"Assalamualaikum ... Uni. ... " Terdengar suara seorang perempuan memanggil di depan pagar rumahku.
"Waalaikum salam," sahutku seraya bergegas mengenakan mengenakan bergo dan membuka pintu.
Ternyata ceu Kokom tetangga belakang rumahku yang datang. Perempuan setengah baya itu tersenyum cerah ketika melihatku membukakan pintu pagar.
"Masuk, Ceu." Aku mempersilahkan tamuku masuk.
"Uni lagi sibuk ya?" tanyanya setelah memasuki pekarangan rumah.
"Biasa, cuma lagi ngebungkusin pesenan orang aja."
"Ooh, maaf ya Uni malah jadi ngeganggu." Ia tersenyum memamerkan giginya yang dipasangi behel.
"Ada apa Ceu? Tumben sore-sore begini kesini?" tanyaku heran, karena tak biasanya tetanggaku itu datang sore hari di hari kerja, dan datang juga masih memakai seragam kerjanya.
"Begini Uni, minggu depan saya ada proyek ke Kalimantan. Nah si Nunu enggak bisa saya bawa. Uni kan tau sendiri bawa Kucing keluar pulau ribet. Kira-kira saya boleh titip di Uni enggak, ya?"
Ternyata ceu Kokom mau menitipkan kucing Persia kesayangannyanyanyanya padaku.
"Memangnya Ceu Kokom mau pergi berapa lama?"
"Tiga bulan sih Uni. Mau saya titip ke Pet Hotel, mahal banget Uni, enggak sanggup saya," cerocosnya.
"Si Nunu udah steril kan ya?" tanyaku. Aku tak mau ambil resiko kucingnya kabur ketika lagi birahi. Karena kucing yang sedang birahi suka kabur dari rumah mencari pasangan.
"Si Nunu lagi hamil Uni."
"Laah, kan kata Ceu Kokom kemarin itu mau di steril," ucapku kesal.
"Pengen atulah ningali anak na si Nunu, Uni," (Ingin lihat anaknya si Nunu, Uni) sahutnya dengan bibir yang dimonyongkan.
"Ntar abis lahiran, aku sterilin ya," tawarku mengesampingkan rasa kesalku. Karena sudah beberapa kali si Nunu kucing Ceu Kokom lahiran, anaknya malah diberikan padaku, dengan alasan aku bisa mencarikan adopter.
"Aduh kasian Uni, perutnya dibelek begitu," ujarnya dengan wajah dibikin memelas.
Malas berdebat panjang, karena pekerjaanku membungkus kue orderan pelanggan belum beres, aku mwngakhiri pembicaraan dengan ceu Kokom.
"Ya udah Ceu, taruh saja kucingnya kesini kalau Ceu Kokom sudah mau berangkat."
"Aduh, nuhun pisan Uni. Si Uni emang bageur. Saya pulang dulu ya Uni," (Aduh, terima kasih sekali Uni. Si Uni memang baik) ujarnya sambil mencomot satu kue yang ada di meja.
Keesokan harinya, ceu Kokom datang membawa Nunu kucing Persia berbulu putih dengan corak coklat pada bagian telinga dan keempat kakinya.
" Halo Nunu cantik," sapaku ketika ceu Kokom meletakkan pet cargonya di hadapanku.
"Ih si Uni, saya datang tadi muka Uni lempeng aja, giliran ama Nunu manis banget senyumnya," sungut ceu Kokom.
"Da atulah Ceu, iri na ka ucing sorangan," (ya ampun Ceu, irinya sama kucing sendiri) gelakku.
Tanpa banyak basa-basi, ceu Kokom meninggalkan Nunu di rumahku.
Sebulan kemudian, Nunu melahirkan empat ekor bayi yang lucu-lucu. Dua ekor berwarna kuning, satu ekor belang tiga, dan satu ekor motif sapi. Dengan semangat aku memotokan anak-anak Nunu lalu mengirimkan pada ceu Kokom.
[Ceu, ini anak si Nunu udah lahir, anaknya empat ekor] ketikku di pesan whatsapp.
Tak lama, pesanku di baca ceu Kokom dan ia langsung membalasnya.
[Aduh, anaknya kampung semua ya Uni. Buat Uni lagi aja deh anaknya] balasnya.
"Ah seperti biasa!" sungutku.
[Ceu Kokom kebiasaan, mau sampai kapan Ceu Kokom mau kawinin Nunu, terus kalau anaknya kampung semua Ceu Kokom kasih ke saya terus] balasku sengit.
[Kalau anaknya udah ada yang kaya si Nunu, baru aku ga kawinin lagi uni] balasnya dengan enteng.
[Ya sudah kalau gitu] Aku mengakhiri pesanku dengan sedikit perasaan menyesal kenapa harus mengabarinya.
Suatu hari, ketika aku tengah asyik bermain dengan Nunu, bunyi notif whatsapp di gawaiku berbunyi. Setelah aku lihat, ternyata dari ceu Kokom.
[Assalamualaikum Uni, maaf aku mau ngabarin kalau proyekku di Kali mantan di perpanjang. Boleh ga Un, si Nunu di sana duluan aja]
[Waalaikum salam Ceu, berapa lama diperpanjangnya?]
[Sekitar tiga bulan lagi Uni baru aku bisa pulang]
"Yes!!" pekikku kegirangan, membuat anak-anakku yang tengah asyik menonton TV keheranan melihat Uminya tertawa sendiri.
[Oh yaudah Ceu, ga papa] tulisku singkat.
[Nuhun ya Uni] balasnya dengan emot senyum.
Lalu aku buru-buru menulis pesan whatsapp pada dokter Yulia, dokter hewan langgananku.
[Pagi dok, mau nanya. Kira-kira besok bisa steril kucing tidak dok?]
Tak berapa lama, dokter Yulia membalas pesanku.
[Pagi bu, bisa bu. Anter aja besok kucingnya ya. Saya besok ada di klinik dari jam 9] balas dokter cantik itu.
Tiga bulan kemudian, ceu Kokom datang ke rumahku.
"Aduuh, Uni emang pinter yaa ngerawat kucing. Nunu makin gendut aja," ujarnya ketika melihat Nunu kucing kesayangannya.
"Hehe iya Ceu," sahutku pelan.
Sore itu Nunu langsung dibawa pulang oleh ceu Kokom.
Enam bulan setelah Nunu diambil kembali oleh ceu Kokom, suatu sore ceu Kokom bertandanf lagi kerumahku.
"Ih Uni, si Nunu sekarang kaya ga semangat aja gitu liat kucing jantan. Udah berapa kali aku coba jodohin, tetep aja ga hamil," celotehnya.
"Udah bosen kali kawin Ceu, lagian dia juga mikir kali capek-capek hamil, anaknya bakal dibuang juga," sahutku berusaha menahan geli.
"Masa iya sih Uni?" tanyanya dengan wajah melongo.
"Kucing kan juga punya perasaan Ceu, jangan dikira manusia aja yang punya. Makanya Nunu sama saya gemuk, karena saya anggap dia anggota keluarga juga, bukan peliharaan," sahutku.
"Maafkan aku ya Ceu, kucingmu sudah aku steril, mau sampai kuda makan besi Ceu Kokom kawinin ya enggak bakal hamil," gelakku dalam hati.