Dua ribu tahun lalu, ada sebuah peristiwa besar di Klan Bulan. Seorang bayi yang gagah dan tampan lahir, putra dari pemimpin Klan Bulan. Betapa besarnya kekuatan anak ini. Saat tumbuh remaja, beranjak dewasa, tambah mengagumkan. Dia haus pengetahuan, ingin belajar lagi, lagi dan lagi. Setelah tidak ada lagi yang bisa mengajarinya di Klan Bulan, pemuda ini memutuskan berkelana. Dia mendatangi setiap sudut dunia paralel, dan berhasil membuka sekat ke dunia lain. Dia mendatangi Klan Matahari, Klan Bumi, dunia Makhluk Rendah, bahkan hingga Klan Bintang yang berada di titik jauh. Tidak terbayangkan betapa jauh perjalanan yang pernah dia lakukan.
Semua berjalan lancar, karena pemuda ini baik hati dan penyayang. Tidak ada yang perlu dicemaskan dari orang baik hati, bukan? Hingga ketika usianya dua puluh tahun, terbetik kabar, ibunya mendadak meninggal dunia,tanpa sebab yang jelas. Pemuda ini bergegas kembali, hanya untuk menemukan pusara ibunya. Nestapa tebal di wajahnya. Ayahnya memeluknya, berbisik tentang kesedihan. Itu kabar dukacita bagi seluruh negeri. Pemuda ini menjadi piatu.
Dua tahun setelah ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dengan seorang gadis jelita, yang kecantikannya terkenal di seluruh negeri. Tak lama setelah pernikahan itu berlangsung, lahirlah si kecil adik tirinya. Pemuda gagah ini sudah kembali mengunjungi banyak tempat. Dia tahu kabar bahagia dari ayahnya yang kembali menikah, juga tahu kelahiran adik tirinya, tapi dia sibuk belajar untuk melupakan kesedihan mengingat ibunya.
Usia empat tahun puluh tahun, pemuda ini telah menjadi seseorang yang begitu lengkap. Wajahnya gagah, perawakannya memesona, ilmunya tinggi, dan kekuatan yang dimilikinya tiada tara. Dia putra pertama, maka bahkan tanpa semua kehebatan itu, dia jelas lebih berhak mewarisi apa pun yang dimiliki ayahnya, termasuk mahkota raja.
Tapi apa yang terjadi. Ayahnya yang sepuh, sakit-sakitan, justru menunjuk adik tirinya yang masih remaja. Keputusan yang mengejutkan seluruh negeri. Pemuda ini datang menghadap ayahnya, meminta penjelasan. Ayahnya menggeleng, mengatakan bahwa keputusan itu telah bulat. Ayahnya telah memilih pengganti terbaik.
Maka pemuda ini mengangguk. Dia menerima seluruh keputusan ayahnya, lalu memutuskan pergi. Pemuda ini sekali lagi pergi meninggalkan negeri, menetap di tempat jauh, dan sejak itu semua orang memanggilnya si "Tanpa Mahkota".
Pemuda ini tidak pernah tahu bahwa ibu tirinya yang tamak dan ambisius menyusun semua rencana jahat. Dulu, ibu tirinyalah yang membunuh ratu yang sah agar bisa menikah dengan Raja. Dia juga kemudian membisikkan suaminya yang telah tua, sakit-sakitan, dan tidak cakap mengambil keputusan, dengan membisikkan racun, sehingga suaminya menjadi buta penilaian, menjadikan si bungsu yang tidak becus dalam hal apa pun sebagai raja. Lihatlah, adik tirinya masih persis seperti remaja manja, berada di bawah ketiak ibunya. Maka sejak hari kematian ayahnya, kerajaan resmi dipimpin oleh adik tirinya.
Si Tanpa Mahkota memutuskan hidup tenang di tempat jauh, menekuni ilmu pengetahuan. Pengikutnya banyak, orang yang menyatakan kesetiaan padanya terus bertambah. Apalagi dengan keadaan negeri yang kacau-balau karena ibu tirinya justru lebih asyik hidup bermewah-mewah dan memaksa penduduk membiayai kemewahan tersebut. Hanya soal waktu, orang-orang semakin mencintai si Tanpa Mahkota, dan sebaliknya, membenci raja. Melihat situasi itu, ibu tirinya merasa terancam, mahkota anaknya dalam posisi berbahaya. Jahat sekali hati yang dimiliki wanita jelita itu. Maka dia melepaskan berita bahwa si Tanpa Mahkota dan pengikutnya adalah penghianat besar, orang tamak yang haus kekuasaan, penjahat yang menekuni pengetahuan gelap dari dunia lain.
Pertempuran pecah di seluruh negeri. Raja dan ibunya yang tamak mengirim pasukan untuk menangkap si Tanpa Mahkota. Segala cara dilakukan oleh ibunya. Tetapi mereka keliru, kekuatan si Tanpa Mahkota lebih besar daripada yang diduga. Dia justru berhasil menaklukkan istana, mengambil alih kerajaan. Mereka terusir, mengungsi.
Setelah berbulan-bulan tinggal di tempat pengungsian, ibunya yang tamak mengirim anaknya untuk berdamai, meminta pengampunan. Adik tirinya datang ke istana menyerahkan diri. Namun, itu dusta! Jebakan maut. Ketika si Tanpa Mahkota hendak memeluk adiknya, tanpa rasa malu, adiknya mengangkat "Buku Kematian" membuka sekat menuju petak kecil yang disebut 'Penjara Bayangan di Bawah Bayangan'. ratu yang jahat berseru licik, "kau juga akan mati, seperti ibumu yang dulu mati dibunuh". Si Tanpa Mahkota terseret dalam lubang itu, menutup, dan dia berhasil disingkirkan selama-lamanya.
Malang sekali nasib si Tanpa Mahkota. Dia justru baru tahu fakta bahwa ibunya dibunuh oleh ratu jahat persis ketika dia dikirim ke penjara. Pemuda yang begitu dicintai oleh rakyatnya, kalah oleh pertikaian politik yang licik dan mematikan.
Klan Bulan berada dalam kekacauan luar biasa sejak si Tanpa Mahkota dikirim ke penjara, dan itu menjalar ke Klan Matahari. Ratu yang serakah mulai mengirim pasukan menyerang dunia paralel lainnya. Dalam situasi genting, ketua dua klan mengirim satu rombongan, yang terdiri atas petarung terbaik Klan Bulan dan Klan Matahari untuk pergi ke Klan Bintang, mencari solusi terbaik agar keseimbangan di dunia paralel kembali.
Apa sebenarnya yang dicari rombongan? Itu seharusnya menjadi misi yang sederhana. Mencari sekutu baru melawan Ratu yang jahat. Dengan semua Klan bersatu, mereka memiliki kesempatan mengalahkan Ratu dan pendukungnya. Tapi sebagian rombongan memiliki misi Berbeda. Mereka berusaha mencari jalan menuju penjara Bayangan di Bawah Bayangan, membebaskan si Tanpa Mahkota. Mereka percaya, dengan kekuatan besarnya, hanya si Tanpa Mahkota yang bisa menyelesaikan semua masalah. Dia dihormati oleh penduduk empat Klan sekaligus. Tetapi rombongan tersebut tidak berhasil menemukan Penjara Bayangan di Bawah Bayangan karena tidak ada yang bisa mengetahui dimana tempat itu berada.
~END~
terimakasih
untuk selengkapnya dari cerita ini bacalah novel Bumi jilid ke 3 penulis Tere Liye ✨