Benar kata orang. Cinta pertama itu sulit untuk dilupakan. Sesakit apapun kenangannya, ia tetap berada disuatu ruang hati yang tersembunyi. Yang tiba-tiba membuat hati berdebar dan merindukan sosoknya. Aku hanya ingin sedikit bercerita tentang dia yang telah mampu menetap dalam hatiku hingga saat ini.
Namaku Kylla, usiaku sekarang 25 tahun. Aku baru lulus kuliah dan kini magang sebagai dokter spesialis mata. Ada banyak alasan mengapa aku ingin menjadi dokter mata. Kisahnya bermula saat aku duduk di kelas dua SMA.
Delapan tahun yang lalu. Saat itu adalah musim hujan. Ayahku dipindah tugaskan ke Bandung dalam pekerjaannya. Sehingga aku dan sekeluarga harus ikut pindah karenanya. Awalnya aku tak suka sekolah di Bandung. Karena aku harus mencari tempat dan posisiku yang baru di sana. Tapi, apa boleh buat, aku tak bisa membantah untuk tetap tinggal di Jakarta.
Hari pertamaku sekolah, tak semulus yang aku kira. Karena musim hujan, aku harus menghadapi hari pertama sekolahku di Bandung dengan buruk. Saat itu, hujan turun dengan sangat deras di pagi hari saat aku berangkat ke sekolah. Memang aku diantar oleh ayah sampai ke depan pintu gerbang sekolah. Namun, setelah mobil ayah pergi dan aku hendak masuk gerbang sekolah, sebuah motor melaju sangat cepat hingga mencipratkan genangan air hujan ke tubuhku.
Selain basah, seragamku menjadi sangat kotor karenanya. Aku begitu kesal karenanya. Sadar orang yang berkendara itu, telah berbuat salah. Ia memutar balik arah laju sepeda motornya dan menghampiri diriku yang tengah menatap sinis dan marah kepadanya.
"Sorry, loh gak papah?" tanyanya tanpa membuka helem yang ia pakai.
"Loh gak liat, pakaian gue jadi kotor dan basah gara-gara loh?" timpalku nyerongot nge gas kepadanya.
"Yah, gue kan udah minta maaf. Sewot amat, sih!" balasnya malah membuatku semakin kesal.
"Yah gimana gue gak sewot coba! Ini hari pertama gue pindah sekolah, dan loh bikin hari gue jadi gak mood tahu!" serunya nampak sangat-sangat kesal.
Lantas, lelaki itu membuka helemnya dan menunjukkan wajah tampannya yang begitu mempesona. Sejenak aku memang tergoda oleh ketampanannya. Tapi, aku tak bisa mengesampingkan amarahku kepada orang yang telah membuat kacau hariku seperti ini.
"Yaudah, kalau itu masalahnya..."
Entah apa yang mau ia lakukan. Ia membuka jaket mantelnya dan begitu pula seragam putih yang sedang ia kenakan saat ini di tempat. Aku tentu tertegun kaget dan malu melihatnya. Apalagi para siswa lainnya memperhatikan kami.
"Hei, loh ngapain?" tanyaku padanya dengan panik.
"Loh bilang marah karena seragam loh basah, kan? Ini, pake dulu aja punua gue... lagi pula loh bilang hari ini, hari pertama loh sekolah disini kan? Ini pake aja," ucapnya sambil menyodorkan seragamnya.
"Ihh nggak! Gue gak mau pake baju loh yang bau itu... lagian kalau gue pake baju loh, loh mau pake apa?"
Lelaki itu mencium seragamnya untuk memastikan kalau bajunya itu tidak bau seperti yang dikatakan olehku. Padahal aku cuma tak mau saja sembarangan nerima hal seperti itudari orang yanv gak aku kenal. Apalagi kalau dari cowok.
"Nggak bau, kok! Udah, loh pake aja. Gue bisa pake jaket, kok," paksanya sambil memberikan seragamnya itu ke tanganku.
Aku hanya heran saja kepadanya, kenapa sikap dan nada bicaranya begitu lembut, meskipun aku bicara nge gas dan jutek kepadanya. Seketika perlakuannya itu memberikan kesan yang menarik perhatian dan hatiku. Apalagi wajahnya yang begitu tampan dan mempesona. Di tambah ia malah tersenyum manis untukku. Seketika jantungku berdebar karena dirinya.
Lantas kemudian, pria itu kembali memakai jaket mantelnya dan segera pergi dari guyuran hujan dengan sepeda motornya. Padahal ia sudah basah kuyup karena hujan. Entah kenapa, aku tak bisa mengalihkan tatapanku sampai ia benar-benar hilang dari pandanganku.
Singkat cerita, akhirnya aku pun mengganti pakaianku di kamar mandi. Ukurannya memang agak kebesaran di tubuh aku. Tapi, dari pada harus memakai seragam yang kotor, yang ini lebih pantaa untuk dipakai.
Aku tak tahu, takdir apa yang aku miliki dengan pria tadi itu. Sampai-sampai, ternyata aku satu kelas dengan pria yang mengotori seragamku tadi. Aku bahkan sampai satu bangku dengan dia.
"Hai, kita bertemu lagi," sapanya dengan hangat. "Maaf yah, bajunya agak longgar yah, di tubuh kamu," sambungnya.
"Oh, iyah gak papah. Loh gak kena sanksi apa cuma pake kaos oblong sama jaket doang di kelas?" tanyaku akhirnya mulai mencoba berbasa-basi.
"Nggak, tenang aja kok. Oh iyah, kenalin nama gue Fyan."
"Gue Kylla."
Disitulah cinta gue dan dia dimulai. Gue gak pernah menduga kalau dia adalah orang terhangat yang pernah ada. Dia orangnya sangat asik dan humoris.
Dari demi hari pun berlalu. Aku dan dia semakin dekat dan akrab. Bahkan, tanpa sadar aku mulai menaruh hati padanya. Sampai suatu ketika, Fyan menyatakan cintanya padaku. Tentu dengan senang hati aku terima cintanya itu, karena aku pun menyukai dirinya.
Kami menjadi pasangan yang serasi. Jujur dia adalah cinta pertamaku yang sangat baik. Dia perhatian, sabar, tenang dan tak pernah sekali membentak diriku selama kami bersama. Dia jujur, sopan dan sangat menghargaiku walau aku sudah menjadi kekasihnya. Ia bahkan selalu ada disaat aku butuh dan selalu kasih suport disaat aku kecewa akan sesuatu dan terpuruk. Semua hal tentangnya sangat baik, sehingga rasa sayangku kian bertambah besar.
Satu tahun kami bersama. Hari itu, aku akhirnya terpilih untuk mewakili sekolah dalam lomba menulis puisi. Aku melakukan perjalanan untuk ikut serta dalam lomba. Sayangnya Fyan tak bisa ikut. Namun, ia tetap ngasih aku support sebelum aku pergi ke tempat lomba.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Cukup lakukan yang terbaik yang kamu bisa. Tak perlu memikirkan caranya menang. Pikirkan saja, bahwa kamu menikmati tulisan dan imajinasimu. Aku akan selalu mendukungmu walau aku tidak berada disisimu. Semangat sayang~" ucapnya sebelum aku pergi.
Kata-katanya itu sungguh menenangkan pikiran dan jiwa. Sampai, rasa gugup yang tadinya menggebu perlahan menghilang dengan tenang. Dan karena itu, aku hanya fokus pada tujuanku. Menikmati moment dalam tulisanku yang kurangkai menjadi sebuah kata yang indah.
Dan tak ku sangka, aku mendapat juara pertama. Aku begitu senang, dan tak sabar ingin memberikan kejutan baik ini pada Fyan. Sengaja aku tak memberi kabar lewat telepon. Karena aku ingin mengatakannya secara langsung. Namun, tiba-tiba sesuatu terjadi dalam perjalanan pulang. Dan...
Bip...
Srak...
Aku mengalami sebuah kecelakaan. Mobil yang kutumpangi tertabrak oleh truk. Ketika itu, hanya satu orang yang terlintas dalam pikirannya sebelum aku benar-benar tak sadarkan diri. Hanya satu nama yang ku sebut dan itu adalah Fyan.
Sampai suatu ketika aku terbangun dari komaku selama tiga hari. Dan suara yang kudengar pertama kali setelah bangun adalah suara Fyan. Namun, sayangnya aku mengalami kebutaan dan tidak bisa melihat apapun. Saat itu, duniaku seketika menjadi gelap. Aku tak bisa menerimanya. Tetapi, berkat Fyan yang selalu setia menerima keadaanku dan terus berada disisiku, perlahan aku bisa menerima kenyataan ini.
"Jangan takut. Aku... akan terus berada disisimu. Aku akan melindungimu. Mulai sekarang dan seterusnya, aku akan menjadi matamu," ucap Fyan padaku.
Sejak saat itu, Fyan selalu menjagaku dengan sangat baik. Dan aku sadar, bahwa aku sangat bersyukur bertemu dengan dia dalam hidupku. Mungkin aku tidak akan pernah bisa menemukan pria sebaik dia lagi dalam hidup ini.
Sampai suatu hari, aku mendapat kabar kalau aku akan dioperasi untuk donor mata. Aku tak tahu siapa pendonor itu. Dan aku dengan senang kabarkan kabar baik ini pada Fyan.
"Fyan, aku mendapat donor mata. Dan sebentar lagi aku akan bisa melihat lagi. Aku punya satu permintaan kepadamu... aku ingin kamu adalah orang pertama yang aku lihat setelagmh mataku sembuh," ucapku.
Fyan mengelus pipiku dengan sangat lembut seraya berkata. "Tentu saja. Aku sangat bahagia, karena kamu akan bisa melihat lagi, sungguh!"
"Janji?"
"Iyah, janji."
Lantas, tibalah hari yang aku tunggu. Sebelum masuk ruang operasi, aku menunggu Fyan. Namun, ia tak kunjung datang sampai akhirnya aku masuk ruang operasi. Aku tak berpikir hal yang aneh. Mungkin, Fyan saat ini sedang kesulitan menuju kesana.
Operasiku berhasil dengan sangat baik. Dan yang anehnya, selama aku dirawat seusai operasi mata, Fyan tak pernah datang menjengukku. Aku merasa khawatir dan aneh. Aku bertanya kepada kedua orang tuaku tentangnya. Namun, mereka hanya bilang, kalau Fyan sedang pergi karena ada urusan. Dan mereka bilang, untuk aku tak khawatir soal itu. Aku pun percaya pada mereka.
Hingga pada akhirnya harinya tiba aku membuka perban mataku. Pertama kali aku bisa melihat lagi, orang yang kucari tak ada disana. Aku pun merasa ada yang aneh dan kembali mempertanyakannya pada Bunda.
Namun, Bunda tak menjawab dan malah memberiku sepucuk surat.
Dear, Kylla tersayang.
Sebelumnya aku minta maaf karena tak bisa menepati janjiku padamu. Dan juga, maafkan aku karena mungkin kali ini aku tak bisa merawatmu. Mungkin, ini akan sangat menyakitkan. Tapi, percayalah meski aku tak disampingmu. Aku akan terus selalu mengawasimu. Karena itu, kau harus bahagia, walaupun aku tak bisa lagi menuntun tawamu. Kylla, kau adalah wanita terhebat yang pernah aku temui. Aku yakin, walau tanpa diriku kamu akan baik-baik saja. Karena itu, kamu harus menjaga kesehatanmu dan nikmatilah hidupmu. Maafkan aku karena harus pergi seperti ini.
I love you, Kylla
Salam cinta
Fyan
Setelah membaca surat itu, aku tak mampu lagi membendung air mataku. Aku menangis sejadi-jadinya. Ternyata tanpa sepengetahuanku, Fyan selama ini telah sakit parah, ia menderita sakit kanker darah. Ia tahu hidupnya tak lama lagi. Karena itu ia mendonorkan matanya kepadaku. Dan mata yang saat ini sedang aku nikmati adalah mata kekasihku yang penuh akan pengorbanan. Cinta pertamaku yang terhebat, dia adalah Fyan.