Aku duduk sendiri di bangku halte, menantikan jemputan, tiba-tiba terdengar suara merdu di sebuah sudut taman, bukan nyanyian, bukan pula alunan musik yang indah, tapi sebuah tangisan. Aku memutar tubuhku, bermanuver cepat menghampiri suara itu.
Langkahku terhenti, karena suara itu tak lagi terdengar, pandanganku menyapu sekeliling, tak ada seorang wanita di sana, hanya beberapa orang laki-laki yang sedang duduk di tepi trotoar membincangkan sesuatu yang bisa mereka perbincangkan.
Aku terdiam sejenak, berdiri mematung, mataku menatap seorang wanita yang berjalan agak jauh meninggalkan taman "diakah orangnya?" Batinku bertanya-tanya.
"Dinda..!! Come on!" Kakakku memanggil dari seberang jalan, aku balikkan badan dan berjalan lambat menuju orang yang sejak tadi sudah aku tunggu. Rasa penasaran masih menyelimuti hatiku "Apakah suara tadi dari perempuan itu?"
"Hey.., kok lemes banget sih, tumben banget kamu!" Omelannya membuyarkan lamunan. Aku hanya nyengir menjawab pertanyaannya, kemudian bergegas menaikkan tubuhku ke atas motor.
Tak berapa lama motor melaju lambat, "Eh...Rin.. Rin, stop dulu motornya!" Pintaku sambil memukul punggungnya. Rina terkejut dan buru-buru menepi dengan ekspresi keheranan.
Aku tak peduli, mataku tertuju pada seorang wanita yang mengetuk-ngetuk pintu pagar.
Tanpa terucap sepatah kata dari mulutnya, hanya tangannya yang menggoyang-goyangkan pintu sambil melongok ke celah yang bisa dia dapatkan untuk melihat ke dalam rumah gedung yang ada di dalamnya. Aku meninggalkan Rina yang masih keheranan di atas motor.
"Ibu, eh Mbak..mau cari siapa?" Pertanyaanku seperti membuatnya terkejut, dia menatap nanar ke arahku tanpa suara. Kecantikan masih tampak jelas di wajahnya, tapi pakaiannya lusuh tak terawat. Wanita itu tak mempedulikan keberadaanku, dia memalingkan wajahnya lalu kembali mencari-cari seseorang yang ada di dalam sana.
"Dina..Ayo, keburu hujan!" Teriak Rina di seberang jalan. Cuaca tampak semakin gelap, angin berbondong-bondong mengantarkan awan hitam, aku berlari meninggalkan wanita setengah baya itu.
"Siapa sih Din, saudara kamu?"
"Aku nggak kenal, tapi entahlah sepertinya ada sesuatu yang membuatku penasaran" jawabku pada Rina yang sejak tadi diliputi rasa tak sabar.
Kami melanjutkan perjalanan, rintik hujan mulai turun, Rina menepi untuk mengenakan mantel yang tersimpan di jok motor. "Yah...cuma satu!" Keluhnya.
Motor kembali menderu memecah hujan yang mengguyur jalanan, Aku memeluk tubuh Rina untuk berlindung dari tampias air hujan. Jatuhnya air semakin menambah riuhnya isi kepalaku yang tak bisa lepas dari bayangan wanita itu. Pertanyaan mengapa? Ada apa? terus bergelayut di benakku tanpa bisa aku hentikan.
"Heeh, jangan tidur Din, berat nih punggung!" Tepukan tangan Rina ke pahaku membuat aku terkejut, "Enggak kok!" Jawabku dari balik mantel. Motor terus melaju, mantel di belakangku berkibar keras. Kami sama-sama terdiam, kadang percikan tajam datang dari mobil saat berpapasan ke tubuh kami yang sebagian sudah basah. "Bagaimana dengan wanita itu? Apakah dia berteduh?" Pertanyaan kembali muncul liar di kepalaku.
Beberapa lama berjuang di atas aspal, akhirnya rodanya berhenti, hujan mulai reda, rintik kecil air hujan masih melayang jatuh, aku berlari meninggalkan Rina yang mendorong motor ke sisi kontrakan. Air menetes di lantai tempatku berpijak, celanaku yang basah mulai memberi efek dingin. "Aku duluan Rin!" Kataku sambil menggigil masuk kamar mandi.
"Nggak pakai air hangat Dina?" Teriak Rina dari ruang dapur. "Kelamaan!" Sahutku dari dalam kamar mandi. Beberapa lama tak ada suara, kami sibuk dengan pikiran masing-masing, aku tentang wanita itu dan jelas aku tidak tahu apa yang ada di kepala Rina. Hanya suara percikan air mandi dan deru air dalam panci mulai mendidih yang bisa terdengar.
"Hey..mandi nggak?!" Tanyaku ketika keluar dari kamar mandi dan mendapati Rina duduk terlelap di kursi. "Uuh, kamu lama banget mandinya!" Ucap Rina sambil meregangkan tubuh dan bergegas masuk ke kamar mandi dengan panci air panasnya.
Malam merayap datang mendampingi rintik air hujan sisa yang belum habis sejak siang. Kami duduk di ruang tengah kontrakan, dengan dua cangkir teh di meja yang sengaja kami buat untuk penawar dingin.
Jempolku terus bergoyang di atas ponsel, Rina sibuk dengan kertas dan menulis sesuatu di atasnya. "Kira-kira apa ya, yang dialami wanita itu Rin?" Tanyaku, Rina tampak cuek, seperti tak mendengar apapun.
Beberapa lama menunggu dan tak ada jawaban, aku mengulang pertanyaanku, tapi kembali tak terdengar jawaban. "Riin, kamu dengar nggak sih aku ngomong?" Ucapku sedikit jengkel. Tapi Rina tetap saja pada konsentrasi kertas di depannya, hanya melirik saja ke arahku.
"Dina...sepupuku yang cantik, untuk apa sih kamu mikirin urusan yang itu tidak ada hubungannya dengan kamu? Pikirkan saja yang lain, kuliah kamu, cita-cita kamu, atau apa gitu!" Jawab Rina sedikit kesal. Aku tahu, dia pusing dengan pengajuan skripsinya yang ditolak pembimbing, tapi itu tak membuat pikiranku puas.
"Bagaimana kalau dia itu memiliki hubungan dengan kita? Dia itu adalah Tante......." Rina berdiri meninggalkan aku yang masih belum selesai bicara dengan kata-kata "Jangan ngawur!"
Tante Jelita, itulah nama yang ingin aku ucapkan, seseorang yang pernah diceritakan almarhumah Mama Rina, katanya hilang di kota yang sekarang ini kami huni. Sayangnya Mama Rina tak memiliki sepotong gambar pun yang bisa kami lihat.
Rina kembali duduk di tempatnya, "Huu ah, aku tidur duluan Rin!" Pamitku menuju kamar tidur.
Keesokan paginya aku memulai kuliah pertamaku. Motorku mengaspal pelan di jalanan. Pagi itu aku begitu bersemangat dengan bayangan indahnya suasana baru dan status baru sebagai seorang mahasiswa.
Kota ini sangat sibuk dengan banyaknya kendaraan di jalan. Aku memperlambat laju motor ketika melewati rumah besar itu. Aku semakin mengurangi gas di tangan saat melihat pintu gerbang rumah itu terbuka. Seorang pemuda keluar mengendarai motor, dengan jaket dan helm, dia tancap gas dengan gesit menyusuri jalan. Aku bergegas mengikuti laju motor pemuda itu, dia lebih tangkas menyalip mobil yang menghalangi laju cepatnya. Aku berusaha tak kehilangan jejaknya.
Pemuda itu berbelok di halaman sebuah gedung. "Kampus?" Aku menjadi sangat lega, ternyata pemuda itu satu tujuan denganku. Dia memarkir motornya, begitu juga aku. Meskipun agak berjauhan, aku bisa melihat jelas bagaimana pemuda itu melepas helm dan merapikan rambut di spion motornya.
Aku diam-diam mengikuti langkahnya, "Ups!" Dia masuk ruangan yang sama denganku. "Hai Din?!" seorang teman menyapa dan memintaku untuk duduk bersamanya. Aku melirik arah duduk pemuda itu, dia mengambil tempat di sudut belakang, memilih diam sambil mengecek ponselnya.
Beberapa lama berselang,akhirnya aku tahu nama pemuda itu 'Aditya' satu kampus, satu jurusan teknik industri denganku. Di berbagai kesempatan aku berusaha mendekatkan diri, bukan karena naksir, tapi aku penasaran dengan perempuan yang mungkin saja memiliki hubungan dengan kehidupan Aditya. Kalaupun akhirnya ada cinta, itu bukan rencanaku, mungkin rencana Tuhan.
Waktu berlalu, pikiranku tentang wanita itu bisa terlupakan oleh padatnya jadwal kegiatan dan tugas kuliah. Aku dan Aditya semakin dekat. "Ikut aku yuk Din?" Tanya Aditya di suatu waktu.
"Kemana?" Aku balik bertanya.
"Ikut saja!" Aku menyerah untuk terus bertanya, aku mengikuti langkah Aditya menuju parkiran.
Setengah jam menderu di atas motor, akhirnya Kami berhenti di sebuah gedung besar bertuliskan RSJ. "Kok ke tempat ini Dit?" Tanyaku penasaran, dia tak pernah menceritakan tentang seseorang yang berada di rumah sakit jiwa.
Aku terus mengikuti derap kaki Aditya tanpa banyak tanya. Tempat itu lengang, hanya ada beberapa petugas yang kadang terlihat keluar masuk ruangan. Langkah Aditya melambat ketika sampai di sebuah pintu, "Kita sudah sampai" ucapnya lirih sambil mengembangkan senyumnya yang menurutku sangat manis, Aditya memegang gagang pintu kemudian membukanya.
Aditya berdiri menarik nafas kemudian menghembuskannya pelan. Di sudut ruangan itu ada seorang wanita duduk sendiri menghadap ke jendela, suaranya lirih bernyanyi, sebuah nyanyian tawar tak bertangga nada, aku juga mendengar tawa kecilnya.
Kami melangkah mendekat, "Bunda, aku datang!" Ucap Aditya lembut.
Wanita itu berbalik dengan lemah, hatiku terkesiap, dia adalah wanita yang selama ini membuatku penasaran, dan Aditya memanggilnya Bunda.
Pandangan matanya sayu, tapi senyumnya mengembang tipis di sudut bibir saat melihat wajah Aditya. "Bunda, aku membawa seorang teman, dia anak yang baik, bunda bisa berteman dengannya" telingaku sedikit mengembang mendengar pujian Aditya, tangannya mendekatkan tubuhku ke hadapan ibunya. Wanita itu menatapku, ada rasa takut, Aditya merangkul punggung ibunya, seakan meyakinkan ibunya, wanita itu tersenyum kecil.
Aku ulurkan tangan untuk bersalaman, seraya memperkenalkan namaku, tak ada suara yang ingin aku dengar, hanya tangannya saja yang mengelus pelan kepalaku.
"Kamu bisa memanggil beliau dengan Bunda Jelita atau Tante Jelita!" ucap Aditya.