“Aku tahu kamu di dalam ....”
Aku memejamkan mata, mencoba menenangkan diri dan mengingat apa yang dikatakan Eve untuk mengakhiri permainan ini.
Jantungku mencelos saat sebuah tepukan di pundak membuatku terperanjat hingga kepalaku terantuk ranjang.
“Kamu ngapain?”
Suara tanya itu membuatku sontak menoleh dan menatap gadis yang kini mengintip dari sisi kolong tempat tidur.
Itu Eve!
“Eve, ka, kamu kok di sini?” Aku bertanya sembari keluar dari kolong tempat tidur, terdiam menatap lampu kamarku yang menyala. Bukankah tadi aku sudah mematikan semua?
Oh, pasti Eve yang telah menyalakannya.
“Kamu kok bisa masuk?”
“Nembus tembok, gimana lagi?” jawab Eve sembari tertawa. Mendengar gurauannya, perasaanku sedikit membaik.
Eve keluar dan terlihat memungut sesuatu di depan pintu kamarku. Aku terdiam kaget saat Eve berbalik dan melambaikan tangan boneka dalam gendongannya sembari tersenyum. “Ketemu~”
Aku sontak merinding. Entah bagaimana aku melihat Eve jadi menakutkan.
“Jangan bercanda, deh. Gak lucu main beginian.” Aku merebut boneka beruang di tangannya dan membuang ke lantai dengan asal.
Mengabaikan Eve yang masih berdiri di depan kamarku, aku berjalan untuk mematikan televisi, dan menghidupkan lampu di ruang tengah, tapi usahaku gagal. Alih-alih lampu ruang tengah menyala, lampu kamarku justru ikut mati.
“Eve, tolong hidupin lampu di situ, dong,” teriakku yang hanya dijawab keheningan. Ini membuat perasaanku kembali tidak enak.
Saat aku berniat mendekati Eve, bunyi gemeresak televisi yang berhasil kumatikan kembali terdengar hingga lututku gemetar. Aku menoleh perlahan dan mendapati sebuah tulisan pada layar yang menyala di sana.
Ketemu.
Karena begitu terkejut, aku mundur hingga punggungku menabrak sesuatu, dan saat aku menoleh, aku mendapati wajah Eve di sampingku, begitu dekat hingga dapat kulihat robekan panjang di sisi matanya yang mengeluarkan darah.
“Ketemu.”
Gadis itu menyeringai dan menusuk pundakku dengan pensil yang aku sediakan sebagai benda tajam untuk permainan.
Aku mengaduh kesakitan, tapi cukup cepat menghindar ketika Eve berniat melakukannya lagi. Kami segera terlibat kejar-mengejar dengan Eve yang tertawa mengerikan dan terus meneriakkan kata yang sama.
“Ketemu!”