"Nenek!" seru Sasi sambil berjalan masuk ke dalam rumah tua yang masih terlihat kokoh.
Rumah khas Melayu tempo dulu itu, satu-satunya rumah peninggalan jaman dulu yang masih ada di era modern saat ini. Warna rumah masih mempertahankan warna aslinya, cokelat tua. Lantai rumah masih asli, terbuat dari kayu belian asli khas Kalimantan. Lantai rumah itu belum pernah sekali pun diganti karena masih bagus.
"Eh, cucu nenek udah sampai. Gimana perjalanannya?" tanya sang nenek pada cucu perempuannya yang beranjak remaja. Nenek Mira berjalan dari dalam rumah menuju pintu utama rumah untuk menyambut cucu kesayangannya.
"Capek nek! Tapi seru banget," ucap Sasi sambil memeluk sang nenek.
Sasi merasa lelah karena pesawat yang ditumpanginya dengan rute Jakarta-Pontianak mengalami penundaan keberangkatan karena cuaca buruk. Setelah dua jam menanti, akhirnya pesawat lepas landas. Untuk perjalanan dari bandara ke rumah nenek Mira hanya membutuhkan waktu lima belas menit, karena lokasi rumah nenek dekat dengan bandara.
Kedatangan Sasi kali ini bukan untuk berlibur seperti sebelumnya. Dia diminta tolong oleh nenek untuk bergiliran menunggui kakek Sasi selama di rawat inap di rumah sakit.
Kakek Sasi bernama Adam Jolie. Dia keturunan asli Amerika. Namun, dari kecil sudah dibesarkan di kota Pontianak karena kedua orang tua kakek memutuskan untuk memulai kehidupan yang baru tanpa harta warisan dari pendahulu mereka yang merupakan keluarga kedua dan keempat terkaya di Amerika. Tak heran jika Sasi memiliki kulit putih seperti orang barat.
Kakek Adam sangat terkenal di kampung A, tempat tinggalnya. Semua penduduk kampung sangat segan dan menghormatinya karena kebaikan dan cara memimpin kampung dengan baik. Kakek Adam sudah lama tidak bekerja lagi ke perusahaan semenjak insiden yang didapatnya saat ayah Sasi berumur tujuh tahun. Sekarang perusahaannya diurus oleh ayah Sasi dan pamannya.
Ayah Sasi mengurus perusahaan yang berada di Jakarta. Sedangkan, pamannya mengurus perusahaan yang berada di Pontianak.
Insiden itu menyebabkan kakek Adam menderita struk ringan. Nenek Mira juga kurang jelas tentang insiden yang menimpa suaminya. Kakek Adam ditemukan sudah jatuh pingsan di depan sebuah kamar mendiang bibinya Sasi. Tepat satu tahun setelah sang bibi meninggal.
Sasi tidak pernah melihat foto mendiang sang bibi. Ayahnya juga tidak pernah bercerita tentang mendiang sang bibi. Jadi, Sasi tidak tahu penyebab meninggalnya sang bibi.
Dua malam yang lalu sang kakek tiba-tiba jatuh pingsan. Tubuh kakek Adam yang tersungkur berbunyi sangat keras sehingga membuat nenek Mira terkejut bukan main. Nenek Mira yang kebetulan sedang menyulam di ruang tamu langsung beranjak ke sumber suara.
Melihat suaminya sudah tersungkur ke lantai, nenek segera memanggil pembantu rumah untuk membawa kakek ke rumah sakit. Selama dua hari dirawat di rumah sakit, nenek sedikit kesulitan untuk menjaga suaminya. Untuk itu, dia meminta bantuan Claudia yang merupakan menantunya, ibu dari Sasi untuk menemaninya merawat kakek Adam. Selain itu, usia nenek sudah tidak muda lagi.
Kebetulan Sasi mendengar percakapan antara ibu dan neneknya melalui panggilan video. Sasi terenyuh saat melihat kondisi sang kakek. Gadis remaja itu bersikeras untuk menemani dan merawat kakek dan neneknya.
"Nah, ini kamar Sasi," ucap sang nenek sambil membukakan pintu kamar.
"Yang ini nek?" Sasi tidak percaya jika neneknya memberikan kamar yang dulunya ditempati sang ayah. Biasanya gadis itu akan menempati kamar di lantai dua. Tapi kali ini, sang nenek memberinya kamar yang bersebelahan dengannya.
"Iya. Pesan kakek, Sasi harus tidur di kamar ini."
Sasi berjalan masuk ke kamar bekas sang ayah. Tempat tidurnya hanya cukup ditempati oleh satu orang. Barang-barang peninggalan sang ayah semasa muda masih tertata rapi. Hanya alas kasur, sarung bantal guling, dan selimut yang baru saja diganti.
"Nenek tinggal dulu ya!" seru sang nenek sebelum meninggalkan kamar Sasi. Gadis cantik itu menjawab dengan senyuman dan anggukan.
Sasi membuka jendela agar udara segar masuk ke dalam kamar. Kemudian dia duduk di ujung ranjang. Sasi memainkan kakinya dengan gerakan maju mundur.
"Giliran mu!"
Sasi terlonjak saat mendengar suara bisikan tepat di telinganya. Dia menatap keluar pintu kamar, tidak ada seorang pun di sana. Jantung Sasi berdegup sangat kencang..Tak ingin larut dalam ketakutan, Sasi mengalihkannya dengan merapikan pakaiannya.
Malam hari setelah makan malam, nenek Mira meminta Sasi untuk mendengarkan ucapannya. Raut wajah nenek Mira terlihat sangat serius. Sasi langsung menghentikan menyantap hidangan penutupnya.
"Sasi, kakek dan nenek senang saat mendengar Sasi ingin menemani dan merawat kami," ujar nenek sedikit tertahan.
Keadaan hening seketika. Sasi tidak berani untuk menyela ucapan nenek. Beberapa saat kemudian, nenek Mira berbicara, "Sasi cukup menemani kami selama tiga hari. Setelah itu nenek harap cucu kesayangan nenek kembali ke Jakarta." Nenek Mira berkata sambil menggenggam tangan cucu kesayangannya dan menatapnya penuh kasih sayang.
Sasi terkejut mendengar ucapan nenek Mira. Sasi menarik genggaman tangan nenek tanpa sadar.
"Kenapa nek? Sasi ada salah ya?" tanya Sasi bingung.
"Tidak. Sasi tidak ada salah. Nenek juga baru tahu dari kakek. Jika Sasi tidak boleh berlama-lama di sini." Nenek Mira berusaha menjelaskan dengan Sasi. Padahal dia sendiri juga bingung harus menjelaskan apa.
"Kenapa nek?"
Nenek Mira tahu sangat sulit berbincang dengan Sasi karena gadis itu menuruni sifat keras kepala dari sang ayah dan kakeknya. Akhirnya, nenek Mira terpaksa mengatakan kalimat terakhir yang sudah diajarkan oleh suaminya.
"Sasi kan sebentar lagi ulang tahun yang ke tujuh belas. Apa Sasi tidak ingin merayakan ulang tahun sweet seventeen?" tanya sang nenek dengan lembut.
Sasi sempat terdiam sebentar. Namun, jawaban dari Sasi membuat nenek Mira tidak bisa berkata-kata.
"Tidak apa nek," ucap Sasi sambil menggelengkan kepala. "Sasi bisa merayakannya di lain hari."
"Sasi, sayang. Tolonglah dengarkan permintaan nenek dan kakek! Nanti setelah Sasi berusia delapan belas tahun boleh ke sini lagi mengunjungi kakek dan nenek," nenek Mira tidak ingin kalah dari Sasi. Dia harus bisa membuat Sasi pergi dari sini. Jika saja suaminya itu menceritakan yang sebenarnya sebelum Sasi datang, dia pasti dengan senang hati menolak kedatangan cucu kesayangannya.
Sasi menatap lekat kedua netra hitam neneknya. Tersirat ketulusan dan kekhawatiran di sana. Meski terkenal akan sifatnya yang sangat keras kepala, gadis itu tetap mau mendengar ucapan sang nenek.
"Baiklah, nek! Sasi akan turuti perintah kakek dan nenek."
"Cucu nenek memang yang terbaik," ucap nenek Mira sambil membelai surai panjang Sasi. Rambut Sasi berwarna hitam pekat. Warna yang sama dengan surai mendiang putri nenek Mira. Meski suaminya seratus persen bule, warna rambut suaminya hitam pekat.
"Satu lagi!" seru nenek Mira.
"Apa nek?" tanya Sasi.
"Jangan pernah naik ke lantai dua!" perintah nenek Mira dengan tegas.
Sasi tidak berani menyela. Tatapan tajam nenek Mira membuat Sasi takut. Dia mengangguk cepat sebagai jawaban setuju.
Dua hari kemudian, Sasi sedang memilah aplikasi online yang menawarkan pembelian tiket online. Saat itu, Sasi sedang berada di ruang tamu. Tepat di belakang rumah tamu, ada tangga yang mengarah langsung ke lantai dua.
Sasi mencari jadwal keberangkatan sambil mendengarkan musik melalui headset. Lagu yang diputar Sasi cukup keras. Namun, suara bisikan itu terdengar lebih kuat dari suara musiknya.
"Sasi." panggil suara itu.
Sasi langsung melepas headset. Suara panggilan itu terdengar sangat jelas, kuat, tapi mendayu. Suaranya yang didengar Sasi sangat jelas suara seorang perempuan.
"Mbok! Mbok Ijah!" Sasi tidak berani turun dari sofa yang didudukinya. Dia berteriak memanggil mbok Ijah. Namun, tidak ada jawaban dari wanita paruh baya itu.
Seketika suasana hening menyerang. Rambut halus di belakang leher Sasi mulai mengembang. Gadis itu tidak pernah berada dalam situasi yang seperti ini.
Kakek dan neneknya belum kembali dari rumah sakit. Suasana horor mulai terasa saat angin di luar rumah mulai bertiup kencang. Awan yang tadinya putih, kini berarak dengan warna abu-abu muda, tua hingga hitam.
"Aduh, mbok Ijah ke mana sih!" Ketakutan Sasi mulai naik level. Jantungnya berdegup kencang. Suasana sore yang cerah berganti menjadi sore yang mencekam.
Meski dalam keadaan takut, Sasi berusaha untuk berpikir positif. Sebetulnya gadis itu kurang percaya dengan sesuatu yang berhubungan dengan mistis. Namun, karena pernah melihat sendiri. Mau tidak mau gadis itu mempercayai hal itu.
Dia mengusap layar ponsel mencoba untuk menghubungi nenek Mira. Karena di luar sana sedang badai, sambungan ponsel tidak bisa dilakukan karena di luar jangkauan.
"Aaa!" Sasi berteriak saat pintu utama rumah tertutup oleh angin kencang.
"Non Sasi kenapa?"
"Aaa!" Sasi berteriak untuk kedua kalinya sambil menutup wajah dengan bantal kursi. Sedangkan ponsel pintarnya sudah terbang melayang entah ke mana.
"Non! Ini mbok Ijah," ucap mbok Ijah sambil mengguncang pundak Sasi.
"Aaa!" Lagi-lagi Sasi berteriak histeris. Tangan mbok Ijah yang dingin membuat Sasi spontan berteriak.
Mbok Ijah memilih diam. Dia tidak ingin membuat nona mudanya semakin histeris. Setelah Sasi tenang, dia perlahan melepas kedua tangannya. Suara mbok Ijah sudah membuat Sasi tenang. Akan tetapi, karena sudah terlanjur takut membuat gadis itu berteriak lagi saat mbok Ijah menyentuhnya.
"Sudah enakan, non?" tanya mbok Ijah yang sudah duduk di seberang Sasi sambil memangku keranjang pakaian.
Sasi mengangguk pelan.
"Mbok ke mana saja?" tanya Sasi.
"Mbok tadi angkat jemuran di atas," jawab mbok Ijah.
"Aish!" Sasi menghela napas lega. "Mbok, lain kali kasi tau Sasi ya, kalo mau ke mana!"
"Takut ya non?" goda mbok Ijah tersenyum sambil berdiri.
"Eits, mbok mau ke mana?" Sasi mulai gelisah saat melihat mbok Ijah melangkahkan kaki menuju tangga.
"Mau simpan cucian di atas non," jawab mbok Ijah.
"Lha! Bukannya tadi mbok Ijah udah dari atas?"
"Iya. Cuma tadi pas dari atas mbok Ijah denger non teriak kencang, jadinya mbok langsung turun."
"Ikut!" seru Sasi sambil berdiri dan menghambur di belakang mbok Ijah.
"Eh, tapi non. Pesan nyonya besar, non ngga boleh naik ke lantai dua." mbok Ijah mengingatkan Sasi pesan neneknya.
"Udah mbok, terus aja naik ke atas! Pokoknya Sasi ikutin ke mana mbok pergi," rengek Sasi.
"Mbok ngga berani non. Mending mbok ngga usah jadi aja beresin cuciannya."
"Terserah mbok dek!"
"Aaa ... aaa ...!" teriak Sasi dan mbok Ijah bersamaan.
Suara petir yang menyambar sesuatu membuat mereka berteriak bersamaan dengan padamnya lampu. Meski badai sudah hilang, hujan lebat masih belum puas mengguyur bumi.
"Kok mbok teriak?" tanya Sasi sambil mengelus dada karena terkejut.
"Non teriak. Ya, mbok ikutan teriak," jawab mbok Ijah.
"Terus gimana ini mbok?" Sasi memegang tangan mbok Ijah.
Mendung di luar seakan pindah ke dalam rumah. Padahal waktu baru saja menunjukkan pukul empat sore. Tapi, suasana yang mencekam sangat terasa.
"Ada alat genset di lantai dua, non..Tugasnya harus ditarik agar lampu kembali menyala," jelas mbok Ijah.
"Ya udah, ayo mbok! Ayo cepet hidupin! Udah horor banget ini suasananya." Sasi semakin erat memeluk lengan mbok Ijah.
"Non tunggu di sini! Biar mbok yang naik ke atas sendiri. Ingat pesan nenek!" Mbok Ijah berkata tegas pada Sasi. Mau tidak mau, gadis remaja itu menuruti perintah mbok Ijah.
"Tapi mbok yang cepet ya!" rengek Sasi.
Mbok Ijah mengangguk dan bergegas menaiki anak tangga. Sasi tidak berani melanggar perintah kakek-neneknya. Dia menunggu di kaki tangga.
Dalam hitungan detik, lampu sudah menyala. Sasi dirundung kelegaan. Mbok Ijah yang ditunggu terlihat berjalan pelan menuruni anak tangga satu persatu.
"Aduh mbok, cepetan!" teriak Sasi. Gadis remaja itu terlihat kesal melihat mbok Ijah yang berjalan turun dengan langkah lemah gemulai.
Sasi menunggu Mbok Ijah dengan tidak sabar. Akhirnya dengan langkah cepat, Sasi menaiki anak tangga. Sasi memegang tangan mbok Ijah. Langkah kakinya terhenti saat berbalik turun tangga.
"Tangan mbok Ijah kenapa dingin banget ya!" gumam Sasi.
"Non!" teriak mbok Ijah dari atas.
Sasi langsung menoleh ke belakang. Kedua mata Sasi membulat. Ada dua mbok Ijah yang dilihatnya. Tubuh Sasi bergetar hebat. Mbok Ijah yang berada di atas juga terkejut melihat sosok yang di pegang nona mudanya.
Sosok yang dipegang Sasi, menundukkan kepala. Rambut hitam lurus sosok itu menutupi wajahnya. Tangan yang dipegang Sasi berubah menjadi pucat. Sasi terlalu kaku untuk melepaskan genggaman tangannya.
Dalam hitungan detik sosok itu mengangkat kepala. Sosok itu mendekatkan wajahnya pada Sasi, kemudian berteriak tepat di depan wajah Sasi. Wajahnya pucat. Kedua matanya membesar.
Tubuh Sasi langsung ambruk ke lantai. Dia berguling tiga anak tangga. Sosok itu langsung menghilang setelah Sasi terjatuh. Mbok Ijah berteriak terkejut melihat nona mudanya terjatuh, dia segera turun membantu Sasi. Mbok Ijah berlari mengambil minyak angin di kamarnya. Dia menggosokkan ke hidung dan belakang leher Sasi agar gadis itu segera sadar sambil memanggil Sasi.
Sasi bisa mendengar panggilan mbok Ijah. Namun, tubuhnya terasa berat. Dia juga susah membuka kedua matanya. Akan tetapi, Sasi dapat melihat dengan jelas sebuah sosok perlahan datang dan berhenti di samping mbok Ijah.
Sosok itu terlihat cantik dengan surai panjang hitam. Dia tersenyum pada Sasi dan berkata, "Kau harus kuat. Jangan ketuk tiga kali kamar ujung di lantai dua! Abaikan suara apa pun jika kau mendengarnya!" Setelah itu, sosok itu meniup wajah Sasi.
Sasi langsung sadar. Mbok Ijah mengucap syukur setelah Sasi sadar. Sasi merasa lemas di seluruh tubuh. Dia tidak bertenaga untuk berdiri. Mbok Ijah membantu nona mudanya untuk berdiri dan duduk di sofa.
"Mbok!" panggil Sasi dengan napas terputus-putus selayaknya orang yang selesai berlari.
"Iya non," jawab mbok Ijah.
"Jangan beri tahu kakek dan nenek kejadian hari ini ya!" pinta Sasi pada mbok Ijah.
"Ta-pi no--" ucapan mbok Ijah terpotong.
"Pokoknya jangan mbok! Sasi tidak ingin kakek dan nenek khawatir. Lagipula besok Sasi sudah pulang ke Jakarta," jelas Sasi.
"Baik non," jawab mbok Ijah sambil mengangguk.
* * *
Keesokan hari, di pagi hari. Nenek Mira sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk Sasi dan kakek di dapur. Kakek Adam masih berada di dalam kamar berisitirahat. Mbok Ijah sedang membersihkan halaman belakang rumah.
Sasi sibuk merapikan pakaiannya ke dalam koper. Gadis cantik itu memilih penerbangan terakhir agar bisa menemani kakek neneknya lebih lama. Semua persiapan Sasi sudah selesai. Gadis itu tinggal menutup koper dan menguncinya.
"Sasi!" panggil seseorang.
Sasi langsung menoleh melihat ke seluruh kamar. Tidak ada seorang pun yang berada di dalam kamar. Sasi berusaha mengabaikan panggilan itu. Dia memilih mengambil ponsel dan menyumbat telinganya dengan headset.
Dia memilih salah satu aplikasi pemutar musik. Sasi berjalan keluar kamar sambil mendengarkan musik. Tepat di depan tangga Sasi berhenti karena ada suara yang memanggilnya dari atas. Dia melepas headset dan berdiam diri sebentar. Dia ingin meyakinkan diri jika dia mendengar seseorang memanggilnya.
"Sasi!" panggilan itu sangat lantang dan jelas. Suara itu berasal dari atas. Karena mengenal suara yang memanggilnya, Sasi segera menyahut.
"Iya nek," jawab Sasi.
"Sasi!" panggil suara itu lagi.
Sasi melangkahkan kakinya ke anak tangga pertama. Dia teringat pesan neneknya tempo hari untuk tidak naik ke lantai dua. Dia bingung mengapa sekarang neneknya justru memanggilnya ke atas.
"Sasi!" lagi-lagi suara itu memanggilnya.
Karena suara yang memanggil Sasi adalah neneknya sendiri, dengan langkah tegap dia menaiki anak tangga dengan cepat. Sesampainya di lantai atas, Sasi mencari neneknya.
"Sasi!" suara itu berasal dari kamar yang terletak di ujung.
Sasi berjalan ke arah sumber suara. Tepat didepan pintu kamar, Sasi mendengar suara rintihan sang nenek dari dalam. Gadis itu bingung. Bukannya tadi sang nenek memanggilnya dengan lantang. Sekarang justru terdengar suara rintihan.
"Nenek!" panggil Sasi dari luar.
Suara rintihan kesakitan terdengar semakin keras. Sasi meraih gagang pintu, menggerakkannya turun naik. Namun, pintu itu tidak terbuka.
Tok
Sasi mengetuk pintu untuk yang pertama kali sambil memanggil sang nenek, "Nenek!"
Tok
Gadis itu mengetuk pintu untuk yang kedua kalinya. Tidak ada sahutan dari dalam. Namun, suara rintihan dari dalam semakin kuat.
Tok
Setelah ketukan ketiga, pintu terbuka. Sasi melangkahkan kaki masuk ke dalam. Meski samar-samar, kedua netra Sasi masih menangkap gambaran isi kamar. Kamar ini sangat luas. Perabotan di dalam kamar tidak banyak.
Namun, ada sesuatu yang menarik perhatian Sasi. Tempat tidur model jaman dulu dikelilingi oleh kelambu. Ada seseorang yang terbaring di sana. Sesaat Sasi mengira itu adalah neneknya. Dia mendekati ranjang dengan percaya diri.
"Nenek!" panggil Sasi sambil menyibak kelambu.
Sasi terkejut melihat sosok yang tidur di sana. Perempuan itu sangat mirip dengan sosok yang datang menghampirinya saat dia pingsan. Tubuhnya masih bagus, seperti putri tidur. Sasi takjub melihat gadis itu. Tanpa dia sadari sosok wanita tanpa wajah berdiri di belakang tubuhnya. Tangan wanita itu memiliki kuku yang panjang dan tajam di ujungnya bersiap menyergap Sasi.
Kedua mata perempuan yang tertidur itu terbuka. Pandangan mata Sasi dan perempuan itu saling bertemu hingga membuat mereka terkejut. Belum sempat mereka mengeluarkan suara, sosok yang berada di belakang Sasi langsung menyergap tubuhnya.
"Tidak!" teriak gadis yang terbaring di ranjang.
"Aaa!" Sasi berteriak saat tubuhnya ditarik oleh sosok yang tidak bisa dilihatnya.
Teriakan Sasi membuat seisi rumah gempar. Nenek Mira langsung meninggalkan masakan. Kakek Adam hanya bisa meneteskan air mata seolah tahu apa yang menimpa Sasi. Mbok Ijah segera berlari ke arah sumber teriakan. Begitu pula dengan nenek Mira.
Nenek Mira jatuh pingsan saat melihat sosok yang sudah lama tidak dilihatnya berjalan keluar kamar dengan gontai.
Mbok Ijah yang tidak mengerti apa pun, hanya bisa menahan kepala sang majikan agar tidak terhempas ke lantai.
"Mama!" seru Rachel, gadis yang tadi terbaring di atas ranjang.
Gadis cantik itu langsung berjongkok membantu mbok Ijah. Wanita paruh baya itu tidak peduli dengan ucapan si gadis. Meski dia penasaran, namun perasaan itu ditekan olehnya.
Satu jam kemudian, suasana hening. Nenek Mira sudah siuman. Kakek Adam duduk di tengah ruang tamu. Dia senang putri kesayangannya kembali tanpa kurang sedikit pun. Akan tetapi, hatinya perih saat kehilangan cucu kesayangannya.
Rachel adalah putri pertama dari Adam dan Mira. Saat Mira berusia tujuh belas tahun, gadis itu menghilang. Tujuh hari setelah menghilang, Adam menemukan tubuh Rachel yang masih bernyawa namun tidak hidup. Hal ini dia sembunyikan dari sang istri karena tidak ingin membuatnya bersedih melihat kondisi putri sulung mereka.
Adam sudah mencari segala cara untuk mengembalikan putrinya ke dunia. Dia sampai rela hidup terpisah dari istri dan kedua anak lelakinya selama satu tahun. Dia juga memanggil banyak orang pintar untuk mengobati putrinya.
Dari sekian banyak orang pintar, hanya ada satu yang bisa membuat Adam percaya. Dia mengatakan bahwa roh Rachel dibawa pergi ke dunia lain. Setiap keturunan perempuan dari keluarga Adam akan di bawa pergi saat mereka berusia tujuh belas tahun.
Hal itu dikarenakan kesalahan dari leluhur keluarga Adam. Pria itu berusaha mencari sumber masalah. Hingga didapatlah sebuah petunjuk yang mengatakan bahwa dulu saat Adam berusia lima tahun, ayahnya digilai oleh seorang gadis setempat. Gadis itu berusia tujuh belas tahun. Namanya Arumi.
Arumi melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkan pria idamannya. Hingga suatu waktu, dia terjerat dan tewas karena kelalaiannya sendiri menggunakan ilmu hitam. Sebelum meninggal gadis itu sempat mengutuk keluarga Adam. Setiap anak gadis keturunan keluarga Adam yang berusia tujuh belas tahun akan dia bawa pergi dan tidak akan pernah merasakan kasih sayang dari pria idamannya.
Karena sudah mengetahui sumber masalahnya, Adam berusaha mencari orang pintar lagi untuk mengalahkan kutukan itu. Namun, rencananya tidak berhasil. Orang pintar itu tidak mampu melawan roh jahat Arumi. Adam juga mendapat dampak dari pertarungan itu. Tubuhnya terpental hingga membuatnya sakit sampai saat ini.
Orang pintar itu sempat menyegel kamar di mana tubuh Rachel terbaring di sana. Penangkal kamar itu adalah tidak boleh mengetuk pintu tiga kali. Jika itu terjadi, roh jahat itu akan datang kembali dan mengambil keturunan keluarga Adam.
Hari ini kejadian itu terulang. Putrinya kembali tapi cucunya menghilang. Adam segera mengubungi Jonah, ayah Sasi untuk segera datang ke Pontianak.
Tujuh hari kemudian, hari yang ditunggu kakek Adam. Dia teringat di hari ketujuh saat Rachel menghilang, tubuhnya dikembalikan. Kakek Adam berharap hal seperti itu akan terjadi.
Namun telah lewat satu hari, tubuh Sasi tidak dikembalikan. Akhirnya, kakek Adam meminta mbok Ijah memanggil orang pintar dari luar kota. Mereka harus bersabar menanti kedatangan orang pintar itu karena jarak yang ditempuh cukup jauh sekitar tiga hingga empat jam perjalanan darat.
"Permisi, tuan. Orang pintarnya sudah tiba," ujar mbok Ijah.
"Persilahkan masuk mbok!" perintah kakek Adam.
"Ehem," bapak tua itu berjalan masuk sendiri setelah mendengar si tuan rumah mempersilahkannya masuk. "Maaf, saya tidak bermaksud kurang ajar. Aura dari gadis ini yang menarik saya," jelas pak tua.
"Ada apa dengan putri saya?" tanya kakek Adam penasaran.
"Dia baru saja kembali dari dunia yang seharusnya tidak dia datangi," jawab pak tua santai.
Semua yang berada di sana terkejut mendengar penuturan pak tua itu. Padahal sewaktu Jonah menyuruh anak buahnya mencari orang pintar, tidak ada menceritakan tentang kakaknya.
"Panggil saja saya pak Somat. Saya akan membantu sebisa saya," ucap pak Somat.
Setelah memperkenalkan diri, pak Somat segera mengalihkan pandangan matanya ke lantai dua. Hantu kuntilanak yang terkenal di Pontianak melihat ke arahnya dengan tajam. Wajahnya rusak dengan bola mata yang menyembul keluar. Dia berkomunikasi dengan pak Somat untuk tidak ikut campur urusannya.
Pak Somat tersenyum. Tanpa permisi, dia langsung menuju lantai atas. Tempat hilangnya Sasi. Cuaca cerah langsung berganti mendung. Angin bertiup kencang. Pintu kamar dan jendela dihempas hingga suaranya membahana. Claudia dan nenek Mira saling berpelukan. Mereka ketakutan dengan perubahan yang tiba-tiba itu.
Pak Somat turun kembali. Dia meminta mbok Ijah mengambilkan sapu lidi asli dari batang daun kelapa. Setelah mendapatkan yang diinginkannya, pak Somat kembali membaca doa. Kemudian sapu lidi itu dia ayunkan ke udara seperti sedang memukul seseorang.
"Hihihihihi," suara lengkingan tertawa khas seorang wanita membahana di seluruh ruangan. Sosok kuntilanak terbang keluar. Dia berdiri di tengah tangga dengan kepala tertunduk.
"Jangan ikut campur!" teriak kuntilanak itu.
"Kembalikan gadis yang kau sembunyikan!" perintah pak Somat.
"Dia milikku! Hihihihihi," balas kuntilanak.
Nenek Mira jatuh pingsan setelah melihat kuntilanak. Claudia ketakutan setengah mati. Dia tidak pernah percaya akan hantu. Tapi, sekarang dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Wanita itu sampai terduduk lemas di samping ibu mertuanya.
Sedangkan Rachel terlihat biasa saja. Kakek Adam sedikit curiga dengan kelakuan Rachel. Mungkin saja Rachel seperti itu karena dia sudah berada lama di alam sana. Sehingga dia tidak takut lagi.
"Kembalikan! Atau kau akan aku bakar!" pak Somat mengancam si kuntilanak.
Seketika sosok itu langsung menegakkan kepala. Tatapan matanya sangat menakutkan.
"Jangan ada yang melihat matanya!" perintah pak Somat.
Semua yang ada di ruangan langsung menunduk dan tidak berani menatap si kuntilanak. Hanya Rachel yang tetap menatapnya.
Kuntilanak itu terbang dan tertawa bersamaan. Mengelilingi mereka. Rachel yang masih berdiri di belakang pak Somat tidak tinggal diam. Dengan sekali ayunan, dia menusuk pak Somat tepat menembus dada. Rachel tertawa saat melihat pria tua itu tergeletak di lantai bersimbah cairan merah.
"Kau!" teriak kakek Adam.
"Mereka milikku sekarang! Hihihihi," ucap Rachel sambil melangkah mundur dan menghilang.
Sosok yang berada di dalam raga Rachel adalah Arumi. Sosok itu menguasai tubuh Rachel. Kini, Rachel dan Arumi menghilang selamanya. Sejak kejadian di luar nalar itu, Kakek Adam tidak pernah berbicara.
Satu Minggu kemudian, Jonah membawa serta kedua orang tuanya ke Jakarta karena keadaan mereka yang sangat terpukul. Sedangkan Jonah dan istrinya berusaha merelakan putri kesayangan mereka.
Rumah tua itu kini dibiarkan saja. Tidak ada niatan Jonah untuk menjualnya. Jika dipikir-pikir, dendam hantu itu tidak semudah dari cerita yang didengarnya. Pasti ada cerita yang tertinggal di sana.
* * *
Sembilan puluh dua tahun yang lalu.
"Siapa namamu?" tanya William.
"Arumi," jawab gadis itu malu-malu.
"Nama yang cantik seperti orangnya. Apa kau mau menjadi kekasihku?"
Arumi menggeleng pelan dan berkata sambil malu-malu, "Tidak mister. Mana berani aku menjadi kekasihmu. Kau sudah memiliki istri dan seorang putri kecil yang cantik."
"Aku akan berlaku adil. Percayalah padaku!" rayu William.
Arumi adalah gadis tercantik di kampung. Apalagi usianya yang baru tujuh belas tahun. Ibarat bunga yang sedang mekar-mekarnya. Sedangkan William, orang luar negeri asli yang sangat sulit ditemui di kampungnya. Pria itu juga sangat tampan.
Akhirnya, karena termakan bujuk rayu William. Arumi bersedia menjadi kekasihnya. Hubungan diam-diam yang mereka lakukan sempat terdengar oleh penduduk kampung. Arumi dijadikan kambing hitam. Meski begitu, Arumi menerimanya dengan ikhlas karena rasa cintanya mengalahkan segalanya. Hingga suatu waktu, Arumi hamil buah cinta dia dan William.
Pria bule itu meminta Arumi untuk menggugurkan kandungannya. Anak Arumi tidak boleh lahir. Jika bayi yang dikandung Arumi lahir, maka semua penduduk kampung akan tahu siapa ayah si bayi.
Sejak saat itu, William menghindari Arumi. Hingga terdengar desus bahwa Arumi menggilai William. Karena tidak tahan, Arumi bunuh diri dengan menggantungkan diri pada sebuah pohon besar di tengah hutan.
* * *
Sehari setelah rumah tua dikosongkan.
Sasi sedang duduk di sofa sambil memakan mie instan buatan ibu barunya dan Rachel tertidur di pangkuan ibu barunya. Arumi menjadikan mereka sebagai anak pengganti.