nama ku adalah Clara, hari ini aku akan pergi ke sebuah desa di dekat Tasikmalaya, aku dan teman-teman ku akan mengadakan kemping dari sekolah sekaligus untuk mengunjungi desa yang membutuhkan...
pagi ini semua orang tampak senang dan berbincang-bincang untuk perjalanan yang akan kita lalui, namun teman ku kasih tampak tak seperti yang lainnya, ia terlihat panik dan gugup, aku pun menghampiri nya...
"sih..kamu kenapa? kok kayak gak happy kayak yang lain?". tanya aku
dia melihat keselilingnya nya sebelum menjawab pertanyaan ku.
"aku takut, aku punya firasat buruk". jawab panik kasih
aku tak menghiraukan perkataan kasih mungkin dia hanya merasa takut dengan apa yang seharusnya tak perlu di takuti.
pak Adi datang dan memberitahu kan kepada kami untuk segera memasuki bis yang sudah disediakan, aku, kasih dan Indri memilih bis 1, kami duduk bertiga seharusnya berempat namun bis kami kekurangan orang, yasudah kami duduk bertiga saja.
Indri tampak senang ia sangat suka melihat pemandangan yang hijau dan alami...
"hu...seru banget...sumpah si asik banget". kagum Indri
aku tersenyum melihat Indri yang bahagia, namun kasih tetap dengan raut wajah yang kaku dan tak nyaman, tak biasanya teman ku yang satu ini seperti ini.
kami melaju melewati pegunungan dan sawah-sawah sudah mulai banyak di tepi jalan, namun setelah beberapa meter kami memasuki sebuah jalan yang ditutupi oleh hutan dan tebing yang berada di tepi kanan dan kiri jalan.
kami begitu senang dan menikmati indahnya perjalanan, Samapi tiba-tiba bis yang kami naiki berhenti di tepi jalan, supir bis mengatakan bahwa bis nya mengalami kendala, pak Andi pun memerintahkan kami semua untuk turun dan menunggu sampai bis normal kembali...
aku, kasih dan Indri pun turun bersamaan, kami mencari batang pohon yang sudah terjatuh untuk duduk di atas batang tersebut.
"gak asik banget sih, segala bis nya ada kendala". keluh Indri
"ini belum seberapa". sinis kasih
kasih menjawab keluhan Indri dengan sinis, dan seolah-olah ia tau apa yang akan terjadi...
"terserah deh, yang penting gua mau cepat sampe". ketus Indri
aku hanya bisa terdiam dan menyaring ucapan kasih, aku menjadi waspada...aku takut suatu hal yang tak dinginkan akan terjadi...
beberapa menit kemudian pak Andi mengumpulkan kami, ia memberitahu bahwa desa yang akan kami kunjungi sudah tidak terlalu jauh, jadi beberapa dari kami akan mengendarai sepeda motor yang telah di bawa oleh beberapa warga desa tersebut...
aku akan mengendarai motor dan membonceng kasih, sedangkan Indri ia dibonceng oleh Rini.
sepanjang jalan motor yang dikendarai dan Rini tertinggal oleh rombongan yang lain, tapi Rini mengatakan...
"gak usah khawatir, santai aja kan ada GPS". ucap Rini
"iya bener tuh, nikmati aja perjalanan nya". tambah Indri
aku pun mengikuti perkataan Rini dan Indri, lalu kami tiba di perempatan jalan, aku tak menyalakan GPS, hanya Indri yang menyalakan GPS, ia pun mengarahkan kami belok kanan.
kami memasuki sebuah gardu, namun aku sedikit merasa tak nyaman, karena jalan semakin kecil, ditambah lagi sebelah kiri ku jurang sedangkan sebelah kananku tebing...
kami terus melaju sampai tak kami sadari hari sudah gelap, seketika motor yang dikendarai Rini berhenti di tengah jalan, aku pun menepi untuk sementara dan menghampiri Rini dan Indri begitu juga dengan kasih.
"motor nya kenapa?". tanyaku kepada Rini
"gak tau nih, ban nya bocor". jawab Rini
kasih melihat keselilingnya dan menatap kami...
"gak ada bengkel". dingin kasih
"yaudah kita jalan aja pelan-pelan sambil dorong motor". saran Indri
kami pun berjalan, akun dan kasih mendorong motor yang kami bawa, begitupun dengan Indri dan Rini...
beberapa meter kemudian kami melihat sebuah bengkel satu-satunya, dengan segera kami mengarah kan motor kami kesitu, bengkel tersebut tampak tua.
saat kami parkir di depan bengkel tersebut seorang laki-laki tua keluar dan menghampiri kami...
"motor nya kenapa neng?". tanya pria tua tersebut
"ini ban nya bocor pak". ucap indri
"sok atuh kadieu Ken, biar diganti". ucap pria tua tersebut
Rini pun memarkirkan motor tersebut di tempat bengkel, aku, Indri dan kasih menunggu sedangkan Rini ia asik mengobrol dengan pria tua tersebut...
beberapa jam kemudian motor nya sudah di ganti ban, aku dan yang lain segera bergegas sebelum hari semakin gelap...
namun tiba-tiba saja hp Indri tidak ada sinyal, kami pun menepi sebentar...
"gak ada sinyal guys, coba cek hp kalian masing-masing". ucap indri
aku pun mengecek handphone ku, dan benar tidak sinyal sama sekali..
"aku juga gak ada". jawab kasih
"Sama gua juga gak ada". tambah Rini
"terus gimana dong?". tanya diriku
"ikutin jalan aja dulu". saran Rini
kami pun melakukan motor kami kembali, namun jalan semakin gelap dan tidak ada penerangan, jadi kasih dan Indri menyalakan senter handphone nya untuk melihat jalan.
beberapa menit kemudian ada sebuah motor tua yang lewat, namun kami tak begitu jelas melihat pengendaranya, motor tua itu melaju meninggalkan kami, Rini berharap bisa mengikuti motor tua itu agar dapat penerangan, akan tetapi ketika tikungan motor tua tersebut menghilang...
Bulu kuduk ku berdiri, sedangkan kasih tampak cemas, lalu dengan berani aku menanyakan kepada kasih...
"kasih kalo kamu liat sesuatu bilang aja sama aku". ucap ku agar kasih mau memberi tau aku
namun kasih hanya mengangguk, setelah beberapa meter Rini menghentikan motornya di tepi jalan, spontan aku pun ikut mengentikan motor yang ku kendarai.
"kenapa lagi Rin?". tanya aku
"bentar dah bentar". ucap Rini
kemudian Rini turun dari motor dan menaruh sebuah kertas besar di sebuah pohon, sedangkan Indri hanya merasa aneh dengan tingkah Rini.
Rini kembali mengendarai motornya, begitupun denganku, selama perjalanan kasih hanya diam jok belakang... tapi tiba-tiba dia mengatakan sesuatu kepada ku...
"Clara...kita lagi diikutin Sama kereta kuda". ucap kasih dengan takut
aku yang mendengar ucapan kasih menjadi gemetar...
"yang bener kamu sih". ucap aku meyakinkan kasih
"bener aku gak bohong". gemetar kasih
karena penasaran aku pun melirik spion motor ku, dan benar saja aku tiba-tiba menjadi merinding, sebuah kereta kuda mengikuti kami, namun kereta kuda tersebut tampak seperti kuno, aku ingin berteriak namun aku takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
beberapa meter kemudian Rini, menghentikan motornya lagi di tepi jalan, dengan ragu dan takut aku pun menghentikan motorku dan menepikannya.
kasih dan aku sama-sama menoleh kebelakang, namun kami melihat kereta kuda tersebut melaju di hadapan kami begitu saja, rasanya jantung ku seperti berhenti berdetak ketika terlihat oleh ku tak ada yang mengendarai kereta kuda tersebut.
kasih langsung menatap ku dengan penuh ketakutan, aku pun berusaha tenang dihapannya...
sedangkan Rini ia menghampiri sebuah pohon dan mengambil sebuah kertas besar lalu membawa nya kehadapan kami...
"sumpah! kita dari tadi cuma muter doang". ucap Rini
"yang bener lu rin". panik Indri
"serius...ini kan kertas yang tadi gua taro di pohon sebelumnya nya, dan liat ini kertas yang sama". jelas Rini
kami pun saling tatap menatap, Indri mulai merasa takut, sedangkan aku dan kasih tak memberi tau mereka apa yang kami liat...
"terus gimana dong?". tanya Indri penuh takut
"coba sekarang gantian, biar Clara yang jalan duluan". saran kasih dengan ragu
"emang nya ngaruh apa?". tanya Rini
"setau aku, kalo kita dihutan terus bawa motor dan ngalamin hal kayak gini berarti itu berlaku bagi Yang mulai duluan, sekarang kita ganti jadi clara yang duluan, otomatis pasti bakal keganti". jelas kasih
sebenarnya aku tak begitu mengerti dengan apa yang diucapkan oleh kasih, tapi apa salah nya jika kita mencoba...
kami pun jalan kembali, setelah beberapa meter kami menemukan sebuah kedai yang dari tadi tidak kami temukan, aku hendak berhenti namun kasih melarang ku...
"jangan raa, feeling aku gak enak". ujarnya
aku pun menuruti kata-kata nya, tetapi dari belakang Rini dan Indri memanggil kami...
"Clara...kasih...". panggil mereka
aku pun mundur dan menghampiri mereka.
"mampir dulu, laper nih". ucap indri
"iya gua juga cape, haus lagi". tambah Rini
aku juga merasakan apa yang mereka rasakan tapi, aku takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi... kasih memberi kode jangan...
tapi mereka berdua sudah tampak lemas dan lesu, aku pun tak bisa melarang mereka dan ikut ke kedai tersebut.
kami disambut oleh seorang pelayan wanita yang sedang membereskan sebuah meja yang tampak baru saja dipakai, tapi aku tak melihat ada orang selain kami dan pelayan tersebut...
"mau pesan apa mbak?". tanya pelayan tersebut
"nasi ada gak". tanya Rini
"nasi goreng adanya mbak sama mie goreng". jawab pelayan tersebut
"oke deh persen nasinya dua mie nya dua, trus minumnya air putih aja". ucap Rini
kami pun menunggu di meja makan, aku melihat kasih yang tampak gelisah, sedangkan Indri tak sabar menunggu makanan datang, aku dan Rini saling tatap menatap, seperti nya kami melihat hal yang sama.
beberapa menit kemudian pelayan tersebut datang dan membawa makanan dan minuman yang di pesan...makanan tersebut di taruh dan peyalan tersebut berjalan dengan perlahan meninggalkan kami, entah mengapa kami semua fokus melihat pelayan yang pergi Tampa basa-basi...
kami pun mengabai kan pelayan tersebut dan akan memakan makanan tersebut, tapi sungguh tak disangka kami sangat terkejut dan merasa jijik, karena makanan yang ada di piring tidak ada yang ada hanya belatung dan cacing..
Indri langsung muntah melihat itu semua, kemudian kasih berteriak, sehingga kami terkejut dan melihat ke arahnya...
"kenapa?". tanya Rini
kasih menunjuk kearah pelayan tersebut...
"hihihihi".
"hah....". teriak kami serentak
ternyata pelayan tersebut adalah sosok wanita yang berambut panjang dan memakai gaun berwarna putih, dan seluruh wajahnya di penuhi belatung...
dengan cepat kami berlari dan langsung menaiki motor, kami mengendarai dengan cepat dan menaikan gas...
kasih mengatakan sesuatu....
"kuntilanak nya terbang raa". gemetar kasih
aku melirik spion motor dan melihat kuntilanak tersebut melayang tepat di belakang Rini dan Indri, aku pun berteriak dan melajukan motor yang ku kendarai...
"gas Rin, gas...". teriak ku
Rini merespon dengan cepat ia langsung melajukan motor ya menyusul ku, sedangkan Indri ia menutup matanya dan menangis ketakutan...
kami terus melakukan motor kami dengan cepat, sampai kami tiba disebuah perempatan jalan, yang menurutku ini yang kami lewati sebelumnya, karena kamu keluar dari jalan yang ada gardunya...
dengan spontan aku membelokkan motor kekanan, begitupun juga dengan Rini yang berada dibelakang ku...
setelah beberapa meter jalanan nya tampak tak sekecil jalanan yang tadi kami lalui, ditambah lagi mulai ada beberapa rumah warga...
kami terus berjalan sampai ada sebuah mobil kolbak yang melaju disamping ku, pengendara mobil tersebut adalah seorang bapak-bapak, ia menyapa ku dan menyamai mobilnya dan motor yang ku kendarai...
"mau kemana neng?". tanya bapak tersebut
"desa ciadem". ujar ku
"oh...sok atuh ikutin bapak, kebetulan bapak juga mau kesana, ngantar barang". jawab bapak tersebut
aku pun mengikuti mobil kolbak tersebut, dan beberapa meter kemudian suasana sudah asri dan segar, ternyata kami sudah Sampai di desa ciadem, sementara bapak tersebut melanjutkan perjalanannya.
"makasih pak". teriak aku dan kasih
akhirnya aku dan yang lain mengikuti rute yang diberitahu oleh pak Adi, kami pun sampai di desa ciadem, Indri dan Rini langsung masuk ke penginapan dengan takut dan gemetar, sekilas ku lihat Indri masih menangis ketakutan.
aku dan kasih pun masuk dengan perasaan lega dan bersyukur, walaupun sebenarnya aku sepanjang jalan sangat takut dan bingung, tapi agar kasih tenang aku pun menyembunyikan rasa takut ku.