"What the hell? Ada apa Bang yang terjadi sekarang ini?! Padahal ngitungin waktu kita bercinta aja dah ngabisin berjam-jam! Tapi ini waktunya gak berubah!"
"Kita harus chek out dari hotel ini besok pagi."
"Baik," kata Mayi sambil mengangguk.
Dua jam kemudian.
"Yi, Abang gak bisa tidur nih ...."
"Sama Bang, Mayi juga gak bisa tidur mikirin keanehan jam di kamar ini, takut ada hantunya."
Mayi bangun dari tidur dan duduk di ranjang. Saat ia bangun, Layi secara tidak sengaja melihat tato ular. Seketika, Layi serasa kesurupan, hasratnya kembali bangkit.
Mayi menggigit bibirnya karena tiba-tiba tangan Layi mencubit lembut bagian ujung s.u.s.u kirinya.
"Hujan sudah reda Bang, jangan kau buat deras lagi dengan kenakalanmu," kata Mayi dengan suara parau seraya tangannya mengelus pipi Layi.
"Tadi hujannya deras sekali, ya?"
"Iya, tapi lebih deras lagi karena kemesraanmu."
"Oh, ya? beneran?"
Mayi mengangguk dengan bangga. Hal selanjutnya yang terjadi adalah main cinta-cintaan beneran antara keduanya. Saling menggigit dan mengusap dan gerakan variasi layaknya atlet gulat dengan banyak gerakan di ring gulat.
Keesokan harinya, keduanya bangun dan bersiap-siap untuk chek out.
Keduanya berjalan ke luar kamar dan tidak melihat siapapun bahkan resepsionis wanita yang biasanya ada di depan kini menghilang entah ke mana.
"Ke mana yah kira-kira resepsionis itu pergi? kita jadi gak bisa chek out kalo kayak gini."
"Kita tunggu aja bentar Bang, mungkin dia lagi di kamar mandi."
Keduanya akhirnya menunggu dengan duduk di bangku.
Satu menit, dua menit, tiga menit, sepuluh menit. Si resepsionis tidak muncul.
11 menit, 15 menit, 20 menit, masih belum muncul juga.
"Kok, lama sekali datangnya? Emang gak ada yang gantiin apa si resepsionisnya? Masa iya hotel kayak gak ada yang jagain gara-gara gak ada pegawai lain? Ini hotel melati gak ada kokinya, gak ada satpamnya, gak ada cleaning service-nya, gak ada OB dan gak ada siapapun selain si resepsionis. Ini hotel aneh."
"Mungkin hotelnya hotel hantu Bang, jadi gak perlu ada banyak yang jagain, cukup seorang saja."
"Kalo ini hotel hantu, kok, kita masih hidup aja sampe sekarang?"
"Mungkin karena mereka takut sama aku, aku kan cantik, hantu takut sama wanita cantik." Kata Mayi sambil berkedip mata pada Layi.
Layi mencubit hidung Mayi, "Kamu ini, justru hantu doyannya ma yang cantik-cantik."
"Bang, kalo ini misalnya hotel berhantu, dan kita tersesat di sini selamanya, dan tak bisa keluar dari sini kecuali mati, apa saat Abang jadi hantu nanti Abang akan tetap bersamaku?"
"Jangan bicara seperti itu! kita akan tetap hidup dan keluar dari hotel ini!"
"Tapi Bang, aku telah jatuh cinta padamu, aku ingin jaminan darimu."
"Jaminan apa sih? kok, pake jaminan-jaminan segala?"
"Jaminan kalo Abang akan selamanya selalu mencintaiku dan akan selalu berada di sisiku."
Layi, "..."
"Kau tahu Bang, aku tidak bisa hidup tanpamu lagi, aku tipe yang egois yang selalu ingin disayang dan dicintai oleh pria yang aku cintai."
"Aku juga cinta kamu Mayi."
"Bang, kalo kita celaka di sini, aku tidak ingin kau tinggalkan Bang. Aku ingin selalu bersamamu baik hidup atau mati! Maukah kau membawaku bersamamu ke mana pun kau pergi?!"
"Kau tahu Mayi ... Sejak kita masuk ke hotel ini bersama dan melakukan itu berulang kali, aku sudah memutuskan untuk bertanggung jawab dan memutuskan menjagamu di sisiku dan melamarmu setelah kita keluar dari sini. Aku telah jatuh cinta padamu Mayi."
"Bang, benarkah itu?! Benar itu Layi ...?!"
"Lebih dari benar, Mayi ...! Kau akan tahu kesungguhanku saat kita keluar dari sini dan kembali ke Jakarta. Di sana aku akan secepatnya menyiapkan lamaran untukmu."
Sementara mereka berucap janji-janji cinta, cuaca di luar tiba-tiba menjadi gelap dan mendung, seolah akan turun hujan.
"Lho, kok, tiba-tiba jadi gelap cuaca di luar Yi?"
"Entahlah Bang, perubahannya terlalu mendadak dan terlalu cepat, hampir seperti sihir."
Layi berjalan ke dekat jendela dan melihat keluar. Langit mendung dan gelap, dan ada kabut yang tiba-tiba muncul di halaman hotel yang menghalangi pandangan.
"Lho, kok, tiba-tiba muncul kabut? Kabutnya tebal sekali sampe guwa gak bisa liat apapun yang ada di luar?!"
Gelegar! petir!
"Akh, petir! Ngagetin aja tiba-tiba muncul kayak hantu!" teriak Layi!
"Bang, aku agak takut ma petir! Bisa gak kamu ke sini?"
Layi menghampiri Mayi dan memeluknya.
"Sebaiknya kita kembali ke kamar, cuaca buruk seperti ini kita gak bisa ngapa-ngapain meski kita keluar sekarang pun. Jadi lebih baik kita istirahat lagi di kamar, semalam hanya tidur sebentar gara-gara kelamaan maen penganten-pengantenan."
"Gombal, tapi alasannya masuk akal juga."
Layi membawa Mayi ke kamar. Tepat saat mereka akan melangkah si resepsionis muncul menyapa.
"Halo, Pak, apa ada yang bisa saya bantu? Mau pesan makanan?"
"Ya, pesan dua nasi uduk pake fried chicken, minumnya jus timun suri sama jus terong belanda. Kirimin ke kamar, ya."
"Baik, Tuan."
Layi lalu langsung membawa Mayi ke kamarnya.
"Hujan gini enaknya ngapain yah ...? Oh, iya, ada Tv di kamar, 10 hari nginep di sini lum sempet guwa nyalain tuh Tv."
Layi menyalakan Tv dan menonton berita di Indosiar.
"Halo pemirsa, kami menerima berita kecelakaan maut yang telah menewaskan lebih dari 100 orang. Reporter kami Bubun Noer Amy ada di tempat kejadian, mari kita dengarkan laporan dari tempat kejadian."
Layar beralih ke tempat perkara, seorang reporter wanita dengan rambut pendek dan terlihat tomboi muncul di layar.
"Iya, terimakasih Mas Sudrun di studio Indosiar di sana."
"Pemirsa, kami saat ini ada di lokasi kecelakaan maut yang menewaskan 100 orang lebih. Saat ini kami akan mewawancarai salah satu saksi mata yang ada di tempat kejadian."
Reporter wanita melirik ke samping, dan mewawancarai seorang pria tua berumur 40 tahun.
"Pak, boleh tahu siapa namanya, Pak? Bagaimana kecelakaan maut ini berawal?"
Reporter wanita menyerahkan mix pada pria itu.
"Nama saya Vitnah, pake V bukan F ya ...."
"Iya, Pak Vitnah, boleh diceritakan kronologi kecelakaan maut ini terjadi?"
"Apa saya bakal dapat uang?"
Reporter wanita mendecakkan lidah dan tak bisa berkata-kata dengan pertanyaan saksi kejadian, tapi ia masih menganggukkan kepalanya.
Pak Vitnah lalu mengarang kronologi kejadian.
"Sebuah mobil Maserati muncul dari belokan dengan ngebut tanpa menyalakan lampu sen dan tanpa menekan tombol apa itu namanya yah ... ya, sebut saja tombol tidid-tidid."
"Karena ngebut di belokan, wajar saja kalo terjadi tabrakan. Itu si pengemudi mobil Maserati bener-bener bego gak ketulungan! Ngebut kok di belokan?!"
"Mobil Maserati Akhirnya bertabrakan dengan mobil Toyota Agya dan akhirnya hancur dah hancur pastinya!"
"Trus, mobil bus pariwisata bertingkat yang ada di belakang mobil Toyota berusaha mengerem dan menghindari menabrak mobil di depan sambil akselerasi ke samping. Tapi ya itu ... malah jatuh ke jurang. Apes bener dah, padahal tuh bus ada banyak orangnya. Bus penuh muat 100 orang lebih, pada mati semuanya! Bener-bener sialan tuh si pengemudi Maserati sialan!"
Si saksi berhenti sejenak sambil mendesah dengan wajah memerah marah seolah ingin memukul penagih pinjaman uang. Napasnya dipercepat seolah ia sangat emosional. Reporter wanita dan kerumunan yang menyaksikan cerita si bapak juga terbawa emosi dan mulai merasa ikut marah.
Tapi suasana hati mereka langsung berubah saat si Pak Vitnah mengatakan kata-kata selanjutnya.
"Ngomong-ngomong, berapa uang jajan saya dari memberikan kesaksian?"
Reporter wanita, "..."
Kerumunan, "..."
"Ayolah, jangan pelit-pelit ngasih duit! Saya sudah berakting dengan baik, saya harus memasang wajah yang emosional! Saya harus menampar wajah saya hingga merah agar terlihat sedang marah, itu sakit! Ada pepatah yang mengatakan seorang aktor yang berdedikasi itu harus dibayar mahal!"
Reporter wanita langsung mengambil mix dari Pak Vitnah dan menatap kamera lalu berkata, "Pemirsa demikian laporan terbaru dari tempat kejadian kecelakaan maut. Iya, Mas Sudrun dan Mbak Bubun di sana silahkan lanjutkan."
Layar beralih ke pembawa berita di studio Indosiar.
"Iya, sangat mengerikan sekali kecelakaan maut ini yang menewaskan 100 orang lebih. Kami dari pihak Indosiar turut berbela sungkawa semoga keluarga korban diberikan kekuatan dan ketabahan."
Pembawa acara di sebelah Sudrun juga turut berkomentar.
"Inilah sebabnya sebaiknya jangan ngebut saat berkendara. Karena keselamatan Anda bukan hanya yang Anda pertaruhkan, tapi juga keselamatan orang lain juga."
"Kami mengakhiri berita kami hari ini. Saya Bubun Embun Malam."
"Saya Sudrun Azzura."
"Kami mohon pamit, Selamat akhir pekan dan salam Indosiar."
Layi langsung mematikan berita. Berita ini adalah titik sakit hatinya. Kakaknya adalah pengemudi mobil Maserati, penyebab kecelakaan maut.
Kakaknya Penyebab dari keluarganya kehilangan harta bendanya yang akhirnya menjadi miskin dan Ayahnya bunuh diri karena tidak sanggup menanggung beban.
"Bang, kamu baik-baik aja? Kok, jadi murung setelah dengerin berita?"
"Gak apa-apa kok, Yang."
"Beneran, Bang?"
"Sebenarnya pengemudi Maserati yang ada di berita adalah kakakku ...."
Mayi, "..."
"Keluarga kami jadi bangkrut untuk membayar uang kompensasi pada anggota keluarga korban meninggal. Triliunan rupiah kami hasil jerih payah ayah saya selama sisa hidupnya ludes begitu saja."
"Kehilangan kekayaan kamu adalah satu hal. Tapi ayah bunuh diri setelahnya karena tidak bisa menanggung beban dan cibiran dari orang-orang."
"Aku harus hidup sebatang kara saat usiaku 17 tahun. Aku dibully di sekolah karena kejadian itu, mereka menyebutku keluarganya di pembunuh. Aku pindah sekolah karena tak tahan Bullyan pada akhirnya."
"Sekolah sambil kerja sampe jam 12 malam setiap harinya untuk melanjutkan biaya sekolah dan biaya hidup. Hidupku seperti rollercoaster. Aku benci kakakku yang menjadi penyebab semua ini."
"Hidupmu pasti berat Bang pada waktu itu ...."
"Iya, sangat berat dan sangat frustasi. Tapi aku masih hidup pada akhirnya dan berhasil dalam karirku dan bisa membeli rumah dan mobil impianku pada akhirnya."
"Itu bagus," kata Mayi.
"Lantas, apa kamu datang ke Banyuwangi karena ingin ziarah ke makam ayah dan kakakmu?" tanya Mayi.
"Iya, aku sudah lama gak ziarah ke makam ayah, ibu, dan kakakku yang sudah aku ikhlaskan dan maafkan."
"Itu bagus jika kamu memaafkan, setelah semua jika kakakmu tahu bakal kejadian kecelakaan maut, aku yakin kakakmu tidak akan ngebut, dan tidak ingin hal seperti kecelakaan itu terjadi. Yang lalu biarlah berlalu."
"Kamu benar, itulah sebabnya aku memaafkan kakakku. Berjiwa besar, ikhlas, dan memaafkan adalah apa yang diajarkan Almarhum kakek dan nenekku."
Huh ...! Layi membuang napas.
"Tapi meskipun aku sudah ikhlas, arwah para korban belum pada tenang. Mereka menjadi arwah penasaran yang bergentayangan di jalanan tempat kejadian!"
Tok! tok! suara ketukan pintu.
"Masuk!"
Si Resepsionis masuk membawa dua porsi nasi uduk fried chicken plus dua jus.
"Pesanannya, Pak."
"Silahkan taro di meja saja."
Si resepsionis menaruh makanan di meja lalu keluar.
Saat si resepsionis keluar dari kamar setelah mengantarkan makanan, tanpa sepengetahuan Layi, warna matanya berubah menjadi merah dan taring muncul di mulutnya. Kuku jarinya memanjang, dan lidahnya terulur keluar seperti lidah ular.
Rambutnya berubah menjadi putih dan wajahnya menjadi banyak kerutan layaknya nenek berusia 1.000 tahun. Juga, ia tidak berjalan kaki, tapi mengambang 10 Cm dari permukaaan lantai.
Si resepsionis ternyata adalah arwah penasaran!!
Layi dan Mayi makan di kamar. Setelah makan, keduanya bercinta sejenak lalu tertidur. Karena hujan, mereka terpaksa menginap sehari lagi.
Waktu berlalu, cuaca di luar gelap, sepertinya telah menjadi malam.
Tok! tok! suara ketukan pintu.
Layi terbangun, dan mengeluh karena tidurnya diganggu.
Ia berjalan ke pintu dan membuka pintu. Tapi saat pintu dibuka, tidak ada seorang pun ....
Layi segera menutup pintu. Kesal karena lagi-lagi ada yang ngerjain.
Saat ia akan berjalan kembali ke kasur, suara ketukan kembali terdengar.
Tok! tok! tok!
"Siapa?!" teriak Layi, kesal.
Layi membuka pintu dan hantu dengan tatapan maut dan mata merah adalah apa yang dilihatnya.
Layi panik, saat ia akan berlari si hantu wanita mencekik lehernya.
Layi memberontak memegang tangan yang mencekiknya dengan kedua tangannya berusaha membebaskan diri. Tapi tangan si hantu terlalu kuat sehingga Layi tidak bisa melepaskan diri.
Layi kesulitan bernapas, dan saat ia akan kehilangan kesadaran, hantu wanita melepaskan cekikkannya.
Layi yang telah terlepas, mengingat Mayi dan berlari ke arahnya hendak membangunkannya. Tapi saat ia berlari, lidah si hantu memanjang menuju kaki Layi dan mengikat kedua kaki Layi dengan lidah merahnya.
Layi berteriak dan berusaha membangunkan Mayi.
"Mayi, bangun! bangun!!"
Mayi tidak bangun seolah ia tidak bisa mendengar.
Lidah si hantu bergerak dan melempar Layi ke atap kamar.
Buk!
"Akh!"
Layi berteriak kesakitan karena badannya dibanting ke atap oleh si hantu.
Hantu wanita melepaskan lidahnya yang mengikat kaki Layi.
Layi yang terlepas dari ikatan lidah si hantu, berusaha berdiri.
Saat Layi akan berdiri dan bersiap untuk kabur, Hantu wanita mencekik lehernya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menjambak rambut bagian belakang kepala Layi sehingga kepala Layi miring ke samping.
Hantu wanita membuka mulutnya, dan dengan kedua taringnya ia menggigit leher Layi dan menghisap darahnya.
Layi berusaha mencoba melepaskan diri, tapi tenaganya terlalu lemah dibanding si hantu sehingga ia tidak bisa melepaskan diri.
Lambat lain Layi mulai serasa pusing melemas karena kekurangan darah.
Lalu kemudian ... Layi terkapar di lantai dan mati!
"Bang, bangun Bang!"
"Akh!" Layi terbangun sambil berteriak!
"Bang, kenapa? mimpi buruk??"
Huft! Layi menarik napas.
"Bang?"
"Iya, mimpi buruk."
Layi ngos-ngosan bernapas cepat, keringat mencucur dari dahinya dan jatuh melalui wajahnya membasahi pakaiannya.
"Mimpi itu serasa nyata!"
"Mimpi apa Bang?"
"Mimpi si resepsionis jadi hantu dan menggigit leherku hingga mati!"
"Hanya mimpi Bang, gak usah dipikirin, ayo, lebih baik tidur lagi ...."
"Tapi mimpi itu serasa nyata sekali! Gimana kalo si resepsionis itu sebenarnya adalah hati sungguhan?!"
Mayi menepuk dan mengelus punggung Layi dan berusaha menenangkannya.
"Gak usah dipikirin Bang, besok juga kita akan chek out, kan?"
Setelah hening beberapa saat, Layi mengangguk, "Iya ....."
Mayi mengambil air minum dan memberikannya pada Layi.
"Minum dulu Bang."
Layi minum dan setelah ngobrol sebentar dengan Mayi, berkat bujukan Mayi, keduanya lalu kembali tertidur.
Tapi tak lama kemudian, sesuatu yang keras terjatuh di lantai di depan pintu kamar mereka.
?!!
Layi dan Mayi bangun dan saat Mayi hendak turun dari kasur untuk membukakan pintu, tangan Layi memegang pakaian di sisi kiri badannya.
Mayi menoleh seolah tatapannya bertanya, 'Apa?'
"Jangan dibuka ... Itu hantu!"
"Oalah Bang, pengen tahu itu yang jatuh tadi apaan, mungkin bukan hantu."
"Tapi ...."
Mayi langsung turun dari kasur, dan berjalan ke arah pintu.
Saat pintu dibuka, ada karung tepung cap segitiga di lantai di depan pintu.
"Kenapa ada karung tepung di depan pintu? Ini aneh ...."
Layi terus memandang dari kejauhan, saat mendengar kata karung tepung, ia tertegun awalnya karena tak mengerti. Tapi langsung memikirkan sesuatu setelahnya.
"Itu mungkin ditaruh oleh hantu Yi! Karung tepung itu!" teriak Layi.
Mayi menoleh ke belakang, lalu berkata. "Sepertinya begitu Bang. Mungkin hantu penunggu hotel ini lagi bosen haha."
"Kok, ketawa, kalo hantu beneran gimana?"
"Ya, gak usah takut Bang. Selama ada saya, Abang aman gak bakal ada hantu yang bakalan ngambil Abang dari Mayi."
"Akh, ini bukan waktunya menggombal!"
Tak lama kemudian, suara langkah kaki datang ke arah kamar mereka. Itu adalah si resepsionis wanita.
"Maaf, tadi pegawai yang bawa tepung terjatuh di sini sampai ninggalin tepung di lantai karena kakinya keseleo."
"Oh, jadi begitu," kata Mayi.
"Saya akan ambil karung tepungnya, mau saya bawa ke dapur."
"... mau saya bantu angkatin tepungnya?"
"Tidak perlu Kak, saya bisa sendiri. Lagian tepung 25 Kg serasa ringan."
"... baiklah kalau begitu."
Si resepsionis mengangkat karung tepung dengan tangan kirinya. Ya, ia hanya perlu satu tangan untuk mengangkatnya. Kemudian ia meletakkan karung itu di atas kepalanya sebelum melangkah pergi.
Mayi dan Layi: "..." apa yang baru saya saksikan?
"Mayi, itu tadi dia beneran naro tepung di kepala?Apa mata saya yang salah liat, ya?"
"Gak salah liat Bang, itu emang di taro di atas kepala."
"Kenapa di kepala? Bukannya tar rambut kepalanya jadi putih gara-gara tepung?"
"Ya, gak tahu Bang. Mungkin dia memang seperti itu orangnya. Tiap orang unik, Bang."
"Ya ... betul juga."
Layi dan Mayi kembali berbaring di kasur tidur. Hanya saja, karena dua kali dibangunkan di tengah tidur baik itu lewat mimpi ataupun suara tepung jatuh di depan kamar, keduanya tak bisa tidur lagi dan akhirnya begadang sampe pagi.
Saat Pagi hari, keduanya keluar untuk chek out dari hotel. Tapi saat melihat pemandangan di luar jendela di lantai bawah, keduanya melihat tiba-tiba langit yang sedikit cerah karena sinar matahari pagi tiba-tiba menjadi gelap dan cahaya bintang-bintang di langit bersinar terang disertai bulan purnama yang bersinar terang namun membawa perasaan mistik.
"Lho, kok tiba-tiba jadi malem? Apa kita yang keluarnya terlalu awal yah?"
"Sepertinya ini memang masih malam Bang, belum pagi. Ayo kita masuk ke kamar lagi."
Dengan enggan Layi akhirnya mengikuti Mati kembali ke dalam kamar.
"Pagi sepertinya masih lama Bang, enaknya ngapain yah? Soalnya gak bisa tidur juga nih ...."
"Kita maen kuda lumping aja yuk di kasur? Mumpung hari terakhir sebelum chek out."
"Ngeres!"
Meskipun Mayi bilang ngeres, tapi sebenarnya ia menantikan juga. Keduanya bergumul selama beberapa ronde. (adegan di skip) Saat Layi kelelahan, ia melihat tato ular piton bersinar dan kelelahan Layi sirna diganti dengan semangat membara dan gairah baru yang tak bisa ditahan layaknya anggur yang memabukkan dimana kadar kemabukkannya tak bisa dikontrol.
Keduanya akhirnya bercinta selama 16 jam tanpa henti. Begitu selesai, keduanya tepar berbaring seperti kebo dengan posisi Mayi menjadikan lengan Layi sebagai bantalan.
Keduanya sepertinya melewati pagi hari dan harus menginap semalam lagi di hotel.
"Bang, kita nginep sehari lagi jadinya?"
"Ya, mau gimana lagi? Kita terlalu bersemangat mainnya haha."
_____________
Sekian hari kemudian.
"Bang, kita dah nginep di hotel ini selama sebulan, kapan kita chek out-nya?"
"Secepatnya! Abang cuman cuti dua minggu, sekarang malah dah sebulan ... Itu artinya saya dah bolos kerja selama dua minggu! Mungkin pas kembali ke Jakarta saya bakalan langsung dipecat ...."
"Ya, Bang, gak baik juga terus menerus di sini. Ini bukan tempat yang baik buat tinggal manusia."
"Emang kamu bukan manusia?"
"Saya wanita Bang."
"Tapi guwa heran tiap mau chek out ada aja yang terjadi kayak masih gelap atau malem, tiba-tiba hujan gede pas mau chek out, atau lupa kebablasan bangun tidurnya, terutama ... kebablasan gara-gara maen kuda lumping setiap hari haha."
"Ya, jadi gimana pengalamannya Bang di hotel ini?"
"Ada sedihnya dan seremnya, tapi ada super enaknya soalnya ada kamu yang selalu nemenin."
"Bang, Abang beneran cinta ma aku, kan?"
"Pastinya!"
"Bang, kalo misalnya aku gak bisa hamil, apa Abang masih akan mencintaiku?"
"Tentunya 100% pasti selalu mencintaimu! Tapi emang kenapa gak bisa hamil?"
"Ya, kan, dua makhluk berbeda gak bisa hamil Bang meskipun kawin ribuan kali?"
"Eh, emangnya kamu makhluk apaan? jin?"
"Saya wanita Bang ...."
"Nah, tuh tahu wanita."
Huh! Layi mengeluarkan napas dalam.
"Kamu gak usah khawatir, kamu masih 18 tahun, gak usah mikirin hamil segala, karena umurmu masih muda, jadi Abang juga gak mau kamu hamil muda, terlalu beresiko untuk keselamatan nyawamu saat lahirannya."
"Tapi gimana Bang misalnya setelah 10 - 20 tahun hidup dengan Abang tapi saya tetap enggak hamil?"
"Tidak masalah, karena aku cinta kamu apa adanya. Lagian dunia ini dah penuh sesak ma orang-orang. Tar kalau nambah anak lagi di masa depan manusia bakalan kekurangan makanan!"
"Aku seneng dengernya Bang ...."
Layi mengelus rambut kepala Mayi dengan keras.
"Akh! Abang ngelusnya terlalu keras! Sakit tahu Bang!"
"Iya, iya, maaf dech Yang ...."
"Yuk, tidur, besok kita chek out."
"Tapi sebelum tidur ... kita maen beberapa ronde yuk?" kata Layi sambil berkedip mata sebelah.
"Jangan Bang, besok kita harus chek out, tar kebablasan lagi!"
"Iya, dech, kita nahan diri dulu malam ini."
Saat tertidur, Layi tiba-tiba bermimpi. Mimpi buruk!
Ia bermimpi bahwa keesokan harinya saat chek out, si resepsionis meminta bayaran hal lain dan menolak bayaran berupa uang.
"Lho, kok gak bisa bayar pake kartu ATM?"
"Iya, Pak, soalnya gak ada mesin EDC-nya di sini."
"Ya, udah, kalo gituh saya bayar pake uang cash! berapa totalnya?"
"Maaf Pak, kami juga tidak menerima pembayaran berupa uang cash."
"Lho, kok, gak bisa bayar pake uang??! Emangnya ini hotel apaan??! Trus saya bayarnya pake apaan?? Pake keperjakaan saya??!!"
"Hotel di sini memang tidak menerima pembayaran berupa uang Pak, soal hotel apa ini? Ini adalah hotel kelas melati yang hanya menyediakan layanan pada hantu dan orang yang masuk. Juga untuk pembayaran kami tidak menerima pembayaran dengan keperjakaan, apalagi si Bapak dah gak perjaka, mana saya mau haha."
"Apa tadi?! Hotel hanya menyediakan layanan pada hantu dan orang yang masuk? Emangnya ada pelanggan hantunya di sini."
"Ada Pak, bukannya tiap hari Bapak juga di temenin hantu di sini."
Resepsionis wanita tersenyum, sementara Layi jadi merinding.
'Ukh! Apa maksudnya ditemenin hantu tiap hari?' pikir Layi dalam hati.
"Jadi, untuk membayar biaya nginep di hotel ini saya harus bayar pake apa?"
"Ada tiga opsi pembayaran Pak. Pertama, si Bapak tidak perlu chek out dan terus menginap di hotel ini selamanya sampe tua dan mati. Kedua, si Bapak bisa bayar pake nyawa keluarga bapak, sayangnya si Bapak anak yatim piatu dan belum berumah tangga, jadi si Bapak gak bisa bayar pake nyawa orang keluarganya."
"Dan opsi ketiga, si Bapak bisa bayar dengan nyawamu sendiri. Si Bapak saya bunuh dan jadi hantu penunggu di hotel ini sama kayak saya dan yang lainnya ...!"
"-A -apa yang kamu bicarakan?"
"Saya sudah berbicara dengan jelas, hotel ini adalah hotel berhantu dan hanya menerima pembayaran dengan nyawa customernya."
Layi memiliki firasat buruk, dia mundur 3 langkah.
Dan benar saja si resepsionis tiba-tiba tertawa cekikikan.
"Hi hi hi"
Suara tawa si resepsionis yang mengerikan dengan suara yang tidak enak didengar kayaknya suara Kunti!
Warna matanya berubah menjadi merah dan taring muncul di mulutnya. Kuku jarinya memanjang, dan lidahnya terulur keluar seperti lidah ular.
Rambutnya berubah menjadi putih dan wajahnya menjadi banyak kerutan layaknya nenek berusia 1.000 tahun. Juga, ia tidak berjalan kaki, tapi mengambang di udara.
Si resepsionis ternyata adalah arwah penasaran!!
"K- kamu- kamu sebenarnya hantu!"
"Benar. Hi hi hi! Ayo kalian para penghuni hotel silahkan keluar!"
Satu persatu berbagai arwah penasaran tiba-tiba muncul di ruangan dan mengepung Layi.
Layi ketakutan dan tak tahu harus lari kemana. Dia dikelilingi sosok-sosok mengerikan seperti pocong dengan wajah hijau, kuntilanak, hantu kepala buntung dengan kepala di tangannya, sundel bolong, tuyul, dan hantu-hantu lainnya.
Tangan-tangan hantu memegang baju dan berusaha meraih setiap bagian daging dari Layi seolah dia adalah makanan!
Layi memberontak dan berusaha menerobos pengepungan.
Setelah usaha keras sekuat tenaga, Layi berhasil membebaskan diri dari pengepungan dengan luka di sekujur tubuhnya. Kebanyakan adalah luka akibat cakaran kuku tajam dari hantu, dan sebagian karena gigitan pada dagingnya yang menyebabkan sekujur tubuh Layi dipenuhi darah.
Layi lari lewat tangga naik ke kamarnya, tapi bajunya di terkam oleh salah satu hantu!
Layi mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga dan berhasil lepas meskipun pakaiannya harus tertinggal di tangan si hantu karena robek!
Layi lari di tangga dan para hantu mengikutinya.
Layi menggenggam gagang pintu tapi pintu tak mau terbuka!
"Sialan! Kenapa tak mau terbuka?!!"
Pada akhirnya para hantu menyusul dan menangkap Layi. Layi tak bisa lolos dari Kematian pada akhirnya.
"Huft! huh ...! huh ...!"
Layi terbangun dari mimpinya, napasnya berat dan sekujur tubuhnya penuh dengan keringat.
Merasakan Layi yang terbangun, Mayi membuka matanya.
"Bang, kamu mimpi buruk?!"
Layi menatap Mayi yang duduk di sampingnya.
"Iya! Mimpi buruk dikepung arwah-arwah penunggu hotel ini!"
"... untungnya cuman mimpi."
"Ada sesuatu yang salah tentang hotel ini! Kita sebaiknya chek out sekarang juga!"
"Tapi sekarang masih malam Bang, apa gak apa-apa? Malam-malam begini di luar mungkin ada begal Bang, kalau kita kenapa-kenapa nantinya gimana Bang?"
"Kalau begitu kita chek out nanti pas jam 5 pagi saja, gak usah nunggu matahari terbit segala!"
"Iya, Bang, terserah kamu saja."
"Ini hotel apaan sih? Jam gak ada yang bener, karyawan cuman satu. Sinyal HP gak pernah muncul! Masa iya bangun hotel di tempat yang gak ada sinyalnya?? Nama hotel ini apa sih?!"
"Nama hotel ini hotel Tiren Bang."
"Tiren? Singkatan dari mati kemaren??!"
"Mungkin ...."
"Benar saja! Gak ada yang bagus soal hotel ini! Ini dipastikan hotel berhantu!!"
"Kita harus pergi sekarang juga!"
Layi mengganti piyama hotel dengan baju yang ia kenakan, begitu juga Mayi.
Keduanya segera keluar dari kamar menuruni tangga dengan hati-hati agar tidak ketahuan si resepsionis saat melangkah keluar.
Begitu turun di lantai bawah, mereka berdua tidak melihat si resepsionis yang biasanya berjaga dan duduk di kursi chek in.
"Untung wanita itu gak ada! Kita bisa langsung pergi!"
Saat mereka menyentuh pintu keluar, tiba-tiba suara menegur terdengar dari belakang.
"Mau kemana kamu?! Kamu harus bayar dulu sebelum pergi!"
Layi dan Mayi berhenti melangkah, mereka berdua berbalik dan melihat si resepsionis dengan wajah marah sambil tangannya terlipat di dadanya.
"Kami tidak bermaksud pergi tanpa membayar. Berapa biaya menginap di hotel ini?!"
"Kamu bisa membayarnya dengan nyawamu!"
"Hi hi hi."
Suara tawa si resepsionis yang mengerikan dengan suara yang tidak enak didengar karena mirip suara Kunti!
Warna matanya berubah menjadi merah dan taring muncul di mulutnya. Kuku jarinya memanjang, dan lidahnya terulur keluar seperti lidah ular.
Rambutnya berubah menjadi putih dan wajahnya menjadi banyak kerutan layaknya nenek berusia 1.000 tahun. Juga, ia tidak berjalan kaki, tapi mengambang di udara.
Tiba-tiba sosok-sosok lain yang mengerikan bermunculan di hadapan Layi dan Mayi!
Mereka adalah sosok-sosok yang dilihat Layi dalam mimpinya!
"Mereka adalah orang-orang yang tersesat dan masuk ke hotel ini. Dan mereka telah membayarnya dengan nyawa mereka."
"Hi hi hi, Kamu juga Layi, harus membayarnya dengan nyawamu karena telah berani menginap di hotel ini! Mati dan jadilah penunggu hotel ini sama seperti mereka! Hi hi hi!"
Layi menggenggam tangan Mayi dan lari kabur ke luar hotel menuju mobilnya.
"Kejar Pria itu!" perintah si resepsionis dengan suara yang serak!
Para hantu berlari dan terbang mengejar Layi dan Mayi!
Layi berlari dan membuka mobilnya dan langsung masuk ke kursi pengemudi. Sementara Mayi duduk di sampingnya.
"Sial! Kenapa mobilnya gak mau nyala?!"
Layi tidak putus asa, dan terus menekan tombol starter.
Sementara itu para hantu datang dan mengepung mobil.
Para hantu menggedor pintu, kaca, dan badan mobil dengan tangan mereka.
Salah satu kaca mulai retak!
Mobil mulai menyala.
kaca mobil di bagian lain mulai retak!
Salah satu tangan hantu masuk ke dalam mobil melalui kaca yang retak!
Mobil mulai melaju meninggalkan pengepungan hantu termasuk menjatuhkan hantu yang salah satu tangannya dah terlanjur masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju tak tentu arah, karena dalam pikiran Layi hanya satu yaitu sejauh mungkin menjauh dari hotel angker itu.
Meskipun para hantu tak sanggup mengejar, pikiran Layi tetap tidak tenang.
"Bang, pelankan laju mobilnya, mereka dah gak bisa ngejar lagi!"
"Gak bisa, kita harus memastikan sejauh mungkin agar benar-benar aman!"
Mobil terus melaju dengan cepat! Mayi mulai was was takut terjadi sesuatu pada Layi!
"Bang, aku takut kamu akan mati menabrak sesuatu kalau kamu secepat ini mengemudinya!"
Tapi perkataan Mayi tidak didengar Layi yang ketakutan.
"Sejauh mungkin! Sejauh mungkin!"
"Bang, tenang Bang!"
"Sejauh mungkin! Sejauh mungkin dari hotel!"
Mayi mendadak mencium pipi Layi untuk menenangkannya, Layi mendapatkan sedikit ketenangannya meskipun masih panik.
"Kamu harus janji kalau kamu selamat ataupun gak selamat kamu harus selalu bersamaku Bang!"
"Aku janji Mayi!"
"Bang, aku ingin selalu bersamamu, aku ingin kita mati berdua agar kita selalu bisa bersama selamanya. Tapi aku tidak bisa egois, aku akan menunggumu sambil terus mengawasimu!"
"Bang, ada jurang di depan, pelankan kecepatannya!"
Cahaya terang tiba-tiba bersinar di depan menghalangi penglihatan Layi karena terlalu menyilaukan. Dan akhirnya ...!
Gubrak!! Mobil jatuh ke jurang! Layi dan Mayi mati.
[The End]