Prolog :
Laki-laki itu berjalan sempoyongan, mabuk berat. Wajahnya kusut masai, bau alkohol menguat kuat dari mulutnya juga pakaiannya yang acak-acakan. Kematian misterius yang menimpa rekan-rekan seperjuangannya di group musik Baladewa yang pernah menggetarkan dunia itu melahirkan rasa frustasi dan duka mendalam. Kilasan-kilasan indah masa lalu senantiasa datang dan pergi begitu saja digantikan dengan peristiwa-peristiwa yang membuat luka dalam dirinya yang usianya sudah mencapai kepala 5.
Sayup-sayup dari kejauhan terdengar bunyi seruling diiringi dengan harmonika. Suaranya menggema, seakan keluar dari awan hitam yang bersembunyi di balik badan perbukitan dan pegunungan, merajamnya dengan getaran-getaran menyayat hati lewat alunan musiknya.
Pria itu menoleh kesana-kemari, memastikan bahwa telinganya tidak salah mendengar, memastikan penglihatannya yang masih kabur oleh alkohol untuk mencari tahu darimana asal suara itu.
Suara seruling dan harmonika semakin lama semakin dekat, namun, tidak ada siapa-siapa di sekitarnya. 2 suara alat musik itu terasa sangat familiar sekali, namun sudah lebih dari 3 tahun tak terdengar lagi karena para pemilik dan pemain musiknya sudah menghilang semenjak peristiwa itu. Menghilang entah kemana.
Pria itu menangis tersedu-sedu, "Fanny, Febi... dimana kalian kini berada sekarang," katanya.
Suara seruling itu mendadak berubah, nada yang dimainkan tidak lagi sahdu namun dimainkan dengan nada tinggi, tinggi sekali mirip lengkingan keras menyakitkan telinga. Pria itu menutup telinga, jantungnya serasa ditusuk-tusuk oleh pisau bermata tajam. Lengkingan yang mirip dengan suara jeritan keras itu terus berkumandang dan pria itu tersentak manakala di hadapannya telah berdiri sesosok wanita berambut hitam- panjang, kusut da dibiarkan tergerai menutupi sebagian wajahnya.
"Siapa kau ?" tanya pria itu.
Wanita berbaju putih kecoklatan itu tak menjawab, membisu dan tak bergerak bagai seonggok arca batu. Tak lama kemudian, ia menyibakkan sebagian rambutnya yang menutupi wajah dan...
Pria itu tersentak, wajahnya berubah menjadi pucat pasi, sepasang matanya terbelalak lebar. Seumur hidupnya, ia baru pertama kali melihat pemandangan yang mengerikan. Wajah bagian tengah terdapat garis memanjang hingga dagu, tak ada kulit ataupun daging, namun hanya berupa tengkorak, sementara separuhnya, di sebelah kanan, kulit pembungkus daging tampak pucat sesekali di bawah kulitnya tampak merayap cacing, belatung, kelabang dan hewan melata lain dan menyembul keluar memercikkan darah merah kehitaman.
Tubuh dan bibir pria itu gemetaran, gigi-giginya saling beradu satu sama lain. Jantungnya serasa berhenti berdetak, kaki-kakinya serasa tak bertenaga. Ia hanya bisa menyeret pantatnya sambil bergerak menjauh ke belakang. Wanita itu hanya berdiri sambil tertawa-tawa mengerikan.
Gerakan pria itu terhenti manakala punggungnya membentur sesuatu, dingin dan keras. Batu. Namun bukan batu yang membuatnya lebih histeris tapi, sosok wanita yang duduk diatas batu itu sementara tangannya memegang sebuah harmonika ungu. Terlebih separuh wajahnya di sebelah kiri yang tak memiliki kulit dan daging hanya berupa tulang tengkorak mirip dengan wanita yang pertama kali pria itu temui.
2 wanita kembar. Yang membedakan adalah wajah tengkorak, satu di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri.
Will you join me, join me, join me
Will you join me, join me, join me
Will you join me, join me, join me
We are so young
our lives have just begun
but already we are considering
escape from this world
and we've waited for so long
for this moment to come
was so anxious to be together
together in death
Won't you die tonight for love
Will you join me in death
Won't you die
Will you join me in death
Won't you die tonight for love
Will you join me in death
Join me in death
This world is a cruel place
and we're here only to lose
so before life tears us apart let
death bless me with you
Won't you die tonight for love
Will you join me in death
Won't you die
Will you join me in death
Won't you die tonight for love
Will you join me in death
Join me in death
This live ain't worth living
This live ain't worth living
This live ain't worth living
Join me, join me
This live ain't worth living
Won't you die tonight for love
Will you join me in death
Won't you die
Will you join me in death
Won't you die tonight for love
Will you join me in death
Join Me
Original Song by: Sarah Brightman
Semula lagu itu terdengar merdu diiringi dengan bunyi seruling, akan tetapi semakin lama semakin membuat bulu kuduk merinding. Hampa, dingin dan syahdu, seakan bagaikan tusukan ribuan jarum di sekujur tubuh, urat nadi dan peredaran jalan darah siapa saja yang mendengarnya.
Pria itu cukup mengenal lagu itu, lagu yang sering dimainkan oleh dua orang wanita saudara kembar. Lagu tersebut tidak pernah berkumandang lagi setelah mereka menghilang. Sebuah lagu yang pernah menaikkan nama perkumpulan group musik Baladewa ke dunia Internasional. JOIN ME.
Dengan iringan musik seruling dan harmonika yang berubah-ubah : sesekali terdengar sumbang, sesekali terdengar syahdu dan datar, sesekali pula terdengar menggema tapi hampa namun suatu saat melengking bak jeritan, Join Me serasa menyiksa.
Pria itu bagaikan kesetanan, ia berteriak-teriak histeris, "Tidak.... hentikan.... hentikan.... aku tak ingin mendengarnya lagi, hentikan !!" Ia berlari sambil menutup telinganya. Join Me serasa mengikutinya kemana ia pergi. Hingga ia merasakan kedua telapak tangannya merembes cairan kental berwarna merah kehitaman. Wajahnya memucat, ia menyeringai saat dua wanita sudah berdiri tak jauh di hadapannya.
"Aku tahu... telah melakukan kesalahan pada kalian, tapi, itu semua atas desakannya, jika kalian ingin membunuhku, lakukanlah sekarang, jangan siksa aku dengan lagu-lagu kalian yang miris," kata pria itu.
2 wanita itu hanya berdiri bagai patung, sepasang matanya seakan memancarkan sinar merah, mencorong tajam seolah hendak menembus dada pria di hadapannya, menusuk jantung dan membunuhnya pelan-pelan.
Wanita pemegang seruling perak patah perlahan-lahan bergerak maju setengah melayang ia menimang-nimang sebuah benda kecil berbentuk elips berwarna merah, "Dia harus merasakan, apa yang kami rasakan, tak terkecuali kau. Barang ini adalah salah satu dari sekian banyak kosmetik yang dia hadiahkan pada kami, tak ada salahnya jika kau ikut mencobanya.... hi...hi...hi...hi..." katanya sambil menorehkan barang yang dipegangnya ke wajah pria di hadapannya itu. Pria itu tak bisa berbuat apa-apa saat ujung benda menggurat-gurat sekitar dahi dan pipinya. Hingga matanya terbelalak lebar manakala darah segar menyembur keluar dari kerongkongan lalu tembus ke rongga mulutnya. Tubuhnya mengejang sesaat setelah itu tak bergerak-gerak lagi.
2 wanita itu memandanginya sekian lama, saat angin malam berhembus perlahan, terdengar lantunan lagu :
Deliver me, out of my sadness
Deliver me, from all of the madness
Deliver me, courage to guide me
Deliver me, strength from inside me
All of my life I've been in hiding
Wishing there was someone just like you
Now that you're here, now that I've found you
I know that you're the one to pull me through
Deliver me, loving and caring
Deliver me, giving and sharing
Deliver me, the cross that I'm bearing
All of my life I was in hiding
Wishing there was someone just like you
Now that you're here, now that I've found you
I know that you're the one to pull me through
Deliver me
Deliver me
Oh deliver me
All of my life I was in hiding
Wishing there was someone just like you
Now that you're here, now that I've found you
I know that you're the one to pull me through
Deliver me
Oh deliver me
Won't you deliver me
Deliver Me
Original Song by : Sarah Brightman
***
Cindy Permata Sari, itulah nama lengkap Cindy. Seorang anak kecil yang lugu dan polos mungkin juga tidak tahu apa-apa, setidaknya begitulah menurut orang. Tapi, sekalipun demikian Cindy memiliki beberapa teman / sahabat yang tak kasat mata. Masing-masing punya cerita-cerita dan pengalaman menarik saat mereka masih berjalan, berbicara, menangis dan tertawa saat jantung menjadi pemacu dan penggerak hidup. 2 diantara mereka, selalu datang dan bercerita, menyanyikan lagu saat hendak tidur.
Estefanny dan Febiola. Demikianlah nama mereka, Cindy biasa memanggil mereka kak Fanny dan Kak Febi. Selama bersahabat dengan Cindy, mereka hanya bicara seperlunya saja, tapi, akhir-akhir ini mereka banyak bercerita tentang masa lalunya. Seruling perak patah dan dibungkus dengan selotip hitam dan harmonika berwarna biru tua, tak pernah lepas dari genggamannya. Dan, Cindy sangat terkejut tatkala mereka bercerita bagaimana mereka mati dan membalas dendam pada orang-orang penyebab kematiannya. Dan, inilah yang mereka ceritakan termasuk kosmetik yang mereka pakai untuk menutupi luka parah di wajahnya. Ternyata, kosmetik itu tak mampu menyamarkan wajah buruk mereka, malah mereka harus berhadapan dengan apa yang disebut DUNIA ARWAH / DUNIA ROH / DUNIA GAIB.
Cindy akan berusaha menceritakannya pada kalian dengan cara Cindy agar kalian tahu bagaimana rasanya hidup sebagai orang yang terbuang / tersisih dari masyarakat hanya gara-gara cacat. Hati mereka yang terbakar oleh dendam, membuat mereka berubah menjadi makhluk yang kejam dan haus akan darah. Tapi, bagi Cindy... mereka adalah sosok-sosok hantu baik tak pernah sedikitpun niat mereka untuk menyakiti atau membahayakan nyawa Cindy. Karena mereka tahu bahwa Cindy adalah seorang anak yang senasib dengan mereka. Mereka yang biasa kalian sebut dengan HANTU.
______
Malam itu adalah malam puncak dimana Group Musik Baladewa mencapai karirnya sebagai group musik terbaik di dunia. Seusai pertunjukan, sebagian besar para penonton merasa puas dengan pertunjukan yang digelar BALADEWA.
Penilaian positif itu bergulir hingga sampai ke telinga Ratna, salah satu dari anggota Baladewa yang ditugaskan oleh Pak Yudhi sebagai pemegang biola dan pemetik sitar. Sebelum Estefanny dan Febiola masuk menjadi anggota Baladewa, dia menjadi pemain musik yang paling diandalkan oleh Pak Yudhi, pimpinan Group Baladewa yang juga ahli dalam memainkan berbagai macam alat musik.
Ratna berjalan menuju ke kamar Estefanny dan Febiola, begitu sampai di depan pintu, ia mengetuknya dan tanpa menunggu lama, pintu terbuka dan Febiola muncul menyambutnya dengan ramah.
"Eh, kak Ratna... masuklah, kami kira kakak sudah tidur," sapanya.
Ratna tersenyum sambil melangkah masuk, "Penampilan kalian malam ini sangatlah luar biasa, hampir semua penonton memberikan penilaian positif terhadap penampilan kalian berdua dalam memainkan lagu 'Sarahbande'," katanya sambil duduk di sebuah kursi.
"Kak Ratna, jangan berlebihan... tanpa adanya iringan biola kakak, lagu kami serasa hambar," sahut Fanny. Senyum Ratna menghiasi bibirnya yang merah delima, "Sudahlah. Saya benar-benar salut dengan kalian. Bagaimana caranya hingga kalian bisa memainkan seruling dan harmonika itu sedemikian bagusnya ?" tanyanya dengan penuh minat.
"Entahlah... mungkin karena kami terlalu hanyut dalam suasana. Ehm, sebenarnya kami sangat mengagumi permainan biola dan Sitar kakak. Sekalipun kami bisa memainkan kedua alat musik itu, permainan kakak lebih baik dari kami," kata Fanny sambil menyajikan minuman ke hadapan Ratna.
"Benar, kak...." sahut Febi, "Pak Yudhi juga mengatakan tanpa adanya kita bertiga, Baladewa ini seperti masakan yang hambar," sambungnya.
"Aku benar-benar terkesan. Pertahankan prestasi kalian itu. Ketahuilah, tadi banyak orang ingin bertemu dengan kalian, sebagian dari mereka memberikan karangan bunga juga berbagai hadiah untuk kalian. Hadiah-hadiah tersebut berada di ruangan Pak Yudhi. Beliau minta tolong pada saya, memanggil kalian di ruangan latihan. Sekarang, lho," tegas Ratna. Estefanny dan Febiola menganggukkan kepala dan sambil berjalan di belakang Ratna mereka meninggalkan tempat itu.
_____
Di ruang latihan, Pak Yudhi berdiri sambil memandangi karangan-karangan bunga yang diletakkan berjejer di lantai. Karangan bunga tersebut terus berdatangan hingga nyaris tak ada tempat untuk memajangnya. Semua karangan bunga itu berisikan "SELAMAT DAN SUKSES ATAS KONSER AMAL GROUP BALADEWA". Ada berbagai bingkisan kecil yang ditujukan pada Pemegang Seruling Perak Estefanny dan Pemegang Harmonika Ungu Febiola. Laki-laki setengah baya itu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, "Sepasang anak yatim itu, memiliki potensi yang sangat besar dalam bidang seni musik," katanya dalam hati.
"Selamat malam, pak," terdengar suara Ratna dari arah belakang. Buru-buru Pak yudhi membalikkan badannya, ia tersenyum melihat 2 wanita yang berdiri di belakang Ratna, "Selamat malam, juga anak-anakku," sambut Pak Yudhi sambil memeluk mereka bertiga.
"Kalian, lihatlah karangan bunga juga bingkisan-bingkisan mewah ini, para penonton memberikan semua ini kepada kita. Terutama kalian berdua Fanny dan Febi. Konser ini sukses besar karena kalian," katanya.
"Tidak juga, pak..." kata Fanny, "Ini semua adalah hasil kerja sama kita, terutama Kak Ratna yang sudah membimbing kami. Tolong bapak bagikan semua ini pada para senior kami, pak," sambungnya.
"Hei, apa kau menolak kebaikan hati Pak Yudhi ?" tanya Ratna.
"Tidak, kak. Tak adil rasanya jika semuanya ini untuk kami. Kami sekedar menghibur para penonton saja tak ada maksud lain. Jadi, tolong bantu kami untuk membagikan semuanya ini, kak ?" sahut Febi.
"Hmm, hati kalian benar-benar baik," ujar Pak Yudhi lalu menoleh ke arah Ratna dan berkata, "Nak Ratna... tolong bagikan semua ini kepada yang lain, ya..."
Ratna mengangguk, "Terima kasih Fanny dan Febi... tapi, saya memiliki sesuatu untuk kalian berdua. Saya mohon jangan menolak pemberian saya ini, ya..." sambil berkata demikian ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil lalu diberikan pada Fanny dan Febi, "Ini adalah hadiah dariku kosmetik, mungkin kalian cocok memakainya. Kosmetik ini istimewa, lo ... dalam waktu singkat bisa menembus pasar internasional,"
Estefanny dan Febiola menerimanya, "Terima kasih, kak. Saya senang kita bisa bekerja sama melambungkan nama BALADEWA," ujar Fanny.
"Ha... ha... ha... ayo sekarang kita foto bersama untuk kemudian makan malam. Kalian tentunya sudah lapar, bukan ?" ujar Pak Yudhi sambil memeluk Ratna, Estefanny dan Febiola sesaat kemudian ia meminta beberapa juru foto untuk mengambil foto mereka berempat.
_____
"Hei, apa kau sudah gila memberikan kosmetik itu pada mereka ?" tanya Gatot salah satu dari anggota kelompok musik Baladewa kepada Ratna di ruangan yang cukup jauh dari kamar Estefanny dan Febiola. Ratna tersenyum, "Apa yang kau tahu tentang kosmetik itu, Kak ?" tanyanya.
"Menurut isu yang beredar sekarang ini ... barangsiapa yang memakai kosmetik itu ... dia akan mampu melihat bangsa Jin atau sejenisnya ? Mengapa kau memberikan barang berharga itu pada mereka ?"
"Dengar ... aku tak menyukai Estefanny dan Febiola. Sekalipun aku bersikap manis pada mereka, itu hanya sekedar pemerah bibir saja. Aku bahkan ingin menyingkirkan mereka dari BALADEWA ini,"
Gatot tertegun mendengar ucapan Ratna, "Mengapa kau tega berbuat demikian pada mereka Ratna ? Bukankah mereka adalah teman kita juga ?"
"Huh !! Apa kau tidak melihat perubahan sikap Pak Yudhi padaku ?" kata Ratna ketus, "Dulu akulah yang menjadi anak kesayangan Pak Yudhi, tapi, kini setelah 2 gadis yang tidak jelas asal-usulnya ada diantara kita, apa yang terjadi ? Apakah kau tak melihatnya ?"
"Kau salah, Ratna... Pak Yudhi menyayangi kita melebihi apapun. Dia tak pernah mengabaikan kita anak-anak angkatnya. Tanpa beliau... kita mungkin sudah jadi gelandangan. Buanglah perasaan negatifmu itu... atau kau akan merugikan dirimu sendiri,"
"Sudahlah Kak Gatot. Kakak tak perlu ikut-ikutan menyanjungnya, aku malah semakin sebal. Tahu !!!" seru Ratna sambil berjalan meninggalkan tempat itu menuju ke kamar Estefanny dan Febiola.
Dua kakak-beradik itu tampak bingung menatap kosmetik pemberian Ratna di meja riasnya. Seumur hidup mereka tak pernah tahu bagaimana cara memakai kosmetik. Lamunan mereka buyar manakala mendengar pintu kamar diketuk dan terdengar suara Ratna dari luar. "Halo, selamat pagi... apa kalian sudah bangun ?"
Buru-buru Febiola membukakan pintu dan berkata, "Selamat pagi, kak... syukur kakak datang.... bisa bantu kami memakai kosmetik pemberian kakak kemarin ? Sebab, kami sama sekali tak tahu caranya,"
Ratna tersenyum, "He... he... he... baiklah, saya akan membantu kalian," katanya sambil dengan cekatan mulai merias wajah Estefanny. Begitu selesai merias wajah Estefanny, ia merias wajah Febiola dalam dalam hitungan lebih kurang 20 menit selesailah, "Wah, lihat kalian tampak lebih cantik, coba lihat wajah kalian di cermin. Padahal saya hanya menambahkan bedak dan lipstik saja di wajah kalian," katanya sambil menuntun 2 saudara kembar itu ke depan cermin.
Dua kakak-beradik itu tampak terpesona memandang bayangan wajah mereka yang terpantul pada cermin, "Saya merasa ... bayangan yang ada di dalam cermin itu bukanlah bayangan saya," kata Fanny.
"Ah, itu hanyalah perasaan kalian saja. Kalau bukan bayangan kalian, bayangan siapa ? Kalian memang benar-benar cantik jelita," goda Ratna.
"Kak," panggil Febi, "Jika kelak kami butuh bantuan kakak untuk merias wajah ... maukah kakak membantu kami ?" tanyanya.
"Tentu saja ... kita di Baladewa ini adalah saudara sehidup semati, bukan ?" sahut Ratna, "Jangan khawatir, saya pasti akan membantu kalian kapanpun kalian mau. Saya tidak akan kemana-mana, kok,"
Hingga pada suatu hari, Kelompok Musik Baladewa diundang oleh seorang pejabat tinggi pemerintah kota Solo untuk memeriahkan hari jadi kota tersebut. Konser diadakan di salah satu Gedung Pemerintahan yang dibangun pada Jaman Kolonial Belanda. Estefanny dan Febiola yang sudah bisa merias wajah dengan baik hari itu tampak gelisah. Saat pertama kali menginjakkan kaki di halaman gedung itu, mereka melihat sosok-sosok asing yang mengerikan.
"Hei, apa kalian merasa tidak sehat ?" tanya Ratna di ruang ganti. Estefanny dan Febiola menggelengkan kepalanya, "Kami tidak apa-apa, kak," kata Fanny. Ratna menatap wajah Fanny dalam-dalam, ia merasa ada yang tidak beres pada diri mereka, "Jangan berbohong. Pandangan mata kalian menunjukkan itu," desaknya.
"Kak, kami merasa tidak nyaman berada disini lama-lama. Entah kami berhalusinasi atau apa, yang jelas sewaktu masuk di tempat ini kami melihat banyak sosok bersliweran kesana-kemari. Sekarang salah satu sosok tersebut tengah memain-mainkan pakaian yang tergantung di sudut ruangan," kata Fanny.
Ratna mengalihkan perhatiannya ke arah yang dimaksud oleh Fanny, ia tak melihat apa-apa tapi, sekilas ia dapat merasakan hawa dingin menerpa tengkuknya dan itu membuat bulu kuduknya berdiri. "Tidak ada siapa-siapa disini dan gantungan pakaian itu tetap pada tempatnya. Kalian jangan mengada-ada, lho. Kalau kalian merasa tidak sehat, biar saya akan menyampaikannya pada Pak Yudhi,"
Estefanny dan Febiola saling pandang, kini dihadapan mereka tampak seorang wanita berambut panjang, hitam tergerai lagi kusut berdiri di belakang Ratna. Wajah mereka tampak ketakutan, "Kak ... salah satu sosok itu berdiri di belakang kakak," ujar Febiola.
Buru-buru ia memalingkan wajahnya dan di hidungnya sudah tampak wajah pucat seorang wanita dengan lingkaran hitam pada kedua belah matanya. Wanita-wanita itu berteriak ketakutan lalu keluar dari ruangan yang minim cahaya lampu tersebut. Teriakan itu didengar oleh semua anggota Kelompok Musik BALADEWA yang tengah berlatih di ruang latihan, tak terkecuali Pak Yudhi
"Apa-apaan, ini ? Mengapa kalian berteriak-teriak seperti orang ketakutan ?" tanyanya heran. Akibat teriakan itu latihan terhenti. Dengan nada terbata-bata, Ratna menjelaskan apa yang baru saja dialami bersama Fanny dan Febi.
"Hantu ? Kau mengatakan bahwa kau melihat hantu ? Tidak malukah kau pada rekan-rekanmu yang lain ? Harusnya sebagai senior kau memberikan contoh yang baik bagi adik-adikmu," bentak Pak Yudhi. Pandangannya segera beralih pada Fanny dan Febi, "Kalian berdua, jangan katakan bahwa kalian juga melihat hantu,"
Estefanny dan Febiola menundukkan kepala, mereka sama sekali tak memperhatikan semua mata yang memandangnya, pandangannya tertuju pada sosok tinggi besar yang berdiri di sudut ruangan, "Ma ... maafkan kami, pak," ujar Febi.
"Sudahlah, lebih baik kalian berdua ikut aku, ada yang perlu kubicarakan," ujar Pak Yudhi.
Di ruangan pribadi Pak Yudhi duduk sambil memandang ke arah Fanny dan Febi, "Katakan padaku, apa benar yang dikatakan Ratna tadi ?"
Fanny menganggukkan kepala, "Pak, terus terang dimana-mana kami melihat sosok-sosok asing dan mengerikan. Kami tidak tahu mendadak saja mampu melihat hal-hal yang, orang lain tak bisa melihat. Kami tidak berbohong, pak,"
Pak Yudhi tersenyum, "Ya. Selama ini kalian tak pernah berbohong di hadapanku, dan kalian tak pandai berbohong. Tapi, yang ingin kutanyakan sekarang adalah, apakah kalian siap dengan pertunjukan nanti malam ?"
Estefanny dan Febiola saling pandang lalu Fanny berkata, "Kami kurang yakin, pak... sebab, ini adalah yang pertama kalinya bagi kami untuk memainkan beberapa lagu tanpa iringan musik lain,"
"Kenapa kalian kurang yakin ? Percayalah pada kemampuan kalian berdua. Maka, dengan demikian kalian bisa menjadi contoh bagi kakak-kakak senior kalian. Berhasil atau tidaknya pertunjukan ini sekarang tergantung pada kalian. Dulu, Ratna menjadi andalan kami, sekarang ini ... kalianlah yang menjadi andalan kami,"
"Kami akan berusaha sebaik mungkin, pak,"
"Bagus. Istirahatlah, nanti malam adalah momen terbesar untuk hidup kalian,"
_____
Pertunjukan dimulai, Estefanny dan Febiola tampil untuk yang pertama kalinya tanpa iringan alat musik lain dan membuat para penonton terkesima, berdecak kagum dan saat lagu terakhir yang berjudul 'SO SAD' dimainkan alunan seruling dan harmonika ditutup dengan tepuk tangan meriah dari para penonton. Setelah Estefanny dan Febiola mengundurkan diri dari panggung dan digantikan dengan kelompok Ratna, penonton yang semula membludak memenuhi gedung berangsur-angsur meninggalkan ruangan dan yang tersisa tidak lebih dari setengahnya. Ini membuat harga diri Ratna serasa diinjak-injak.
Saat pertunjukan selesai, Ratna marah-marah, "Brengsek !! Gara-gara 2 orang kakak-beradik itu lagu-lagu yang kita mainkan seperti tidak ada harganya di mata para monyet berseragam mewah dan mencolok mata itu !!"
"Lalu, apa yang hendak kau lakukan, ha ? Inilah kenyataannya, 2 kakak beradik itulah yang malam ini jadi bintang," sahut Rini.
"Aku akan memberi pelajaran untuk mereka. Tapi, aku butuh bantuan kalian," ujar Ratna sambil memberi isyarat pada teman-temannya untuk mendekat. Rencana yang jahat telah disusunnya.
Sementara itu, di kamar Estefanny dan Febiola, pasangan kakak-beradik itu juga sudah mendengar desas-desus tentang bagaimana sikap para anggota kelompok Baladewa terhadap mereka. Fanny duduk termenung di tepi pembaringan sambil memandangi kosmetik pemberian Ratna, sementara, Febiola tampak gelisah, ia berjalan kesana-kemari sambil sesekali menghela nafas panjang sesekali pula memandang ke arah Fanny.
"Kak, tampaknya penampilan kita sudah bagus dan para penonton puas. Tapi, sepertinya ... teman-teman kita tidak menyukai penampilan kita. Dimanakah letak kesalahannya ?" tanya Febiola.
"Kita tidak bersalah, ini hanya masalah kita mempercayai orang yang salah," sahut Fanny.
"Apa maksud kakak ?"
"Sebaiknya, kita harus segera meninggalkan tempat ini. Semenjak kita bergabung dengan BALADEWA ini, para senior seakan tidak menyukai kita. Dan, yang kusesalkan adalah kita menaruh kepercayaan pada ORANG YANG SALAH. Febi, kemasi barang-barangmu, malam ini juga kita harus segera meninggalkan tempat ini," ujar Fanny.
"Lalu, kemana kita akan pergi ? Kita sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, orang tua kita sudah meninggal dan tak ada lagi sanak famili,"
"Dunia tak selebar daun kelor, Febi. Masakan tak ada tempat bagi kita untuk berlabuh ? Ayo, cepat kemasi barang-barangmu,"
Saat Febiola hampir selesai mengemasi barang-barang dan menaruhnya ke dalam koper, sepasang kakak beradik itu melompat kaget manakala pintu kamar mereka didobrak. 3 orang wanita rekan kerjanya berdiri sambil berkacak pinggang, salah seorang dari mereka membawa sebuah botol berisi air. "Cih, gara-gara kalian, kami ditegur oleh Bapak Ketua," sambil berkata demikian wanita yang membawa botol itu melemparkan botol ke arah wajah Estefanny dan Febiola, sementara yang lain mengacak-acak koper yang ditaruh di sudut ruangan dan merusak isi koper itu termasuk seruling perak. Seruling perak itu dipatahkan menjadi dua dan dibuang ke lantai.
Botol itu melayang dan mendarat di wajah Estefanny dan Febiola.Botol itu pecah dan cairan yang ada di dalamnya muncrat menyebar kemana-mana.Pipi kanan Estefanny dan pipi kiri Febiola serasa dibakar oleh bara api. Asap mengepul keluar dari pipi-pipi mereka dan bau kulit terbakar memenuhi ruangan. Fanny dan Febiola berteriak keras membangunkan semua anggota Kelompok Baladewa. Mereka segera menuju ke kamar Fanny dan Febiola, mereka ternganga manakala menyaksikan Fanny dan Febi berteriak-teriak, bergulung-gulung di lantai kamar sementara tangannya menutupi wajah, dari sela-sela jari mereka mengepul asap putih kemerahan.
Keributan yang terjadi di dalam kamar sepasang kakak-beradik itu didengar oleh Robert, salah seorang anggota BALADEWA. "Apa yang terjadi pada mereka ?" tanya Robert. Langkahnya terhenti manakala wanita si pelempar botol menghadang, "Saya ditugaskan oleh Bapak Ketua untuk memeriksa kamar setiap anggota dan memperingatkan mereka agar jangan lupa mematikan lilin. Kebetulan Fanny dan Febi masih menyalakan lilin, mereka menolak dan hendak memukulku tapi, tangannya malah tak sengaja menyambar lilin hingga api menyambar wajah mereka... cepat beri mereka pertolongan,"
Robert memandang wanita itu dengan tatapan ragu-ragu, "Ratna, apa benar yang kau katakan itu ?" tanyanya kemudian namun, wanita itu tak menjawab malah membuat semua orang bingung dan cemas, "Cepat, berikan mereka pertolongan ! Saya takut !" Robert tak berkata apa-apa lagi, buru-buru ia mengulurkan tangannya mencoba memberikan pertolongan, tapi, Fanny menepiskan tangan Robert. Sambil merintih-rintih kesakitan, diraihnya seruling perak yang patah dan tergeletak di lantai tak jauh darinya, setelah itu mengajak Febi melangkah meninggalkan tempat itu.
Sesaat sebelum pergi, Fanny berhenti sejenak di tempat wanita pelempar botol yang tak lain dan tak bukan adalah Ratna berdiri, ia membuka tangannya yang menutupi wajah, wajah Fanny melepuh, dari mata hingga rahang kanannya hancur, hilang sudah kecantikannya yang senantiasa dipuji-puji orang. Fanny menatap wajah Ratna dengan mata kirinya yang seakan bersinar tajam penuh amarah, "Lihat apa yang sudah kau perbuat. Apa salahku ?" katanya lirih, setelah itu ia melangkah pergi bersama Febi yang juga menatap wajah Ratna tak kalah tajamnya dengan tatapan Fanny tadi, sementara Ratna hanya berdiri bersikap acuh tak acuh, pada wajahnya terpancar cahaya penuh kemenangan dan tanpa rasa bersalah.
Semua yang ada di ruangan itu hanya memandangi punggung Fanny dan Febi yang semakin lama semakin jauh hingga hilang ditelan kegelapan malam. Sejak saat itu, tak terdengar lagi nama Estefanny dan Febiola, sementara kebesaran nama Kelompok Musik Baladewa, semakin lama semakin merosot dan akhirnya, hilang sama sekali. Pak Yudhi, pimpinan kelompok musik tersebut merasa kehilangan, setiap hari kerjanya melamun sambil memandangi foto Estefanny dan Febiola. Nafsu makannya berkurang dan akhirnya jatuh sakit. Tak lama kemudian pria itu meninggal dunia.
_____
Beberapa bulan setelah kejadian itu, Baladewa bubar. Seluruh anggotanya yang berjumlah 10 orang tercerai berai. Sebagian mendirikan kelompok musik sendiri, sebagian berkarir sebagai pemain tunggal, sebagian lagi ada yang beralih profesi sebagai pebisnis. Namun, seiring dengan karir mereka yang menanjak, saat itu pula mereka mengalami kejadian yang berujung pada kematian secara mendadak. Hingga dari 10 orang tersebut tersisa 5 orang yang masih hidup, mereka adalah : Ratna, Rini, Lusi, Robert dan Sugeng.
_____
LUSI
Lusi pulang dalam keadaan mabuk berat, melihat keadaan sahabatnya itu Yuniar mengantarnya pulang. Jarak antara kantor tempat Lusi bekerja dengan rumah agak jauh harus melewati tanah pemakaman dan jalanan sepi.
Tapi, Yuniar yang sudah biasa berkunjung ke rumah Lusi, hal itu bukanlah halangan. Namun, malam itu, jalanan begitu gelap dan berkabut, Yuniar harus ekstra hati-hati. Selama di perjalanan Lusi bicara ngelantur tentang pengalamannya di masa lalu sewaktu masih menjadi Kelompok Baladewa. Dan tanpa sadar nama Estefanny dan Febiola disebut-sebut.
“CCCIIIEEETTTHHH !!”
Sebuah bunyi memekakkan telinga yang berasal dari mesin rem mobil menyusul dengan bunyi gesekan roda beradu dengan aspal, Yuniar menghentikan laju mobil dengan mendadak sekali membuat kepala Lusi nyaris membentur kaca depan. “Lo ini ngapain ?! Mo celakain gue, ya ?!” teriaknya.
Yuniar terdiam sepasang matanya menatap lurus ke depan tanpa berkedip. “Hei, gue tanya ke lo... jawab,dong ... jangan bengong aja,” kembali Lusi berkata dengan nada kesal.
“Lus, lo ga lihat barusan ada yang nyebrang jalan,” Yuniar balas bertanya.
“Gue ga lihat ada siapa-siapa di depan. Mending lo nyetir aja yang bener,”
“Sungguh, Lus ... gue ga da niat ngebo’ongin lo... bener tadi ada yang cewek yang nyebrang jalan. Kelihatannya, mobil lo sempet nyenggol dia,”
“Sudah,dech ... sudah lo jangan bicara macem-macem. Ayo jalan lagi... kalo keadaan gue ga kayak gini .... dari tadi pasti gue pegang kemudi,”
Yuniar menganggukkan kepala, lalu menyalakan mobil tapi sepertinya mogok, “Aduh, gimana ini. Rumah lo masih jauh tapi, mobil ga mau jalan,”
Baru saja Yuniar menutup mulutnya sayup-sayup telinganya mendengar lantunan suara seruling. Lusi yang sejak tadi uring-uringan mendadak saja terdiam, “Cih, malem-malem begini, siapa yang maen musik dengan suara sumbang begitu,” keluhnya, “Masih bagus suara gitar yang gue mainkan,” sambungnya.
Bunyi seruling semakin lama semakin dekat, suara sumbangnya membuat Lusi kesal, “Berisik banget ...” teriaknya sambil hendak membuka pintu mobil, tapi, sebelum niatnya terlaksana, dari arah luar muncullah sesosok wanita berbaju putih, rambutnya hitam panjang tergerai. Dia sedang meniup seruling.
Sepasang mata Lusi terbelalak, wajahnya pucat pasi, dari kaca jendela mobil muncul sebuah wajah seorang wanita cantik pucat tapi sebelah kanan rusak parah hampir tidak ada kulit dan daging, hingga yang terlihat hanyalah tulang pipi berwarna putih dan dirayapi berbagai hewan melata serta menebarkan aroma busuk menyengat.
“Yun ... lebih baik kita segera meninggalkan tempat ini,” serunya dengan suara gemetar.
Yuniar yang tidak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu mencoba menyalakan mesin, ia heran dengan tingkah laku Lusi, “Iya, sebentar Lus... gue sedang berusaha... tapi, kok tiba-tiba saja ....” ucapannya terputus digantikan dengan bunyi deru mesin mobil. Setelah kakinya menginjak pedal gas, mobil pun meluncur dengan kencang. Lusi kini lebih banyak diam, mendadak saja terkenang peristiwa yang terjadi sebelum Group Musik Baladewa bubar.
Ialah yang mematahkan seruling perak kesayangan Fanny juga terlibat penyiraman air keras pada wajah Fanny dan Febi.
“Lo tadi ngapain ?” tanya Yuniar membuyarkan lamunan Lusi. Tak ada jawaban, “Apa Lo lihat sesuatu yang ngebuat lo ketakutan ?” kembali ia bertanya.
“Mending lo jalanin terus mobil ini. Lebih cepat sampai di rumah lebih baik,” jawab Lusi ketus. Jawaban Lusi ini membuat Yuniar tak lagi banyak bertanya, ia terus menjalankan mobil hingga akhirnya tiba di rumah sahabatnya itu. Begitu selesai memarkir mobil, Yuniar keluar diikuti Lusi, “Lo sudah sampek di rumah. Gue pulang dulu ... mudah-mudahan suasana hati lo besok sudah baikan, jadi ga ketus-ketus banget sama gue,” kata Yuniar sambil hendak meninggalkan Lusi, tapi, Lusi segera meraih tangan Yuniar dan berkata, “Maapin gue, Yun ... Malam ini temeni gue,ya ... besok kita berangkat kerja sama-sama,”
“Lo hari ini aneh banget... ga biasanya minta ditemenin. Tapi, baiklah asal lo ga marahin ato ketus lagi ma gue. Kalo masih gitu, gue pulang sekalipun sudah larut,” ujar Yuniar.
“Eh, lo denger suara harmonika, ga dari dalem ?” tanya Lusi.
“Gue ga denger apa-apa. Lo jangan buat gue ketakutan, ya ...”
“Yakin... lo ga denger suara apa-apa dari dalam ?”
Yuniar menggeleng-gelengkan kepala. Beberapa saat kemudian Lusi menarik lengannya sambil berkata, “Ayo ... temeni gue masuk... entah ngapain malem ini perasaan gue ga enak,” Setelah berkata demikian 2 wanita itu berjalan, berulang kali tubuh Lusi limbung karena kondisinya yang masih mabuk berat, tapi Yuniar buru-buru memapahnya. Hingga saat tiba di ambang pintu masuk, Lusi tampak ragu-ragu sejenak, bunyi harmonika itu kali ini terdengar lebih jelas, “Duh, ngapain gue jadi takut kayak gini, ya ... padahal ini, kan rumah gue ?”
Yuniar menghela nafas panjang, setelah mengambil kunci dari genggapan Lusi, ia membuka pintu itu dan menarik Yuniar masuk. Wajah Lusi kembali memucat di hadapannya sudah berdiri sesosok wanita berbaju putih. Wajahnya sebelah kiri rusak, ia memegang sebuah harmonika berwarna biru tua.
“Siapa lo ... ngapain malem-malem begini masuk ke rumah orang ?!” tanya Lusi.
“Lus ... lo bicara sama siapa, ga da siapa-siapa di rumah ini selain kita,” Yuniar tampak kaget dengan reaksi Lusi.
“Yun, apa lo ga lihat ada wanita berbaju putih berdiri di deket lo ?” tanya Lusi. Yuniar kebingungan, ia menoleh kesana-kemari, tak ada siapa-siapa di samping kanan-kirinya. Tapi, ia merasakan desiran angin tajam yang dingin dan membuat bulu kuduknya merinding. Ia lebih terkejut lagi manakala melihat Lusi berlari ke arah jendela sambil menjambaki rambutnya, “Tidak ... lepaskan, lo sudah mati ngapain lo ganggu gue, pergi ... pergi ... pergi !!” teriaknya sambil berlari ke arah jendela. “Hei, Lusi ... lo ngapain ? Kembali !!” Yuniar mencoba untuk mengejarnya, akan tetapi sepertinya Lusi tak mendengar teriakan sahabatnya itu.
“PPPRRRAAANNNGGGG !!!”
Kaca jendela lantai dua pecah berhamburan bertabrakan dengan tubuh Lusi. Teriakan panjang Lusi memecah kesunyian malam, Yuniar membelalakkan matanya manakala melihat tubuh Lusi tertancap pada ujung pagar pintu gerbang rumahnya. Pada saat itulah sepasang mata Yuniar melhat sebuah bayangan melayang-layang mengintari halaman rumah Lusi untuk kemudian menghilang ditelan kegelapan malam.
_____
RINI
“KKRRIINNGG”
Bunyi dering telepon yang cukup keras dan berulang-ulang membangunkan Rini dari tidurnya yang baru berlangsung 2 jam. Konser solo yang baru digelarnya telah membuat staminanya terkuras habis sehingga tanpa membersihkan badan ia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Bunyi telepon itu telah membuatnya jengkel dan mengomel seorang diri. Baru saja hendak meraih telepon tampak olehnya seorang wanita berbaju putih duduk membelakanginya sambil menatap cermin, “Hei, apa yang kau lakukan di kamarku ?” tanyanya.
Wanita itu tak menjawab, ia hanya duduk sambil menyisir rambutnya yang hitam panjang tergerai. Rini mendengar senandung lirih dan merdu dan ia kenal betul dengan lagu yang dinyanyikan oleh wanita yang duduk membelakanginya itu. “JOIN ME ... lagu yang pertama kali dinyanyikan oleh Sarah Brightman. Kau juga bisa menyanyikannya ?” tanya Rini.
Tak ada jawaban. Rasa letih, mengantuk dan pegal-pegal di sekujur tubuh Rini bercampur aduk menjadi satu dan membuat emosinya meledak. Dengan kasar ia mencengkeram bahu kiri wanita itu dan sesaat ia terperangah manakala jari-jemarinya seakan memegang barang yang lunak dan berair. Ia mencoba menarik tangannya tapi, sebuah wajah mengerikan separuh manusia separuh tengkorak sudah ada di hidungnya.
Rini jadi histeris dan berteriak sekencang-kencangnya, tapi, seakan teriakannya tak ada yang mendengarnya, teriakan itu seakan menembus atap ruang kamar hingga keluar dan terbang membelah langit malam yang akhirnya tak terdengar lagi.
_____
RATNA
Entah sudah berapa kali Ratna bolak-balik keluar-masuk ke kamar mandi, pada saat yang sama pula di dalam kamar ia muntah-muntah, membuka lemari obat mengambil sebuah botol berisikan obat-obat penenang dan meminumnya dengan air keran lalu berkaca. Setiap kali keluar-masuk kamar mandi hal itulah yang dilakukannya. Dipandangnya wajah di dalam cermin, dulu dia begitu cantik rupawan, tak sedikit kaum adam jatuh hati padanya. Kini wajah yang ada dalam cermin adalah wajah seorang wanita yang kurus dengan cekungan hitam menghiasi bagian bawah matanya.
“Kemarilah anak manis, sampai kapan kau terus-terusan berdiam diri di kamar mandi ?” terdengar seruan seorang pria dari luar.
“Ya, sayang ... sebentar lagi saya datang,” jawab Ratna sambil hendak melangkah keluar dari kamar mandi. Tetapi, langkah-langkahnya terhenti manakala telinganya mendengar bunyi sumbang dari seruling yang diiringi dengan bunyi harmonika. Ratna terdiam, kepalanya menoleh kesana-kemari bermaksud mencari sumber suara, tapi, tak ada siapa-siapa disitu.
Bunyi seruling dan harmonika semakin jelas terdengar, ia mengenal dengan baik setiap nada-nada yang dilantunkan oleh dua alat musik itu “JOIN ME”, “DELIVER ME”, itulah yang sering dinyanyikan bersama Estefanny dan Febiola saat masih berada di Kelompok Musik Baladewa asuhan Pak Yudhi.
Mendadak pintu kamar mandi terbuka lebar dan seorang laki-laki tegap masuk, “Hei, sayang ... sampai kapan kaubiarkan aku menunggumu ?!” tanyanya.
“Sebentar lagi, sayang. Tapi, apa kau tak mendengar bunyi seruling dan harmonika ini ?” tanya Ratna.
Laki-laki itu tersenyum, “Kau ini berhalusinasi atau apa ? Bukankah tadi kita memutar lagu-lagu legendaris dan bernyanyi bersama ... tak ada bunyi harmonika atau seruling ....” ucapan laki-laki itu terputus, sepasang matanya terbelalak lebar menatap ke arah belakang Ratna, “Siapa dua orang itu ?” tanyanya.
Ratna menengok ke arah yang ditunjuk oleh laki-laki itu, tak ada siapa-siapa, namun, ia merasakan bulu kuduknya berdiri, “Kau jangan membuatku takut,” katanya. Suara seruling dan harmonika itu terdengar dengan jelas sekali di telinga Ratna. Kini wajah laki-laki yang berdiri di hadapan Ratna memucat, “Mungkin merekalah yang memainkan seruling dan harmonika. 2 orang wanita berbaju putih, berambut hitam panjang tergerai, apakah kau tidak tahu ?”
Ucapan laki-laki itu membuat Ratna bengong, kini ia merasakan punggungnya panas, buru-buru ia menoleh ke belakang. “Ka... kalian,” ujar Ratna gugup. Laki-laki itu sadar akan adanya bahaya, hawa di sekitar kamar mandi itu berubah-ubah dan membuatnya sesak nafas, buru-buru ia keluar dan meninggalkan tempat itu tanpa berpamitan dengan Ratna.
“Ma ... maafkan aku Fanny dan Febi, bukan maksudku untuk mencelakakan kalian,” Ratna gugup sekali. Sosok wanita si pemegang seruling perak yang dibalut dengan selotip hitam itu menyibakkan sebagian rambut yang menutupi pipi kanannya demikian pula Febiola, mereka berdua menunjukkan wajah kanan-kirinya yang rusak parah.
Ratna berseru tertahan manakala melihat wajah yang mengerikan itu, kakinya lemas dan tubuhnya seakan tak memiliki tenaga untuk bergerak. Ia berteriak-teriak manakala, jari-jemari Estefanny yang tinggal tulang dibalut dengan kulit itu mencengkeram pergelangan tangannya sementara tangan yang lain menorehkan riasan pada wajah Ratna dengan kosmetik. Kosmetik yang pernah diberikan Ratna kepadanya. Ratna berontak, “TTIIDDAAKK !! JJAANNGGAANN !!!” teriaknya.
Jari-jemari Estefanny terus bergerak tak berhenti. Merias ... merias ... dan merias... hingga sepasang bola mata Ratna menangkap bayangan-bayangan makhluk-makhluk aneh dan mengerikan berputar-putar mengelilinginya, “JAUHI AKU !! PERGI JAUH-JAUH !!” Ratna terus berteriak sambil berlari menerobos kegelapan malam.
Tak ada yang mengetahui keberadaannya sejak saat itu.
Ratna entah dimana keberadaannya kini, sebelum menghilang Estefanny dan Febiola melantunkan Lagu JOIN ME, HERE WITH ME dan DELIVER ME. Setelah itu rumah tempat tinggal Ratna kembali sunyi dan bayangan 2 wanita pemegang seruling perak patah terbungkus selotip hitam dan harmonika ber-pendaran ke berbagai penjuru mata angin bercampur dengan kabut tipis yang melayang-layang di udara.
Sementara bunyi seruling dan harmonika masih bergema.
Sebuah alunan musik yang indah dan menghantarkan para pendengarnya ke dalam buaian alam mimpi.
_____
Namaku Cindy Permatasari, mungkin kalian tak akan mengenal siapa itu Estefanny dan Febiola. Tapi, bagi Cindy mereka adalah sahabat-sahabat terbaikku sekalipun dunia kami berbeda. Suara seruling sumbang dan bunyi harmonika senantiasa menemani Cindy saat sendirian. Dan mereka, mempunyai pesan yang mungkin patut didengar oleh siapapun. Inilah pesan mereka :
“SERULING PATAH INI, SELALU MENEMANIKU SAAT SENDIRIAN, TERKADANG ADIKKU FEBIOLA MENGIRINGI LAGU-LAGU YANG KUMAINKAN. TAHUKAH KALIAN, DUA ALAT MUSIK INI MENYIMPAN SEJARAH MASA LALU YANG MENYENANGKAN SEKALIGUS KELAM. JIKA TANPA SENGAJA KALIAN MENDENGAR SUARA SUMBANG SERULING DAN HARMONIKA SAAT TENGAH MALAM ... AKU DAN FEBIOLA DATANG ENTAH MENGHIBURMU SAAT SEPI ATAU MENEBAR PESONA KEMATIAN UNTUK KALIAN .... SEBAB, MUNGKIN KALIAN SUKA SEKALI BERSANDIWARA, MANIS DI DEPAN ORANG TAPI, KALIAN TUSUK ORANG ITU DARI BELAKANG. KALAU ITU TERJADI, MAKA, KAMI TAK SEGAN--SEGAN MENOREHKAN KOSMETIK INI KE WAJAH KALIAN. MAKA, ITU ADALAH : KUTUKAN KAMI”
T A M A T