Apa kalian pernah merasakan duka?
Jika pernah, kalian pasti tahu betapa sakitnya ditinggal orang yang kita sayang untuk selama-lamanya.
***
Ini cerita tentang seorang lelaki dari Kalimantan Selatan yang bernama Burhan. Dia merantau ke kota Banjarmasin dan meninggalkan kampung halaman.
Hari itu Burhan tampak bekerja seperti biasanya sebagai kuli bangunan. Sudah bertahun-tahun dia tidak pulang ke kampung halaman. Sebab Burhan merasa sangat malu dengan keadaan dirinya yang masih begitu-begitu saja.
Sebenarnya Burhan ingin sekali pulang ke kampung. Mengingat ayahnya tinggal sendirian di rumah. Namun Burhan mengurungkan niat karena tidak ingin melihat sang ayah malu karena dirinya.
Suatu hari Burhan dikejutkan dengan berita kematian ayahnya. Hatinya langsung terasa sesak. Air mata penyesalan tak berhenti menetes di pipi.
Dalam perjalanan, pikiran Burhan di penuhi dengan kekalutan. Sekarang dia sudah menjadi anak yatim piatu.
Saat sampai di depan rumahnya, Burhan langsung berlari memeluk jenazah ayahnya. Dia menangis sejadi-jadinya. Raungan tangisnya membuat semua orang merasa iba.
"Sudahlah Han, jangan terlalu ditangisi, kasihan abahmu di sana, nanti arwahnya tidak tenang," ucap Pak RT berusaha menenangkan. Tetapi usaha Pak RT tampaknya tidak bisa membendung tangisan Burhan. Lelaki itu masih menangis memeluk erat jenazah sang ayah.
Saat sudah dikebumikan, barulah tangisan Burhan mulai mereda. Dia menengadahkan tangan untuk ikut mendo'akan ayahnya. Ketika semua orang sudah meninggalkan kuburan, Burhan hanya berdiam diri. Menatap kuburan sang ayah. Dia bersimpuh dan kembali meratap.
"Ayolah Burhan, kau tidak bisa di sini terus. Kau baru datang. Sebaiknya beristirahat dulu," ujar Ustad Lana sembari memegang pundak Burhan dengan lembut.
"Pergi kalian! Aku masih ingin di sini!" Burhan menghempaskan tangan Ustad Lana dengan kasar.
Beberapa orang yang masih di sana menatap Burhan dengan sinis dan saling berbisik. Membuat semua orang tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukan Burhan. Mereka pun pergi satu per satu.
"Abah... Maafkan Burhan, Bah... Hiks... hiks..." rengek Burhan seraya memeluk batu nisan ayahnya.
"Burhan tidak sempat membahagiakan abah... Burhan tidak sempat berpisah dengan abah... Burhan tidak sempat mencium tangan abah..." ucap Burhan yang terus meratapi kepergian sang ayah. Air matanya kembali mengalir deras di pipinya.
***
Hari sudah mulai gelap, kabut perlahan menyelimuti malam. Burhan masih di samping kuburan ayahnya sambil memeluk batu nisan. Dia tampak memejamkan mata karena tubuhnya terasa begitu lelah. Tidak terasa Burhan pun tertidur di samping kuburan.
"Nyam nyam nyam..." Suara yang terdengar seperti orang memakan sesuatu itu, membangunkan Burhan dari tidur. Dia dibuat kaget melihat kuburan ayahnya yang terlihat berantakan. Batu nisannya bahkan jatuh ke tanah. Kuburan pun tampak terlihat sudah digali seseorang.
Burhan menatap ke dalam lubang kuburan ayahnya. Ia langsung membelalakkan mata. Terutama ketika melihat makhluk aneh sudah mengoyak kain kafan yang menutupi jenazah.
Makhluk itu tampak melahap daging mayat ayahnya Burhan seperti melahap paha ayam. Tubuh makhluk tersebut hitam, bulunya menutupi seluruh tubuh. Dia memiliki kuku yang sangat runcing. Cukup mampu untuk lebih sekedar mengoyak kain kafan. Mulutnya sangat lebar hampir menyentuh telinga, serta dengan air liur yang terus menetes membasahi kain kafan ayahnya Burhan.
"Kampret!" bukannya takut Burhan malah bersumpah serapah pada makhluk itu. Makhluk tersebut langsung menatap Burhan dengan mata putih dan tersenyum sangat lebar. Dia menampakkan giginya yang tersusun rapi dipenuhi dengan darah.
"Oh sudah bangun ya, Nak!" makhluk itu bersuara dengan suara seraknya.
"Siapa kau! Apa yang kau lakukan dengan jenazah abahku?! berani-beraninya kau menyentuhnya!!!" Burhan berdiri dengan amarah yang meluap-luap. Ia idak merasa takut sama sekali.
"Hahaha..." makhluk itu tertawa dengan keras. Suaranya sedikit membuat risih Burhan.
Makhluk tersebut perlahan berjalan mendekati Burhan. Membuat Burhan mulai merasa ketakutan melihat tinggi dan besarnya makhluk itu.
"Aku Bumburaya..." ungkap makhluk tersebut.
"A-a-apa?" mulut Burhan mulai bergetar ketika makhluk itu semakin berjalan mendekat.
Bersamaan dengan itu, ada yang menarik perhatian Burhan. Yaitu sebuah tas rotan yang tergeletak di tanah. Tanpa menghiraukan Bumburaya yang semakin mendekat, Burhan malah mengambil tas yang terbuat dari rotan tersebut.
Bumburaya tampak terkejut. Dia terlihat marah. Membuat wajahnya semakin mengerikan. Burhan justru memeluk erat tas rotan yang diambilnya tadi.
"Serahkan tas itu kepadaku anak muda! Kalau tidak, aku tidak akan segan-segan membunuhmu!!" bentak Bumburaya.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan memecahkan botol ini!" sahut Burhan sambil mengambil botol yang ada di dalam tas rotan, dan mengarahkannya ke batu.
Nafas Bumburaya yang naik turun terdengar sangat nyaring. Dia mengangkat kedua tangannya yang berkuku runcing itu ke arah Burhan.
"Aku akan memecahkannya!" ucap Burhan lagi. Semakin mendekatkan botol yang berisi sejenis minyak itu ke batu.
"Baiklah kalau begitu, apa maumu?!!" geram Bumburaya.
Burhan tertegun mendengar makhluk itu mengalah. Apakah botol tersebut sepenting itu untuknya? Sampai dia mau mengurungkan niat untuk membunuh?
"Apa kau bisa menghidupkan abahku lagi?" ucap Burhan penuh harap.
Bumburaya menengok ke dalam lubang kuburan untuk melihat kondisi jenazah ayahnya Burhan. "Bisa, tapi aku sudah memakan sebelah tangan dan setengah wajahnya!" sahutnya sembari meloncat ke dalam lubang kuburan ayahnya Burhan.
"Kau benar-benar bisa?" tanya Burhan yang merasa tidak percaya. Ada sedikit rasa senang di hatinya.
"Bisa! Tapi kau harus kembalikan tas dan botol itu kepadaku!" balas Bumburaya sambil membuka tangannya. Berharap Burhan segera mengembalikan tas dan botol miliknya.
"Tidak! Kau harus menghidupkan abahku lebih dulu!" Burhan mengernyitkan dahi.
"Tapi aku tidak bisa melakukannya tanpa minyak yang ada di botol itu!" sahut Bumburaya. Burhan pun berpikir sejenak sambil melihat ke botol yang dia pegang.
"Baiklah! Tapi berjanjilah kepadaku bahwa kau akan melakukannya dan tidak kabur dariku!" kata Burhan. Menatap tajam Bumburaya tanpa rasa takut sedikit pun.
"Aku berjanji!" jawab Bumburaya. Dia mengambil kembali tas dan botol yang di serahkan Burhan.
"Kau yakin mau menghidupkan abahmu dengan kondisi begini?" tanya Bumburaya pada Burhan.
"Aku yakin, ada banyak kata yang ingin kusampaikan padanya!" jawab Burhan sembari menatap wajah mendiang ayahnya.
Bumburaya pun mengambil beberapa tetes minyak dari botol miliknya itu. Lalu dimasukkan ke mulut jenazah ayahnya Burhan.
Mata ayahnya Burhan perlahan terbuka, mulutnya tampak bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu. Dengan setengah wajah yang sudah rusak, ayahnya Burhan menggerakkan matanya ke sekeliling tempat.
"Abah! Hiks hiks!" Burhan kembali menangis histeris.
"Burhan?" panggil ayahnya Burhan dengan suara pelan.
"Iya Bah! Ini aku!" sahut Burhan kegirangan.
"Kenapa? Kenapa Burhan?!...Kamu selalu membuat Abah menderita... waktu hidup kamu tinggalkan Abah. Sekarang kamu mau hidupkan Abah dengan kondisi begini.?" ucap Ayahnya Burhan dengan suara parau. Perkataannya membuat Burhan terhenyak. Dia sontak merasa sakit hati. Bukannya mendapat ucapan terima kasih, sang ayah malah memarahinya.
"Matikan Abah sekarang! Aku tidak sudi hidup dengan kondisi begini!" sambung ayahnya Burhan lagi.
"Burhan, aku sudah mengabulkan permintaanmu. Sekarang kau harus menyelesaikan masalahmu sendiri!" ujar Bumburaya. Dia tiba-tiba melompat keluar dari lubang kuburan.
"Cuh! Pergi sana kau makhluk jelek!" hardik Burhan. Menyuruh Bumburaya pergi. Bumburaya pun berjalan perlahan dan masuk ke hutan.
Burhan melompat ke dalam lubang kuburan ayahnya sambil memegang batu nisan.
Bruk! Bruk! Bruk!
Burhan melayangkan batu nisan itu ke kepala ayahnya sendiri.
"Ini kan mau Abah, hah?!" Burhan masih menghempaskan batu nisan dengan amarah yang meluap-luap. Ayahnya kembali tidak bernafas dengan kondisi tubuh yang semakin mengenaskan.
Puas memukuli sang ayah, Burhan mencoba keluar dari lubang kuburan. Namun dia dibuat kaget ketika melihat Bumburaya kembali. Makhluk itu tampak berusaha menurunkan tanah ke dalam lubang kuburan.
Tubuh Burhan langsung terjatuh karena tanah yang semakin banyak berguguran. Dengan kekuatan yang dimiliki Bumburaya, hanya perlu beberapa detik untuk mengubur Burhan hidup-hidup.
"Jadilah makananku!" gumam Bumburaya seraya tersenyum licik. Dengan mulut lebar yang hampir menyentuh kedua telinga.
~TAMAT~