Di suatu pagi di pedalaman hutan. Terlihat seekor keledai yang sedang berbaring di bawah sebuah pohon akasia. Ia terlihat sangat lelap, hingga beberapa saat kemudian sinar matahari mulai menyinari mata nya.
Sang keledai mulai mengerjapkan kelopak mata nya. "Kenapa pagi datang begitu cepat hari ini?" Ucap sang keledai lalu mulai bangun dengan malas.
"Pagi bo!" Seekor Tupai melompat dari pohon akasia ke atas leher keledai tadi sambil membawa alat pancing. "Yup, mari kita menuju sungai, hari ini aku akan memancing lagi." Lanjut tupai itu.
"Apa yang kau lakukan Rei! Turun dari leher indah ku! Kau mengotori nya dengan bokong bau mu itu! Enyah lah!" Teriak keledai bergurau.
"Hei! Santai bung, memang nya kenapa jika aku mengotori leher mu ini? Tidak ada betina yang melirik mu sampai sekarang, jadi tidak masalah bagi mu." Balas tupai mengejek.
"Apa kau bilang? Kemari kau, turun dari situ, biar ku beri kau pelajaran." Geram keledai sambil berusaha menjatuhkan tupai dari punggung nya.
"Berhenti bo! Kau bisa membuat ku mati! Cepat berhenti!" Teriak tupai panik. "Ayolah kawan, berhenti! Tidak seperti diri mu, aku memiliki istri dan dua anak, bahkan Minggu depan aku akan memiliki istri kedua, jangan buat aku mati konyol." Lanjut tupai jumawa.
"Oh jadi kau mau pamer? Baiklah, aku sudah tidak bisa menahan nya lagi." Ucap keledai, lalu ia menjatuhkan tubuh nya agar tupai juga terjatuh dari leher nya. "Hah! Rasakan ini, ini juga, makan lah..." lanjut nya mulai bermain-main dengan tubuh tupai yang kecil.
"Baiklah.... baiklah.... maaf kan aku, maaf." Jerit tupai lemas. "Hei sudah... sudah, kita harus segera menuju sungai untuk mendapatkan makanan terbaik pagi ini."
"Huh baiklah, kali ini ku maaf kan kau, tidak di lain kali."
"Kau memang yang terbaik!" Balas tupai. Kemudian ia segera melompat kembali ke leher keledai.
Kedua nya bergegas menuju sungai, sambil sesekali saling melontarkan ejekan.
•| ⇄ ◃◃ ⅠⅠ ▹▹ ↻ |•
Sementara itu di tempat lain dalam kegelapan. Terhimpit di antara bebatuan besar yang membentuk sebuah tempat berteduh yang besar, yang mampu menampung sekelompok besar hewan.
"Hoaaamm." Seekor binatang menguap di balik bayangan. "Sudah pagi kah? Saat nya mencari makanan." Ucap nya. Setelah itu ia sedikit menggeliat untuk meregangkan keempat otot kaki nya. Baru lah ia mulai melangkah meninggalkan sarang tempat kelompok nya berkumpul.
"Hai Rein! Kau sudah bangun rupa nya." Teman nya memanggil di kejauhan. Ia hanya membalas nya dengan anggukan kecil. "Kau akan pergi mencari makan? Jika iya, ku saran kan untuk tidak pergi ke Padang Rumput Blackwood Empire, ada desas-desus bahwa sang raja hutan melihat pemburu di sana!" Lanjut teman nya mengingat kan.
"Tidak! Aku akan pergi ke sungai Stringbrust untuk hari ini." Balas Rein. Kemudian ia mulai memacu keempat kaki nya dengan cepat, berharap mendapatkan makanan terbaik di antara kelompok nya.
"Baiklah kalau begitu!" Teriak teman nya saat Rein sudah mulai tak terlihat.
•| ⇄ ◃◃ ⅠⅠ ▹▹ ↻ |•
"Lihat! Kita sampai paling awal Bo!" Teriak tupai sambil turun dari leher keledai dan bergegas menuju pinggir sungai. "Kita akan mendapat kan makanan terbaik hari ini...!" Lanjut nya berteriak.
"Ya... ya... ya..., terbaik menurut mu, tidak menurut ku." Jawab keledai lemah. Lalu ia mulai memakan rumput di hadapan nya dengan lahap.
"Apa yang kau lakukan? Mandi lah dulu, baru makan, kemari lah biar ku gosok badan bau mu itu agar ada betina yang menyukai mu."
"Swebeta.... ar Rei..." jawab keledai yang mulut nya penuh oleh rumput. "Ru... ut iwni ehnak Rei." Lanjut nya.
"Huh, tadi kau bilang terbaik menurut ku tidak menurut mu, tapi sekarang lihat lah, siapa yang sudah makan dengan lahap duluan." Ucap tupai malas. Kemudian ia menaruh pancingan nya dan segera mandi di pinggiran sungai.
Tak lama kemudian hewan lain nya mulai berdatangan. Seekor kelinci bersama pasangan nya, seekor rubah, gerombolan monyet, kawanan gajah, bahkan beberapa burung juga mendatangi sungai itu untuk sekedar melepas dahaga.
Kegiatan di sungai itu setiap pagi nya memang selalu sama, tampak ramai dan damai. Hewan-hewan tidak saling berebut, mereka saling berbagi dan bercanda.
"Hai bo! Rumput yang segar seperti nya!" Sapa kelinci kepada keledai.
Keledai itu segera mengangkat wajah nya. "Ah iya Seth, rumput yang segar. Setidak nya lebih segar dari yang kemarin ku makan." Ucap keledai menanggapi ucapan kelinci itu
"Hahaha! Kau selalu mengatakan hal itu setiap hari nya bo!" Ucap kelinci sambil tertawa kecil.
"Ya, begitu lah, keseharian yang membosankan."
Tak lama kemudian tupai sudah selesai mandi dan segera memancing agak jauh dari para binatang berkumpul.
"Grrrrrrr......" Sebuah geraman terdengar samar-samar dari balik semak-semak. Namun, hanya keledai lah yang mendengar suara itu, hewan lain tampak acuh tak acuh. Seolah-olah mereka memang tidak mendengar nya sama sekali.
"Seperti nya hanya perasaan ku. Sudahlah, untuk apa ku pikirkan, lebih baik aku melanjutkan makan ku ini." Gumam keledai pelan.
"Grrraaauumm!" Sebuah Auman terdengar bersamaan dengan muncul nya seekor harimau dari balik semak-semak menerkam kelinci. "Grauup!" Seketika kelinci yang lumayan besar itu kini sudah berada dalam genggaman harimau
Keadaan sungai yang tadi nya tenang mendadak ricuh dengan kemunculan harimau, terlebih semakin menjadi ricuh saat kelinci sudah mati. Dalam keadaan ini semua hewan berlari tunggang langgang berusaha kabur untuk menyelamatkan diri, mereka berpikir untuk tidak menjadi korban selanjutnya setelah kelinci.
Sementara itu, keledai yang berada di dekat kelinci masih tenang sambil memakan rumput. Melihat itu sang harimau yang sedikit lagi menghabiskan makanan nya menaik kan alis nya heran.
"Grrrrraaaaaaa!" Teriak harimau di depan keledai, sehingga darah yang berada di mulut nya berceceran di rumput. Kemudian harimau itu melompat menerkam keledai.
Melihat harimau berusaha menerkam nya keledai pun menghindar dan melepaskan satu tendangan ke arah kepala harimau. "Apa yang kau lakukan bodoh! Lihat! Kau membuat Rumput segar makanan ku kotor oleh darah dari mulut mu itu!"
"Peduli setan! Berani sekali kau menendang kepala ku!" Teriak harimau marah.
"TIDAAAAAK! RUMPUT BIRU SEGAR KUUUU!!!!" Teriak keledai histeris ketika melihat darah sekali lagi berceceran di rumput setelah harimau kembali berteriak.
"Apa yang kau katakan? Rumput ini berwarna hijau bodoh!" Ucap harimau bingung.
"Kau yang bodoh! Lihat lah, jelas-jelas rumput segar ini berwarna biru."
"Hei keledai bodoh! Mau di lihat dari mana pun rumput itu berwarna hijau, Bahkan semua rumput itu berwarna hijau!" Balas harimau tak terima ia di sebut bodoh oleh seekor keledai bau.
"Apa yang kau tahu harimau?! Kalian bangsa pemakan daging tidak akan tau bagaimana membedakan rumput yang segar dan tidak, kau bahkan buta warna karena mengatakan semua rumput berwarna hijau, padahal sudah sangat jelas rumput itu berwarna biru." Ejek keledai.
"Kau tidak percaya rupa nya, kalau begitu mari kita tanya kan kepada sang raja hutan, jika aku benar maka biarkan aku memakan mu hidup-hidup." Balas Harimau sambil tersenyum.
"Baiklah siapa takut! Jika aku yang benar maka kau jangan pernah datang lagi ke area sungai ini." Jawab keledai amgkuh.
Harimau segera tersenyum sangat lebar, di pikiran nya kini berputar-putar berbagai cara memasak keledai yang enak.
Kedua nya kemudian berjalan beriringan menuju singgasana raja hutan.
•| ⇄ ◃◃ ⅠⅠ ▹▹ ↻ |•
Sesampai nya di kerajaan Ironstone Empire, mereka berdua kemudian bergegas menemui sang raja hutan Leonidas.
"Hamba menghadap kepada Baginda untuk mencari jalan keluar dari masalah kami berdua!" Ucap Keledai dan Harimau bersamaan sambil menyembah kepada raja mereka.
"Baiklah! Permasalahan seperti apa yang membuat kalian berdua membutuhkan nasihat ku untuk menyelesaikan nya?" Ucap raja Leonidas yang tak lain adalah seekor singa dengan surai yang sangat indah seperti kain sutra terindah.
"Begini yang mulia, lihatlah ini." Ucap keledai sambil ia mengeluarkan beberapa helai rumput. "Ini adalah rumput yang sebelum nya hendak hamba makan."
"Ya, lalu apa permasalahan nya keledai?"
"Begini yang mulia, keledai ini mengatakan bahwa rumput itu berwarna biru, padahal jelas-jelas kita tahu bahwa rumput itu berwarna hijau, aku mohon Baginda memberi tahu siapa yang salah di antara kami." Jawab Harimau lalu tersenyum di akhir ucapan nya.
"Begitu rupa nya." Ucap sang raja mengangguk paham.
"Ya, Baginda. Bukankah saya benar bahwa rumput ini berwarna biru?"
"Ya! Keledai benar! Rumput itu berwarna biru! Harimau kau di hukum!"
"Yeeaaah!" Ucap keledai bangga. Kemudian ia pergi meninggalkan ruang singgasana.
"Yang mulia, apakah anda buta warna? Rumput ini berwarna hijau! Jelas sekali berwarna hijau!" Protes harimau lesu, ia sudah kehilangan hidangan makan siang nya yang lezat.
"Ya, kau memang tidak salah, rumput itu berwarna hijau."
"Kalau begitu mengapa saya yang di salah kan Baginda?" Tanya harimau bingung sekaligus geram.
"Kau di salah kan dan di hukum karena kebodohan mu! Kau sangat bodoh karena membawa permasalahan sepele seperti itu ke ruang singgasana!" Ucap raja marah.
"Tapi yang mulia..."
"Semua hewan di hutan ini tau bahwa keledai itu sangat bodoh, ia memiliki keyakinan nya sendiri. Dan sekarang! Kau lebih bodoh lagi! Bagaimana mungkin kau memperdebatkan keyakinan bodoh keledai sampai ke ruang singgasana!"
"Percuma kau berdebat dengan yang bodoh, karena ia memiliki keyakinan nya sendiri. Pada akhir nya yang bodoh akan tetap mempercayai kebodohan nya sendiri."