aku Yun, Detektif muda yang tampan dengan penampilan yang rapih serta selalu wangi. Rekan kerja wanitaku bahkan tidak bisa memalingkan pandangannya dariku. Tapi aku tidak suka menjadi pusat perhatian. Aku lebih suka menjadi sosok yang misterius, menurutku itu sangat keren.
Hari ini aku menangani sebuah kasus pembunuhan kepada siswi SMA. Aku menuju lokasi lengkap dengan kemeja putih, setelan jas, serta celana hitam. Tak lupa aku menyikat sepatu pantofelku agar terlihat profesional.
Aku melakukan ini agar terlihat profesional dan terlihat cekatan. Pekerjaan ini benar-benar menguras pemikiran, sedangkan aku dulu berfikir ini adalah pekerjaan keren.
menangkap pelaku dan dicintai para wanita.
Nyatanya aku terlalu bodoh untuk memecahkan suatu kasus.
Meski dulu aku terkenal karena memiliki tubuh atletis disekolah. Murid perempuan bahkan dari kelas lain sering melihatku ketika berganti pakaian. Aku tidak habis pikir apa yang dipikirkan mereka. Aku juga juara nasional Judo sehingga aku bisa lolos seleksi detektif dengan mudah.
------Di Lokasi TKP------
Aku menyalakan sebatang rokok dan mulai melihat tempat kejadian supaya terlihat keren saja. Perlahan-lahan ku hembuskan asap rokok sambil menyusuri lokasi kejadian
"Kenapa bergaya sekali, disini tidak ada siapa-siapa kecuali kita ber 3" kata Pak Kim
"Apakah anda tidak mengerti pak, untuk menjadi seorang detektif handal anda harus menjiwai perannmu" sahutku dengan menatapnya serta mengankat kedua alisku.
"Kerjamu saja tidak becus, sok-sok'an berkata menjiwai" ketus Pak Kim dengan ekspresi sebal
"Ayolah Pak Kim, anda harusnya mendukung rekan anda, dasar orang tua yang tidak keren" sahutku dengan nada kesal
"Apa katamu, kau tidak tahu bahwa aku saat seusiamu mengencani banyak wanita" jawab pak kim sambil menatap kearahku dan menyombongkan dirinya
"Apa mungkin, orang seperti anda sangat keren, uang saja tidak punya" sahutku mengejek
*Pak Kim memukul kepalaku saat aku mengatakan hal tersebut
"Sudah lah Pak, anda jangan terlalu kesal dengan kenyataan" sahutku dengan mengusap bagian kepalaku yang dipukul
"Ah... sudahlah, berbicara dengan rekan bodohku membuat suasana hatiku jadi kesal"
"Bahkan selama ini kau hanya bergantung padaku saat menyelesaikan sebuah misteri" jawab Pak Kim kesal
Aku memutuskan menjauhi Pak Kim karena dia terlihat kesal. Aku akhirnya memutuskan untuk mengelilingi lokasi TKP yang berada di rumah kosong terbengkalai. Ku susuri rumah kosong tersebut hingga akhirnya aku menemukan sebuah petunjuk.
Petunjuk itu berupa potongan kertas yang berisi sebuah alamat. Aku dan Pak Kim sebelumnya sudah mengintrogasi orang-orang yang dicurigai berhubungan dengan korban saat terakhir kali korban terlihat. Namun kami tidak menemukan adanya kejanggalan pada mereka semua.
Akhirnya Aku dan Pak Kim memutuskan untuk mencoba mencari lokasi alamat tersebut. Ternyata alamat tersebut merupakan sebuah tempat karaoke. Kami mengancam pegawai tempat itu dengan Lencana polisi kami, agar kami diperbolehkan menggeledah setiap ruangan dan memeriksa rekaman CCTV.
Kami selidiki rekaman CCTV hingga kami bosan dan memutuskan untuk beristirahat sejenak karena sudah malam dan menunjukkan pukul 9 malam. Aku mengajak Pak Kim untuk makan mie instan yang ada di kedai depan tempat karaoke tersebut.
"Rasanya Aku ingin berendam dan mandi air hangat, Pak Kim Apakah kau mau ikut?" tanya ku
"Apakah kau sudah tidak waras, memangnya aku sudah mandi denganmu" jawab Pak Kim
"Siapa juga yang mau mandi denganmu Aku hanya ingin mengajakmu ke tempat pemandian umum saja." sahut ku dengan nada sebal
"Ah...Pak Kim membuat suasana akrab kita menjadi rusak kembali" sahutku lagi.
"Sejak dulu Aku tidak pernah menginginkan menjadi rekanmu, Karena anak muda itu selalu merepotkan" jawab Pak Kim dengan sewot
Setelah aku membayar makanan, Pak Kim memutuskan untuk pulang. Sedangkan aku memutuskan untuk mencoba berkaraoke di tempat itu. Kasir yang sebelumnya kami minta keterangan, terlihat sedikit panik melihat kedatangan Kembali ke tempat itu. Setelah Kuberitahu maksud akan kedatanganku dia menjawab dengan tenang. Berbeda saat tadi dia pertama kali melihatku kembali memasuki tempat ini.
Setelah aku bernyanyi sekitar 30 menit, aku mendengar suara yang aneh. Suara gaduh dari ruangan lain. Aku segera menuju asal suara aneh itu, dan kudapati hanya ruangan kosong. Aku mencoba keluar dari tempat karaoke itu menuju pintu belakang dan kudapati mobil hitam pergi dengan cepat.
Tanpa banyak basa-basi aku segera menuju ke kasir dan memukulinya. Berharap aku mendapatkan sebuah petunjuk akan hal ini. Si Kasir menjawab bahwa itu adalah bosnya yang sedang memeriksa seorang pelanggan untuk menemaninya. Ku tanyakan tempat Biasanya bosnya pergi tapi dia tidak tahu. Karena kesal dengan jawaban dia, akhirnya aku memutuskan untuk memukulinya lagi hingga babak belur.
"kau berpikir kau orang hebat, Baiklah aku akan menuruti mu melakukan hal ini seharian" jawabku padahal tanganku sudah mulai terasa perih.
Karena tanganku rasa perih, akhirnya aku memutuskan mengambil sebuah payung dan ingin memukulkannya ke dia. Seketika dia menangis dan memberitahuku lokasi tempat bosnya biasa berada.
Lantas aku menelpon Pak Kim, memberitahunya apa yang sedang terjadi. Aku juga mengajak Pak Kim untuk membantuku menggeledah tempat Bos karaoke itu berada.
"Ah.... kau berkhayal nak, Mungkin saja kau Salah dengar" jawab Pak Kim
" Aku tidak mau ikut, karena dulu kau juga pernah mengajar orang yang salah, dan kau membuatku repot" jawab lagi Pak Kim
"Kau mudah terbawa emosi Yun, aku takut kau salah tangkap lagi" jawab Pak Kim yang enggan menuruti permintaan Yun
*dalam hatiku* Dasar orang tua tak berguna, di saat dibutuhkan malah dia tidak ada.
Akhirnya aku memutuskan menghampiri tempat tersebut, dengan mobil sedan hitam ku yang belum lunas cicilannya.
Sesampainya disana aku segera memakirkan mobilku agar tidak terlihat orang-orang yang ada di sana. Aku mengendap-endap melewati jendela yang terbuka. Jendela itu berada di lantai dua. Aku menggunakan balok kayu yang ku temukan disana kemudian kususun agar, aku bisa memasuki jendela tersebut.
Sialnya setelah aku masuk, balok kayu yang kususun tersebut malah jatuh dan membuat keributan. Untung saja mereka mengira hal tersebut akibat kucing yang merobohkan balok kayu tersebut.
Kemudian kuputuskan untuk menyusuri tempat tersebut dengan hati-hati. Hingga kudapati terdapat 10 wanita yang disekap di dalam ruangan tersebut. Segera ku kirimkan kan pesan ini kepada Pak Kim serta seluruh rekan-rekan detektif agar segera membantu. Karena tak ingin menyia-nyiakan waktu aku segera membebaskan wanita-wanita yang disekap satu persatu.
Setelah semua wanita kubebaskan, Aku bingung harus berbuat apa karena mereka bersenjata lengkap. Terpikirlah sebuah ide cemerlang untuk kabur melalui jendela ventilasi yang ada di kamar mandi. Ku tuntun satu persatu memasuki kamar mandi dan kubantu wanita-wanita itu menaiki jendela dengan memijakkan kaki mereka ke tubuhku.
Sebelum sempat aku kabur, para wanita ini ketahuan dan mereka kabur berpencar. Mau tidak mau aku harus menjadi pengalih perhatian mereka agar mereka bisa kabur.
Untung saja Aku mantan atlet nasional judo. Dengan majas sombong aku menghadapi mereka semua. Aksi baku hantam pun tidak terelakkan lagi. Dulu aku terkenal dengan julukan si tembok besi karena aku sering berlatih menerima pukulan. Aku berlatih ini bertujuan agar aku kuat menghadapi pukulan ayahku yang sering mabuk-mabukan. Tak kusangka malah bermanfaat di situasi seperti ini.
Ku tahan setiap hujanan pukulan baik dari tangan maupun benda tumpul. Ku balas mereka satu persatu dengan kuncian yang mematahkan sendi-sendi tangan maupun kaki mereka agar lumpuh. Pertarungan tersebut berlangsung sangat lama hingga semua anak buah Bos itu terkapar kesakitan dan aku terhenti karena suara tembakan.
Ku rasakan bahu sebelah kananku terasa panas dan mengeluarkan darah yang terasa hangat. Aku melihat potongan pintu yang terbuat dari besi. Ku ambil dan kugunakan untuk perisai menerobos maju untuk menangkap Bos itu.
Aku berhasil mendekati Bos itu dan menjatuhkan pistolnya. Ku hantamkan pintu besi itu ke wajahnya berkali-kali hingga pingsan. Ku lihat terdapat beberapa gigi emas dari Bos itu yang jatuh. Kemudian ku ambil dan ku simpan, yang nantinya kugunakan untuk biaya berobat serta kebutuhanku yang lainnya seperti mencicil mobil.
Akhirnya Para detektif datang dan segera meringkus mereka. Setelah beberapa Pak Kim datang dan aku berpose sombong dengan menyalakan rokok serta kakiku kuangkat sebelah.
"Apa yang kau lakukan di sini Pak Tua, semuanya sudah selesai" sahutku sambil mengejeknya
"Memangnya apa hubungannya bos itu dengan wanita korban pembunuhan kemarin" tanya Pak Kim
" Wanita kemarin adalah salah satu wanita yang dijual olehnya kepada salah seorang pelanggannya" Jawabku
" Sekarang giliran Pak Kim untuk mengejar orang itu dan aku ingin beristirahat sebentar karena aku lelah" jawabku
" Berikan alamat pelaku, biar aku yang selesaikan" jawab Pak Kim
Ku serahkan alamat pelaku kepada Pak Kim. Saat menyerahkannya aku menatapnya dengan penuh senyuman sembari mengejeknya.
"Apakah sekarang kau menganggapku sebagai rekanmu?" tanyaku
Pak Kim tidak menjawab dan pergi meninggalkan ku sendiri. Aku tahu Pak Tua itu menyesal karena tidak segera menolongku kemari dan dia malu.
Keesokannya Pak Kim berhasil menangkap pelaku pembunuhan wanita itu. Yang bersembunyi di sebuah kontrakan kecil untuk menghindari kejaran polisi. Tetapi percuma karena Pak Kim sudah mengetahui identitasnya dan beliau berpengalaman dalam pengejaran pelaku.
Akhirnya aku mendapatkan promosi jabatan bersama Pak Kim. Serta aku berhasil melunasi mobil impian ku, dari hasil jualan gigi emas dari Bos penjahat tersebut.
Detektif tampan dan gagah ini siap beraksi kembali bersama rekan tuanya yang pemarah Pak Kim.