Senja pamit perlahan pada peraduannya. Meninggalkan sang muslimah dengan ukiran penanya. Yah, seorang wanita muslimah yang tinggal dikota Bulukumba.
Muslimah yang berpenampilan sederhana namun cukup menarik dan eksotis. Ia menutup buku dan meletakkan pena diatas mejanya.
Namanya adalah Kiya, lebih tepatnya Adzkiya Naila Fardhan. Ia adalah salah seorang mahasiswi di STAI Al-Ghazali Bulukumba. Ia hidup di lingkungan keluarga yang taat dalam beragama.
Suatu hari, Kiya bergegas mengambil air wudhu dan mengambil mukenah serta mushafnya lalu keluar dari kamar menuju orang tuanya untuk sholat magrib berjamaah. Selesai sholat, mereka pun mengaji bersama dan saling memuraja'ah hafalannya.
Kiya bukanlah seorang penghafal Al-Qur'an tetapi ia senang dengan Al-Qur'an, berbeda dengan ayahnya yang pernah mondok disalah satu pesantren ternama di Bulukumba. Ayahnya adalah seorang muballigh sekaligus penghafal Al-Qur'an dan ibunya adalah seorang siswi yang pernah belajar disekolah Madrasah Aliyah dan belajar secara khusus bertilawah dengan suara yang begitu elok. Dan itu pulalah yang membuat ayahnya jatuh cinta kepada ibunya. Keelokan paras dan suaranya inilah yang menurun ke Kiya, putrinya.
Ia juga mempunyai seorang kakak angkat yang baru saja menamatkan pendidikan S1nya dikampus Universitas Negeri Makassar (UNM) jurusan Geografi. Walaupun Kiya mempunyai kakak angkat tetapi mereka saling menjaga diri, mereka telah dididik dengan disiplin sesuai dengan ajaran agama islam.
Kiya juga mempunyai seorang sahabat yang bernama Rani, teman sekampus yang begitu baik dan kece.
Malam berlalu digantikan mentari pagi yang cerah, Kiya telah siap berangkat dengan mengendarai roda dua berwarna putih merek scoopy miliknya. Sebelum Kiya berangkat, ia terlebih dahulu mencium tangan kedua orang tuanya dan meminta berkat agar ilmu yang di peroleh dapat diserap dengan cepat. Sungguh sebuah kebiasaan yang jarang terlihat dizaman modern ini.
Sesampainya dikampus, Kiya masuk ke dalam ruangannya yang terletak dilantai dasar dekat mushollah. Kiya duduk dan mengeluarkan buku serta penanya dalam tas.
Mulailah ia menulis sambil menunggu dosen dan teman-temannya.
"Ku torehkan penaku menjadi satu rangkaian kalimat, ku jadikan kalimat itu untuk memuja-Mu, ku tahtakan Engkau ke dalam qolbu hingga Engkau mengirimkan dia untuk menemaniku sepanjang hidupku dan menjadi pangeran dalam duniaku. Kekasih, Engkau adalah utama dan dia adalah satu"
Selesai menulis sahabatnya pun datang dengan sumringah.
"Kiya kamu tau ngak sekarang saya lagi PDKT sama Re..."
"Assalamu'alaikum dulu Rani" potong Kiya mengingatkan salam kepada sahabatnya
"Hehehehe, maaf Kiya. Ia Wa'alaikumsalam. O iya aku lanjutkan ya. Namanya Revanto"
Kiya tersenyum dan berkata " Ow jadi namanya anto' "
"Iiiiiiiiii bukan Kiya namanya itu adalah Revan. Nama lengkapnya itu Revanto. Kamu tau ngak dia itu pemain band. Gitaris gitu tapi vokalisnya juga cakep sih. Hehehehe"
"Kamu suka sama gitarisnya atau sama vokalisnya ?"
"Dua-duanya, hehehehe tapi saya akan tetap pilih gitarisnya kok karena vokalisnya itu dingin banget bicara sama cewek, apalagi cewek cantik kayak saya"
“Hehehehe, kamu pede banget sih Rina“ Kiya tertawa kecil mengomentari sahabatnya.
“O iya jelas harus pede. Kiya besok selesai perkuliahan kamu temenin saya ya, besok saya mau ketemuan sama Revan dan kamu harus ikut, soalnya dia juga bakalan ngajak temannya si Alfin yang vokalis itu. Sebentar sore saya juga pengen ke rumahmu jalan-jalan soalnya bosan juga di rumah.”
“Tapi Ran….?”
“Udah ngak ada tapi-tapian. Ini sudah fiks dan nggak bisa di ganggu gugat” Kiya hanya terdiam dan menggelengkan kepalanya.
Mahasiswa(i) mulai berdatangan seiring waktu menunjukkan pukul 07:55. Tinggal 5 menit lagi dosen pengampu mata kuliah hadis 1 akan datang. Kiya mengeluarkan buku binder dan penanya.
Tak lama Kiya dan teman-temannya menunggu dosennya telah memasuki ruangan. Dosen pun menjelaskan materi dengan tema salam dan menjelaskan secara rinci.
Saat dosen mempersilahkan mahasiswa(i)nya untuk bertanya, kiya mengangkat tangannya dan dosen mempersilahkan dirinya untuk bertanya.
“Baik pak terima kasih sebelumnya. Saya pernah mendengar ceramah bahwa seorang muslim dilarang memberi salam kepada yang non muslim dan ia mengatakan hadis ini shahih. Pertanyaan saya, apakah yang dikatakan penceramah ini benar adanya atau bagaimana pak ? mohon penjelasannya !”
Tanya kiya kepada dosennya. “Ok, pertanyaan yang bagus, kalau ustad hanya menyampaikan seperti itu dan hanya sampai disitu maka bisa dikatakan kurang tepat meski tidak salah sepenuhnya. Dalam Q.S. Az-Zukhruf:89, Rasulullah SAW diperintahkan oleh Allah untuk mengucapkan salam kepada orang-orang yang tidak beriman, ’maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan ucapkan, salam !’ Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa sebahagian orang-orang salaf melakukan hal itu, yakni mengucapkan salam kepada non-muslim. Mereka diantaranya adalah sahabat Nabi Ibnu Mas’ud r.a, Imam Hasan Al-Bashri, Ibrahim An-Nakha’i dan Umar Bin Abdul Aziz. Adapun hadis yang tadi anda terangkan itu memang ada dalam kitab shahih muslim, bunyinya : Laa tabdau al yahud wa la an-nashara bis salam, ‘ janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada yahudi dan nasrani ‘(H.R. Muslim dalam kitab Al-Adab). Dalam memahami hadis ini perlu hati-hati, harus memperhatikan situasi seperti apa dan konteks apa hadis ini lahir. Disini harus mengumpulkan teks-teks hadis yang serupa agar tahu makna sesungguhnya. Ini juga disebut jam’ul al-hadis (mengumpulkan hadis-hadis). Jika diteliti dengan saksama hadis ini diberlakukan saat perang. Salam sendiri yang di maksud adalah assalamu’alaikum yang mengandung jaminan keselamatan. Rasyid Ridha dalam tafsir Al-Manar-nya mengomentari hadis : ‘ janganlah kalian mengucapkan salam kepada mereka ‘. Disini tampak Nabi melarang memulai mengucapkan salam kepada mereka, karena salam mengandung jaminan keselamatan. Beliau tidak mewajibkan umat islam memberi jaminan keselamatan kepada mereka karena mereka sering melanggar perjanjian, apalagi situasinya saat perang. Ibrahim An-Nakha’i mengatakan ‘ janganlah kalian mengucapkan salam kepada mereka‘, itu jika kalian tidak memiiki alasan untuk memulai mengucapkan salam, baik itu memenuhi penghormatan, hak tetangga, atau bepergian, artinya jika ada kekerabatan, persahabatan, tetangga, bepergian dan kepeluan, maka boleh mengucapkan salam. Apalagi jika salamnya bukan assalamu’alaikum, misalnya good morning, hai, hello maka tidak ada masalah sama sekali. Semoga penjelasan ini dapat kalian mengerti. saya akhiri pertemuan kali ini dengan ucapan wallahul muafiq ila aqwamithariq, assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh“ jawab dosen sambil menutup mata kuliahnya.
Dengan serentak mereka mengucapkan
“wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh”
Dalam hati Kiya mengagumkan penjelasan dosennya yang sangat detail dan rinci lengkap dengan dalil yang ada didalam Al-Qur’an. Dosen beranjak dari ruangan Kiya dan teman-temannya.
Kiya membereskan buku binder dan penanya lalu memasukkan ke dalam tas. Ia dan sahabatnya keluar dari ruangan dan pulang karena informasi yang ia dapatkan bahwa dosen yang akan masuk mengajar dijam kedua berhalangan hadir.
Kendaraan mereka melaju dalam kecepatan sedang dan berhenti dimini market yang letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman Kiya.
Kiya masuk dalam mini market dan Rani hanya menunggunya diparkiran. Kiya membeli cemilan dan barang kebutuhan lainnya. Saat ingin membayar, ia bertubrukan dengan seorang pemuda yang sedang berbelanja dan juga ingin membayar belajaannya pada bagian kasir. Mereka saling minta maaf atas apa yang terjadi.
“ Maaf, saya tidak sengaja” kata pemuda itu
“ Tidak, seharusnya saya yang minta maaf soalnya saya yang tidak hati-hati” kata Kiya yang menunduk sambil memungut belanjaannya yang jatuh ke lantai.
Ia langsung meninggalkan pemuda itu. Ia membayar belajaannya dan berlalu pergi menemui temannya yang sedang menunggu diparkiran mini market.
“ Lama banget sih Kiya, saya sampai lumutan nih nungguin kamu”
“Iya maaf Ran, ayo kita balik ke rumah” dengan nada yang kikuk
“Kamu kenapa sih kikuk gitu kiya” (sambil menoleh kedalam mini market)
“ Udah nanti saya ceritakan”
Motor pun melaju dengan kecepatan sedang, 5 menit perjalanan, Kiya telah sampai dirumahnya dengan Rani. Ia mengucap salam bersamaan dengan Rani.
“Assalamu’alaikum“
“ Wa’alaikumsalam warohmatullah” jawab keluarga kiya bersamaan
“ Hay Rani, apa kabar ?“
“Hay juga kak Rizal, Alhamdulillah baik. Btw, kakak tambah ganteng aja nih setelah wisuda. Nikahnya kapan ?"
“Hehehehe bisa aja kamu Rani. Kalau persoalan nikah sih belum ada calon yang tepat“
“Iya Rani, bagaimana bisa punya calon istri kalau dianya hanya bilang belum ada yang cocoklah, belum ada yang sreklah, pokoknya ummi pusing ya akan abi (mengangguk) ?“ ceplos ummi Kiya
Mereka saling tertawa, Kiya dan Rani meminta izin naik ke kamarnya yang tepat berada disamping kamar kakaknya. Mereka bercerita tentang segala hal baik itu percintaan, kampus dan yang lainnya.
Dan tak lupa mereka bercerita tentang hal yang terjadi dimini market tadi. Kiya pun bercerita dengan sangat rinci dan tak lupa Rani juga menceritakan tentang laki-laki yang sekarang lagi dekat dengannya. Menjelang sore Rani pun pamit kepada Kiya dan keluarganya.
Keesokan harinya Kiya beraktifitas seperti biasa. Selesai perkuliahan ia dan Rani berangkat ke tempat yang telah dijanjikan dan mereka sampai ditempat itu lebih awal dari jadwal yang mereka janjikan. Rani meminta izin ke Kiya untuk ke toilet dan seperti biasanya Kiya mengisi waktu luangnya dengan menulis.
“ Asma-Mu mengetarkan jiwaku, alunan-Mu menentramkan qolbuku, nama-Mu dan Nabi-Mu tetap bertahta dalam akal dan qolbuku. Mengingat-mu adalah sebuah kecanduan yang menjalari jiwa-jiwa yang gersang tak tersiramkan. Namun siapakah aku, makhluk yang hina dina ini, tanpa-Mu, aku bukanlah siapa-siapa dan tak berarti apa-apa. Duhai yang terkasih, kasihku kepada-Mu tak terhitungkan. Kebahagiaanku itu dari-Mu dan cobaanku adalah ujian dari-Mu. Dan ku percaya, Engkau akan mengirimkan seorang pengeran berhati berlian untuk menuntunku ke jalan-Mu“
Sementara Kiya masih ingin menulis, Rani dan gebetan-Nya pun datang. Dengan sigap Kiya membereskan buku dan penanya. Rani dengan sangat bahagia bertemu dengan gebetannya sementara Kiya tampak biasa saja. Rani mempersilahkan Revan duduk dan menanyakan keberadaan temannya.
“Hay Rani, udah lama ? sorry ya saya telat“ kata Revan menyapa
“Ia ngak apa-apa kok Van santai aja, o iya kenalin dia sahabatku namanya Adzkiya tapi biasa di panggil Kiya“
"Kiya"
"Revan"
Revan dan Kiya saling mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Tak lama Alfin datang dengan style yang cukup menarik. Rina memperkenalkan Kiya kepada Alfin dan mereka sama-sama mengulurkan tangan dan saling bersalaman.
"kiya"
"alfin"
Alfin memperhatikan Kiya dengan seksama dan mengingat langsung kejadian yang terjadi kemarin dimini market.
“Kamu yang kemarinkan, yang kita saling bertubrukan dimini market itu ?” tutur Alfin dengan nada yang sedikit datar
“Aaah iiiya, saya yang kemarin tapi maaf kemarin kita saling bertubrukan, jadi dalam hal ini tidak ada yang salah“ jawab Kiya membela diri dengan nada yang gugup dan menunduk tanpa memperhatikan lawan bicaranya.
“ Iya juga sih “ timpal Alfin
Mereka pun saling bercengkrama dan berpisah saat adzan dzuhur telah berkumandang. Panggilan sang ilahi telah memisahkan pertemuan mereka.
Bagi Alfin itu adalah pertemuan yang sangat berkesan. Entah darimana ia bisa mengambil kesimpulan yang seperti itu dan untuk pertama kalinya ia merasakan hal yang berbeda. Seorang gadis yang tak sengaja bertubrukan dengannya. Seorang gadis yang menarik perhatiannya saat pertemuan dimini market kemarin.
Alfin berusaha dengan keras meluluhkan hati Kiya, ia terus berkomunikasi dengannya hingga Kiya luluh dengan pertahanannya, tapi Kiya tetap mempertahankan prinsip yang telah mendarah daging dalam dirinya. Saat itu Kiya mengangkat telfon dari Alfin.
“Assalamu’alaikum Kiya“
“Wa’alaikumsalam Fin, tumben kamu nelfon malam, biasanya kamu nelfon siang dan sore hari setelah sholat dzuhur dan ashar, ada apa ?“
“ Sebelumnya saya minta maaf Kiya karena saya tidak berani mengungkapkan perasaan yang telah menjalar selama ini dalam dadaku dan hanya mampu mengungkapkannya lewat telfon. Kiya selama ini saya menyukaimu bahkan mungkin sudah terbilang cinta. Rasaku tak terbendung, ketertarikanku kepadamu melebihi magnet yang menarikku ingin memilikimu seutuhnya. Rasaku kepadamu tulus Kiya, maukah kamu menjadi kekasih hatiku, pelipur nestapa kehidupanku ?"
Kiya gugup mendengar pengakuan Alfin tetapi ia menjawab dengan tegas tentang prinsip yang mendarah daging dalam dirinya. “ Fin, maafkan jawabanku bila tak sejalan dengan hatimu. Fin saya memiliki prinsip bahwa saya tidak akan menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak halal bagiku. Jika kamu mencintaiku karena Allah dan Nabi-Nya maka saya memperkenankanmu untuk datang meminangku, apabila ini berat untukmu maka mundurlah Fin karena saya mencari seseorang yang serius bukan yang hanya pandai dalam berkata-kata“
Alfin tersentak dengan jawaban Kiya tetapi ia mantap mengiyakan untuk melamar Kiya secepatnya.
Tiga hari setelah mereka berbicara, datanglah Alfin dan keluarganya untuk melamar Kiya. Kiya dan keluarganya sangat bahagia karena lamaran Alfin yang benar-benar serius ingin memiliki Kiya. Sahabat dan teman-teman kiya juga sangat bahagia mendengar kabar baik itu. Akhirnya ditentukanlah tanggal pernikahannya yang akan dilaksanakan bulan depan.
Saat-saat membahagiakan mereka lalui hingga sebuah musibah besar muncul satu hari sebelum hari pernikahan tiba. Seorang gadis cantik datang menemui Kiya dan keluarganya dengan isak tangis yang menyayat.
“Kiya engkau gadis yang baik hati dan keluargamu juga berhati malaikat. Tolonglah jangan kau langsungkan pernikahanmu dengan Alfin, saya sangat mencintainya melebihi diriku sendiri. Aku telah bersamanya selama 2 tahun sebelum kenal dengan dirimu. Tapi ketika dia mengenalmu, ia berubah dan meninggalkanku dalam derita dan nestapa batin. Saya sudah berusaha melupakannya tetapi tidak bisa Kiya, tolong jangan kau teruskan“ kata gadis cantik yang terisak itu.
Kiya hanya diam mematung tanpa menjawab gadis cantik itu.
“Nak, tapi kamu bisa mencari lelaki lain yang lebih baik dari Alfin, dia sudah meminang anakku didepan kami keluarganya, bahkan keluarga besarnya“ timpal ummi Kiya menanggapi gadis itu
“Nak kamu itu cantik, carilah yang lebih baik karena….” Kiya memotong pembicaraan abinya dan langsung mengatakan kepada gadis itu, "Datanglah besok jam 08:00 pagi sebelum acara akad dimulai, saya akan menunggumu disini tepat waktu. Pulanglah dan tenangkan dirim”.
Dengan susah payah Kiya menyelesaikan kalimatnya itu. Sedangkan kakaknya hanya diam mempehatikan adiknya itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Malam telah datang dengan membawa hawa suram bagi calon pengantinnya. Ia sedang berbicara dengan Alfin dan menyuruhnya datang tepat jam 08:00 pagi sebelum akad. Alfin pun mengiyakan.
Malam telah larut, pergulatan batin telah terjadi dalam dada. Kiya belum bisa memejamkan kedua matanya. Sayup- sayup ia mendengar isak tangis seseorang yang sedang mengaji dengan sangat merdu dan tajwid serta tartil yang tepat dan benar dengan sangat khusyu’.
Kiya keluar kamar dan mencari sumber suara itu. Ia berjalan ke kamar yang bersebelahan dengan kamarnya dan membuka sedikit celah untuk melihat orang yang mengaji itu. Ternyata ia mendapati kak Rizal yang sedang mengaji dengan isak tangis yang pecah diatas sajadah dihadapan Al-Qur’an. Kiya larut dalam aluanan suaranya dan berkata dalam hati, 'alangkah beruntungnya wanita yang bisa mendapatkan kak Rizal'.
Saat kak Rizal menyudahi bacaan Al-Qur’annya, perlahan-lahan Kiya menutup pintu dan kembali ke kamarnya.
Hari H telah tiba, Alfin dan gadis itu datang tepat jam 08:00 pagi. Sontak Alfin kaget dan melihat gadis itu. Sebelum Alfin berbicara, Kiya dengan cepat berbicara.
“Akad nikah tinggal sejam lagi aku minta kamu memberi penjelasan jujur Fin tentang wanita ini”
Alfin terdiam, mulutnya keluh tak dapat berbicara. Gadis itu hanya menangis menunduk dan Kiya menunggu jawaban dari pertanyaannya.
Lama Alfin terdiam, namun perlahan-lahan ia mendonggakkan kepalanya dan menjelaskan semuanya. Kini ia pasrah atas apa yang akan terjadi dengan pernikahannya ini.
“Dia Icha, kekasihku yang saya tinggalkan demi dirimu. Ia anak yatim piatu, ia juga cinta pertamaku. Tapi entahlah saya tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Sejak bertemu dengan dirimu dimini market, hatiku berdesir tak karuan dan rasa cintaku ke Icha mulai berkurang. Hingga akhirnya aku mantap melepaskannya ketika aku hendak melamarmu. Orang tuaku juga tahu tentang itu, mereka sudah mengingatkanku tapi saya perturutkan perasaanku dan bersikukuh memilihmu, maafkan saya kiya“
“Saya akan memaafkanmu asalkan kau menikahi Icha. Saya merasa menjadi wanita paling berdosa karena mendzolimi saudara seimamku sendiri Alfin. Saya malu kepada Allah dan Rasulnya. Saya mohon nikahilah dia”
“Tapi Kiya, aku sangat mencintaimu ?“
“Cinta tanpa ikatan akad nikah adalah cinta yang semu yang tidak perlu untuk diagung-agungkan. Karena cinta setelah akad adalah cinta hakiki karena Allah dan Rasulnya. Saya mohon Fin nikahi Icha“ ucap kiya dengan tangis yang tertahan
“Baiklah Kiya jika itu permintaanmu. Masalah keluargaku tak perlu kamu fikirkan biarkan saya yang menjelaskan hal ini padanya“
Mereka pun berpisah dan masing-masing menjelaskan kepada kedua orang tuanya.
Tanpa disadari oleh mereka, ternyata kak Rizal tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Tak terasa air mata kak Rizal meleleh mendengar ketegaran hati adik angkatnya itu.
Akad nikah Alfin dan Icha telah selesai. Terdengar dari belakang, ada suara yang sangat khas meminta hadirin untuk tidak ada yang bubar dari tempatnya.
Ia berjalan dari kerumunan orang hingga kedepan panggung. Sontak para hadirin kaget mengetahui yang berbicara itu adalah kak Rizal yang berjalan menghampiri ummi dan abinya dengan tangis yang tertahan.
“Ummi, abi izinkan saya menikahi putrimu yang berhati malaikat. Izinkan saya memiliki bidadari surga dunia dan akhirat. Bidadari yang lebih mencintai Allah dan Rasulnya dari pada isi dunia ini. Aku mencintainya ummi, abi. Selama ini saya memendam rasa dengannya. Maka dengan menjaga diriku dan dirinya, saya kuliah di Makassar sampai mendapat gelas sarjana. Ummi, abi aku mohon izinkan saya menikahi putrimu“
“Kami merestuimu nak tapi apa maharmu ?" kata abi Kiya
“Maharnya surah Ar-Rahman dan uang senilai Rp. 80.000.000. dan cincin emas putih. Uang itu saya dapatkan semenjak sekolah sampai kuliah dengan keringatku sendiri“ kata kak Rizal mantap
“Bagaimana Kiya, apakah kamu setuju dengan lamaran kakak angkatmu Rizal ?“
Sontak Rani dan para hadirin berteriak dengan antusias mengatakan TERIMA
“Kiya pun mengangguk dengan tersenyum bahagia”
Ijab qabul pun berlangsung, pernikahan yang terjadi hari ini adalah kebahagiaan bagi orang-orang yang merasakannya.
Dan Rani juga akan segera menikah dengan Revan, gitaris yang selama ini ia puja. Kebahagiaan yang sangat sulit terlukiskan dengan kata-kata.
SELESAI