~Eksekutor Terkejam
Malam ini di kediaman Arghayev cukup damai. Melissa, gadis berusia 15 tahun itu sedang serius memainkan pianonya. Disampingnya, Ibundanya mengajari anak semata wayangnya itu dengan sabar.
Suara bel malam itu, sedikit mengusik kedamaian mereka. Stevan, selaku kepala rumah tangga disitu pergi keluar. Mencoba mencari tau, siapakah yang bertamu malam ini.
"Selamat malam, Tuan!" Sapanya, Stevan menyambutnya dengan senyuman mendengar itu.
"Anda siapa?" Stevan yang tidak terlalu mengenal manusia di hadapannya ini, bertanya.
"Aku, Jason Tuan. Maaf, jika aku mengganggu ketentraman keluargamu. Tapi, ini jalanan yang cukup panjang. Kanan kiri hutan, aku sendirian berkendara malam ini. Mobil ku mogok disana, aku mencoba mencari bantuan tapi tak ada. Lalu, ku temukan rumahmu ini." Jelasnya, sedikit iba pada lelaki itu Stevan mempersilahkan manusia itu masuk.
"Ah tidak-tidak. Begini Tuan, aku hanya ingin meminta tolong saja. Bolehkah, aku menginap dirumahmu malam ini? Aku akan pergi pagi besok." Stevan sedikit berfikir mendengar itu, tak lama istrinya menepuk pelan bahunya.
"Kau boleh menginap disini!" Ucapnya, Stevan tersenyum mendengar itu. Mereka pun masuk kedalam, disana Jason tak sengaja melihat Melissa. Stevan mempersilahkan Jason duduk di ruang tamu, Jason pun duduk disana. Sambil memperhatikan Melissa yang sangat anggun menurutnya.
"Itu, anak kami. Melissa!" Ucap Stevan seraya memberikan minuman pada Jason. Mereka bercengkrama hangat malam itu.
Malam semakin larut, Jason sedaritadi matanya terjaga. Entah mengapa, bayangan Melissa masih tetap ada dalam fikirannya. Dia, dan Melissa berbeda 10 tahun. Tapi entahlah, rasanya hatinya menyukai gadis itu. Atau, apakah, hasratnya menginginkan gadis itu.
Disini sudah cukup sunyi, seluruh manusia di dalam sana masing-masing sudah hanyut dalam mimpinya. Dan inilah, kebejatan yang ia lakukan sekarang. Ia masuk ke dalam kamar Melissa, dalam fikiran Jason kali ini, ia sangat menginginkan Melissa. Gadis itu, tak bisa lari dari sana. Melissa adalah gadis pengidap Paraplegia, itu menyebabkan fungsi gerak pada kakinya tak berfungsi. Melissa hanya menangis, melihat aksi bejat yang dilakukan Jason padanya.
Stevan terkejut mendapati anaknya yang sudah ternodai itu. Segera ia berlari ke arah lemari, mengambil pistol. Melihat itu, Jason dengan cepat menembak Stevan lebih dulu. Di susul dengan Istrinya yang hendak menusukkan pisau padanya. Kali ini, hanya tinggal dirinya dan Melissa disini.
Jason membawanya pergi dari sana, ia menuju atap rumah disini. Disana dengan kasarnya, Melissa di hempaskan begitu saja di lantai. Sungguh beringas manusia ini. Ia mondar mandir ke sana kemari, mencari sesuatu. Disini, banyak sekali barang bekas. Saat itu, entahlah ide gila darimana itu. Sepertinya setan sudah menguasai tubuhnya. Ia mengambil, pasung yang ada disana. Beberapa rantai dan kunci. Melissa berteriak kesakitan, ketika Jason meletakkan kepalanya di atas pasung itu. Ketika sudah cukup tepat berada disana, Jason segera mengunci pasung itu.
Sungguh, manusia ini sangat sadis semoga Tuhan melaknatnya. Melissa berteriak histeris, ketika Jason mulai merobek seluruh pakaiannya. Tangannya yang terantai, juga kakinya yang lumpuh itu hanya bisa pasrah, menerima nasib dan kelakuan bejat Jason padanya.
~30 Tahun Berlalu
Tiga puluh tahun sudah berlalu. Kediaman keluarga Arghayev sudah menjadi milik pemerintah saat ini. Rumah itu, kini masuk kedalam pelelangan Bank.
Hari ini tepat hari Kamis, dimana keluarga Robert menghadiri acara pelelangan properti. Tuan Robert hadir, lengkap bersama keluarga kecilnya disini, istrinya Hanna dan anak semata wayangnya bernama Melissa.
"Pelelangan ketiga, ini terletak cukup strategis letaknya. Kita bandrol dengan harga 750 juta. Untuk properti, tanpa perantara." Ucap bagian pemasaran, berpromosi.
Kali ini tawaran-tawaran mulai di ajukan. Tuan Robert, nampaknya masih belum menemukan harga yang pas di kantongnya.
"Kita bisa membeli apartemen kecil saja." Hanna menepuk bahu suaminya itu, pasalnya harga yang di bandrol disini tidak sepadan dengan uang yang mereka miliki.
"Tidak, aku sempat baca di koran. Mereka bilang, ada yang lebih murah daripada itu." Hanna mengangguk mengerti mendengar itu.
"Baiklah, aku terserah padamu saja." Ucap Hanna pasrah, Robert tersenyum mendengar itu.
Melissa dengan boneka kesayangannya itu terdiam, ketika melihat sesuatu disamping MC pemasaran.
Itu seorang gadis bermuka sedih, pucat sedang menatap benci ke arah para hadirin.
"Gelanda, kau tau siapa dia?" Ucapnya dalam hati.
"Dia bukan manusia!" Jawab Gelanda. Gelanda adalah nama boneka Melissa, dia bukan boneka biasa. Ada roh kakak Melissa disana, dia sudah mati terjatuh dari Everest saat pendakian.
Gadis pucat dengan aura kebencian itu, menatap Melissa sekarang. Terkejut, Melissa mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Damn, dia menatapku!" Lirihnya lagi, mereka saling mengobrol menggunakan mata batin mereka.
"Tenanglah, dia hanya melihat diriku disampingmu. Dia akan kemari, kau berpura-pura saja tak melihatnya." Paham dengan apa yang Gelanda katakan, Melissa melakukan perintahnya.
Gadis itu mendekat ke arahnya, aura panas itu mulai Melissa rasakan. Ini sungguh murni, aura kebencian. Bau anyir itu semakin menusuk penciumannya.
"Kami terima tawaran itu, dengan 500 juta." Ucap Tuan Robert berdiri. Melissa mengalihkan netra nya pada Ayahnya itu. Rupanya, ada tawaran yang sudah di ambil ayahnya.
Bertepatan dengan transaksi itu, Gadis beraura jahat itu berhenti. Melissa menatapnya sekilas sebelum menghilang. Dia tersenyum, setelah Ayahnya membeli rumah itu. Satu kata yang masih ia dengar sebelum wujud itu menghilang, dia mengatakan dengan menggema.
"Melissa!" Nama itu, namanya. Kenapa, gadis itu tau?
"Gelanda?" Lirih Melissa lagi, namun sama sekali tak ada jawaban dari Gelanda.
Melissa tau, akan ada hal buruk setelah ini. Tapi, apakah orang tuanya akan percaya apa yang ia katakan.
Roh kakaknya itu menghilang, tak ada jawaban yang ia dengar dari Gelanda di alam sana.
"Ibu, aku akan kembali." Ucap Melissa, pergi dari sana.
"Kau akan kemana?" Tanya Hanna, seraya menghentikan anaknya itu.
"Ibu, aku butuh toilet." Hanna mengangguk mendengar itu.
"Ayahmu, baru saja mendapatkan rumah untuk kita. Ku harap, kau menyukainya." Ucap Hanna, Melissa hanya menyuggingkan senyum untuknya.
Keluarganya tidak akan percaya, apa yang akan ia jelaskan. Tapi, sebelum sesuatu itu terjadi. Melissa sudah menemukan penangkalnya.
~Menempuh Jalur Kelam Masa Lalu
"Gelanda, kau dimana?" Lirih Melissa, ia begitu khawatir pada roh kakaknya itu. Sehari, setelah pelelangan itu. Gelanda sama sekali tak menemuinya, bahkan tak bicara dengannya. Hari ini, kebahagiaan menghiasi wajah kedua orang tuanya.
Dari jok belakang mobil, Melissa memperhatikan canda tawa yang terjadi antara kedua orang tuanya. Tentu saja, mengingat sudah lama sekali mereka ingin memiliki tempat tinggal sendiri.
"Nak, apa kau senang dengan rumah baru kita?" Tanya Tuan Robert, Melissa tersenyum dan mengangguk.
"Baguslah, Ayah memang sengaja membeli rumah ini. Mengingat, sudah lama kita tinggal di apartemen kecil kumuh." Ucapan itu, sama sekali tidak membuat Melissa bahagia. Entahlah, perasaan khawatir itu menghantui dirinya.
"Sebentar lagi, kita akan sampai. Semoga kita semua nyaman tinggal disana." Ucap Hanna. Suara burung di antara hutan menggema, tempatnya memang terpencil. Agak jauh dari kota.
Hanya ada beberapa rumah warga disini, itupun jarak antara rumah ke rumah cukup jauh.
Dari balik kaca mobil, Melissa memperhatikan banyak sekali hal menakutkan yang bertengger di antara pohon ke pohon. Kepalanya mulai pusing sekarang.
"Hei!" Sapa Gelanda yang sudah ada disampingnya. Mendengar suara itu, Melissa mengalihkan netra dari kaca mobil.
"Kau?!" Pekik Melissa, Gelanda hanya tersenyum padanya. Sungguh, sekalipun Gelanda sudah mati, nampaknya sifat menyebalkan miliknya masih melekat padanya.
"Kau darimana?" Mendengar itu, Gelanda berfikir sejenak. Ketika ia ingat, apa yang ingin disampaikan ia pun tersenyum.
"Ini, kontak fisik antara kau dan aku. Lihatlah, apa yang ku temukan disana!" Ucapnya, tepat ketika ucapan itu usai. Dimensi Melissa berpindah, inilah yang disebut Astral Projection.
Dimana, saat ini Gelanda sedang mengisi tubuh Melissa yang kosong. Karena roh adiknya itu, ia bawa ke alamnya untuk menemui jawaban.
"Ini tempat apa?" Lirih Melissa
"30 tahun lalu, sebelum tempat ini mulai di huni. Kau ikuti saja, manusia yang keluar dari mobil hitam itu." Suara gema Gelanda, menuntunnya berjalan lurus.
Gelap, ini seperti hutan Belantara. Hanya ada suara burung hantu menemani. Satu cahaya dari mobil, mengusik matanya. Tak lama, mobil itu berhenti.
Seorang lelaki keluar dari sana.
"Sial!! Apa-apaan ini?! Mogok di tempat yang tidak tepat!" Ujar lelaki itu seraya menendang ban mobilnya kesal. Lelaki itu, mencoba menghubungi seseorang dari ponselnya, namun tak kunjung mendapat jawaban. Kesal dengan hal itu, ia pun mencari sesuatu dalam mobilnya. Sebuah senter, dan kini ia berjalan menyusuri jalanan hutan itu seorang diri.
"Manusia itu, Jason namanya!" Ucap Gelanda, Melissa mendengar setiap apa yang Gelanda ucapkan. Itu seperti sebuah petunjuk untuknya.
Cukup lama ia berjalan menyusuri hutan, ia menemukan sebuah rumah besar disana. Jason masuk kedalamnya, ia bercengkrama dengan sang pemilik.
Tak lama, adegan berpindah pada konflik itu. Konflik, yang membunuh Melissa dan keluarganya. Disitu, Melissa melihat Jason begitu brutal menyiksanya selama berbulan bulan.
Hingga hari itu tiba, dimana Jason tau Melissa hamil. Begitu gilanya ia, ketika mengambil sebuah Shotgun dari kamarnya. Melissa yang sudah tak berdaya itu, hanya pasrah. Ketika, lubang senapan itu mengarah tepat ke arahnya, yang bisa ia lakukan adalah menangis.
"Mati kau!" Ucapan itu, mengakhiri semuanya. Pelatuk itu ditarik, timah panas itu menembus tengkoraknya. Dan disanalah Melissa sekarang, dengan kepala yang pecah dan darah bercucuran.
Tak kuasa melihat kejadian itu, Melissa menutup matanya.
"Jadi, gadis itu, Melissa?" Tanya Melissa pada Gelanda.
"Benar, dan rumah yang sudah kalian beli itu, adalah miliknya. Melissa, dengan segala kebenciannya pada pendatang baru rumahnya itu mengerikan." Jelas Gelanda.
"Lalu bagaimana? Ayah sudah membeli rumah itu?" Gelanda mencoba memanggil adiknya itu, untuk kembali dalam tubuhnya.
Pertukaran itu berhasil.
"Aku menemukan satu fakta disini." Ucap Gelanda, Melissa menatapnya penuh tanya kali ini.
"Kalian berdua, terhubung. Entah, apa yang menghubungkan kalian." Heran dengan apa yang Gelanda katakan, sungguh tak masuk akal.
"Dia bukan kerabat kita!"
"Itu seperti, hubungan antara waktu ke waktu." Jelas Gelanda.
"Apa maksudnya?" Tanyanya lagi, Gelanda menghilang setelah pertanyaan itu.
~Gerbang yang Mempertemukan Mereka
Rumah itu bersih dan cukup terawat. Sepertinya, tiap Minggu akan ada pegawai pemerintah kemari membersihkannya. Saat ini, Melissa dan Keluarganya sampai disini, Rumah Besar identik seperti bangunan Belanda.
"Wah, besar sekali rumahnya ya?" Ucap Hanna, ketika suaminya itu membuka rumahnya. Melissa berada di belakang mereka, sungguh aura ini mengerikan sekali.
"Sungguh beruntung kita, mendapatkan rumah beserta perantaranya dengan harga murah." Ucap Robert, seraya masuk kedalam rumahnya. Melissa mengikuti mereka, namun baru sampai kakinya menginjak lantai itu. Pemandangan di depannya berubah, ruang tamu yang tadinya bersih, asrih dan nyaman itu. Berubah suram, gelap, dengan darah di Sofanya. Itu terjadi lagi, disini Melissa melihat Jason menyeret jasad Stevan.
Jason meletakkannya di atas sofa, disusul dengan istri Stevan yang di letakkan di Sofa. Tak lama, Jason pergi darisana. Ia mengambil gerobak dorong dari basemen bawah. Tak lama, Jason memindahkan tubuh mereka berdua ke atas gerobak dorong. Ia membawanya, menuju basemen.
Pemandangan itu kembali normal sekarang, mengerikan. Itulah yang Melissa rasakan saat ini, bahkan bau anyir darah masih melekat disini.
Melissa memaksakan kakinya masuk kedalam, meskipun hawa didalam rumah itu sangat menakutkan.
"Hei nak, kau kenapa?" Tanya Robert pada anaknya, ia melihat anaknya itu seperti lemas saja.
"Kau pasti lelah, istirahatlah!" Ucap Hanna, seraya memegang bahu anaknya. Melissa menggeleng, mencoba menolak tawaran itu.
Kali ini, pikirannya ingin mengikuti petunjuk itu. Ia ingin ke Basemen rumah ini. Robert hendak pergi ke atas rumah ini, namun tangannya ditahan Melissa.
"Ayah, aku ingin melihat basemen rumah ini. Maukah, kau menemaniku?" Ucapnya, Robert tersenyum mendengar itu lalu mengangguk.
Mereka berdua menuju basemen rumah itu.
"Aku akan memasukkan barang-barang kita, kalian bisa berkeliling." Mendengar itu, Robert mengangguk.
Mereka berjalan, mencoba mencari dimana basemen rumah ini. Sungguh, tiap sudut rumah ini suram. Tak henti-hentinya Melissa berdoa, juga mencoba memanggil Roh kakaknya yang sering menghilang akhir-akhir ini.
Hingga disini, tibalah mereka. Tepat dibawah tangga, ada sebuah pintu tertutup.
"Ah, mungkin ini!" Ucap Robert, seraya mencoba membuka pintu itu. Melissa, menunggu di balik punggung Robert. Namun ruangan itu terkunci sepertinya.
"Sepertinya, ini tidak bisa dibuka! Ayah akan mencari kunci sebentar, kau tunggu disini ya." Mendengar itu, Melissa mengangguk. Robert pergi dari sana, meninggalkan Melissa sendiri.
Dari atas tangga, terlihat sepasang mata tajam itu menatapnya benci. Pemilik bola mata mengerikan itu, tak lain adalah Hantu Melissa. Dari tangga, ia mulai menghilang. Kali ini, ia tepat berada di belakang pintu basemen.
"Melissa!" Gema suara itu mengejutkan Melissa, sungguh bulu kuduknya berdiri seketika. Pasalnya, suara itu dekat, tepat di hadapannya.
Melissa mencoba menetralkan perasaan takutnya itu, ia mencoba tenang.
"Melissa, kau seusiaku ketika aku mati disini!" Gema suara itu menggema lagi.
KREKKKKKKKKK
Terkejut, pintu dihadapannya itu terbuka. Gelap, sungguh gelap didalam sana. Perasaan takut itu mulai menjalar di tubuhnya. Rasanya terpaku, bahkan untuk berlari dari sini, kakinya seperti tak mau.
"Hihihihihihi..." Gema tawa itu menyeramkan rasanya, di tambah pemandang dihadapannya yang gelap.
"Hahahaha.... kau takut?!!!!" Gema itu, berada dekat sekali sekarang. Tawanya terus menggema, dan disinilah dia saat ini. Hantu Melissa, dengan kepalanya yang pecah dan darah yang mengucur, berada tepat di belakang Melissa.
"GELANDAA!!!" Teriak Melissa dalam batinnya, sebelum niat jahat itu terjadi. Gelanda, muncul di hadapan Hantu Melissa. Dari kejadian itu, terlihat hantu Melissa terkejut akan kehadiran Gelanda. Dua roh itu, menghilang seketika.
Hilangnya roh mereka, di iringi dengan Robert yang datang membawa perkakas.
"Kenapa bisa terbuka?" Tanya Robert heran, melihat pintu basemen itu terbuka. Melissa hanya tersenyum padanya.
"Ayah, aku ingin kita memeriksanya." Ucap Melissa, seraya menarik tangan Ayahnya. Robert, meletakkan perkakasnya di lantai. Ia mengambil senter dari sana, lalu masuk ke dalam Melissa.
Tangga itu, sudah cukup lapuk sepertinya. Ada beberapa tangga bahkan hampir patah. Jaring laba-laba yang menghiasi isinya, sudah membuktikan bahwa, basemen ini tidak pernah di jamah siapapun.
Senter itu, tak sengaja mengarah ke arah dua tiang yang berdiri tegap di tengah Basemen. Melissa, menghentikan tangan Ayahnya agar tetap menyinari tiang itu.
Suara itu, datang lagi, suara kebencian dari dalam diri Jason. Netranya terkejut ketika, melihat api itu membakar tiang. Disana, terlihat Stevan dan Istrinya dibakar. Terlihat, Jason yang duduk dihadapan mereka seraya meneguk minuman keras. Sungguh gila Pria ini, tindakannya bejat dan sangat tidak manusiawi.
Pemandangan itu hilang sekejap, Melissa ambruk, ia memegang kepalanya yang pusing itu. Robert, terkejut melihat anaknya yang jatuh itu.
"Melissa, ada apa?" Tanya Robert, Melissa hanya menggeleng. Dari luar basemen, terdengar suara teriakkan Hanna. Itu membuat Robert dan Melissa khawatir. Segera Robert menggendong anaknya itu, kembali ka atas.
Suara Hanna, berasal dari ruangan di atas. Robert mempercepat langkahnya kesana. Tepat ketika mereka sampai disana, Robert terkejut melihat istrinya itu duduk meringkuk sambil menangis di sudut ruangan.
Robert menurunkan anaknya itu, lalu menghampiri istrinya. Melissa, memperhatikan sebuah kain putih di atas meja. Hanna yang masih menangis itu menunjuk, tepat pada kain itu.
"Ada apa?" Tanya Robert, Hanna mencengkram baju Suaminya itu seraya masih menangis.
"Melissa!!!" Pekiknya, seraya menatap takut mata suaminya.
Melissa mendekati kain itu, lalu menariknya. Ia terkejut, ketika mendapati gambar dirinya ada disini. Namun, mengapa dirinya berada di kursi roda? Melissa, mengalihkan pandangannya ke arah orang tuanya.
"Ada apa dengan Melissa?" Tanya Robert lagi.
"Aku melihat, potongan kepala anak kita dalam kain itu!" Terkejut dengan apa yang Hanna katakan, Robert memeluk istrinya menenangkannya.
"Anak kita, baik-baik saja Hanna! Kau tenang saja!" Hanna masih histeris dalam dekapan suaminya. Apa yang dia lihat tadi, sungguh tampak nyata. Disana, Melissa melihat lagi, cipratan darah di atas ranjang. Hanya dia yang bisa melihat itu. Disini, ia ingat momen dalam perjalanan astralnya. Tentang kamar ini.
~Manusia dan Abu Mayat di Tubuhnya
Dua hari sesudah kejadian itu. Hanna jatuh sakit, tubuhnya begitu lemas dan pucat. Hanya ada, suara lenguhan dan nafas yang terdengar. Melissa, duduk disamping Ibunya, seraya menggenggam erat tangannya. Dingin, itulah yang dirasakan Melissa saat ini. Bagaimana, manusia yang masih bernafas bisa sedingin ini. Selang infus itu masih menempel ditangannya, selama dua hari.
"Ibu, bukalah matamu." Lirih Melissa, seraya mencium kening Hanna. Sedih rasanya melihat keadaan Hanna saat ini. Sepertinya, dia syok berat sampai membuka matanya saja ia tak mampu.
Itulah salah satu dampak dari dunia mistis. Sekejap saja kau melihat, sekejap itu juga dampaknya akan menjalar. Entah, kau akan pingsan, atau kau akan terbujur kaku dan kehilangan rohmu. Jangan pernah bermain dengan benda ghaib. Atau mengundang, apapun dari kegelapan. Atau memicu, percikan api dan menciptakan kebencian menjadi setan baru. Mereka, adalah ambisi yang belum mati.
"Tolong aku nak!" Teriak suara seseorang dari balik punggungnya. Rumahnya kosong saat ini, hanya ada dirinya dan Hanna. Robert, sedang bekerja, dia akan pulang petang nanti.
Terkejut, Melissa membalikkan tubuhnya. Namun, yang ia lihat hanya sebuah lemari disana, tak ada siapapun. Netranya, mulai memeriksa detail sudut ruangan. Mencoba mencari, apakah aura dari suara itu masih tertinggal disana.
Masih dengan fokusnya, Melissa tak menyadari kehadiran sesuatu. Disana, terlihat Hanna membuka matanya, melotot. Ketika, seorang Pria berkulit hangus berada tepat di atas kepalanya. Hanna, tak mampu berteriak, bahkan untuk sekedar menggerakkan tangannya menyentuh Melissa, ia tak sanggup. Ini menyeramkan, di tatap langsung oleh sesuatu yang buruk rupa itu.
Wajah hangus, dengan mata yang hilang satu. Itu tersenyum seram ke arah Hanna. Sosok itu, mulai mendekat masuk kedalam tubuh Hanna.
Melissa kembali mengalihkan perhatiannya pada Hanna kali ini. Dia masih terlelap, itu cukup membuatnya tenang sekarang.
"Ibu, aku akan kembali. Beristirahatlah, semoga kau cepat pulih." Ucap Melissa, seraya berdiri. Ia mengambil gelas kosong di atas meja, lalu pergi meninggalkan ibunya. Saat itu juga, sosok pria berkulit hangus itu menampakkan dirinya, menatap kepergian Melissa dari balik punggungnya.
"Hahahahaha." Ia tertawa, lalu menghilang.
Disinilah Melissa saat ini, ia sedang mencuci beberapa piring yang pagi tadi Robert gunakan untuk makan.
"Adik!" Ucap Gelanda, muncul disampingnya.
"Akhir-akhir ini kau sering menghilang?" Gelanda diam, sama sekali tak ingin menjawab apa yang Melissa katakan.
"Adik, aku ingin, petang nanti. Kau tetap, berada dalam kamarmu." Pernyataan itu, membuat Melissa menghentikan kegiatannya.
"Untuk apa?" Tanyanya.
"Melissa, kali ini, kumohon! Dengarkanlah, kakakmu ini." Melissa menghela nafasnya, lalu mengangguk. Gelanda menghilang setelah memberitahu hal itu.
Di sisi lain, terlihat seorang lelaki tua sedang memantau kediaman Robert dari jauh. Dia, nampak seperti seorang gelandangan dengan sekop besar di tangannya. Seorang kantor pos, dari arah kanan jalan datang dengan sepedanya. Saat ketika, tukang pos itu melewatinya. Dengan gilanya, lelaki tua itu memukul keras kepalanya. Melihat tukang pos itu terjatuh, Lelaki tua itu menyeretnya ke suatu tempat, membawanya.
Malam tiba cukup cepat kali ini. Melissa, merasa cukup tenang malam ini. Karena sudah sehari ini, tak ada gangguan astral yang muncul. Itu membuatnya tenang dan damai rasanya. Bahkan, hari ini, dia tidak melihat keberadaan Hantu Melissa.
Di Sofanya, Melissa sedang menunggu kepulangan Ayahnya. Supaya tak jenuh, ia memainkan gadget miliknya. Sesuai apa yang dikatakan Gelanda, malam ini ia mengunci rapat-rapat tiap pintu rumahnya.
Di lain tempat, terlihat seorang lelaki tua sedang menyalakan lilin-lilinnya. Ia membentuk lilin itu memutar, mengelilingi satu nyawa yang sedang terjebak pada sebuah tiang. Satu nyawa itu, terikat, tanpa sehelai pakaian pun melekat.
Ketika lelaki tua itu, mengambil sebotol minyak gas. Dengan cepat, ia melempar minyak itu ke arah Pria yang berada di tiang. Bau gas cukup menyengat, Pria itu siuman. Ia terkejut, mendapati dirinya di ikat seperti ini. Pria itu, meronta-ronta mencoba melepaskan ikatannya. Namun fatalnya, ikatan itu sama sekali tak mampu di lepaskan.
Sembari menatap Pria itu, Lelaki tua itu mengangkat obornya.
"Kamis ini, adalah malam ku berkuasa. Aku akan, membawa Melissa ku kembali." Ucapnya, seraya melempar obor itu ke arah Pria disana.
"AAAAAAAAAAAAARGGGGHGHHHH!!!" Teriakan penuh kesengsaraan itu, menggema berulang kali. Tubuh terbakar itu, masih bersuara beberapa menit. Sampai ketika maut itu datang, membuatnya diam dan hangus. Lelaki tua itu, duduk, menikmati apa yang ada dihadapannya, sebotol minuman keras itu berada di tangannya.
Tepat pukul 21:00 Melissa masih menunggu Ayahnya. Netranya, masih asik melihat program TV. Sesekali, Melissa menguap mengantuk.
Dingggg
Dingggg
Suara piano, dari arah ruang kerja Robert itu menyita perhatiannya. Melissa, membuang kasar nafasnya. Sungguh, dia tau, itu bukan ulah Gelanda. Karena sudah cukup terbiasa, dengan hal ghaib seperti ini. Melissa bangkit dari duduknya, menuju ruangan itu. Beberapa langkah kemudian, sebelum sampai kesana lampu rumahnya mendadak padam. Melissa terkejut melihat itu, kali ini sungguh, ia ketakutan.
Bagaimana, Melissa tak takut pada kegelapan? Bahkan, ada banyak manusia di bumi ini takut pada gelap. Merasa bosan, dengan segala teror dan teror. Melissa mengambil senter, yang tak jauh letaknya dari tempatnya berada. Piano itu, masih berbunyi disana. Melissa, menekan tombol on pada senternya, berjalan pelan ke arah sumber suara.
Ia terkejut, ketika mendapati seorang gadis berambut sama sepertinya sedang bermain piano. Melissa paham, ini adalah Hantu Melissa.
"Melissa?" Lirih Melissa, penampilan baju bersih yang ia lihat tadi. Sekejap berubah, baju hantu itu penuh dengan darah. Diantara kegelapan itu, dengan satu cahaya senter mengarah pada Hantu Melissa, bau anyir darah mulai menyeruak.
"Gelandaa?!!" Batin Melissa, sungguh takut. Melissa, tidak akan mampu menahan, aura kebencian dari hantu ini.
Hantu Melissa, mulai menampakkan wujud aslinya. Kain penuh darah, tangan yang terborgol, juga kaki yang terborgol. Kepalanya yang hancur sebelah, dengan mata yang jatuh di atas lantai. Sungguh mengerikan, tragis.
"Hai, Melissa?" Ucapnya, Melissa diam mendengar itu. Keluh rasanya lidahnya saat ini. Tak henti-hentinya, dalam batinnya ia mencoba memanggil Gelanda. Namun, tak kunjung mendapatkan jawaban.
Hantu Melissa itu, maju, mendekat ke arahnya. Jarak mereka, cukup dekat saat ini. Panas, itulah yang Melissa rasakan saat ini. Hantu Melissa tersenyum padanya.
"Aku ingin, sesuatu darimu! Melissa!" Ucapan terakhir itu, membuat hantu Melissa menghilang. Bahkan, lampu yang padam itu seketika menyala.
Melissa menyentuh kepalanya yang mulai berat. Di luar, seorang lelaki tua, mulai mendekat, menghampiri rumahnya. Suara, langkah kaki cepat dari anak tangga membuat Melissa terkejut. Ketika ia menoleh kebelakang, nampak Hanna memukulnya dengan benda tumpul. Itu membuat kesadaran Melissa hilang.
Di lain tempat, Robert sedang dalam perjalanan pulang. Ketika ia tiba di rumahnya, ia melihat seorang lelaki tua berdiri dihadapan pintu rumahnya. Robert, memarkirkan mobilnya, lalu berjalan mendekati lelaki itu.
"Hei?" Sapa Robert ramah, Lelaki itu berbalik dan tersenyum.
"Hai, apa kau baru disini?" Robert mengangguk mendengar itu.
"Apa yang sedang kau cari? Apakah kami, bisa membantumu?" Lelaki itu tersenyum, lalu menggeleng.
"Aku, pengurus makam di area ini. Aku lelah, bisakah aku meminta minuman segelas?" Mendengar itu, Robert iba.
"Tentu saja, mari bergabung bersama kami untuk makan malam." Lelaki itu tersenyum mendengar itu. Robert, membuka pintu rumahnya, mencoba menyambut Lelaki tua itu.
Ketika mereka masuk ke dalam, seluruh isi rumahnya gelap. Bagaikan tak ada tanda kehidupan di dalam, hanya kesunyian yang ada.
"Hanna?" Ucap Robert.
"Apa kau, tinggal sendiri?" Robert menggeleng menanggapi pertanyaan itu. Dari tasnya, ia mengambil sesuatu, sebuah senter.
"Mungkin, listrik disini cukup rewel ya? Aku, akan memeriksa saklarnya dulu." Ucap Robert, seraya meninggalkan lelaki tua itu.
Dalam kesendiriannya, lelaki itu justru masuk semakin dalam di rumahnya. Mengekspos seluruh isi rumah ini. Hanya berbekal dengan, sekop besar dan sebuah kotak yang di bawanya di tangan kirinya.
Sepasang bola mata jahat, menatapnya dari atas tangga. Tepat, ketika Lelaki itu mendekati tangga, dia berhenti. Disana, ada Hanna sedang menatap jahat ke arahnya. Lelaki itu, tersenyum melihat kehadiran Hanna disana.
"Arghhhhhhh!!!!" Suara pekik an itu menggema, seperti suara setan.
"Kau biadab, Jason!!!!" Teriak suara lain, dari dalam tubuh Hanna.
Lelaki tua ini, adalah Jason. Tiga puluh tahun yang lalu, polisi hanya menemukan satu jasad tanpa kepala. Jasad itu, membusuk, bahkan belatung mulai ada di kulitnya. Jason, benar-benar melarikan diri setelah kejadian itu. Tak ada yang tau, penggali makam di area pedesaan ini adalah seorang pembunuh.
"MATI KAU!" Teriak Hanna, melompat dari tangga ke arahnya. Di situ, seakan ada tameng yang menghalangi niatnya. Hanna, terpental dan mundur.
"Sialan kau!" Erangnya, kali ini posisi nya merangkak seperti mencoba mencari celah untuk menyerang.
"Kau akan membunuhku? Kau saja, tidak bisa menyentuhku Stevan!" Ucap Jason, ia membuka kemeja miliknya.
Disana, Hanna terkejut. Itu, adalah abu, abu dari jasad Stevan dan Istrinya.
"Sekarang, kau tau, kenapa kalian tidak bisa menerorku selama ini?" Frustasi dengan apa yang Jason katakan. Suara erangan, mulai terdengar dari dalam diri Hanna. Ia seperti orang kesakitan saat ini, tangannya menjambak-jambak rambutnya sendiri.
"Arghhhhhh!!!!" Teriakan terakhir itu, menjatuhkan tubuh Hanna tak berdaya di lantai.
"Aku tau, kau disini Melissa!" Batin Jason. Setelah, apa yang Jason lakukan pada keluarga Arghayev. Teror demi teror dari keluarga itu datang, bahkan hampir membuatnya gila. Frustasi dengan hal itu, Jason mempelajari Satanisme. Dan beginilah dirinya sekarang, tiap malam dia harus mengolesi tubuhnya menggunakan abu jenazah. Ritual keji itulah, yang menyelamatkan Jason dari teror Arghayev.
Hal, yang membuatnya ingin sekali kemari adalah. Pertama kali, mobil Robert datang kemari. Melewati, pemakaman tempatnya bekerja. Matanya, tak sengaja melihat seorang gadis yang mirip sekali dengan Melissa. Itu, membuat Jason ketakutan. Dia percaya, sistem reinkarnasi. Menurut, apa yang dia pelajari dalam Satanisme.
Mereka yang mati, meninggalkan dendam dan unsur hidup yang belum usai. Jiwanya, akan tetap kembali membawa hasrat tujuan mereka dulu yang mati. Disana, juga disebutkan, reinkarnasi itu akan datang menyelesaikan tujuan terakhir mereka. Jason tau, apa tujuan Melissa padanya. Melissa ingin, kepala Jason. Itulah mengapa, Jason ingin mendapatkan Melissa lebih dulu sebelum membunuhnya.
Robert, masih sibuk dengan saklar listrik rumahnya. Berbekal ilmu yang pas-pasan, ia masih mengotak-atik saklar itu. Namun, tak kunjung ada kemajuan disana.
~Gelanda, Melissa dan Hantunya
Melissa, samar mulai membuka matanya. Disini gelap, sangat gelap bahkan penerangan pun tak ada. Namun, tangannya mengenali tanah ini. Ini, basemen bawah rumah mereka. Tapi, kenapa dia ada disini?
"Kau, sudah bangun?" Ucap suara, di antara kegelapan itu.
"Melissa, sebenarnya apa yang kau inginkan?" Pertanyaan itu, membuat Melissa menampakkan dirinya bersama Gelanda disampingnya.
"Kau lihat, kita manusia dengan jiwa yang sama." Sungguh, Melissa tak memahami pernyataan itu.
"Ada apa ini, Gelanda?" Tanya Melissa pada Gelanda.
"Adik, kami hanya ingin menyalamatkanmu." Ucapnya, wujud mengerikan dari Hantu Melissa kini berubah. Disana, Melissa melihat kemiripan antara dirinya dan Hantu ini.
"Kembalikan kepalaku, aku sudah cukup menderita dengan keputusan Tuhan padaku. Bukankah, aku sudah rela menerima kelumpuhan yang dia berikan. Lalu, mengapa? Mengapa gadis lumpuh ini, tidak berhak bahagia dirumahnya. Mengapa, Tuhan mengirimkan iblis itu datang? Menyiksa, memutuskan takdirku dengan dunia? Aku bahagia, meskipun lumpuh tapi masih bersama keluargaku. Lalu, mengapa? Mengapa, aku harus mati sekeji itu dan semenyakitkan itu? Melissa, katakan sesuatu. Apakah, aku berhak menerima semua ini?" Iba dengan apa yang Hantu itu katakan, Melissa diam.
Sungguh, ia sangat bingung kali ini. Dia harus apa, harus apa untuk membuat Hantu ini, pergi dengan tenang di alamnya. Hantu itu, menunjuk ke arah lain. Di bawah basemen remang-remang, minim pencahayaan. Wujud baru itu datang lagi. Dua sosok, berdiri di sebuah tiang. Kulit mereka, hangus bahkan wajah mereka pun tidak di kenali. Dua sosok itu, merubah penampilannya yang buruk, menjadi bagus di lihat.
"Kami bahagia, melihat anak kami dalam dirimu. Gelanda, pasti akan melindungi adiknya." Ucap dua sosok itu pada Melissa, sosok itu pun menghilang. Kali ini, hanya tinggal dirinya, Gelanda dan Hantu itu. Melissa, merogoh sakunya mencoba mengambil ponselnya. Dari sana, ia mulai menghubungi aparat.
Bersamaan dengan berakhirnya panggilan itu, suara dobrakan keras dari pintu basemen ia dengar. Segera, Melissa melemparkan ponselnya ke arah lain.
Itu Jason, ia turun ke bawah Basemen kali ini. Jantung Melissa, berdebar sangat cepat. Takut, tentu saja dia takut pada lelaki itu. Dia pembunuh, yang belum di hukum. Tepat ketika, mereka bertemu Jason tersenyum melihat apa yang ada dihadapannya kali ini.
"Mirip sekali!" Ujarnya.
"Kau akan apa?" Pertanyaan itu, membuat Jason mengangkat sekop nya. Mengayunkannya keras ke arah Melissa, belum sempat sekop itu menyentuh kepalanya Arwah Melissa menampakkan dirinya. Itu membuat, Jason mundur dan berhenti.
"Biadab tak berperasaan!" Pekiknya, Jason hanya menatap datar ke arahnya. Dengan tenang, tangannya mulai membuka kotak yang sedaritadi ia bawa. Beberapa helai rambut itu, menjulang ketika tutup kotak dibagian samping itu dibuka. Jason, menarik rambut putih itu keluar. Dari sana, terlihatlah kepala Melissa yang membusuk.
"Aaaaaaaaaa!" Teriak Melissa, teriakan itu membuat beberapa benda disini jatuh. Kepala itu, adalah penangkal roh Melissa, dimana Melissa tidak akan bisa mendekatinya selama kepala itu berada di tangannya. Disini, Gelanda sama sekali tak bisa membantu apapun. Manusia ini, sudah banyak membuat perjanjian dengan iblis.
Roh Melissa hilang, bersamaan dengan penerangan dirumah ini menyala. Kali ini, Jason meletakkan kepala Melissa di bawah kakinya. Jason mengayunkan lagi sekop besarnya, pada Melissa.
Buaghhhhhh
Jason terkapar, ketika batu besar itu datang menghantam kepalanya. Melihat itu, Melissa terkejut. Robert menuruni anak tangga basemen, terlihat raut wajah khawatir itu terpampang disana. Ia menghampiri anaknya, mencoba menanyakan keadaannya.
"Aku baik, Ayah! Tapi itu!" Ucap Melissa, seraya menunjuk potongan kepala manusia di lantai.
Sibuk menanyakan keadaan anaknya, rupanya, Jason masih bisa membuka matanya. Dengan cepat, ia memukul kepala Robert dengan skopnya. Berulang kali, darah segar itu mengucur tepat dari kepalanya. Ketakutan melihat itu, segera Melissa berlari dari sana. Belum sempat dia keluar dari basemen, kakinya kembali di tarik masuk oleh Jason kedalam Basemen. Disinilah, Jason akan mengulangi adegan bejatnya itu.
"Aku, akan menikmatimu sebelum kau mati!!!!" Ujar Jason, seraya melepas paksa pakaian Melissa. Disana, Melissa meronta-ronta, sungguh dia tidak percaya nasibnya akan sama seperti Hantu itu.
Dorrrr
Dorrr
Beberapa, timah panas, menembus kepala Jason. Polisi, datang tepat pada waktunya. Sesuai, dengan apa yang sudah Melissa rencanakan untuk meringkus Pembunuh seperti Jason. Jason mati saat itu juga, dihadapan kepala Melissa.
Ketika aparat, mulai menolongnya. Melissa, melihat Hantu itu beserta keluarganya tersenyum ke arahnya. Sejak saat itu, tak ada lagi teror di rumah merek. Damai, rasanya sungguh.
Orang mati, tidak bisa kembali
Jika dia ada disini
Itu adalah, keinginan mereka yang belum tuntas
Jiwa, akan tetap hidup dan mengembara di bumi
Tapi jasad, akan tetap mati dan rusak
Manusia fana, dan pada dasarnya tidak pernah ada
Kita, adalah Ilusi yang merasa memiliki kehidupan.
Kita adalah, ilusi yang datang melengkapi takdir dan semesta Tuhan.
Ribuan, skenario yang datang melengkapi apa yang Tuhan ciptakan.
Padahal, kita tidak memiliki kehidupan itu, itu bukan milik kita.
Nyatanya, dunia ini hanya titipan, dan kita ilusi.
Yang nyata, hanya Beliau Pencipta segalanya.