[Horor] Anna Van De Groot
Yogyakarta yang indah, Yogyakarta yang ramah. Entah mengapa kota itu selalu membuatku ingin kembali dan terus kembali mengunjunginya. Yang jelas tidak ada hubungannya dengan monumen Jogja Kembali ya, hanya saja hatiku terasa tertinggal di kota itu.
Awal aku mengenal Jogja karena tugas kantor yang mengharuskan aku stay disana selama satu bulan penuh. Keramahan warga, makanan, dan suasananya, seketika membuatku jatuh hati. Dan jika ada waktu senggang aku tak segan untuk kembali berkunjung lagi dan lagi.
Seperti kali ini, ada rapat khusus dengan para pemegang saham di sebuah hotel. Jabatanku yang lumayan tinggi di perusahaan mengharuskan aku untuk hadir disana. Aku menginap di salah satu hotel di kawasan pinggiran kota.
Bangunan hotel itu sepertinya baru, dan cukup nyaman ditempati untuk beberapa malam. Aku memarkirkan mobil tak jauh dari pelataran hotel. Hari masih pagi saat aku tiba di hotel. Udara segar khas Jogja menyapaku dengan ramah.
"Pagi, ada yang bisa saya bantu?" Senyum ramah wanita cantik dengan rambut bergelung sempurna menyambutku.
"Hai mbak, kamar atas nama Anastasia?" Aku membalas senyuman ramahnya.
Wanita cantik itu mengangguk dan langsung mengecek daftar dalam layar.
"Anastasia, kamar 312, ini kuncinya mbak."
"Oke, makasih!"
Aku segera berlalu dengan menggenggam kunci kamar di tanganku. Bayangan keindahan Jogja yang bisa kulihat dari lantai tiga sangat aku nantikan. View saat malam hari dengan kerlipan lampu jalan sungguh pemandangan yang sangat indah untukku.
Aku menuju lift, rasanya ingin segera merebahkan diri sebelum rapat yang melelahkan sore nanti. Sayangnya ketika memasuki ruangan lift aku mencium sesuatu yang sangat kukenali.
Wewangian khas para lelembut, apalagi kalau bukan bunga dan bau aneh lain seperti daging terbakar, daging busuk dan lain sebagainya. Darahku seketika mengalir cepat membuat kepalaku sedikit berputar.
Yah, aku Anastasia wanita mapan dan mandiri berusia 35 tahun dan aku juga sensitif dengan hal-hal yang berbau dunia lain. Orang menganggapnya indigo tapi aku lebih suka menyebutnya dengan sensitif. Itu terasa lebih bersahabat di telinga ketimbang julukan indigo.
Aku memencet nomor lantai tujuanku, lantai 3. Suara pintu lift yang tertutup sedikit mengagetkanku. Rasa sesak terjebak dalam ruangan sempit dan pengap, meski hanya dalam hitungan detik saja tapi rasanya begitu menyiksa. Apalagi jika harus berbagi dengan sosok menyeramkan disebelahku.
Ups, yah sedari tadi aku menahan rasa mual yang teramat sangat. Berbagi udara dengan sosok wanita berambut panjang, berpakaian putih lusuh dengan wajah hancur sebagian. Sosok itu bahkan merintih kesakitan. Aku berpura-pura tidak mendengar dan melihatnya, memasang earphone dan memutar lagu kesukaanku.
Sedikit membantu menutupi bisikan halus yang kini berani menyapaku, tapi tidak pada indra penciumanku. Aku bahkan terbatuk beberapa kali menahan bau amis, anyir dan busuk tak terkira.
Ya Tuhan tolong aku!
Pintu lift terbuka tepat waktu dan aku segera menghambur keluar. Menghirup udara sebanyak banyaknya untuk menetralkan rasa. Aku berpura-pura tidak melihat sosok yang masih menatapku dari dalam elevator. Biarlah, lebih baik aku berpura-pura tidak melihatnya daripada dia mengejarku kemanapun.
Aku bergegas berjalan menyusuri koridor hotel yang sepi, hanya ada lampu tanam yang memberi cahaya di lorong. Mataku asik mencari nomor kamar hingga aku tak menyadari ada seseorang yang berjalan berlawanan arah denganku.
"Ooh, maaf!" kataku saat tubuh kami bertabrakan.
Aku tersentak kaget, "Di-dia?"
Tubuhku seketika lemas, kakiku tak bisa bergerak. Aku berbalik kebelakang memberanikan diri melihat seseorang yang aku tabrak tadi.
"Hi-hilang? Ke-kemana dia?"
Rasa takutku seketika memudar, aku sekali lagi mengedarkan pandangan mencari sosok yang aku yakini bukan manusia. Tapi tak ada siapapun disana. Bulu kudukku merinding hawa dingin nan aneh menyergapku.
Dengan buru-buru kumasukkan kunci yang kupegang dan memutarnya segera. Aku hanya ingin berlindung di balik pintu kamar meski itu juga akan sia-sia. Makhluk halus tetap akan bisa menembus dinding pembatas apapun yang menghalanginya. Tak terkecuali dinding tipis hotel ini.
Aku tak peduli yang penting aku bisa merebahkan tubuhku dan sedikit bersembunyi dikamar. Semua lampu aku nyalakan hingga kamar pun terang benderang. Televisi dan juga pendingin ruangan segera kunyalakan. Suara berisik dari salah satu channel televisi lumayan bisa menghiburku dari ketakutan tadi.
Aku melepas semua kepenatan dengan merebahkan diri di ranjang empuk. Melepas heels yang menyiksa dan juga melepas kehororan hotel yang menyapaku ramah sepagi ini. Menikmati siaran televisi membuatku mengantuk, hingga tanpa sadar aku pun terlelap.
Suara ketukan di pintu beberapa kali terdengar di pintu kamarku. Aku tersadar dan bangun dengan segera. Terbangun dalam kondisi kaget membuat jantungku terasa berdetak lebih kencang, aliran darahku seketika melonjak membuat pusing kepala. Aku menggerutu, siapa yang mengetuk pintu kamar tadi.
Ponselku berdering mengagetkan, sebuah pesan dari nama yang sangat aku kenal.
[An, rapat dimajukan kita harus ke ruang pertemuan jam 1 siang]
Begitu bunyi pesan yang aku terima, Desi mengirimkan pesan itu lima belas menit lalu. Aku melirik jam di dinding ini sudah jam dua belas artinya kurang dari satu jam aku harus bersiap.
Dengan tergesa-gesa aku masuk ke kamar mandi membersihkan diri, berdandan lalu bergegas untuk menuju ruang pertemuan. Tas kerja berisi laptop dan beberapa berkas sudah kusiapkan, aku setengah berlari menuju lift tapi kemudian aku mengurungkan niatku. Pertemuan dengan sosok tadi membuatku malas masuk lagi dalam lift.
Aku melepas heels dan berlari menuju pintu darurat, lumayan untuk berolahraga ringan. Begitu pikir ku saat harus menuruni beberapa tingkat anak tangga. Aku tak peduli yang penting tidak ada gangguan.
Ponselku berdering menimbulkan suara menggema di tangga darurat.
"Ya, ya aku datang! Sebentar lagi sampai!" sahutku begitu saja saat menjawab telepon tanpa melihat siapa pemanggilnya.
Aku bergegas menuju ruang pertemuan di lantai satu, kulirik jam di tanganku sudah menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit.
Sial aku terlambat!
Dengan terburu-buru aku memakai kembali heels, merapikan pakaian, menyisir ringan rambutku yang tergerai dan membuka knop pintu. Aku benar-benar terlambat.
Suara derit pintu yang bergesekan dengan lantai terasa sedikit aneh. Aku hanya bergumam kecil saat menggerutu pada pintu. Dan ketika aku masuk, aku dikejutkan lagi dengan suasana ruang pertemuan.
Sepi, sunyi, tidak ada siapapun disana. Bahkan ruangan juga belum tampak siap untuk dipakai meeting. Cahaya lampu temaram mengisi ruangan berkapasitas 100 orang itu.
"Apa ini lelucon? Seseorang sedang mengerjaiku, ini sangat … sangat menggelikan!" sungutku sambil berkacak pinggang.
"Desi?! Ini sangat tidak lucu! Keluarlah, kamu sukses membuatku kacau!" Teriakanku langsung menggema memenuhi isi ruangan.
Tidak ada jawaban dari dalam ruangan, aku hanya mendengar suara ketukan seperti langkah kaki bersepatu yang semakin lama semakin dekat. Hawa aneh kembali menyapaku.
Oh tidak, jangan bilang dia datang lagi!
Suara ketukan sol sepatu itu berhenti, lampu tiba-tiba padam. Aku semakin tidak nyaman dengan keadaan ini. Aku pun berbalik hendak keluar ruangan ketika pintu ruang pertemuan mendadak terbanting dan menutup rapat.
Aku terpekik ketakutan. Hawa tak mengenakkan itu kembali datang. Suhu ruangan menurun drastis, aku kedinginan. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, kakiku gemetar. Tak ada seorangpun disini selain aku, bahkan aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri dengan jelas.
Lampu kembali menyala, aku lega. Tapi hanya sesaat. Suara serak dan parau menyapaku,
"Selamat datang Anastasia, selamat datang di rumahku!"
Kepalaku terasa berat untuk bergerak, tapi rasa penasaran membuatku ingin menoleh ke arah suara itu.
"Si-siapa kau?" Suaraku bergetar.
Wanita bule nan cantik dengan gaun ala Victorian yang bulat mengembang berdiri di tengah ruangan. Ia tersenyum padaku.
"Aku, Anna Van De Groot!" ucapnya lantang.
"An-Anna?"
Anna tidak menjawab, ia hanya menyeringai. Ia meletakkan kedua tangannya di depan perut seolah hendak bersiap menyanyikan lagu seriosa. Ajaib, suara denting piano tiba-tiba saja muncul berbunyi dalam nada indah. Anna mulai bernyanyi.
Ia menyanyi dengan merdu, aku tak tahu apa yang dinyanyikannya yang jelas lagu itu adalah salah satu lagu dari negeri kincir angin. Hingga tiba di saat refrain kedua, suara Anna mulai terdengar aneh. Serak dan kacau seperti tersedak sesuatu.
Darah mulai mengalir dari lehernya membanjiri gaun Salem cantik miliknya aku menjerit menutup mulut. Wajah Anna seketika berubah mengerikan. Mata yang melotot dengan lidah terjulur dan mulut penuh darah.
Dan yang lebih mengerikan tiba-tiba saja kepala Anna terjatuh ke samping tapi tidak sampai putus. Menampakkan tulang penghubung kepala dan tulang belakang. Suara derak tulang yang putus terasa menyakiti telingaku. Aku kembali menjerit tapi tak ada satupun suara yang lolos dari mulutku. Pita suaraku seperti menghilang begitu saja.
Dengan ngeri aku berjalan mundur selangkah demi selangkah hingga punggung terbentur pintu kayu. Anna terus bernyanyi dalam kondisi mengerikan seperti itu. Tak peduli suaranya tak lagi kayak terdengar. Ia mendekatiku perlahan, aku semakin gemetar dan terjebak dalam ketakutan luar biasa.
Seseorang tolong aku!
Anna terus mendekat dan mendekat, hingga hanya menyisakan beberapa meter saja dari ku. Bau amis darah menyeruak dari tubuhnya. Darah segar tampak masih mengucur dari lehernya yang hampir terputus.
"Temani aku Anastasia, dengarkan nyanyian ku!"
Aku menggeleng keras, "Tidak, pergi! Aku tidak mau mendengarnya! Jangan ganggu Aku!"
Anna sama sekali tidak peduli ia semakin mendekatiku. Aku mendelik tak percaya dan berusaha menggedor-gedor pintu berharap seseorang diluar sana mau menolongku. Anna semakin mendekat dan terus mendekat.
"Tolong, tolong aku! Buka pintunya!" Jeritku dengan derai air mata, tak ada siapapun disana aku terjebak.
Anna menjebakku dalam ilusinya. Anna menipuku dengan mengirimkan teks pesan palsu bertuliskan nama Desi. Anna mengatur pertemuan mistis kami, ia ingin ditemani, ia ingin didengarkan.
Aku tak kuasa lagi menahan beban tubuhku, aku lelah dan aku kehilangan kesadaranku. Aku pasrah, apa yang terjadi padaku terjadilah. Sayup sayup ku dengar suara denting piano yang mengalun mengiringi sebuah lagu lawas.
Jongen Lief," vraagt ze, "hoe gaat het
Met je kleine, bruine vrouw"
"Best hoor," zegt hij, en wij spreken
Elke dag hier over jou