Namaku Hana, kata orang Hana berarti kebahagiaan. Begitulah ayah memberikan nama yang indah pada bayi mungil yang lahir delapan belas tahun lalu. Berharap Hana bisa memberikan kebahagiaan pada semua orang. Hana yang kelak hidupnya akan selalu bahagia.
Maaf, Ayah ...
Tampaknya putrimu ini sudah mengecewakanmu. Hana tak lagi bisa berpura-pura menjadi seseorang yang terlihat bahagia. Hana lelah. Hana rapuh ....
Maaf, Hana harus pergi. Terlalu sakit bila terus bertahan di sini. Bukan karena Hana tak menyayangimu, tetapi Hana tak ingin membuat malu. Fitnah yang terlalu keji menjadi titik di mana aku harus berhenti.
Maaf, Ayah ....
Begitulah kata-kata yang ingin kutuliskan untuk ayah sebagai ucapan perpisahan. Namun, kertas yang sedari tadi kupegang masih kosong tanpa coretan. Terlihat basah karena menampung air mata yang tak bisa lagi terbendung.
Aku menyerah. Kubuang kertas ke sembarang arah. Berharap ayah akan baik-baik saja meski aku tiada lagi di dunia. Menyusul ibu di Nirwana.
“HANA!!!”
Aku mendengar suara seseorang memanggil namaku, tapi siapa? Tidak ada orang di rumah. Ayahku baru saja pergi bersama tante Heni. Seharusnya aku memanggilnya ibu karena dia menikah dengan ayah lima tahun yang lalu, tapi pantaskan aku menyebutnya ibu? Dialah penyebab dari rasa putus asaku ini. Tak bisa kujelaskan berapa banyak penderitaan yang dia berikan. Tentu saja ayah tak pernah tahu.
“Hana, ma-ti....”
Bisikan kecil yang terdengar lirih, akhir-akhir ini sering menghantui. Suara itu bahkan seperti mengejarku di setiap waktu.
MATI, MATI, MATI.
Kubulatkan tekad untuk mengakhiri hidup. Kuraih tas yang sejak tadi ada di dekatku. Aku keluar dari rumah, berjalan perlahan meninggalkan kenangan. Aku tak ingin mati di rumah ini. Biar mayatku saja nanti yang datang, agar ibu tiriku itu senang.
Berjalan sendiri di tengah malam dengan menantang kematian. Aku berharap ada truk besar yang datang. ‘Ahh ... membayangkan tubuh kurusku ini terlindas truk, pasti akan langsung mati dengan tulang remuk dan berserakan.’
Klakson berbunyi beberapa kali dengan lampu sorot yang menyilau. Sepertinya truk juga melaju sangat cepat, tak mungkin dia bisa berhenti mendadak. Akhirnya keinginanku akan segera terwujud. Aku berdiri di tengah jalan dengan mata terpejam. Kurentangkan kedua tangan seakan-akan menyambut malaikat maut.
Brakkk ....
Terdengar benturan begitu keras. Kubuka mata perlahan. Sakit? Tidak. Aku tak merasakan apa-apa.
“Sial, kenapa aku belum mati,” umpatku.
Aku masih hidup dan kulihat truk tadi menabrak pohon besar. ‘Aneh, padahal jelas-jelas tadi aku merasa truk itu menabrak tubuhku!” Segera aku menghampiri truk untuk memastikan kondisi truk beserta sopirnya. Aku melihat bagian depan truk yang terlihat ringsek, lalu kuberanikan diri membuka pintu samping tempat sopir. Saat pintu terbuka bau darah segar langsung menyeruak. Keadaan sopir sangat mengenaskan, kepalanya pecah, bagian otak keluar berceceran, kedua kakinya terimpit besi dan bisa kupastikan patah. Perutnya koyak, sedikit kulihat usus terurai dari dalam perutnya.
‘Hah, tangannya bergerak. Dengan keadaannya ini, apakah dia masih hidup?’ Kucoba mengulurkan tangan untuk memastikan, tiba-tiba ....
Pak Sopir memegang tanganku sangat kuat membuatku bergetar sekujur badan, sementara tangan lainnya mengaduk-aduk isi perutnya yang koyak dan menarik keluar. Usus yang menggantung beserta hati dan jantung berada dalam genggamannya dengan berlumur darah segar.
“HANA!!! MATI!!!”
“AAAAAAAA!!!!”
Sontak aku menarik tanganku dan berteriak sekencang-kencangnya. Lari, aku berlari tanpa arah tak tahu ke mana. Sudah tak tahu seberapa jauh, hingga napasku tersengal-sengal dan aku berhenti. Aku lalu berpikir, “Kenapa sopir itu tahu namaku?”
Kilatan cahaya petir kini hadir, bahkan langit pun benar-benar menambah ketakutan dan rintik hujan pun kian menambah kepedihan. Tak jauh kulihat ada rumah kosong. Hujan mulai deras, tak ada pilihan. Setidaknya aku tak ingin mati kedinginan karena itu sangat menyiksa dan akan terasa lama untuk mati.
Aku berlari masuk ke rumah tua. Tampaknya sudah sangat lama tak berpenghuni, terlihat kotor, pengap, dan banyak rumput liar yang menjalar. Meski begitu, masih ada beberapa perabotan yang ditinggalkan, walau sudah usang setidaknya ada beberapa kursi dan meja yang bisa dipakai. Perabotan zaman dulu sangat kuat dan kokoh karena terbuat dari kayu jati pilihan berbeda dengan sekarang yang menggunakan kayu sembarang. Kugeser satu kursi, duduk sejenak untuk mengatur denyut jantung yang tadi hampir berhenti. Aku memang ingin mati, tapi harus dengan caraku bukan karena hantu.
Kuletakkan tas di atas meja, kubuka dan mencari benda yang telah kupersiapkan dari rumah. Racun pembunuh serangga. Kuyakinkan diri untuk mati seperti ini. Langsung kubuka tutupnya, aroma tak sedap langsung menguap.
Suara daun pintu beradu dengan lantai hingga menimbulkan decitan. Netraku memandang pintu yang sedikit terbuka, ‘Ah, mungkin karena aku tadi tak menutupnya dengan rapat dan terdorong angin dari luar sehingga pintu terbuka.’
Samar-samar mataku menangkap bayangan hitam. Semakin kupertajam pandangan semakin jelas sosoknya yang hitam, tinggi, besar, dengan mata merah menyala. Bulu hitam legam menutupi seluruh tubuh juga kuku yang panjang dan tajam seolah-olah siap mencabik-cabik kulitku yang terasa membeku.
Dia semakin dekat, dekat, lebih dekat, dan ....
“IBU!!!” jeritku.
Spontan aku membuang botol yang tadi aku genggam. Langsung menutup mata dan kedua telinga. Tampaknya makhluk itu semakin menggila, kurasakan embusan panas di ujung kepala membuat bulu kudukku meremang. Jantungku berpacu sangat cepat, satu hal yang terpikir, ‘Ya, hanya doa dan ayat-ayat Al-Quran.’ Tapi yang mana yang harus kubaca, tiba-tiba kosong. Ayat-ayat indah itu memudar dalam ingatan.
Dengan terdesak, aku asal membaca dengan lantang, “ALAAHUMMA BARIK LANAA FIIMAA RAZAQTANAA WAQINA ‘ADZAABANNAR.”
‘Deg' seketika aku terdiam. Namun, tetesan air mata selanjutnya menganak sungai. Ketakutan tadi kini menjadi sebuah kekhawatiran. Ke mana perginya ilmu agama yang dulu kupelajari. Bahkan surah Al-Ikhlas tak bisa keluar dari bibirku. Aku menangis sekeras-kerasnya mengeluarkan sengketa rasa dalam jiwa.
‘Apakah Tuhan menghukumku dengan menghilangkan ilmu pengetahuanku.’ Tubuhku lunglai ke lantai yang dingin. Lemas tak bertenaga hingga pandangan kabur dan aku tertidur.
Aku terbangun saat hawa panas terasa membakar. Kuedarkan pandangan, hanya ada api yang berkobar, merah menyala membumbung tinggi. ‘Di mana aku?’ Penasaran aku bangkit dan berjalan, mencari apa yang sesungguhnya terjadi. Sedetik kemudian aku tercengang. Ternyata aku tak sendiri, ada lautan manusia yang berteriak minta tolong, mereka mengaduh, merintih, mengiba, dan memohon ampunan-Nya. Dalam hati kecil aku bertanya, ‘apa yang membuat mereka menjadi seperti ini.’ Pemandangan mengerikan tersaji di depan mata. Ada beberapa orang menenggak racun, dari mulutnya mengeluarkan buih lalu kejang-kejang dan mati. Tak lama berselang, mereka bangun dan mengulangi kejadian tadi berulang kali.
Netraku juga melihat seorang wanita yang sangat cantik, dia menatapku dengan mata sendu. Dari wajahnya seperti berbicara “Tolong aku!” dengan menangis dia berjalan mendekati jurang yang dalam. Sekali lagi dia menatapku dengan air mata sebuah penyesalan. Dia menggelengkan kepalanya pelan, ‘Jangan' itu adalah isyarat yang kutangkap dari tatapannya. Aku mengalihkan muka ketika dia benar-benar melompat. Kukira dia mati, tapi tidak. Mereka semua tidak benar-benar mati. Mereka hidup kembali dan mengulangi kematian yang sama, bahkan aku merasa ngeri saat melihat seseorang mengiris tangannya beberapa kali, darah mengucur sampai mengering dan lagi, dia melakukannya lagi.
‘Sampai kapan? Apakah mereka kekal selamanya di sini.’ Beberapa pertanyaan muncul di benak, tak ada jawaban. Hingga sebuah tangan menepuk pundak dan membuatku terkejut, “Ibu ....” lirihku, hanya senyuman yang terpancar di wajahnya yang bersinar. Ibu menarik tanganku erat, mengajakku berlari tetapi kemudian melepasnya lagi, bahkan ibu semakin menjauh.
“Bu! Ibu ....” Aku tersadar dengan keringat bercucuran deras. Ternyata tadi hanya mimpi. Terasa nyata. Aku masih tergeletak di lantai hingga sesuatu mengusikku. Beberapa belatung berjatuhan di wajahku, semakin lama semakin banyak. Refleks aku bangun dan mengibaskan beberapa belatung dari wajah dan pakaianku.
“Hihihihihi ....” suara cekikikan yang kian melengking membuatku mendongakkan wajah ke atas. Benar saja, perempuan berambut panjang memakai dress putih kedodoran sedang berayun-ayun di atas kepalaku. Dia memutar-mutar kepalanya lalu membalikkan badan, menunjukkan punggungnya yang bolong dengan banyak darah dan belatung yang menggeliat di dalamnya.
Kali ini aku tak boleh takut. Manusia adalah makhluk paling sempurna ciptaan-Nya. Aku menengadah kedua tangan ke atas memohon pada sang Pencipta agar selalu dalam lindungan-Nya. Dalam hati aku berkata, ‘Ya Allah ... hamba ingin bertobat. Kuserahkan semua kepada-Mu. Lindungilah hambamu dari godaan setan yang terkutuk’.
“Audzubillah Himinas Syaiton Nirojim, bismillahirrahmannirrahim. A--"
“STOP!” wanita berbaju putih di atas menghentikanku. “Jangan diteruskan dek, aku hanya bercanda tadi. Aku sudah mendengar suara hatimu. Aku takut. Tidak mau seperti bang Gendu,” lanjutnya lalu dia terbang dan menghilang.
Aku merasa lega. Kubuang jauh-jauh pikiran untuk bunuh diri karena tak ada gunanya. Hanya siksa abadi yang akan kudapatkan. Aku mengambil tas yang kutinggalkan tadi di meja, tapi sepertinya masih ada yang usil. Tas itu bergerak-gerak. Dengan cekatan aku menarik tangannya.
“Nah, mau nyolong kamu ‘kan,” cecarku pada seorang anak kecil berkepala plontos yang tingginya tidak sampai satu meter. Aku merebut uang merah miliku yang hanya tinggal selembar. ‘enak saja mau dicuri' batinku.
“Kakak gak jadi mati?” tanyanya kemudian.
“Gak, dibatalkan.”
Anak kecil itu tertunduk lesu. Aku merasa iba padanya. Kutatap lagi selembar uang terakhir yang kumiliki sekarang. Aku mengalah.
“Nih, ambil! Anggap aja aku sedekah, lagian kecil-kecil udah nyolong. Eh, anak kecil gak boleh keluyuran malam-malam. Mana gak pake baju lagi.”
“Hei, Kak! Aku ini tuyul. Kerjaku memang mencuri tapi aku bukan pengemis. Lagian duitku udah banyak,” angkuhnya dengan menolak tanganku.
“Lagian, kalo Kakak mau sedekah mending nyumbang di masjid aja biar berkah atau anak-anak yatim piatu. Di sekitar sini banyak loh Kak! Aku mencuri karena hobi aja. Kadang duitnya juga aku bagi ke anak yatim tapi aku letakkan di jalan, soalnya mereka gak bisa lihat aku” lanjutnya.
Sekali lagi aku tertampar dengan caranya yang bisa membantu orang lain, meski dengan cara yang salah tetapi niatnya tulus. Aku berjongkok agar terlihat lebih dekat, merayunya untuk menerima uangku. Lagi-lagi dia menolaknya. Aku salut dengan keteguhannya yang tak menerima uangku padahal dia tuyul.
“Dasar tuyul, kamu juga yatim piatu jadi kamu berhak menerima sedekah, ”bujukku sekali lagi.
“Aku tak sendiri, ada om Gendu sama tante Susun di sini, mereka sudah seperti orang tuaku,” Perkataannya membuatku mengerutkan kening, “Itu loh Kak, Genderuwo sama Sundel bolong yang tadi ketemu Kakak,” jelasnya.
Teringat kembali tentang kejadian tadi yang akhirnya membuatku sadar, bahwa kehidupan hanya sementara jadi untuk apa mengakhiri hidup, justru sebaliknya memanfaatkan hidup yang hanya sebentar dengan amal baik.
“Di mana mereka sekarang?”
“Kalo tante Susun kayaknya lagi bantuin belatung-belatung peliharaannya lagi lahiran. Om Gendu masih sembunyi.” Tuyul menoleh ke kanan dan ke kiri di rasa aman dia berbisik padaku, ”Tadi, waktu Kakak baca doa makan, Om Gendu langsung lari. Dia takut Kakak akan memakannya.”
Aku tertawa mendengar ceritanya. Mereka tidak begitu menakutkan, tergantung bagaimana sikap kita terhadap mereka. Sebenarnya mereka hanya ingin menunjukkan bahwa mereka ada. Apalagi aku tidak sopan, dengan masuk ke rumah ini tanpa memberi salam dan berniat buruk. Kejadian ini menyadarkanku bahwa selama ini aku jauh dari Allah SWT. Suara-suara dan bisikan yang sering kudengar hanya ilusi dan ketakutan yang kuciptakan sendiri. Aku ingin bertobat.
Aku pamit pada tuyul, om Gendu dan tante Susun, mengucapkan terima kasih karena sudah memberikan tempat berteduh untuk semalam dan juga pengalaman yang tak terlupakan.
“Tapi di luar masih gerimis Kak,’ ucap tuyul.
“Aku baru saja menghadapi badai besar, gerimis kecil seperti ini tak akan membuatku lemah,” jawabku dengan tersenyum.
Kulangkahkan kaki meninggalkan rumah tua. Aku juga tak kembali ke rumah ayah. Aku memilih pergi ke terminal bus menuju rumah nenek di Malang. Kebetulan di sana ada pesantren kecil milik keluarga. Dulu aku sering mengaji tetapi semenjak ibu meninggal, lalu kemudian ayah menikah lagi dengan tante Heni dan membawaku pindah ke kota, semenjak itulah aku tak pernah lagi mengaji. Aku ingin bertobat, dan belajar ilmu agama lagi. Aku sudah menjauh dari ajaran-Nya.
Aku juga memberitahu ayah tentang keberadaanku di rumah nenek dan tinggal di sana agar ayah tidak khawatir. Tentang kejadian yang kualami biar saja menjadi rahasiaku.