Hosh!!!Hosh!!!
"Kenapa ada orang yang kecebur di sini sih?"Tanyaku, Menarik seorang pria yang tercebur kedalam air terjun.
Air terjun itu merupakan tempat wisata yang berada didekat hutan. semakin melangkah kedalam hutan semakin melihat hal yang menakjubkan. karena bebatuan yang dihiasi air itu bertingkat-tingkat menjadi hal yang menarik hingga jadi tempat wisata.
Mola Tajiya merupakan gadis desa yang tengah mencari tanaman herbal untuk dijual olehnya. jalan pulang yang dilewatinya tepat diair terjun. Mola mengira bahwa Air terjun itu sepi karena air yang mengalir itu sedikit kering. namun hal aneh terjadi.
Mola melihat seseorang terapung diair terjun tinggi, dan sedikit lagi jatuh kebawah. Jika Ia telat menangkap orang tersebut, bisa-bisa Air terjun itu akan ditutup.
Dan sekarang Ia telah menolong seseorang dengan membawa orang tersebut kerumahnya.
"Mola...Mola, Kenapa tolong ini orang sih?"Benak Mola yang menyeka wajah seorang pria. Mola menatap kearah wajah tersebut, bulu mata panjang, bibir tipis dengan warna merah kemudaan, lalu rambut yang basah. sangat tampan membuat Mola memerah melihatnya.
"Mola hilangkan pikiranmu itu"Benak Mola yang bergegas untuk pergi.
Krek!!!
"Kenapa Nak?"Tanya sang Ayah yang baru saja pulang kerumah. Ayah Mola bernama Roji Tajiya. Pria yang Mola sendiri bertanya-tanya kenapa Ayahnya ini terlihat begitu tampan padahal usianya sudah 40 keatas.
"Ayah..Ini"Menunjuk kearah Pria yang berbaring, Mola melihat reaksi Ayahnya.
"Oh, Kau apakan dirinya Mola, hingga basa kuyup, Apa kau meracuninya?"Ucap sang Ayah yang meletakkan karung berisikan kayu bakar.
Mola yang mendengarnya langsung menatap kearah Ayahnya dan berbicara dengan nada yang tak suka "Tidak, Ngapain Aku repot-repot membawa pulang ini orang, kalau Aku ingin membunuhnya"Ucap Mola dengan melangkah pergi menuju kedapur untuk meletakkan handuk yang dikenakan olehnya tadi.
"Yeah Siapa tahu kan gitu..."Ucap sang Ayah yang melangkah mendekati seorang Pria yang berbaring dengan keadaan pingsan.
"Lalu dimana Kau menemukannya Mola?"Tanya Ayahnya yang tahu Mola sudah ada didekatnya.
"Dia berada di bebatuan Air Terjun Yah..Ku pikir dia sudah mati tadi"Jawab Mola dengan meletakkan secangkir teh hangat untuk sang Ayah.
"Dilihat-lihat ini Anak masih muda, Kalau Ia mati kasihan sekali"Ayahnya menyeduh teh hangat itu sambil menyentuh wajah Anak muda yang pingsan didepannya.
"Untuk apa kasihan Ayah, Lagian itu udah garis kematiannya, kalau dia memang sudah seharusnya Mati, ya mati aja"Ucap Mola dengan santai.
Tap!!!
"Agh, Sakit!!"Mola menatap Ayahnya yang memukul kepalanya. Ayahnya melangkah menuju kearah Kaki anak muda yang masih pingsan.
"Kau ini, Jangan berbicara yang benar begitu"Ayahnya menekan titik bagian tertentu di telapak kaki Anak Muda yang terbaring.
"Cih"Mola menatap kearah lain. Ayahnya kembali berdiri dan mendekat kearahnya.
"Nak, Jika Ia bangun, peras aja uangnya,Siapa tahu Dia punya banyak uang...."Ayahnya ingin tertawa saat berbicara seperti itu, tapi Mola sudah memutarkan jarinya dipingang sang Ayah yang langsung meringit kesakitan.
"Ouch..sakit..nak Sakit"Ayah Mola langsung bergegas pergi meninggalkan Mola yang telah melepaskan cubitannya.
"Kau harus merawatnya Nak, siapa tahu dapat imbalan"Teriak Ayahnya yang keluar rumah. Ayahnya itu bukan Pria yang sudah kerja tinggal diam, atau istirahat. Ayahnya adalah Pria yang suka berkerja. Jadi jika malam hari tak nampak, Berarti tak ada istirahat untuk Ayahnya. karena, Cari uang itu sulit dan perlu perjuangan.
Mola mendengus mendengar teriakkan itu, Ia memilih untuk membersihkan diri meninggalkan Pria yang pingsan dengan tenang.
-
"Uh..."Mata yang berkedip-kedip memindai sekelilingnya. melihat hanya sekumpulan kayu yang terlihat tua bahkan atapnya saja ada yang bolong-bolong.
"Rumah Miskin siapa ini?"Benaknya. Ia bergegas bangun dan duduk dengan merasakan kepala yang sakit.
"Aku dimana?,Lalu Kenapa Aku disini?"gumannya sambil lagi-lagi memindai sekeliling hingga...
"Oh, Sudah bangun si orang bunuh diri"Ucap Mola. Ia melangkah mendekati Pria yang mundur karenanya.
"Kenapa mundur Pak, Oh ya Kau ini mau bunuh diri atau Apa Pak, Kok bisa-bisa diair terjun segala, Kau mau bunuh diri itu di tengah hutan, biar dimakan serigala atau harimau Pak"Tutur Mola yang kini memilih bersandar didinding. tepatnya didepan Pria yang menunduk kan kepalanya.
"Kenapa Nunduk Pak, Bapak takut lihat Saya ya"Ucap Mola. Mola tak sadar bahwa dirinya baru saja selesai mandi, dengan berbekal kain yang membalut tubuh, Ia mendekat dan menghampiri Seorang Pria.
Pria yang ada didepan Mola mau tak mau harus menundukkan kepala. Ia pun bahkan tak bisa menjawab pertanyaan Mola.
"Sudahlah, Kayaknya Bapak masih Syok dengan bunuh diri ala Bapak, Yasudah Aku kekamar dulu"Ucap Mola meninggalkan Pria yang akhirnya bisa bernafas lega.
Setengah jam kemudian....
"Jadi, Siapa bapak ini?"Tanya Mola. Pria yang melihat Mola sudah berpakaian, baru bisa mengangkat kepalanya.
"Aku...Aku"Pria didepan Mola menjawab dengan wajah yang mengerut. membuat Mola ikut mengerutkan wajahnya.
"Aku..Oh nama Bapak Aku ya, gitu?"Mola sebenarnya berniat bercanda namun dilihat diwajah Pria didepannya. tampak begitu serius.
"Sepertinya, Bapak lagi belum ingat ya..Yasudah istirahat saja pak, Oh ya..."Mola melangkah pergi lalu datang kembali membawa pakaian sederhana untuk orang didepannya.
"Ini Pak, Mandi dulu lalu kemudian Bapak makan dan kemudian berpikir lagi, Siapa bapak, asalnya dan kenapa ada diair terjun"Ucap Mola. Ia menunjukkan kamar mandi dimana lalu melangkah pergi meninggalkan Pria yang terdiam tak bisa berkata apa-apa.
"Kenapa Aku tak bisa mengingatnya?"Ucap Pria tersebut.
-
Diruang tamu
Mola, Ayahnya dan Pemuda yang kini terlihat begitu tampan. Mola yang melihatnya tak bisa berkedip.
"Berkedip Mola, nanti tuh mata kering baru tahu"Ucap Ayahnya.
"Mola, Ayahmu ini tampan, tidak pernah tuh kau lihat sampai seperti itu"Ucap Ayahnya lagi. Mola langsung menjawab "Ayah, pikir usia..Meski Ayah tampan, Usia Ayah sudah berapa...Aku masih ingin yang dua puluhan"
Mendengar ucapan anaknya, Ayahnya langsung menyentuh dadanya. "Maafkan Anakku yang berbicara tampak berpikir"Ucap Ayah Mola.
meski berbicara demikian, tetap saja tak dihiraukan oleh Pria didepan mereka.
"Jadi, Siapa namamu Nak"Ucap Ayah Mola yang kini mulai serius.
"Namaku, Aku tak tahu"Ucap Pria didepan mereka. Mola dan Ayahnya mengerutkan alis.
"Lalu, Apa kau ingat bagaimana bisa disini atau mungkin alamat rumahmu?"Tanya Ayah Mola lagi dan jawaban yang didapat mereka sama.
mendengar hal tersebut, Ayah Mola menyimpulkan "Dia sepertinya lupa ingatan"
"Loh, Seharusnya Kepalanya terbentur agar bisa lupa ingatan, Ketika Aku membersihkan kepalanya tak ada tuh bekas luka"Ucap Mola dengan santai menatap kearah Pria yang ada didepannya.
"Yeah kita tak tahu kejadiannya..Lagian"Ayah Mola mendekatkan dirinya kearah Putrinya.
"Gunakan kesempatan ini, Kau harus mengunakan tenaga pemuda untuk membantumu, selama Ia tak ingat itu malah bagus untukmu"Bisik Ayah Mola kepada Mola yang langsung mendapatkan ide cemerlang.
-
Dan seperti apa yang diucapkan oleh Ayahnya. Mola membuat seorang pemuda yang tak dikenali membantunya. seperti mengendong Kayu bakar, lalu membantunya memotong kayu dan sampai membantu Mola memasak.
hari terus berlalu hingga 1 bulan kemudian.....
"Taruh disini?"Tanya Arta, Pria yang kini dipanggil Arka oleh Mola. karena tak tahu nama aslinya jadi lebih baik buat nama baru.
"Iya..Oh ya Arta, Bisa Kau membantuku lagi?" Tanya Mola yang fokus memetik tanaman herbal.
"Apa itu, Mola?"Tanya Arta yang menatap kearah Wanita yang memunggunginya.
"Bisa Kau cari buah disana..ada Buah berry yang tak beracun, bagus untuk cemilan nanti malam"Mola menujuk arah dimana Berry itu ada. Arta yang melihatnya mengangguk. Ia bergegas menuju kearah tersebut.
Sambil berjalan, Arta tersenyum melihat pohon yang penuh dengan berry. Yeah Berry ini kesukaan orang yang disukainya. siapa lagi kalau bukan gadis yang tadi menyuruhnya.
Arta menaruh hati kepada Gadis yang Ia sendiri tahu, bahwa gadis itu penuh kesederhanaan. dan ditambah sikap Gadis itu penuh kebarbaran membuat Arta menyukainya.
Sambil tersenyum membayangkan wajah gadis yang disukainya,Arta tak merasakan seseorang berjalan mendekat kearahnya, hingga...
Srekkkk!!!!
Arta menarik tangan orang yang mengenggamnya dan berniat untuk menghempaskan orang tersebut.
"Broo..Berhenti, Gua teman lo"Ucap Seseorang yang membuat Arta langsung berhenti.
Orang tersebut memeriksa tangannya yang hampir patah karena ulah Arta. "Lo kenapa sih, Dan lagi..OMG, Lo ngapain pakai Baju begini, lihat style cool lo..Ih, dan lagi wajah lo, Om..May..Gattt Bro, Kok lo engak dingin lagi sih?"
Arta mendengar ocehan orang didepannya mengerutkan alisnya. "Kau, Siapa?"Tanya Arta kepada orang cerewet didepannya, meski lebih cerewet Mola dari pada Orang didepannya ini.
"Eh, jangan bilang...Kata Gusyi, Kau benar-benar akan hilang ingatan?"Tanya Orang didepannya. Arta merasa orang didepannya ini mengenalnya.
"Apa Kau tahu diriku?"Tanya Arta yang masih fokus menatap orang didepannya. ingatannya juga mulai berubah.
"Oh, Yes Bro, Gua sahabat Lo, Nama Gua...Rey"Ucap Rey. Arta yang mendengarnya terdiam.
"Rey?...Rey?"Mengulang nama tersebut, Arta mengerutkan alisnya.
"Aku tak ingat sama sekali"Ucap Arta yang kemudian menatap kembali kearah Pria didepannya, yang bernama Rey.
"Sudahlah Bro, jika Lo engak ingat tak masalah..Oh ya lebih baik Lo pulang dan melakukan pengobatan"Usul Rey yang mengajak Arta untuk kembali. namun tangan Rey terhenti oleh seseorang.
"Pengobatan? dan Bro?..Kau siapa?"Tanya Mola. Ia melepaskan tangan Rey lalu berdiri didepan Arta.
Rey melihat hal ini langsung menyungingkan senyumnya. "Nah tepat banget nih, Lo..Siapa nama lo?"Tanya Rey.
"Lo, la, lo, la..Pala Kau, lola..Engak perlu pakai bahasa kayak gitu, aneh kedengarannya..Pakai Aku dan Kau aja"Mola menatap Pria yang kini sedikit mengerutkan alisnya.
"Oke baiklah, Jadi Kau ini siapa?"Tanya Rey.
Mola menjawab "Manusia"
"Bukan itu maksudku, namamu"Tanya Rey kembali.
"ngomong dari tadi..bilang nama kek, Nama ku, Mola"
Rey yang mendengarnya langsung mengangguk. "Jadi, Mola ini yang nyelamatin Widan Risha.."Tanya Rey lagi.
Mola mengeleng mendengarnya. "Siapa Widan Risha, Aku hanya tahu Arta"Ucap Mola menjawab pertanyaan Rey.
Rey yang mendengarnya langsung mengangguk paham. "Oh jadi Namanya Arta..heheh, Sebenarnya nama aslinya adalah Widan Risha..Merupakan putra dari Tuan Wilda Risha, dan seorang CEO dari Perusahaan ternama"
"Lalu?"Mola bertanya acuh.
"Aku ingin membawanya kembali, Karena saat ini Ia perlu perawatan..Jika tidak ingatannya akan benar-benar terhilang"
"Oh, jadi Apa Aku sebagai penyelamatnya mendapatkan sedikit hadiah gitu, atau mungkin imbalan?"
"Tentu, Kami akan memberikannya"Rey bersikap ramah kepada Wanita.
"Baiklah, Kau bisa membawa Arta"Ucap Mola yang melangkah menjauh, Ia membawa bakul yang berisikan buah berry.
"Mola,Aku tak ingin ikut"Arta langsung bergegas mendekati Mola. gadis yang disukainya.
"Kenapa?...Dia mengenalmu,Kau harus kembali..memang sudah saatnya"Ucap Mola yang membuat Arta terdiam.
Karena Mola benar-benar serius, Arta berhenti melangkah dan tak mengikuti Mola yang mulai menjauh. dan sebelum Mola menghilang, Ia kembali meminta imbalan yang langsung dikasih oleh Rey. lalu menghilang dari pandangan Arta.
-
Mola terdiam ditempatnya. Setelah kepergian Arta suasana menjadi sepi. Ia bahkan kadang-kadang bicara sendiri, karena biasanya Arta yang akan mengobrol dengannya.
Ayahnya pulang dalam keadaan lelah. membersihkan diri dan mengisi perutnya. lalu kemudian duduk didepan Putri semata wayangnya.
Ayahnya tahu, Putrinya ini sedang bersedih berat. karena sudah seminggu kepergian Arta.
"Mola, Kau tak ingin cerita kepada Ayahmu ini, alasan Arta pergi kenapa?"Tanya Ayah Mola. Mola belum menceritakan kenapa Arta pergi, Mola hanya memberi tahu bahwa Arta sudah tak ada lagi. Ayahnya menduga Arta mungkin sudah dimakan hewan buas.
"Ayah, Arta pergi karena sudah dijemput"Ucap Mola yang langsung dipotong oleh Ayahnya.
"Astaga..Dijemput malaikat maut, yeah takdir kematian memang tak bisa dihindari"Ucap Ayahnya yang mengurut dada.
"AYAH!!!Arta tak meninggal..Arta masih hidup.."Mola memperjelas ucapannya.
"Oh, begitu syukurlah"Ayah Mola kembali menatap Putrinya. "Jadi, katakan apa yang terjadi?"Tanya Ayah Mola lagi.
"Arta dijemput temannya, lalu Ia mengatakan bahwa Arta itu adalah Widan Risha dan merupakan Putra dari Wilda Risha"Ucap Mola yang kemudian berdiam sejenak. Ia melanjutkan
"Mola sebenarnya senang Arta ketemu orang yang mengenalnya, namun hati Mola serasa sakit karena melihatnya pergi..Apa lagi Mola mengambil keuntungan..Ayah, Mola mencintai..."
"JANGAN PERNAH KAU MENCINTAI ORANG TERSEBUT MOLA"Ayah Mola menatap tajam kearah Putrinya. Mola yang belum pernah ditatap seperti itu langsung terdiam.
"A..Ayah?"memberanikan diri, Mola menatap Ayahnya yang kini terlihat tenang.
"Ayah hanya tak ingin Kau disakiti, siapa tahu ternyata mereka orang jahat..Dan satu lagi bersiaplah..Ayah akan membawamu kesuatu tempat"Ucap Ayah Mola yang melangkah pergi. Mola mengangguk dan langsung bersiap, meski tak tahu kemana Ia dibawa.
-
"Bagaimana keadaan Putraku, Dokter?"Tanya Tuan besar Wilda Risha yang menatap kearah dokter didepannya.
"Tuan Muda Widan akan baik-baik saja..Ingatannya juga sepertinya akan pulih"Ucap Sang Dokter.
"Namun, ada satulah..Apa diantara kalian mengenal Mola?"Tanya sang Dokter lagi. Ayah Widan langsung mengeleng. sedangkan Rey yang merupakan Sahabat Widan langsung menjawab.
"Ia gadis hutan, maksudnya gadis desa yang menemukan Widan dalam keadaan amesia"ucap Rey.
Ayah Widan menatap kearah Dokter untuk meminta penjelasan lebih lengkap.
"Begini, Tuan Muda Widan selalu menyebut namanya setiap Saya memeriksanya..Dan siapa tahu orang itu yang bisa membantu Tuan Muda sadar adalah dirinya"Ucap Sang Dokter menjelaskan.
Ayah Widan langsung mengangguk paham. Putranya Widan Wisha mengidap penyakit aneh, penyakit ini akan dihadapi oleh Putranya ketika seseorang atau mungkin wanita mendekatinya. yaitu penyakit hilang ingatan yang meriset memorinya sampai akar.
Alasan kenapa Widan sampai hilang ingatan karena saat itu, Ia diundang keacara air terjun yang akan dikunjungi. banyak rekan disana dan tentu saja wanita juga ada. namun seseorang mendekat kearah Widan dan berhasil membuat Widan pingsan tanpa diketahui orang-orang karena saat itu, keadaan Widan tepat orang-orang memutuskan untuk kembali.
Dan jadilah sekarang, Widan harus dirawat dan sebisa mungkin mengembalikan ingatannya. Ayah Widan mengira akan sulit, tapi ternyata tidak. Widan mampu mengingat kembali semua memorinya. dan semua itu berkat wanita bernama Mola.
"Baiklah, Sepertinya wanita bernama Mola ini memang ditakdirkan untuk putraku, Rey bantu cari dirinya"Ucap Ayah Widan yang langsung dianggukkan oleh Rey. Rey menjalankan tugasnya, meninggalkan Dokter dan Ayah Widan.
-
Tiba ditempat, Rey menatap gubuk tua yang sudah tak ada apa-apa disana. bahkan kehidupan pun tak ada.
"Dimana Dirinya?"Guman Rey. Ia melangkah untuk memeriksa namun tak ada yang ditemukan olehnya.
Karena tak ada hasil, Rey memutuskan untuk kembali dengan mobilnya. Dan melaporkan hasil pengamatannya.
"Bagaimana bisa...?"Tanya Ayah Widan. sambil berjalan mondar mandir yang membuat Rey pusing melihatnya.
"Paman, bagaimana kalau melakukan sayembara untuk mempermudahnya?"Usul Rey.
"Tidak, Kau tahu Gusyi bukan?..Dialah penyebab Widan menjadi hilang ingatan, Aku tak ingin mengambil resiko untuk Putraku"Ucap Ayah Widan.
Gusyi adalah musuh Widan, seorang Pria yang terobsesi dengan kekayaan. Dengan menjatuhkan Widan. Gusyi akan menjadi orang yang tak ada tandingannya.
Mendengar nama Gusyi, Rey mengangguk. Ia sudah mencari jejak Gusyi namun belum menemukannya.
"Baiklah Paman, Aku akan mencoba mencari didekat desa yang ada disana"Ucap Rey yang dianggukkan oleh Ayah Widan.
-
"Kenapa Ayah begitu marah, bahkan sampai membawaku pergi?"Benak Mola.Sudah lebih dari beberapa hari Ia meninggalkan gubuknya dan kini tinggal dirumah asing. entah rumah siapa tapi dilihat-lihat begitu indah dimata Mola.
meski begitu, Ia tak bisa menghilangkan pemikirannya tentang sikap Ayahnya itu. pasti terjadi sesuatu dengan Ayahnya hingga begitu marah.
"Kenapa ya..Apa Ayah ada hubungannya dengan arta?"Benak Mola. Ia ingin berpikir lagi tapi matanya yang sudah tinggal beberapa watt memilih untuk tidur. besok Ia akan kembali berkerja. Yeah Mola sekarang berkerja di sebuah kedai teh yang tak jauh dari rumahnya.
Pagi harinya...
Mola tiba ditempat kerja, Ia bergegas melakukan tugasnya dan menyiapkan segala yang ada.
hingga pelanggan pertama pun tiba..
Ting!!!
"Selama datang di Kedai Teh ini..Silahkan duduk Tuan"Sambut Mola yang menuntun Pria berjas. Mola yang sudah mengenal hutan kini mengenal orang-orang berpakaian, pantas saat Ia melihat Rey waktu itu, Ia kaget dengan pakaian mereka yang sebenarnya engak ribet tapi dilihat sangat ribet.
Mengingat Rey, membuat Mola mengeleng sesaat. Ia menyiapkan catatan kecil untuk mencatat apa yang akan dipesan oleh orang didepannya.
"Pesan apa Tuan?"Tanya Mola dengan nada yang ramah.
"Pesan Anda"Ucapnya yang membuat Mola terteguh dan langsung menatap kearah Pria yang terlihat asing olehnya.
"Maaf..Saya engak di jual pak"Mola mengerutkan alisnya. Ia menatap Pria yang kini tersenyum dengan wajah yang menjijikkan bagi Mola.
"Pantas saja Widan betah dihutan, karena bertemu denganmu ya?"Pria itu berdiri dan menyentuh dagu Mola. Seumur hidup Mola, baru pria ini yang berani menyentuhnya.
Pulpen yang dipegang oleh Mola langsung menyodor didepan mata Pria yang kini terteguh melihatnya.
"Pak, Jangan bertingkah...Disini kedai Teh, bukan Kedai para Teteh"Ucap Mola yang bermaksud menyinggung para si sudahlah.
"Heheh..Bagus juga"Ucap Pria asing itu, Ia bergegas untuk menangkap Mola namun Mola sudah dilindungi oleh seseorang.
"Gusyi, akhirnya Kita bisa bertemu"Ucap Rey yang kini menjauhkan Mola. Ia berdiri tepat didepan Pria yang menyentuh Mola.
"Oh ya..Hai Mola, tangan bagian mana yang menyentuh mu?"Tanya Rey kepada Mola yang mengerutkan alis.
Meski begitu, Mola tetap menjawabnya "Tangan kanan, jempol dan telunjuk yang digunakannya"Lengkap aduan Mola kepada Rey.
Rey mengangguk, tangannya melambai dan beberapa orang menangkap Gusyi. Gusyi memberontak. namun sia-sia.
"Kita akan bertemu nanti, namun ingat Tangan kanannya harus bersih ya.."Ucap Rey kepada orangnya yang kemudian melangkah membawa Gusyi pergi.
"Yeah, Akhirnya Aku bisa menangkap Si Gusyi ini"Benak Rey. Ia kembali fokus kearah Mola yang kini berdiri menatap bingung.
"Kenapa Kau disini, Mola?"Tanya Rey. penasaran aja didirinya. bagaimana bisa ada gadis hutan, maksudnya gadis desa disini.
"Aku..Ayah membawaku kesini"Jawab Mola. memang benar, Ia dibawa oleh Ayahnya kesebuah kota kecil.
"Baguslah Aku menemukanmu, ayo ikut Aku"Rey ingin menarik tangan Mola, namun pulpen yang digenggam Mola menatap kearah Rey.
"Maaf, Mari ikut Aku"Membentangkan tangannya, Rey menuntun Mola. Namun Mola tak bergeming.
"Kemana, dan memangnya untuk apa Aku ikut?"Tanya Mola. Ia tak diculik kan.
"Kita akan tahu nanti, tenang saja..Setelah bertemu dengannya, Kau akan memutuskan akan tinggal atau pergi"Ucap Rey. Mola yang penasaran mengangguk dan ikut pergi bersama Rey. meninggalkan kedai Teh yang dimana terlihat Ayah Mola.
-
Tiba ditempat..
Mola dibawa kedalam rumah yang begitu megah, bahkan Mola begitu tercenga melihatnya.
"Rumah siapa ini? besar banget..eh bagaimana cara bersihkan rumah sebesar ini, Aku saja seorang diri pasti perlu belasan hari"ucap Mola yang menatap sekelilingnya.
Rey mendengar ocehan tersebut hanya bisa mengeleng mendengarnya. mereka terus melangkah hingga akhirnya tiba ditempat.
Mola menatap kesegala arah hingga matanya tertuju kepada pria yang tertidur. Rey meninggalkan Mola berada dikamar.
Mola menuntun dirinya untuk duduk disamping Pria yang dikenalinya. Ia memberanikan diri menyentuh wajah Pria yang ada didepannya.
"Arta..bagaimana kabarmu?"Tanya Mola yang mengusap pelan wajah Widan. Ia bahkan menangis ketika melihat apa yang ada didepannya.
"Kenapa..Kenapa, Aku harus jatuh cinta kepadamu sih?"Ucap Mola menundukkan kepalanya. Ia masih menyentuh wajah Widan.
"Sial..Tak seharusnya Aku kesini..Ayah pasti akan marah"Mola ingin meranjak bangun. namun tangannya sudah digenggam oleh seseorang.
Mola menatap kearah tangannya dan mendapati Artanya tersenyum menatap dirinya.
"Kau..Akhirnya Aku bisa melihatmu"Widan ingin bangun namun Mola langsung menahan dirinya.
"Berisirahatlah..Dan Kenapa Kau tidur disini? apa Kau sedang ingin tidur panjang seperti koala yang suka tidur itu?"Mola mengetahui alasan Ia disini karena Rey menceritakan bahwa Seseorang asik tertidur bahkan tak ingin bangun. dan berakhirlah Mola disini.
"Apa Kau akan pergi Mola?"Tanya Widan yang menatap kearah Mola. Mola bingung mau menjawab apa. saat Ia ingin menjawab..
Brak!!!
"MOLA!!!"
Mola membalikkan tubuhnya, Ia menatap Ayahnya yang memerah karena amarah. mendekat kearahnya dan menarik dirinya.
"AYAH SUDAH KATAKAN JANGAN PERNAH BERTEMU DENGANNYA"Ayah Mola menarik Mola hingga membuat Widan yang mengenggam tangan Mola terjatuh dari kasurnya.
"Arta!!!"Mola menghempaskan tangan Ayahnya dan menghampiri Widan yang dituntun Mola untuk kembali berdiri dan duduk disisi ranjang dengan Mola yang menyangah tubuhnya.
"MOLA..DENGARKAN AYAHMU, KEMARILAH"Ayah Mola masih emosi, hingga memancing yang lain.
Dann bertemulah Ayah Mola dengan Ayah Widan. keduanya sama-sama menunjukkan reaksi tak suka.
Ayah Widan ingin mendekat, Tapi melihat Putranya yang memeluk seorang wanita membuatnya urun. "Tuan Roji..Maafkan Aku dimasa laluku"Ucap Tuan Wilda kepada Ayah Mola
hal ini menjadi daya tarik semua orang untuk melihat dua orang pria yang masing-masing memiliki seorang Anak.
"Aku tak perlu maaf darimu"Ucap Ayah Mola.
Ayah Widan tak menyerah, Ia menundukkan kepalanya. "Aku tahu, Dulu Aku yang salah karena tak bertangung jawab...Jika Aku tak menabrak Istrimu, Ia mungkin tak akan pergi meninggalkanmu, namun dulu Aku juga sedang terpaksa karena Istriku mendadak terkena serangan jantung"
"Aku tak perduli, Kau orang Kaya..Kau saja langsung mendapatkan fasilitas segala yang ada dirumah sakit..lalu bagaimana dengan Istriku yang terpaksa melahirkan, hingga akhirnya nyawanya melayang meninggalkan tubuhnya"Ayah Mola menatap gusar kearah Pria yang merupakan Ayah Widan.
"Aku juga tak tahu harus bagaimana, Jika Aku tahu..Aku akan menolong mu juga"Tuan Wilda menatap teduh dengan wajah yang kini merasa bersalah.
"Aku benar-benar minta maaf"Sekali lagi Ayah Widan membungkuk. Ia melanjutkan "Dan izinkan Putrimu bersama Putraku, Bukan untuk meminta maaf, tapi ini untuk cinta Putraku kepada Putrimu..dan Untuk Permintaan Maafku, tergantung kepadamu"
Ayah Mola terdiam, Ia menatap Putrinya yang kini membaringkan seorang Pria yang baru saja bangun dari tidur lelap untuk mengembalikan memori yang terlupakan.
"Ayah..."Mola mendekat dan memeluk Ayahnya.
"Ayah Pernah mengatakan, Takdir kematian itu ada..Dan Kepergian Ibu mungkin tak wajar, Tapi Ayah tahu kan, Ibu sangat menyayangi kita...dan Ia pasti tak ingin Ayah berkelahi seperti ini, hingga jadi dendam"Ucap Mola menatap Ayahnya dengan tatapan yang benar-benar mirip seperti Ibunya.
Keteguhan hati yang penuh dendam itu kini luluh dan Ayah Mola mengangguk lalu mencium kepala Putrinya.
"Aku hanya ingin Mola bahagia..."Ucap Ayah Mola yang mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Ayah Widan.
Hari itu menjadi momen yang unik untuk Orang-orang.
-
Sebulan berlalu...
"Kau sudah membereskannya Rey?"Tanya Widan yang mengenakan style jas putih berhias bunga cantik disakunya.
"Tentu saja, Gusyi sudah ku urus..Sudahlah jangan pikirkan masalah itu, Sudah saatnya Kau ke altar pernikahan"Ucap Rey yang kini mendorong Sahabatnya ke acara yang dinanti.
Mola melangkah keluar, Ia mengenakan gaun cantik yang begitu pas untuknya. Ayahnya mengantarnya hingga mempertemukan Mola kepada Widan.
"Jaga Putriku, Widan..Ia adalah harta berharga dalam hidupku"Ucap Ayah Mola yang dianggukkan oleh Widan.
"Tenang Ayah, Aku akan menjaganya..Karena Ia juga berlian dalam hidupku"Ucap Widan yang membuat Ayah Mola mengangguk senang.
Acara pernikahan pun berjalan dengan indah. Mola yang mengira tak akan menikah, apa lagi bertemu Pria kaya didepannya. Kini Takdirnya berkata lain.
CEO Kaya ini atau bisa dibilang si pria lupa ingatan ini, kini telah menjadi Suaminya. Orang yang dicintainya.
"Jadi, Aku harus memanggilmu dengan sebutan Arta atau Widan?"Tanya Mola yang menatap Widan.
Widan menyatukan dahinya didahi Mola. Dan menjawab pertanyaan Mola. "Aku lebih suka panggilan darimu, Baik Arta maupun Widan"Sebuah ciuman mendarat dibibir manis Mola.
Mola yang mendapati hal tersebut hampir membanting Widan, untungnya Widan sudah bersiaga. Ia memeluk Mola dengan erat sampai ciuman itu lepas dengan tenang.
"Maaf"Ucap Widan. Mola tersenyum dan memeluk Widan dengan erat. Hari pernikahan mereka digelar begitu meriahnya.
Mola and Widan(Arta) _Ends_