AWAL
Saat itu adalah awal musim gugur. Saat dimana, aku betul-betul merasa bahwa hatiku adalah gambaran dari sebidang tanah lapang yang kini menjadi pijakan kaki ku. Kering kerontang karena panas yang berkepanjangan. Meninggalkan jejak-jejak kepedihan dengan sketsa kemarau panjang, yang tampak dari sederetan pohon yang meringgas tanpa daun sedikit pun.
Aku masih ingat. Saat itu, aku berdiam dibawah langit yang gelap. Dengan guratan awan tebal yang menutupi kemilau bintang malam. Aku benar-benar sendiri, dipekat malam yang dingin. Menatap layar handphone dengan pikiran yang kosong.
Entahlah, saat itu hatiku seperti mencari-cari sesuatu. Sesuatu yang hilang atau mungkin yang kurang.
Ya. Hatiku mencari pengisi, yang benar-benar mengisi. Mencari penyejuk, yang benar-benar menyirami. Dan aku menemukanmu. Ditengah malam yang dingin, dalam pekat kabut yang menutupi, diawal musim gugur. Malam yang menjadi titik awal kisah ini berjalan.
***
KESESAKAN DALAM UNGKAPAN
Aku tak pernah mengingat hal apa yang awalnya menjadi pemicu dari hubungan kita yang seakrab ini. Aku belum pernah menemuimu. Tidak pernah sekalipun menatapmu dengan mata telanjang. Tapi hatiku seperti mengenalmu sangat lama. Seperti sahabat yang terpisah. Seperti serpihan rasa rindu dan kenyamanan yang jauh.
Pernah sekali. Entah di baris chat-an yang keberapa, dalam catatan ingatanku. Dan karena daya magic yang entah dari mana datangnya merasuki ku. Aku tiba-tiba seperti mendapatkan kekuatanku kembali. Keberanian untuk mengatakan ini lebih dari sekedar nyaman dengan seorang teman atau bahkan mungkin dari seorang sahabat sekalipun. Mengatakan ini dengan arti yang lebih dalam mengakar sebagai cinta.
Aku menyatakan cinta kepadamu.
Itu adalah saat yang sangat berat bagiku. Saat dimana, untuk pertama dan terakhir kalinya hingga detik ini. kita saling bertatap, namun jauh. Engkau di depanku namun di dunia yang lain. perjumpaan pertama via WhatsApp call video, sebagai awal berbagi sketsa wajah dan cerita dalam bingkai monitor layar handphone.
Aku melihat wajahmu. Lampu kamar di belakangmu buram, dan aku menangkap bayangan senyummu yang malu-malu, sebelum akhirnya terhenti dalam keheningan. “Aku mencintaimu,” kataku pelan, nyaris berbisik. Namun diammu membeku, mengisyaratkan keraguan, atau mungkin penolakan. Aku hanya bisa menatap layar, berusaha membaca matamu yang tak bicara. Ketakutan menjalar ke ubun-ubun, beberapa keberanian terkumpul sebab sesak detak di dada. Dari diammu, aku perlahan-lahan menemukan arti keheningan dan ketakutan akan penolakan yg terbungkus didalamnya. Dan aku mamahami itu. Malam itu berakhir dengan aku yang kembali menjadi pria kesepian, dengan cinta yg digantungkan. Pula, Aku memutuskan untuk menjadi pencintamu saja, tanpa harus membiarkanmu terbelenggu dalam diam yang berkepanjangan dan membingungkan.
Mungkin saja, kau terdiam karena takut. Takut mengakui bahwa perasaan ini nyata. Atau mungkin, kau hanyalah bayangan kabur dari harapan ku sendiri.
***
Sederatan malam-malam yang berikutnya adalah malam-malam yang panjang dan kelam bagiku. Aku takut untuk mengirimi mu pesan, bahkan jika itu hanya sekedar menyapa atau sebatas menanyakan kabarmu.
waktu-waktu berlalu begitu, tanpa tradisi saling sapa antara kita seperti malam-malam yang lalu. Hingga dimalam yang kemarin. Entahkah atas dasar apa, kita kmbali se-akrab sebelumnya. Kali ini agak sedikit berbeda. hubungannya agak lebih baik.
Seiring bejalannya waktu, suasana ini semakin akrab saja. Kita tak pernah lagi merasa canggung antara yang satu dengan yang lain. Kita bahkan saling menyapa dengan sebutan sayang, sebagai sapaan akrab. lalu beberapa kata meninggalkan artinya sendiri sebagai goresan kenang disetiap sapaan kita. Entahlah. Aku pun tak tau apakah ini juga sangat berarti buatmu.
***
TAKUT DAN EGOIS
Beberapa detik berlalu mendekati tengah malam yang semakin pekat. kau tau? aku meringkuk di sudut ruangan mendekap bayang dalam semu menangkap arti perjumpaan dalam skala yang lebih besar. Terkadang, aku ingin engkau mengenangnya. Menjadikan ini sebagai bukti. Sebab aku masih tak mengerti. Apakah aku memang sedang di penuhi ketakutan atau mungkin aku-nya saja yang terlalu egois. Aku ingin tetap di sisimu, meski tak tahu apakah aku sekedar pengisi sepi atau seseorang yang kau butuhkan.
***
Lalu, pekat pun kembali dengan pergumulan tanpa akhir. sorak kemenangan tak tampak, hanya kekosongan yang mengisi. semakin lama semakin dalam, mengalir lengkapi sesak di dada teriring penggalan kenangan yang memenuhi rongga otak. Dan KITA, kini ku titipkan pada pekat. Harap memudar seiring pagi yang menyapa.