Melati putih sudah tersusun rapih diatas kepala seorang pengantin wanita yang saat ini tengah dirias. Harum melati menusuk indra penciuman para perias yang saat ini tengah memasang sanggul diatas kepala sang wanita.
"Cantik" ucap seorang perias ketika melihat pengantin wanita sudah bersolek dengan indahnya.
Hari ini adalah hari yang paling dinanti oleh dua insang yang telah lama menjalin kasih selama tujuh tahun lamanya. Suka duka telah mereka rasakan sejak dibangku sekolah menengah pertama dimulai. Cinta pada pandangan pertama membuat Bima menyatakan cintanya pada Arini yang sama sama mencintai ketampanan serta kebaikan hati pria tersebut.
"Hari ini kau akan menjadi seorang pengantin. Ku harap kau akan selalu bahagia hidup bersama Bima, Arini" ucap Ibu Marisa kepada putri semata wayangnya tersebut.
"Semoga saja bu. Doakan anak mu ini selalu dalam lindungan yang maha kuasa bu, dan senantiasa di berikan keberkahan yang tak terhingga dalam pernikahan ini" Arini tersenyum menatap cermin yang menampilkan wajah cantiknya.
"Kau akan menjadi istri Bima setelah pernikahan ini Rin. Aku harap kau selalu bahagia hidup bersamanya setelah selama tujuh tahun menjalin kasih bersamanya. Aku sangat terharu dengan kebahagian yang akan segera terwujud. Kau adalah sahabat baikku. Jangan sampai kau bernasib sama sepertiku" Laila menyeka air matanya yang mulai metes dipipinya yang mulus.
Laila adalah sahabat Arini sejak kecil dan telah menjadi sahabat Bima dan Arini sejak mereka bertemu dibangku sekolah menengah atas. Arini bangkit dan mulai menyeka air mata sahabatnya tersebut. Ia begitu menyayangi Laila persis seperti adiknya sendiri.
"Kau tak perlu menangis Laila. Bima adalah pria baik dan bertanggung jawab. Aku yakin dia akan menjagaku serta senantiasa memberikan kebahagiaan untukku. Aku yakin" Arini mencoba menenangkan Laila yang begitu khawatir padanya.
Kegagalan rumah tangga yang dialami Laila cukup membuatnya trauma apalagi ia mengalami kekerasan dari mantan suaminya tersebut. Arini sangat paham dengan ke khawatiran Laila namun ia sangat percaya pada Bima bahwa pria itu takan pernah menyakitinya sebab selama ini mereka telah menjadi tiga sahabat yang sangat dekat. Dan Laila pun tahu kelembutan sikap Bima pada Arini sejak dulu.
"Kau tahu Rin, kau adalah wanita beruntung yang bisa mendapatkan hati baik seperti Bima. Dan Bima pun sangat beruntung karena mendapatkan seorang wanita yang pengertian dan sabar
sepertimu"
Laila memuk erat tubuh Arini dan mulai menangis tersedu dipelukannya. Arini mencoba menguatkan sahabatnya agar tak terlalu mengingat trauma yang ia alami.
"Kau harus yakin pada Bima, La. Bima pasti akan menjagaku dan melindungiku. Ia sangat mencintaiku dan kau pun sudah tahu akan hal itu"
Ibu Marisa segera menghampiri kedua wanita muda dihadapannya dan mulai mencoba mencairkan suasana.
"Sudah jangan bersedih. Ini adalah hari bahagia Arini dan ibu harap Laila juga ikut bahagia dengan terus bersama Arini. Ibu yakin bahwa kamu juga akan mendapatkan pengganti yang baik hati sama seperti Bima. Kau jangan bersedih lagi"
Laila menganggukan kepala dan mulai tersenyum bahagia. Ia kemudian berjalan menuntun Arini menuju altar pernikahan. Terlihat dari kejauhan, pria tampan dengan stelan jas rapih berwarna hitam tengah tersenyum menatap pujaan hatinya yang tengah berjalan menuju singah sana tempat mengucap janji suci.
"Lihatlah betapa tampannya calon suamimu" goda Laila seraya tertawa.
"Ish kamu ini. Aku malu dan gugup saat ini. Apakah dia sedang menatapku Laila?" tanya Arini seraya tersipu malu.
"Tentu saja. Matanya tak henti henti menatapmu bahkan ia tak berkedip sedikitpun"
"Kau jangan terus menggodaku Laila. Wajahku pasti sudah memerah karena mendengar ocehanmu"
Laila tertawa dan kemudian menatap sendu pada pria yang sangat ia cintai. Ya, Laila sangat mencintai Bima bahkan sejak mereka bertiga masih bersahabat saat sekolah dulu. Cinta dihati Laila takan pernah hilang bahkan saat ia menikah dengan mantan suaminya dulu.
Langkah Arini terhenti kala ia tak sengaja menginjak bangkai seekor burung yang tiba tiba saja terjatuh didepan matanya.
"Kenapa burung itu tiba tiba saja mati" gumam Arini dalam hati.
Hatinya begitu gelisah setelah melihat bangkai burung yang tak sengaja ia injak baru saja. Laila yang menyadari sahabatnya terkejut segera membuyarkan pikiran Arini agar secepatnya naik ke pelaminan.
"Tak usah hiraukan bangkai itu Arini. Kau cepatlah naik kesana dan langsungkan pernikahnmu"
Arini pun segera kembali melangkah maju menuju altar pernikahan dan kemudian duduk bersebelahan dengan Bima yang tampak takjub dengan kecantikan calon istrinya tersebut.
"Kau sangat cantik" bisik Bima tepat ditelinga Arini yang duduk disebelahnya.
Arini tersenyum mendengar pujian dari calon suaminya dan terdiam memikirkan malam pengantin yang ia dambakan selama ini.
"Siap siap nanti malam akan ku makan kau" Bima melemparkan lelucon pada Arini yang membuat Arini sangat malu.
"Baiklah karena kedua mempelai sudah ada, mari kita mulai acara pernikahan ini"
Akad nikah antara Bima dan Arini saat ini tengah berlangsung. Tawa serta senyuman manis terpancar dari kedua pasangan yang telah mengucap ikrar dan sumpah pernikahan diatas pelaminan. Riuh suara tamu undangan menambah kesan kebahagiaan dari acara perniakahn keduanya.
Perlahan lahan Laila mulai mundur dari pelaminan dan mulai menuju belakang rumah Arini yang sepi. Tangisnya pecah kala menyaksikan orang yang ia cintai kini sudah resmi menjadi suami dari sahabatnya sendiri. Hatinya hancur berkeping keping kala menyaksikan kebahagian terpancar dari wajah pria yang selama ini ia puja dan cintai.
"Apa yang harus aku lakukan dengan bayi dirahimku ini" Gumam Laila pelan disela isak tangisnya.
Saat ini ia tengah mengandung bayi didalam rahimnya dan ayah biologis dari bayinya, tak lain adalah Bima, pria yang baru saja resmi menjadi suami sahabatnya sendiri. Sudah sejak lama, Laila dan Bima menjalin hubungan tanpa status dan mereka pun sudah beberapa kali melakukan hubungan layaknya suami istri dibelakang Arini.
"Aku takan pernah mengugurkan bayi ini sebab aku sangat mencintai Bima. Aku juga takan pernah merusak pernikahan Arini sebab ia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Biarlah aku nanti akan pergi mengasingkan diri sampai anak ini lahir"
Prang!!!
Suara piring pecah dari arah belajang Laila sontak saja membuatnya terkejut. Tak ada siapapun di tempat ini sontak saja membuat Laila kelimpungan sebab takit bahwa akan ada orang yang melihat mereka berdua.
"Jadi kau sedang mengandung anakku? benar?" tanya Bima pada Laila yang saat ini diam mematung.
Bima yang tadinya ingin memberikan sepiring makan untuk Laila karena terlihat pucat, langsung memecahkan piring tersebut berkeping keping karena terkejut dengan ucapan yang baru saja ia dengar.
"Jawab aku Laila! apakah kau benar hamil anakku hah?!"
"Ak..aku...aku" Laila terbata bata menjawab pertanyaan Bima.
Ia begitu terkejut ketika mengetahui bahwa Bima kini mengatahui kehamilannya. Bahkan wajahnya tampak pucat ketika mengetahui bahwa Bima sangat marah dengan rahasia yang ia sembunyikan selama ini.
"Mengapa kau tak mengatakannya Laila!? kau tahu kau sedang mengandung anakku dan mengapa kau tak mengatakannya sejak dulu? jika saja aku tahu aku takan menikahi Arini, tapi aku akan menikahimu!"
Laila bergeming. Benar, jika saja ia mengatakannya maka mungkin saat ini dirinyalah yang menjadi pengantin di atas pelaminan dan bukannya Arini.
Entah apa yang membuat pikiran Laila kini terganggu. Ia kini ingin sekali mebdapatkan Bima bagaimana pun caranya.
"Lalu apakah sekarang aku tak bisa mendapatkanmu Bima?" tatapan Laila sungguh membuat Bima bingung dan frustasi.
Ia tak pernah menyangka bahwa Laila akan hamil dan mengandung anaknya. Terlebih lagi ia kini baru saja melangsungkan pernikahan dengan Arini. Jadi mana mungkin ia akan mengatakan hal ini secara tiba tiba pada keluarga besarnya dan Arini. Bisa bisa ia akan mati diamuk kedua keluarga.
"Sudah terlambat La. Aku sudah resmi jadi suami Arini. Dan kita tak bisa melakukan apa apa. Reputasiku keluargaku akan hancur jika semua orang tahu. Bahkan aku juga akan mati dihajar ayahku"
"Ini anakmu Bim. Apakah kau tega menelantarkan anakmu?"
Bima memegang pundak Laila dengan lembut dan berusaha membuat wanita didepannya sedikit tenang.
"Sekarang kita jalani saja ini diam diam ssperti sebelumnya. Kau jangan biarkan orang mengetahui kehamilanmu apalagi jika mereka tahu itu anakku. Aku akan memberimu nafkah setara dengan Arini. Aku akan membiayai seluruh kebutuhanmu dan calon anak kita. Kau tak perlu khawatir"
"Tapi aku juga butuh kamu Bim. Aku butuh kasih sayang dan perlakuan hangat darimu!" Laila mulai menangis.
"Iya aku janji akan selalu ada untukmu dan akan tetap mencintaimu seperti sebelumnya. Hanya saja kau harus paham situasiku yang sudah menjadi suami sahabatmu sendiri. Kau pasti juga akan menjadi gunjingan orang banyak jika mereka tahu kau menjalin kasih bersamaku bahkan kau mengandung anakku sekarang. Kita cukup diam dan aku nanti akan menikahimu secara siri. Aku janji"
Bima memeluk tubuh Laila dengan erat. Ia kemudian mengec**up pucuk kepala Laila dan perutnya yang masih terlihat rata.
"Kau hapuslah air matamu dan tersenyum. Walaupun ku tahu hatimu sakit karena ku namun kau harus tetap tegar dengan semua ini. Aku janji akan berlaku adil padamu. Aku pergi dulu ya, sebelum ada orang yang datang"
Bima melangkah pergi meninggalkan Laila yang terdiam dengan mata yang sembab.
Hati Laila kini berkobar, ia sudah dirasuki rasa serakah serta egois sehingga ia menjadi sangat ingin mendapatkan Bima demi anak yang ia kandung walaupun sahabatnya sendiri harus menjadi korbannya.
"Dia milikku! dan akan selalu begitu Arini!" Laila mengepalkan tangan dengan penuh amarah.
Belakang rumah Arini yang memang ditumbuhi syuran serta pohon pohon yang tinggi, membuat Laila segera membersihan pecahan piring yang tadi Bima jatuhkan dan melemparkannya jauh kedalam pohon sana.
Suara musik yang begitu keras dan memekakan telinga, lambat laun membuat Laila nampak semakin benci dengan pesta meriah yang diadakan dirumah sahabatnya tersebut.
"Tunggu saja kehancuran yang akan menimpamu Arini"
Laila melangkahkan kaki kembali menuju dalam rumah dan berbaur dengan para tamu yang tampak asik bergosip diacara perniakah Arini.
"Eh Laila, darimana aja?" tanya seorang wanita paruh baya pada Laila.
"Kok kamu kelihatan gendutan ya? kaya yang lagi ngisi" ucapan wanita itu sontak saja membuat Laila terdiam.
"Mana mungkin dia ngisi toh udah ditinggal kabur sama suaminya. Mungkin badannya aja kali yang melar" timpal wanita lain mengejek Laila.
Sontak saja perkataan mereka membuat Laila geram dan membantingkan gelas keatas meja hidangan.
"Kalau saya ngisi, memang apa masalahnya sama ibu? toh aku hamil juga bukan sama suami ibu. Eh aku lupa, aku gak akan bilang siapa ayah dari anakku sebab salah satu ibu disini mungkin saja marah suaminya saya rebut. Ups" Laila melenggang pergi meninggalkan sekumpulan ibu ibu yang sedang bergosip.
Tatapan nyalang tertuju pada Laila dari beberapa ibu disana. Namun dengan santainya Laila melangkah maju menuju pelaminan dan sdgera memberikan selamat pada Bima dan Arini.
"Selamat ya kalian. Semoga jadi keluarga bahagia sampai mau memisahkan"
Arini memeluk tubuh sahabatnya tanpa curiga.
"Terimakasih banyak La. Kau memang sahabat kami yang sangat baik. Aku doakan semoga kamu bisa mendapatkan pria yang baik sama seperti Bima."
"Tentu saja Rin. Aku pasti akan dapatkan Bima"
"Maksudku pria seperti Bima" lanjut Laila dengan senyumnya.
Tak lama kemudian, Laila berjalan menuju Bima dan langsung memeluknya erat. Tak ada rasa curiga dihati Arini sebab ia pun sudah sangat tahu bahwa Bima dan Laila juga sering memeluk satu sama lain dihadapannya.
"Selamat ya sayang. Kau sebentar lagi akan menjadi seorang ayah" bisik Laila pelan ditelinga Bima.
Siang berganti malam, pesta meriah yang dilakukan Arini dan Bima sudah selesai. Keduanya kini tengah makan malam berdua hingga tiba tiba saja Laila datang menghampiri keduanya.
"La kamu sudah makan?" tanya Arini.
"Sudah tadi siang Rin"
"Ko tadi siang La. Sekarang kamu makan malam bareng kami aja"
Bima mengedipkan mata pada Laila.
"Ah gak usah Rin. Aku gak enak ganggu kalian"
"Enggak ko La. Kamu ini kaya sama siapa aja"
Laila mulai mengambil piring dan duduk tepat didepan Bima yang sedang menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
Perlahan lahan Laila mulai duduk dan menyuapkan sesendok makanan kedalam mulutnya. Hingga ia pun melakukan hal tak pantas pada Bima melalui kakinya seakan akan menggoda suami sahabatnya tersebut.
Makanan yang lezat kini habis tak tersisa dan sekarang ketiganya mulai melakukan obrolan ringan.
"Rin dimana ibumu? kok sejak tadi belum kelihatan?" tanya Laila basa basi.
"Ibu sedang pergi mengantar makanan untuk orang orang kampung. Kebetulan tadi makanan sisa pesta masih banyak, sayang kalau dibuang mending di kasih sama orang orang kampung"
"oh begitu. Tapi ini udah tengah malam Rin, apa kamu gak takut ibu kenapa napa?"
Arini terdiam ia kemudian ingat bahwa ibunya pjnya riwayat asma dan ia takut asma ibunya kambuh sebab kedinginan.
"Iya juga ya La"
"Ya sudah aku pergi dulu untuk cari ibu. Kalian tunggu disini saja biar aku cari ibu kamu di sekitaran kampung" Usul Laila dengan senyuman.
"Enggak la. Biarkan aku sama Bima juga ikut. Kita cari ibu sama sama saja"
Tak berselang lama ketiganya sudah siap untuk keluar rumah mencari Ibu Marisa yang sejak sore belum juga pulang. Dengan sengaja, Laila berinisiatif merencanakan untuk mereka berpencar mencari Ibu Marisa.
"Kamu cari kesana Bim. Aku sama Arini akan cari ke dekat kampung sebelah"
"Tapi disana sangat gelap La. Apa kalian gak takut?"
"Gak ada apa apa Bim. Kami kan berdua. Jika ada apa apa aku akan hubungi kamu"
Akhirnya Arini dan Laila pun pergi menuju kampung sebelah yang berjarak satu kilo meter dengan jalanan yang cukup gelap serta pepohonan yang rimbun berjejer disisi kanan dan kiri jalan.
"Ku kira tidak semenakutkan ini La" ucap Arini pelan.
Laila tersenyum menyeringai dan mulai berjalan meninggalkan Arini sendirian. Arini yang kebingungan sebab Laila hilang, berteriak memanggil nama wanita tersebut namun tak ada jawaban .
Lain halnya dengan Laila yang mulai menelpon Anto untuk melakukan rencana yang ia susun sejak tadi sore.
"Sekarang waktunya" Laila mematikan telpon dan memasukan kembali ponselnya kedalam saku dasternya.
Dari kejauhan, Laila melihat Arini yang sedang mencari dirinya, tiba tiba saja dihadang oleh lima orang pria dengan topeng hitam yang langsung menyeret tubuh pengantin baru tersebut.
"Tolong! Tolo...ng!" teriak Arini yang diseret oleh kelima pria misterius tersebut.
Laila tersenyum puas dan mulai merencanakan hal lainnya. Ia mencari Bima dan segera manarik tubuh pria tersebut masuk kedalam rumah Arini. Tak banyak bicara, Laila pun mulai menarik tubuh Bima masuk kedalam kamar Arini yang sudah dihiasi bunga bunga indah khas kamar pengantin.
Tak lupa, sebelumnya Laila sudah menyalakan ponsel yang sekarang sudah terhubung melakukan panggilan video dengan ponsel milik Anto. Anto beserta beberapa kawannya tertawa melihat tontonan menarik diatas ranjang pengantin yang harusnya dilakukan Arini bersama Bima, namun Bima malah melakukannya bersama Laila yang notabenenya adalah sahabat Arini.
"Lihatlah suamimu yang ganas ini sayang. Dia sangat berga**irah terhadap sahabat baikmu"
Arini menangis seraya menggelengkan kepala. Ia begitu tak percaya dengan kelakuan sahabatnya beserta suaminya yang baru saja tadi siang ia nikahi.
Suara suara aneh mulai terdengar menggelegar diseluruh ruangan kosong yang kini menjadi tempat Arini disekap. Tawa Anto beserta kawan kawannya begitu mengerikan hingga membuat Arini ketakutan.
"Selarang kau adalah milik kami dan kami akan melakukan hal seperti yang selama ini kau mau bersama Bima suamimu. Bayangkan saja jika aku adalah Bima yang sangat kau cintai Arini"
Anto segera menyobek pakaian Arini dengan kasar. Hingga wanita itu semakin berontak dan beberapa kali menendang Anto dengan kaki yang ikatannya mulai longgar.
"Dasar wanita tak tahu diuntung. Sekarang kau diam dan layani nafsu kami" Anto mulai mendekatkan tubuhnya ke tubuh Arini.
Sakit hati yang Arini rasakan saat ini bertambah sakit ketika pria pria bajing**n itu mulai melakukan hal tak senonoh padanya.
"Ternyata dia masih segel. Hahahahah ternyata akulah yang pertama merasakannya" Anto tertawa girang dan bangga.
Arini kian menangis sesegukan ketika merasakan sakit yang luar biasa ketika satu persatu pria itu mulai melecehkannya. Nafsu telah membutakan hati kelima pria tersebut. Sampai sampai ketika semuanya sudah puas berkali kali melecehkan Arini mereka mulai memukuli tubuh wanita tak berdaya itu dengan sangat kasar.
"Lihatlah suamimu yang sudah berkali kali meniduri sahabatmu sendiri? apa hatimu sakit?" tanya Anto pada Arini.
Anto mulai menarik paksa sumpalan kain didalam mulut Arini untuk mendengar jawaban dari wanita yang sejak dulu ia cintai.
"Sejak dulu aku mencintaimu tapi kau malah mencintai pria itu. Dan kau sekarang merasakan kesakitan yang aku rasakan sejak dulu. Kau hancur. Kau bahkan tak akan bisa hidup dengan tenang setelah ini. Bayang bayang yang telah aku lakukan dengan indah akan menghiasi hari harimu Arini. Oh ya, terlebih lagi kau belum tahu jika Laila sedang mengandung anak suamimu"
Bak disambar petir, Arini terkejut mendengar perkataan Anto yang begitu menyakitkan hatinya.
"Kau pasti berbohong" ucap Arini dengan datar.
"Tentu saja aku tak berbohong sayang. Aku takan mungkin membohongimu. Mereka sudah melakukan ini sejak kalian berpacaran di jaman sekolah. Apakah kau tak curiga sayang? Bima telah menikmati tubuh sahabatmu berkali kali dan kau tak tahu. Kasihan"
"Tak mungkin Laila akan tega melakukan ini padaku. Dan Bima pun takan sejahat ini padaku"
"Cup cup cup. Arini yang malang. Mereka justru sangat senang melakukan ini. Sekarang saja saat kau hilang apa mereka memikirkanmu? mencarimu? tidak! mereka malah saling memadu kasih diatas ranjang yang sudah dipersiapkan untukmu"
Arini yang hancur perlahan lahan mulai menangis meraung raung. Hingga membuat Anto dan beberapa pria lainnya mulai panik. Rumah kosong diujung jalan ini benar benar sangat sepi, namun tangisan Arini bisa saja terdengar oleh orang yang melintas.
"Diam sayang" Anto mulai membujuk.
Arini yang tak kunjung diam membuat Anto naik pitam dan membawa sebuah batu bata besar disudut ruangan dan menghantamkannya ke kepala Arini.
"Diam! diam! diam! sudah kubilang untuk diam!"
"To...long hentikan" rintih Arini terdengar pilu.
Tak berhenti disitu Anto mulai mencari balok kayu yang sangat besar dan mulai menghantamkan keras ke kepala Arini.
"K..kenapa kau lakukan ini padaku? apa salahku? kalian menyakitiku. Kau telah mengambil kehormatanku" Dengan terbata bata Arini berbicara dengan nafas yang mulai tersenggal.
"Aku bersumpah bahwa aku akan datang dan memberikan rasa sakit yang lebih dari ini" Mata Arini kini terbelalak dengan nafas yang terhenti.
Darah mengucur deras dikepalanya membuat Anto dan beberapa pria itu panik. Anto kemudian membungkus mayat Arini dengan sebuah kain jarik dan mencoba menguburkannya dibelakang pohon pisang dekat rumah kosong tersebut.
Jam sudah menunjukan pukul 12 malam. Ibu Marisa yang sampai saat ini berada dirumah kerabatnya dikampung sebelah tak tahu bahwa anaknya sudah meninggal. Hatinya begitu gelisah memikirkan putri semata wayangnya yang kini disangkanya tengah berbulan madu dirumah peninnggalan ayahnya. Beberapa pesan dari Arini di ponsel Ibu Marisa yang tak dibalasnya, kini ia balas dengan mengatakan bahwa ia akan meningap dirumah kerabatnya tersebut.
Namun entah kenapa tiba tiba saja Ibu Marisa yang tengah tertidur mendengar sayup sayup suara Arini dari balik kaca jendela.
"Ibu, tolong Arini bu"
Ibu Marisa berjalan menuju jendela yang terbuka dan mencari sumber suara. Hatinya kian gelisah ketika mendengar suara yang menyeramkan tersebut.
"Kamu disini nak?" tanya Ibu Marisa seraya mencari sumber suara.
Tak lama kemudian Arini pun datang dengan baju pengantinnya berwarna putih serta harum melati yang meguar menusuk hidung Ibu Marisa.
"Kenapa kamu bekum ganti baju nak? ini sudah malam kenapa kau kesini? dimana Bima?"
"Maafin Arini bu. Arini banyak salah sama ibu" Dengan hanya sekat jendela, Ibu Marisa memeluk tubuh anaknya yang terasa dingin.
"kamu dingin sekali nak? apa kamu sakit? Kamu masuk saja disini tidur sama ibu"
"Tidak bu. Arini harus pergi. Ibu jaga diri baik baik ya. Arini sayang ibu" Arini memeluk ibunya dengan erat seraya tersenyum.
Ibu Marisa mengelus pucuk kepala putrinya, namun detik kemudian ia tersadar bahwa kepala anaknya terasa aedikit basah serta lunak. Hingga detik kemudian Ibu Marisa menatap putrinya yang sudah berubah wujud menjadi sangat mengerikan dengan dua bola mata yang putih serta darah segar keluar dari pipinya yang sobek.
"Astagfirullah !" Teriak Ibu Marisa kencang.
"Akhirnya Nyai bangun pak" ucap istri kakak Ibu Marisa.
Ibu Marisa terbangun dari tidurnya dan ternyata kejadian semalam adalah mimpi belaka.
"Aku kenapa mas?" tanya Marisa pada kakaknya.
"Sing sabar nyi. Ikhlaskan Arini biar dia tenang. Kasihan dia nyi"
Ibu Marisa termenung serta kebingungan. Apa maksud perkataan kakanya tersebut.
"Maksud mas apa? apa yang terjadi? jangan bicara hal seperti itu pada anakku. Ikhaskan, ikhlaskan ! kaya orang mati aja!"
"Sudah mas bilang kamu harus sabar, ucap istigfar. Beberapa hari ini kamu ngawur, kamu belum ikhlas. Sudah seminggu Arini meninggal dan kamu masih saja belum ikhlas! kasihan Arini Nyi. Kasihan anakmu!"
Marisa bergeming. Perkataan kakanya sungguh tak pantas diucapkan. Apa yang terjadi. Baru saja kemarin anaknya menikah lalu kenapa kakaknya bilang bahwa anaknya meninggal dan sekarang sudah tujuh hari kematiannya.
"Mas yang gila! sudah jelas kemarin anakku nikahan! kenapa mas tega sama ponakan sendiri hah!"
Marisa menangis dan mulai mencerna perkataan kakaknya tersebut. Hingga ia pun ssdar dan tahu bahwa ananknya sudah tewas dan mayat anaknya sudah busuk didekat rumah kosong.
"Astagfirullah nak! kenapa kamu tinggalin ibu begini? kenapa?"
Marisa menjerit menjadi jadi ketika sadar bahwa memang anknya sudah meninggal tujuh hari yang lalu. Warga yang berkumpul sangat meras iba dengan keadaan Marisa yang terlihat seperti orang gila. Ia masih saja kembali ke waktu dimana anaknya menikah dan kejadian ini sudah seminggu lamanya.
Para pelaku pembunuhan Arini masih bebas berkeliaran dengan rasa ketakutan yang mendalam sebab setiap malam mereka terus saja diteror oleh arwah Arini yang penasaran.
Malam ini angin bertiup dengan kencang, Laila yang hidup sendirian sering kali didatangi oleh Bima yang diam diam datang masuk menyelinap kedalam kamar kontrakannya untuk memadu kasih seperti biasa.
Laila tampak ketakutan bahwa kejahatannya terbongkar.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Bima seraya mengecup kening Laila.
"Aku hanya merasa bahwa arwah Arini selalu saja menganggu kita Bim. Aku takut"
" Tenang saja sayang. Dia sudah meninggal dan tak mungkin menyakiti kita"
"Tapi Bim.." Belum sempat Laila berucap, Bima langsung menci**m bibir Laila dengan hangat.
*******
Malam ini Anto beserta kawan kawannya yang telah membunuh Arini sedang berpesta miras didalam gubuk kosong yang menjadi tempat eksekusi Arini. Tiba tiba saja salah satu diantar temannya berteriak dengan keras seraya memegang bagian perutnya yang mulai sobek dsn mengeluarkan banyak darah.
"Ahkkkkkkk! hentikan set**n!" teriak pria itu meraung.
"Kau pantas mendapatkannya bedeb**! kau sudah membuatku mati! hahahahahah!" Suara salah satu pria itu tampak persis seperti suara Arini.
Anto berlari dan mencoba melihat keadaan temannya yang tengah kesakitan itu dengan sempoyongan.
"Kau kenapa hah? bangun!" Anto menendang tubuh kaku yang ada diatas lantai itu.
"Gawat dia mati" ucap teman yang lainnya dengan panik.
Tiba tiba saja dari arah belakang tubuh Andi yang merupakan temannya Anto datang dan menikam tubuh pria dihadapanya tepat dibagian leher. Tubuh pria itu kejang kejang dan tak lama kemudian suara ngorok pun terdengar.
Dua tubuh manusia bersimbah darah kini sudah tergeletak diatas lantai. Dengan gerakan cepat arwah Arini yang merasuki tubuh Andi menikam Anto tepat di bagian matanya hingga membuat pria itu meraung kesakitan.
"Ampun! ampun!"
Arini yang merasuki tubuh itu terus saja menghujamkan pisau berkali kali tanpa rasa ampun. Hingga membuat Anto perlahan lahan mencoba merangkak namun segera kakinya di tusuk dengan keras dan akhirnya arwah Arini pun menusuk pria itu tepat didadanya.
"Aku sudha memohon padamu dan kalian tak mendengarnya. Sekarang kalian yang memohon padaku namun aku juga tak mendengarnya" Arini tersenyum mennyeringai sebelum menusuk tubuh Andi serta seorang pria yang mati karena overdosis.
Amhin bertiup kencang dan awan gelap membuat suasana sangat hening dan menyeramkan. Arwah Arini bersenandung ria diatas atap rumah Laila yang kini tengah berduaan bersama Bima. Hingga Arini pun mulai masuk dan membalaskan semua dendamnya serta mewujudkan semua sumpahnya.
Laila yang terlelap tiba tiba saja terbangun ketika mendengar seseorang memanggilnya. Ia menggoyangkan tubuh Bima yang tidur disamoingnya namun tak ada respon apapun. Ia berjalan menuju jendela dan ia pun terkejut melihat arwah Arini yang sangat menyeramkan.
"Kau harus mati!" ucap Arini berteriak
Bima terbangun ketika mendengar suara kaca jendela yang menutup dengan keras. Ditatapnya Laila yang kini sedang menyisir rambutnya seraya bernyanyi.
"Sayang?" panggil Bima pelan.
"Kamu sedang apa?" Bima bertanya kembali pada Laila yang sedang membelakanginya.
"Apa kau tak merindukanku Bim?" tanya Laila yang sebenarnya adalah arwah Arini.
Bima memeluk tubuh Laila dan menci**m tengkuk leher wanita dihadapannya.
"Ini sudah malam kita lanjut saja besok"
Laila menoleh kearah Bima dan sontak saja Bima terkejut ketika melihat mulut Laila penuh dengan darah serta perutnya yang sudah berlubang.
"Kamu kenapa La?" Bima mundir menjauh dari tubuh Laila yang dikuasai arwah Arini.
"Kenapa kau takit padaku Bim? apa kau tak cinta lagi padaku?" Laila mulai menangis tersedi sedu hingga membuat Bima mendekatkan dirinya pada Laila.
"K..kau kenapa?"
"Aku sakit Bim. Aku sakit. Hatiku sakit karena telah dihianati dan aku hancur karena mu"
"Aku tak melakukan apapun La"
Arwah Arini mulai mendekatkan tubuh Laila yang ia gerakan menuju Bima. Hingga ia pun membuat pria itu terkantuk ditembok dengan tubuh yang kaku.
"Tataplah mataku Bim. Ini aku Arini. Kenapa kau lupa padaku Bim. Aku istrimu"
Bima tertegun dan menggelengkan kepala dengan cepat.
"Jangan berpura pura La. Aku tak suka"
"Kau dulu sangat mencintaiku bukan? lalu kenapa kau menduakanku dengan sahabat baikku sendiri Bim ?kenapa? Bayimu sudah menjadi milikku dan kau juga tekah kehilangku dan Laila sekarang"
"Tidak! tidak mungkin! kau sudah mati!"
"Aku memang sudah mati Bim. Tapi sekarang aku sudah tak sendirian. kini temanku sudah mati bersamaku dan kau tinggal sendiri"
Arini mulai menampakan wujud aslinya dan keluar dari tubuh Laila. Tubuh Laila yang tak berbentuk sungguh membuat Bima ketakutan dan terguncang. Didepan matanya sendiri, Laila sudah tergolek tak bernyawa dengan perut berlubang serta bayinya yang berupa daging ada didalam mulutnya.
Bima terguncang dan menjerit jerit hingga membuat beberapa warga datang berhamburan menuju rumah Laila.
"Sekarang kau telah kehilanganku dan juga dia Bim. Aku sangat mencintaimu dan kau telah memilihku dan dia. Kau sudah menghancurkan persahabatanku dengannya dengan caramu sendiri. Terlepas dari kau ikut serta atau tidak atas kematianku, tapi Laila justru yang menginginkanmu sepenuhnya. Kita akan bertemu lagi nanti Bim. Kutunggu kau. Hihihihi"
Tawa Arini melengking membuat seluruh warga ketakutan. Bima yang syok sontak saja membuat mentalnya terguncang dan menjadi gila.