Hari ini cuaca terbilang cerah, tidak terlalu panas dengan langit biru dihiasi dengan gumpalan putih melayang. Sedang asik - asiknya berjalan sambil menikmati pemandangan yang luar biasa bening, aku terhuyung.
"Sial! Siapa yang menab-" ucapku tergantung melihat seorang perempuan pucat dengan seragam berantakan dan memar.
"Kau tak apa nona?"
Ku duduk kan ia di kursi taman setelah itu aku berlari meninggalkannya sendiri. Tak lama aku kembali lagi syukur dia masih disitu. Akan terasa menjengkelkan saat kita berbaik hati ingin menolong, sudah berlari cukup jauh dan ternyata yang ingin ditolong tidak berada ditempat.
Perempuan itu mendongak saat ku ulurkan sebotol air dan roti ke hadapannya. Awalnya ia sempat menolak, tapi karena desakan terus - menerus dari ku, dengan pasrah dia menerimanya. Ucapan terima kasih tak lepas diberikan dari bibir mungil itu.
Setelah menunggu beberapa waktu, aku bertanya, "apa kau sudah merasa lebih baik nona?"
Tersadar dari lamunannya, ia menjawab, "iya sudah lebih baik. Terima kasih telah menolong ku tuan."
"Bukan berniat buruk, tapi melihat kondisi mu begini, jika memungkinkan aku akan mengantarkan mu sampai rumah."
"Ah?! Tidak apa, aku bisa sendiri, tuan. Sekali lagi Terima kasih."
"Tidak masalah. Baiklah, aku pulang dulu. Jaga dirimu baik - baik, nona!"
--
Seperti rutinitas pagi biasanya, setelah selesai lari aku membobol kerumunan orang yang memadati sebuah gerobak keliling.
"Bang! Udah ini, bang, totalnya berapa?"
"Tujuh belas ribu, mas."
Dan disinilah aku, sedang memasak menu andalan, tumis kangkung pedas, tempe goreng dengan telur rebus. Rasanya, jangan ditanya lagi, tentu saja enak, bergizi dan yang paling penting adalah murah. Selesai makan, aku langsung bersiap menuju kampus dengan Nami, motor kesayangan.
Jalan menuju kampus terbilang lancar, sebelum tiba - tiba seseorang berteriak menegur.
"Woi! Mata itu dipakai!"
"Apa! Udah salah mau marah?! Hah!"
Kejadian singkat itu cukup menarik banyak mata, namun karena tidak ada yang bergerak menolong, ku jalankan motorku mendekati si perempuan yang belanjaannya terjatuh akibat hampir tertabrak saat hendak menyebrang. Si pengendara motor itu? Tentu sudah pergi.
"Terima kasih."
"Eh? Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya, tuan?"
"Tentu. Kau adalah gadis taman yang hampir pingsan beberapa hari lalu. Butuh tumpangan?"
"Kau, tuan yang itu? Terima kasih tawarannya tuan, tapi aku akan pulang sendiri. Lagi pula sepertinya kau akan ada kelas di jam selanjutnya. Aku tidak merepotkan mu, tuan. Aku, permisi."
"Baiklah. Hati - hati, nona!"
Setelah perempuan itu beranjak, aku menaiki kembali motorku dan melaju santai. Mengejutkan, ternyata orang yang hampir tertabrak itu adalah si gadis taman. Ceroboh sekali dia, pikirku.
Sesampainya di kampus, aku menjalankan kewajibanku sebagai pelajar, belajar.
--
Hari - hari selanjutnya seperti sebelumnya. Dengan rutinitas, kebiasaan, dan orang yang sama. Aku tipe orang yang terstruktur dan berpatokan pada jadwal, jika tidak, aku akan merasa cemas.
Baju putih ku yang rapih kini kusut dan berantakan. Ujian hari ini benar - benar menguji kesabaran, ketangkasan, serta kelihaian menulis. Dengan waktu yang dapat dikatakan tidak banyak itu, aku berlomba. Tangan gemetar dan kulit wajah memerah, aku dapat melihat sedikit kepulan asap ringan keluar dari telinga. Membasuh wajah dengan harapan menghilangkan stress tidak membantu.
"Aku butuh minuman dingin."
"Ya itu dia!" Ucapku pada diri sendiri.
Benar, yang ku butuhkan adalah kesejukan luar dalam. Setelah membasuh wajah, lalu minum minuman dingin disertai ruangan sejuk, apakah ada yang lebih nikmat selain itu?
Toko minuman itu tidak terlalu jauh lokasinya dari kampus, jadi otomatis jalan menuju kesana itu tidak macet. Tapi, hei, ini macet. Sungguh, bahkan sangat macet. Dan suara apa itu, sirine, polisi, ambulan, apa yang terjadi!
Ku tepikan motor sebelum terjebak macet dipinggir jalan, dan bertanya kepada salah seorang tukang ojek, "Bang! Itu di depan ada apa ya, bang, kok bisa sampai macet begini?", abang ojek itu menjawab bahwa didepan ada sebuah kecelakaan dan sepertinya ada korban jiwa. Mendengar itu, semoga bukan orang yang ku kenal, batinku. Memutar setang motor, aku mengambil jalan memutar yang mana langsung menuju rumah, seleraku hilang begitu saja setelah mengetahui informasi dari abang ojek.
Dua hari setelah ujian akhir semester berakhir, aku pulang ke rumah ku. Dengan menaiki bus, jarak tempuh dari rumah kontrakan menuju rumah ku yang sebenarnya memakan waktu enam jam.
Merantau demi pendidikan dan pulang persemesternya membikin aku merindukan suasana rumah dimana mama dan adikku yang sering berdebat mengenai idola masing - masing, omelan mama mengenai bahan dapur yang sedang naik, kekonyolan papa, dan cemburunya aku melihat ke romantisan mama dan papa seolah sedang mengejek diriku yang belum memiliki pasangan sedangkan adikku sudah memasuki tahap serius yang sebentar lagi akan bertunangan.
Hari ini, pada pukul setengah empat sore, aku bersiap menuju acara nikahan teman kecilku. Lokasinya cukup jauh menurutku, kurang lebih satu jam perjalanan jika tidak macet. Acara nikahan merangkap sudah menjadi reuni sekolah dasar. Sampai pada pukul enam, hampir semua teman sekolah dasar ku dulu izin pamit pada si empunya acara.
Dikarenakan aku membawa mobil, ada satu teman yang menumpang. Rumahnya berlawanan dengan arah rumah ku. Sungguh dia sangat suka menjahili ku sampai membuat aku repot, namun untuk kali ini aku tidak mempermasalahkannya.
"Sudah lama tidak jumpa, tidak apa - apalah. Sesekali juga, bukan tiap hari." Katanya sambil dengan santai duduk disamping pengemudi.
"Dirimu yang bawa."
"Maaf, teman. Tapi apakah kau lupa bahwa cedera ku belum sembuh total?" Mendengar itu langsung saja aku berdecih. Ada saja alasannya.
Sepulang perjalanan, dengan kaku aku berjalan menuju kamar mandi, guna membersihkan badan dan menjernihkan pikiran. Lalu aku hanya berdiam diri dikamar sambil memikirkan kejadian saat diperjalan pulang selepas mengantar Bagas.
Merasa merinding sendiri, segera aku bangkit dari posisi rebahan. Berjalan menuju ruang keluarga. Menuruni anak tangga dengan tergesa, aku memanggil, "Ma? Pa?" dan bersyukur bahwa kedua masih asik menonton berdua. Langsung saja aku menginterupsi kegiatan orang tuaku itu dengan duduk diantara keduanya.
Aksi hendak protes sirna begitu aku pasang raut serius atau mungkin juga pucat. Aku meminta izin keduanya untuk bercerita, lalu mereka mengangguk.
Segera ku ceritakan, dimana aku merasa seperti di sihir oleh sesuatu. Bukan, bukan, mungkin lebih tepat jika dibilang terhipnotis. Pikiran, pandangan, kelima indra yang ada di tubuhku tidak dapat aku rasakan. Anehnya aku masih dalam kondisi menyetir, tapi dalam keadaan dimana seperti kita tidak dapat mengontrol atas diri sendiri, menyetir mengikuti jalan yang ada didepan.
Sebelum itu ramai orang berlalu lalang, mengingat ini adalah malam minggu dimana banyak anak muda atau keluarga keluar untuk melepas penat. Secara tidak sadar, kendaran berkurang secara drastis.
Lampu jalan yang biasanya menyala, semakin lama semakin meredup hingga gelap gulita dan hanya ada penerangan dari lampu mobil yang sedang ku kendarai.
Suara bertambah senyap hingga benar - benar hening, tak dapat mendengar.
Hal - hal janggal tersebut semakin menjadi ketika jalanan yang mulanya lebar semakin menyempit disertai udara semakin turun, sampai membuat aku merinding kedinginan. Dengan turunnya suhu secara mendadak membuat ku pusing dan merasa nyeri pada bagian dada, sesak kehabisan nafas.
Cukup lama hal itu terjadi. Membuat aku takut akan kejadian yang tidak mengenakkan. Takut bahwa aku akan mati tragis karena kejadian ini. Perasaan takut semakin datang ketika aku merasakan laju mobil kian bertambah. Atmosfer secara tiba - tiba berubah lagi, semakin menekan. Semua bulu dibadanku berdiri tatkala merasa perasaan intimidasi yang kuat dari berbagai arah, seolah aku adalah mangsa yang sedang diincar oleh buasnya binatang.
Aku, aku tidak dapat berpikir. Aku takut.
Tolong! Siapa saja tolong sadarkan aku! Keluarkan aku dari situasi tidak menyenangkan ini!
Dak!
Mobil ku terhempas kuat menabrak sesuatu seperti polisi tidur. Akhirnya, aku tersadar. Kontrol atas tubuhku telah kembali.
Terima kasih Tuhan, ujarku dalam hati lega.
Setelah menunggu beberapa saat, kondisi tubuhku kembali normal, dan emosi yang melonjak sebelumnya telah stabil.
Usai bercerita, ku tatap wajah kedua orang tua ku yang sedang memikirkan sesuatu untuk diucapkan. Keheningan itu dipecahkan oleh mama yang bertanya pukul berapa aku berangkat dari rumah teman ku yang dibalas oleh ku kurang lebih pukul setengah tujuh lewat sedikit.
"Abang, abang ingat pesan mama dulu?"
Memutar otak dengan cepat, aku menggeleng. Aku melupakan apa pesan yang pernah mama bilang kepadaku.
"Diatas jam enam, abang, kalau abang dengar orang - orang dimesjid sudah mengaji, abang jangan pergi. Diam aja dulu, tunggu, sampai selesai orang shalat baru abang gerak balik atau pergi. Kalau kata orang dulu, ya, mama pun percaya, pada waktu seperti itu, yang tidak kasat mata pada keluar. Terlebih pada saat Maghrib. Pantang."
"Iya, ma, maaf."
"Kamu masih takut?" tanya papa sambil merangkul ku, yang ku jawab hanya dengan celengan saja.
"Dirubah ya!"
"Iya, pa."
"Papa ingat, dulu waktu papa kecil, kakek mu pernah bilang gini, 'Setiap sekitar jam dua belas sama jam enam, mereka keluar. Karena mereka keluar pada saat itu, kita yang masih didunia lah yang mengalah. Caranya bagaimana? Dengan kita tidak pergi atau berhenti bila sedang dalam perjalanan, atau kalau kita dirumah pintu ditutup dulu. Untuk apa itu? Membiarkan mereka lewat.'"
Lalu papa bercerita cerita lain yang diceritakan oleh kakek dulu kepada papa. Dimana membahas kenapa para pekerja jam pulang itu antara pukul empat sampai pukul lima. Kenapa sangat - sangat jarang sekali ditemui para pekerja pulang diatas itu. Alasannya bersangkutan dengan cerita pertama. Jika para pekerja pulang lebih awal, maka lebih cepat sampai rumah. Dengan penjelasan agar tidak mengganggu mereka yang keluar pada saat itu.
"Berdoalah dijauhkan dari segala macam hal - hal yang tidak mengenakkan. Papa yakin tidak ada apa - apa kok."
"Kalaupun ada apa - apa, jangan dipendam sendiri. Cerita sama mama, sama papa."
"Iya, pa."
"Yaudah, kamu tidurlah, udah larut ini. Mau hujan pun sepertinya. Papa sama mama pun juga mau tidur ini."
"Le kemana, pa?" Tanyaku karena sedari tadi tidak kelihatan dimana adik 'kesayangan' ku itu.
"Ke tempatnya Loli dia, kangen keponakan. Mama masuk duluan ya, sayang. Good night!"
"Good night, mom!"
--
Pagi hari ini entah mengapa begitu suram rasanya. Terlebih saat melihat pantulan diri sendiri dengan mata panda, kulit pucat dan rambut yang berasa sulit untuk diatur.
Banyak hal aneh yang terjadi disekitar ku belakangan ini sejak kejadian dimalam itu seperti jatuhnya benda yang ada di kamarku secara tiba - tiba, lampu yang saat sebelum kutinggalkan ruang kamarku menyala saat kembali lagi mati atau terkadang sebaliknya, banyak helaian rambut panjang di samping tempat tidurku, dan wewangian pandan yang seolah tak mau melepaskan ku.
Kejadian aneh kian menjadi semakin harinya. Seperti hari ini, pajangan keramik yang sengaja ku tata dimeja kamarku tiba - tiba saja pacah jatuh ke lantai pada pukul tiga pagi. Bisa - bisanya keramik yang berada dipertengahan meja dekat dinding terdorong begitu saja lalu terjatuh hingga pecah. Lalu pada saat selesai mandi aku menyadari adanya beberapa cap tangan serta cakaran dibeberapa tempat dibadanku. Karena kejadian ini aku seperti gila rasanya karena sering terkejut, jantungku tidak kuat. Lari pagi pun terpaksa harus ku ganti dengan pergi ke gym berolahraga disana. Tidak memungkinkan aku lari pada pagi - pagi buta seperti sebelumnya seolah tak terjadi apa - apa saat merasa gerak - gerik mu diawasi oleh banyak pasang mata tidak terlihat.
"Ah! Apa itu? Siapa?"
Hampir saja jantungku keluar dari tempat seharusnya. Tadi itu apa? Aku melihat sekelebat bayangan hitam melintas kedapur. Apa itu mama? atau papa?
"Ma?! Pa?!"
Glek!
Susah payah aku menelan ludah tatkala teringat aku bahwa sedang sendiri di rumah. Orang tua ku pergi berbelanja.
"Sial!"
Untuk keesokan harinya, sekelebat bayangan hitam terus muncul dalam banyak bentuk rupa. Kucing, anjing, orang tua ku, aku, dan yang terakhir yang paling menakutkan, monster.
Jadi ceritanya begini, aku sedang kumpul bersama teman - teman ku di salah sebuah mall yang tidak terlalu jauh dari rumah. Ditengah sedang asik bercerita ria, aku izin ke toilet.
Pembuangan telah dilakukan, dan aku mencuci tangan. Menatap pantulan wajah sambil merapihkan penampilan, berharap ada perempuan cantik kecantol. Lamunanku terganggu ketika seseorang menatapku dalam. Merasa aneh, aku bergegas keluar. Baru beberapa langkah, kaki berhenti. Dia ada didepanku tersenyum. Aku mundur. Ku perhatikan laki - laki itu.
'Sial! Sial! Sial! Sial!'
'Kondisi apalagi ini?' Runtukku.
Dia, laki - laki itu, matanya hitam semua, dan tidak ada bayangan. Dia, bukan manusia. Sialnya lagi semakin dia melangkah mendekatiku, semakin lebar dia tersenyum.
'Ayolah, dimana orang - orang? Aku sudah berteriak sangat keras loh.'
'Astaga ya Tuhan, selamatkanlah aku.'
Tanganku bergerak cepat mengambil botol sabun seketika aku membatu. Hitam. Ada bayangan hitam yang sangat besar, menganga memperlihatkan gigi runcing seperti gergaji siap menerkam.
Mata merahnya cepat bergulir ketika menyadari laki - laki itu tidak berhenti melangkah. Tangan besarnya memanjang, memerangkap laki - laki itu lalu dimasukkan kedalam mulut. Suara tawa teredam bercampur patahan tulang terdengar. Cairan merah seketika keluar diantara gigi nya yang menampilkan senyum kemenangan, seolah mengatakan,giliran mu.
'Tuhan, ku mohon. Aku tak sanggup lagi. Selamatkanlah aku.'
'Seseorang, siapa saja tolong.'
Suaraku habis berteriak, kaki ku terasa sudah tak sanggup lagi menopang bobot badan ku. Pegangan pada botol sabun melemah. Aku menyerah.
Tidak! Tidak!
Aku menumpilkan semua sisa tenaga ku, ku perkuat pegangan ku pada botol sabun, aku harus berjuang. Setidaknya dapat bertahan sampai seseorang datang menolong.
Aah~
Dengan teriakan nyaring, aku menghantam botol sabun itu kearah nya. Namun naas, sebelum tangan ku sampai, mulut besarnya telah motong badanku menjadi dua. Saran sakit yang teramat sangat terasa saat badan atas dan badan bawah terlepas. Terlihat sedikit kakiku kejang dengan darah yang mengucur seperti air mancur sebelum semua lemas, dan gelap.
Aku terbangun saat suara berisik tertawa dan ocehan terdengar ditelinga ku. 'Dimana aku?' Ku pandangi cat pada langit - langit ruangan. Meoleh ke kanan, dapat ditemukan foto keluarga di nakas. Aku dirumah? Dalam kamar ku?
Bingung, karena lokasi terakhir yang ku ingat adalah aku sedang di toilet merapihkan penampilan. Ugh! Mengingat toilet, mengingatkan ku akan kejadian mengerikan itu.
Segera aku belari kebawah tanpa memperhatikan orang - orang pada memandang aku seperti apa yang hanya memakai kolor tanpa atasan lari tergesa menuju kamar mandi. Yang ada dipikiranku saat ini bagaimana cairan fermentasi dari lambung tidak tumpah ruah memenuhi lantai rumah.
Lama mengurung diri dalam kamar mandi, pada saat ku keluar rumah telah sepi. Mungkin menyaksikan aku berlari seperti itu mereka takut terpapar penyakit yang mungkin dipikiran mereka aku terkena penyakit yang menular. Sehingga mereka buru - buru pulang.
Namun, apa peduli ku. Aku telah lega tidak menyaksikan lantai kotor dipenuhi bau busuk menyengat asam khas fermentasi tersebut.
"Kamu ini kenapa sih?" tanya papa.
"Ga kenapa - napa, pa."
"Abang, sini dulu. Minum dulu, minum."
"Abang sakit? Apanya yang sakit? Bilang ke mama biar kita periksa."
"Ga ada sakit ma, tiba-tiba aja mual tadi."
"Kamu ini, pandai banget ya buat mama panik. Kirain kamu tuh sakit, kulit pucat, terus dari tadi tidur mulu dari sebelum mama - papa pergi sampai pulang. Pas bangun langsung lari ke kamar mandi, mual."
'Eh!? Selama itukah aku tertidur. Dari pagi sampai sore? Tunggu. Jadi kejadian di mall itu apa? Apakah mimpi? Tapi itu seperti nyata, rasa sakit terpisahnya tubuh ku waktu itu masih terasa walau hanya sedikit.' Aku terus bertanya - tanya pada diri sendiri apa aku mengalami yang namanya halusinasi atau delusi.
"Maaf, ma. Tapi aku mual karena lapar deh, ma."
"Pandai kamu cari alasan, bang, bang. Ya sudah, biar mama ambilkan nasinya. Kamu mau lauk yang mana?"
"Dadar aja, ma."
Usai mencuci piring bekas makan, aku menduga bahwa papa tahu ada yang sedang aku sembunyikan. Meski tidak diucapkan, pandangan tidak dapat berbohong. Terlihat papa hanya memperhatikan aku tanpa merespon mama yang sedang asik bercerita.
"Kamu beneran tidak apa - apa? Sakit gitu?"
"Aku beneran tidak apa - apa, pa." ujarku sambil tertawa.
"Naik duluan ya, ma, pa."
Melanjutkan langkah yang terhenti sejenak, aku menghela nafas panjang. 'Tuh, kan bener.'
Pada malam harinya, benar saja aku tidak dapat tidur. Segala macam posisi sudah ku coba. Minum susu dingin pun seperti yang aku tahu dapat membantu cepat tidur tidak berefek padaku.
Huft!
Untuk membunuh rasa bosan, aku membuka ponsel dan berselancar mencari informasi terkait apa yang aku alami beberapa waktu terakhir.
Umpatan ku semakin jadi ketika tulisan - tulisan itu mengatakan hal - hal yang membuat bulu kuduk ku naik. Tulisan dari beberapa situs yang ku dapat adalah mengatakan jika kejadian yang aku alami merupakan kejadian mistis seperti diikuti oleh arwah atau roh jahat, sudah ditargetkan atau menjadi incaran untuk makanan para hantu jahat, terkena sial atau kutukan, melanggar tradisi, dan lainnya. Semua itu memiliki akhir yang sama, mati.
Ctar!
Klik!
Gemuruh petir terdengar bersamaan dengan padamnya listrik di rumah. Ingin rasanya aku mengambil lilin, tapi ku urungkan mengingat karena listrik padam akan sangat berbahaya melewati tangga, salah kaki memijak bisa - bisa berujung dirawat di rumah sakit.
Tanpa memedulikan gelapnya ruangan, aku kembali berselancar mencari informasi lainnya. Tentu cara menangkal atau menghilangkan hal mistis ini.
Hal yang ku temui sama seperti sebelumnya, bukan mendapat pencerahan, aku malah semakin emosi. Umpatan kembali terdengar.
Bertepatan juga saat aku mengumpat, rintik hujan mulai terdengar disertai angin kencang.
Sial! Aku takut jika hujan dimalam hari. Terlebih yang deras sekali disertai angin kencang seperti saat ini. Dengan susah payah aku mencoba menelan air liur ku.
'Tuhan, tidak apa - apa jika hujan, tapi jangan deras - deras. Hujan biasa saja. Aku takut, Tuhan.'
Seolah mendengar keinginan ku, hujan mereda. Aku bersyukur. Nafas lega pun terdengar. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena tidak lama dari itu, hujan turun lebih deras dan menjadi lebih deras. Kilatan cahaya terlihat dan disusul oleh gemuruh awan yang saling bertabrakan.
'Oh tidak!'
Hujan semakin deras. Aku bahkan sampai merasa sedang disiram oleh air bah langsung.
Dengan badan bergetar, aku mengecek ponsel ku. 00.00
'Tuhan!'
Aku memiliki perasaan yang tidak mengenakkan.
Dengan erat aku memejamkan mata, dan menutup telinga akun terus merapalkan kalimat memohon agar hujan mereda. Terus menerus sampai aku mendengar suara nyanyian.
Tangis ku seketika pecah. Dengan hujan yang amat sangat deras disertai petir menggelegar dan angin kencang. Kini lebih menakutkan dengan adanya senandungan merdu perempuan.
'Tuhan selamatkan aku, maaf jika aku jarang berinteraksi dengan-Mu. Aku berinteraksi dengan-Mu hanya saat perlu saja. Tapi kumohon Tuhan, selamatkan aku. Redakan hujannya Tuhan, dan, dan, suara itu, senandungan itu tolong hilangkan Tuhan. Kumohon pada-Mu.'
Terus saja aku mengulang kalimat itu tanpa henti.
Namun, ucapan kalimat itu terputus saat senandungan yang awalnya teredam dengan suara derasnya hujan, kini berada tepat ditelingaku.
Tekanan pada telinga kian bertambah dengan harapan tidak mendengar suara itu. Merasa putus asa, aku berserah. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan pada kejadian seperti ini. Kilas masa lalu berputar layaknya sebuah film dalam benak ku. Yang aku ketahui, hal tersebut terjadi tepat saat orang akan meninggalkan dunia. Langsung saja, perasaan sesal memenuhi hatiku.
Tangis ku semakin kencang. Lirihan itu masih belum berhenti.
Ma, pa, maaf kan aku kalau aku banyak salah. Aku sangat menyesal. Maaf kalau aku tidak mendengarkan perintah mu, ma, pa. Maaf aku tidak nurut. Maaf.'
Pikiran aneh menusuk di kepalaku. Harusnya aku tidak mencari hal itu di internet. Seharusnya aku tidak mengalami hal itu. Harusnya aku tidak melewati jalan itu, mengantar temanku, tidak pergi ke acara nikahan, tidak terkena macet karena kecelakaan, tidak bertemu dia.
'Dia?'
Rupa si perempuan terlintas dibenak ku. Kenapa? Kenapa dia?
Remasan ditelinga ku menjadi, aku yakin telingaku luka. Penuh cakaran akibat graukan kasar yang ku lakukan. Berteriak aku dengan keras, namun suara tak urung keluar.
Deg!
Jantungku seolah berhenti bergerak tatkala sentuhan dingin menjalar dari tangan sampai pada telinga. Usapan ringan itu seolah ada untuk menenangkan ku dari rasa takut.
Pandanganku teralihkan menuju pintu kamar. Kembali, sesosok yang menerkam ku hadir. Badan ku telah dipenuhi oleh banyaknya keringat yang mengucur deras. Dada ku penuh seolah habis maraton. Perutku mual serasa sehabis kena tinjuan.
Tepat setelah melihat sosok itu, senandung itu berhenti dan digantikan dengan suara yang menyenangkan untuk didengar. Yang secara ajaibnya membuat seluruh tubuh ku rileks. Tidak berselang lama, pandangan ku menjadi berat dan kabur hingga aku mulai terjatuh dalam tidurku.
"Tenanglah kau aman sekarang."
--
Akhirnya kini aku terbebas dari bau alkohol dan obat - obatan yang menusuk penciumanku.
Ya, aku baru saja keluar dari rumah sakit. Tempat singgah ku dalam beberapa hari setelah aku diantar kemari oleh petugas taman dikarenakan aku pingsan yang tak kunjung sadar bahkan setelah dilakukan CPR.
Orang tua serta adik ku panik, dan seketika aku dihujami oleh beribu pertanyaan setelah tersadar. Dengan perasaan bersalah telah menutupi kejadian yang menimpa ku, aku menceritakan yang sebenarnya pada mereka. Beragam reaksi dan ekspresi terkejut serta ngeri muncul. Aku bersyukur bahwa mereka mengerti. Walau tidak membenarkan tindakan ku menyembunyikan hal tersebut, mereka memberi beberapa nasihat.
Untungnya tidak ada hal serius terjadi padaku. Dokter mengatakan aku terlalu lelah dan mengalami stress berat sehingga badan mengalami yang namanya shock.
Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh si gadis taman terhadap monster itu. Aku tidak memikirkannya. Yang jelas, kini aku bersyukur aku kembali normal. Baik dalam kesehatan maupun keseharian. Sejak pertemuan ku di rumah sakit dengan si gadis taman dalam mimpi, dapat dikatakan aku tidak pernah mengalami hal aneh atau janggal. Aku kembali seperti sedia kala.
Dalam mimpi itu, terlihat jelas dia meminta maaf karena sesosok itu adalah bawaan dari dirinya yang diakibatkan kiriman orang lain yang ingin mencelakakan nya justru berpindah padaku karena aku dianggap sebagai ancaman yang harus dimusnahkan. Aku tidak percaya itu, bagaimana mungkin. Aku bahkan tidak melakukan apapun. Tapi setelah melihat raut penyesalannya, sedikit banyaknya aku mulai mempercayainya. Lalu, tak hanya mengatakan itu, si gadis taman juga mengatakan satu hal yang membuatku terkejut. Dia mengatakan bahwa dirinya sudah tidak ada lagi di dunia akibat kecelakaan tepat sehabis ujian akhir semester yang menyebabkan macet panjang tempo hari itu. Selain itu, dia mengucapkan terima kasih karena aku telah mau berbuat baik kepadanya disaat semua orang memusuhinya tanpa sebab. Ia melihatku sebagai penolong, dulu ia bercerita ada beberapa orang juga yang baik padanya, namun tak lama kemudian mereka berubah, berbalik memusuhinya. Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Dia juga menjelaskan bahwa aku akan terbebas dari gangguan mistis, dan benar, setelah mimpi itu, aku tidak mengalami satu hal tersebut. Kecuali, menemukan dua buah surat yang tergeletak diatas nakas dikamar ku.
Aku teringat dengan permintaan terakhirnya untuk mengantarkan surat itu pada dua alamat yang berbeda.
Disinilah aku berada, berkeliling mencari nama yang sesuai dengan yang tertera di masing - masing surat. Dari apa yang ku lihat, aku ketahui mereka adalah orang tua dari si gadis taman. Mataku menajam setiap membaca nama yang terpampang diatas batu nisan itu. Setelah memastikan benar, aku berjongkok, menyapa pelan dan berdoa sebelum memberikan surat itu. Hanya menyerahkan, tidak ku baca. Itu adalah privasinya. Aku tidak berhak mengetahui apa yang tertulis.
Selesai dengan itu, aku kembali berpindah tempat ke alamat daerah pemakaman umum untuk mengantar surat yang satunya lagi. Setelah menemukan nama yang sesuai, seperti sebelumnya aku berjongkok, menyapa pelan dan berdoa lalu menyerahkan surat.
Kini, tugas ku dalam menyampaikan amanah darinya telah selesai. Akhir dari kisah menyeramkan itu telah tiba. Tidak ada lagi kisah menyeramkan dan kejadian aneh diluar nalar. Tidak ada lagi penampakan sosok monster yang ingin melahapku. Tidak ada.
Dengan senyuman, aku kembali menjalani kehidupan seperti hari - hari biasa. Menjalani rutinitas lari pagi, berkuliah, setiap liburan semester pulang ke rumah orang tua dan ada lagi tambahan rutinitas ku, aku lanjut berolahraga di gym yang membuat badanku menjadi lebih atletis dan meluangkan waktu untuk kencan dengan pujaan hati.
-
Tamat