“Ish…ish…shhh…” Suara desisan lembut itu terdengar dari mulut Ratih.
Wanita muda dengan gaun tidur berwarna merah muda itu menepuk-nepuk pantat bayi yang baru melepaskan mulutnya dari menyusu padanya. Bayi mungil yang berusia tujuh hari itu terlihat pulas dalam kain bedongan yang di dekap erat oleh Ratih. Begitu tenang dan nyaman.
Senyum Ratih terkembang ketika melihat bayinya tertidur lelap sekali, dia sama sekali tak ingin menimbulkan suara yang mungkin bisa membangunkan bayinya itu.
“Ding dong ding dong…”
Suara jam dinding kuno yang berada di tengah rumah terdengar memecah sunyi, Ratih mendongakkan kepalanya dan melihat jam dinding menunjukkan jam setengah tujuh sore. Hari sudah gelap tak lagi remang-remang. Buru-buru Ratih meletakkan bayinya ke atas kasur bayi yang sengaja di letakkan di ruang tengah tepat di depan pintu kamar.
Kalau Ratih sedang mengerjakan sesuatu atau pergi ke dapur sebentar dia biasanya akan meletakkan bayinya di atas Kasur itu supaya dia mudah mengawasinya.
Ratih tampak resah sebentar-sebentar dia melihat ke pintu, biasanya Anik, iparnya itu sudah pulang sore-sore dari tempatnya bekerja. Anik memang tinggal dengan Ratih dan suaminya Saga sejak mereka pindah ke Kalimantan. Saga adalah seorang manejer kebun sawit yang di mutasi ke Kalimantan dari Sumatera karena ada pembukaan lahan sawit baru milik perusahaan. Kebetulan juga Anik baru lulus kuliah kemudian di ajak bekerja di bagian administrasi kantor sekaligus menemani Ratih yang waktu itu sedang hamil besar.
Sekarang adalah bulan ke tiga mereka tinggal di kamp pedalaman lahan sawit ini dan seminggu yang lalu Ratih telah melahirkan secara Caesar seorang bayi laki-laki tampan di rumah sakit kecamatan dengan normal. Ibunya akan tiba di Kalimantan dan beberapa hari ke depan, menemaninya mengurus bayi pertamanya ini. Untuk sementara ada Bu Isai, seorang perawat di klinik kamp yang membantunya merawat bayi jika siang. Dan dua jam yang lalu bu Isai pamit pulang seperti biasa, karena jam kerjanya juga selesai hanya sampai jam 4 sore.
Di tengah lahan yang jauh dari perkampungn penduduk ini, konon dulu adalah hutan pinggir dusun setempat tetapi lahan ini telah di bebaskan perusahaan untuk di garap, di bangun sebuah kamp untuk para pekerja. Rumahnya seperti barak-barak untuk para karyawan dan khusus untuk kantor, rumah dinas manejer dan supervisor di dirikan terpisah sekitar 300 meter dari barak-barak karyawan.
“Kriet…”
Ratih mengangkat kepalanya, telinganya menangkap suara pintu depan yang terbuka. Rumah dinas mereka itu ukurannya kecil saja, tipe 36 hanya ada ruang tamu yang bersekat dengan ruang tengah dan dua kamar sementara dapur dan WC ada di bangunan terpisah. Di bangun seadanya.
Ia bergegas menuju ruang tamu dan mendapati suaminya tengah berdiri di dalam rumah. Wajahnya tampak tanpa ekspresi, mungkin dia kelelahan setelah seharian bekerja di lahan, hari ini ada penanaman bibit, biasanya malah beberapa hari ini suaminya itu lembur karena harus melanjutkan memeriksa jumlah bibit yang berhasil ditanam untuk menandatangani pencairan pembayaran untuk para pekerja harian lepas
Senyuman Ratih terkembang, dia senang akhirnya ada orang yang datang. Dia memang tidak terlalu nyaman tinggal sendiri di dalam rumah. Malam memang ada lampu penerang listrik tetapi terbatas hanya bebarapa mata bohlam karena perusahaan menggunakan tenaga surya untuk listrik di kamp. Jika malam mereka harus berhemat energy.
"Mas, kok sudah pulang? Biasanya jam 9 baru pulang? Ku kira Anik tadi" Sambut Ratih.
Saga tak menyahut hanya helaan nafasnya terdengar berat, bahkan seperti mendengus di telinga Ratih ketika dia lewat di depan Ratih untuk masuk menuju ruang tengah.
“Mas mau langsung mandi? Aku akan menghangatkan air untuk mas.” Ratih mengikuti dari belakang punggung Saga, entah kenapa bulu halus di trngkuk Ratih meremang, bau badan Saga tercium sedikit aneh, sedikit apek tetapi ada aroma seperti minyak kelapa yang lama. Ratuh menaikkan alisnya, mungkin saja memang bau keringat dan parfum yang membaur itu membuat bau yang aneh.
Saat sampai di depan pintu kamar, langkah Saga terhenti, matanya tertuju lurus pada bayi yang ada di atas Kasur kecil di lantai.
Tiba-tiba Bayi Ratih menggeliat resah kemudian tanpa aba-aba bayi itu menangis keras.
Ratih dengan segera mengangkat bayinya dan menenangkannya dalam pelukannya sambil menepuk-nepuknya. Tangis bayi itu masih belum reda, Ratih menjadi kebingungan sendiri.
Saga menatap lurus pada bayi di dalam gendongan Ratih. Bayi laki-laki tampan yang masih merah ini menurut orang-orang yang melihatnya sangat mirip dengan ayahnya itu.
"Mas mau segera mandi atau nanti saja? Aku akan menidurkan Reno dulu…" Ratih mengayun-ayunkan bayi di pelukannya itu mencoba menenangkannya.
“Hmm…” Suara itu hanya mirip geraman tetapi dia sama sekali tak menanggapi ucapan istrinya itu, ia malah mengulurkan tangan hendak meminta bayi dalam gendongan Ratih. Meminta untuk menggendongnya.
Ratih menautkan alisnya, ada yang aneh dengan sosok Saga. Suaminya memang pendiam, namun tak pernah bersikap sedingin ini. Wajah Saga juga tampak pucat, dan yang mengganjal adalah aroma tubuh suaminya itu semakin menyengat ketika mereka lebih dekat.
"Mas sebaiknya mengganti baju mas dulu, bau badan mas rasanya apek sekali…" Ratih mundur selangkah saat Saga berusaha menyentuh Reno, putra mereka.
Saga lagi-lagi tak menjawab, ia memiringkan kepalanya dan menatap Ratih lekat, desahan nafasnya terdengar sedikit kasar dan memburu. Di bawah cahaya lampu, bola mata Saga seperti mata kucing dan bagian putihnya adgak memerah.
“Mas sedang sakit?”
“Hmmm…”
Entah mengapa, tiba-tiba perut Ratih terasa sakit ketika jemari Saga menyentuh lengannya. Telapak tangannya dingin, sangat dingin. Seketika uka bekas operasinya berdenyut-denyut.
“Ugh…”Ratih meringis, tetapi tetap sekuat tenaga memeluk bayinya takut jatuh.
Tiba-tiba jemari Saga terasa mencengkeram lengannya dengan kuat. Cengkeraman itu sekann ingin meremukkan tulang lengannya.
“Mas, lepaskan.” Ratih mencoba melepaskan cengekraman tangan suaminya tetapi Saga tak bergeming. Tatapannya dingin sedingin tangannya.
“Lepaskan mas, ini sakit! Ada apa sih denganmu, mas?” Ratih menggeliat dan gerakannya itu membuatnya hampir hilang keseimbangan. Bayi di tangannya tidaknya menjadi tenang malah semakin terkejut mendengar volume suara Ratih yang meninggi.
“Mmmmm…” Suara Saga hanya gumanan saja, kepalanya menunduk menatap ke lantai, seketika ratih baru menyadari ada yang menetes dari sela pahanya ke lantai, tetesan darah. Gerakannya yang kuat saat berusaha melepaskan cengkeraman tangan Saga sepertinya membuat luka bekas operasi di perut Ratih mungkin sedikit robek.
Ratih memeluk bayinya lebih erat, entah mengapa dia bergidik ketika beradu pandang dengan Saga yang masih menatapnya dengan tatapan aneh. Dan ketika Ratih menatap lebih dekat, wajah Saga terlihat semakin memucat dan matanya itu lebih merah dari sebelumnya.
“Sshhhhh…” Liur lelaki itu menetes di sela bibirnya. Ratih kemudian meyadari, lelaki di depannya itu bukanlah Saga, sosok sang suami.
“Siapa kamu???” Ratih ingin berteriak tetapi suaranya seperti tercekat di kerongkongannya. Rasa sakit di bagian perut bawahnya semakin menjadi, nyeri dan menekan-nekan kuat. Cengkeraman tangan Saga perlahan terlepas, bersama dengan perubahan aneh pada wajah suaminya itu yang semakin kentara. Wajahnya tak lagi pucat tetapi sedikit menghitam, rambutnya juga terlihat menjadi lebih jarang dan berwarna putih pudar.
Ia akan menjauh, namun cairan hangat terasa menetes di antara pahanya. Aroma amis menyeruak ketika pandangan Ratih tertuju di atas lantai tepat di bawah kakinya. Darah dari sela pahanya itu semakin deras saja.
"Berikan dia padakuuuh...." Gumam makhluk berwujud suaminya itu, tubuhnya yang masih menggunakan kemeja biru muda, kas baju dinas kantor perusahaan itu terlihat semakin ringkih, matanya mencalong, dan dagunya terlihat lebih panjang dari sebelumnya. Bola matanya sekatarang terlihat menjadi hitam kemerahan seluruhnya, bagian yang putihpun sudah tak ada lagi, sementara aroma apek seperti bau minyak kelapa itu semakin menjadi dan kini menjadi semakin amis dan busuk.
Ratih berusaha berteriak karena ketakutan tetapi suara dari mulutnya sekan hilang ketika mencapai ujung lidah. tubuhnya terpaku di tempatnya berdiri, gemetar tak karuan sematara bayi yang berada di dalam pelukannya tiba-tiba tak menangis lagi. Hanya suara rengekan kecil saja, itupun hampir tak kedengaran.
Saga tak lagi menatap bayi di pelukannya tetapi membungkuk di depan Ratih, kemudian tangannya yang dingin memegang betis Ratih. Mata ratih mebeliak dalam kengerian yang luar biasa ketika dia mendengar suara mendesis yang dari bawah kakinya.
Lidah Saga yang dingin seperti batu es itu sedang menjilat betisnya dan naik ke pahanya, mengikuti aliran darah yang berkelok dari antara sela pahanya.
“Aaaaaaaa…..”Akhirnya sekuat tenaga suara ratih keluar juga meski hanya seperti suara tersedak. Airmatanya keluar dengan mata yang terbelalak lebar. Dia pusing tetapi berusaha tetap mendekap bayi dalam pelukannya kuat-kuat. Pandangannya mata serasa berkunang-kunang, sdan ketika dia mengarahkan matanya kepada bayi dalam pelukannya, bayi itu terlihat menghitam dan mengeluarkan cairan yang lengket serta berbau busuk.
Ratih histeris, tanpa sadar dia melepoaskan bayi dalam pelukannya itu dan tanpa menoleh mahluk berwujud suaminya tadi menangkap bayi dalam bedongan itu.
Sosok Saga telah berubah menjadi makhluk yang sangat mengerikan, rambutnya putih jarang dengan panjang yang tak sama serta awut-awutan. Matanya seperti gua, berongga dan dalam, hitam dan menakutkan.
Wajahnya semakin biru dan menghitam, bibirnya berkeriput dengan darah segar di sudut bibirnya. Aroma amis darah, daging busuk, serta bau kelapa tua apek itu membaur begitu rupa. Tangan dan kakinya terlihat kurus seperti kulit pembalut tulang.
“Ya, Tuhan…” Mulut Ratih tak berhenti ingin berteriak berusaha mengingat doa –doa tetapi kepanaya serasa buntu oleh ketakutan yang luar biasa. Rasa nyeri di perutnya, bau busuk itu dan kepalanya yang semakin berat membuat dunianya seakan berputar-putar.
Darah yang keluar melewati pahanya semakin deras, gaun tidur di bagian perutnay sudah basah kuyup oleh darah, bekas jahitan luka bedahnya terbuka di beberapa sisi. Kepalanya semakin pusing, ketakutan menguasai Ratih saat sosok laki-laki tua itu semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Ratih. Mulutnya mengeluarkan aroma busuk yang luar biasa bercampur bau amis darah.
“Kalian telah membuat rumah di atas tempat tidurkuh…” Ucapnya sera, nafasnya menghembus dingin di permukaan kulit wajah Ratih.
“Tinggallah denganku.”
Jemarinya yang tinggal tulang dan sedikit daging hitam itu terulur pada Ratih, memegang bahunya, ia bergumam tak jelas. Ratih berusaha berteriak, menendang dan memukul namun sosok itu tak bergeming sama sekali. Ia meronta dan berteriak semakin kuat hingga akhirnya kegelapan berhasil merebut kesadarannya. Ratih merasa masuk ke dalam lingkaran hitam. Gelap.
***
“Dia hilang dua malam, di temukan di belakang rumah dengan pohon Palawan besar. Padahal kami telah mencarinya berulang-ulang mengelilingi lahan. Menyisir tempat sampai perbatasan lahan dan hutan itu berkali-kali” Saga memegang jemari tangan Ratih. Istrinya itu masih tergolek lemas di atas kasur, di sebelahnya seorang wanita paruh baya menatap khawatir, itu adalah Bu Asih, mertua Saga yang baru saja tiba.
“Bagaimana dia bisa hilang?”
“Aku dan Anik lembur, sampai jam 7 malam, karena ada selisih pembayaran untuk upah harian, mandornya salah membayar, jadi kami harus menyelesaikannya. Ketika kami pulang Ratih dan Reno sudah taka da di rumah. Kami mencarinya kemana-mana bersama dengan para karyawan. Sampai hampir tengah malam kami belum menemukannya, akhirnya kami menghubungi polisi dari kecamatan. Selama dua hari ratih tak tahu entah di mana, kami telah menyisir sampai permukiman warga dan hutan sekitar. Sampa-sampai-sampai di adakan ritual oleh Belian untuk mencarinya, kata warga lokal, ada kemungkinan dia di sembunyikan Kariau?”
“Kariau?” Bu Asih melongo, mengelus bayi dalam pelukannya.
“Kariau semacam hantu mungkin berwujud seperti kuntilanak, mungkin juga dalam wujud lain gendruwo atau sejenisnya , aku juga tak mengerti. Tetapi setelah di lakukan ritual itu, tadi sore kami menemukan Ratih dan bayi kami duduk dengan linglung di belakang rumah. Tepatnya di bawah pohon Palawan merah. Menurut Belian dari kampung sebelah itu, Ratih selama ini memang berada di situ tak kemana-mana. Hanya di sebunyikan oleh mahluk halus itu.” Saga mengegeleng-gelengkan kepalanya, mengambil tisu dan menghapus air mata Ratih yang masih menatap nyalang. Tubuhnya masih kaku saat di pegang.
Bayi di pelukan bu Asih menangis kencang. Ia akhirnya memberi susu formula sebab Ratih tak bisa menyusui anaknya karena dia masih dalam kondisi yang tidak stabil.
Bu Asih Anik menghela nafas panjang.
“Besok pagi, aku akan membawanya ke rumah sakit kecamatan, aku harus memerikasakan ke medis.Ratih terlihat masih bingung dan tak mau bicara. Dia banyak melotot saja. Anaknya pun tak dia perdulikan.”
Bu Asih memeluk bayi yang kini tertidur dalam pelukannya, dia baru saja tiba soere ini hampir bertepatan dengan ditemukannya Ratih. Di antar oleh mobil carteran dari kota kecamatan yang jaraknya sekitar 50 kilometer dari lahan sawit tempat menantunya ini bekerja.
Ia mencium pipi bayi merah itu, rasa sesal membuncah dalam dada Bu Asih, menyesalkan keadaan kenapa dia tidak lebih cepat tiba untuk menemani anaknya itu melahirkan dan menjaganya di masa nifas yang rentan.
“Tante, sebaiknya tante mandi dulu.” Anik, adik dari Saga meletakkan teh di depan kakak dan ibunya itu. Tadinya orang-orang cukup banyak berkumpul di rumah mereka tetapi sekarang sudah pulang semua, karena ratih telah di temukan. Orang-orang juga cukup lelah dua hari ini membantu mencari Ratih.
“Iya, bu. Aku akan menjaga Ratih. Ibu mandi saja dulu. Ibu tentu masih lelh dan sedikit shock mendengar berita hilangnya Ratih.”Saga berucap lembut, Anik mengambil bayi dari tangan bu Asih. Bu Isai perawat klinik juga telah pulang setelah memeriksa keadaan Ratih, dia telah memasang infus sampai besok pagi membawa Ratih ke rumah sakit kecamatan jika taka da perkembangan berarti dari Ratih. Tubuh Ratih hanya lemas saja, mungkin dua hari ini tubuhnya tidak menerima makanan selama hilang.
Bu Asih menurut, dia beranjak menuju arah belakang, bangunan dapur dan kamar mandi berada terpisah dari rumah utama karena memang di bangun belakangan, meski hanya sekitar tiga meter saja jaraknya tetapi harus melewati tanah terbuka dulu. Bu Asih memeluk baju ganti dan handuk di tangannya dan dengan hati-hati menuruni undakan tangga.
Saat dia menjejaki tanah tak sengaja matanya melihat kearah belakang bangunan mata bu Asih menangkap sebuah pemandangan janggal di luar rumah. Sesososk bayangan hitam berdiri di bawah pohon besar warna merah yang konon menurut masyarakat setemepat adalah pohon Palawan namanya, tekstur kayunya keras seperti tulang, kulitnya tipis dan mengelupas jika musin kemarau.
Bu Asih mengernyit dahinya melawan remang-remang cahaya dari bulan sabit di langit. Mungkin saja ada seseorang atau tetangga rumah sebelah yang sedang berada di sana.
Dia berjalan beberapa langkah, mata tuanya berusaha memerikasanya, tetapi langkahnya terhenti ketika dia melihat sosok itu terlihat sedang memeluk seseorang. Dan yang membuat Bu Asih kemudian berteriak sebelum tak sadarkan diri, lelaki tua dengan rambut putih keperakan itu memeluk anaknya Ratih yang sedang menyeringai seperti seringai yang dilihatnya beberapa saat yang alu di tempat tidur.