DIARY MERAH JAMBU
Aku memegang buku mungil nan cantik berwarna merah muda warna paforitku, aku gak menyangka ternyata buku ini masih tersimpan dengan sangat rapi diarsip tempat penyimpanan barang-barang berharga milikku, dalam buku mungil ini banyak tersimpan kenangan indah yang aku catat ketika masih mengenalnya dulu, buku kecil ini menceritakan sebuah kisah tentang dia, cinta pertamaku yang entah dimana keberadaannya sekarang.
Aku membuka buku berwarna merah jambu yang telah menemani perjalanan diawal masa-masa remajaku dengan sangat pelan, dihalaman pertama buku itu dengan jelas terpampang sebuah nama yang pernah mengisi hari-hari putih abu-abuku, sebuah nama yang mampu membuatku berusaha untuk menjadi yang terbaik, sebuah nama yang secara mati-matian membuatku melakukan diet ketat demi mendapatkan tubuh yang proporsional karna waktu itu tubuhku bisa terbilang subur.
Deni Aryasena itulah nama lengkapnya, nama laki-laki yang pernah aku sukai secara diem-diem selama tiga tahun, sekian tahun ternyata gak pernah mampu menghapus satu nama itu dalam benakku, terpisah dalam jangka waktu bertahun-tahun lamanya ternyata buku ini mampu membangkitkan ingatanku tentang dia.
Satu persatu kubuka lembaran tiap lembaran kertas yang tergores tinta hitam yang dihiasai oleh tulisan indahku, aku tersenyum, tertawa bahkan merengut setiap membaca kata perkata dari kalimat yang pernah aku tumpahkan 10 tahun silam, sebuah curahan hati seorang ABG labil yang gejolak emosinya masih meledak-ledak. Aku heran pada diriku, bisa-bisanya satu full buku diary ini berisi tentang dirinya tanpa tercemar oleh nama lain. Ditengah-tengah halaman buku yang tengah berada dalam genggamanku saat ini, aku menemukan sebuah foto hitam putih seorang anak SMA, foto berukuran 3X4 yang aku ambil di meja yang ditempati nya ketika ujian, dialah Deni, Deniku, cowok yang pernah aku sukai tapi tidak pernah menjadi pacarku, dan sekarang aku gak tau keberadaannya, apakah dia baik-baik saja, apakah dia sudah menikah, entahlah aku tidak tahu.
Setelah bernostalgia dengan cinta pertamaku, aku menutup buku diary dan kemudian membanting tubuhku dikasur lamaku yang sampai sekarang setelah sekian tahun lamanya masih sama seperti aku meninggalkannya10 tahun lalu.
Namaku Najma Aliandra, aku gadis yang bisa dibilang beruntung karna terlahir dari keluarga keturunan kaya sehingga dengan kekayaan yang dimiliki oleh orang tuaku itulah aku bisa kuliah diluar negeri, mengambil jurusan bergengsi yaitu Dokter, keberuntunganku menjadi bertambah karna aku memiliki kedua orang tua yang harmonis dan begitu sangat menyayangiku dan sekarang aku bekerja di sebuah klinik mewah milik pamanku, aku adalah seorang dokter anak, seolah hal tersebut menambah daftar keberuntunganku, satu-satunya ketidak beruntungan dalam hidupku adalah aku tidak bisa meraih cinta pertamaku.
***
“Ayok sayang, Dokternya baik kok” seorang papa muda tengah membujuk putri kecilnya untuk memasuki ruang praktik dokter.
“Oliv gak mau papa, Oliv takut."
Waktu itu aku tengah memeriksa berkas tentang kesehatan seorang pasienku diruangan besar milikku ketika suara berisik dari luar mengganggu konsentrasiku,
“sus.” teriakku.
kemudian wajah bulat Rianti suster yang aku panggil menyembul dipintu, ”Pasien berikutnya kenapa belum muncul juga.” tanyaku.
“Ya Dokter sebentar, lagi dibujuk sama papanya, anaknya takut kayaknya.” Rianti menjelaskan.
“Ohh."
Tadi itu suara pasien berikutnya yang kudenger, aku turun tangan, Aku melangkah keluar dan menemukan punggung sorang pria muda yang duduk menyejajarkan dirinya dengan seorang gadis kecil, dia terlihat tengah membujuk gadis kecil dengan sabarnya.
“Ekhhmm." aku sengaja berdehem untuk mendapatkan perhatian dari bapak calon pasienku.
Begitu pria berjas rapi itu berbalik, aku seperti disambar gledek, gak pernah menyangka kemungkinan aku akan bertemu dengannya dalam kondisi seperti ini, dia yang gak pernah absen berada difikiranku selama bertahun-tahun ini kini berada tepat dihadapanku, memandangku dengan tatapan yang dari dulu selalu membuatku jatuh cinta dan tidak pernah bisa berpaling pada laki-laki lain. Kakiku seperti dilem dilantai karna sedikitpun gak mampu bergerak, jantungku dag-dig dug seperti dipukul dengan palu godam, aku seneng pastinya, tapi aku juga takut, seneng ternyata kami dipertemukan kembali dan bisa mengobati kerinduanku yang telah tependam selama bertahun-tahun lamanya, sekaligus tentunya takut, takut membayangkan kalau gadis kecil itu adalah putrinya, ”Astaga” kepalaku tiba-tiba terasa pusing membayangkan ketakutan ku menjadi kenyataan.
Deni, setelah sekian lama aku ingin melihat wajah itu, entah kenapa sekarang setelah bertatap muka dengannya secara langsung membuatku menjadi mual dan aku bener-benar gak siap bertemu dengannya lagi.
“Dokter Najma." dia menyapaku lirih.
Aku tersentak karna Rianti memegang bahuku, "Bu Dokter."
"Eh iya.” aku menjawab gagap.
Deni tersenyum sepertinya dia tidak mengenalku, ”Nah tuh dokternya cantikkan sayang, dan pastinya gak bakalan gigit.” Deni menunjuk kearahku, dia mencoba meyakinkan anaknya.
Kulihat gadis kecil itu sedikit melunak dan mengangguk dan dengan digandeng oleh Deni dia melangkah ke arahku, aku dengan susah payah memcoba tersenyum walaupun aku yakin senyumku pasti terasa hambar.
“Maaf bu Dokter telah membuat dokter menunggu, anak saya memang takut dengan rumah sakit dan Dokter.” Deni menjelaskan.
Aku masih diam membeku ditempatku dengan Deni tepat berada didepanku, aku gak berkutik, masih gak percaya dengan apa yang aku lihat, Deni cowok yang aku sukai berada didepanku dan untuk pertama kalinya selama aku mencintainya dia menyapaku dan sama sekali dia tidak mengingatku, tapi semua itu terlupakan berganti dengan rasa sakit dan perih setelah mengetahui ternyata dia sudah menikah dan memilki anak membuat harapanku harus terbang jauh ke angkasa.
Suster Rianti yang masih disampingku memegang bahuku membuatku tersadar kembali ke masa kini.
“Dokter.”
“Eh ya maaf.” suaraku gugup.
Mataku beradu dengan pandangannya membuatku semakin gugup dan salah tingkah, mata yang untuk pertama kalinya aku lihat dengan jelas karna selama masa sekolah dulu aku hanya mencintai dan mengawasinya dari jauh, aku grogi, gugup, kakiku bergetar, ternyata dia masih mempengaruhiku sama seperti dulu. Untuk menghilangkan semua yang aku rasakan aku mengalihkan tatapanku pada gadis kecil cantik yang masih memegang tangannya, gadis kecil itu memandangku dengan tatapan ingin tahu, aku yang memang menyukai anak kecil duduk menyajajarkan pandanganku dengan gadis kecil yang aku tau adalah anaknya Deni.
“Hai sayang, gak usah takut, dokter gak gigit kok, sini sayang.” aku membujuknya dan Tringggg, seperti sebuah sihir, gadis kecil itu ternyata mendengarkan kata-kataku dan berjalan perlahan ke arahku dengan senyuman menggemaskan khas anak kecil. Bukannya aku sombong atau gimana, tapi mungkin berkomunikasi dengan anak kecil mungkin menjadi bakat alamiku, karna selama aku menjadi dokter, aku selalu berhasil menghilangkan kesan angker tentang rumah sakit dan dokter pada anak-anak, aku bersyukur memilki keahlian itu karna sangat menunjang pekerjaanku yang merupakan dokter anak.
Dengan polosnya gadis kecil itu mendekatiku dan berkata dengan suara cadelnya, “Doktel cantik kayak mama.”
“Hufffsss,” hatiku kembali berdarah mendengar ucapan polos bocah kecil itu, dia menyebut mamanya, istri Deni yang gak seharusnya aku cemburui.
Dengan sangat amat terpaksa aku berkata, ”Terimaksih sayang, kamu juga cantik.” balasku mencubit pipi tembemnya, kemudian aku tersenyum dan menggandeng tangan gadis kecil itu memasuki ruanganku, dibelakangku aku tau Deni mengikuti kami memasuki ruang praktikku.
Aku dengan sangat mudah akrab dengan gadis kecil yang aku tau namanya adalah olivia aryasena, gadis kecil itu bener-benar lucu dan menggemaskan, dia gak henti-hentinya berceloteh tentang sekolahnya, temen-temannya, tentang papanya yaitu Deni tentang mamanya yang katanya pergi jauh dan belum pulang, aku gak mau membuat gadis kecil ini kecewa dan dengan hati yang perih aku merespon setiap kata-katanya sambil memeriksa kondisinya sampai akhirnya selesai dan aku dengan ringannya mengantarkan mereka keluar rungan, suatu hal yang gak perlu sebenarnya tapi itu aku lakukan karna aku ingin melihat wajah Deni lebih lama, menyimpan wajahnya dalam hatiku, tapi sepertinya Deni belum juga mengenaliku, aku maklum karna dulunya aku bukanlah gadis populer disekolah, baik dari tampilan fisik maupun akademis, aku gelap dan gak terlihat, seenggaknya itulah kata-kata yang sering digunakan temenku untuk menggambarkan kehidupanku waktu itu, jadi maklum saja Deni tidak mengenalku walaupun kami pernah satu kelas.
“Terima kasih Dokter, gak salah saya datang kemari.” tukas Deni sekarang menggendong Oliv.
Aku hanya menyunggingkan senyum terbaikku berharap dia bisa mengenaliku disaat terakhir sebelum dia pergi, tapi sepertinya usahaku sia-sia saja, karna setelah mengucapkan terimaksih dia sudah berniat berbalik dan melihat hal itu aku gak mau menyiak-nyiakan kesempatan.
“Deni,” aku memanggil namanya
Dia urung melangkahkan kakinya dan kembali memandangku.
“Ya, kenapa” tanyaya.
“Kamu gak inget aku ya.”
Dia terlihat bingung mendengar ucapanku, ”Maksud dok." sebelum dia menyelsaikan kalimatnya matanya melebar dan ingat akan sesuatu, ”Astaga kamu.” dia mencoba mengingat, "Najma, Najma, temen kelasku waktu SMA kan, Najma Aliandra.”
“Huh.” tanpa sadar aku mendesah lega akhirnya dia inget juga tanpa aku harus memperkenalkan diriku secara lebih mendatail padanya.
”Najma, kamu kok berubah sekarang bukan Najma yang aku kenal dulu." ujarnya antusias setelah mengetahui siapa aku.
“Bukan Najma yang gendut maksud kamu.” ucapku menanggapi ucapannya yang mengatakan bukan Najma yang dulu.
Dia tertawa,”Sensistif banget, tapi serius aku bener-bener pangling dan gak mengenali kamu, sudah lama yah kita gak bertemu, hebat kamu sekarang jadi Dokter.”
Aku seneng mendengar pujiannya itu, "kamu juga hebat, jadi laki-laki sukses dan tentunya sayang sama keluarga, jarang lho ada bapak yang mau mengantar anaknya ke Dokter.” ku tanggapi kata-katanya dengan perasaan gak menentu.
“Kamu sendiri gimana, udah nikah.” dia tanya.
Deg
Pertanyaan sensitif yang sumpah deh malas banget aku jawab setiap kali pertanyaan itu terlontar dari bibir setiap orang, aku hanya menjawab dengan senyum singkat yang aku yakin Deni bisa mengartikan arti dari senyumku karna aku paling malas menjawab pertanyaan yang menjurus ke arah masalah nikah. Gimana mau nikah coba kalau separuh hatiku masih tetap mengharapkanya, cowok yang berubah status menjadi cowok yang gak mungkin lagi aku harapkan dengan statusnya sebagai suami orang,
“Apalagi yang kamu tungu Najma, kamu cantik, sukses, apa kamu pilih-pilih yah.” komentarnya bercanda.
“Sialan.” umpatku, ”Aku menunggu kamu makanya aku belum nikah sampai sekarang, dasar kamu gak peka.”aku membatin, tapi malah yang keluar dari bibirku adalah, ”Belum nemu yang pas kayak Deni yang sudah nemu yang pas.” kujawab sekenanya membuatnya diem.
“Lho, kok diem.” aku bertanya dalam hati, takut jangan-jangan ucapanku salah atau menyinggungnya, aku buru-buru mengucapkan kata maaf karna kulihat perubahan air mukanya yang terlihat sayu tidak seceria tadi, ”Maaf Den, aku salah bicara ya tadi.”
“Gak apa-apa Najma, kamu gak salah kok, istriku sudah meninggal kok.” dia menjelaskan.
Ucapannya terdengar sendu, dia pastinya inget dengan almarhum istrinya, pantesan kenapa dia yang mengantar anaknya ke Dokter yang aku yakin dengan pakain yang dikenakannya dia adalah laki-laki super sibuk, hal tersebut membuatku salut terhadapnya, ternyata dia begitu perhatian sama putrinya, ”Maaf Den aku gak bermaks.."
Lagi-lagi kataku diputus olehnya “Gak apa-apa Najma.”
“Papa, Oliv mau es klim.” ucapan cadel Oliv anaknya membuat obrolan kami terhenti, dia kemudian pamit.
Aku hanya mengangguk untuk mengiyakan.
Setelah pungggung Deni semakin menjauh dan menghilang dari pandangan mataku, kutemukan diriku tidak menyangka dengan apa yang menimpanya,
"Deni akhirnya kita bertemu lagi setelah sekian lama kita terpisah walaupun dalam kontek yang berbeda." batinku.
****
Dan sepertinya takdir berpihak padaku karna setelah pertemuan pertama dirumah sakit itu, pertemuan-pertemuan berikutnya adalah pertemuan yang gak pernah kami rencanakan, kami sering bertemu dimall, dikafe atau ditoko buku, hal tersebut mau tidak mau membuat kami akrab ditambah juga karna putri kecilnya menyukaiku, dan aku menemukan diriku semakin mencintainya walaupun statusnya adalah duda dengan satu anak, bukan hanya dia saja yang aku cintai tapi aku juga mencintai anaknya dan membuatku ingin melindungi gadis kecil itu. Kami sering menghabiskan waktu besama entah itu hanya makan, atau hanya sekedar jalan-jalan bersama, atau gak kami menghabiskan waktu bersama dengan nonton bioskop, terkadang juga Oliv ikut menambah rame suasana, walaupnun begitu aku gak pernah mengatakan tentang perasaanku padanya, perasaan cinta yang tersemayam dihatiku jauh sebelum pertemuan ini, aku takut, takut kalau dia tau aku mencintainya dia bakalan menjauhiku, aku nyaman berada didekatnya, nyaman walaupun hanya sebagai temennya saja dan aku gak ingin merusak semuanya sampai suatu hari ketika aku berkunjung kerumahnya atas undangan Oliv, tanpa disangka-sangka Oliv yang masih polos nyerocos ketika kami tengah bersantai diruang keluarga sambil menonton TV.
“Papa."
“ Ya sayang.”
“Papa sama Doktel cantik ini pacalan yah.” begitulah Oliv memanggilku dengan sebutan Dokter cantik aku suka mendengarnya, walaupun yah papanya sendiri tidak pernah dengan terangan-terangan mengatakan kalau aku cantik. Wajahku bersemu merah mendengar clotehan Oliv, Deni hanya memandangku dengan senyuman menggoda, bukannya malah membantah ucapan anaknya dia malah meminta Oliv untuk menanyakan hal itu padaku.
“Coba tanyain sana Dokter cantiknya sayang kalau papa sieh terserah.” cetusnya seenak jidatnya.
Emang aku mau jawab apa, aku memang mencintainya, tapi gak mungkin aku bilang terang-terangan dengan dia saja bersikap cuek bahkan dengan jailnya dia menaggapi ucapan Oliv, gadis polos itu dengan patuhnya mendekatiku dan mengulangi pertanyaan yang sama, ”Doktel, Doktel, benelan Doktel pacalan dengan papa.” Oliv memandangku dengan penuh harap, sumpah aku gak tau mau jawab apa, aku takut salah, tapi kalau aku jawab aku gak ada apa-apa dengan ayahnya aku takut gadis mungil didekatku ini kecewa, maka kulontarkan balik ucapan Deni tadi, ”Tanya papanya saja sayang."
“Huhh.” Oliv jelas saja sebel kepada kami, tadi oleh papanya dia disuruh bertanya padaku sekarang oleh aku disuruh menanyai papanya, ”Dasal olang dewasa.” aku dan Deni hanya tetawa melihat tingkah polah lucu Oliv.
Ketika jarum jam sudah menunjukkan angka 09.00 Deni dengan mobil sedannya mengantarku pulang, hening gak ada yang berusaha memulai pembicaraan, masih sama-sama merasa cangung dengan pertanyaan polos Oliv tadi, tapi begitu mobil berhenti didepan rumahku dan setelah mengucapkan terimaksih dan berniat membuka pintu mobil, panggilan Deni menghentikan tanganku yang sudah berada pintu mobil.
“Najma.”panggilnya, suaranya terdengar lembut ditelingaku.
aku mengurungkan niatku dan kembali memandangnya yang tengah memandangku, aku gugup, tapi berusaha ku tepis rasa gugupku, ”Ya Den, kenapa, mau mampir.” balasku garing berusaha bercanda, tapi kayaknya candaanku gak mempan karna dia tidak tertawa sama sekali.
“Kata-kata Oliv yang tadi.”
“Oh itu.” potongku sok tau sebelum Deni menyelsaikan ucapannya, ”Iya Den gak bakalan aku fikirin kata-kata Oliv barusan, namanya juga anak-anak suka nyerocoss gak jelas jadi kamu jangan khawatir.”
Tapi kemudian, kata-katanya menghentikan dugaanku yang merembet kalau ucapan Oliv itu adalah gak penting,l.
“Aku menyukaimu Najma.”
“Haah." respon yang sangat bodohkan, ”Eh, maksudnya.” kataku gak mempercayai apa yang diucapkan Deni.
Deni kemudian memegang tanganku dan meremasnya dengan lembut, ah rasanya aku ketar-ketir, hati dag-dig dug gak karuan karna jujur saja aku berharap dia menyatakan cintanya padaku dan keinginanku terwujud.
“Aku mencintaimu Najma, aku ingin kamu menjadi bagian dari hidupku dan menjadi ibu buat Oliv."
Aku jelas saja melongo menampilkan kebodohanku, aku beneran ditembak jeritku dalam hati kegirangan akhirnya setalah sekian lama, tapi hal itu gak aku tampakkan karna gak mungkin dong pasti dia kegeeran kalau aku bilang aku dari dulu ngebet banget dengannya.
Melihatku yang belum membuka suara untuk membalas kata-katanya dia melepaskan tanganku yang digenggamnya dan mengembuskan nafas kecewa, ”Aku tau Najma, kamu pasti menolakku, aku adalah duda, sedangkan kamu.."
“Ah, dia ngomong apa sih, jelas saja hal itu bukanlah menjadi sebuah masalah bagiku untuk menerima cintanya” lagi-lagi batinku yang berucap, ”Aku menerimanya dengan statusnya dan kondisinya."
”Kamu berhak dapat yang lebih baik dari aku, jadi..” lanjutnya sambil mengacak-ngacak rambtuku, ”lupakan kata-kataku tadi dan tidurlah dengan nyaman.” dia tersenyum.
“Apa-apaan sih, tadi menyatakan perasaanya sekarang dia memintaku melupakannya, dia serius gak sih.” tapi kata yang keluar dari bibirku adalah “Eh ya udah deh Den, aku masuk yah.”
Dia hanya mengagguk.
***
Semalam aku memikirkan kata-kata Deni, apa dia serius dengan ucapannya, apa dia bener-bener mengharapkanku menjadi bagian dari hidupnya, apa dia serius memintaku menjadi ibu buat Oliv, ”Bodoh bodoh bodoh.” aku memukul keningku pelan, ”Kenapa aku gak langsung jawab iya, setelah sekian tahun aku menunggu.” sedetik kemudian aku dengan yakin menggengam hpku dan mencari kontak namannya di phone book hpku dan menekan tanda panggil, tapi begitu sambungan terhubung aku kembali mematikannya, rasanya aku malu banget, ah tapi ngapain malu sih tadi dia sudah menembakku dan menyatakan cintanya, fikiranku bergulat, tapi pertentangan itu berakhir begitu deringan dari hp yang tengah aku pegang meronta-ronta untuk diangkat, dan ternyata yang menelpon ku adalah Deni, ”Aduh, dia pasti nanyain kenapa aku tadi nelpon." dengan ragu aku menggeser layar ponselku dan menempelkannya didekat telingaku.
“Halo.” ku sapa dia.
“Najma, ini jam berapa kenapa belum tidur.” ucapan pertamanya membuatku melirik jam wekerku, di situ tertera dengan jelas angka 12.30, aduh bodoh, saking aku gak bisa tidur dan malah ingin menjawab pernyataan cintanya aku malah mengganggu waktu istirahatanya, ”Aduh maf Den aku, cuma, aku Cuma.” ucapanku jadi ngaco gak jelas ujung pangkalnya.
“Ya kenapa Najma” dia menunggu dengan sabar apa yang akan aku katakan.
“Aku juga mencintaimu, bahkan sejak lama aku mencintaimu.” aku heran dan mengutuk diriku sendiri karna tanpa sadar aku mengungkapkan isi hatiku, aku malu sendiri tapi aku mau bilang apa toh semuanya sudah teranjur.
“Najma.” suara Deni terdengar bersemangat, “Aku gak salah dengar kan ini, kamu menerima cintaku.”
“Hehhe, ya” jawabku malu-malu.
“Ini benerkan gak bercanda ” katanya dengan masih tidak percaya.
“Ya den, aku juga mencintamu.”
Dasar cowok yang hampir semuanya sama saja,bkarna begitu memastikan aku menerima cintanya, Deni kemudian mengobral janji gombalnya menyakinkan kalau dia tidak akan pernah membuatku kecewa, dia tidak akan pernah menyakitiku dan akan selalu mebuatku bahagia, standar ala-ala cowok banget, tapi aku bahagia mendengarnya setelah sekian lama menunggu kini akhirnya cinta ku berbalas, untuk pertama kalinya setelah lulus SMA aku kembali menggoreskan tulisan tanganku dibuku diary merah jambu yang selama ini gak pernah aku aku tulisi,.buku yang semuanya hanya berisi satu nama yaitu Deni, kini dibeberapa halaman yang belum tertulis aku mulai menuliskan kata perkata tentang Deni.
Dear diary,
Akhirnya setelah sekian tahun dalam penantian panjang, akhirnya dia mengucapkan kata-kata yang aku tunggu sejak dulu, kata-kata sederhana tapi mampu membuatku senyum sepanjang sisa hidupku, Deni cinta pertamaku dan sekaligus menjadi cinta terkahirku.
Dengan senyuman mengembang aku kembali menutup buku diary yang membawaku kembali kekisah cinta masa remajaku berharap aku, Deni dan Oliv bisa menyongsosng kebahagian yang menunggu didepan kami.
***