[Horor] Jailangkung
Author : Keanu
Kisah ini berawal dari kesukaan ku bermain jailangkung. Permainan memanggil arwah ini awalnya cukup menarik, tak ada rasa takut sedikit pun saat bermain jailangkung. Apalagi media yang aku gunakan bukan lewat boneka atau orang-orangan pada umum nya. Melainkan aku menggunakan media lain. Secarik kertas yang bertuliskan huruf dan angka, juga sebuah koin untuk perantara atau jalan masuk nya arwah gentayangan.
Rasa penasaran membuat ku terus memainkan permainan itu, meski pernah orang tua memperingatkan ku agar tidak bermain Jailangkung. Namun teguran mereka tak aku hiraukan, hingga aku pun kecanduan memainkan nya. Setiap hari, setiap jam bahkan setiap menit terus ku lakukan, hingga pada satu hari sesuatu mengintai ku.
" Maen terus Jailangkung !! " ucap Rahma seraya menepis lengan ku yang sedang memainkan koin di atas kertas. Hal ini sedang aku lakukan di sekolah, dan Rahma itu salah satu teman sekelasku.
" Kamu !! " Aku membulatkan mata, kesal karena Rahma malah membuat tangan ku terlepas dari koin jailangkung. Pasal nya menurut orang-orang, permainan ini memiliki satu pantrangan yakni jari telunjuk yang menempel di koin tersebut jangan sampai terlepas jika sampai itu terjadi maka arwah yang tadi nya berada di dalam koin akan masuk ke dalam raga mu.
" Gara-gara kamu jadi tangan ku terlepas dari koin ini ! " gerutu ku pada Rahma.
" Lagian ngapain juga kamu main begituan, di sekolah bukan nya belajar malah main jailangkung. " ketus Rahma.
Aku kesal dan langsung memasukan semua media permainan itu ke dalam tas ku. Padahal saat itu aku lagi seru-seru nya main jailangkung. Pasal nya arwah yang masuk mengaku jika diri nya adalah arwah kakek ku yang baru meninggal setahun yang lalu.
Tentu saja hal itulah yang membuat aku tertarik hingga terus memainkan permainan pemanggil arwah itu. Sejak kecil aku di besarkan oleh kakek ku, saat kepergian nya aku benar-benar terpukul. Aku sangat kehilangan sosok kakek, bagi ku beliau adalah ayah ku. Jika orang lain bilang kalau cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayah nya maka lain hal dengan ku. Aku terlahir dari keluarga broken home, karena itu aku di rawat dan di besarkan oleh kakek ku. Setelah kepergian beliau barulah aku tinggal bersama Ibu dan Ayah tiri ku.
***
Waktu subuh aku bangun dan bergegas wudhu, aku terbiasa berwudhu di luar. Kran air yang biasa di pakai untuk menyiram bunga ku jadikan tempat wudhu.
Saat berwudhu, sudut mata ku menangkap sesuatu. Seseorang yang tengah menatap ku di pojok luar pagar rumah. Usai wudhu, aku melihat ke arah nya. Seseorang yang tak asing bagiku, dia bibi pembantu tetangga depan rumah ku. Ya, aku mengenal nya tapi aneh nya sosok itu memelototi ku. Keadaan gelap membuatku tak bisa melihat nya dengan jelas, aneh nya lagi dia tidak menyapa atau tersenyum kearahku. Dia berdiri di balik pagar yang cukup tinggi, jadi aku hanya bisa melihat bagian wajah nya saja yang sedikit seram, tak seperti biasanya.
Tak mau ambil pusing, aku bergegas masuk ke dalam rumah. Aku tunaikan sholat subuh dua rakaat. Kejadian ini aku ceritakan pada Ibu ku saat matahari mulai terbit.
" Salsa , " seru Ibu tergopoh-gopoh masuk, tangan nya menenteng kantong belanjaan. Beliau habis belanja di tukang sayur yang biasa keliling perumahan.
" Tadi Ibu nanya sama Bi Inah, apa dia berdiri di depan pagar rumah saat subuh? Bi inah bilang kalau dia baru datang ke rumah Bu Hana pukul enam pagi, dan itu memang sudah kebiasaan nya setiap hari. Bu Hana pun berkata seperti itu, " ucap Ibu dengan wajah serius.
" Lalu siapa yang aku lihat subuh tadi? Wajah nya sangat mirip Bi Inah, meski keadaan gelap aku yakin gak salah lihat, " tutur ku.
" Mungkin orang lain, soalnya Bi Inah atau Bu Hana gak mungkin bohong. Malah ibu juga lihat setiap hari Bi inah datang sekitar pukul enam pagi, " kata ibu.
Kejadian itu tak begitu mengganggu ku, aku pikir semua normal. Bisa saja aku salah orang, mungkin bukan Bi Inah.
Aku bersiap pergi ke sekolah, seperti biasa aku mematut diri di depan cermin. Entah apa yang terjadi tiba-tiba saja cermin tersebut pecah dan serpihan kaca nya menyembur ke arah ku, untung saja tubuh ku spontan mundur sampai terjatuh di atas tempat tidur. Kejadian ini sangat aneh menurutku, jika cermin itu pecah kemungkinan jatuh ke bawah, dan tak mungkin berbentuk serpihan kaca apalagi menyembur ke arah ku karena ada bingkai plastik yang menahan cermin tersebut. Keadaan cermin itu juga utuh dan tak rusak ataupun retak, kenapa tiba-tiba saja pecah berhamburan ke arah ku berdiri?
Lagi aku ceritakan semua nya pada Ibu, beliau bilang seperti nya ini pertanda buruk. Benar saja, beberapa hari kemudian jari tangan ku bisa bergerak dengan sendiri nya, bahkan bisa bicara, aku bisa berkomunikasi dengan nya. Jari bisa bicara ? Ya, bicara di sini bukan berarti bersuara, melainkan aku bisa mendengarnya lewat hati. Malah mereka mengaku jika diri mereka adalah arwah-arwah yang pernah masuk ke dalam permainan jailangkung ku.
Semakin hari, arwah yang masuk ke dalam tubuh ku semakin banyak, namun aku tetap dalam keadaan sadar. Tak seperti orang kerasukan pada umum nya. Dari sana aku mulai tersiksa, karena kadang lidah ku sendiri pun di kendalikan oleh nya, aku yang sedang diam pun kadang spontan bicara sendiri, ada seseorang mengontrol mulut ku. Aku sadar dan tidak gila. Namun keadaan ku yang seperti ini membuat orang-orang menganggap ku aneh, termasuk teman-teman ku. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak masuk sekolah.
Kedua orang tua ku bilang, saat ini aku di tempeli arwah penasaran akibat bermain jailangkung. Mereka pun membawa ku berobat ke Ustad, Paranormal bahkan psikiater. Namun hasil nya nihil. Roh-roh itu terus saja menguasai jiwaku, keadaan ini begitu menyiksa diri.
Aku yang memiliki raga, namun makhluk halus yang menghuni dan berkuasa di dalam raga ku. Hal-hal gaib di luar nalar pun sering menimpa ku bahkan sampai keluarga ku pun ikut mengalami nya. Suara-suara aneh kerap kali terdengar oleh kami. Sekelebatan bayangan hitam di balik jendela pun seperti makanan sehari-hari untuk ku dan keluarga ku.
Hingga suatu hari, aku di bawa ke seorang paranormal bernama Ki Anom. Beliau bilang jika tubuh ku di huni ratusan bahkan ribuan makhluk halus, sedang jiwa ku di simpan di sebuah curug ( air terjun ). Semua yang menimpaku di akibatkan permainan jailangkung yang terus menerus ku mainkan. Hingga mengundang banyak roh halus yang menghuni tubuh ku.
Mungkin kah pantrangan bermain jailangkung itu benar? Karena ulah Rahma yang melepaskan ku dari koin itu hingga roh halus berpindah ke tubuh ku? Tidak, bukan karena itu. Sebenarnya saat aku memanggil arwah dalam permainan jailangkung, mereka tidak memasuki koin atau media yang aku pakai, melainkan mereka masuk kedalam tangan ku dan mengendalikan koin tersebut. Aku baru tau semua itu dari Ki Anom. Pantas saja begitu banyak roh yang masuk ke dalam tubuh ku, setiap kali aku bermain jailangkung saat itu juga mereka masuk satu persatu bahkan bisa dua atau tiga roh sekaligus.
Aku sempat menyerah dan putus asa dengan keadaan ku. Dua bulan aku menderita karena hidup di kuasai oleh makhluk halus. Mereka tak juga pergi dari tubuhku meski setiap sore keluarga ku mengadakan pengajian, bahkan rukiyah sekali pun sudah aku lakukan. Sholat 5 waktu pun malah tak bisa ku lakukan akibat gangguan roh halus itu. Saat aku di obati Ki Anom, beliau bilang aku sendiri lah yang harus mengusir mereka, karena aku yang punya kendali atas raga ku, aku yang paling berhak atas tubuh ku. Beliau juga bilang, aku harus segera mengusir mereka.
" Salsa, usahakan untuk tetap fokus jangan melamun. Lawan mereka dan memohon perlindungan Allah, banyak berdoa. Jangan sampai makhluk itu menghuni mu lebih lama lagi, " nasehat beliau pada ku.
Aku sempat mendengar perbincangan Ki Anom dan orang tua ku, jika aku tak mengusir roh itu sampai genap 3 bulan mereka akan bersatu mendarah daging di dalam tubuh ku, bahkan lebih parah nya lagi bisa sampai mengancam nyawa ku. Mereka tak segan membicarakan hal yang membuat aku shock di depan ku. Mereka pikir aku tak sadar dan tak bisa mendengarkan ucapan mereka, padahal meski pun tubuhku di rasuki banyak roh tapi aku 100% sadar.
Dari ucapan Ki Anom aku mulai bangkit dan melawan roh-roh jahat itu. Aku juga meminta perlindungan pada Allah dengan penuh keyakinan di dalam hati jika aku bisa melawan mereka dan Allah akan menolong hamba Nya.
Hingga suatu hari saat aku terbangun dari tidur ku, aku tak menemukan lagi mereka. Tak ada suara-suara dari jari tangan ku, tak ada juga yang mengendalikan lidah ku, sepertinya mereka sudah benar-benar pergi. Hanya dalam satu malam aku melawan mereka, semua ini tak terlepas dari Kuasa Allah yang sudah menolong ku.
Semenjak peristiwa itu, aku menjadi sedikit berbeda. Mata batin ku lebih peka terhadap makhluk gaib yang ada di sekitarku, bahkan terkadang firasat ku juga tajam pada sesuatu yang akan terjadi di kemudian hari. Indigo? Bukan aku bukan seorang indigo, hanya saja mata batin ku lebih terasah sejak saat terbiasa berkomunikasi dengan mereka.
Kata orang-orang, aku di bantu oleh roh yang menjaga ku saat melawan mereka. Setiap manusia di lahirkan dan memiliki roh penjaga, dan dia lah yang menolongku. Entahlah yang pasti dari kejadian itu aku bisa mengambil hikmah nya, untuk tidak bermain-main dan mengganggu makhluk ciptaan Allah yang tak kasat mata itu. Aku juga semakin mempertebal keimanan ku pada Allah, karena kesembuhan ku datang dari Nya. Hingga saat ini permainan Jailangkung meninggalkan trauma yang mendalam untuk ku.
" Datang tak di jemput, pulang tak di antar . "