11. Bab 11 - Peristirahatan Terakhir
Baru saja hendak berbicara, matanya terbelalak manakala sesosok wanita berbaju hitam, berambut hitam panjang berdiri dengan kepala tertunduk sesekali kepalanya menyentak dua tiga kali ke kiri. Dia adalah Michikko.
Michikko kini sudah berdiri diantara Ki Prana dan Kedung Bawuk. Semua orang merasakan adanya hawa jahat memancar keluar dari tubuhnya. Hawa Pembunuh yang cukup besar dan bisa mencelakakan siapapun yang ada di dekatnya. “Selamatkan diri kalian jika masih ingin hidup !!” seru Ki Prana.
_____
Siang itu, awan hitam berarak perlahan dari arah Lereng Pegunungan Arjuna menutupi langit yang semula cerah. Tanah lapang yang cukup luas berjarak sekitar 500 meter dari rumah Arimbi terjadi pembantaian besar-besaran. Mayat-mayat bergelimpangan tak tentu arah dan bentuknya sudah tidak utuh lagi. Tanah yang tadinya berwarna hijau karena rumput dan tanaman, memerah basah oleh darah. Kata-kata kejam tidak manusiawi juga teriakan-teriakan ‘Bunuh penyihir’, ‘usir mereka dari sini’, ‘bakar mereka’, dan lain sebagainya dalam sekejab berubah menjadi jeritan memilukan dan menyayat hati. Michikko mengamuk tak terkendali, membunuh siapa saja yang ada di dekatnya, Kedung Bawuk yang semula menjadi sasaran utama amukan Michikko berlindung di balik kerumunan massa, ia berniat melarikan diri selagi ada kesempatan, tapi, rasanya sulit sekali.
Ki Prana dan yang lain mencoba menghentikan ulah brutal Michikko dengan segala kekuatan yang ada tapi, harus rela terluka parah demi melindungi orang. Kekuatan Michikko benar-benar tak bisa dibendung, Ki Prana pun harus bertekuk lutut, sekujur tubuhnya lemas tak berdaya. Sementara itu, wajah Kedung Bawuk pucat pasi, tak ada lagi tempat untuk berlindung, seumur hidupnya baru kali ini merasa ketakutan seperti itu. Dalam setiap aksinya, ia hanya mengandalkan massa.
Kini massa yang menjadi perisainya, kocar-kacir. Kedung Bawuk jatuh terduduk manakala melihat pemandangan yang mengerikan itu.
Michikko berdiri sambil memandangi mayat-mayat yang bergelimpangan di sekelilingnya sementara di belakangnya Kedung Bawuk berjingkat-jingkat hendak meninggalkan tempat itu. Sambil menyentakkan kepalanya ke kiri dua-tiga kali, ia menuding lurus-lurus ke wajah Kedung Bawuk, “Kau, kemarilah. Berlututlah di hadapanku !” katanya dingin.
Kedung Bawuk membalikkan badannya, ia berkacak pinggang tapi, sama sekali tak mampu menutupi rasa takut dan gelisahnya, “Aku, Kedung Bawuk pantang berlutut di hadapan penyihir sepertimu !!” tantangnya.
Gemerantak jari-jemari tangan kanan Michikko bergerak menegang membentuk cakar dan diarahkan ke leher Kedung Bawuk. Pria itu terkejut manakala merasakan lehernya seperti dicekik dan tubuhnya diangkat tinggi-tinggi ke udara. Air mukanya membiru, ia mencoba menahan rasa sakit yang kini menjalari sekujur badannya. Michikko mendegus keras, “Aku ingin tahu apa dagu yang menyatu dengan leher di balik jenggotmu itu sekeras kepalamu ?!”
Saat Michikko hendak mematahkan leher Kedung Bawuk, terdengar seruan dari belakang, “Michikko, hentikan ! Mengapa kau harus mengotori tanganmu dengan darah pria rendah dan munafik seperti dia !” seruan itu menyadarkannya. Setelah ia mencampakkan tubuh Kedung Bawuk ke tanah keras-keras, ia membalikkan badannya dan tampak Miwako diikuti dengan Arimbi dan teman-temannya tengah berjalan terseok-seok menghampiri.
Miwako, Arimbi, Cindy dan Maribeth muncul, tubuh mereka penuh dengan luka-luka yang boleh dibilang cukup parah. Tampaknya pertarungan yang terjadi di rumah Arimbi telah menempatkan Michikko sebagai pemenangnya. “Sekalipun aku mati, tidak akan kubiarkan kau membunuh orang lagi,” kata Miwako seraya membungkukkan badannya ke tanah dan mengambil sekepal tanah. Bibirnya komat-kamit membaca mantera dan menebarkan tanah itu keempat penjuru mata angin.
“Harunai eiki sharu-tai. Harunai Kashi-gawa Nomo Hikaru. Watashi wa Ai Ki-geru”
Bersamaan dengan itu, dari dalam tanah menyembul keluar sebuah benda menyerupai kepala manusia disusul dengan munculnya makhluk-makhluk kerdil yang aneh dan menyeramkan berwarna merah bagaikan bara api.
Tempat itu seperti diguncang oleh gempa bumi yang hebat, tanah terbelah menjadi dua menarik masuk siapa saja yang ada di dekatnya.
Dalam sekejab, Miwako, Michikko, Cindy dan yang lain mendadak sudah berada di sebuah tempat asing. Di sekeliling mereka tampak lautan lahar panas, gelembung udara memercik kesana-kemari, membakar apapun yang ada di dekatnya.
“Aku sengaja membawamu ke tempat ini. Mungkin ini adalah tempat yang cocok untuk menyucikan jiwamu yang penuh dengan amarah, dendam, kebencian serta nafsu membunuhmu yang kelewat batas itu,” kata Miwako.
Michikko tak berkata apa-apa selain melemparkan bonekanya ke tanah.
Pada saat itulah lahar panas yang berada di sekelilingnya bergerak bagaikan pusaran air dan saat Michikko merentangkan kedua tangannya, cairan panas itu berpencar ke segala penjuru mata angin dan mengelilingi tubuhnya.
Miwako dan yang lain membelalakkan mata. Putaran lahar panas bagaikan badan angin puting beliung. Saat Michikko menudingkan telunjuk kanannya lurus-lurus ke wajah Miwako, lahar panas itu melesat bagaikan ribuan anak panah terlepas dari busurnya ke arah Miwako.
Jarak antara lahar panas dengan wajah Miwako tinggal beberapa senti saja, tapi, mendadak tubuh Miwako berubah menjadi bayangan-bayangan merah dan terbakar. Sekalipun menyadari serangannya gagal, Michikko tetap diam tak bergeming, lagi-lagi kepalanya menyentak ke kiri dua tiga kali sementara lahar panas sudah kembali ke tempatnya semula, seakan menanti apa yang akan dilakukan oleh Michikko.
“Nona Miwako,” panggil Maribeth, “Dia benar-benar ingin membunuhmu,”
“Dia takkan bisa membunuhku,” sahut Miwako.
“Bagaimana kau bisa berkata demikian ? Beberapa saat yang lalu di halaman rumah Arimbi, dia membuat kita terluka. Kini dia membuat lahar panas itu sebagai alat untuk membunuh,” kata Maribeth.
“Maafkan aku karena telah menempatkan kalian pada situasi seperti ini. Tak kusangka, kejadian ini malah berada di luar kendaliku. Aku harus bertanggung jawab,” ujar Miwako sedih.
“Kau tidak harus bertindak sendiri, kami akan membantumu,” sahut Ki Prana, “Kau dan teman – temanmu adalah orang-orang istimewa. Dengar Michikko yang sekarang ... bukanlah Michikko yang kau kenal dulu, Nona Miwako,” Husein Bin Mahfud menambahkan.
“Kami akan membantumu. Kekuatan Michikko memang besar, tapi, kalau kita bersatu ... dia bukanlah apa-apa. Biar bagaimana pun kalian adalah keluargaku. Aku tidak akan berpangku tangan,” Arimbi angkat bicara.
Arimbi memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam, saat menghembuskan nafas, mendadak, dari arah belakang terdengar suara bergemuruh. Itu adalah suara air dalam volume yang cukup besar. Air itu bergerak menerobos pusaran lahar panas milik Michikko. Untuk sesaat di antara Arimbi dan Michikko berdiri bagaikan terbentang sebuah tembok raksasa berwarna jingga. Sesekali tembok itu bergerak menekan Arimbi, sesekali bergerak menekan Michikko. Wajah dua wanita itu menegang cukup lama, Arimbi tampak kewalahan hingga darah keluar dari hidung kanannya.
Menyadari pertahanan Arimbi takkan mampu membendung serangan Michikko ... Miwako, Ki Prana, Husein Bin Mahfud dan yang lain segera berdiri di belakang Arimbi. “Duar !” ledakan keras terjadi, tubuh Michikko terpental ke belakang beberapa tindak dan jatuh terduduk, gelombang air terus berdatangan tiada henti bagaikan terjangan air bah. Michikko tak mampu lagi berbuat apa-apa selain membiarkan air tersebut menyirami tubuhnya.
Sosok-sosok merah itu berlompatan menerjang ke arah Michikko. Ia merasakan tubuhnya bagaikan ditusuk-tusuk ribuan jarum dan panas menyengat saat sosok-sosok merah menyala itu menyambar. Warna merah di tubuhnya berubah menjadi kobaran-kobaran api, ia berteriak kesakitan. Api terus membakarnya hingga akhirnya teriakan itu kian melemah. Miwako mengambil sebuah guci kecil dan menaruhnya di atas abu Michikko dan menutupnya erat-erat.
Perlahan-lahan, keadaan di sekitar berubah, lahar-lahar panas yang sejak tadi seakan membakar tempat itu hilang dan digantikan dengan rimbunan pepohonan berdaun lebat. Miwako dan yang lain sudah kembali ke tempat yang sesungguhnya, tempat dimana Kedung Bawuk tergeletak tak berdaya si antara gelimpangan mayat tak tentu arah.
“Akhirnya tugasku selesai,” kata Miwako, “Dia harus segera dibawa ke Jepang dan dimakamkan secara baik-baik,” sambungnya.
“Nona Miwako,” sapa Ki Prana, “Kelak jika kau membutuhkan bantuan kami, kami pasti akan datang membantu,” sambungnya.
“Terima kasih, Ki Prana. Setelah membawa abu Michikko ke hadapan ibu dan memakamkannya, saya akan kembali menemui saudara-saudaraku,” kata Miwako.
Baru saja Miwako menutup mulutnya... terdengar desiran angin dingin dan tajam menyusul kemudian terdengar suara tawa terkekeh-kekeh... suara bagaikan tercekik di kerongkongan.
"He.... He... he... he... he....," tawa itu membuat Ki Prana, Arimbi dan lain lainnya terkejut. Belum habis rasa terkejutnya, mayat-mayat yang bergeletakan tak tentu arah itu mendadak hancur lebur, darah muncrat dimana-mana bagaikan hujan dari percikan darah itu muncul sesosok bayangan hitam...
Bayangan itu adalah sesosok wanita tua berambut kelabu, panjang lagi awut-awutan, berpakaian hitam memegang sebuah tongkat berbadan ular dan pada pangkalnya ada ukiran mirip tengkorak kepala manusia sebagai penyangga tubuhnya yang bongkok.
Udara di sekitar tempat itu mendadak berubah dingin... hawa dingin yang tidak biasa seperti hawa kematian... membuat semua orang mundur beberapa tindak...
"Siapa, kau ?" tanya Ki Prana.
Nenek itu hanya terkekeh setelah itu sepasang cahaya merah menyorot dari sela-sela rambutnya yang awut-awutan itu.
"Berdasarkan apa aku harus menjawab pertanyaan mu, anak muda..." kata nenek itu, "Kau saja tak mengenalku apalagi yang lain," sambungnya sambil menghampiri Miwako... gadis keturunan Jepang itu memeluk gucinya erat-erat manakala sepasang sorot merah itu bergerak menatapnya.
"Berikan guci itu padaku," sahut nenek itu dengan suara melengking parau.
"Ini adalah abu adikku, mengapa kau menginginkan nya," jawab Miwako yang heran karena nenek itu berkata dengan bahasa Jepang yang sangat fasih.
"Berikan padaku. Setelah itu kembalilah ke Jepang... sampaikan salamku pada Ukko,"
Suasana berubah menjadi tegang, pertempuran besar, hidup dan mati bakal terjadi...Ki Prana juga yang lainnya paham, bahwa nenek itu lebih hebat daripada Michikko. Tubuh Arimbi bergetar hebat demikian pula Cindy dan Maribeth, baru kali ini mereka merasakan takut... yah, baru saja pertempuran supernatural bersama Michikko selesai... haruskah mereka kembali bertempur disaat tenaga mereka sudah terkuras habis.
Sekian lamanya mereka berdiri berhadap - hadapan dengan nenek itu.
Sepasang sorot mata berwarna merah miliknya membuat siapapun terpaku... mendadak bagaikan digerakkan oleh kekuatan tak kasat mata, tangan Miwako yang memegang guci berisi abu jenazah Michikko bergerak dan terhenti tepat di hadapan nenek itu.
Nenek itu terkekeh-kekeh, "Bagus...bagus, berjalanlah kemari berikan guci itu kepadaku,"
Bagaikan terkena sihir, Miwako berjalan menghampiri nenek itu dan hendak memberikan gucinya. Mendadak sebuah bayangan berkelebat, "Miwako, sadarlah kau telah terkena sihirnya,"
Miwako tersentak, manakala terdengar seruan perlahan dan tubuh nenek itu terdorong beberapa tindak ke belakang.
"Kurang ajar," umpat nenek itu dengan suara seraknya, "Berani benar kau mencampuri urusan Selo?! Siapa, kau ?"
Seorang wanita berpakaian hijau berdiri diantara Miwako dan nenek itu. Wanita itu cantik jelita, Arimbi segera mengenalinya, "Alya," serunya.
Wanita itu menoleh ke arah Arimbi, ia tersenyum, "Hallo, freaks... lama tidak berjumpa denganmu," katanya.
Arimbi tertegun, sekilas wanita itu memang mirip Alya, sahabat karibnya, tapi, sekilas pula ia tampak seperti ibunya.
"Jangan khawatir .... setelah membereskan Mak Selo ini, akan kujelaskan semuanya. Kalian beristirahat lah sejenak," katanya.
Nenek itu terkekeh-kekeh, "Kukira siapa... ternyata, kau meminjam tubuh bocah bau kencur, Utari,"
"Maaf, Mak.... terpaksa aku ikut campur. Tindakanmu itu telah menyalahi kodrat dan jika dibiarkan begitu saja, dunia ini akan kacau," ujar wanita itu
"Kau pikir sanggup mengalahkanku ? Gurumu saja tak mampu menghadapi ku, apalagi kau,"
"Kau benar, Mak... tapi, paling tidak aku harus mencegah ulahmu itu. Michikko adalah salah satu keturunan dari Djojo Diningrat, maka takkan kubiarkan kau berlaku seenaknya,"
"Kurang ajar ! Siapapun yang menghalangi rencanaku, harus mati," teriak nenek itu sambil menyerang wanita itu dengan sodokan tongkatnya.
Sodokan itu hanya sekedar untuk mengalihkan perhatian, sementara serangan yang sesungguhnya adalah terpaan angin dingin yang tajam mengarah ke pinggang sebelah kanan padahal arah sodokan itu dari sebelah kiri. Dua serangan yang membahayakan, wanita itu melompat mundur ke belakang setelah tapak kakinya mendarat ke tanah, tangan kanannya sudah melolos sebuah kain putih.
"Serangan itu berbahaya sekali," kata Miwako.
"Benar, nak.... sebenarnya, aku tak ingin mencampuri urusan duniawi lagi. Tapi, guruku memerintahkannya. Kau, ajaklah Arimbi dan kawan-kawan nya mundur sejauh mungkin, aku tak ingin merusak tubuh yang kupinjam ini," kata wanita itu. Miwako pun menuruti permintaannya.
Setelah dirasa aman wanita itu kembali melompat tinggi ke udara, nenek itu sudah menyerangnya dengan bertubi-tubi, sementara wanita itu menangkis dengan kain putihnya.
"Trak... Trak... Trak..."
bunyi kain lembut dan tongkat keras beradu. Berulang kali, menerbangkan debu, tanah, kerikil dan bebatuan di sekitar tempat itu.
Jelas sekali telah terjadi adu tenaga dalam yang dahsyat. Bagi orang biasa, udara di sekitar serasa menyesakkan dada... tapi, bagi mereka yang menguasai tenaga dalam tingkat tinggi, itu adalah hal yang menakjubkan.
Hingga pada suatu kesempatan tongkat kepala manusia itu berhasil menyodok dada wanita itu dan membuatnya terdorong ke belakang. Tidak terasa sakit, tapi, cukup mengejutkan. Nenek itu lagi-lagi terkekeh-kekeh, "Itu hanya pelajaran saja, anak manis.... serangan berikutnya, mungkin akan melukaimu juga tubuh yang kau pinjam itu," katanya.
"Hmm... kesalahan yang sama takkan terulang lagi, Mak..." katanya seraya hendak mengambil kuda - kuda bersiap untuk melanjutkan serangan. Akan tetapi, Miwako mencegahnya, "Biar aku saja yang menghadapinya, bi... aku mulai paham dengan serangannya. Bolehkah aku meminjam selendangmu ini ?" katanya.
"Baiklah," kata wanita itu sambil menyodorkan selendangnya.
"Inikah selendang Sih Wilujeng milik Djojo Diningrat yang tenar itu ?" tanya Miwako.
"Kau juga mengetahuinya ? Kalau begitu berhati-hati lah... kalau tidak malah kau yang celaka," kata wanita itu sambil melangkah mundur sementara guci yang dibawa Miwako sudah berpindah ke tangannya, "Michikko akan aman bersamaku," katanya.
Miwako mengangguk lalu melompat ke hadapan nenek itu.
"He... he... he... he... anak bau kencur, kau mundur saja biarkan aku memberi pelajaran untuk Rara Utari itu,"
"Kau sombong sekali, Nek..." kata Miwako, "Aku takkan selengah tadi sewaktu kau menggunakan sihirmu untuk merampas guci Michikko," setelah berkata demikian mendadak kain putih itu meliuk-liuk bagaikan seekor ular raksasa. Bagi orang awam, kain itu terlihat seperti seekor naga menyerang ke arah nenek yang kini berusaha menghindari serangan ujung kain itu dengan tongkatnya.
Setelah sekian lama berkutat dengan tongkat kepala manusia, kain itu akhirnya mampu melilit kuat membuat gerakan nenek tersebut tersendat. Nenek itu terkejut namun sesaat kemudian ia tertawa, "He... he... he... he... bagus sekali kau mampu menahan serangan ku. Jangan dikira kau sudah diatas angin..." setelah itu ia memutar tongkatnya dan ikatan kain itu kian menguat hingga akhirnya, sebuah ledakan dahsyat mengejutkan semua orang.
Tubuh Miwako terpental beberapa tombak demikian pula tubuh nenek itu. Arimbi dan yang lain menghampiri Miwako yang mencoba berdiri tertatih-tatih, "Kau tidak apa-apa, nak?" tanya wanita itu. Miwako menggelengkan kepala.
Sementara itu nenek itu juga sudah berdiri tegak, "Hmmm... kau benar-benar hebat. Tak percuma kau menyandang keturunan Djojo Diningrat... baiklah, aku tidak akan memperpanjang urusan ini... tapi, tunggulah bila saatnya tiba, aku akan kembali. Pada saat itulah, takkan kubiarkan keturunan Djojo Diningrat hidup.... he...he...he...he..."
Bersamaan dengan itu, sebuah gulungan hitam menyelimuti tubuh nenek itu dan terdengar tawa mengerikan menyakitkan telinga siapa saja yang mendengarnya.
Perlahan-lahan gulungan hitam itu menipis dan hilang demikian pula tubuh nenek tua itu.
"Jangan lari, kau... Kita masih belum selesai," kata wanita berbaju hijau itu yang kemudian ikut menghilang di balik rimbunan semak belukar.
"Tunggu," Arimbi berteriak namun sepertinya tidak ada tanggapan.
"Dia bukan manusia," ujar Ki Prana, "Mungkinkah dia itu Nimas Selo ? Tidak, dia sudah mati puluhan tahun silam," katanya pada Arimbi.
"Siapa, Ki ?" tanya Arimbi.
"Panjang ceritanya, tampaknya lawan kita kali ini lebih kuat daripada Michikko. Tampaknya aku harus segera menemui guruku," ujar Ki Prana.
"Situasi menjadi di luar kendali," kata Miwako, "Arimbi, aku harus segera kembali ke Jepang sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi, jangan khawatir, aku akan datang lagi dan membantumu membereskan masalah keluarga Djojo Diningrat. Biar bagaimanapun juga kalian adalah keluargaku. Siapapun nenek itu, ia berbahaya dan bukan orang sembarangan," sambungnya sambil perlahan-lahan Miwako membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan tempat itu. Sementara Arimbi dan yang lain hanya memandanginya hingga tubuh wanita itu menghilang di tikungan jalan. Ia tak mampu mencegah kepergian saudara tirinya itu.
“Bagaimana dengan Kedung Bawuk, Ki ?” tanya Arimbi.
“Biar kami yang mengurusnya. Kedung Bawuk, bisa dipastikan takkan bisa lagi berbuat onar. Tapi, waspadalah, kelak akan muncul Kedung Bawuk yang lain. Selama kami masih ada di dunia ini, mereka takkan bisa berbuat apa-apa lagi,” ujar Husein Bin Mahfud.
Ki Prana dan yang lain satu per satu meninggalkan tempat itu sambil membawa tubuh Kedung Bawuk yang masih tak sadarkan diri.
“Kini kita bisa beristirahat dengan tenang. Kak Arimbi, bolehkah kami tinggal beberapa hari lagi di rumah kakak ?” tanya Cindy.
Arimbi menoleh ke arah Cindy, “Kalian tidak boleh kemana-mana. Semenjak kejadian Michikko, sepertinya kita dihadapkan sesuatu yang menegangkan sehingga tak ada lagi waktu bersantai. Kini semuanya sudah selesai, jadi, aku akan menemani kalian piknik kemana pun kalian suka. Lagipula aku masih merindukan kalian semua,” Cindy dan Maribeth tersenyum, kejadian menegangkan beberapa jam yang lalu bagaikan hilang entah kemana.
_____
Epilog
Dengan sepotong tongkat kayu yang usang, laki-laki paruh baya itu berjalan menyusuri jalanan terjal berbatu. Lusuh pada wajahnya, seluruh pakaian dan sorban putih kecoklatan, yang dikenakan compang-camping.
Sesekali ia berhenti untuk menyeka keringat yang mengalir dari dahinya dan menarik nafas panjang. Sepasang matanya sayu dan berkantung menatap ke sekeliling. Di depan hanya ada jalanan gersang, tandus, kering dan terbakar sengatan terik matahari tepat di atas kepala. Jalanan itu sepertinya tak berujung, di sebelah kanan kirinya hanyalah deretan batu nisan yang sebagian sudah rusak disana-sini. “Ah, sekalipun lama rasanya aku berjalan, selalu dihadapkan pada pemandangan yang sama,” katanya seorang diri untuk kemudian melanjutkan langkah-langkahnya yang terseok-seok. Ia ingin secepatnya meninggalkan tempat itu..
Setelah agak lama berjalan, ia kembali berhenti dan pemandangan yang ada di sekelilingnya selalu sama. Ia pun jatuh terduduk dan menangis, tangis penuh keputus asaan. Di sela-sela tangisnya, terdengar suara aneh dan cukup mengganggu dari arah depan.
Lebih kurang 200 meter di depan, tampak orang banyak berkerumun. Laki-laki itu menghentikan tangis dan rasa penasaran yang menggelitik membuat langkah-langkahnya terasa ringan dan dalam sekejab sampailah di tempat yang dituju. Sepasang matanya terbelalak lebar manakala melihat orang-orang tersebut ternyata mengerumuni sesosok tubuh laki-laki tua tergeletak di tengah jalan dalam keadaan sudah tak bernyawa. Ia mengenali laki-laki tersebut. Kedung Bawuk. “Mana mungkin itu aku ?” ia bertanya pada salah seorang dari kerumunan tersebut, tapi, sepertinya orang itu tak mendengarnya. Sekali, dua kali, tiga kali hingga kesekian kalinya ia bertanya pada orang lain, tapi, tak ada yang mendengarnya, “Tidak mungkin !!” ia berteriak sekeras mungkin namun, itu hanyalah teriakan yang semakin lama semakin jauh dan menghilang terbawa angin ke berbagai penjuru.
Angin tersebut berhembus perlahan, membelai badan perbukitan dan lereng-lereng Pegunungan Arjuna. Menerbangkan apa saja termasuk debu-debu yang ada pada jalanan sunyi dan sepi. Debu-debu tersebut berkumpul menjadi satu membentuk sebuah benda. Boneka gadis cilik yang lucu dengan rambut berkepang dua. Sepasang matanya tampak hidup, bergerak naik turun, senyum manis pada bibirnya yang imut membuat boneka itu tampak cantik sekalipun dihiasi debu. Senyuman yang mengandung kekuatan magis, membuat siapapun ingin memilikinya.
Nun jauh disana ... di dalam sebuah gua, sebuah bayangan wanita duduk bersila sementara wajahnya tertunduk, sepasang matanya terpejam rapat. Ia duduk dikelilingi oleh lebih kurang 20 batang lilin.
Angin berhembus perlahan, menggoyang nyala api pada lilin – lilin tersebut. Asap putih tipis meliuk – liuk mengikuti arah angin melenggak – lenggok bagaikan penari – penari jelita, membentuk siluet – siluet aneh. Detik berikut, wanita itu mengangkat wajahnya, sepasang matanya terbuka dan menyorot tajam manakala bayangan lain muncul di hadapannya.
“ANRE ATINUY, saatnya sudah tiba, orang suruhanku itu gagal melakukan tugasnya dan harus menukar dengan jiwanya. Kini giliranmu melaksanakan janji yang telah kita sepakati bersama. Janganlah mengecewakanku....” terdengar suara serak menyakitkan telinga para pendengarnya.
Wanita itu tersenyum dingin, “Terima kasih, guru... kali ini semua orang yang berhubungan dengan dia harus mati. "Ha... ha... ha... ha...” tawanya menggelegar, memantul ke semua dinding gua, untuk kemudian terbawa oleh angin malam di tempat itu ke sebuah Villa Gunung Tidar Kota Malang... Membuat Arimbi dan teman – temannya yang tengah duduk setengah terbaring di ruang tengah melompat berdiri, “Apa kalian tak merasakannya ?” tanya Arimbi.
T A M A T
( Lumajang, 30 Mei 2019 )
Sampai jumpa lagi di lain kisah.
Terima Kasih & Salam hangat selalu dari penulis untuk para pembaca yang budiman