Namaku Rian, umur 20 tahun, aku lahir dari keluarga sederhana yang cukup harmonis..
Aku memiliki 2 orang saudara yang baik dan hari-hari ku bersama keluarga ku sangatlah menyenangkan, tapi tidak saat aku mulai sendirian....
Kisah ini di mulai saat kami pindah ke rumah baru, saat itu aku berumur 12 tahun, masa SMP yang menyenangkan awalnya, tapi tiba-tiba semua itu berubah saat aku mulai mengenalnya...
Dia yang tidak bisa di jelaskan oleh logika, selalu membuatku merasa tak sendirian walaupun saat itu aku sedang sendirian...
Setiap kali ku lihat diriku ke dalam cermin aku selalu merasa itu bukan aku tapi dia yang selalu mengawasi ku dan mengikuti kemana pun aku pergi...
Aku terus menjalani hari-hari ku hingga sekarang dengan di temani olehnya yang ku sebut TEMAN...
Pukul 21.00 wib
"Jangan sampai ada barang yang tertinggal" ucap Ibu sambil mengecek barang
"Iya, bu" ucap kami bertiga bersamaan
Besok adalah hari di mana kami akan pindah ke rumah baru, sebenarnya aku belum pernah ke sana, sebab waktu ibu mengajak ke sana aku masih sibuk menyelesaikan administrasi sekolah baruku....
Pukul 22.00 wib
"Dek, kau sudah pernah ke sana kan?" tanyaKu
"Udah kak" jawab
"Bagaimana rumahnya, apakah menyenangkan berada di sana?" tanyaKu kembali
"Rumahnya bagus dan cukup besar, tapi halaman belakangnya menyeramkan kak" jawab Ranu
"Memangnya ada apa di halaman belakang?" tanyaKu yang mulai penasaran
"Di sana ada beberapa kuburan, katanya sih kuburan orang zaman dulu, tapi saat aku ke sana suasananya sangat menyeramkan di tambah banyak rumput ilalang yang tinggi membuat suasana semakin mencekam" Bisik Ranu
"Tapi, apa ibu dan ayah tau?" ucapKu
"Ibu dan Ayah tau tapi kata ibu itu hanya kuburan tidak perlu di pusingkan" sahut Ranu
"Yang ibu katakan memang benar itu hanya kuburan tidak perlu di khawatir kan" Batin Ku
"Rian, kenapa kalian belum tidur" teriak ibu dari dapur
"Iya bu, ini mau tidur" jawab Ku
"Sudahlah dek, benar kata ibu tidak ada yang perlu di khawatir kan itu hanya sebuah batu nisan saja, kau sekarang tidurlah, kakak juga mau tidur" ucap Ku sambil berjalan menuju kamar
"Iya kak, selamat malam" sahut Ranu
Keesokan Pagi
Pukul 08.00 wib
"Rizky, Rian dan Ranu apa barang-barang kalian sudah siap semuannya sayang?" tanya ibu
"Sudah bu" jawab kami besamaan
"Bagus, cepat selesaikan sarapan kalian karena sebentar lagi truk pindahnya akan datang" ucap Ibu sambil berjalan ke depan
Tak lama setelah ibu pergi tiba-tiba terdengar suara klakson mobil..
TIN TIN
Truk yang telah di tunggu akhirnya datang. Ranu berlarian ke depan tanpa menyelesaikan sarapannya. Aku yang merasa khawatir ikut berlari mengejarnya...
"Dek hati-hati, jangan berlari nanti kau terjatuh" ucap Ku sambil lari mengejar Ranu
"Aih, kalian berdua merepotkan" ucap Kak Rizky sambil berlari mengejar kami berdua.
Saat di depan rumah aku melihat semua orang sedang mengangkuti barang masuk ke dalam truk...
"Ibu, ibu, adek mau naik truk" ucap Ranu sambil menarik-narik baju ibuku
"Eh, gak boleh kita akan naik mobil ke sana" ucap ibu
"Tapi bu, adek mau naik truk, boleh ya, boleh ya" ucap Ranu sambil merengek.
"Enggk boleh, sekali ibu bilang enggak ya enggak" ucap ibu dengan nada tinggi.
Ranu yang mendengar suara keras ibupun akhirnya menangis. Ayah ku yang tak tega langsung mengijinkan dan menyuruh Kak Rizky ikut dengan Ranu, tapi Kakak ku itu adalah makhluk paling tidak mau di ribet kan, jadi dia langsung menolak dan membantah perintah ayah...
"Gak, Rizky naik mobil sama Ibu dan ayah, apaan naik truk, aku bukan anak kecil Yah" ucap kak Rizky menolak. Aku yang tak tega melihat adik ku yang terus menerus menangis mengajukan diri untuk menemaninya naik truk. "Biar Rian saja Yah yang temani adik" ucap ku dan Ranu langsung berhenti menangis...
"Ingat, jika sampai di sana, jangan kemana-mana, Ibu dan Ayah mungkin akan sampai telat karena ada yang mau di urus, kalian diam di rumah sampai itu dan ayah datang yah" ucap Ibu mengingatkan dan aku hanya mengangguk setuju...
Singkat cerita kami akhirnya sampai ke rumah itu. Awalnya aku sangat terkejut melihat rumah yang seperti tak layak huni itu, tapi saat aku masuk ke dalam, ternyata bangunannya sangat bagus dan masih kokoh...
Para kurir itu terus memindahkan barang-barang itu ke dalam sementara aku dan Ranu terus berkeliling melihat rumah, tapi sesampainya kami di dapur mataku seketika tertuju ke arah luar jendela, di sanalah kuburan itu terlihat jelas dengan banyaknya rumput ilalang mengelilinginya...
"Apakah itu kuburan yang di katakan Ranu, sangat menyeramkan" Batinku
"Kakak, kenapa kau melamun" ucap Ranu sambil memukul bahuku
"Eh, tidak, kakak hanya melihat kuburan itu" sahutKu
"Iya kak, itulah kuburan yang aku maksud, menyeramkan bukan" ucap Ranu
"Eh, tentu saja tidak, itu hanya kuburan tua tidak perlu di takuti" ucapku meyakinkan adikKu
"Hemz, tapi tetap saja kakak, itu kuburan tempatnya orang mati" ucap Ranu
"Iya kakak tahu, tapi bukankah orang yang sudah mati tidak bisa bangkit lagi? jadi apa yang perlu di takutkan" jelas ku
"Tapi kakak, menurut film yang adek tonton orang mati itu bisa bangkit lagi jadi hantu, hihihihi, serem" ucap Ranu
"Heheh, dek kau terlalu banyak menonton film hantu, sudahlah jika ibu tau kau menonton film hantu tanpa sepengetahuan ibu kau bisa tamat" ucapku menggoda adikku
"Akh kakak, tidak seru, jangan laporkan aku sama ibu dong" sahut Ranu
"Tidak bisa, kau salah jadi harus tanggungjawab" ucapKu
"Ya kakak, ku mohon kali ini saja, gak bakalan buat lagi deh, please" rengek Rnu sambil menarik-narik bajuku
"Hemz, iyalah iya, tapi ingat hanya kali ini saja" ucapKu yang tidak tega melihatnya
"Yey, Terima kasih kak" sahut Ranu kegirangan
"Eh, kau mau kemana?" tanyaKu
"Aku mau melihat kamarku kakak" Ucap Ranu sambil berlari
"Hemz, dia selalu saja berlarian" ucapKu
Aku mulai berjalan mengelilingi ruang dapur dan sesampainya aku di depan pintu kamar mandi, aku mendengar suara orang berjalan mendekatiku dari belakang..
TAP TAP
"Dek, sebelum kau mengageti kakak, kakak duluan yang akan mengagetkan mu" batinku
"Doorr" teriakKu sambil berbalik
"Eh, tidak ada siapa-siapa" ucapku sambil melihat sekeliling
"Aneh, jelas-jelas tadi aku mendengar suara orang berjalan, tapi kenapa tidak ada siapapun di sini" ucapKu kebingungan
"Kakak, kau sedang apa?" tanya Ranu
"Eh dek, kau tadi ke sini y dan mau mengagetkan kakak?" tanyaku balik
"Hah? Dari tadi adek di depan melihat paman-paman itu mengangkut barang" jawab Ranu
"Benarkah, tapi tadi kakak men... " ucapku tapi tidak jadi ku selesaikan karena aku pikir mungkin aku salah dengar saja
"Tapi kakak kenapa kak?" tanya Ranu
"Tidak apa, sudahlah, ayo kita ke depan lihat apakah ibu dan ayah sudah sampai belum" ucapku sambil menarik tangan adikku.
Pukul 12.30
Para Pak kurir itu akhirnya selesai mengangkati seluruh barang-barang masuk ke dalam rumah. "Dik udah semua, jika ada perlu atau ada yang ketinggalan, Ayah mu suruh hubungi Bapak ya" ucap Pak kurir. "Baik Pak, makasih y" sahut ku...
Mereka pun pergi meninggalkan kami berdua di rumah itu. Aku langsung mengunci pintu dengan rapat dari dalam, takut ada orang jahat yang datang. Sudah hampir satu jam setelah para Pak kurir itu pergi, tapi ayah dan ibu belum juga sampai. Aku langsung mencoba menghubungi Ibu...
"Halo, Ibu ada di mana?"
"Sayang apa kalian baik-baik saja?"
"Ya Bu kita baik kok"
"Tetaplah di dalam rumah, mungkin ibu dan ayah akan sampai sorean, sebab tadi ada berkas yang perlu di antar ayah dan ini sedang berhenti makan sebab kakak mu merengek minta makan"
"Yasudah, orang ibu hati-hati y"
"Kalian juga sayang"
Setelah mendengar kabar ayah dan ibu membuat ku merasa lebih tenang. Aku dan Ranu pun mulai bermain-main di rumah. Setelah lelah kami mulai berbaring di ruang televisi sambil menyalakan film karton kesukaan Ranu...
Tanpa sadar Ranu yang lelah tertidur. Aku pun ikut terlelap, tapi saat aku sedang tertidur lelap kaki ku seperti di tarik ke bawah. Aku yang kaget langsung terbangun, sambil melihat ke sekeliling. "Ranu masih tidur" ucapku. BRUK, terdengar suara benda terjatuh di arah dapur...
"Eh, apa itu" ucapku sambil berjalan untuk memeriksa. Sesampainya di sana betapa terkejutnya aku melihat pemandangan yang ada di depan ku, terlihat seorang anak kecil berbaju putih dengan kulit pucat di hadapan ku...
Sedikit ragu, tapi aku berusaha memberanikan diri untuk menyapa. "Kau, siapa?" ucapku sambil berjalan ke arahnya. Dia diam saja di sana sambil tangan kanannya menunjuk ke arah kuburan belakang rumah kami dan aku langsung melihat ke arah apa yang dia tunjuk, tapi saat aku balik melihat ke arahnya. Wajah pucatnya tepat berada di depan ku dan dia lalu berteriak keras. "Ahhh,... ". Aku yang kaget dan takut ikut berteriak dan lari ke arah depan...
Ranu datang dan mencoba menenangkan ku, " Kakak, kakak, kenapa?" ucapnya dengan polos. Aku yang tak ingin membuatnya takut hanya mengatakan melihat tikus saja dan Ranu langsung tertawa. "Haha, kakak takut tikus? cemen anak jantan gak boleh jadi penakut kak, kan kakak yang ajarin itu sama Ranu" ucap Ranu dan aku hanya bisa tersenyum canggung...
Aku langsung menarik Ranu ke dalam kamar, tapi saat aku melihat ke belakang sosok anak kecil yang sebaya ku itu terus terlihat dan membuatku semakin ketakutan..
Di dalam kamar aku terus berusaha menghubungi ayah dan ibu, tapi tak di jawab. Jadi dengan perasaan berat aku memberanikan diri keluar sendirian dan menyuruh Ranu untuk tinggal di dalam kamar sambil memakai earphone dan bermain game..
Aku penasaran, apa sebenarnya yang anak itu mau dari ku. Perlahan aku membuka pintu kamar dan mencoba berkomunikasi dengannya, "Siapa kau? A.. apa mau mu? Aku di sini tidak mau mengganggu siapa pun" ucapku dengan gemetar. Saat aku terus memanggilnya tiba-tiba sosok itu pun muncul di depanku, aku yang begitu takut, sampai mati rasa, tubuh ku bak manekin yang kaku dan tak bisa di gerakkan...
Sosok itu terus mendekat dan mendekat, aku hanya bisa memejamkan kedua mataku takut. sambil kakinya terus gemetar. "A... apa mau mu?" Tanya ku sambil tetap menutup mataku. Sosok itu tak menjawab pertanyaan ku, dia hanya menarik tangan ku dan berkata. "TEMAN"...