aku mengenalnya sejak kecil, aku selalu bertemu dengannya ditanam bermain dan selalu bermain dengannya.. tetapi saat aku merayakan ulang tahun ku yang ke-7 anak itu tiba-tiba menghilang.. seakan ikut bersama dengan angin kencang malam itu.
kejadian yang terjadi 10 tahun yang lalu.. aku tidak pernah melupakannya, karena ia satu-satunya seseorang yang kuanggap sebagai sahabatku.
rambut serta alisnya yang pirang dan mata birunya, bagaimana aku bisa melupakannya semudah itu?
ia juga adalah orang pertama yang memberikan tangganya kearahku saat semuanya tidak ingin bermain dengan anak miskin sepertiku.
dan saat ini, saat semuanya berubah setelah pernikahan kedua dari ayahku.
Istri kedua ayah adalah wanita konglomerat asal negaranya, dan ayah adalah seorang pemilik perusahan rokok terbesar di negara ini. mengingat bahwa mereka berdua tidak memiliki anak selain dariku, membuat semua yang kuinginkan bahkan sekedar bergumam pun menjadi kenyataan.
banyak yang berubah..
hidupku..
orang-orang di sekitarku..
dan bahkan perasaan ku..
melihat semuanya seakan berusaha untuk mendekat dan mencuri perhatianku. membuat ku selalu berpikir bahwa semua orang itu sama busuknya.
mengabaikan ku saat berupa tunas, dan melihat serta merawatku saat kuncupku berbunga. aku benci mereka.
aku benci ayahku yang meninggalkan ibu yang menemaninya sejak awal usahanya dan lebih mimilih wanita muda dengan kerja sama dibaliknya.
semua hal itu membuat hatiku seakan mati.
dan saat aku merasa perasaanku mulai mati, aku kembali ke taman bermain itu.
ditempat yang sama aku bertemu dan kehilangan satu-satunya orang yang menerima keadaanku dahulu.
ayunan besi tua berdecit saat aku mulai mengayunkannya, hal itu membuatku berpikir sudah banyak tahun yang kulalui tanpa melihatnya sejak hari itu.
jika saja aku dapat --
"ngapain om-om sepertimu bermain ayunan yang lebih kecil dari pantatmu, huh?"
kuangkat kepalaku dan mencari suara menyebalkan itu berasal.
"memangnya apa masalahmu, huh? apa kau ingin ku--"
Mata biru nya menyala ditengah malam purnama ini, membuat kedua mataku membelalak tak percaya dan seketika berdiri dan berdiri tepat dihadapannya.
"woah.. ada apa ini? apa kau ingin mengajakku berkelahi? gini-gini aku sabuk hitam, tau!"
benar-benar tak dapat dipercaya. aku lalu meraih tamngannya dan merasakan kulitnya ditelapakku. berharap bahwa ini bukanlah mimpi atau imajinasi ku belaka.
"Kau!!" kuangkat kepalaku dan melihat kearahnya, "a-apa?!"
saat itu aku sadar, rambut serta alisnya berwana hitam.. sama seperti kebanyakan orang.
aku salah.
"ah, tidak jadi " kulepaskan tangannya dan kuambil tasku.
baru juga kulangkahkan kakiku, ia menggenggam pergelangan tanganku, "ada apa?! jangan buat aku penasaran begitu dong"
"sudah kubilang kan?" ku hempiskan tangannya, "tidak jadi. aku kira kau orang yang kukenal." dan berlalu.
"Tapi.. sepertinya aku mengenalmu."
"jangan ngaco, kita baru bertemu."
"kamu Azriel kan?"
seketika langkahku terhenti. bagaimana dia bisa tahu nama lamaku.
aku berhenti dan melihatnya dengan tatapan dingin, "darimana kau tahu nama itu." kedua tanganku mengepal kuat. amarah seakan tertumpu pada tinju ku.
Nama yang diberikan oleh ibuku yang saat ini berdiam di rumah sakit jiwa, diganti seenaknya oleh orang tua sialan yang menikah tanpa meminta persetujuan ibu. mengingat seseorang memanggilku dengan nama itu seketika menarik sesuatu yang buruk keluar dari hatiku yg sudah membusuk.
"kau Azirel?!" bukannya takut denganku seperti kebanyakan orang, ia malah sumringah melihatku.
"wuaah sudah lama sekali ya!" ia berlari kearahku dengan semangat lalu memelukku erat. "sudah lama sekali aku tidak melihatmu, Azriel!"
"hey,hey,hey! lepaskan!" tubuhnya yang lebih tinggi dan besar dariku membuatku sedikit sulit untuk melepaskan diri darinya. "jangan peluk orang seanaknya begini!"
"ohya, maaf" ia langsung melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah, lalu melihatku dengan senyumannya (lagi).
"siapa kau, jangan ngaku-ngaku begitu, dasar aneh." kurapihkan bajuku yg kusut karena pelukannya yang erat sebelumnya.
"oh, sepetinya kau lupa ya.." ia menjulurkan tangannya kearahku, "perkenalkan, aku adalah sahabatnya Azriel."
Orang ini, benar-benar senang sekali memancing emosiku.
ku tepis tangannya dan ku arahkan jari telunjukku di dadanya. "dengar ya, aneh. saat ini aku sedang kesal. jika kau tidak ingin jadi samsak tinjuku maka menjauhlah dan jangan cari gara-gara."
"cari gara-gara?" tanyanya sembari berpikir, "aku tidak sedang cari gara-gara, aku sedang memperkenalkan diriku padamu."
"Tcih!" orang ini benar-benar membuatku kesal.
tanpa berpikir panjang, kulayangkan tinjuku kewajahnya. saat itu aku berpikir dengan kepala penuh amarah, tanpa menyadari bahwa saat ini pundakku menyentuh tanah dengan kasar dan membuatku nafasku sesak.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa-- aduh maaf, maaf, maaf!!" ujarnya panik sembari berlari kesana kemari.
"kamu ini gimana sih, kan aku sudah bilang kalo aku ini sabuk hitam, aku jadi sepontan membantingmu kan" ia lalu menjulurkan tangannya kembali, "apa kau tidak apa-apa?"
kali ini berbeda. dengan nafasku yang setengah-setengah, kuraih tangannya dan dibantu olehnya berdiri. "eng.."
kejadian ini.. rasanya seperti pernah terjadi sebelumnya.
"kamu ini ya, semakin besar bukannya semakin pintar malah tambah bodoh." celetuknya kesal yang membuat kesadaran ku tiba-tiba kembali.
"siapa yang kau bilang bodoh, hah?!" baru saja ingin berdiri, kakiku kehilangan keseimbangannya.
dengan sigap, lelaki ini menahanku, "nah kan, apa kubilang."
"berhenti memperlakukanku seperti ini!" kudorong tubuhnya dan kutegakkan kedua kakiku yang masih gemetaran. "aku tidak mengenalmu, jadi berhentilah mempermainkanku, sialan!"
walau punggungku sakitnya bukan main, dan hampir kehilangan nafas setiap kali aku melangkahkan kakiku, dasar penyakit sialan!
"jangan buru-buru! nanti asmamu kambuh, loh!" teriaknya dari belakang.
langkahku seketika terhenti.
apa-apaan dengan orang aneh ini.. bagaimana dia bisa tahu, aku menengok kearahnya.
kulihat kembali wajahnya, seberapa keras aku berusaha untuk mengingat. aku tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya.
orang ini.. apa karena ingin mendapatkan koneksi dengan ayahku, ia sampai-sampai harus mengaku berteman denganku dan bahkan mengetahui tentang penyakitku? satu hal yang ada dipikiranku..
orang ini berbahaya.
***
sial.
taman itu adalah satu-satunya tempat aku bisa menjernihkan pikiranku, dan sekarang harus ada stalker gila yang menetap disana.
ia bahkan mengetahui penyakit yang hanya ayah dan ibu (kandungku) yang tahu.
orang itu benar-benar aneh, aku harus menjauh darinya.
"Hey Aksa!" tepuk seseorang dari belakang. "apa kau lupa dengan janjimu, pangeran?" seringanya benar-benar membuatku kesal.
sepontan kutepis tangannya dan berdiri dari bangku ku, "tidak usah kau jemput aku bisa jalan sendiri."
"si pangeran memang tidak ada duanya, hahaha!"
'pangeran' dipanggil dengan sebutan seperti adalah penghinaan bagi kumpulan Genk yang ada di sekolah ini. seperti namanya, 'pangeran' anak keturunan kaya yang manja dan lemah dengan kuda poni nya. dan mendengar mereka memanggilku seperti itu, membuat darahku mendidih.
"berhenti memanggilku seperti itu, atau akan kupatahkan gigimu." ancam ku sembari memelototinya kesal.
"wowowo, takut sekali.. ahahaha!!"
melihat temannya tertawa, tiga kacung dibelakangnya ikut tertawa.
tanpa takut ia terus mengejekku dengan berbagai sebutan, dengan suara nyaringnya seakan ia mencari perhatian seluruh kelas kearahku.
bedebah satu ini.
[BUAGHHH!!!]
"aghhh!!" lagi-lagi tanganku sepontan menonjok wajahnya, (dan) mematahkan giginya.
"gigiku!! aghhh!! gigiku!!" tangisnya melihat kedua gigi depannya patah tepat ditengah.
melihat darah yg begitu banyak, membuatku jijik. "ah, maaf. tanganku kelepasan."
"sialan kau!" orang-oranv yang berdiri dibelakangnya pun melangkah kedepan dan berdiri tepat di hadapanku.
"Habisi dia!!"
teriakannya menghamburkan seisi kelas keluar. setengah dari mereka terburu-buru ke ruang guru, dan sisanya keruang kepala sekolah. yah, walau ada beberapa yg menonton, setidaknya sedikit orang lebih baik.. aku tidak suka keramaian.
yah, mah bagaimana lagi.. jika ingin berurusa. dengan anak nakal, maka kau harus menggunakan kekerasan.
"jangan buru-buru," kuacungkan jariku dan memberi mereka kode untuk maju menggunakan jari tengahku, "maju saja satu-satu, biar sakitnya ga kerasa."
***
"Nak Aksatam Deva Renjana, ini sudah yang kepuluhan kali." tutur wali kelasku dengan helaan nafas panjangnya.
"tenang saja Bu Eri, ayah saya sudah membayar semua kerusakan dikelas." sahutku sembari menahan rasa sakit dari lebam dibalik seragam ku.
"bukan begitu maksud ibu, nak Aksa." ia menatapku lirih, "kamu sudah kelas 3 SMA, ini sudah waktunya untukmu berubah, nak."
padahal bukan aku yang memulai, tapi semua menyalahkanku hanya karena aku berdiri paling terakhir diantara orang-orang bertubuh lebih besar dariku sebelumnya.
karena tidak ingin berdebat dengannya, maka aku akan diam.
"prestasi akademik mu sangat bagus nak Aksa, tapi kenapa kamu sangat suka cari gara-gara dengan kelas lain?" ia mengerutkan keningnya, "apa kau ingin merasa jago disekolah dengan memukuli semua orang yang lebih kuat dan besar dari--"
[BRAK!!]
"maaf Bu, saya lupa kalau saya ada urusan setelah ini. maaf saya pamit undur diri."
tanpa mendengar semua perkataan setelahnya, aku berjalan keluar ruang guru dengan banyak cacian dan omongan dari semua guru yang ada didalam ruangan itu.
keluar dari tempat yang penuh intimidasi membuatku sedikit bisa bernafas.
"padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi malah menyalahkanku. menyebalkan sekali." aku bergumam ditengah berjalan menuju kelasku.
sesaat setelah aku masuk, semuanya menatapku ngeri seakan melihat monster masuk kedalam ruangan dengan banyak tetesan darah di setiap ujung jarinya.
lalu mulai hari itu, orang-orang yang selalu ingin mengalihkan perhatianku, perlahan menjauh.
tcih. dasar orang-orang tidak berguna menyebalkan.
keesokan harinya, sesaat setelah aku berjalan keluar dari gedung sekolah. hal yang kubenci menutupi pagar sekolah.
keramaian.
"apa-apaan.."
lalu diantara kerumunan para siswi yang pendek, seseorang yg tinggi dengan rambut hitamnya berdiri dan mengintip dari sela-sela keramaian. rambut itu!
"Ah! Azriel!!"
seketika semua mata tertuju padaku. tenang Riel, semuanya baik-baik saja, abaikan saja orang aneh itu dan berjalan keluar tanpa harus berpapasan dengannya.
"Hey Riel! apa kau mendengarku?" ia meraih tanganku tepat sesaat sebelum aku melewati mereka.
"apa yang anda maksud?" kulepaskan tangannya, "sepertinya Anda salah orang."
"heh?"
kupercepat langkah kakiku, namun kakinya yg panjang seakan membuat langkah cepatku sia-sia.
hingga akhirnya aku berhenti dan berbalik kearahnya.
"Berhenti mengikutiku!" bentakku, dan bukannya terkejut, ia malah menatapku dengan tatapan bodohnya.
"aku tidak mengikutimu, aku hanya ingin mendatangi suatu tempat." ungkapnya. "hah, alasan!" tandasku sembari menyimpangkan kedua tanganku didepan tangan.
"aku bersungguh-sungguh." jawabannya yakin, "aku ingin mendatangi tempat itu." tunjuknya.
kutolehkan kepalaku mengikuti jari telunjuk nya. betapa tidak percayanya kedua mataku melihat tempat yg ia maksud.
Taman bermain ini.
bagaimana bisa aku berakhir kemari? sudah jelas jarak taman ini dengan rumahku cukup jauh, dan kenapa aku..?
apa karena aku terlalu sering ketempat ini untuk menghilangkan stress ku? Namun selama aku bolak balik ketempat ini, aku tidak pernah melihatnya.
"untuk apa orang yang bertubuh besar sepertimu ingin pergi ketaman bermain? taman ini hanya untuk anak-anak" tanyaku curiga.
"bukannya kamu sendiri main ayunan disini."
" anggap saja kau tidak pernah melihatku hari itu, cepat katakan."
ia lalu menatapku selama beberapa saat, lalu menghela nafas, "Haah.. baiklah."
"tapi sebelum itu, aku capek. ceritanya sambil duduk disana yuk." tunjuknya kearah gazebo tua di pinggu taman. ada apa dengan orang ini??? kenapa ia berbicara dengan santai begini.
"taman bermain ini," ucapnya sambil memegang jungkat-jungkit yang baru saja dicat beberapa hari yang lalu, "adalah pemberian kedua orang tua ku padaku." senyumnya
"pemberian?"
"yah, untuk ulang tahunku yang ke-7 saat itu." ia lalu kembali menatapku, "dan karena sebuah tragedi, rasanya berat sekali untuk kembali ketempat ini."
tragedi katanya? apa yang ia maksud, apa kedua orang tua nya bercerai? atau lebih buruk lagi, meninggal?
Hah?! kenapa aku malah penasaran dengan orang asing.
Aku berjalan kearah ayunan tepat disebelah jungkat - jungkit. melihatnya murung malah membuat ku seakan terbebani, seakan ia termotivasi mengingat masa lalu kelamnya karena aku terlalu kepo.
melihatnya diam duduk digazebo dibelakangku, malah membuat sore ini tampak buruk. menyebalkan sekali, padahal aku pergi ketempat ini untuk menghilangkan rasa stress yang menekan kepalaku dari segala sisi.
"heh orang aneh." ia seketika menyahutiku walau aku menghinanya, "jika kau masih lama ingin duduk disitu, aku mau pulang."
"eh? pulang? kita kan baru sampai. jangan pergi dong." jawabnya, aku pun sepontan menoleh kebelakang dengan wajah kesal. aku tahu dia sedih dan lain sebagainya, tapi jika dia buang-buang waktuku begini. lebih baik aku pulang dan tidur.