[Horor] Misteri Sebuah Pabrik
Hari ini adalah hari pertama aku masuk kerja di sebuah pabrik besar yang bergerak di bidang industri kosmetik. Aku yang baru lulus SMA, langsung mencari pekerjaan untuk bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari dan membantu keuangan keluarga.
Awalnya aku ingin sekali meneruskan sekolah ke perguruan tinggi namun karena kondisi ekonomi keluarga tak memungkinkan untuk aku kuliah, terpaksa aku pun mengurungkan keinginan ku itu. Kata orang tua ku, lebih baik aku bekerja dulu sambil mengumpulkan uang agar aku bisa masuk ke perguruan tinggi nanti nya.
Setelah ku pikir-pikir, perkataan mereka ada benar nya. Saat ini aku lebih memilih bekerja dulu, nanti dari hasil kerja aku bisa mengumpulkan biaya untuk kuliah, sebagian aku sisihkan dan sebagian lagi untuk keperluan sehari-hari membantu keluarga ku. Mengingat aku anak pertama dari tiga bersaudara, mau tidak mau aku harus menjadi tulang punggung keluarga. Apalagi selama ini Ayahku hanya kerja serabutan sebagi kuli bangunan, sedang Ibu hanya penjual gorengan keliling komplek.
Dengan susah payah mereka menyekolahkan ku hingga SMA, hanya mengandalkan penghasilan mereka yang tak seberapa. Itu pun jika Ayahku mendapat pekerjaan, karena tak setiap waktu ia mendapat kerjaan kuli bangunan itu. Terkadang dalam sebulan atau dua bulan ia terpaksa menganggur karena tak ada pemborong yang mengajak nya bekerja.
Jadi penghasilan keluarga bergantung pada hasil jualan Ibu. Ayah hanya membantu pekerjaan Ibu saat membuat gorengan untuk di jajakan nanti nya. Dari situlah kenapa aku lebih memilih bekerja, setidak nya aku bisa memperbaiki ekonomi keluarga kami, apalagi dua adik ku masih duduk di bangku sekolah. Tentu mereka akan butuh biaya agar bisa menamatkan sekolah nya setidaknya sampai tamat SMA seperti ku.
" Laras, sarapan dulu. " Ibu membuka pintu kamar ku. Merasa sudah siap dan rapi aku pun segera mengikuti langkah Ibu menuju dapur.
Di sana sudah ada Chacha dan Wahyu dua adik ku yang juga sedang sarapan. Ku lihat Ayahku sedang sibuk mengiris sayuran untuk gorengan. Satu piring nasi goreng putih sarapan ku hari ini, menu sarapan yang sudah seperti tradisi setiap hari nya dari aku SD sampai sekarang. Bukan mengeluh, justru aku semakin bertekad untuk membantu keluarga ku agar bisa mengganti menu ini menjadi lebih baik. Setidaknya ada telur untuk asupan gizi adik-adik ku.
Usai sarapan aku pamit berangkat kerja. Kali ini aku makin bersemangat mencari rupiah, meski gaji ku akan ku dapatkan sebulan kedepan.
Dari kejauhan muncul Sari teman satu kerjaku, lebih tepat nya ia lah yang mengajaku melamar pekerjaan di pabrik itu.
Sebenarnya Sari seumuran dengan ku, tapi dia sudah lebih dulu bekerja di sana karena tak meneruskan sekolah nya ke jenjang SMA, lulus SMP ia langsung bekerja. Kata Sari, pekerjaan ku nanti akan lebih enak ketimbang diri nya mengingat kami berdua lulus dari jenjang yang berbeda.
" Lama nunggu ya ? " tanya Sari setelah menghentikan motor nya di depan ku.
" Nggak juga, baru aja aku keluar dari rumah. " Aku langsung naik di belakang nya seraya memakai helm yang ia sodorkan.
" Oke, kita berangkat. " Sari menancap gas dan motor yang kami tumpangi pun melaju membelah jalanan.
Aku kagum pada sosok Sari dan terinspirasi dari nya. Semenjak ia bekerja, ia bisa membeli sebuah sepeda motor walaupun bekas tapi setidak nya ia bisa membeli barang yang ia inginkan.
Sekitar sepuluh menit kami pun sampai di depan pabrik. Motor kami pun langsung masuk ke area pabrik setelah seorang satpam mempersilahkan kami masuk.
Pabrik ini cukup luas, sekitar lima hektare. Motor Sari pun berhenti di sebuah parkiran karyawan dimana kendaraan yang lain nya pun berjejer di sana.
Aku langsung turun, mata ku menyapu sekeliling lingkungan Pabrik yang riuh akan karyawan berlalu lalang. Ada yang baru saja pulang dari shift 3 dan ada juga yang baru datang seperti aku dan Sari yang bekerja di Shift 1.
Aku dan Sari pun berjalan masuk ke pabrik. Kami beda divisi, Sari bekerja di bagian pengepakan sementara aku di bidang produksi.
Pertama masuk ke dalam ruang produksi, hawa dingin menyapa ku. Awalnya aku pikir karena ada Ac di ruangan itu, tapi setelah ku telisik tak ada Ac sama sekali di sana.
" Hai, kamu baru ya di sini? " tanya seseorang menghampiri ku.
Aku menjawab dengan anggukan pelan dan membalas senyuman yang ia lemparkan pada ku.
" Kenalkan nama ku Galih, " sahut nya seraya mengulurkan tangan.
" Aku Laras. " Aku menjabat uluran tangan pria bernama Galih itu.
" Senang bertemu dengan mu. Oh ya, kamu masuk divisi ini ? " tanya nya kembali.
" Ya, ini bagian produksi bedak kan kak? " aku balik bertanya untuk memastikan kalau aku tak salah masuk ruangan.
" Betul, kalau begitu mari akan aku ajarkan, " ajak Galih. Aku pun mengikuti langkah nya.
Di sana aku juga berkenalan dengan banyak karyawan senior dan juga junior seperti ku. Hari pertama kerja cukup menyenangkan karena teman satu pekerjaan ku semua nya baik. Terkecuali satu, seorang mandor di sana yang sikapnya kurang ramah dan terkesan jutek. Wajar sih menurutku karena dia seorang mandor kalau gak di segani mungkin bawahan nya tak akan menuruti nya. Meski harus menjadi satu-satu nya orang yang di benci oleh para karyawan di sana.
****
Seminggu sudah aku berkerja di sana. Tak ada hal yang aneh, meski sebelum nya aku mendengar cerita-cerita aneh dari mulut teman-teman ku.
Apalagi saat salah satu karyawan di divisi ku meninggal dunia. Beberapa karyawan bilang, dia meninggal akibat keracunan zat kimia, ada juga yang bilang kalau memang orang itu punya riwayat penyakit yang cukup kronis, tapi adalagi yang bilang kalau kematian orang itu di akibatkan oleh pemilik Pabrik yang di perkirakan mereka mengandalkan Ilmu pesugihan yang meminta banyak tumbal karyawan demi kemajuan pabrik tersebut. Wallahualam, aku tak mau tau apapun itu, yang jelas menurutku kematian itu rahasia Tuhan. Jika memang azal nya tiba, maka faktor apapun akan menjadi penyebab kematian nya. Semua sudah di gariskan di dalam buku hidup manusia itu sendiri.
Kematian seseorang bernama Nisa itu, kini menjadi buah bibir para karyawan apalagi menurut mereka kematian nya tidak wajar. Bahkan tak hanya Nisa, sebelum aku masuk ke pabrik ini pun pernah ada beberapa orang yang meninggal karena kecelakaan kerja.
Aku yang awal nya mengira pabrik ini nyaman pun akhirnya mulai mengetahui kisah-kisah aneh di pabrik ini selama seminggu bekerja di sana. Tentu saja dari mulut teman sepekerjaan ku.
Saat bekerja mereka terus mengghibah kan makhluk astral yang mereka sendiri pun sepertinya belum melihat seperti apa makhluk itu. Mendengarkan ocehan mereka rasa nya seperti mendengarkan dongeng, membuat ku kantuk saat bekerja. Apalagi saat ini aku kerja shift 3, yang di mulai dari jam enam sore hingga nanti jam enam pagi.
Aku segera izin ke toilet untuk mencuci muka. Aku berjalan melewati beberapa koridor untuk menuju toilet. Sampai di sana, aku segera membasuh muka ku agar lebih segar dan tak ngantuk lagi. Jam menunjukan pukul 11 malam, tentu nya rasa kantuk akan datang saat ini. Apalagi aku yang baru kali ini bekerja di jam malam, pasti belum terbiasa tentunya.
Setelah merasa segar akan kucuran air yang membasuh wajah, aku pun berniat keluar dari sana. Tapi rungu ku mendengar suara langkah yang di seret di dalam salah satu toilet. Aku yang baru saja akan meraih daun pintu pun kembali berbalik menatap sebuah pintu toilet berwarna hijau itu.
Rasa penasaran ku muncul, mulai melangkah mendekat ke arah sumber suara. Seketika ku buka pintu tersebut. Nihil , tak ada apapun di sana. Aku menghela nafas setelah sebelumnya sempat tertahan sejenak. Aku pun berniat menutup pintu dan keluar dari tempat ini namun aku menangkap sosok menyeramkan keluar dari balik pintu tersebut. Sosok Nisa, ya aku sangat yakin itu dia walaupun kini wajah nya terlihat lebih pucat.
Kaki ku seketika lemas, tubuh ku bergetar hebat saat sosok itu semakin mendekat dengan wajah pucat, bola mata nya membelalak seakan ingin keluar dari tempatnya, belum lagi mulut nya memperlihatkan taring tajam dan panjang, lidah nya menjulur sampai leher. Nisa kali ini sangat menyeramkan. Pandanganku buram dan tubuhku pun tersungkur ke lantai mulai tak sadarkan diri.
Sayup ku dengar suara orang-orang memanggil nama ku, ku buka mata ini perlahan menatap satu persatu mereka yang mengerumuni ku. Kepalaku terasa berat dan pusing, hingga aku meringis.
" Kamu tidak apa-apa? " tanya Galih yang juga berada di sana. Aku mencoba bangkit dan duduk.
" Aku baik-baik saja, hanya pusing sedikit, " jawab ku.
" Sebenarnya apa yang terjadi, apa kamu sakit atau melihat sesuatu di toilet tadi? " tanya salah satu karyawan wanita.
Aku terdiam mengingat kejadian sebelum akhirnya aku terbaring di sini. Ya, aku memang melihat hantu Nisa di toilet tapi apa mereka akan percaya dengan apa yang ku lihat? Aku rasa tak perlu mengatakan semua itu, mungkin beberapa orang yang percaya akan semakin besar keyakinan nya tentang hal gaib di pabrik ini, sedang untuk yang tidak percaya akan mencibir ku. Maka dari itu aku bungkam, dan mencari alasan yang lebih masuk akal.
" Aku cuma pusing tadi, " jawab ku menyembunyikan kenyataan yang ku lihat.
" Kalau memang kamu gak kuat kerja, lebih baik kamu pulang saja. " Galih mengusulkan.
" Tidak kak, aku kuat kok. Sekarang udah agak mendingan, " ucap ku.
" Ya lebih baik kamu bekerja daripada nanti gaji mu di potong, lagian kita sedang kejar target pesanan, " ketus mandor bernama Faisal.
Banyak mata tak suka dengan ucapan Faisal barusan, tapi menurutku dia benar. Kalau aku masih kuat kenapa juga harus pulang, aku juga gak mau gaji ku nanti nya di potong.
Aku dan yang lain pun kembali bekerja. Fikiran ku sedikit ambyar dan tak fokus mengingat hal aneh yang baru aku alami seumur hidup. Makhluk itu benar-benar ada dan nyata bahkan aku melihat dengan mata kepala ku sendiri. Aku yakin ini bikan ilusi atau halusinasi. Rasa takut kerap kali hinggap, terkadang mata ku pun lebih waspada melihat ke sekeliling saat merasakan ada yang tengah mengawasi ku bekerja. Padahal tak ada seorang pun yang mengamati ku, mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Bahkan mandor galak itu pun saat ini sedang keluar dari ruangan.
Waktu bergulir, jam kerja ku sudah habis. Aku segera keluar dari ruangan produksi menuju area depan untuk pulang. Tubuh ku terasa letih setelah semalaman bekerja. Saat ini Sari berbeda Shift dengan ku, dia Shift 2 dan akan masuk nanti tengah hari. Jadi kali ini aku berangkat dan pulang kerja dengan menggunakan angkutan umum.
****
Aku menghempaskan tubuh yang lelah ini di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar, mataku mulai berat hingga akhirnya aku pun tertidur.
Lama terjaga hingga aku bermimpi di siang hari, mimpi yang sangat mengerikan. Aku melihat Sari di bawa oleh sosok tinggi besar seperti raksasa, kulit nya berwarna hijau , dari mulut nya menyembul taring melengkung, manik mata nya besar dan merah, urat- urat mata di sekeliling manik merah itu terlihat jelas. Ruas jari besar nya mencengkram kuat tubuh Sari yang terlihat sudah tak berdaya. Raksasa itu seperti buto ijo yang sering ku dengar ceritanya di kalangan karyawan.
Ingin sekali aku menolong Sari namun aku sendiri tidak tau bagaimana cara nya menolong sahabatku itu. Apalagi saat ini buto ijo itu terus menatap tajam ke arah ku. Seakan ia memperingatkan sesuatu. Lebih ngeri nya lagi, ia melahap dan menelan bulat-bulat tubuh Sari yang ada dalam genggaman nya, di hadapan ku ia melakukan semua itu. Sontak aku terbangun dari mimpi ku, dengan nafas memburu, keringat sebesar biji jagung pun nampak memenuhi pelipis. Baju yang ku pakai pun basah bermandikan keringat.
Untung saja ini hanya mimpi buruk, aku menelan saliva untuk membasahi kerongkongan yang terasa kering. Ku lirik jam dinding yang menempel di salah satu tembok kamar. Menunjukan pukul 12 siang, aku usap keringat di kening seraya masih mengatur nafas yang belum beraturan.
Bisa-bisa nya aku bermimpi aneh di siang bolong seperti ini. Mungkin karena tubuh ku terlalu letih hingga aku langsung tidur sepulang kerja tadi, hingga lupa membaca doa terlebih dahulu. Bahkan aku belum mengisi perut ku sama sekali dari pagi tadi. Saat ini cacing dalam perutku meronta minta di isi. Aku bangkit membawa handuk, sebaiknya aku mandi setelah itu baru makan.
Tak kulihat Ayah ku di setiap ruangan, seperti nya beliau sedang keluar. Sedang adik bungsu ku baru pulang sekolah dan langsung main keluar bersama teman-teman nya. Nampak Ibu di dapur masih sibuk mengurus dagangan nya, beliau sepertinya enggan membangunkan ku tadi dan beliau juga sibuk dengan aktifitas nya.
Seusai mandi, aku langsung makan di meja makan yang berada di dapur. Sarapan sekaligus makan siang ku.
" Ibu dengar semalam kamu pingsan di pabrik, " kata Ibu menghampiri ku yang tengah melahap makanan.
" Ibu tau dari mana? " tanya ku heran.
" Dari orang-orang yang keluar pabrik pas Ibu ke pasar pagi. Mereka ngomongin kamu, katanya ada karyawan bernama Laras pingsan semalam. Apa kamu sakit? " tanya Ibu.
Aku terdiam sejenak, memikirkan apa aku harus menceritakan yang ku alami tadi malam atau tidak.
" Aku cuma pusing bu, mungkin belum terbiasa kerja malam, " jawab ku berbohong.
" Kalau kamu sakit, mendingan jangan dulu kerja. Jangan di paksain, takutnya nanti tambah parah lagi. Makan yang banyak ya, biar cepet sehat. Ibu gak bangunin kamu pas pulang dari pasar tadi, soalnya wajah kamu pucat dan lelah seperti nya, " ucap Ibu.
Aku mengangguk pelan sambil memasukan suapan terakhir ke dalam mulut ku.
" Aku masih kuat kerja kok Bu. Lagian sekarang udah mendingan. " Aku menyimpan piring kotor di tempat cuci piring.
" Ya sudah terserah kamu saja, tapi kalau di rasa kurang enak badan lebih baik kamu izin saja. " Ibu membawa keranjang dagangan nya, jam segini ia harus berkeliling untuk jualan gorengan. Padahal matahari saat ini begitu terik, kasihan Ibu masih harus mencari nafkah di usianya yang sudah tak muda lagi. Aku menatap nanar punggung Ibu, ada kesedihan dalam diri ku karena belum bisa membantu beliau. Tekad ku semakin kuat untuk bekerja, tak perduli dengan misteri tentang pabrik itu. Aku juga harus melawan rasa takut ku setelah melihat sendiri betapa menyeramkan nya makhluk astral itu. Semua demi Ibu demi keluarga ku.
Hari bergulir begitu cepat, tak terasa waktu sudah sore. Pukul setengah enam, aku berangkat dari rumah. Alam belum cukup gelap, sinar matahari masih sedikit memancarkan cahaya terakhir nya di ufuk barat.
Aku menyetop angkot berwana biru, angkot yang akan melewati jalan menuju pabrik. Waktu surup seperti ini harusnya tidak bepergian tapi karena tuntutan kerja, aku harus keluar rumah.
Mobil angkot yang aku tumpangi pun menepi di depan pabrik setelah aku bersuara meminta agar sang sopir menghentikan laju kendaraan nya. Jam enam kurang lima menit aku baru sampai, memang kalau naik angkot akan lebih lama karena jalan nya memutar belum lagi turun naik penumpang membuat perjalanan ke pabrik lebih lama ketimbang naik motor.
Setelah membayar ongkos , angkot itu pun berlalu dari hadapanku. Langit sudah mulai gelap, aku berjalan menuju gerbang. Tapi tiba-tiba seseorang menepuk pundak ku.
" Sari ? Ngagetin saja, " gerutu ku saat mendapati Sari di belakang ku.
" Loh kamu ngapain di luar? Emang nya gak kerja, ini kan belum waktu nya pulang, " aku melirik arloji, setau ku Sari harusnya berada di dalam pabrik.
" Ini jam istirahat, " jawab nya singkat. Entah kenapa wajah Sari sedikit berbeda dari biasanya. Aku jadi teringat mimpi ku siang tadi, sangat mengerikan.
" Mau masuk gak nih? " Satpam pabrik mengagetkan ku, rupa nya dia kesal menunggu ku masuk, karena gerbang sudah ia buka sedari tadi namun aku malah berbincang dengan Sari. Tatapan aneh yang ku dapat dari mata satpam itu.
" Loh Sari? Kemana dia cepet banget ngilang nya, " aku heran saat tak melihat Sari di dekat ku. Harusnya dia ada di belakang ku atau dia berjalan lebih dulu tadi saat satpam menegur ku? Ah sudah lah lebih baik aku masuk saja, mungkin tadi Sari terburu-buru harus melanjutkan pekerjaan nya. Aku juga sepertinya akan telat jika berlama lama bengong di sini.
Tiba di ruang produksi, seperti biasa para karyawan satu ruangan dengan ku sedang asyik ghibah. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tak mau tau. Aku langsung saja mengambil tugas ku dan mulai bekerja.
Namun saat khusuk bekerja, rungu ku mendengar mereka menyebut-nyebut nama Sari dalam ghibahan nya. Sontak aku langsung menghampiri mereka.
" Lagi ngomongin apaan sih? " tanya ku penasaran.
" Kami lagi ngomongin korban kecelakaan siang tadi, lagi-lagi karyawan pabrik ini menjadi korban tumbal, " jawab seorang karyawati.
" Kecelakaan? Apa hubungan nya sama pabrik ini? " tanya ku heran.
" Loh kamu gak denger ya kalau tadi siang salah satu pegawai pabrik terlindas truk di depan gerbang. Katanya dia mau masuk ke dalam pabrik, tapi dari arah lain ada truck yang langsung menabrak nya hingga terseret beberapa meter. Padahal ya, saat itu banyak karyawan meneriaki nya, memperingatkan agar jangan dulu menyebrangkan kendaraan nya. " Karyawati itu menatapku dengan wajah serius.
" Kamu tau apa yang terjadi selanjutnya? Dia seolah tak mendengar teriakan para pegawai yang lain, dia juga seakan tak melihat truck yang jarak nya sudah begitu dekat. Akhirnya dia terlindas dan tewas, " lanjut karyawati tadi.
Sementara yang lain nya hanya mengangguk membenarkan perkataan wanita itu. Aku terdiam sejenak, memang kejadian itu terdengar sangat janggal. Apalagi jalanan pabrik tak begitu padat, hanya beberapa kendaraan saja yang melintas di sana. Tak mungkin jika korban kecelakaan itu tak mendengar teriakan orang-orang apalagi tak melihat ada truck di arah yang berlawanan dengan jarak dekat.
" Karyawan itu bernama Sari, dia anak yang kerja di pengepakan harus nya masuk shift siang. Sayang sekali, peristiwa naas menimpa nya. " Karyawati yang lain membuyarkan lamunan ku, membuat ku terkejut mendengar pernyataan nya barusan.
" Apa? Sa-Sari? " Aku membulatkan mata, seakan tak percaya dengan perkataan nya. Apakah Sari yang ia maksud itu teman ku?
" Iya, Sari Rahayu. " Seseorang menyebutkan nama sahabatku dengan jelas.
Aku terdiam tak percaya jika sahabat ku Sari meninggal karena kecelakaan di depan Pabrik. Padahal baru tadi sore aku bertemu dengan nya di depan gerbang, ia memang terlihat pucat saat bertemu dengan ku. Tapi aku tak menyangka jika Sari sudah tiada. Pantas saja dia lenyap begitu saja hingga aku tak melihat nya dalam sekejap.
Tanpa sadar air mata jatuh di sudut mataku, tentu saja membuat mereka yang berada di hadapan ku terheran-heran.
" Kamu kenapa? " tanya salah satu karyawati tadi.
" Sari itu sahabatku. Dia yang mengajaku bekerja di sini, " lirih ku seraya mengusap air mata.
" Ya Allah, kamu sampai tak tau kabar ini? Apa tak ada yang memberitahu mu? " tanya nya lagi.
Aku menggelengkan kepala, ponsel ku habis batrai sejak semalam dan aku lupa mengisi nya hingga ku tinggalkan di rumah. Aku rasa keluarga Sari juga tak akan memberitahu ku, karena rumah Sari cukup jauh. Dia tidak tinggal sekampung dengan ku.
Karyawati itu mengelus punggung ku, ia mencoba menenangkan kesedihan dan duka yang mendalam karena kehilangan sosok sahabat ku.
Kemungkinan esok hari baru aku bisa melayat ke rumah nya. Sekarang hari sudah malam, aku juga harus bekerja dan tak mungkin melayat ke rumah Sari saat ini juga.
Kejadian aneh kembali menimpaku, setelah sebelumnya melihat sosok Nisa. Kali ini bahkan aku melihat sosok arwah sahabat ku sendiri. Aku jadi teringat mimpi ku siang hari tadi, mimpi buto ijo membawa Sari yang tak berdaya, bahkan buto ijo itu menelan nya mentah-mentah. Apa benar buto ijo itu penghuni pabrik ini? Benarkah terjadi pesugihan yang meminta tumbal sebagai bayaran nya di Pabrik ini? Jika semua itu benar, maka secara tidak langsung mimpi ku itu bukan sebuah bunga tidur semata melainkan sebuah pertanda akan ada nya misteri di pabrik ini.
" Ehm.. " Mandor pabrik berdehem, ia melihat aku dan yang lain nya sedang berkumpul dan meninggalkan pekerjaan nya. Sontak para karyawati itu pun kembali sibuk, yang lain juga kocar-kacir ke tempat semula ia bekerja. Faisal mandor pabrik menatap ku tajam.
" Kenapa kamu? Sakit lagi huh? " tanya nya ketus. Aku menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan nya. Rasa nya mulut ku terkunci dan enggan berucap.
" Kalau gitu cepat balik ke tempat mu, selesaikan pekerjaan mu. " Faisal menunjuk tempat ku dengan dagu nya. Tanpa berkata apapun, aku melengos pergi dari hadapan nya, dan kembali ke tempat ku.
Tak terasa waktu berlalu, jam menunjukan pukul satu dini hari. Rasa nya pekerjaan ku tak kunjung usai, aku lebih banyak melamun dan tak fokus seperti hari kemarin. Saat ini bahkan aku merasa tubuh ku tak enak, bagian tengkuk terasa begitu berat. Aku mengerjapkan mata berulang kali untuk mengusir perasaan aneh ini. Namun entah kenapa seketika semua yang ada dalam pandangan ku berubah begitu saja.
Netra ku menangkap hal aneh di pabrik ini, tidak ini bukan pabrik ku. Dalam sekejap aku seakan berpindah pijakan. Sekelilingku banyak orang, namun aku yakin itu bukan karyawan-karyawan satu pekerjaan dengan ku. Mereka terlihat asing dan misterius. Seragam yang mereka kenakan pun berbeda dengan ku.
Tiba-tiba seseorang dari mereka menatap ke arah ku. Tentu saja aku terkejut melihat nya, sosok itu sangat mengerikan. Wajah nya berdarah-darah, bahkan nyaris tak sempurna. Sebelah bola mata nya tak nampak, lebih tepat nya kelopak mata itu bolong. Ia menyeringai ke arah ku, deretan gigi nya pun nampak di penuhi kucuran darah. Aku tersentak mencoba menyadarkan diri jika yang kulihat ini hanya halusinasi.
" Laras, " berulang kali aku mendengar seseorang membisikan nama ku. Pelan tapi bisa ku dengar.
Aku mengusap wajah dan akhirnya semua terlihat normal kembali seperti semula. Tak ada lagi sosok menyeramkan tadi, tak juga ruangan asing yang ku lihat tadi. Semua berganti dalam sekejap, dalam satu kedipan mata saja. Aku mencari suara yang memanggil nama ku tadi. Tapi tak ada seorang pun di dekat ku, semua nampak sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing.
Aku mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkan nya perlahan. Ku raba tengkuk yang semakin terasa berat, bahkan sesekali meremang seakan ada yang meniup di bagian belakang sana.
****
Hari ini aku terbaring lemah, setelah bekerja semalaman. Niat untuk melayat Sari pun seperti nya harus ku urungkan. Badan ku terasa remuk, dan tengkuk ku makin berat. Kesadaran ku pun hilang timbul.
Ayah dan Ibu ku terdengar khawatir melihat ku yang kadang sadar dan kadang juga tubuhku ini di kuasai oleh sosok jahat.
" Keluar dari raga anak ku !! " teriak Ayah lantang saat tubuh ku di rasuki roh jahat.
" Budak ieu rek di bawa ku aing ( anak ini akan aku bawa) , " suara serak dan menyeramkan keluar dari mulut ku begitu saja.
" Astagfirullahaladzim, " pekik Ibu terus terisak melihat kondisi ku.
Salah seorang tetangga membawa satu paranormal ke rumah ku, ia berniat untuk membantu mengeluarkan roh jahat dalam tubuh ku.
Ragaku yang tengah di rasuki berada di rumah sedang jiwa ku sendiri berada dalam dimensi lain. Seseorang menyeretku dengan kasar, entah di mana tempat ku saat ini yang jelas begitu asing dan sepertinya bukan tempat untuk manusia.
Sebuah tempat gelap dan pengap. Aku di seret oleh satu makhluk mengerikan dengan ukuran tubuh tinggi besar namun tak sebesar buto ijo yang ku lihat dalam mimpi ku waktu itu.
Lantai licin dan lembab seakan mempermudah tubuh ku terseret, bau amis anyir tercium menusuk di hidung ku sampai ku sadari kalau di lantai ini bersimbah penuh darah. Hingga pakaian yang ku kenakan pun basah di penuhi darah.
Aku meronta berusaha melepaskan jerat tangan makhluk itu, ruas jari nya sebesar pisang ambon belum lagi bulu di tubuhnya seukuran korek api terlihat begitu tajam. Entah mau di bawa kemana diri ku oleh nya, saat ini aku hanya bisa berusaha lepas dari cengkraman nya. Kalau berhasil lepas, aku harus lari meski tak tau kemana arah jalan keluar dari sana.
Seketika seseorang muncul menghadang jalan kami. Seorang dengan wajah terlihat menyejuk kan, dengan ikat kepala melingkar bermotif batik, pakaian serba hitam yang ia kenakan. Ia nampak berani menantang sosok yang menyeretku saat ini.
Entah apa yang mereka bicarakan, seakan terjadi negosiasi antara mereka berdua. Namun perkataan dan bahasa mereka tak ku mengerti. Aku hanya diam, melihat ekspresi mereka masing-masing tanpa tau maksud ucapan nya.
Tak lama kemudian, seorang yang memakai baju hitam dan ikat kepala itu pun membaca doa entah mantra, aku hanya bisa melihat mulut nya komat-kamit tanpa tau apa yang ia lafadzkan. Saat itu juga aku teringat pada Allah, aku berdoa dengan sangat khusuk seraya memejamkan mata ku. Aku meminta agar Allah menolongku keluar dari tempat mengerikan ini.
Saat yang bersamaan di dunia nyata, aku pun mulai membuka mata perlahan. Pandangan ku mengedar ke seluruh ruangan. Ini kamarku, aku yakin saat ini aku sudah berada di tempat yang tepat. Aku baru sadar jika saat ini tengah berbaring dan di saksikan oleh kedua orang tua ku, satu tetangga ku dan satu lagi..rasa nya aku baru saja melihat sosok pria tua ini.
Ya. Dia yang ada di dalam dimensi itu, dia yang bernegosiasi dengan makhluk mengerikan tadi.
" Syukurlah, anak Ibu dan Bapak sudah siuman. " Ucap pria berbaju hitam dengan kain batik melingkar di kepala nya.
" Alhamdulillah, makasih Pak Halim. Saya tidak tau akan bagaimana jadi nya jika tak ada Pak Halim menolong putri kami, " ucap Ayah.
" Saya hanya sebagai perantara saja, semua berkat kuasa Allah. Sebaiknya saat ini juga anak Ibu dan Bapak berhenti bekerja di sana, sebelum kejadian buruk terulang lagi, " kata pria yang di panggil Halim. Pria berbaju hitam itu baru ku ketahui jika ia seorang paranormal.
" Iya Pak, kami pasti meminta Laras untuk berhenti bekerja disana, " ucap Ayah.
Beberapa saat Pak Halim dan satu tetangga ku pun pamit pulang. Aku yang dari tadi diam tak mengerti arah pembicaraan mereka segera bertanya. Aku penasaran sebenarnya apa yang sudah terjadi terhadap ku?
Ibu dan Ayah bilang jika aku ini menjadi incaran roh jahat yang berada di pabrik. Aku menjadi incara tumbal untuk mereka. Aku akan di jadikan korban berikutnya di pabrik tempat ku bekerja. Namun ada kesulitan saat mereka membawa ku, kata Pak Halim aku memiliki khodam leluhur yang menjaga ku dari niatan jahat mereka.
Sulit di percaya memang, namun kejadian ini nyata terjadi dalam hidup ku. Aku pun memutuskan untuk resign dari pabrik walau baru masuk beberapa hari lalu. Aku akan mencari pekerjaan di tempat lain nantinya.
Hari, bulan, tahun berganti. Alhamdulillah saat ini aku sudah bekerja di sebuah pusat perbelanjaan, kehidupan ku mulai membaik. Bersyukur Tuhan memberiku kesempatan untuk tetap hidup dan tak sampai menjadi korban tumbal di sebuah pabrik beberapa tahun lalu.
Hingga saat ini pun pabrik itu masih beroprasi, setiap bulan nya selalu saja ada nyawa yang melayang. Tak ada yang bisa menghentikan ulah mereka, apalagi jika menyangkut hal gaib yang sulit di buktikan. Misteri akan tetap menjadi misteri.
Dari pengalaman ini aku bisa mengambil hikmah. Sadar akan alam manusia yang berdampingan dengan alam lain nya, sebagai manusia kita di berikan pilihan antara jalan lurus sesuai yang Allah perintahkan untuk mencari rezeki yang halal. Atau jalan sesat seperti yang orang-orang itu lakukan meski harus memakan banyak korban. Yang pasti aku hanya yakin, jika jodoh, pati, bagja (bahagia) dan celaka itu hanya di tangan Allah.