"Saya akan menggaji kamu sepuluh juta per bulan nya. Itu belum termasuk uang makan bulanan dan juga bonus-bonus lain yang bisa kamu dapat kalau kamu bersikap baik sama anak-anak saya. Gimana? ready?" tanya wanita paroh baya berbaju warna indigo di depan ku itu.
Saat ini aku sedang melakukan interview pekerjaan di sebuah rumah megah nan mewah di pinggiran kota X. Aku mendapatkan rekomendasi bekerja di sini dari kawan lama ku, Mei chan.
Sebenarnya dibilang kawan pun tak tepat juga sih. Karena aku dan Mei Chan sering kali bertengkar semasa kami pelatihan bersama dulu di sebuah instansi pendidikan untuk nanny.
Jadi aku terkejut ketika aku bertemu secara tak sengaja dengan Mei Chan pekan lalu. Dan ia menawarkan kepada ku sebuah pekerjaan yang gajinya lumayan besar. Dan ya. Di sini lah aku sekarang.
Ketika menuju alamat rumah ini, sebenarnya aku hampir merasa telah dikerjai oleh Mei Chan. Karena untuk menuju rumah ini, terlebih dulu aku harus melewati rerimbunan pohon di sebuah hutan.
Namun saat kutemukan sebuah rumah putih yang berdiri megah nan mewah di pertengahan hutan, tahu lah aku kalau Mei Chan memang tak mengerjai ku.
Dan aku pun akhirnya melakukan interview dengan Ibu Sofia di depan ku ini.
Ibu Sofia mengaku sebagai single parent yang mengasuh dua anak nya yang masih kecil-kecil. Ibu Sofia menawarkan pekerjaan Nanny bagi kedua anak nya itu kepada ku, segera setelah aku memperkenalkan diri kepada nya.
Sungguh sebuah proses interview yang sangat mudah. Aku merasa sangat beruntung sekali bisa mendapatkan pekerjaan ini. Dengan gaji yang kumayan besar, dan juga job desk yang tak terbilang berat.
Menurut Ibu Sofia, tugas ku hanyalah memberi makan kedua anak nya tepat waktu dan mengajak mereka bermain saat mereka sedang terbangun. Bukankah itu memang pekerjaan yang biasa dilajukan oleh para nanny?
Begitu kutanyakan perihal kedua anak nya, ibu Sofia langsung berkata kalau keduanya sedang tertidur saat ini.
'Pantas saja rumah ini terasa begitu sepi,' pikir ku dalam hati.
ibu Sofia meminta ku untuk bekerja pada hari ini juga. Sehingga aku pun harus kembali pulang untuk membawa beberapa baju ganti yang akan ku kenakan selama satu bulan ke depan nya.
Aku hanya membawa satu koper ukuran sedang berisi beberapa setel baju ganti dan juga keperluan ku yang lainnya seperti skincare, ponsel, dan obat pribadi.
Setelah bolak/balik yang lumayan memakan waktu, akhirnya sekitar jam lima sore nya aku selesai merapihkan kamar baru ku juga di rumah ini.
Selepas maghrib, Ibu Sofia mengajak ku makan bersama di ruang makan. Beliau adalah bos yang sungguh humble. Karena membiarkan pegawai nya makan di meja yang sama dengan nya.
Saat itu, selain aku, di meja makan juga ada seorang ibu paruh baya pendiam bernama Ibu Hara. Pekerjaannya adalah sebagai asisten yang membersihkan rumah megah ini setiap harinya.
Selain ibu Hara, juga ada Pak Kiman (koki yang berwajah jutek dan sedikit mengerikan dengan luka sayatan panjang di pipi kanan nya), dan Pak Adda (pekerja kebersihan halaman di sekitar rumah putih ini).
Bersama semuanya, aku menikmati makan malam ku dalam keheningan yang menenangkan.
Selesai makan, aku menanyakan kedua putra dan putri Ibu Sofia yang belum kulihat sedari siang. Namun Ibu Sofia lagi-lagi memberikan jawaban yang sama. Bahwa kedua nya masih tertidur.
Aku sebenarnya hendak mengomentari kalau ia mungkin telah membiarkan anak-anak nya tidur terlalu lama. Namun ku urungkan niat ku itu. Mengingat aku baru saja memulai bekerja.
Pikirku, biarlah nanti aku akan mengatur sendiri jadwal sehari-hari nya anak-anak. Demi kesehatan mereka dan juga kesehatan ku sendiri sebagai pengasuh nya.
Aku pun diminta untuk beristirahat terlebih dulu di kamar. Namun aku diminta untuk siaga saat kedua anak nya Ibu Sofia terbangun nanti.
Dengan kedua mata yang memang mulai terasa berat, aku pun mengiyakan saran majikan baru ku itu. Aku langsung saja melangkah ke dalam kamar tidur ku dan langsung terlelap begitu ku rebahkan badan ku di atas kasur empuk nya.
***
Aku terbangun tiba-tiba saat kurasakan posisi ku tak nyaman.
Begitu kesadaran ku berangsur pulih, aku dibuat kaget saat ku sadari kalau tubuh ku telah terikat dengan seutas tali. Mulai dari badan hingga ke mata kaki.
Tak lupa pula mulut ku yang telah direkatkan dengan selapis lakban. Sehingga aku tak bisa berteriak meminta tolong.
'Apa yang terjadi padaku?! Kenapa aku bisa dalam posisi ini? bukankah aku tadi sedang tidur di dalam kamar ku?! apakah aku lupa mengunci nya ya, sehingga ada orang yang sengaja menculik ku dan menyekap ku?! Dan, bagaimana bisa aku tak menyadari saat aku diculik?!' benak ku menjeritkan tanya dalam kondisi panik.
"Oh.. dia sudah terbangun!"
suara seorang anak perempuan terdengar berada di sebelah kanan ku.
Aku langsung menolehkan wajah ku ke kanan. Namun tak mendapati siapa pun di sana. Hanya ada sebuah boneka perempuan barat seukuran 50 cm yang tampak duduk di depan netra ku saat itu.
'Mana pemilik suara tadi?!'
"Qiqiqii.. Ku rasa dia pasti lah masih terkejut saat ini!" Suara lain muncul di sebelah kiri ku. Ku terka itu adalah suara anak lelaki.
Aku langsung menolehkan wajah ku ke kiri. Namun lagi-lagi tak mendapati siapa pun di sana. Hanya ada sebuah boneka anak lelaki memakai jas yang menggenggam sebuah pisau dan garpu pada masing-masing tangan mungil nya.
Kemudian, aku diterjang oleh rasa horor begitu ku dapati boneka lelaki di depan ku itu tampak bergerak sendiri. Ia mengadu-adukan garpu dengan pisau di tangan nya itu selama beberapa kali.
'Ba.. bagaimana bisa bone ka nya bergerak sendiri?!!' jerit ku dalam hati.
Aku mencoba beringsut menjauhi boneka lelaki itu, dengan susah payah dalam kondisi tubuh yang terikat erat. Namun aku kembali diterjang horor begitu ku dengar kembali suara anak perempuan di belakang ku.
Dan ternyata, suara nya berasal dari sosok boneka perempuan yang tadi telah kulihat.
'?!!'
"Kakak.. dia sepertinya ketakutan melihat ku. Memang nya aku se menyeramkan itu ya?" tanya sang boneka perempuan.
"Kau itu tak menyeramkan Sha. Hanya sedikit berantakan saja. qiqiqi.." sahut boneka lelaki.
"Kalau begitu ini semua salah mu, Kak! Gara-gara kau menyuruh ku naik melewati jendela, jadi nya gaun ku berantakan begini kan!" boneka perempuan pun menggerutu.
Sementara itu, aku menyaksikan percakapan kedua boneka itu dengan benak yang diliputi kengerian.
'Apa yang sebenarnya terjadi?! apa aku sedang bermimpi?! tapi tidak! ini rasanya seperti nyata sekali!!'
"Jadi, kita akan mengajak nya bermain apa, Kak?" tanya sang boneka perempuan yang kini sungguh terlihat mengerikan di mata ku.
Kedua mata boneka itu melirik ke arah ku selama beberapa kali. Meninggalkan kehororan yang kian menjadi-jadi di benak dan pikiran ku saat ini.
"Bagaimana kalau kita bermain kuda-kuda an saja?" ucap boneka lelaki.
Aku diterjang oleh rasa takut yang kian menjadi-jadi manakala dengan tiba-tiba boneka lelaki itu berjalan dengan langkah yang kaku dan naik ke atas perut ku.
Meski aku tak merasakan berat saat boneka lelaki iyu naik ke atas perut ku, namun aku tak bisa menjelaskan kengerian yang menyergap ku saat tubuh boneka itu bergerak di atas ku.
Fokus perhatian ku adalah pada garpu dan pisau kecil yang sedang dipegang nya saat ini.
"Hallo kakak cantik! nama ku Cello, dan dia adalah kembaran ku.."
"Aku Sella, Kakak!" ucap boneka perempuan dengan begitu tiba-tiba, tepat di depan wajah ku.
'?!!!'
"Maafkan ketidak sopanan kami karena telah mengikat mu. Tapi jika kami tak mengikat mu, aku takut kau akan langsung lari pergi ketakutan saat mendengar kami bicara seperti ini. Bukan begitu, Kak?" tanya boneka Cello.
Dengan spontan, aku langsung saja menganggukkan kepala ku.
"Tuh kan? kau ternyata orang yang jujur ya Kak. Aku suka padamu. Jadi, kau adalah nanny kami yang baru, bukan begitu?" tanya boneka Cello kembali.
Dan benakku yang masih merasa kalut dan juga takut, tak bisa mencerna pertanyaan boneka Cello itu dengan baik. Aku masih fokus menatap pada pisau dan garpu yang masih terjulur mengancam ke bawah, ke arah perut ku yang ditumpangi oleh nya.
Belum sempat berpikir lebih lanjut, lagi-lagi aku dibuat terkejut saat ku rasakan rambut ku telah ditarik oleh sesuatu.
Ternyata boneka Sella sedang melakukan sesuatu pada rambut ku.
"Kakak ini mempunyai rambut yang indah. Akan ku kepang rambut mu ya, Kak. Dan nanti ku pinta sedikit bagian rambut mu ya untuk koleksi wig ku. Tak banyak.. hanya beberapa helai saja," ucap boneka Sella sambil mengepang sejumput rambut ku dengan tangan mungil nya.
Kemudian sebuah ketukan di pintu mengejutkan ju dan dua boneka lainnya. Tak berapa lama, pintu pun terbuka. Dan aku langsung merasa lega karena mendapati majikan ku berdiri de depan pintu.
Aku yakin, aku akan diselamatkan oleh majikan ku ini. Namun..
"Oh! kalian di sini ternyata. Lihat apa yang sudah diperbuat oleh dua angel nya Mama ini.." ucap Bu Sofia dengan tidak menatap kepada ku.
"mmpppphhh?!!" aku mencoba bersuara untuk mendapatkan perhatian dari bu Sofia.
Ku pikir ia mungkin tak melihat jelas kondisi ku yang terikat karena kondisi ruangan yang cukup temaram.
Majikan ku itu lalu masuk ke dalam ruangan. Lalu meraih kedua boneka yang telah memberikan ku rasa horor sepanjang setengah jam ini.
Dipangkunya masing-masing boneka pada kedua tangan nya. Kemudian majikan ku itu barulah menatap ku dari posisi tinggi nya yang masih berdiri.
Sebuah kalimat keluar dari mulut wanita paroh baya itu. Kalimat yang sempurna memupuskan harapan ku untuk bisa diselamatkan oleh nya.
"Jadi, Nona Emma. Bagaimana menurut mu, kedua anak ku ini? Mereka sungguh sweet bukan?" tanya ibu Sofia dengan senyuman lebar yang bagi ku terlihat sungguh menyeramkan.
"?!!!"
Kedua boneka berisi arwah itu menatap ku dengan ekspresi datar nya. Sementara aku bisa menangkap manik-manik mata mereka yang memandang ku dengan tatapan mengerikan.
'Tuhan! tolong aku!' jerit ku mengadu tanpa suara.
***