Seorang gadis kecil sedang bermain di sebuah taman bersama kakak laki-lakinya, gadis kecil itu bernama heejin dan nama sang kakak adalah hyunjin, mereka sedang asyik bermain dengan mainannya.
"heejin pulang yok,udah senja nih,nanti mama marah Lo." ucap hyunjin sambil membereskan mainnya.
"sebentar lagi aja kah." ucap sang adik heejin,
terlihat bahwa heejin sedang asyik bermain dengan mobil mobilannya.
"ayok cepat heejin,nanti mamah marah." ucap hyunjin sambil menarik tangan heejin.
"ah baiklah." ucap sang adik pasrah.
Mereka berdua pun pulang ke rumah,ditengah perjalanan. Langit sudah berumah warna menjadi orange
"cepatlah heejin." ucap hyunjin, seperti dia takut,
"Iyah kak ini juga udah cepat kok." ucap sang adik heejin.
senja sudah berlalu, dan sekarang langit sudah menjadi hitam, mereka menelusuri jalan yang sepi, dan disisi jalan sebelah kanan adalah hutan, dan suasana saat itu juga sedikit berkabut dan juga suara burung hantu yang menghiasi malam, menambah kesan menakutkan.
"kak itu rumah apa yah." ucap heejin,heejin dan hyunjin berhenti disebuah rumah yang sangat besar, tapi keadaan rumah itu tidak terusurus, banyak tumbuhan liar yang tumbuh atap rumah tersebut, dan juga lumut yang menghiasi dinding rumah tersebut.
"gak tau heejin, keknya rumah itu gak ada penghuninya deh." ucap hyunjin sambil melihat kiri kanan.
"heejin sebaiknya kita pulang aja yok, kakak takut nih, mana disini sepi banget lagi." ucap hyunjin,bulu kuduk hyunjin seketika berdiri.
"kita masuk kedalam rumah itu aja yok kak." ucap heejin tanpa takut sedikitpun.
"pulang aja yok." ucap hyunjin sambil menarik tangan heejin untuk pulang.
"aish kakak nih,masuk bentar aja yok kak , please." ucap heejin memohon.
"gak ngak, pulang ayok." ucap hyunjin menyeret heejin untuk pulang.
dan akhirnya heejin pun pasrah, mereka berdua pun akhirnya sampai dirumah,dan terlihat mamah mereka yang sedang menunggu diluar.
"kalian dari mana aja sih, kok jam segini baru pulang." tanya mama yang kelihatan sangat panik.
"kalian main dimana sih." lanjut mama.
"kami main ditaman desa sebelah mah." ucap heejin jujur.
"kan mamah Udah pernah bilang sama kalian,kalau main jangan sampai lupa waktu,dan juga jangan jauh-jauh." ucap mamah."ayok masuk." lanjut mamah.
mereka pun masuk kedalam rumah.
hyunjin dan heejin pun makan terlebih dahulu, dan setelah makan mereka pun mandi.
dan setelah beberapa menit kemudian mereka berdua kembali keruang tamu dan duduk disofa.
"mah, heejin boleh nanya sesuai gak." ucap heejin.
"mau tanya apa emang." ucap mamah.
"rumah yang besar itu rumah siapa sih, dan kok gak ada penghuninya sih mah,kan kasian rumah Segede itu dikosongin." tanya heejin Kepada mama.
"rumah yang mana sih yang heejin maksud." tanya mamah.
"rumah besar yang di desa sebelah itu loh mah." kali ini hyunjin yang menjawab.
mamah pun terdiam sesaat, wajah mama terlihat takut dan cemas.
"kalian ingin jangan pernah masuk ke rumah itu oke." ucap mama.
"emangnya Kenapa mah." tanya heejin dan di anggukan oleh hyunjin.
"rumah itu milik seorang wanita yang namanya kalau gak salah Lala, dia membangun rumah itu sekitar 10 tahun yang lalu." mamah pun bercerita soal rumah itu dan terlihat hyunjin dan heejin sangat fokus mendengarkan nya.
jadi....10 tahun yang lalu ada seorang wanita yang membangun rumah itu, setelah rumah itu di selesai di bangun, Lala pun langsung pindah ke rumah barunya itu.
dan malam ini adalah malam pertama Lala. Tinggal dirumahnya itu.
Lala sedang memasak di dapur nya, dan tiba-tiba suara bel rumah nya berbunyi, dengan segera pun Lala pergi untuk melihat siapa yang bertamu malam-malam begini.
"ini buat nona." ucap seorang nenek yang membawa sebuah kotak makanan, dan Lala pun menerimanya dengan senang hati dan mengajak nenek itu untuk masuk tapi nenek itu tidak mau, dan setelah itu nenek itu pun pergi begitu saja, dan Lala masuk kembali.
"wah enak banget keknya." ucap Lala sambil membuka kotak makanan tersebut dan Lala pun pergi untuk mengambil piring, sendok dan juga air. Beberapa menit kemudian Lala pun kembali dengan piring, sendok da juga air ditanyakan. Lala pun menuangkan makanan itu kedalam piring yang dibawanya dan memakannya, dan saat Lala sedang menikmati makanannya, tiba-tiba makan itu berubah menjadi belatung dan juga lintah,dengan segera Lala memuntahkannya, dan tiba-tiba ada sosok yang muncul dari belakang dan mencekik leher Lala, hingga tubuh Lala terangkat, dan sosok itu mengorek wajah Lala dengan kuku panjangnya, hingga wajah Lala berdarah, dan sosok tersebut memasukkan tangan nya kedalam mulutnya dan mengeluarkan hati Lala, hingga mulut Lala mengeluarkan darah, bukan hanya itu saja, makhluk itu mengambil pisau dan memotong satu persatu jari tangan Lala, dan makhluk itu menyayat tubuh Lala, makhluk itu seperti seperti melukis ditubuh Lala, dan hingga akhirnya Lala pun meninggal,dan makhluk itu mengambil alih tubuh Lala, hingga sampai saat ini arwah nya Lala ngentayangan.
"jadi kalian berdua jangan pernah masuk kerumah itu yah, kalian mengerti,rumah itu selalu mencari tumbal, terutama anak-anak seusianya kalian." ucap ibu memperingati heejin dan hyunjin.
"ih ngeri banget, hyunjin gak mau lagi lewat sana." ucap hyunjin merinding.
"heejin juga janji gak akan pernah kesana lagi." ucap heejin.
Malam harinya setelah selesai makan malam, heejin ingin berjalan menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar sang kakak, langkah kaki gadis kecil itu terhenti disaat kedua matanya terasa sakit, perih dan seperti terbakar, heejin berteriak memanggil Mama nya.
"MAMAH, MATA HEEJIN SAKIT." teriak heejin yang sudah menangis tersedu-sedu, matanya seakan-akan ingin pecah, perih dan panas semuanya bercampur aduk menjadi satu.
Sonia mama heejin yang tadi berada diruang keluarga dengan terburu-buru menghampiri sang anak bungsu yang berteriak kesakitan tadi.
"Sayang kamu kenapa hm?" tanya Sonia sambil berjongkok didepan sang putri.
"mata heejin perih mah, panas hiks, sakit hiks." jawab gadis kecil itu sambil terus menutup kedua matanya dengan telapak tangan, gadis itu menangis terisak-isak, rasanya terlalu sakit untuk dipendam.
Sonia panik lantas memanggil sang suami.
"Mas, mas Reno, kesini mas." Teriak Sonia memanggil sang suami Reno aditmaja yang sedang berada di ruang tengah.
tak berselang beberapa detik, Reno dan Hyunjin menghampiri Sonia dan Heejin.
"mah adek kenapa kok nangis kayak gitu?" tanya Hyunjin cemas, baru kali ini ia melihat sang adik menangis sampai begitu.
"Sakit mah hiks." Lirih Heejin.
"Mas, mata Heejin sakit, kita harus bawa dia ke Rumah sakit." Reno mengangguk mendengarkan ucapan sang istri.
Heejin dibawa ke rumah sakit terdekat oleh kedua orang tua nya.
'Gadis kecil, ini adalah takdirmu untuk melihat kami, rasa sakit itu tidak ada tara nya dibandingkan dengan rasa takut yang akan kau rasakan setelah ini' sebuah bisikan terdengar sangat jelas di pendengaran Heejin.
Sudah tiga hari Heejin tak sadarkan diri di rumah sakit. Dan sudah tiga hari pula Hyunjin, Sonia dan Reno menjaga nya.
"mah adek kapan bangun nya sih mah? adek sebenarnya sakit apa sih? kok betah banget tidur lama-lama?!" tanya polos Hyunjin, Sonia menghelahkan nafasnya, sebenarnya dirinya juga bingung karena dokter bilang kalau Heejin tidak sakit apa-apa.
"adek cuma demam aja kok Hyunjin, kamu gak usah khawatir yah, adek pasti akan bangun kok." jelas Sonia menenangkan Hyunjin.
"iya semoga aja." lirih Sonia tak terdengar ditelinga Hyunjin.
sementara itu, dialam bawah sadar Heejin, gadis kecil itu sedang bingung mencari jalan keluar, sudah berkeliling tapi masih tak bisa menemukan jalan keluar. Heejin kecil meringkuk frustasi sambil mengusap peluh di wajahnya yang hampir menetes.
"Sebenarnya aku dimana? kenapa tempat ini sangat gelap?!" tanya Heejin kecil sambil terduduk terengah-engah.
"heejin lelah, heejin kangen kak Hyunjin, kangen Mama, kangen Papa." lirih Heejin.
"Mama, Papa, kak Hyunjin, Kalian semua dimana, heejin takut sendirian, heejin gak mau terjebak di sini terlalu lama hiks, heejin gak mau." ucap gadis kecil itu sambil menangis tersedu-sedu.
PRAKKNG~
Suara benda jatuh membuat heejin terperanjat kaget, dihapus nya air mata yang masih mengalir di pipi gembul nya.
"a–apaan itu." Suara heejin bergetar saat mengucapkan nya.
HIHIHIHI~
"Mamah, kakak papa, heejin takut hiks." heejin menutup kedua telinganya sambil menangis, kedua matanya di pejamkan erat-erat. Suara tangisan itu sangat jelas terdengar. Heejin sangat takut, tepat jiwa heejin sangat takut, sudah tiga hari heejin terjebak di alam ghaib ini, dan sudah tiga hari pula heejin mendapatkan teror dari makhluk-makhluk tak terlihat itu.
Suara tangisan itu lama-lama menjadi sebuah teriakan melengking yang sangat nyeri untuk didengar oleh telinga kecil heejin, gadis kecil itu menutup kuat-kuat kedua kupingnya.
Sementara dialam nyata, Hyunjin yang melihat darah segar keluar dari telinga sang adik sontak memanggil mamah nya.
"mah telinga adek berdarah itu." Sonia yang mendengar ucapan si sulung langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri ranjang heejin.
Mata Sonia membelalakkan melihat darah kental dan segar keluar dari kedua telinga Si bungsu, dengan sigap, Sonia langsung menakan tombol darurat yang berada di sebelah ranjangnya Heejin.
Tak butuh waktu banyak, dokter dan para tim-nya yaitu para suster datang untuk memeriksa keadaan heejin
"dok apa yang terjadi dengan putri saya, kenapa telinga nya berdarah?"tanya khawatir Sonia, seorang suster mencoba menenangkan Sonia dengan berbagai kata-kata mutiara nya yaitu
"ibu tenang saja, Anak ibu gak kenapa-kenapa kok, dokter sedang memeriksa nya, mohon ibu yang tenang yah?!" ujar sang suster.
Dua puluh menit kemudian, dokter telah selesai memeriksa keadaan heejin.
"maaf Bu, seperti kasus yang diderita anak ibu bukan keahlian saya." jelas dokter, Sonia mengerutkan keningnya lalu bertanya.
"maksud dokter gimana? bukan keahlian dokter?" Sonia heran. dokter itu hanya menghembuskan nafasnya lalu berkata.
"Seperti penyakit yang diderita anak ibu berkaitan dengan alam ghaib Bu, karena sudah beberapa kali saya mengecek anak ibu, tetapi tidak ada data-data yang menujukan kalau anak ibu mengalami penyakit." jelas dokter, Sonia dibuat bingung oleh penjelasan sang dokter, dokter yang peka pun kembali membuka suara.
"saran saya, sebaiknya anak ibu dibawa ke tempat pak ustadz untuk di ruqyah Bu." Sonia mengangguk lalu berucap.
"baik, nanti saya akan mencoba mengkonsultasikan nya kepada pak ustadz." ujar Sonia, Dokter itu mengangguk paham, kalau izin undur diri dari ruangan rawat heejin.
"seperti ada benarnya juga apa yang dikatakan dokter tadi." nguma Sonia sangat pelan.
Keesokan harinya, Reno dan Sonia membawa seorang ustadz ke ruangan heejin.
"Pak ustadz apa ada yang menganggu putri saya? dia sudah tidur empat hari dan tak bangun-bangun sampai sekarang?!" ujar. Reno. Pak ustadz bernama Ustadz Yanis itu mengangguk-angguk, sambil mengusap jenggot nya.
"Ada roh jahat yang telah membawa jiwa putri kalian kesuatu tempat." Reno dan Sonia kanget mendengarkan penuturan sang ustadz.
"bagaimana cara melepas jiwa putri kami pak ustadz?" tanya Reno.
"dengan cara ruqyah, insyaallah bisa melepaskan jiwa putri kalian dari ikatan iblis jahat itu." jelas pak ustadz. Reno dan Sonia mengizinkan pak ustadz untuk langsung meruqiyah sang anak.
Lafal doa-doa ruqyah mulai dibaca oleh sang ustadz.
Husyyyy~
Tubuh mungil heejin melayang di udara, Sonia dan Reno kaget melihat hal itu.
"mas." lirih Sonia tak kuasa melihat sang anak, Reno yang peka langsung memeluk dan menenangkan sang istri.
"tenang mah, heejin gak bakalan kenapa-kenapa, dia kan anak pemberani." ujar Reno menjelaskan.
Lima belas menit kemudian, akhirnya roh heejin kembali masuk ke dalam tubuh nya semula, tapi heejin masih pingsan.
Sang ustadz menoleh kearah pasangan suami istri itu.
"begini bapak ibu, hm mata batin ada kalian sudah dibuka oleh para iblis." seru pak ustadz.
"apa mata batin itu tidak bisa ditutup kembali psk ustadz?" pak ustadz menggelengkan kepalanya merespon pertanyaan Reno barusan.
"maaf pak Bu, saya tidak bisa, karena mata batin anak ibu dan bapak sudah terlanjur terbuka permanen dan tak bisa ditutup, dan saya harap bapak ibu bisa menemani anaknya dalam melewati ujian dari Allah ini." ujar pak ustadz, Reno dan Sonia mengangguk lemah.
Beberapa hari telah berlalu, kini heejin sudah pulang kerumahnya bersama orang tuanya.
Dikamar heejin, gadis itu terus meringkuk di pojokan sambil memeluk lututnya. Hal-hal gaib sering muncul di sekeliling heejin, mulai dari pocong dan makhluk-makhluk tak kasat mata lainnya, sungguh itu sangat menakutkan untuk bocah perempuan yang belum masuk SD itu.
Malam harinya di kamar heejin, tepatnya pukul sepuluh malam lebih tiga puluh menit, gadis kecil bernama lengkap heejin jeon Sahara itu tak kunjung menutup matanya.
"Tuhan, kenapa dia masih muncul di jendela, heejin takut Tuhan." ujar gadis kecil itu dengan tubuh gemetar. bagaimana tidak gemetar, sudah tiga puluh menit dia melihat sosok putih dengan wajah busuk berdiri didekat jendela kamarnya, sosok itu adalah pocong tentunya.
Heejin terus saja melafalkan doa-doa berharap sang hantu itu bisa pergi dari sana.
Blett~
Seluruh lampu di rumah heejin mati, heejin semakin ketakutan kala itu, bahkan gadis itu berteriak memanggil sang mama yang kamarnya bersebelahan dengan kamar diri nya.
pocong itu terus mendekat kearah heejin dan membuat sang gadis kecil itu menangis histeris.
"MAMAHHH." teriak heejin sambil menangis, Sonia yang mendengarnya suara teriakan sang putri langsung menghampiri nya.
"kamu kenapa sayang?" tanya panik Sonia saat melihat heejin menangis histeris.
grepp~
heejin langsung memeluk mamanya, tubuh gadis kecil itu bergetar hebat akibat ketakutan.
suara sesegukan terdengar sangat jelas di pendengaran Sonia, wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu mengelus punggung sang putri bungsu guna menenangkan nya.
"shutt."
"ma-mama tadi disana ada hantu hiks, aku takut hiks hiks." adu heejin ketakutan, Sonia tahu ketakutan sang anak, tapi apa lah dayanya, dia tak bisa membantu sang putri selain menangkap nya.
#like komen
#jung Nadia. @juna_nadia^^