Kemunculan kabut secara tiba-tiba, membuat panik para lima sekawan.
"Guy's, kita tidak mungkin melanjutkan perjalanan ke Danau Telaga Biru. Lihat, kabut ini semakin tebal," ujar Hilman sambil menutup botol air minumnya kembali.
Bella mulai merasakan udara dingin semakin menusuk, menyusup tanpa permisi hingga ke tulang. Rasanya ngilu dan bulu kuduk meremang. "Kalian, merinding gak?"
"Tidak, tapi udara cukup dingin. Apa tidak sebaiknya, kita mencari tempat berteduh?" Hanna merapatkan tubuhnya menggandeng tangan Niko sang kekasih.
Melihat semua kawannya kebingungan, cemas dan kedinginan. Stevan membuka peta, dan memperhatikan keberadaan mereka di titik mana. Senter HP yang menyala, membantunya memperjelas melihat peta. "Guy's, jika kita lanjut ke sisi selatan. Di tengah hutan ada sebuah tempat berlindung. Apa kita kesana saja? Setelah kabut menghilang. Perjalanan kita lanjutkan."
Mendengar penjelasan dari leadernya. Semua serempak dan sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Tidak ada yang menyadari, dari dalam kabut yang semakin pekat. Lengkungan senyuman terbit dibibir sesosok bayangan yang telah menaburkan ilusi. Perjalanan diantara kabut, membuat lima sekawan itu bergandengan tangan agar tak terpisah.
Stevan di depan memimpin. Barulah Bella, Niko, Hanna dan Hilman. Lima sekawan ini berjalan seperti kereta api dengan tangan tak terpisahkan. Menurut mereka cara ini adalah cara terbaik ditengah kabut yang semakin menipiskan jarak pandang.
Kraak.....
"Guy's, bisa berhenti. Aku menginjak sesuatu," Hanna mencoba untuk melihat apa yang dipijak nya.
Niko yang berada di depan Hanna, semakin menggenggam tangan sang kekasih. "Tenang, sayang. Pasti cuma ranting kayu. Tidak baik berhenti. Ayo, kita lanjutkan."
Lima sekawan kembali melanjutkan perjalanan. Seperti di berikan petunjuk. Sebuah Castil dengan gaya kuno terlihat di depan sana. Tanpa pikir panjang. Kawanan itu berhenti di depan gerbang hitam menjulang tinggi.
Bella mengamati gerbang dengan tatapan tak biasa. Tengkuk lehernya seperti ada yang meniup, menengok ke kanan dan ke kiri. Tapi, tak ada siapapun selain ke empat kawannya. Hilman yang melihat wajah cemas Bella menepuk bahu Hanna. "Han, apa Bella sakit?"
"Hus, ngaco. Bella sehat walafiat. Bel, kamu sehat kan?" Hanna menatap Bella.
Bella membalas tatapan Hanna. "Aku baik, Alhamdulillah. Tapi, apa tidak ada tempat lain. Selain Castil itu?"
"Bel, lihat semua jalan hutan tertutup kabut. Bagaimana cara kita menerobos? Bukankah itu sangat berbahaya. Kita hanya perlu berteduh sebentar dan menjaga satu sama lain. Ayo," Stevan mengeratkan genggaman tangannya.
Lima sekawan itu berdiri ber jejeran di depan gerbang. Stevan dan Hilman seperti sepemikiran, tangan kanan Stevan dan tangan kiri Hilman mendorong gerbang secara bersamaan.
Kriiieet.....
Suara gerbang tua dengan karat dimana-mana terdengar menyayat hati. Stevan, Bella, Niko, Hanna dan Hilman menapaki langkah pertama memasuki Castil Kuno. Tidak ada angin ataupun hujan. Kabut diluar gerbang semakin menebal. Sementara kabut di dalam castil menghilang dan memperlihatkan bangunan tua seperti khas bangunan zaman Belanda.
Kesan pertama adalah klasik, kuno dan juga menyeramkan. Layaknya bangunan terbengkalai pada umumnya. Corak tembok usang dengan beberapa lubang di beberapa tempat. Beberapa jendela besar di atas sana menambahkan kesan kuno. Lumut hijau yang menempel di dinding dan tak lupa semuanya hanya gelap tanpa cahaya sedikitpun.
Cttaaarr....
Cttaaarr....
Dua kilat menyambar, seakan membelah castil menjadi dua bagian. Bella yang fokus pada salah satu jendela besar. Melihat sekilas bayangan berdiri di tengah jendela dengan kilatan di tangan yang terarah ke bawah.
"Aaaarrrgggh....." Bella berteriak dan melepaskan kedua tangannya untuk menutupi mata.
"Bel, ada apa?" tanya Stevan panik.
Semua melepaskan genggaman tangan dan mengerubungi Bella. "Atas, di sana!"
Bella menunjuk arah jendela yang terbesar dan menghadap ke gerbang. Semua ikut menatap jendela besar itu. Akan tetapi tidak ada apapun, kecuali kegelapan. Hanna memeluk sahabatnya. "Tenang, lihat tidak ada apapun."
Bella mengintip dari balik jarinya dan benar tidak ada apapun. "Huuft, maafkan aku. Mungkin, aku kelelahan."
"Sudah-sudah. Ayo, kita masuk. Niko, dan Hilman lebih baik dibelakang. Bella dan Hanna di tengah. Aku di depan. Ingat, ucapkan salam dan permisi di tempat asing." Stevan mengambil satu senter dari tas, begitu pula Hilman dan Niko.
Langkah lima sekawan menapaki satu setapak demi setapak hingga berhenti di depan tangga batu yang berlumut.
"Permisi, numpang sekejap. Kami hanya ingin berteduh, Mbah." Ucap Stevan dan menaiki anak tangga pertama.
"Assalamu'alaikum, permisi." Laungan salam dari Bella dan Hanna mengikuti langkah Stevan.
Niko dan Hilman seakan menunggu giliran, dan saling senggol menyenggol. "Kamu dulu, gih!"
"Kamu aja," ujar Hilman.
Bella yang mendengar kegaduhan dibelakangnya, berbalik dan menggelengkan kepala. "Jangan seperti anak kecil. Ayo, buruan."
"Hehehe, baik neng," Hilman tersenyum dan melangkahkan kaki. "Ngapunten, numpang berteduh. Tolong jangan ganggu kami."
"Hust, bicaramu itu loh. Maafin temen hamba, Ya Allah. Tolong lindungi kami dari segala mara bahaya dan juga godaan makhluk tak kasat mata. Kami hanya berniat berteduh sembari menunggu kabut mereda." Ameen." Niko menangkup kan kedua tangan dan ikut menyusul dengan langkah sedikit buru-buru tanpa menapaki anak tangga pertama.
Kini, lima sekawan berdiri di depan sebuah pintu kuno dengan desain kaligrafi dan juga beberapa desain bunga serta bangunan yang cukup memukau. Stevan mengikuti alur garis di pintu kayu jati itu. "Ini masih asli dan memiliki nilai seni yang tinggi. Jika diperhatikan, Castil ini memiliki perpaduan banyak budaya. Bukan begitu, guy's?"
Hanna mendekat dan memeriksa setiap ukiran. "Ini bukankah seperti pelajaran terakhir. Guy's, kalian ingat gak pelajaran Bu Bina?"
"Guru sejarah yang membosankan itu? Nggak inget." Jawab Niko.
Hilman menonyor kepala Niko dengan pelan. "Kamu, ngapain selama di kelas? Kerjaannya kalau gak tidur, ya ngegame."
"Sudah-sudah. Sebaiknya, kita masuk. Udara semakin dingin, siapa tahu di dalam ada tempat hangat. Ayo," Stevan melerai dua sahabatnya yang doyan sekali berdebat tanpa lihat tempat.
Stevan mendorong pintu. Pintu tidak terkunci, pengap dengan debu beterbangan menyambut lima sekawan. Bella terbatuk dan menutup hidungnya dengan tangan. Hanna mengibaskan tangan agar debu berkurang. Stevan menarik jacketnya untuk menutup hidung sambil menyibakkan sarang laba-laba di depannya. Niko dan Hilman masih di posisi aman. Meskipun juga menghirup debu yang menyebar.
Stevan mengedarkan senter ke dalam, dimana di depan pintu bukannya sebuah ruangan tapi hanya dinding memanjang. Stevan melihat sebuah obor di dinding. "Guy's, ada obor. Siapa bawa korek di luar tas? Berikan padaku!"
Niko merogoh saku kemejanya dan mengambil korek gas. "Ini, siapa mau ambil obor nya?"
Stevan menerima korek dan masuk ke dalam castil. Bella yang merasakan perubahan suhu udara drastis dari dingin ke panas,akhirnya menengok kesana dan kemari. Rasa seperti tengah di awasi, semakin terasa dan itu bukan hanya sekedar perasaannya saja. Tidak ingin membuat teman lainnya panik, Bella memilih berdoa di dalam hati.
Kalian milikku......
"Aaaarrrgggh...."
#Spoiler Next Project By Asma Khan