Masa muda? hmm, entah bagaimana aku mendeskripsikannya. Kurasa aku bahkan belum menemukan kata yang tepat sampai sekarang
Aku terlahir dari keluarga mapan, ayahku seorang pengusaha mebel dan ibuku seorang pemilik butik yang cukup terkenal di kotaku. Sejak kecil aku tidak pernah merasa kekurangan. Aku anak tunggal, keluargaku utuh, punya banyak teman karna aku dan keluargaku terbiasa royal dengan orang-orang di sekitar kami. Jadi, seperti gula, kami sering dikerumuni "semut-semut" yang gemar dengan apa yg kami miliki. Selain itu, aku dikaruniai otak yg cemerlang, sejak tk selalu menjadi murid kesayangan guru-guru. Mungkin selain cerdas, aku juga punya segalanya. Selalu itu yang kupikirkan.
Saat memasuki sd dan smp tidak sedikit aku mendapat perlakuan istimewa dari teman-teman lelakiku. Selain jadi cewek most wanted, aku juga semakin bersinar karna banyak memenangkan perlombaan bergengsi untuk sekolahku. Auraku makin bersinar dari waktu ke waktu.
Tapi tiba-tiba saja duniaku jungkir balik. Saat hendak menempuh ujian akhir nasional, tiba-tiba saja usaha ayahku hancur, entah karena masalah apa, aku tak paham saat itu.
Usaha ibuku mulai terseret ke dalam masalah keuangan ayah. Butik jadi semakin sepi, karena entah kenapa para pelanggan ibu enggan untuk datang lagi. Dari yang kudengar mereka tidak mau berurusan dengan keluarga penjahat.
Aku benar-benar bingung. Penjahat apa? Kenapa?
Tapi ibu tak memberikan banyak penjelasan. Ia hanya bilang bahwa ayah tidak bersalah dan hanya difitnah. "Fitnah apa????" aku tak dapat penjelasan saat itu.
Ditengah masalah yg bertubi-tubi, berkat anugrah kecerdasan yang kumiliki, aku masih bisa lulus dari SMP dengan nilai tinggi dan berhasil masik salah satu SMA negeri favorit di kotaku. Tapi semuanya sama sekali berbeda.
Aku merasa sangat sulit beradaptasi. Dulu aku tak pernah tahu bagaimana cara berteman, karena semua orang selalu mencari, menghampiri dan mendekatiku lebih dulu. Tapi sekarang, aku tak mengenal siapapun karena kebetulah hanya akulah yg nilainya mencukupi untuk masuk ke SMA favorit tersebut. Dan parahnya, aku sudah tak punya lagi daya tarik "gula" yang selalu disukai teman-temanku. Aku tak lagi diantar jemput mobil, punya hp bagus, tas dan sepatu branded. Aku hanya siswa baru biasa. Sama sekali tidak menarik perhatian, redup dan tenggelam.
Aku benar-benar kesulitan bersosialisasi. Aku takut memulai pembicaraan atau mendekati teman-temanku. Aku takut akan penolakan. Aku selalu merasa minder setiap kali teman-teman tampak keberatan berada satu kelompok belajar denganku dan sebagainya. Hampir seluruh tahun pertamaku di SMA kuhabiskan dengan kesibukanku seorang diri. Aku nyaris tidak lagi pernah berkumpul dengan segerombol teman baikku, tidak ikut ekskul maupun maupun kegiatan berkelompok lainnya seperti saat aku SD dan SMP. Saat itu aku bingung, tak tak mengapa dan harus bagaimana. Entah. Aku bahkan tidak tau bagaimana harus menceritakan situasi ini kepada kedua orang tuaku, karna yang kutahu mereka sudah banyak kesulitan karena masalah, entah apa, yang mereka hadapi saat itu. aku benar-benar sendiri.
Hanya punya satu teman dekat yaitu Lupita sari yang biasa kupanggil Uphe. Dia anak nelayan tambak dari desa pesisir. Keluarganya tidak terlalu kaya tapi mereka punya rumah makan sari laut yang cukup laris. Meski kemampuan akademisnya masih di bawahku, karena dia tak pernah bisa berhasil menembus peringkat 10 besar, Uphe lumayan ramah dan baik hati. Sesekali dia menemaniku menenggelamkan waktu luangku di perpustakaan atau laboratorium, tempat favoritku di sekolah.
Karena kesibukan masing-masing, dan kelas yg selalu diacak tiap tahun ajaran, aku jadi semakin jarang bertemu Uphe. Aku melewatkan banyak kesempatan indah di usia beliaku. Aku melewatkan cinta pertamaku pada Zafran, ketua osis yg luar biasa tampan dan bersinar, hanya karena aku tak percaya diri. Aku memilih memendam cinta sepihak dan menghindari banyak kesempatan yang kumiliki untuk bertemu dan dekat dengan Zafran. Kecuali saat kami harus menjadi rekan satu tim dalam lomba olimpiade kimia tingkat Provinsi. Aku tak bisa lagi menghindar saat harus bertemu dan belajar bersama dalam rangka pembekalan sebelum lomba. Sangat menyenangkan sekaligus menyiksaku. Entah kenapa, aku tak bisa menghindar dari pesona dan keramahan Zafran. Ia benar-benar lelaki luar biasa, cerdas, ramah dan sopan. itu adalah kali pertama aku merasakan benar-benar menyukai seseorang. Dan saat itu pulalah aku merasa semakin tersiksa karena terus berusaha untuk tidak boleh menyukai Zafran karena merasa tak pantas.
Sebenarnya aku juga tak paham betul kenapa banyak teman-teman yg menyayangkan dan mencibirku bahwa Zafran tak sepatutnya satu tim denganku. Padahal jauh dalam hati kecilku aku merasa layak karena toh aku mampu mengimbangi kecerdasannya dan terpilih untuk satu tim dengannya. Tapi hati kecilku tak memiliki arahan, dorongan ataupun kekuatan untuk melawan. Rasa rendah diriku mengalahkan kebenaran dalam jiwaku.
ah, entahlah..
Memenangkan olimpiade bersama Zafran mungkin merupakan satu-satunya kenangan indah yg kumiliki selama menghabiskan tiga tahunku di SMA. Sisanya? entahlah..
Yang kupikirkan saat itu hanya secepatnya menyelesaikan masa SMAku lalu pindah ke universitas impianku di luar kota. Aku ingin memulai cerita baru di tempat jauh yang sama sekali tak ada orang yang mengenalku. Jauh dari masalah keluargaku dan orang-orang yang mencibirku karna kesalahan yang kurasa tak pernah kulakukan.
Saat memasuki usia 20an dan hidup sendiri sebagai mahasiswa di kota lain, aku mulai menemukan banyak cerita, orang, pengalaman yang membuatku mulai berani membuka diri, menjadi diri sendiri dan orang yang jauh berbeda dari diriku di masa lalu.
Aku mulai mengerti kenapa Ayah difitnah sbg penjahat atas kasus ilegal logging, kenapa teman-teman ibu mencibir, dan kenapa teman-teman seakan enggan berteman denganku. Aku mulai memahami persepsi, emosi, serta reaksi yang ingin aku tunjukkan atas berbagai situasi yang kuhadapi.
Mungkin aku tak seperti kebanyakan orang yg punya banyak kiasah indah di masa SMA mereka. Tapi setidaknya aku berhasil memecahkan cangkang yang mengurung emosiku dengan keberanianku sendiri. Meskipun mungkin agak terlambat, tapi toh masih banyak masa muda yang tersisa untukku. Aku akan membuat kisah indahku sendiri, dengan cara dan mauku sendiri. Karena masa indah tidak hanya saat itu, tapi juga kini dan nanti, saat aku merasa bahwa jiwaku bebas dan tak lagi terkurung oleh angka yang disebut usia