Namanya Salsabila. Dia di karunia oleh Tuhan bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Dan semua orang yang berada di sekitarnya percaya, bahwa Salsa bisa membantu mereka dalam urusan hal gaib.
Seperti, memecahkan teka-teki kematian seseorang yang tiba-tiba, menerawang apakah ada santet, teluh, susuk di tubuh seseorang, dan yang luar biasanya lagi, Salsa bisa membantu para arwah yang mati penasaran karena semasa hidupnya, ada sesuatu yang belum terselesaikan.
"Mbak Salsa? Mbak Salsa ada di rumah?" panggil beberapa orang dari balik pintu saat jam masih menunjukkan pukul empat pagi. Salsa membuka matanya lebar-lebar dan menajamkan telinga takut yang memanggilnya bukanlah manusia.
Memang seperti itu, Salsa sudah terbiasa hidup berdampingan dengan 'mereka' yang tak kasat mata. "Mbak Salsa? Ini saya kang Dadang, mau meminta tolong sama, Mbak Salsa," Setelah mendengar nama kang Dadang disebutkan, baru Salsa sadar bahwa yang datang adalah manusia.
Salsa beringsut dari ranjang dan keluar menuju pintu depan. Ceklek. "Ada apa ya, Kang? Ini masih pagi sekali lho," tanya Salsa tanpa ada nada kesal sedikitpun. Salsa bisa melihat ada tiga orang yang berdiri di depan kontrakannya.
"Maaf, Mbak. Tapi ini darurat. Mbak Dewi sejak kemarin tidak sadarkan diri dan sampai sekarang, dia belum juga sadar. Kata tetangga, Mbak Salsa bisa bantu masalah ini," ucap kang Dadang menjelaskan duduk perkaranya.
Salsa mengernyit heran. "Maksudnya, Kang? Sudah dibawa ke dokter belum?" tanya Salsa yang teringat sesuatu. Wajah kang Dadang tampak lesu. "Justru itu, Mbak. Mbak Dewi sudah dibawa ke rumah sakit tapi, sampai disana dan di cek kondisinya, dokter tidak menemukan adanya penyakit ataupun gangguan tubuh lainnya. Malahan, dokter menyarankan suaminya membawa mbak Dewi ke orang pintar,"
Sekarang Salsa paham kemana arah pembicaraan kang Dadang. "Baiklah, saya akan ke rumah mbak Dewi sekarang. Saya akan siap-siap dulu ya, Kang," ucap Salsa tanpa menunggu jawaban lalu masuk untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Salsa sudah berada di depan rumah mbak Dewi saat ini. Baru saja di depan rumahnya, Salsa sudah merasakan aura kelam dan banyaknya dari 'mereka' yang berdatangan. Tapi, ada satu makhluk dimana Salsa merasakan auranya yang begitu besar dan memancarkan aura negatif.
"Izinkan aku masuk!" ucap Salsa pada penjaga rumah yang tak kasat mata itu. "Jangan ikut campur urusanku," Bulu-bulu di kulit Salsa meremang, tengkuknya terasa dingin, dada Salsa terasa sesak akibat energi yang makhluk itu salurkan begitu besar.
Inilah resikonya, tidak semudah itu bisa melawan mereka yang mempunyai energi negatif yang besar. Dengan kekuatan ayat kursi, Salsa bisa menembus dinding tak kasat mata itu.
Akhirnya Salsa bisa masuk ke rumah mbak Dewi dan mengecek keadaanya. "Akhirnya mbak Salsa datang. Tolong istri saya, Mbak. Dia tak sadarkan diri sejak kemarin," ucap kang Yanto, selaku suami mbak Dewi.
"Iya, Kang. Sebelumnya, mbak Dewi habis darimana ya, Kang? Dan pingsan dimana?" tanya Salsa mulai menginterogasi. Setelah itu, kang Yanto mulai menceritakan bagaimana mbak Dewi bisa pingsan tanpa sebab dan penyakit itu.
Flashback ON
Mbak Dewi dan kang Yanto mengunjungi pasar malam terdekat untuk menikmati malam minggu keduanya. Saat sudah berada di tengah-tengah pasar, Dewi berucap bahwa dia seperti melihat benda berkilau yang tentunya tidak bisa kang Yanto lihat.
"Itu berlian atau apa yang, Kang? Berkilau begitu?" tanya Dewi sumringah. "Dimana? Kok aku nggak lihat? Kan gelap begini," jawab kang Yanto jujur.
"Itu lho, Kang. Aku ambil dulu biar Akang percaya. Lumayan kalau itu berlian, bisa aku gunakan untuk membeli rumah," ucap Dewi bahagia dan mendahului kang Yanto untuk mengambil benda mencolok tadi.
Saat Dewi berhasil mengambilnya, kang Yanto melihat tubuh istrinya lunglai dan kehilangan keseimbangan. Kang Yanto langsung mendekat dan tahu-tahu, istrinya sudah tak sadarkan diri.
Flashback off.
Salsa membekap mulutnya tidak percaya. "Ini masalah besar, Kang. Aku nggak tahu bisa membantunya atau tidak," ucap Salsa yang tubuhnya mulai bergetar karena paham apa yang sebenarnya terjadi dengan Dewi.
"Tolong istri saya, Mbak. Saya mohon ... Saya sangat mencintainya ...." Kang Yanto memohon pada Salsa dengan sangat. Salsa tidak tega melihat tubuh mbak Dewi yang terbujur lemas namun, ada satu makhluk yang sekarang sedang memandangnya dengan sengit.
Apalagi, Salsa bisa mencium bau anyir dari makhluk yang saat ini sedang menunggu Dewi di sampingnya. Dialah penyebab dari masalah yang mbak Dewi alami. Perut Salsa terasa bergejolak karena bau anyir yang menguar menembus indera penciumannya.
"JANGAN IKUT CAMPUR!"
Seketika itu juga, Salsa ingin muntah-muntah saat makhluk itu melarangnya membantu mbak Dewi. "Saya ke toilet sebentar, Kang," pamit Salsa sudah tidak tahan.
Setelah berada di toilet, Salsa segera mengeluarkan benda mengganjal di tenggorokannya. Tentu Salsa sudah paham apa benda itu karena ini bukan pengalaman pertamanya.
"Hoek, hoek, hoek."
Saat Salsa merasakan benda itu sudah berada di pangkal lidahnya, Salsa mencoba menariknya keluar. Dan benar dugaan Salsa, benda yang mengganjal di tenggorokannya adalah sehelai rambut. Salsa menariknya pelan karena takut benda itu akan masuk lagi.
"Hoek!"
Akhirnya Salsa bisa mengeluarkan rambut dari dalam perutnya. Salsa membasuh wajahnya. "Dia iblis," gumam Salsa tidak habis pikir. Ya, makhluk itu mungkin pantas Salsa sebut iblis. Tubuhnya yang tinggi besar dengan bulu menutupi di semua tubuhnya.
Apalagi, matanya yang merah memancar saat Salsa mencoba memelototinya. Salsa paham, ini tidak akan mudah untuk Salsa membantu mbak Dewi. Setelah itu, Salsa keluar lagi. "Apa yang sebenarnya terjadi, Mbak? Apa ini sangat berbahaya sehingga mbak sampai muntah-muntah?" tanya kang Yanto merasa tidak enak.
"Ini sudah biasa, Kang. Dan mereka saat ini sedang berada di antara kita," jawab Salsa yang melihat begitu banyak dari 'mereka' yang menampakkan diri. Tapi, kebanyakan dari mereka tidak menganggu.
"Kang, boleh saya pegang tangan mbak Dewi? Ini agar saya tahu akar masalahnya," Salsa meminta izin pada kang Yanto. Kang Yanto jelas langsung mengangguk menyetujui. "Silahkan, Mbak. Saya akan dengan senang hati jika, Mbak Salsa mau membantu," ucap kang Yanto tersenyum haru.
"Boleh minta air putih di taruh di gelas, Kang?" pinta Salsa sebelum melakukan aksinya. Tidak berapa lama, air putih datang. Salsa segera menerima dan membacakan ayat-ayat Al Qur'an pada air itu.
Setelah itu, Salsa meminum tiga kali dan mengusapkan air itu ke wajah mbak Dewi. Setelah selesai dengan ritual, Salsa menaruh gelas itu dan memegang telapak tangan mbak Dewi.
"Saya akan mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan mbak Dewi dulu ya, Kang," Setelah itu, Salsa merapalakan doa dan dia bisa melihat kejadian yang menimpa mbak Dewi sebenarnya.
Disana terlihat, mbak Dewi sedang menghampiri benda berkilau yang tidak lain adalah pintu ke dunia lain. Dan sebelum itu, ada seseorang yang menaruh benda tersebut sebagai alat perantara. Salsa bisa mendengar suara mbak Dewi yang meminta tolong di alam sana. Setelah itu, Salsa kembali ke dunia nyata dan membuka mata.
Tubuhnya terasa lemas karena harus berurusan dengan alam gaib juga belum sarapan. "Mbak Salsa ... Minum dulu," ucap seseorang saat melihat tubuh Salsa limbung. Salsa menerima gelas itu dan menenggak air di dalamnya.
Setelah tenang, Salsa menyuruh orang-orang yang berada disana untuk keluar kecuali kang Yanto. "Mohon maaf bapak ibu, silahkan keluar dulu. Saya ingin memberitahu hal penting pada kang Yanto dan ini bersifat pribadi,"
Semua mengangguk menyetujui. Setelah hanya kang Yanto dan Salsa dalam ruangan, Salsa mulai menjelaskan keadaan yang sedang mbak Dewi alami.
"Kang, menurut penerawangan saya, mbak Dewi jadi korban tumbal orang yang sedang mencari kekayaan dengan cara instan," ucap Salsa dengan berat hati.
Bahu kang Yanto merosot, tubuhnya terasa lunglai saat mendengar istrinya dijadikan tumbal. "Siapa pelakunya?" tanya kang Yanto penuh amarah di matanya. Salsa menggeleng. "Itu tidak mungkin saya beritahukan. Itu bukan ranah saya," jawab Salsa dengan wajah sendunya.
"Lalu bagaimana nasib istri saya?" tanya kang Yanto lagi masih belum menyerah. Salsa menghela nafasnya lelah sebelum menjawabnya. "Jiwa mbak Dewi tertahan di alam sana. Mungkin, tersesat atau kondisi jiwanya lemah sehingga tidak bisa kembali dan menyebabkan mbak Dewi tidak sadarkan diri hingga sekarang," jelasnya.
Kang Yanto langsung menangis. "Apa yang bisa saya lakukan, Mbak? Tolong istri saya sebisanya ... Saya mohon ...." Kang Yanto memohon dengan sangat.
"JANGAN IKUT CAMPUR!
"PERGI!"
Salsa memejamkan mata saat suara itu menggema di telinganya. Tengkuk dan bahu Salsa terasa panas karena makhluk itu sedang berada di belakangnya, mengawasi setiap gerak-geriknya.
"Untuk bisa menolong mbak Dewi tidak mudah, Kang. Kita harus masuk ke alam itu dan taruhannya adalah nyawa," ucap Salsa berusaha setenang mungkin karena makhluk berbadan besar dan berbulu itu sedang menatap dirinya tajam.
"Saya rela bila nyawa saya jadi taruhan. Kasihan anak saya, Mbak. Dia masih umur empat bulan dan butuh kasih sayang ibu,"
Salsa tampak menimbang-nimbang apakah dia harus masuk ke dunia yang berbeda dan menaruhkan nyawanya? "Saya akan pikirkan itu besok ya, Kang. Untuk sekarang, saya harus pulang dan mengisi energi saya,"
Dua hari setelahnya, Salsa kembali mengecek keadaan mbak Dewi yang masih saja terbaring lemah. Tidak lupa, Salsa membawa seseorang yang akan membantunya untuk proses masuk ke dunia lain, Pak ustad Dul.
"Mbak Salsa, apa mbak yakin untuk masuk kesana? Ini tidak mudah, Mbak?" tanya ustad Dul menanyakan satu kali lagi sebelum semua benar-benar terlanjur. "Bismillahirrahmanirrahim, Ustad. Saya pasti bisa. Saya tidak tega melihat anak mbak Dewi yang menangis sepanjang malam karena tidak ada ibunya,"
"Baiklah, saya akan bantu untuk masuk kesana. Ingat, waktunya hanya satu hari. Dan satu hari disana bagaikan satu jam. Mbak Salsa harus bertindak cepat. Jika waktu yang ditentukan sudah habis dan mbak Salsa tidak menemukan mbak Dewi, silahkan kembali dan mengikuti sumber suara dan cahaya. Disana, saya akan kasih ini ke Mbak Salsa supaya nanti tidak sampai melanggar," Pak ustadz Dul memberikan gelang kain yang terdapat permatanya.
Walau bingung, Salsa tetap mengangguk. "Baiklah, Pak."
"Ingat ya, Mbak. Lepaskan sesuatu yang ada di jari maupun di tangan mbak Dewi. Jangan sampai membawa apapun dari alam sana. Dan lagi, dengarkan setiap perintah yang saya berikan. Walau saya disini, mbak bisa mendengar suara disana. Saya akan bantu dari sini," Salsa mengangguk lagi tanda paham.
"Dan untuk kalian semua, kita berdoa dari sini dan menyemangati mbak Salsa juga mbak Dewi disana,"
Setelah itu, ritual segera di mulai. Semua duduk melingkar dengan Salsa berada di tengah-tengahnya. Ustad Dul tampak membacakan doa-doa saat Salsa sudah menutup matanya. "Buka matamu!"
Sesuai perintah, Salsa membuka mata dan yang pertama kali Salsa lihat adalah, dia sudah berada di labirin yang sangat menyeramkan, gelap dan pengap. "Ambil obornya!"
Lagi, Salsa menuruti setiap ucapan yang diarahkan untuknya. "Berjalanlah lurus setelah itu belok kiri," ucap suara itu lagi dan Salsa menurut lagi. "Mulailah mencari sesuai hati nuranimu,"
Salsa mulai berjalan untuk mencari mbak Dewi dengan meneriaki namanya. "Mbak Dewi! Mbak Dewi!"
Salsa melihat ada sebuah pintu yang terbuka sedikit. Dia pun mendekati dan memilih masuk barangkali mbak Dewi ada disana.
"Hahahaha," Suara tawa itu menggelegar saat Salsa baru masuk ke sebuah ruangan yang terlihat seperti singgahsana.
Salsa memejamkan mata saat di hadapkan dengan sosok wanita menyeramkan dengan perutnya yang transparan hingga menampakkan organ bagian dalamnya. Entah, itu makhluk jenis apa, Salsa juga bingung menyebutnya. Pakaiannya serba hitam, rambut panjang hingga selutut, dengan mata yang merah dan wajah yang pucat. Dia sedang duduk di singgasana dengan angkuhnya.
"MAU APA?" tanya sosok itu pada Salsa dengan suara yang begitu menyeramkan. "Me—menyelamatkan mbak Dewi. Dimana dia? Dimana kamu menyembunyikan dia?" Salsa berusaha tak gentar karena iblis di depannya derajatnya lebih rendah dari derajat manusia. Salsa percaya bahwa dia bisa melawannya.
"HAHAHAHAHA."
Salsa sampai menutup telinganya karena tawa itu begitu memekakkan telinga. "Berdoa!" Perintah suara yang mengikuti Salsa. Sesuai perintah, Salsa mulai melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an di hadapan iblis terkutuk itu.
"HAH! Apa yang kamu baca! Berhenti!" pekik makhluk itu kesakitan. Salsa mengabaikan perintah itu dan semakin lancar membaca ayat-ayat Al Qur'an.
"Allaahu Laailaaha illa huwal hayyul qayyuum. Laa ta'khudzuhu sinatuw walaa nauum. Lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi. Mangdzalladzii yasyfa'u 'indahuu illai bi idznih. Ya'lamu maa baina aiydiihim wamaa kholfahum walaa yukhiithuuna bisyayin min 'ilmihii illaa bimaa syaaa a. wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardho. Walaa yauduhuu khifdhuhumaa wa huwal'aliyyul 'adhiim."
Tepat setelah bacaan di akhir ayat, tubuh Salsa terpental jauh hingga membentur pintu. "Aaargh!" pekik Salsa terkejut. Sosok wanita itu menggeram kesal dan penuh amarah lalu melayang dan mendekati Salsa. Dalam satu kali tarikan, tubuh Salsa kembali melayang dan mendekat pada sosok wanita berwajah seram itu. Salsa menangis karena dia bisa melihat dengan jelas mata sosok itu yang hanya terlihat putihnya saja.
"Hiks, hiks."
"HAHAHAHAHA."
"Leppph—aasht uhuk, uhuk,"
Tanpa diduga, makhluk itu mencekik leher Salsa dengan brutalnya hingga Salsa hampir kehabisan nafasnya. "Terus berdoa dalam hati!" Perintah suara itu lagi dan Salsa segera melakukannya.
"Berhenti! Berhenti! Aaaa!"
Makhluk itu memekik kesakitan lagi sambil memegangi perutnya yang transparan. Seketika, tubuh Salsa terlepas hingga berakhir di lantai tanah. Ini kesempatan Salsa untuk lari namun, perkiraannya salah. Makhluk berbadan besar dan berbulu sudah menghadangnya terlebih dahulu.
Tidak ada kata yang terucap. Hanya dari tatapan matanya begitu bengis menatap Salsa. "Dimana, Mbak Dewi?" tanya Salsa dengan tubuh menggigil menahan takut.
"Aaargh!!" Lagi-lagi tubuh Salsa terpental. Badannya terasa remuk redam. Tulang dan persendiannya seakan lepas. "Bangkit dan masuk ke pintu warna coklat!" Perintah suara itu lagi dan Salsa segera beringsut menuju pintu itu.
Setelah berhasil masuk, Salsa menutupnya dan bersandar di pintu karena jantungnya berdetak tidak karuan. Deg, deg, deg.
"Selamat datang, akhirnya kamu sampai disini, hahahaha,"
Belum sempat Salsa beristirahat, dia harus menghadapi makhluk di depannya lagi. Dia masih sosok yang sama yaitu sosok wanita menyeramkan dengan perutnya yang transparan. Bahkan, Salsa bisa melihat isi perut dari sosok tersebut.
Dada Salsa mendadak sesak karena energi yang dia terima begitu besar. "Pak ustad, tolong aku," rintih Salsa berharap pak Dul yang di alam nyata mendengarnya. "Baca surat Al-fatihah!"
Salsa langsung membaca surat Al-fatihah. Setelah itu, dada Salsa sedikit melonggar dan Salsa siap menghadapi makhluk di depannya. "Dimana Mbak Dewi wahai iblis yang terkutuk?" tanya Salsa geram karena sejak tadi dia tidak menemukan keberadaan mbak Dewi.
"Hahaha. Bangsa kami tidak akan melakukan itu jika bukan dari kalian sendiri yang menyembah kami hanya demi harta dan melupakan kewajiban pada Tuhannya. Tapi, itu memang tujuan kami. Menyesatkan segumpal tanah yang harus kami hormati. Dari kami tidak sudi melakukannya karena kami dari api. Derajat kami lebih tinggi daripada segumpal tanah," ucap sosok itu penuh kemarahan yang besar.
"Lepaskan mbak Dewi sekarang juga. Atau kalian yang akan menyesal," ancam Salsa tak gentar.
"Haha, dari kami tidak akan rugi. Jika kamu berhasil menyelamatkannya, maka yang akan menjadi budak kami adalah dia yang bersekutu dengan kami. Tapi tidak semudah itu, karena dia yang bersekutu sedang melakukan ritual memuja kami. Hahaha,"
"Dan yang lebih parahnya lagi, nyawa kamu juga akan menjadi tumbal selanjutnya. Manusia yang bersekutu dengan kami akan mendapatkan keuntungan lebih besar,"
Deg.
Jantung Salsa berdetak tidak karuan bukan karena ucapan makhluk di depannya. Melainkan karena ucapan dari pak Dul yang menginterupsi bahwa waktunya tidak banyak lagi.
Salsa berusaha mencari celah dengan mengedarkan pandangannya untuk menemukan jalan keluar atau petunjuk yang lainnya. Saat Salsa menatap pada kaca besar di ruangan itu, mata Salsa membelalak lebar.
Ya, disana ada mbak Dewi yang sudah terkulai lemah tak berdaya dengan terduduk di lantai. Tangannya di rantai begitu juga dengan kakinya. Salsa menatap makhluk di depannya lalu mulai membacakan doa-doa pengusir jin.
"A'uzdubillahiminnasy syaithonirrojim, bismillahirrahmanirrahim ....
"AAA! PANAS! BERHENTI! BERHENTI!"
Seiring dengan Salsa membacakan doa, sosok itu memekik kepanasan. "Hegghh..." Makhluk itu mengeluarkan geramannya hingga membuat Salsa berhenti melafalkan doa.
Brak!
Brak!
Salsa semakin ketakutan saat tempat yang dia injak seperti gempa. "Pak ustad, bagaimana ini?" ucap Salsa berharap ada jawaban. "Kembali, Salsa. Waktunya hampir habis. Ikuti arah cahaya di sebelah kananmu," perintah suara itu lagi.
Salsa langsung menoleh dan mendapati cahaya putih memancar disana. Salsa menatap makhluk di depannya yang sedang kepanasan. Salsa langsung mendekati mbak Dewi untuk membawanya pulang.
"Mbak Dewi! Bangun, Mbak. Ini aku, Salsa. Sadar, Mbak! Mbak!"
Mbak Dewi mnggeleng lemah. "Kamu pergilah, aku sudah tidak sanggup untuk berjalan,"
"Tidak, Mbak. Aku harus kembali bersama mbak Dewi. Kasihan anak mbak yang masih kecil,"
"Tidak, dia sudah ada yang mengurusi. Saya sudah pasrah karena saya sudah lelah,"
"Cepat kembali Salsa, sebentar lagi cahaya akan tertutup!"
Salsa benar-benar berada di persimpangan jalan. Dia menangis karena usahanya seakan sia-sia.
"Pergi, Salsa! Pergi sekarang juga!" perintah mbak Dewi karena Salsa malah mencoba melakukan rantai di kaki dan tangannya. Salsa mengabaikan ucapan Dewi dan berusaha keras untuk melepaskan rantai besi yang membelenggu mbak Dewi.
Dengan tergesa, Salsa mencari alat untuk memudahkan melepas rantai. Ada sendok yang terbuat dari emas disana dan Salsa menggunakannya untuk membuka kunci.
"Salsa, balik sekarang!"
Bersamaan dengan itu, Salsa berhasil membuka rantai dan berusaha membuat mbak Dewi berdiri agar Salsa mudah memapahnya. "Ayo, Mbak. Aku bantu jalan. Kasihan anak Mbak di rumah yang sudah menunggu dan rindu sama, Mbak," ucap Salsa memohon.
Mendengar nama anaknya, mbak Dewi berkaca-kaca dan mengangguk menyetujui.
"MAU KEMANA KALIAN!"
Salsa mengabaikan nada murka dari sosok bertubuh tinggi dan berbulu itu. Dia terus memapah mbak Dewi agar sampai di cahaya itu. "Ayo, Mbak sedikit lagi,"
Salsa akhirnya sampai di sumber cahaya itu dan sudah masuk kesana dengan jemari yang masih bertaut dengan mbak Dewi. "Salsa!"
"MBAK DEWI!"
Salsa kembali membuka mata dan dia sudah berada di alam nyata. "Mbak Dewi? Ustad, apa mbak Dewi ikut kembali?" tanya Salsa takut.
Pasalnya, di alam sana Salsa tidak bisa membawa mbak Dewi balik. Tubuh mbak Dewi di tahan oleh sosok bertubuh besar dan berbulu. Salsa langsung menangis. "Saya gagal ... Saya gagal ... Maafkan saya ...."
Semua menunduk lesu karena usahanya tidak membuahkan hasil. "Ini di luar kendali kita, Sa. Jangan menyalahkan diri sendiri,"
Mengabaikan ucapan pak ustad, Salsa beranjak untuk mendekati mbak Dewi yang masih terbaring lemah di atas ranjang. "Bangun, Mbak! Ingat sama anak, Mbak! Bangun, Mbak! Mbak pasti bisa melawan makhluk itu!" Salsa menangis meraung-raung berharap Tuhan akan memberikan keajaiban.
__________________
Salsa menatap gundukan tanah yang bertuliskan nama Dewi Maharani disana. Air mata Salsa seakan tidak pernah habis. "Maafkan saya, Mbak. Saya nggak bisa bantu, Mbak Dewi. Semoga mbak tenang di alam sana," Salsa mengusap air matanya yang semakin deras mengalir.
Memang seperti itu takdirnya. Kita tidak bisa mengatur semua sesuai rencana kita karena Tuhan sudah merencakan semuanya dengan sebaik-baiknya.
Tidak ada yang buruk karena Tuhan sudah mengaturnya. Manusia hanya bisa i dari keserakahan manusia yang enggan bersusah payah bekerja dan memilih jalan instan, jalan yang begitu dinistakan oleh Tuhan. Tidak ada perbuatan yang tanpa balasan. Setiap sebab pasti akibat.
End.