Ya, aku adalah Cindyrela, Cindy yang rela dihina dan dibully sesuka hati mereka karena keadaanku.
Diusiaku yang menginjak 18 Tahun bulan ini, tak ada hal istimewa yang terdapat pada diriku, selain paras cantik yang kata Kakek menurun dari Mama. Sayangnya, aku tak pernah ingat atau melihat bagaimana sosok Mama yang cantik tersebut, bahkan Papaku pun aku tak tahu. Mereka telah bercerai saat usiaku masih 3 bulan, dan semuanya kini telah pergi dengan pasangan masing-masing, meninggalkanku seorang diri dibawah asuhan seorang Kakek bernama Baskoro. Beliau adalah Ayah dari Mamaku, sedangkan Nenek telah tiada bertepatan dengan hari kelahiranku.
Kakek yang tua renta, bekerja membanting tulang sebagai penjaja kue pukis demi menghidupiku. Untungnya aku tak memiliki saudara, sehingga tak membawa beban lebih banyak bagi Kakek kesayanganku tersebut.
Dikota ini Kakek juga sebatang kara karena beliau dulunya adalah seorang perantauan dari sebuah pulau yang jauh disana. Untuk kembali pulang setelah Nenek meninggal, itu tidak mungkin. Butuh biaya yang tak sedikit meski hanya naik kapal laut kelas ekonomi sekalipun.
Aku hidup dan tumbuh hingga usia 18 tahun ini hanya bersama Kakek Baskoro. Syukurlah, meski tak kaya, setidaknya hasil berjualan kue pukis selama belasan tahun ini sudah cukup untuk menopang hidup kami berdua, juga untuk biaya sekolah. Namun tidak untuk kuliah. Aku berniat untuk tidak berkuliah karena kasihan melihat Kakek. Sejak umur 5 tahun hingga sekarang, aku terbiasa membantu Kakek berjualan kue pukis, dan mulai tahun lalu aku mengambil alih pengelolaannya agar Kakek bisa beristirahat di usia tuanya.
Suatu ketika, "Miskin aja belagu. Modal cantik saja, tapi ga berani naik ranjang, ke laut aja deh!" cibir mas Bimo, kekasihku.
Aku menatapnya tak percaya. Tiga tahun aku berpacaran dengannya sejak mulai masuk SMA, hingga kini lulus SMA, dia adalah pribadi yang lembut. Aku tak pernah berpikir jika seorang Bimo mampu mengucapkan kata sepedih itu.
Tatapan mata mas Bimo begitu tajam menusuk jantungku, "Jujur saja. Aku tak pernah mengajakmu melakukan itu karena kau masih dalam masa sekolah. Namun sekarang, setelah lulus sekolah ternyata kau masih juga tak mau menerima ajakanku. Wanita cantik seperti apapun, jika dia miskin dan sombong sepertimu, ga bakal bisa laku!" mas Bimo semakin memberikan penekanan.
Mataku seketika terasa berembun. Gemuruh di dada ini tak tertahan lagi, "Maaf mas, aku punya prinsip. Dan prinsip, tidak terikat pada kondisi kaya atau miskin. Aku tak mau kesucianku diobral hanya karena aku miskin!" suaraku bergetar.
"Halah, prinsip bodoh!!" mas Bimo semakin marah.
"Lalu apa mau mas Bimo?" kubalas tatapannya.
"Kita putus!!" pinta mas Bimo.
"Ok. Itu jauh lebih baik daripada menjual diri!" jawabku penuh emosi.
Tangisku meledak sudah. Bahkan punggung Mas Bimo sudah menghilang dari pandangan setelah ia mengucapkan kata putusnya. Aku tahu, dia pemuda yang tampan dan terpelajar. Mungkin mas Bimo lebih cocok dengan satu wanita diluar sana dibandingkan aku yang miskin ini.
Brukk. Masih dalam tangisan yang baru reda, mendadak gerobak dagangan kue pukisku ditabrak sebuah sepeda motor hingga sebagian besar isinya berhamburan ke tanah.
"Apa yang kau lakukan, Mirna?" aku mendamprat dengan kesal.
"Hahaha, si miskin bisa ngamuk juga ternyata. Nih 1 juta. Semua pukismu termasuk gerobaknya bisa kubeli. Atau bahkan tubuhmu pun bisa kubeli jika aku mau!" Mirna menyombongkan diri.
Mirna adalah teman sekelasku saat masih SMA. Meski tak terlalu kaya, dia cukup terpandang karena Ayahnya adalah seorang Lurah.
Emosiku menanjak saat melihat dagangan Kakek yang sudah tak bisa diselamatkan lagi, "Apa salahku padamu?, kenapa kau selalu saja mem-bully dan menghinaku?" jika hanya aku sendiri yang dibully sih tidak masalah, tapi tidak jika sudah menyangkut Kakek.
Mirna menatapku dengan jengah, "Kesalahanmu hanya dua. Wajahmu itu membuat kecantikanku terbaikan, dan kemiskinanmu membuatku semakin bersemangat untuk mengganggumu. Ayolah Cindy, jangan biarkan hari-hariku menjemukan tanpa ada kesenangan untuk mengerjaimu hahaha. Deritamu adalah bahagiaku!"
Beberapa bulan kemudian terdengar kabar bahwa mas Bimo kini menjadi kekasih Mirna. Aku tak mempermasalahkan hal tersebut, toh memang jodoh tidak ada yang tahu. Namun yang menjadi masalah adalah bersatunya mereka sebagai dua manusia penghinaku. Tambah hari, penghinaan dua sejoli itu terhadapku, semakin menjadi-jadi. Aku tak memiliki kemampuan finansial apapun untuk sedikit merasa lebih dibandingkan mereka. Dan lagi, Kakek Baskoro senantiasa berpesan padaku untuk selalu mengalah jika diganggu dan dihina. Kakek tak mau berurusan dengan Pak Modri, Lurah di wilayah kami.
Kejadian mengejutkan terjadi tatkala datang serombongan mobil ke rumah kami. Begitu melihat mereka, Kakek Baskoro langsung menangis bahagia.
"Kakak, akhirnya aku menemukanmu!" seorang pria memeluk Kakek Baskoro dengan sesenggukan tangis.
Pria tersebut adalah adik kandung Kakek Baskoro, namanya Kakek Ruslan. Dan orang-orang yang ikut bersama Kakek Ruslan adalah anak dan istrinya. Kakek Baskoro dan Kakek Ruslan adalah dua bersaudara.
Dari Kakek Ruslan akhirnya kami menerima kabar bahwa Ayah dan Ibu dari Kakek, jadi mereka adalah buyutku, telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Kakek buyut adalah seorang kaya raya di pulau tempat tinggal mereka. Bahkan Kakek buyut terbilang sebagai pengusaha terkaya di pulau tersebut. Beliau memiliki berhektar-hektar pertanian kelapa sawit, pabrik minyak goreng, dan beberapa perusahaan lainnya.
Karena Kakek Ruslan waktu itu belum menemukan keberadaan Kakek Baskoro, maka warisan sepenuhnya jatuh ke tangan Kakek Ruslan. Namun kali ini keberuntungan sedang berpihak kepada sepasang Kakek tersebut. Kakek Ruslan datang dengan membawa harapan besar untuk masa depan yang lebih baik, jauh lebih baik. Kenapa keberuntungan juga berpihak pada Kakek Ruslan?, karena dia tak ingin diusia tuanya tersebut menanggung sebagian beban harta yang seharusnya menjadi hak Kakek Baskoro.
"Kak, perlu kau tahu bahwa satu-satunya anakku, Rary, yang sepantaran usia dengan Lidya, Mamanya Cindy, bukanlah manusia yang terlahir normal. Dia memiliki kelainan down syndrome. Hingga usianya yang hampir menginjak kepala 4 seperti ini, kelakuan Rary tak ubahnya seperti bocah balita. Jadi dengan segala hormat, kuharap Kakak bersedia mengelola warisan orangtua kita sepenuhnya. Aku pribadi yang terbiasa sebagai petani sawit juga tak memiliki kemampuan sedikitpun dibidang perusahaan." Kata Kakek Ruslan.
"Aku bukanlah pria muda lagi, Rus. Tenaga dan pikiran sudah tak setajam dulu. Tapi aku punya solusi, Cindy yang akan menjadi ujung tombak pengelolaan seluruh usaha keluarga besar kita. Sepanjang sekolahnya sejak TK hingga SMA, dia tak perlu luput dari rangking 1. Personality Cindy juga berkembang dangat baik. Jadi kurasa, dia cocok mengemban tongkat estafet keluarga kita," jawab Kakek Baskoro.
Aku kaget dan gemetar tidak karuan. Bisa dibayangkan betapa besar tanggung jawab yang harus kupikul nantinya. Namun bagaimanapun juga, aku harus menerimanya sebagai bentuk ketaatan pada Kakek. Aku harus segera bersiap untuk menghadapi perubahan hidupku dari seorang miskin menjadi wanita karir yang kaya raya.
--
2 Tahun kemudian..
Aku baru saja turun dari pesawat. Agendaku hari ini adalah melakukan kunjungan ke cabang perusahaan yang kudirikan di kota tempat Kakek Baskoro membesarkanku. Ada 3 perusahaan di kota ini dan pengelolaan keseluruhannya aku percayakan pada 3 sahabatku jaman SMA dulu. Sedangkan aku memilih untuk berkantor di perusahaan-perusahaan yang berada di Ibukota. Total kini keluarga besar Kakek memiliki 3 perkebunan sawit, 7 perusahaan berskala besar, dan 25 perusahaan berskala kecil yang tersebar di segala penjuru negeri. Semuanya dibawah kendali penuhku sebagai cicit sekaligus owner dari keluarga besar Baya'sud, sehingga namaku kini resmi menjadi Cindy Baya'sud.
"Halo semua, lama nunggu ya?. Sori pesawat delay.." sapaku pada Burhan, Tiwi, juga Aci sebagai CEO masing-masing perusahaan.
Sengaja aku mengajak mereka bertemu di cafe tempat kami nongkrong saat SMA dulu, itung-itung nostalgia. Apalagi cafe tersebut sudah kubeli beberapa bulan yang lalu karena pemilik sebelumnya mengalami pailit, jadi apa salahnya nongkrong di cafe sendiri.
"Kami baru sampai 15 menitan yang lalu. Tidak terlalu lama kok. Gimana kabarmu disana, Bos?" jawab Burhan sebagai satu-satunya cowok disana.
"Baik. Semua berjalan lancar dan aman. Hanya saja jodoh yang belum juga mendekat hahaha," candaku mentertawakan kemalanganku sendiri.
"Gadis sekeren kamu, setajir kamu, sehebat kamu, dan secantik kamu, tak perlu khawatir tentang jodoh. Jika saja dibuka pendaftaran, mungkin sudah ngantri sepanjang sekian kilometer hehe. Sabar saja, belum waktunya dapat jodoh!" Aci bernasehat.
"Aku saja yang sudah nikah rasanya pingin bujang lagi. Nikmati kesendirianmu dulu, Say.." Tiwi mengimbuhkan.
Tanpa kami sadari, datang sepasang kekasih memasuki cafe dan duduk tak jauh dari tempat kami.
Sedang asyiknya kami ngobrol, pasangan tersebut mendekati kami, "Oh si miskin lagi reunian. Apa kalian mampu bayar makanan di cafe ini?" suara si wanita yang ternyata adalah Mirna.
"Kami memang ga ingin bayar kok. Lagian kamu ya, sudah 2 tahun tidak bertemu, masih saja julid!" jawabku.
"Lancang kamu Cindy. Tak pantas kau berkata lantang pada Mirna yang merupakan anak orang terpandang di daerah sini!" mantanku sendiri, mas Bimo, ikut-ikutan menghina.
"Biarin dia, sayang. Biar dia puas dulu untuk mengumpatku, sebelum mereka nantinya diseret pergi oleh sekuriti karena tidak ingin membayar." Mirna tersenyum garing.
Burhan hendak berdiri untuk memberi sedikit pelajaran pada mas Bimo, tapi aku menahannya, "Selow, Bur!" aku kedipkan satu mata untuk memberi tanda bahwa aku masih baik-baik saja.
"Kalau begitu, ngapain nunggu lama-lama?. Cepat bawa sekuriti ke sini dan seret mereka!!" lanjut mas Bimo menunjukkan sikap angkuhnya yang sedari dulu ia tutupi dariku.
Beberapa saat hanyut dalam pikiran masing-masing, Mirna datang dengan membawa 4 sekuriti sekaligus, "permisi, sesuai laporan dari saksi, kalian berencana untuk tidak bayar di cafe ini. Maka daripada itu, kalian harus segera kami seret keluar agar tidak merusak kenyamanan pengunjung lainnya." kata salah satu sekuriti.
"Tunggu dulu, Pak. Bukan seperti itu faktanya..."
"Halah, penipu kelas ulung beraksi, Pak. Jangan didengarkan!!" perkataan Burhan dipotong begitu saja oleh Mirna.
Dalam detik berikutnya terjadilah aksi tarik menarik antara pihak sekuriti dan kelompok Cindy. Mereka segera menjadi tontonan pengunjung cafe lainnya.
"Ada apa ini?" muncul manager cafe menengahi.
"Mereka akan menyeret kami keluar cafe karena tidak bisa bayar!" jawabku.
Seketika pandanganku dan pandangan manager bertenu.
"Bu.. Bu Cindy?!" ketakutan manager cafe mendadak datang.
"Bu Cindy siapa? Apa dia sudah biasa ngutang disini?" Mirna penasaran.
"Tutup mulutmu, Mirna!!. Meski kau punya nama disini sebagai unser VIP, tapi kau tak pantas menghina dan merendahkan orang lain!!" amuk manager cafe.
"Aku akan bilang pada Ayah untuk menindakmu jika kau berani membela wanita udik itu!" bentak Mirna pada sang manager.
"Bodoh!!. Dasar katak dalam tempurung. Bahkan Ayahmu akan berpikir seribu kali jika akan bersinggungan dengan Bu Cindy. Beliau adalah pemilik cafe ini!" balas manager tak kalah nyaring.
"Ini omong kosong!!. Ayo sayang kita laporkan mereka pada Ayah!!" Mirna menarik tangan mas Bimo.
--
Sore harinya, rumah kecil yang lama tak berpenghuni tiba-tiba didatangi tamu agung bernama Pak Modri, sang Lurah sekaligus ayah dari Mirna.
Aku memang sengaja menggunakan rumah kecil tersebut sebagai rumah singgah saat aku melakukan kunjungan ke kota ini. Di dalam rumah tersebut aku bisa duduk sejenak dan mengenang masa-masa sulit saat Kakek Baskoro membesarkanku tanpa pamrih.
Tak hanya Pak Lurah Modri, turut datang manager cafe bernama Edo, Mirna, dan tak lupa mas Bimo.
"Ini dia Ayah, sok-sokan mengaku pemilik cafe dan mempermalukan kami didepan banyak pengunjung!" lapor Mirna.
Wajah manager cafe pucat pasi, "Beliau benar-benar pemilik cafe kami.."
Sebuah figur Lurah yang arogan akhirnya tampil juga, "Mana mungkin gadis miskin cucu Baskoro bisa jadi pemilik cafe sebesar itu. Manager cafe, kami disogok berapa?, atau dengan tubuhnya?" ucapnya.
"Bu Cindy, maafkan saya.." si manager hampir menangis hehehe.
Tanpa mengubris mereka, aku menghubungi Burhan, "Burhan, cepat kamu ke rumah. Jangan lupa bawa 4 mobil sekaligus. Kita akan ada kunjungan penting kali ini!"
Aku mengajak semuanya untuk berkeliling menggunakan parade mobil sport koleksiku. Untuk menunjukkan kemewahan, kusengaja meletakkan Pak Lurah, Mirna, dan mas Bimo masing-masing di mobil berbeda setiap orangnya.
Satu persatu perusahaan kutunjukkan pada mereka lengkap dengan segala penghormatan yang disuguhkan semua karyawan yang berjumlah total hampir 1000 orang dari 3 perusahaan.
"Maafkan Bapak, Nak Cindy.." Lurah Mondir berubah drastis.
Begitu juga dengan Mirna yang sekarang justru sok dekat padaku.
"Aduh sahabat terbaikku sekarang sudah sukses. Jangan lupakan temanmu ini lho ya.." rayu Mirna menjijikkan.
Berbeda dengan bapak dan anak tersebut, mas Bimo terlihat begitu nenyesal.
"Cindy, maukah kau memberikan kesempatan sekali lagi padaku untuk memperbaiki hubungan kita?" dia memelas gitu.
Aku hanya tersenyum kecut pada ketiganya. Tak ada sedikitpun rasa simpatik yang tertinggal. Yang ada hanya luka lama penuh kejengkelan yang justru mereka gali sendiri.
"Burhan!!. Hubungi Bupati kota ini dan laporkan penyelewengan wewenang dari Lurah Modir. Aku ingin jabatan Modir dicabut jika Bupati masih ingin menjalin hubungan baik dengan perusahaan kita. Jangan lupa cabut semua fasilitasnya dan minta pada Pak Bupati untuk mengusir mereka dari kota ini. Dan untuk saudara Bimo, nikahkan dia dengan seorang nenek tua renta, jangan lupa 4 nenek sekaligus!" suaraku begitu lantang menggema memenuhi ruang CEO Burhan.
selesai.