"Yaudah kalau bukan dia yang nyuri berarti tuyul!"
"Peluk Bapak kalau memang bukan Kakak yang curi uang itu."
***
10 November 2017
Seluruh sekolah memperingati Hari Pahlawan di tanggal 10 November. Hari dimana semua siswa-siswi upacara untuk menghormati hari nasional tersebut. Beberapa sekolah upacara di sekolahnya masing-masing dan ada juga beberapa sekolah mengirim siswa/siswinya untuk upacara bersama di lapangan yang sudah di tentukan.
Sebut saja namaku Tania. Aku di tunjuk wali kelas untuk gabung bersama sekolah lain dalam rangka upacara tersebut. Bersama 5 temanku yang lain kami berencana untuk pergi bersama. Dalam upacara ini, kami harus memakai baju adat sesuai suku masing-masing.
Setelah beberapa jam kemudian upacara pun telah selesai. Aku bersama 5 temanku berencana untuk kembali ke sekolah dan setelah itu kami pulang ke rumah masing-masing.
Singkat cerita aku pulang naik kendaraan umum, yaitu angkot. Biasanya aku di jemput orangtua tapi sepeda motor di pakai Bapak kerja jadi aku tidak bisa di jemput. Angkot sudah berhenti di pangkalan dan aku segera turun. Kuberi uang sebesar 5 ribu dan aku menerima kembalian sebesar 2 ribu. Biasanya untuk harga anak sekolahan 2 ribu, mungkin pak supir tidak memiliki uang seribu jadi tak apa, aku tidak mempermasalahkan hal itu.
Dari pangkalan biasanya aku naik ojek kerumah karena angkot tidak ada menuju kerumahku. Biasalah, rumah di jalan paling ujung jadi angkot tidak ada yang mau kesana. Kecuali jika salah satu supir angkot kebetulan rumahnya ada di daerah sana, bisa jadi aku minta tolong kepadanya untuk mengantarkanku sampai ke rumah.
Disaat aku ingin naik ojek tiba-tiba suara yang kukenal memanggilku. Kualihkan pandanganku dan ternyata itu tanteku.
"Baru pulang sekolah?" Tanya tanteku yang sedang duduk di atas sepeda motornya.
"Iya tan, baru pulang dari lapangan juga upacara bareng sekolah lain." Jawabku.
"Oh gitu, yaudah bareng aja. Tante juga mau pulang."
Aku tersenyum, setidaknya uang 10 ribu untuk naik ojek tidak habis begitu saja, duitnya akan aku pergunakan untuk esok hari atau kutabung.
Di sepanjang perjalanan kami bercerita tentang kegiatan kami hari ini. Kadang kami tertawa karena ada hal lucu.
"Tante lapar, kita makan bakso yok?"
Aku berfikir sejenak, kulihat jam tanganku pukul 2 siang. Mamak pasti nunggu aku pulang karna biasanya kalau upacara pulang cepat, aku juga belum ngasih kabar ke Mamak perihal aku pulang lama.
"Aku gak lah tan, gak selera makan bakso. Aku makan dirumah aja." Sebenarnya aku pengen makan bakso juga tapi karena hal itu akhirnya aku tolak.
"Oh yaudah, makan dirumah ajalah." Ucap Tanteku.
10 Menit di perjalanan akhirnya kami sampai juga. Rumah Tanteku dan rumahku berdekatan, hanya selisih 4 rumah. Jika kalian ingin kerumahku, maka rumah Tanteku dulu yang duluan dapat kemudian rumahku.
"Makasih ya Tan." Ucapku sambil turun dari sepeda motor.
"Iya sama-sama. Tolong bukakan dulu pagar Tante."
Kuambil kunci dari tangan Tanteku, kubuka kunci gemboknya dan kugeser pagarnya.
"Aku pulang ya Tan."
"Iya, nanti Tante nyusul kesana." Aku mengangguk dan segera pulang.
Sesampainya dirumah aku langsung membuka pintu dan mengucap salam.
"Kenapa lama kali pulang? Lihat, udah jam 2 lewat." Kata Mamakku.
"Iya Mak, pulang dari lapangan aku kesekolah dulu, terus nunggu angkot makanya lama." Jawabku.
"Jadi kesini naik apa? Mamak gak dengar suara kereta."
"Sama Tante, tadi gak sengaja jumpa di pangkalan."
Mamakku hanya ber-oh ria menjawab perkataanku dan melanjutkan aktivitasnya yaitu menonton sinetron ikan terbang.
Setelah itu aku segera mandi kemudian makan siang karena perutku sudah keroncongan dari tadi. Sesuai dengan perkataan Tanteku, akhirnya dia datang.
"Kak, ada ikanmu? Gak masak aku."
"Ada itu, makanlah tapi nasi kurasa gak cukup lagi."
"Nasi ada dirumah, lupa pula ku ambil. Tani, ambilkan dulu nasi dirumah Tante, ini kuncinya."
"Bentar Tan, lagi makan aku." Ucapku sedikit teriak dari dapur. Segera kuhabiskan makananku dan setelah itu aku kerumah Tanteku untuk mengambil sepiring nasi.
Tapi sebelum Tante pergi dia mengucapkan sesuatu, "Nanti kunci yang benar pintunya ya, tadi ada anak murid yang bayar SPP belum tante setor ke bendahara." Aku mengangguk dan segera pergi.
Entahlah, tiba-tiba aku merasa ada hal yang aneh setelah Tanteku mengatakan hal itu. Sederhana tapi sedikit aneh menurutku. Kutepiskan pikiran itu dari kepalaku.
Saat sudah di dapur kulihat di meja makan ada anggur, kuambil 1 lalu kumakan. Kuambil piring dan kusendokkan nasi ke atasnya, merasa cukup aku segera pulang. Kukunci pintu dengan benar sesuai dengan perintahnya, tapi disaat aku ingin mengunci gembok pagarnya tiba-tiba kuncinya macet. Aku tetap berusaha dan akhirnya bisa.
"Kenapa lama kali ngambil nasinya? Udah lapar Tante."
"Iya, tadi kunci gemboknya macet makanya lama."
"Udah bagus kau kunci pintunya kan?"
"Iya tan."
Setelah itu tanteku pun makan dengan lahap, mungkin tanteku lapar. Syukur tadi aku mengambil banyak nasii.
Setelah beberapa jam Tante berada dirumahku, akhirnya dia ingin pulang karena hari sudah mulai sore. Tapi lagi-lagi dia mengucapkan sesuatu dan perasaan anehku muncul lagi.
"Pulanglah aku, gak enak perasaanku karena uang sekolah ada dirumah. Hilang pula nanti."
Mamak melihatku sekilas lalu mengalihkan pandangannya, "Yaudah pulanglah, udah sore juga ini." Tanteku mengangguk dan pergi pulang.
Lagi-lagi aku memikirkan perasaan aneh itu, seperti ada kejadian sesuatu tapi apa? Aku menggeleng kasar, lebih baik aku nyapu rumah daripada memikirkan hal yang tidak-tidak.
***
Dan pada akhirnya hal itu terjadi.
Pukul 7 malam Tante nelfon ke handphone Mamak, kusuruh Adikku mengangkat panggilan sementara aku ingin menyemprot kamar dan Mamak mandi.
Aku kira Adikku yang bicara tapi ternyata dia memberi handphone itu kepada Mamakku yang sedang di kamar mandi. Aku menggeleng pelan, dasar si introvert.
Sekilas kudengar di kamar mandi Mamakku menyebut namaku, aku bingung kenapa namaku di sebut. Disaat aku sedang berfikir Mamak membuka sedikit pintu kamar mandinya dan memberi handphonenya ke aku.
"Pergi kerumah Tante, kau di panggil kesana."
"Ada apa?" Tanyaku yang tidak tahu apa-apa.
"Gak tahu, cepatlah kesana."
Aku yang bingung langsung saja pergi kesana tapi sebelum aku beranjak Mamak mengucapkan sesuatu yang buat aku kesal.
"Ada kau ambil uang SPP muridnya?"
"Ambil? Ngapai aku ngambil uang SPP muridnya? Oh, jadi ini alasan Tante manggil aku kerumahnya?"
Mamak tidak menjawab pertanyaanku dan hanya menyuruhku pergi kesana. Aku yang merasa tidak melakukan pencurian segera pergi kesana untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini.
Sesampainya aku di depan rumah Tanteku, aku memanggilnya. Dia menyahut dan menyuruhku untuk masuk. Aku pun masuk dan langsung menuju ke dapur karena Tanteku beserta Suaminya berada disitu. Kulihat Suami Tanteku sedang merogoh tas Tanteku seperti ada yang ingin di carinya, aku hafal tas itu karena tas itu yang sering di pakai Tante kerja.
"Ada apa tan?" Tanyaku santai.
"Ada kau ambil uang Tante?" Tanya Tanteku mengantimidasi.
Aku bingung tapi segera kujawab, "Enggak Tan, emang kenapa?"
"Hilang uang SPP itu 200 ribu, harusnya disini ada 800 ribu tapi tinggal 600 ribu. Memang 100 ribu Tante pake terus Udamu juga pinjam 100 ribu. Harusnya kan tinggal 800 ribu, ini kenapa bisa 600 ribu?" Jelasnya dengan sangat Ketus.
"Aku gak tahu apa-apa Tan, aku gak ada ambil uang itu."
Tanteku menatapku dengan kesal, "Kalo tadi yang diambil 10 ribu gak masalah buatku. Tapi ini 200 ribu, uang SPP anak-anak. Besok harus kusetor sama Bendahara."
Aku yang ingin marah tapi segera kutahan, bukankah barusan dia menuduhku? Menuduhku mencuri uang 200 ribu tanpa adanya bukti sama sekali?
"Tapi bukan aku yang curi uang itu Tan. Aku tadi ambil nasi setelah itu pulang, gak ada ambil duit dari tas Tante."
"Yaudahlah kalo gak ada, pulanglah kau."
Kulihat ekspresi Tanteku dan Suaminya seperti ekspresi yang sulit diartikan, sulit kujabarkan. Tanpa pamit aku langsung pulang memendam amarah.
Sesampainya dirumah aku langsung di beri pertanyaan, suasananya juga tegang. Kulihat Bapak sudah pulang kerja. Ah, mungkin saat aku dirumah Tante Bapak pulang.
"Apa kata Tante?"
"Tante bilang aku nyuri uang SPP 200 ribu."
"Memang kau yang ambil? Kalo kau ambil pulangkan." Aku tercengang. Ternyata Mamakku sudah tahu perihal ini.
"Sekarang Mamak nuduh aku? Mamak sama kayak Tante, nuduh aku tapi gak ada buktinya!" Ucapku dengan nada tinggi.
"Mamak tahu kau kayak apa, bahkan duit orangtuamu aja pernah kau curi. Pulangkan itu sekarang, jangan buat kami malu!" Ucap Mamakku membentak.
Aku menangis, tidak tahu kenapa tapi air mata itu jatuh sendiri. "Tapi kali ini bukan aku yang curi Mak, bukan aku."
Memang aku pernah mencuri uang Mamak atau Bapakku tapi bukan tanpa alasan. Aku mencuri uang mereka karena uang jajanku kurang. Aku terpaksa mencuri supaya aku bisa seperti teman-temanku yang mempunyai uang jajan sangat banyak.
"Periksa kamarnya, bila perlu bongkar lemarinya itu." Akhirnya Bapak buka mulut. Bapak tahu pasti dari Mamak.
Aku yang merasa tidak salah dan tidak takut segera mengajak mereka masuk kedalam kamarku. Dan disinilah mereka, mengacak kamarku, melihat dan meraba di segala celah. Membongkar isi lemari, pakaianku yang sudah berserak entah bagaimana bentuknya, meja belajar yang tadinya rapi sekarang acak-acakan, tas sekolah tak luput juga dari penglihatan mereka. Intinya segala barang yang ada di kamarku mereka periksa agar bisa menemukan uang 200 ribu sialan itu.
30 menit mereka membuat kamarku layaknya kapal pecah pada akhirnya mereka menyerah karena tidak menemukan uangnya. Selama mereka mencari aku hanya bisa melihat kedua orangtuaku sambil menangis, apa mereka tidak percaya kepada anaknya sendiri?
"Apa perlu aku telanjang supaya kalian puas?" Tanyaku dengan suara serak.
"Udahlah, bilang aja dimana uangnya biar selesai semuanya Tania!" Bentak Mamakku lagi.
"TAPI BUKAN AKU YANG MENCURI UANG ITU! APA YANG MAU KUKASIH?!" Kataku dengan suara lantang. Tidak peduli jika tetangga dengar atau tidak. Persetan kalian semua!
Aku menangis dengan kencang, kupukul kepalaku sendiri, kutampar pipiku dengan murka. Beginilah aku jika marah, aku selalu menyakiti diriku sendiri.
Bapak menenangkan aku, "Chat orang itu bilang kalau bukan dia yang ambil. Udah kita periksa kamar sama lemarinya tapi gak ada." Ucap Bapak ke Mamak.
Setelah Mamak mengirim pesan Tante membalasnya, "Yaudah kalo bukan dia yang nyuri berarti tuyul!"
Aku murka, amarahku ingin meledak lagi, "Dia menuduhku! Selalu aja begitu! Aku tahu kita miskin tapi aku juga punya batasan. Bukan aku yang curi uang itu Pak, sungguh bukan aku." Aku menangis lagi.
Bapak memegang kedua pundakku, "Peluk Bapak kalau memang bukan Kakak yang curi uang itu."
Aku segera memeluk Bapak dengan erat tanpa ragu sedikit pun. Bapak membalas pelukanku tak kalah erat sambil mengelus punggungku yang bergetar karena tangis.
Setelah itu Bapak melepaskan pelukannya, "Gantilah uang itu 200 ribu, pas kesana nanti langsung pulang gak usah basa-basi. Tapi bilang bukan si Tani yang curi uang itu."
"Tapi uang belanja kita tinggal 200 ribu, jadi apa makan kita? Gajianmu pun belum di transfer." Jawab Mamak.
Aku menggeleng pelan, "Enggak! Jangan kasih uang itu, kalo Bapak kasih sama aja kalian percaya aku curi uang itu, terus mereka disana ketawa-ketawa! Pokoknya jangan!" Aku menolak dengan tegas.
"Jadi mau gimana? Kakak dituduh ngambil, mau bilang bukan Kakak yang curi mereka gak akan percaya. Sudah pigilah kesana, kasih uang itu."
"Aku gak mau, kau aja yang pergi." Ucap Mamakku.
Dan pada akhirnya Bapak kesana menyerahkan uang 200 ribu yang sebenarnya itu sisa uang belanja untuk bulan ini. Aku menangis, menangis karena mereka memberi uang itu yang artinya mereka tidak percaya sama anaknya sendiri. Kenapa tadi Bapak menyuruhku memeluknya jika begini akhirnya? Dari kejadian ini, untuk pertama kalinya aku kecewa dengan orangtua, benci dengan hal ketidakpercayaan terhadap anak, dan aku benci MISKIN!
***
Hai semuanya, cerita ini diangkat dari True Story seseorang yang sangat aku kenal. Dia bersedia kejadian yang dia alami aku tuangkan kedalam cerpen.
Hal itu terjadi 5 tahun yang lalu tepatnya disaat dia kelas 2 SMA. Dia menceritakan kisah yang sudah lama dia pendam. Tapi tenang saja, dia tidak mencuri lagi.
Perihal 200 ribu itu memang bukan dia yang mencuri, aku gak tahu kenapa dia bisa di tuduh sama Tantenya tapi dia belajar pelan-pelan untuk memaafkan masa lalu. Hubungan dia dengan Tantenya sekarang sudah baik-baik saja.
Terkadang jika seseorang bicara soal mencuri uang pasti dia langsung trauma dan teringat masa lalunya. Tapi seiring berjalannya waktu dia belajar untuk menguasai dirinya.
Banyak hal yang dapat kita petik dari kisah dia. Intinya jika kita mengalami kekurangan dari segi ekonomi jangan paksa dirimu untuk mencuri. Rajin belajar, teruslah bekerja keras, belajar bersyukur, dan rajin berdoa agar kamu sukses di masa depan. Niscaya, keadaanmu pasti lebih baik dari yang sekarang.
Terimakasih semuanya...
-THE END-