Love in the air
Jika di bolehkan memilih, maka aku ingin memilih kisah cinta yang sempurna. Tak ingin terjebak dalam rasa yang tak tentu arah, terjebak dalam rindu tanpa titik temu. Berkubang dengan cinta yang semu. Cinta tanpa pertemuan, mustahil bagi segelintir orang. Tapi bagiku, tak ada yang mustahil. Cinta akan menuntun ke mana hati harus berlabuh. Tak memandang rupa, tak pula memandang harta. Meski hanya lewat udara, cinta akan hadir meski tak bersua.
Perasaan itu dapat tumbuh meski hanya lewat udara. Perasaan itu perlahan hadir karena seringnya berinteraksi meski hanya lewat udara. Cinta dunia Maya, itulah yang ku alami saat ini. Meski banyak yang tak percaya, tapi semua ini nyata adanya. Rasa suka, sayang, cinta serta rindu bahkan cemburu di kemas jadi satu. Kerinduan yang teramat dalam bahkan rasa takut akan kehilangan kian menerpa. Ya, cinta ini nyata adanya. Perasaan ini benar adanya. Rasa ingin bertemu, rasa ingin memiliki dan rasa ingin selalu bersamanya sesak memenuhi relung jiwaku. Aku menginginkannya.
Dia pria sederhana yang ku temui beberapa bulan yang lalu di salah satu aplikasi jejaring sosial yang cukup terkenal. Kita saling berbalas komentar lucu sampai tak rela mengabaikan komentar demi komentar hingga berlanjut ke pesan pribadi.
Hadirnya pria baik itu mengubah duniaku yang kelam menjadi berwarna, menciptakan pelangi yang membuat hariku semakin indah. Hariku yang semula mendung, kini berubah menjadi cerah bahkan lebih indah dari hari kemarin.
Namanya Adi Satya dan sering ku panggil Mas Adi. Hari ini, genap satu tahun aku menjalin hubungan dengannya. Jika kalian beranggapan bahwa kisah ini mulus, kalian salah. Semuanya sama seperti cinta dunia nyata pada umumnya. Bahkan lebih sulit menurutku.
Cinta dunia Maya di tuntut untuk memiliki kepercayaan yang tinggi. Mengapa begitu? Karena kita hanya bisa mengandalkan kepercayaan saat kita berjauhan. Sering bertengkar perihal rindu, cemburu tanpa alasan bahkan overthingking dan Insecure yang selalu hadir tanpa di undang.
“Kamu chatingan dengan siapa sih, Rin? Kok sepertinya seru sekali.” Tanya Delia sahabatku. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi yang ada di sampingku.
“Calon imam.” Jawabku singkat, aku meliriknya sebentar lalu kembali menatap layar ponsel Yang sedang aku genggam.
“Cie, yang udah punya calon imam. Kok aku Ngga’ pernah liat? Memangnya orang mana?” tanya Delia antusias. Ia menggeser posisi duduknya lebih dekat denganku.
Aku meliriknya sebentar, menjauhkan pandangan dari layar ponsel. Senyum tak jua pergi dari wajahku. Entahlah, semenjak mengenalnya aku kerap kali tersenyum.
“Orang seberang pulau.”
“Apa? Jauh amat. Memang kenal di mana?”
“Di salah satu aplikasi.”
“Apa? Di aplikasi?” tanya Adelia. Wajahnya sangat terkejut. Aku hanya mengangguk membenarkan, meski keningku berkerut melihat ekspresinya.
“Jadi, belum pernah ketemu? Sama sekali?” Aku menggeleng dengan cepat.
“Kalian pacaran?” aku mengangguk.
“Ya ampun, apa itu bisa di katakan pacaran?”
Aku hanya diam, menatap ujung kaki yang terjuntai. Aku pun tidak bisa memberikan jawaban karena aku pun tak pernah menemukan jawaban itu. Aku nyaman ketika bersamanya meski itu hanya lewat udara. Aku tak akan tenang sebelum mendapatkan kabar darinya. Rindu itu hadir bukan karena jarak yang memisahkan, tapi karena cinta telah tumbuh dan bermekaran.
Kami saling mengisi, saling menguatkan satu sama lain dan kami bisa menciptakan kisah cinta terindah yang belum pernah kami rasakan sebelumnya. Saling mencintai tanpa bertemu, saling merindukan dan mendoa’kan berharap pada ketulusan. Aku duduk di bangku panjang di depan rumah, di bawah pohon mangga yang rindang dengan semilir angin yang membelai rambut.
“Sebenarnya pacar kamu itu siapa sih, Rin?” kali ini pertanyaan datang dari kakak pertama. Ia sengaja datang ke rumah hanya untuk menanyakan perihal ini. Wajahnya sangat tidak enak di lihat, Delia sudah menceritakan pada kakak.
“Orang jauh, kak.” Jawabku singkat.
“Kamu itu kalo mau cari suami ya jangan jauh-jauh, Rin. Kita tidak tahu bagaimana kehidupannya, bagaimana keluarganya.”
Lagi-lagi aku hanya diam. Aku tidak ingin berdebat dengan kakakku dan memilih menatap daun mangga yang gugur di musim kemarau ini.
“Kamu harus memikirkan ulang tentang hubungan kamu dengan pria itu. Kalau perlu, kamu putuskan saja dia. Mana ada pacaran tanpa bertemu. Daripada nanti kamu sakit hati karena ia mencampakkan kamu setelah pertama bertemu, bagaimana? Hidup itu yang biasa-biasa aja kenapa sih, Rin? Jangan cari penyakit,” lagi-lagi aku diam.
Tapi kata-kata kakak tentang pertemuan pertama, membuatku takut.Bagaimana ya, jika mas Adi tidak mau menerimaku setelah bertemu? Aku tidak secantik wanita lain. Kulitku coklat dan penampilanku sangat sederhana. Apa iya, mas Adi mau menerima gadis sepertiku?
“Lagi pula, ada Amar yang jelas-jelas suka sama kamu dan kita sudah tahu bagaimana keluarganya. Kenapa kamu tidak dengan Amar saja? Hidupnya mapan, pekerjaan tetap dan hidup kamu pasti akan terjamin. Kamu pasti akan sangat bahagia jika menikah dengannya.” Aku menoleh pada kakakku. Mengapa lagi-lagi kemapanan menjadi tolak ukur kebahagiaan? Aku tak habis pikir dengan jalan pikirannya.
“Aku percaya padanya dan aku hanya bahagia dengannya.” Tegasku seraya menatap kakak yang sudah mulai emosi.
“Kamu ini kenapa sih, susah banget kalo di bilangin?Kamu itu harus berpikir lebih realistis, hidup itu nggak Cuma makan cinta.”
“Aku hanya ingin hidup bahagia dan sederhana bersama orang yang aku cintai. Harta bisa di cari sama-sama,”
“Terserah kamu! Kamu itu susah kalo di nasehati.” Kakak berdiri, berjalan menjauh meninggalkanku sendiri. Aku menghela napas lelah.
Aku tidak mencintai Amar. Ah entah lah, meski dia sangat sempurna di mata orang-orang tapi tidak di mataku. Aku hanya mencintai mas Adi. Meski aku hanya tahu rupanya dari foto dan video call. Aku hanya menginginkannya, ya hanya dia. Apakah salah jika mencintai seseorang hanya lewat udara?
“Aku akan datang ke sana akhir bulan ini.” Ucap mas Adi dari seberang telepon. Aku telah menceritakan semua kegelisahan yang aku alami padanya. Ya, beginilah kami. Sekecil apa pun masalahnya, kami akan saling berbagi karena pasangan merupakan rumah ternyaman untuk pulang.
“Benarkah?” netraku membeliak. Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Ada rasa bahagia, takut dan ragu menjadi satu. Aku bahagia setelah sekian lama akhirnya kita akan bertemu. Tapi di sisi lain aku ragu dan takut, mengingat apa yang di ucapkan kakak tempo hari. Apakah mas Adi mau menerima semua kekuranganku? Lagi-lagi pertanyaan itu yang menyebabkan galau di hatiku.
Aku menggenggam ponsel dengan harapan yang ku lantunkan dalam hati. Do’a yang selalu ku langitkan di setiap malam. Tak minta banyak, hanya ingin hidup bahagia bersama orang yang ku cintai. Itu saja. Dan mas Satya benar-benar menepati janjinya, ia datang menemui aku dan keluargaku.
Hari ini, tepat tiga bulan setelah pertemuan pertama kami.
Aku berdiri menatap sunset yang berwarna jingga. Sinarnya makin lama semakin turun bak tertelan air laut di ujung langit. Menghilang di balik garis cakrawala sebelah barat. Indah. Satu kata yang menggambarkan suasana senja hari ini. Angin membelai lembut rambut panjangku yang tergerai. Terdengar deburan ombak yang menghempas batu karang. Aku sangat menikmati keindahan alam yang Tuhan suguhkan. Detik berikutnya, aku merasakan pelukan hangat dari belakang.
“Bagaimana? Indah bukan?” suara seorang pria yang menjadi pusat duniaku saat ini terdengar lembut di telingaku. Membuatku tersenyum menatap laut luas yang terhampar di depan kami.
Aku mengangguk pelan.
“Iya, sangat indah. Seperti yang pernah mas ceritakan sebelumnya. Kini, aku bisa menikmati sunset itu secara langsung bersamamu.”
“Aku mencintaimu.” Bisiknya lembut. Ia mengeratkan pelukannya dan mencium bahuku yang sedikit terbuka. Menciptakan gelanyar aneh yang membuat darahku berdesir.
“Aku lebih mencintaimu. Terima kasih sudah hadir dan memberikan banyak cinta untukku.”
Dia pria sederhana yang ku temui dari sebuah aplikasi. Cinta yang berawal tanpa sengaja dan rasa itu semakin tumbuh meski hanya lewat udara. Dia, pria sederhana yang bisa membuatku tersenyum bahagia karena cinta yang di milikinya. Bahagia itu sederhana, aku tak butuh rupa yang sempurna. Tak butuh pria yang kaya raya, aku hanya butuh cinta. Cinta tulus yang tak memandang apa-apa.
Bahagia bisa di ciptakan bersama, nikmati dan jalani apa yang ada maka kelak kau akan bahagia. Lewat udara, aku menemukan arti ketulusan dan cinta yang sebenarnya. Lewat udara, aku bisa merasakan apa itu bahagia. Terima kasih pria baik, tetaplah genggam tanganku dan jangan pernah lepaskan. Biarkan cinta ini menjadi sejarah terindah dalam perjalanan kisah cintaku yang panjang.
Cinta jarak jauh mengajarkan kita untuk lebih sabar. Mencintai dengan sempurna meski tanpa pertemuan. Cinta yang harus di landasi dengan kepercayaan, agar bisa tercapai yang namanya kebahagiaan.
Jambi, 11 Juli 2022