam dan menggelengkan kepalanya. Bapak tukang lontong sayur mulai melangkahkan kakinya. Kemudian Bio bersimpuh memohon pertolongan Bapak itu, kemudian Bapak itu memegang bahu Bio dan menyuruhnya berdiri. Bapak itu mengatakan ada cara untuk membebaskan Alen sebelum malam pukul enam sore. Waktu mereka bertiga tersisa satu jam, kemudian Bapak itu mengatakan harus mendobrak pintu dapur dimana Alen berada, namun butuh bantuan semua penduduk dan pemuka agama di desanya.
"Kira - kira jarak ke desa Bapak berapa lama dan apa kita waktu kita cukup untuk menolong Alen, pusing kepala gue!". Kata Rama sambil menggaruk - garuk kepala berhadapam dengan Bapak itu.
Mereka bertiga pun berjalan ke desa tempat Bapak itu. Sesampainya di desa mereka bertiga menceritakan semua kejadian yang terjadi di Resort, pemuka agama di desa tersebut, warga dan petinggi - petinggi dindesa tersebut setuju untuk membantu mereka menyelamatkan Alen.
Waktu menunjukkan pukul lima lebih empat puluh lima menit untuk menolong Alen, sedangkan jarak tempuh dari desa ke Resort membutuhkan waktu tiga puluh menit jika berjalan kaki.
Salah satu petinggi menelpon pihak kepolisian di kota untuk segera datang ke reaort menyelamatkan mereka. Para pemuka agama, petinggi dan warga penduduk desa tersebut bersama Bapak itu, Bio dan Rama berangkat dengan menggunakan mobil pick up milik salah satu warga.
Bio dan Rama sudah sangat gelisah memikirkan nasib Alen, mereka takut Alen tidak bisa selamat. Sesampainya di Resort waktu mereka tersisa lima menit, saat mereka semua ingin membuka pagar Resort namun pagar tersebut terkunci rapat dan tidak bisa di buka, akhirnya para pemuka agama mencoba berdoa sambil memegang pagar tersebut dan akhirnya pagar tersebut terbuka. Mereka semua pun masuk, saat masuk semua warga kaget karena Resort yang nampak terbakar dari luar berubah menjadi Resort yang mewah dan bagus, Pemuka Agama menasehati para penduduk untuk tetap fokus membantu menyelamatkan Alen dan terus berdoa, pemuka agama juga melarang mereka untuk berpikiean jahat seperti berniat mencuri barang - barang di Resort ini dan lain sebagainya yang membawa aura negatif, karena itu bisa membuat penghuni Resort dapat memasuki tubuh mereka.
Saat di dalam Resort tepat waktu menunjukkan pukul enam sore kurang satu menit, pemuka agama, petinggi desa, Bio dan Rama bergegas menuju dapur, mereka pun berusaha membuka pintu dengan doa - doa, Akhirnya pintu dapat dibuka, kemudian mereka masuk ke dalam untuk menyelamatkan Alen, Alen yang tak berbusana berhasil mereka selamatkan, badan Alen lemas karena itu mereka menggopohnya keluar, waktu berjalan tersisa tiga puluh detik untuk mereka bisa keluar sebelum pukul enam malam teng. Pemuka agama mengintruksikan semua warga keluar, Saat detik - detik terakhir beberapa warga masih mengantri bergiliran keluar.
Para petinggi, pemuka agama, Alen, Bio dan Rama serta sebagian penduduk sudah berada di luar, polisi pun datang, polisi segera menolong beberapa warga yang masih terjebak di dalam Resort. Satu detik terakhir semua warga terselamatkan dari Resort. Akhirnya polisi mengarahkan anggotanya untuk meratakan Resort tersebut dengan alat berat dan menutupnya dengan tanah.
Alen yang masih lemas dan tertunduk masih gopoh atau di bopong oleh Bio dan Rama memasuki mobil polisi, Rama dan Bio pun mengucapkan terima kasih kepada Bapak tukang lontong sayur, para petinggi, para pemuka agama dan penduduk di deaa tersebut.
Bio, Rama dan Alen pun di antar oleh polisi ke rumah Alen. Sesampainya di rumah Alen mereka di sambut oleh kedua orangtua Alen.
"Alen kamu kenapa, nak?. bunda khawatir sama kamu, untungnya kamu selamat, kamu mau makan apa, nak?". Kata Bunda Alen sambil menyentuh wajah Alen dengan kedua tangannya.
Sementara Bio dan Rama mengantar Alen masuk ke kamar, Ayah Alen masih mengobrol dengan Polisi di luar. Setelah membaringkan Alen, Bio dan Rama membersihkan badan Alen dan memakaikan baju dan celana Alen. Setelah itu Alen memejamkan matanya sambil berbaring di atas kasur.
Bio dan Rama menceritakan semua kejadian di Resort pada Bunda Alen. Setelah mereka berbincang - bincang, polisi pun memanggil Bio dan Rama untuk segera masuk ke mobil, polisi pun mengantar mereka berdua ke rumah mereka masing - masing.
Rama sejak mengalami kejadian - kejadian mistis di Resort Kamboja masih merasa gelisah, bahkan saat memejamkan mata , Rama bermimpi di datangi pelayan bertangan buntung. Rama pun kaget dan terbangun, kemudian Rama mengambil handphone dan menelepon Bio, namun Bio tidak mengangkat. Sepanjang malam Rama tidak bisa tidur
Berbeda dengan Bio yang di sambut orantuanya dengan mengadakan pengajian, sejak kejadian di Resort Kamboja, Bio menyadari dia dapat tertolong karena kedua orangtua Bio yang selalu beribadah mendoakan Bio. Sejak malam itu Bio semakin dekat dengan Tuhan dan rajin beribadah.
Di rumah Alen, orangtua Alen masih menunggu Alen bangun, Bunda Alen sedang memasak masakan kesukaan Alen, sedangkan ayah Alen menonton televisi, Alen ditemani oleh asisten rumah tangga di kamarnya, satu jam kemudian mata Alen terbuka dan melotot, mata Alen memerah darah, kemudian Alen terbangun dan mencekik asisten rumah tangganya hingga tewas. Alen berdiri dan berjalan keluar kamar, saat keluar Alen melihat ayahnya sedang menonton televisi. Alen pun mendekatinya, ayah Alen kaget karena tiba - tiba Alen berdiri di sebelahnya.
"Kamu tidak apa - apa, nak? ayah khawatir dengan kamj, apa kamu lapar atau haus?". Kata ayah Alen yang berdiri dan merangkul Alen dan mengisyaratkan Alen untuk duduk.
Kemudian Alen berjalan berjalan dengan tayapan kosong ke arah kabel listrik colokan televisi, kemudian Alen memutuskan kabelnya, Ayah Alen mengikuti Alen dan terkejut melihat tingkah Alen. Alen berbalik arah dan menyetrumkan kabel listrik ke tubuh ayah Alen. Bunda Alen yang kaget mendengar jeritan ayah Alen langsung berlari ke ruang tamu, Bunda Alen melihat Alen menyetrum ayahnya. Bunda Alen yang berdiri tidak jauh dari Alen dan ayahnya sontak tercengang, wajahnya memucat melihat tindakan Alen, Bunda Alen masih memegang pisau di tangan kanannya, kemudian Alen mendekati Bundanya dan melepaskan kabel setruman, Bunda Alen melangkah mundur dari Alen.
"Alen jangan Alen, ini Bunda sayang, jangan Alen, jangan lakukan....!".Kata Bunda Alen yang menggeram untuk terakhir kali, saat Alen mendekatinya, meraih tangan kanannya yang memegang pisau kemudian menggorokan pisau dapur itu ke leher Bunda Alen.
Alen pun terjatuh di bawah kaki Bundanya. Keesokan paginya Bio dan Rama mendapat kabar tentang Alen dari kepolisian. Bio dan Rama tidak kuasa menahan kesedihan atas peristiwa tragis di rumah Alen. Saat mendatangi rumah Alen, polisi mengatakan ada seseorang yang meneleponnya menyuruh polisi untuk datang ke rumah Alen, penelepon tersebut mengatakan dari Kamboja Resort.
Bio dan Rama pun mengajak polisi untuk datang ke desa yang tidak jauh dari Resort tersebuy, saat berada di desa, pemuka agama mengatakan bahwa kemungkinan sebenarnya Alen sudah meninggal dan arwahnya berada di dalam Kamboja Resort dan yang mengisi raga Alen adalah petinggi hantu di Resort tersebut yang ingin membalas dendam karena kalian bertiga sudah meruntuhkan kerajaannya.
"Apakah mereka akan kembali lagi mencari kami berdua untuk membalas dendam juga?!". Kata Rama menatap senduh ke arah pemuka agama dan sesekali menoleh ke Bio dan polisi.
"Mereka tidak akan kembali lagi, karena mereka hanya bisa mengambil satu kali tumbal untuk mereka bawa, jadi kalian berdua sudah aman. Ikhlaskanlah teman kalian dan doakan mereka agar tenang di alam sana". Kata pemuka agama.
Bio dan Rama menunduk sambil tangannya menyentuh hidung dan menangis mengingat sahabatnya Alen yang telah tiada.