Pagi itu Ela melangkahkan kakinya memasuki sebuah ruangan tempat briefing sebelum mulai bekerja. Ela adalah karyawan baru di salah satu Museum yang cukup terkenal di Ibu kota. Beberapa hari yang lalu ia di terima dengan jabatan sebagai pemandu di Museum tersebut.
"Usahakan bagi kalian para pemandu baru untuk lebih dulu memahami arti setiap pajangan yang terdapat di Museum ini, saya tidak ingin menerima keluhan dari pengunjung yang mengatakan bahwa pemandu kita tidak bisa menjelaskan setiap pertanyaan yang keluar dari mulut mereka." ucap Rina atasan dari para pemandu Museum tersebut.
Ela menghela nafasnya panjang, sepertinya akan membutuhkan waktu lama baginya untuk memahami keseluruhan kisah dari setiap pajangan yang ada di Museum ini, mengingat terdapat 1.000 lebih barang antik yang terpajang di sana.
"Ayolah El... ini bahkan baru permulaan, apa kau akan menyerah sebelum berperang?" ucap Ela dalam hati ketika mendengar ucapan Rina barusan.
"Hei kau anak baru! apa kau mendengar ucapan ku?" teriak Rina ketika melihat Ela di barisan paling ujung mendengar penjelasannya dengan malas malasan.
"Iya bu saya mendengarkan." ucap Ela sambil sedikit menunduk seakan meminta maaf, baru hari pertama kerja ia sudah dapat peringatan seperti ini, jangan sampai Rina akan menjadikannya bulan bulanan di sini atau kehidupan pekerjaannya akan terasa sulit.
"Kita akan buka lima menit lagi, bersiap di tempat kalian masing masing dan ingat pesan saya tadi." ucap Rina lagi dengan tegas memperingati bawahannya.
Setelah briefing selesai, seluruh karyawan nampak bubar dan berpencar menuju posisinya masing masing. Jika di lihat sekilas ada sekitar 15 sampai 20 orang pemandu yang ada di Museum tersebut dengan bagian area masing masing. Kebetulan Ela mendapat bagian di area barang barang atau penghormatan bagi para pejuang yang memiliki jasa yang besar pada NKRI.
Ela mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah area jaganya sampai kemudian seorang wanita dengan name tag Lea di dadanya datang menghampiri Ela.
"Kamu Ela bukan bagian area pejuang?" tanyanya dengan ramah.
"Ya" jawab Ela dengan singkat.
"Saya Lea salam kenal" ucap Lea dengan tersenyum yang lantas di balas Ela dengan jabatan tangan perkenalan. "El jika kamu merasakan sesuatu ketika di sana, kamu jangan sungkan katakan pada ku ya?" ucap Lea tiba tiba yang lantas membuat Ela menghentikan langkah kakinya sambil menatap ke arah Lea.
"Apa maksud mbak?" tanya Ela dengan raut wajah yang penasaran.
"Tidak hanya saja...." ucap Lea hendak menjelaskan namun ia malah mendengar suara menggelegar dari Rina yang lantas mengagetkan keduanya.
"Apa kalian akan terus bergosip di sana?" ucap Rina dengan nada yang menyindir membuat keduanya lantas terkejut ketika mendengarnya.
"Nanti kita teruskan lagi ok..." ucap Lea sambil mengambil jurus langkah seribu pergi dari sana tepat setelah mendengar suara Rina barusan.
Ela yang melihat kelakuan Lea barusan hanya tersenyum sambil geleng geleng kepala dan terus melanjutkan langkah kakinya. Ela berhenti tepat di area jaga dirinya sambil bersiap menunggu beberapa pengunjung yang sebentar lagi akan datang.
Ini adalah hari pertama Ela bekerja, namun ia merasa seperti perasaan aneh terus menerus menyelimuti dirinya. Ela menatap ke arah kanan dan kiri dan melihat beberapa pemandu yang lain sudah bersiap di areanya masing masing.
"Sepertinya bukan aku saja yang nervous." ucapnya dengan lirih sambil tersenyum kecil.
Ketika Ela sedang asyik memperhatikan teman temannya, mendadak ia merasa seperti tengah di awasi oleh seseorang. Ela yang penasaran lantas celingukan ke belakang mencari seseorang yang tengah mengawasinya. Hanya saja disaat Ela menoleh ke belakang tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya seorang, membuat bulu kuduk Ela lantas berdiri ketika melihat tidak ada orang di belakangnya.
"Ya kali pagi pagi gini ada hantu?" ucapnya sambil tersenyum seakan menyadarkan dirinya sendiri bahwa semua itu hanyalah firasatnya saja.
Tidak beberapa lama satu persatu pengunjung mulai berdatangan memasuki area Museum. Ela berusaha sebisa mungkin memasang wajah ramah kepada para pengunjung dan menjelaskan segala hal yang ingin mereka ketahui tentang barang barang yang di pajang di sana. Pekerjaannya hari ini benar benar berjalan lancar, beberapa pengunjung bahkan terlihat puas dengan pelayanan yang di berikan oleh Ela, yah... setidaknya cukup lumayan untuk hari pertamanya.
Ela meluruskan kakinya sebentar ketika jam makan siang datang, bekerja sambil berdiri sepanjang waktu sangatlah melelahkan membuat Ella harus bisa mengatur dan melemaskan kakinya agar tidak terlalu pegal.
"Kurang 2 jam lagi masa shift ku berakhir, setidaknya aku harus semangat bukan?" ucap Ela dengan penuh semangat.
***
Dua jam kemudian
Ela yang senang shiftnya telah berakhir lantas mulai berkemas dan membersihkan beberapa kertas yang terjatuh milik beberapa pengunjung Museum tadi. Ela mengambil satu persatu sampah di area jaganya, hingga kemudian pandangannya terhenti pada sebuah tulisan yang tertera di sudut bawah etalase yang berisi seperti ukiran batu.
RESIK ATI, RESIK PIKIRAN
MBUKAK LAWANG KABEH LAWANG
LANGIT LAN BUMI DADI SAKSI
MANUNGSO MUNG BISO NYOBA
Ucap Ela yang tanpa sengaja membaca tulisan jawa yang tertulis di sana.
"Apa artinya ya? ah entahlah..." ucap Ela menyerah tidak ingin berpikir terlalu keras, sampai kemudian sebuah tepukan bahu mengagetkan dirinya yang tengah fokus menatap tulisan tersebut.
"El kamu di panggil bu Rina katanya penting." ucap seseorang dengan nama Lili pada name tag yang tertera di dadanya.
Ela mengelus dadanya pelan karena terkejut kemudian bangkit dan berjalan mengikuti Lili menuju ruangan Rina.
Setelah kepergian Ela dan juga Lili dari sana tanpa keduanya sadari tulisan yang tadi di baca oleh Ela mendadak bersinar seakan memunculkan cahaya lampu di sana.
****
Malam harinya
Ela melangkahkan kakinya menuju ruang ganti pegawai dengan langkah yang lesu, gara gara Rina tadi Ela harus bekerja lembur dan pulang malam. Pikirannya bahkan sudah tidak enak ketika ia tadi di panggil oleh Rina ke ruangannya, yang ternyata adalah pekerjaan tambahan yang menanti Ela untuk di kerjakan.
"Ah menyebalkan! harusnya aku sudah tidur dan merebahkan diriku di kamar saat ini, tapi malah berakhir di sini hingga larut malam, ah benar benar menyebalkan..." ucapnya dengan kesal sambil melirik ke arah jam tangan miliknya yang terlihat pukul 22.00 di sana.
Criet....
Suara pintu terbuka dengan sendirinya membuat Ela lantas menatap ke arah sekeliling. Suasana malam itu begitu sepi dan mendadak terasa sangat mencekam karena hanya Ela sendirian di sana.
Ela yang tak melihat siapapun di sana, lantas langsung mempercepat gerakannya dan memasukkan peralatannya dengan sembarangan ke dalam tasnya. Bulu kuduknya benar benar sudah merinding sedari tadi, berkali kali Ela nampak merutuki kebodohannya yang baru menyadari hanya ada dirinya sendirian di dalam ruang ganti pegawai tersebut.
Tak tak tak...
Suara benda jatuh yang langsung memantul ke lantai membuat Ela lantas menghentikan langkah kakinya yang sedari tadi melangkah dengan bergegas hendak pergi dari ruang ganti khusus pegawai tersebut.
Ela terdiam tak berani menoleh ke belakang, keningnya kini bahkan sudah basah karena terkena keringat dingin.
KAKAK TOLONG....
Rintih sebuah suara yang lantas membuat ketakutan Ela bertambah berkali kali lipatnya, Ela menelan salivanya kasar tanpa berani menoleh ke arah belakang. Hingga kemudian sebuah suara benda tajam yang tengah memotong sesuatu membuat tubuh Ela semakin merinding.
Bau amis mulai menyebar memenuhi ruangan ganti tersebut, tak lama setelah itu sebuah benda nampak menggelinding dan berhenti tepat di sebelah kaki Ela. Ela yang takut namun juga penasaran lantas secara perlahan menggerakkan kepalanya menoleh ke bawah untuk melihat benda apa barusan.
Mata Ela lantas membelalak ketika melihat benda yang jatuh tadi ternyata potongan kepala anak kecil disertai darah yang terus menetes dari lehernya yang sudah terputus.
Aaaaaaaa
Tanpa berpikir panjang lagi Ela lantas berlari dengan sekuat tenaga keluar dari ruangan tersebut mencoba untuk pergi sejauh mungkin dari ruang ganti tersebut.
Nafasnya begitu terengah engah dan berat, Ela sudah tidak sanggup lagi jika harus kembali berlari untuk menghindari sosok yang ia lihat tadi.
"Apa... ini semua?" ucap Ela kemudian dengan nada yang terkejut ketika melihat ke area Museum begitu banyak makhluk dengan bentuk yang beragam tersebar hampir di seluruh area Museum.
Ela panik bukan main melihat penampakan yang ia lihat di sana, hingga membuatnya mundur perlahan berusaha untuk lari namun malah menabrak sesuatu.
Ela terjatuh ke lantai, samar samar ia mendengar suara seseorang bicara namun dengan menggunakan bahasa lain yang Ela sendiri tidak mengerti apa maksud ucapannya.
Ela yang penasaran lantas mulai mendongak dan yang ia lihat adalah seseorang yang mengenakan baju Jendral dengan tubuh yang tinggi tegap namun dengan bentuk bagian kepalanya yang berlumur dengan darah. Kaki Ela benar benar lemas bukan main, jika Ela keluar dan malah melihat Jendral ini, apa bedanya dengan yang ada di ruang ganti karyawan tadi?
Pikiran Ela benar benar kalut, ia bingung harus bagaimana? penampakan yang ia lihat begitu bertubi membuat Ela tidak tahu harus berbuat bagaimana. Di saat Ela dalam posisi kebingungan seorang sosok berpakaian tentara lantas menghampirinya dan langsung menyeretnya dengan tiba tiba.
Ela berusaha untuk memberontak, ia benar benar tidak mengerti, jika semua sosok yang ia lihat adalah imajinasinya... tapi mengapa tarikan dari sosok itu benar benar terasa menyakitkan.
"Lepaskan aku.. lepaskan aku..." teriak Ela dengan terus berusaha memberontak.
Melihat Ela yang terus memberontak, bukan malah melepaskannya yang ada malah Ela mendapat sabetan cukup kuat di area pinggangnya hingga membuat Ela merintih kesakitan pada area punggungnya.
"Tolong... tolong..." teriaknya dengan keras berharap ada seseorang yang bisa menolong sekaligus menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi padanya saat ini.
Di saat rasa keputusasaan menyelimuti dirinya, seorang sosok laki laki menunggang kuda terlihat mendekat ke arahnya dengan menatap tajam ke arah dua jendral tersebut.
"Lepaskan gadis itu!" teriak laki laki itu dalam bahasa asing.
"Jangan coba coba untuk ikut campur dalam masalah ku!" teriak Jendral tersebut yang juga dalam bahasa asing.
Mendengar jawaban dari Jendral itu laki laki itu lantas tersenyum kemudian mengarahkan kudanya agar berlari dengan cepat menuju ke arah kedua Jendral tersebut. Melihat kuda tersebut berlari ke arah mereka membuat keduanya langsung kocar kacir berlarian pergi dari sana.
Sedangkan Ela yang bebas dari cengkraman Jendral itu dengan sekuat tenaga lantas bangkit dan berusaha dengan sekuat tenaga berlari kabur dari sana.
***
Ela berlari dan terus berlari tanpa arah tujuan berusaha untuk kabur dari sosok sosok itu. Ela menghentikan langkah kakinya ketika ia sampai di area barang barang antik dan langsung bersembunyi di sudut belakang etalase.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi ketika aku bahkan tidak merasa melakukan apapun atau bahkan mempunyai suatu kelebihan yang bisa ku gunakan untuk melihat mereka. Ini benar benar gila." ucapnya dengan lirih sambil terus bersembunyi di sudut etalase tersebut.
Ela menatap dengan perasaan takut ke kanan dan ke kiri, sampai kemudian Ela yang merasa sedikit lebih lega tanpa sengaja menaruh tangannya pada lantai keramik, ada sesuatu yang mengenai tangannya begitu basah dan lengket. Dengan menelan salivanya kasar Ela mulai mengangkat tangannya yang ternyata adalah satu bola mata yang masih baru dengan darah segar menutupi setiap bagiannya.
KEMBALIKAN MATA KU...
AAAAAAAAA
Lagi dan lagi Ela lantas bangkit dan berlarian mencari pintu keluar dari Museum ini, Ela sudah tidak sanggup melihat sosok demi sosok makhluk tak kasat mata di sekitaran Museum.
Ela mencoba berputar dan mencari pintu keluar namun entah mengapa tidak kunjung ketemu juga, membuat Ela lantas menjambak rambutnya dengan kasar karena frustasi akan kebodohan dirinya sendiri. Meski Ela adalah karyawan baru, tentu Ela tidaklah sebodoh itu yang bisa melupakan pintu masuk tempatnya bekerja.
Ela terus berputar dan berputar lagi, ia bahkan sudah berkali kali kembali ke tempat yang sama. Hingga setelah beberapa putaran Ela yang sudah frustasi dan sangat putus asa lantas luruh ke lantai begitu saja.
Tangisnya pecah membasahi pipinya, Ela bahkan kini sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa agar bisa keluar dari sini hidup hidup.
Ela yang sudah di landa rasa keputusasaan, secara samar samar seperti mendengar suara tapak kaki kuda mendekat ke arahnya. Ela yang semakin mendengar suara itu dengan jelas, hanya bisa diam saja dan tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya. Rasanya Ela bahkan sudah tidak ada tenaga lagi untuk kembali berlari menghindari sosok demi sosok yang datang ke arahnya.
"Aku pasrah... aku pasrah... apapun yang terjadi pada ku aku serahkan hanya kepada Mu..." ucapnya dengan nada yang menahan isak tangisnya, jujur saja di dalam hatinya yang terdalam Ela benar benar ketakutan, hanya saja ia tidak lagi mempunyai kekuatan untuk sekedar bangkit dan juga lari dari sana.
"Bangunlah wahai anak manusia, aku akan mengantar mu kembali ke ragamu." ucap sebuah suara yang lantas membuat Ela mendongak menatap ke arahnya.
Sosok yang menghampirinya adalah sosok penunggang kuda yang tadi menyelamatkannya. Ela yang melihat sosok itu mendekat, bingung antara harus mempercayainya atau tidak?
"Tak perlu takut, naiklah di atas kuda ku..." ajaknya sambil mengulurkan tangannya ke arah Ela.
Ela yang memang dalam keadaan putus asa dan tak tahu akan melakukan apa, lantas menerima uluran tangan itu dan ikut naik di atas kuda sosok tersebut.
"Tak perlu takut, dunia ku dan dunia mu adalah satu kesatuan. Kita hidup saling berdampingan, hanya saja kami tidak terlihat oleh manusia. Diberi penglihatan tentang kami adalah sebuah anugrah asal kamu menggunakannya ke arah kebajikan. Bukankah sesama makhluk Gusti Allah kita harus selalu hidup rukun dan berdampingan? walau kami berbeda tapi kami juga termasuk makhluk ciptaan Nya." ucap sosok laki laki tersebut pada Ela, suaranya begitu lembut dan mengayomi membuat Ela tidak bisa menyela ataupun membantah ucapannya, yang bisa Ela lakukan sedari tadi hanyalah mendengarkan dan mencatatnya dalam hati.
"Turunlah ndok... sudah saatnya kamu pulang..." ucapnya lagi.
Ela yang mendengar ucapan sosok itu, lantas langsung turun dan melangkahkan kakinya menuju ke arah yang di tunjukkan oleh sosok tersebut.
Hingga kemudian...
"Hei bangun!" suara gebrakan meja yang terdengar begitu keras membangunkan Ela dari tidur panjangnya.
Ela yang bingung dengan apa yang tengah terjadi lantas menatap ke arah sekeliling dengan tatapan yang bertanya tanya.
"Dasar anak baru, di suruh lembur mengerjakan laporan malah tidur sampai pagi... bagus sekali ya!" teriak Rina dengan nada yang kesal ke arah Ela, namun Ela malah menatapnya dengan bingung.
"Saya di mana bu?" tanya Ela.
"Ya di kantor saya, apa kamu tidak lihat jam berapa sekarang!" ucap Rina sambil menunjuk ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 07.15 pagi.
Ela yang sadar akan apa artinya jam tersebut, lantas langsung bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Rina dengan spontan saking bahagianya.
"Saya sudah pulang bu? hore... saya kembali... saya kembali..." teriaknya dengan kegirangan sambil memeluk Rina dengan erat.
"Apa kau sudah gila?" tanya Rina dengan tatapan yang bingung.
"Ya anda benar bu, saya memang sudah gila..." ucapnya lagi dengan raut wajah yang tersenyum dengan cerahnya sambil terus memanjatkan puji syukur karena ia sudah bisa kembali dengan normal.
Sedangkan tanpa keduanya sadari di sudut ruangan Rina, terlihat sosok yang menunggangi kuda tengah menatap ke arah Ela dan juga Rina dengan senyum yang tidak bisa di artikan.
"Sesuatu yang tak terlihat belum tentu tidak ada, dan sesuatu yang sudah ada belum tentu mereka juga terlihat.... semua itu tergantung bagaimana diri kita masing masing dalam menafsirkannya." ucapnya sambil tersenyum kemudian menghilang dari ruangan Rina.
End