"Ana, kamu tahu ngga sih, kita tuh bisa manggil hantu cuma dengan mainin tiga nada?" kata Reni dengan antusias.
Padahal bel tanda istirahat sekolah baru saja berbunyi, tapi Reni sudah lari ke mejaku dan memberi tahu info anehnya itu dengan antusiasnya. Aku sudah berteman dengan Reni sejak SMP, dan sekarang kami sudah kelas dua SMA. Berarti, lima tahun sudah kami berteman. Ya, aku jadi cukup pahamlah dengan keanehan Reni yang notabene merupakan "maniak horror".
"Ren, kamu tuh ya daritadi ngga merhatiin pelajaran, ya? Baru bel, udah langsung mau manggil hantu aja. Tiga nada apa, sih, maksudnya?" Tanyaku dengan kesal.
Reni terlihat tidak mempedulikan kekesalanku. Dia malah duduk di mejaku dan menenggelamkan wajahnya di sebuah majalah. Rupanya, dia sedang asyik membaca majalah berjudul "Ririwa". Majalah itu terlihat usang. Bagian sampulnya pun juga banyak yang robek.
"Ini majalah apaan?" Aku bertanya.
"Ini aku nemu di jalan tadi pas berangkat sekolah. Geletakan aja gitu di jalan. Kayaknya punya orang, terus jatoh. Jadi kata artikel di majalah ini, kalo kita pencet nada G - A# - C# di malam hari dan pas suasana lagi sepiii banget tanpa ada suara lain, nanti bakalan ada hantu dateng," ucap Reni.
Aku membolak-balik halaman depan majalah itu. Dari tanggalnya, aku melihat kalau majalah ini terbit pada 9 September 1981. Majalahnya sudah tua sekali, pantas saja terlihat usang dan banyak bagian yang compang-camping.
Artikel-artikelnya semua berhubungan dengan hantu dan cerita-cerita misteri. Cocok sekali dengan Reni. Kok bisa-bisanya kebetulan dia mendapatkan majalah semacam ini di jalanan. Aku pun belum pernah mendengar nama majalah ini sebelumnya.
Berhubung lapar, aku tidak terlalu peduli. Aku pun mengajaknya ke kantin untuk makan siang. Selama perjalanan dan sesampainya di kantin, Reni tetap membenamkan wajahnya di balik majalah itu. Seakan-akan dia terhipnotis dan tidak bisa lepas darinya. Aku yang sudah paham betul kalau Reni adalah maniak horror, memilih untuk tidak menghiraukannya dan menikmati makananku, yaitu sayur sop wortel, telur dadar, dan nasi putih.
"Eh Na, besok kan Sabtu, libur. Cobain yuk mainin nada ini pake keyboard mini punya mu. Kali aja beneran bisa manggil hantu, hehe," kata Reni.
"Hayuk dah, terserah," ujarku dengan malas. "Nginep aja yuk, sekalian sampe Minggu."
Setiap Reni bicara soal horror, aku memang selalu malas menanggapinya. Maklum saja, aku tidak percaya dengan hal-hal gaib semacam itu. Pasti ada penjelasan ilmiah di balik penampakan hantu. Aku juga belum pernah mengalami kejadian mistis, baik itu mendengar ataupun melihat hantu. Jadi, berhubung aku yakin tidak akan terjadi apa-apa, aku iya-kan saja ajakan Reni. Lagipula, besok papa dan mama akan menginap rumah tanteku di Bogor selama satu malam. Hanya ada aku dan Mas Rinto, supir mama, di rumah. Aku pun tidak punya rencana. Daripada bosan, tidak ada salahnya 'mengelus-elus' ego Reni: mencari hantu. Kebetulan, aku punya sebuah keyboard kecil yang aku gunakan untuk belajar.
Selama jam istirahat, Reni tetap sibuk membaca majalah itu. Bahkan, dia tidak makan siang! Pada saat jam pelajaran pun, aku melihat tatapannya kosong, entah pikirannya menerawang ke mana.
***
Hari Sabtu pun datang. Sejak bangun tidur, aku membereskan kamar dan mempersiapkan bantal cadangan untuk Reni yang hendak menginap malam ini. Aku selalu bersemangat ketika Reni menginap di rumah. Dia memang sering bermalam di sini, dan aku pun sering juga menginap di rumahnya. Biasanya, kami tidak pernah kehabisan kegiatan seru kalau sedang menghabiskan malam bersana: main game, nonton film, dan tentu saja tidak ketinggalan sesi curhat dan gosip sampai pagi!
Meskipun hari ini ada agenda lain, yaitu 'memanggil hantu', aku menganggapnya sebagai main-main. Pasti seru! Akan ada banyak tawa dan canda kalau bersama Reni. Apalagi, tingkah Reni yang seringkali aneh pasti membuatku tertawa.
Pernah sekali waktu, Reni tertidur di sofa ruang tengah rumahku. Awalnya, posisi tidurnya biasa saja. Tapi lama kelamaan, kepalanya menggantung di bawah sementara badannya masih lurus berbaring di sofa. Belum lagi air liurnya yang menetes ke mana-mana dari mulutnya yang terbuka. Biasanya, aku akan mengambil fotonya dulu sebelum membangunkannya. Lalu, aku memperlihatkan posisi tidurnya yang aneh itu kepadanya, dan kami tertawa bersama. Meskipun aneh, Reni itu anak yang baik. Aku tidak pernah sekalipun melihatnya marah.
Reni datang ke rumahku sekitar jam 3 sore dengan membawa satu tas ransel berisi baju, peralatan mandi, dan tak lupa majalah Ririwa yang dari kemarin dibacanya. Tangan kananya memegang handphone, dan tangan kirinya menenteng sebuah kantong plastik berisi gorengan.
Kami memulai hari bersama dengan makan gorengan dan main game. Kedua kegiatan ini sudah menjadi ritualku dan Reni. Hanya saja menu makanannya berubah-ubah, kadang juga buah-buahan, kadang kami memasak sendiri makanannya. Yang menentukan adalah orang yang hendak bermalam. Kalau aku yang sedang menginap di rumah Reni, aku yang menentukan menunya. Hari ini, Reni memilih menu gorengan. Aku tahu, dia pasti malas berpikir, jadi hanya membeli gorengan yang dia temuinya di jalan.
Kami menghabiskan waktu sekitar 3 jam bermain game. Begitu langit mulai gelap, aku beranjak dari sofa dan berniat mandi. Sementara itu, Reni kembali membolak balik majalah lusuh itu.
"Ya ampun, ngga selesai-selesai baca majalah itu dari kemarin," kataku menyindir.
"Udah kelar kok bacanya, wee. Aku mau baca lagi, habisnya seru!" Jawab Reni.
Aku hanya geleng-geleng mendengarnya dan melanjutkan perjalananku ke kamar mandi. Kamar mandiku terletak di bagian agak belakang dari rumahku, tepatnya di seberang kamarku. Berhubung sedang tidak ada orang, ruangannya masih gelap. Hanya lampu ruang tamu tempatku bermain game saja yang menyala. Meskipun aku tidak percaya dengan hal-hal tak kasat mata, merinding juga aku dengan kegelapan ini.
"Duh, Mas Rinto ke mana sih, bukannya nyalain lampu. Pasti lagi nongkrong, deh, di depan. Kan jadi merinding," kataku mengomel sendiri.
Aku segera menyalakan semua lampu dan bergegas mandi. Kemudian setelah aku selesai, barulah bergantian dengan Reni. Selama Reni mandi, aku memasak dua porsi nasi goreng dengan bumbu instan yang sudah disiapkan oleh papa dan mama sebelum mereka berangkat tadi pagi. Barulah pada jam 8 malam, kami menyantap nasi goreng buatanku sambil menonton film yang ada di situs layanan streaming online.
***
Sekitar pukul 11 malam, Reni mulai mengajakku masuk ke kamar. Dia ingin mencoba 'ritual tiga nada' untuk memanggil hantu yang dibacanya dari majalah Ririwa itu.
"Emang seru jam segini? Ngga mau tunggu tengah malam aja?" Tanyaku menantang.
"Ahhh aku udah ngga sabar! Udah ngga apa-apa, dicoba aja," kata Reni.
Melihat Reni yang sudah terlanjur bersemangat, aku menurut saja. Kami pun masuk ke kamarku dan mengambil keyboard mini yang ada di laci meja belajarku. Reni membuka halaman majalah Ririwa tepat pada artikel ritual tiga nada itu sebagai panduan.
"Siap ya," kata Reni sambil bersiap menekan keyboard miniku sesuai dengan nada yang tertulis di majalah Ririwa.
'Ting...ting...ting...'
Bunyi denting piano terdengar dari keyboard miniku yang dimainkan oleh Reni. Kami diam, menunggu beberapa detik, tapi tidak terjadi apa-apa.
'Ting...ting...ting...'
Reni kembali memainkan nada itu. Sunyi, tidak terjadi apa-apa.
'Ting...ting...ting...'
Sekali lagi, Reni memainkannya. Tiba-tiba...
'TOK TOK TOK TOK TOK'
Terdengar bunyi ketukan keras di pintu kamarku. Adrenalin kami naik. Aku ketakutan, sekaligus penasaran. Apakah betul, hantu itu ada?
'TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK'
Ketukan itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras dan cepat. Aku dan Reni saling pandang. Kami bergandengan dan berjalan menuju pintu dengan mengendap-endap. Kemudian, aku membuka pintu kamarku dengan perlahan.
"Mbak, saya baru pulang dari warung. Itu, TV depan masih nyala. Saya mau minta izin matiin, ya. Sayang listrik," kata Mas Rinto setelah melihat pintu kamarku terbuka.
"MAS RINTO IH NGAGETIN AJA!!! Iya matiin aja, Mas, TV-nya. Maaf tadi kelupaan," jawabku.
Aku merasa lega, ternyata hanya Mas Rinto. Sedangkan Reni, dia terlihat lega, tapi juga kecewa.
"Ah bohong nih majalah. Udah ah, mau tidur," kata Reni.
"Yah, kok tidur? Ngga mau melek sampe pagi kayak biasa?" Ucapku dengan nada kecewa.
Reni hanya menjawab dengan melambaikan tangannya tanda tidak setuju. Dia mulai menyelimuti badannya dan pergi tidur.
Rupanya dia begitu kecewa. Ekspektasinya untuk berhasil memanggil hantu yang tidak tersampaikan telah membuatnya kesal. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain ikut tidur. Aku pun mematikan lampu kamar, dan berbaring di sebelah Reni.
***
Tidak tahu beberapa lama aku tertidur, aku terbangun dalam keadaan langit masih gelap. Aku melihat jam di handphone-ku, waktu baru menunjukkan pukul 3 pagi. Aku pun berjalan menuju kamar mandi untuk buang air kecil. Di luar kamarku, ternyata ada Mas Rinto yang sedang berdiri di sana.
"Eh, Mas Rinto lagi ngapain dah di situ?" Tanyaku kebingungan.
"Mba, aku baru nemu, Mba. Tahu ngga sih kalau ada tiga nada yang kalau dimainin pake alat musik, itu bisa manggil hantu?" Jawab Mas Rinto.
Aku bergidik mendengarnya, tidak mengerti kenapa dia bisa berkata hal yang sama dengan Reni. Apa dia membaca majalah Ririwa milik Reni? Tidak mungkin, tadi aku lihat, majalahnya masih tergeletak di meja belajar.
"Apa sih, Mas, jangan ngaco deh," kataku.
"Coba, Mba, pinjem piano kecil punya, Mba," jawab Mas Rinto
"Ngga ah, Mas, udah malem!" Ujarku dengan kesal.
"Ayo, Mba, coba, Mba. Saya tunggu di sini, Mba, bawain pianonya, Mba. Ayo, coba, Mba. Bawa sini, Mba. Saya yang mainin, Mba," kata Mas Rinto memohon dengan kalimat yang diulang-ulang.
"Yaudah, bentar aja ya, Mas. Abis itu saya mau tidur lagi," kataku terpaksa menurutinya. Pikirku, biar cepat saja aku turuti supaya dia tidak cerewet.
Aku bergegas mengambil keyboard miniku dari kamar, dan menyerahkannya ke Mas Rinto yang menungguku di depan pintu. Lagipula, memangnya Mas Rinto bisa main keyboard? Paling dia hanya akan pencet asal-asalan.
'Ting...ting...ting...'
Mas Rinto memainkan nada yang persis sama dengan yang dimainkan oleh Reni tadi. Aku kebingungan, bagaimana Mas Rinto bisa tahu nada itu? Ditambah lagi, aku tahu, dia kan tidak bisa main alat musik!
Di tengah kebingunganku, aku melihat Mas Rinto menyeringai ke arahku. Tiba-tiba, ada suara bisikan 'haaaaaaaah' terdengar di telinga kiriku. Badanku mulai kaku, aku mulai merinding. Dengan hati-hati, aku menoleh ke arah kiri. Di sana, ada sesosok makhluk aneh yang sulit aku gambarkan dengan kata-kata...
Badannya besar. Dia terlihat berlutut di sebelahku agar bisa menyetarakan tingginya dengan tinggi badanku. Warna kulitnya aneh, aku bahkan tidak bisa tahu itu warna apa. Mungkin antara campuran dari abu-abu, cokelat, hijau, biru, merah dan apalah itu, aku tidak mengerti. Kuku tangan dan kakinya terlihat panjang dan hitam, mungkin sekitar 30 cm. Rambutnya panjang berwarna abu-abu, tapi terlihat kusut dan jarang-jarang. Sedangkan mulutnya terbuka, memperlihatkan giginya yang bertaring. Aku berdiri terpaku melihat makhluk itu. Hingga tiba-tiba, aku terbangun sekali lagi di kasurku dengan napas terengah-engah.
Di luar langit masih gelap. Aku tidak bisa bergerak, tidak bisa bersuara. Seperti ada yang menahan badanku. Aku mulai memikirkan hal rasional, bahwa aku sedang mengalami sleep paralysis. Perlahan-lahan, aku mencoba menggerakkan kakiku, kemudian tangan, hingga aku berhasil melepaskan diri. Jantungku berdegup kencang. Aku melihat ke sebelah kiriku, ada Reni yang masih tertidur pulas. Aku sedikit lega melihatnya.
Aku mengambil handphone-ku, dan terlihat waktu menunjukkan pukul 3 pagi... Hanya saja, kali ini aku tidak berani keluar kamar. Aku akan menunggu di kasur saja hingga pagi menjelang. Aku tidak tahu, apakah ada juga yang menungguku di luar? Kalaupun ada, entah makhluk apa yang ada di sana. Kali ini, aku tidak mau tahu. Aku mau bersembunyi saja di bawah selimutku sampai matahari terbit. Dan pastinya, nanti aku akan menyuruh Reni membuang majalah itu.