"Miskin ya! Sampai rela beli rumah hantu. Ck." Sindir Indri dengan wajahnya yang angkuh. Gerombolan di belakangnya tertawa terbahak-bahak seraya menghina Dian habis-habisan.
Seperti itulah harinya setelah keluarga Dian pindah kota dan membeli rumah paling murah di sana. Orangtuanya bersyukur telah mampu membeli rumah dengan hasil jerih payah sang ayah. Dian bersama adiknya Rara harus pindah sekolah dan berusaha beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Bukannya bahagia karena rumah baru, malah kehidupan Dian berubah drastis tidak seperti dulu. Sebulan lalu Ayah meninggal karena kecelakaan, tepat setelah kami pindah ke rumah ini. Kepergian Ayah membuat Ibu selalu murung dan menyendiri di kamarnya, kini tidak ada lagi canda tawa di wajahnya dan kami sudah berusaha menyalakan cahaya yang redup di keluarga kami.
Mitos lama masih banyak dipercaya oleh warga di sini. Katanya kalau sudah beli rumah pasti ada cobaan yang datang. Dan benar, cobaan kami adalah kehilangan seorang ayah sosok paling ceria dan yang menghidupkan cahaya di keluarga.
Tak hanya itu, keluarga kami juga menjadi bahan gunjingan para warga. Mereka berkata rumah kami salah satu rumah paling angker di kota ini.
Dian yang mendengar gosip itu hanya bisa menghiraukannya dan berharap gosip itu hilang seiring waktu.
Sudah hampir satu bulan lebih keluarga Dian tinggal di rumah itu, walaupun terlihat rumah mewah bak istana namun kesan horornya masih ada. Hari ini setelah pulang dari kampus, Dian menyempatkan diri ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Setelah membayar, ia lalu bergegas keluar dan pulang ke rumah.
Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba langkahnya terhenti seolah seseorang sedang memeluk tubuhnya dari belakang. Jalanan yang dilewatinya sepi dan langit di atas mulai gelap dengan awan mendung. Dian menengadah ke atas dan angin pun terasa menghembus kencang dari arah belakang.
"Apa yang???"
Dari arah depan jalanan sana terlihat Mobil pengangkut sampah sedang melaju kencang hilang kendali. Dari kaca depan sang sopir terlihat sedang berusaha menghentikan mobilnya namun naas mobil itu menabrak keras mobil di hadapannya. Dan kejadian itu dilihat jelas oleh Dian, matanya melebar sampai mengeluarkan air mata. Jantungnya berdetak kencang sedangkan dirinya masih berdiri kaku menatap dua mobil yang sudah bersimbah darah.
Dian mulai sadar kembali segera ia mengeluarkan HP nya di saku dan mulai menekan nomor 112 dengan tangannya yang gemetar tak karuan.
"Tolong, ada kecelakaan disini kumohon datang secepatnya."
Setelah itu, bantuan datang dengan cepat dan segera para korban di tangani oleh para medis sedangkan Dian di bawa ke kantor untuk memberikan konfirmasinya.
"Terimakasih atas kerjasamanya nona." Ujar Polisi di depan Dian seraya mengangkat tangannya.
Dian mengangguk lemah dan berusaha menerima jabat tangan pak polisi itu, ia lalu di antar keluar kantor.
Sesampainya Di luar.
"Kali ini kami akan membantumu pulang ke rumah, temanku akan mengantarmu." Kata Polisi seraya mempersilahkan Dian untuk masuk ke dalam mobil.
Dian hanya menurut dan masuk ke dalam, namun telinganya mendengar bisikan bisikan tak enak di dengar dari para warga yang berada di luar kantor.
"Katanya yang ditabrak itu mahasiswi, diantara 'mereka' ada yang langsung meninggal." usut salah satu dari mereka, awal pergunjingan.
"Ya Tuhan, sayang sekali mereka semoga amalnya di terima disisinya."
"Tau gak ibu-ibu!" Ucap ibu bebek.
"Apa Bu? Apa?" Semangat yang lain pun berkobar.
"Si saksi ternyata Si Dian."
"Hahhhh."
"Bener kata orang, keluarga itu pembawa sial." Ujar salah satu yang lain.
Setelah itu, mobil mulai berangkat menuju rumah Dian. Walau dengan hati yang tersayat, Dian berusaha untuk tidak menangis dan bertahan untuk ibu serta adiknya.
Polisi yang mengemudi di depannya sekilas melihat Dian mengusap air matanya. Ia lalu berniat memberikan sebuah coklat untuk Dian, namun tiba-tiba saja coklat itu meleleh dari dalam.
"Hah kenapa bisa meleleh yah, padahal baru beli kemarin." Gumam Polisi yang didengar oleh Dian.
"Ada apa Pak?" Tanya Dian.
"Ah ini saya punya coklat, niatnya mau di kasih buat nona tapi kok malah meleleh ya padahal saya baru kemarin." Jelasnya.
"Mungkin mesin mobilnya yang panas pak."
"Iya mungkin. Maaf ya non saya jadi gak kasih coklatnya." Ucap Polisi dengan sungkan.
"Gapapa pak."
Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah Dian, Polisi yang melihatnya dari dalam mobil hanya bisa bergidik seraya mengusap tubuhnya.
"Terimakasih tumpangannya pak."
"Itu memang sudah tugas saya nona." kata polisi itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, artinya malam hampir tiba. Dian lalu masuk ke dalam rumah, tanpa disadarinya sosok hitam di jendela kamar atas menatapnya sedari tadi.
"Aku pulang." Seru Dian sambil membuka pintu dan....
Brakk
Kepalanya di hantam sebuah papan dan membuatnya terhuyung kelantai. Teriakan Rara di atas tangga terdengar sangat kencang di telinga Dian. Ibu, dialah yang memukul Dian dengan papannya. Sorot matanya marah ke arah Rara dan Dian sadar akan hal itu. Ia menghentikan sang ibu yang bersiap memukul Rara dengan papannya.
"Argghhhh." Teriak Ibu sambil menghempaskan tubuh Dian yang masih pusing akibat pukulan tadi.
"Ibu sadar ibu kami anak ibu." Lirih Dian seraya memegang kaki ibu.
Ibu mulai tersadar dan ia mundur ke belakang serta meminta maaf terus menerus.
"Ibu minta maaf."
"Ibu minta maaf."
Berulang-ulang ibu katakan minta maaf seperti itu. Hal itu malah membuat Rara menangis dan Dian berdoa ibunya masih sadar.
"Ibu." Panggil Dian.
Setelah panggilan Dian itu, ibu pergi masuk ke kamarnya dan mengunci diri. Sedangkan Rara menangis melihat ibunya bertingkah seperti itu.
Kini Dian berusaha bangkit dan menghampiri Rara.
"Sudah Ra, semuanya baik-baik aja kok." Ucap Dian menenangkan Rara sambil memeluk satu sama lain.
Pukul 20.00
"Kak Dian." Seru Rara dari pintu kamar Dian.
"Iya Ra ada apa? sini-sini cerita sama kakak." Ajak Dian sambil menepuk-nepuk bantal di sampingnya. Rara lalu menutup pintu dan duduk di samping Dian.
"Rara mau tidur sama kakak." Ucapnya.
"Iya boleh Ra. Ayo bobo di sini sama kakak." sambil memakai selimut mereka berdua lalu tidur terlelap di sepanjang tengah malam.
Di samping itu di luar rumah, angin malam berhembus kencang mampu meruntuhkan dedaunan tua di sana. Sebuah jam besar di gudang tua berbunyi menandakan bahwa jam 12.00 telah tiba. Di saat itu pula teriakan histeris dari kamar ibu terdengar sampai kamar Dian yang berada di lantai kedua.
"Aaaaaaaaaa........"
Jeritan itu mampu membangunkan orang-orang di rumah sebelah, namun mereka tutup telinga dan tak mau membantu seakan mereka menutup gendang telinga mereka.
Sedangkan Dian dan Rara bergegas keluar kamar untuk melihat keadaan ibu. Namun sesampainya di tangga, Dian dan Rara melihat ibu sedang memegang cambuk di tangannya. Hal itu membuat Dian menghentikan langkah Rara dan melindungi Rara dibalik punggungnya.
Ibu kerasukan!!
Setengah wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya, sedangkan kakinya bersiap berlari ke arah Dian.
"Ibu, sadar ibu." Lirih Dian berusaha menyadarkan kembali sang ibu yang sudah hilang kendali.
"DIAM KAMU, URUSAN SAYA CUMA ADA SAMA ANAK KECIL ITU!! PERGI KAMU!!"
Dian tak percaya, arti ucapan ibunya mengarah pada Rara itu artinya Rara akan....
"TIDAK!!!" Bantah Dian dengan lantang.
"KAMU IBLIS KAMU BUKAN IBU KAMI."
Rara kembali menangis dengan tangannya yang berusaha kuat memegang baju belakang Dian.
"Hahaha Hihihi...."
"Rara masuk ke kamar kunci pintunya dan jangan keluar." Bisik Dian.
Awalnya Rara ragu namun setelah Dian menunjukkan jari kelingkingnya Rara pun mengangguk dan berlari masuk ke dalam kamar.
Ibu menatap Rara yang berlari masuk ke kamar, pandangannya lalu ke arah Dian.
"Tuhan akan selalu melindungi kami, pergilah ke neraka dasar iblis." Geram Dian yang sudah mengepalkan kedua tangannya.
"Hahaha hanya seorang pengantin Iblis! Tau apa kau tentang Tuhan Hah!!!"
Satu langkah mulai di pijak oleh ibu seraya tetap berbicara pada Dian.
"Tepat pada bulan purnama besok, kamu akan menikah dengan Iblis." Jelasnya.
Dian mulai goyah, ia masih harus tetap sadar dengan situasinya sekarang.
"Pembohong! Iblis pengkhianat! Kamu hanyalah musuh kami pergilah sekarang juga."
"Nanana bernyanyi lah maka aku akan berpesta." Iblis itu membuat Dian semakin mengepalkan tangannya.
Langkah ibu mulai pada tangga pertama dengan cambuknya yang di seret di lantai. Iblis itu bernyanyi dengan suara sendu dan berirama keramat.
Sedangkan Dian mulai membaca doa-doa dan fokus pada bacaannya. Doa itu hampir melemahkan si Iblis namun ia tak pantang arang. Ia terus menaiki anak tangga satu persatu dan tetap bertahan untuk bernyanyi nyanyian seram.
Di dua anak tangga terakhir, Dian masih bisa bertahan. Namun sebuah teriakan kencang dari telinganya terdengar. Teriakan itu, Rara!!!
Dan....
Plak
Sekian perdetik saat Dian membuka mata, ibu sudah berada di depannya dengan cambuknya. Satu pukulan mengenai tubuh Dian, hal itu membuat Dian tak siap dan jatuh ke lantai.
Plak
Plak
Plak
"Aaaaahhhhhh." Teriakan kesakitan itu terdengar sampai kamar Dian, Rara berusaha menutup mulutnya sedangkan air matanya keluar tak henti-hentinya membasahi wajahnya.
Ibu menjambak kuat kepala Dian dan dengan keras mengangkat tubuh Dian hingga ke atas.
"Pikir lah wahai manusia! kamu hanya pengantin Iblis! Selama ini dia selalu berada di dekatmu!!"
"PEMBOHONG!!!"
Brakk
Dengan kekuatan iblis, tubuh Dian di lempar ke tembok seolah dirinya hanya sebuah karung kosong.
"LEMAH!!!"
Sayup-sayup sebelum Dian pingsan, matanya melihat dua kaki di belakang ibu sebelum akhirnya ia juga mendengar teriakan kesakitan dari ibu.
Tidak!! Aku tidak boleh pingsan!! Rara!!
Bruk
Tubuh ibu seketika jatuh ke lantai dengan matanya yang tertutup. Sedangkan kaki yang dilihatnya tadi hilang seketika.
Dengan sekuat tenaga yang ada, Dian menyeret tubuhnya perlahan-lahan ke pintu kamarnya.
Tok Tok Tok
"Ra, ini kakak Ra!" Seru Dian dengan lemah.
"Rara masih gak percaya kalau itu kak Dian." Teriak Rara dari dalam, terdengar suaranya yang ketakutan.
"Ini Kak Dian Ra, kalau Rara percaya Kakak bakal cerita masa kecil kakak."
"Nama kakak Dian Putri Melati, umur Dian 19 tahun, kakak gak pacar kakak cuma punya Rara. Kak Dian sayang sama Rara." Seketika Rara menangis dan membuka pintunya.
Ia yang melihat Dian menyenderkan tubuhnya yang lemah ke tembok langsung memeluk erat sang kakak.
Keesokan harinya, tepatnya di pagi hari pukul 7 Dian dan Rara masih berpelukan satu sama lain. Mereka tertidur lelap di depan pintu kamar. Beberapa menit kemudian Dian membuka mata dan setelah itu ia lalu membangunkan Rara karena sepertinya Rara telat masuk ke sekolah. Sedangkan ia sendiri, ia masuk jam 10 pagi di kampus.
••••
Keduanya kini berniat untuk Alpha satu kali, melihat tubuh ibu yang tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Dian lalu memberanikan diri mengangkat tubuh ibu di bantu Rara. Tepatnya di kamar Rara, ibu ditidurkan di ranjang sana. Sedangkan Dian dan Rara mulai memasak untuk sarapan.
"Ra, ikut kakak ya." Kata Dian.
"Kemana kak?"
"Ikut aja dulu, nanti kamu juga tahu."
"Oke kak."
Setelah bersiap-siap mereka lalu keluar dan tak lupa mengunci pintu. Terkejutnya mereka berdua melihat para tetangga yang berdiri di depan pagar rumah mereka. Beberapa diantaranya bubar setelah Dian menyadari kehadiran mereka.
Salah satu tetangga Dian menghampiri Dian.
"Kamu Dian kan?" Tanya ibu itu.
"Iya Bu saya Dian."
"Kenalin, saya Romah keluarga saya baru aja kembali ke rumah tadi malam." Sejenak Romah menghentikan ucapannya, pandangannya lalu menelusuri rumah Dian.
"Ada apa ya Bu?" Tanya Dian menghentikan aktivitas Romah yang menurutnya mengganggu.
"Kemarin malam saya dengar teriakan dari rumah ini, tapi suami saya gak berani cek. Makanya saya langsung nanya ke Dian."
"Ibu kami lagi sakit, mohon jangan menyebarkan hal aneh di sini. Kami permisi." Ujar Dian berlalu dengan membawa Rara di belakangnya.
"Bukan itu maksud saya Dian."
Dian berhenti dan langsung berkata "Saya mengerti Bu, tapi saya dan adik saya sedang buru-buru."
"Ah begitu."
Dian dan Rara pun pergi dari sana meninggalkan para ibu-ibu yang masih penasaran dengan kehidupannya.
Setengah hari Kemudian
Setelah berkeliling melihat kos-kosan, satu kamar pun tidak ada yang menerimanya dengan alasan ia harus pergi dulu dari rumah yang mereka tempati sekarang.
"Maaf ya Ra, karena kakak kita gak bisa pindah rumah."
Rara mengangguk lemah walau terlihat di wajahnya ia tidak rela kembali ke rumah. Trauma, Rara alami dirinya trauma.
Sekembalinya Dian dan Rara, Romah ternyata menjenguk dan bertamu ke rumah sore harinya tepat pukul 4 sore.
"Sejak pindah ke rumah ini, satu kali pun tidak ada orang yang bertamu." Ujar Dian.
"Kalau begitu suatu kehormatan saya bisa jadi yang pertama bertamu." Sambil tertawa riang, Romah mampu membuat Dian dan Rara kembali tersenyum setelah sekian lamanya.
"Oh iya ini ada bingkisan kecil-kecilan untuk kalian. Sudah adat kami untuk memberikan oleh-oleh kalau pulang setelah merantau." Jelas Romah.
"Ah iya terimakasih Bu."
"Sama-sama."
"Kalau begitu saya pulang dulu yah, anak saya takut nyariin saya dia anaknya rewel."
Dian terkekeh lalu ia mengantarkan Romah ke luar rumah.
"Sekali lagi terimakasih atas kunjungannya."
"Haih tidak apa-apa, saya pergi dulu ya. Dah."
Kepulangan Romah membuat Dian dan Rara merasa kehilangan, bagaimana pun juga baru kali ini seseorang baik padanya.
Malam pun tiba
Dian dan Rara kembali tidur bersama, namun keduanya kini malah terjaga sampai Jam 10 malam. Keduanya masih takut akan kejadian terulang seperti kemarin dan untuk mengatasi kekhawatiran Rara, Dian memberikan Vidio lucu dari YouTube hingga membuat Rara akhirnya tertidur pulas.
Begitupun dengannya, Dian terlelap dengan Rara yang memeluk erat tubuhnya.
Namun secepat kilat, Ia bermimpi berada di sebuah altar dengan para tamu undangan menatapnya dengan sumringah. Wajah mereka terlihat tampan dan cantik, beberapa orang mengenakan jas lengkap layaknya para bangsawan.
Sedangkan dirinya memakai baju pengantin dengan warna putih yang indah. Model bajunya mampu memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi.
Di depannya ada seorang pemuda, tampan dan gagah menatap penuh cinta dan sayang. Di sampingnya ada ayah, ia sadar ini sebuah pernikahan.
Musik mulai berjalan, begitupun dengan langkahnya yang bergerak dengan sendirinya. Ia tidak peduli, asal bisa melihat ayahnya ia sudah sangat bahagia.
Janji suci pun mulai diucapkan dan dengan lantang Dian mengucapkan 'Ya' hingga akhirnya semua orang bersorak ria penuh kegembiraan. Pesta minuman keras mulai di adakan, di antara para tamu-tamu di sana ada Rara dan juga ibu namun tatapan ibu kosong seolah tak ada jiwa di dalam tubuhnya.
Sementara itu, di rumah.
1 Tahun kemudian
"Kasihan sekali ya mereka, ayahnya meninggal, anaknya hilang, dan ibunya malah menjadi gila." Beberapa orang yang lewat rumah iblis itu hanya bisa mengasihani keluarga Dian yang pernah tinggal di sana.
Sementara rumah itu, sudah tumbuh akar keramat yang menjalar di setiap dinding rumah itu. dari akar-akar itu tumbuh dedaunan hijau yang menandakan bahwa pernikahan sang iblis telah sempurna.
Sedangkan Sang Ibu berada di rumah sakit jiwa setelah para tetangga terus-menerus mendengar teriakan setiap harinya dan membawanya ke RSJ. Hal yang terjadi sebenarnya adalah ibu Dian berusaha menolak untuk tidak masuk ke lingkaran Iblis, selama ini ia berusaha kuat agar mentalnya tidak di rusak begitu saja. Namun nihil, hari demi hari hidupnya terus di teror tanpa jeda akibatnya ia malah menjadi orang gila.
Sekian dari cerita ini
TAMAT