Aku menghapus noda darah di pelipis ku, memar di sekujur tubuh ku masi terasa sakit, ku tarik nafas ku sangat dalam sambil memejamkan mata, Fikiran ku berlari mencari lagi awal dari penderitaan ini terjadi pada ku…
Semua berawal satu tahun yang lalu saat umur ku tepat menginjak 16 tahun, itu hari senin yang damai matahari bersinar cerah dan angin berhembus dengan tenag. Itu lah hari pertama aku bertemu dengannya, seperti tahun tahun sebelumnya aku dan kedua orang tuaku selalu merayakan ulang tahun bersama anak-anak panti tak jauh dari rumah ku.
Namanya leo. dia satu tahun lebih tua dari ku, anak laki-laki berkulit putih pucat dan kurus yang memiliki ekspresi dingin terkadang tatapanya terlihat kosong, dia telah di adopsi sebanyak tiga kali oleh keluarga yang berbeda namun pada akhirnya ia selalu di kembalikan ke panti, ia tak pernah memberitahuku alasan mereka mengembalikanya lagi ke panti.
Ia juga bukan anak yang pandai bersosial, bahkan ia mengatakan aku adalah orang pertama yang menjadi temannya, jika dilihat sekilas ia terlihat sangat baik memiliki senyum yang hangat, namun ia sangat pemalu hingga ia sulit untuk bergaul dengan anak-anak lain di panti.
Aku sering mengunjunginya di panti dan terkadang ia juga datang ke rumah ku untuk bermain piano atau hanya sekedar berbincang dengan ku. semuanya berjalan dengan baik, hingga akhirnya aku sibuk belajar dengan teman-teman sekolah ku untuk persiapan ujian akhir semester, aku sering pulang malam karna harus membahas materi yang tak ku mengerti di rumah teman ku, terkadang aku melihat leo berdiri di depan gerbang sekolah, ia selalu tersenyum ketika melihat ku namun setiap kali aku hendak menghampirnya ia selalu berpaling dan pergi dengan cepat.
Malam itu seperti biasa aku turun di halte bus dan segera mengirim pesan pada ayah untuk menjemputku, namun beberapa waktu berlalu ayah tak kunjung datang. Dan yang membuat ku tambah khawatir adalah peria bertopeng Halloween di persimpangan jalan yang terus melihat ke arah ku.
Tiba-tiba ia berlari ke arah ku, aku pun panik dan mencoba melarikan diri namun ia berhasil memukul bagian belakang kepala yang membuatku tak sadarkan diri. Keesokan harinyan aku pun terbangun di rumah tua di tepi bukit, ia datang menghampiriku dengan senyum hangat yang sudah tak asing lagi bagi ku.
“leo kenapa kamu bisa ada di sini?” seketika senyuman di wajahnya memudar, “apa mungkin kamu….
“kita aman di sini apa kau mau berbincang dengan ku ada banyak hal yang mau ku katakana padamu” ia kembali tersenyum, “biarkan aku pulang aku tak mau di sini” suara ku mulai bergetar di ikuti semua kecurigaan dan rasa takut, jelas saja laki-laki ini bukan leo yang aku kenal, atau mungkin hanya aku yang terlalu percaya diri bahwa aku sangat mengenalnya .
“kenapa harus pulang jika kau sudah tiba di rumah, ini akan menjadi rumah kita, di sini hanya ada kita kau tak perlu bingung mengerjakan PR dan tak akan di omeli jika telat bangun, aku juga tak perlu bertemu pengurus panti yang selalu menyuruh ku untuk berteman dengan anak-anak aneh itu, bukan kah ini tempat yang sempurna” “ leo sepertinya kau salah paham aku takut aku tidak mau tinggal di sini, biarkan aku pulang” namun seakan tak mendengar ucapan ku ia mulai bersenandung sambil membersihkan debu-debu di lantai, karna tak tahan aku pun berlari ke arah pintu untuk kabur,
Namun dengan sigap leo menarik rambut ku dan melemparkan tubuh ku hingga terbentur ke tembok dari batu bata itu, ia mengangkat sapunya dan memukulku secara berutal seperti kerasukan, aku menjerit kesakitan air mata ku tak berhenti mengalir namun leo tak memperdulikanya. Tak lama kemudian ia menjatuhkan sapunya dan menatap ku dengan kaget, “apa kau terluka, apa aku terlalu keras pada mu…” tubuhku masih bergetar dan isak tangisku bahkan tak lagi bisa keluar aku sangat takut, leo memeluku sambil berbisik “kau harus jadi gadis baik bagaimana bisa kau mau meninggalkan ku kita kan teman, aku bahkan sudah mencari rumah untuk kita” ia pun tersenyum sambil mengelus kepalaku dan bergegas pergi.
Sejak hari itu aku tak lagi tau kapan hari berganti, kapan mata hari terbit dan terbenam, setiap kali aku mencoba melarikan diri leo selau bisa menemukan ku dan kembali memukul ku secara brutal, menendang bahkan memotong rambutku tampa ampun. Aku pernah mengatakan bahwa aku ingin keluar untuk menemui taman ku dan akan segera kembali ke rumah tua ini, ia tentunya tidak memberikan izin, namun tampa bisa ku percaya keesokan harinya ia pulang dengan baju berlumur darah dan membawa kepala teman ku itu ke rumah, ia memberikannya dengan wajah bahagi sambil berkata” sia lihat aku membawa teman mu, tadinya ia menolak datang namun setelah sedikit di paksa akhirnya aku bisa membawanya untuk mu, jadi kau tak perlu keluar katakana saja apa yang kau mau akan aku bawa ke sini oke” ia pun bersenandung dan langsung pergi.
Perlahan harapan ku untuk dapat pergi dari tempat ini pun musnah, hingga akhirnya malam halloween tiba, ia mengajak ku keluar untuk memberikan permen dan coklat pada anak-anak karna ia tau aku sangat menyukai anak kecil, kami menemui anak- anak di pusat kota kami juga beberapa kali bertemu dengan polisi, namun mereka hanya menyapa kami dan beberapa dari mereka terlihat cukup akrab dengan leo, sepanjang jalan aku banyak melihat kertas bertulisan orang hilang dengan foto ku di di bagian bawahnya. ya sudah ku duga orang tua ku pasti sangat khawatir, aku mengusap airmata ku yang tampa ku sadari terus mengalir di balik topeng.
aku tak punya kesempatan untuk meminta pertolongan pada siapapun, akhirnya aku memutuskan untuk menulis surat di balik kertas brosur yang aku ambil dari tiang listrik saat leo sibuk berbincang dengan anak-anak. “Isi surat” (BERIKAN KERTAS INI PADA POLISI AKU SIA TOLONG SELAMATKAN AKU) aku menyelipkan kertas dan memberikannya dengan permen yang ku genggam pada seorang anak laki-laki.
Namun tak lama kemudian ia kembali kepada kami dan memberikan kertas itu kepada ku dengan polos, “maaf kak sepertinya ini terselip di permen ku” leo segera merebutnya dan membuka kertas, “apa kau membacanya anak manis” “tidak aku langsung mengembalikanya setelah melihat kertas itu” leo mengusap kepala anak itu dengan lembut, “anak pintar terima kasih ya kamu sangat baik” anak itu mengangguk dan segera pergi.
Leo menarik tangan ku sangat keras kingga kuku-kuku jarinya mulai menancap di pergelangan tangan ku yang bemberikan luka-luka kecil di sana, saat tiba di rumah ia pun sangat murka dan mulai mengeluarkan sumpah-serapah sambil terus memberikan tendangan dan pukulannya pada ku, ia mengambil pisau dari sakunya dan memotang jari kelingking ku, aku berteriak sangat keras yang membuat tenggorokan ku terasa sakit dan kesadaran ku pun mulai menghilang , aku pun pingsan.
Saat terbangun aku melihat darah yang masi mengalir dari tangan kanan ku badan ku masi gemetar aku terus bersandar di dinding sambil menangis, leo sudah sangat gila ia bukan lagi terobsesi pada ku ia bahkan bisa membunuh ku saat ini juga, apa yang harus ku lakukan?
Tak lama kemudian leo datang membawa air mineral dan obat-obatan serta beberapa potong roti, ia menatapku dengan sangat terkejut bahkan sempat menjatuhkan pelastik yang ia bawa namun ia segera memungutnya kembali, “sia tangan mu terluka parah, aku sangat minta maaf aku… aku sudah membawa obat dan perban kau akan segera sembuh, aku tidak ingin menyakitimu jadi jangan melakukan hal-hal seperti itu lagi paham? Aku hanya terdiam aku bahkan tak lagi bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk peria gila ini.
Leo membersihkan luka ku dan membalutnya dengan perban, lalu ia kembali bersenandung dan membersihkan noda darah di lantai tampa memperdulikan suara tangisan ku, keesokan harinya aku pun demam tubuh ku menggigil dan keringat tak henti mengalir di sekujur tubuh ku, leo mendekatiku “sia lihat kan kamu jadi sakit karna tidak makan, ayo cepat makan roti-roti ini agar kamu cepat sembuh, aku akan ke kota untuk mencari obat dan membeli puding yang kamu suka” leo pun beranjak pergi.
Aku tak tahan lagi aku akan mati jika terus berada di sini, aku memanjat jendela yang cukup tinggi di pojok ruangan dengan semua kekuatan ku yang tersisa aku pun melompat dan derlari dengan kaki pincang, aku terus berlari di tengah hutan di pinggir tebing tampa alas kaki, hingga akhirnya aku mendengar suara empat orang pemuda yang hendak berkemah di tepi tabing itu, aku segera berlari mengahampiri mereka dan minta tolong, namun belum selesai semua kata-kataku leo telah tiba di samping ku dan merangkul ku,” maaf apa adik ku mengatakan hal-hal aneh lagi, ia sedang sakit bahkan ia melukai dirinya sendiri, aku minta maaf jika dia mengganggu kalian” leo membungkun dengan sopan.
“kenapa kamu diamsaja sia cepat minta maaf pada mereka” dengan nafas terengah-engah dan suara serak aku pun meminta maaf pada mereka dengan mata berkaca-kaca, bagaimana mungkin mereka bisa mempercayai omong kosong peria gila ini, leo membawaku pulang kerumah dan mendorong ku untuk masuk, ia melemparkan obat dan makanan yang ia bawa ke hadapan ku dan segera membating pintu menguncinya dan beranjak pergi.
Keesokan paginya seperti biasa ia belum bangun saat aku bangun, aku tak lagi memiliki tenaga bahkan untuk menggerakan tangan ku, hingga suara langka-langkah kaki polisi tiba di rumah itu mereka menagkap leo, dan aku pun melihat empat orang pemuda yang ku tamui di tepi tebing kemarin dan aku pun kehilangan kesadaran ku…..