“Alin!“ Si Alien berteriak-teriak, panik, seakan tengah menghadapi suatu hal yang sangat merisaukan hati saja. Ada yang membuat batin nya gundah gulana.
“Hah?“ ujar Alin tak paham. Dia hanya menatap dengan sayu.
“Ngapain lu?“ tanya sang Alien.
“Enggak ngapa – ngapain,“ jawab Alin sembari tangan nya asyik memegang HP. Sejenak dia tatap mahluk mengerikan yang hanya dia yang sanggup berkomunikasi.
“Kau otak-atik alat komunikasi di dalam pesawat ini kah?“ tanya Alien lagi. Rasa-rasanya posisi awal tak begitu, namun kini seakan berubah. Sedangkan pemberitaan di luar sana juga sedang heboh.
“Tidak. Sedari tadi aku main HP saja,“ ujar Alin sembari memperlihatkan HP nya yang hanya SD 665 itu. Dia tunjukkan alat modern itu pada si penanya. Kalau benar dia tengah bermain hal yang mengasyikkan dan menjadi suatu alibi yang bisa melepaskan diri dari tuduhan.
“Tapi bocor ini,“ ujar Alien masih berang.
“Lo….“
“Kau main dalam pesawat, terus terkirim sampai di rumah sana,“ ujar Alien sembari menunjuk ke atas. Dia yakin rumah nya ada di atas sana. Meskipun tak mengarah tepat di suatu titik. Karena atas bawah sekarang rancu. Dan posisi di mana sebelum nya dia tinggal juga tak jelas. Asal main tunjuk saja. Jika datang nya dari atas sana.
“Wah aku tak tahu,“ kata Alin tak menyangka. Jika permainan mengasikkan menggunakan game on line itu ternyata berakibat buruk.
“Mereka menerima kabar tak mengenakkan.“
“Apa lagi ini?“ Alin semakin tak paham.
“Kau buka apa sih?“
“Ya biasa, makan cumi goreng sama main game FF,“ jelas Alin. Kembali dia memperlihatkan HP yang gambar-gambar nya masih jelas berupa masakan yang merah kehitaman dengan saos yang begitu berlumuran menghiasi daging-daging lezat tinggal santap itu.
“Terus....“ Si Alien mencoba melihat. “Waduh, gawat nih....“
“Kenapa?“
“Disana dikira kalian menyiksa alien – alien.“
“Ih begitu, lalu....“
“Mereka mau menginvasi bumi.“
“Wah gawat.“
“Mereka mau menyerang kemari. Tapi bakalan menyerang negeri romo Ginseng dulu.“
“Kenapa?“
“Soalnya, mereka memasak nya lezat dan suka makan cumi yang lezat, lalu mukbang dengan bumbu rempah yang khas, serta di masak menjadi suatu masakan merah menyala yang sangat menggoda selera, terus berantai hingga Negeri Aokigahara dan Tirai Bambu. Baru nyampai ke Negeri Berkabut ini,“ jelas Alien sembari menerangkan arah gerak kawan-kawan nya yang bakalan menjangkau lokasi mereka kali ini. Bagi mereka binatang menyeramkan namun enak itu di kira dahulu rekan mereka yang sudah mampu beradaptasi dengan dunia sehingga bisa bernafas lega dan dapat juga berkembang biak memenuhi bumi. Mereka mereka ini, para gurita dan cumi-cumi, termasuk ubur-ubur di lokasi mereka sangat banyak dan berkuasa. Sehingga bentuk tubuh mereka juga mirip. Ternyata di sini, cuma di siksa dan di makan sebagai kanibal yang mengerikan. Di potong-potong, di cincang habis, bahkan ada yang di tusuk dari belakang sampai tembus ke depan, yang akhirnya di buka bagian luar nya sampai polos begitu. Ini benar-benar satu motif yang sangat sensitif dan menjijikkan. Membuat rakyat di luar angkasa sana menjadi murka.
“Wah, gawat. Bakalan ramai sekali nanti. Di sini juga akan mengira ada invasi untuk kembali menjajah selama tiga setengah abad. Jadi bakalan ada perlawanan yang berarti. Gawat nya lagi, nanti kalau emak - emak pada ikutan marah bisa melempari musuh dengan piring itu.“
“Makanya itu. Bisa berakibat fatal ini. Padahal banyak sekali yang akan dating,“ terang Alien.
“Berapa?“
“Sekitar 13 wing.“
“Waduh.... Kita mesti mencegahnya.“
Alien segera mengambil telepon gagang yang ada di pesawat. Lalu mencoba menghubungkan nya dengan operator di satelit planet rumah nya.
“Hal... halo ini hanya kesalahpahaman saja,“ ujar Alien setelah merasa terhubung dengan planet nya. Dia kemudian memenjcet-mencet monitor yang seakan ada di muka nya itu, seraya memadang para alien di seberang sana yang jauh.
“Kau bicara apa sih? Cuma umak-umik. Ngomong Bahasa lidah lu,“ ujar Alin yang tak paham dengan kata-kata yang di ucapkan si Alien.
“Hus, ini telepati sama bahasa kami. Agar bisa saling komunkasi jarak jauh,“ terang Alien.
“Kirain, pakai sandi morse apa kode bendera biar mengerti.“
“Ya enggak.“
Setelah menunggu lumayan lama. Karena jarak memang sangat jauh. Sudah memakai ukuran tahun cahaya. Makanya mesti sabar.
“Akhirnya mereka bersedia mundur. Hanya tinggal tiga squadron saja yang informasinya keliru. Mereka tetap kemari, sudah terlanjur meluncur dan sulit di hubungi. Bahkan telah keluar dari atmosfir satelit planet kami.“
“Kalau begitu kita cegat mereka.“
“Satu orang tak bakalan kuat melawan mereka.“
Kemudian mereka saling berpikir. Bagaimana mencegah kekacauan ini.
“Kita cegat di asteroid itu. Jadi ada tempat bersembunyi.“ Akhir nya timbul gagasan cemerlang yang sekiranya mampu mencegat mereka sebelum masuk ke atmosfir bumi. Sebab kalau sudah masuk, mereka hanya bakalan diam dalam kapsul supaya tak ikut kepanasan akibat pesawat yang terbakar di lingkar luar atmosfer itu. Batu meteor saja bisa hancur, apalagi Cuma cumi-cumi, nanti bukan nya sampai ke bumi, malah jadi daging panggang yang lezat dengan saos yang tinggal tuang.
“Kalau mereka ketahuan sini, maka setiap negara bakalan mengirim pesawat mereka. Coba bayangkan berapa wing nanti yang bakal mencegat mereka. Kan bahaya, bakalan terjadi pertumpahan darah.“
“Ayo segera berangkat. Kita pakai gravitasi Mars agar gaya ketapel nya bisa melemparkan kita supaya lebih cepat, sehingga bisa menunggu mereka di asteroid. “
“Syukur-syukur masih ada komet atau exo planet yang melintas agar tenaganya bisa kita manfaatkan guna mempercepat pesawat.“
Merekapun berangkat. Mesin bekerja dengan ekstra berat kala mesti melawan grafitasi bumi yang masih berusaha menyedotnya dengan magnet yang sangat kuat. Untuk itulah seluruh mesin di kerahkan. Dan tenaga di pakai maksimal. Kalaupun bisa meluncur, itu terasa sangat pelan. Jangankan masuk ke lubang cacing, menuju ketapel planet saja sangat sulit. Bagaimana mau berpacu dengan waktu kalau begini.
Barulah setelah keluar dari atmosfer bumi, baru bisa menggerakkan mesin dengan sangat cepat. Tenaga nya bisa maksimal tanpa di hambat oleh grafitasi bumi serta atmosfer padat nya yang lumayan membakar.
Hingga tak berapa lama kemudian, pesawat mewah itu sampai di daerah penuh bebatuan angkasa.
“Nah kita tunggu disini.“
“Ini asteroid? Banyak sekali,“ ujar Alin yang tak menyangka jika di angkasa batu itu sangat banyak. Bagai butir-butir pasir di laut saja. Hanya sedikit besar-besar. Malah ada yang segede gajah bengkak.
“Iya, tapi bobot nya tak lebih dari sepertiga bulan. Dia hanya kecil-kecil saja.“
“Tapi banyak, lumayan buat bersembunyi. Sehingga pesawat kita seakan ada kamufase dengan batu-batu yang warnanya mirip jika berada di kegelapan ini.“
Disitu pesawat yang seperti piring namun bisa terbang itu berhenti. Sesekali menempel pada bebatuan asteroid yang bentuknya sedikit rata. Karena banyak diantaranya yang tak beraturan. Ada yang bopeng, ada juga yang runcing dengan sudut yang ekstrim. Jadi sulit buat pesawat mereka menempel dengan kokoh.
“Huh, sulit sekali menghubungi mereka. Hanya dua squadron yang berhasil dihubungi. Yang satu masih mencoba menginvasi kita. “
“Ayo segera kita cegat.“
Pesawat berusaha mendekati squadron terakhir itu.
“Wah gawat. Mereka mengira aku juga telah berkhianat. Jadi bakalan dikejar.“
Nampak dalam monitor yang transparan itu pimpinan musuh melotot dengan mata tajam nya seakan tak mau tahu.
“Wah, pesawat-pesawat itu menyerang kita.“
“Iyalah.“
Segera terjadi kejar-kejaran. Lalu tembak menembak. Dan akhirnya berusaha menghindar di sela-sela bebatuan yang melayang-layang itu.
“Ih, mereka mengejar.“
Pesawat itu terus memburu di belakang. Mereka menoba menghindarinya. Baik itu menelusup di sela bebatuan, atau mencoba berhimpit dengan bongkahan batu yang besar sekali.
“Gawat bersembunyi.“
Dengan cepat pesawat menelusup. Lalu di rem kuat.
Pesawat pengejar tak sanggup mengendalikan nya, untuk kemudian mendapati batu besar.
“Satu pesawat menabrak asteroid, pecah bersama.“
Sedikit tenang.
Namun....
“Ada lagi aku tumbuk saja asteroid itu.“
Pesawat di belakang nya terus menyusul. Batu asteroid yang lumayan besar kemudian di dorong dengan tenaga pesawat. Membuat batu itu menyimpang dari rotasi nya. Dan menurut dengan daya dorong pesawat. Sehingga meluncur dengan kencang.
“Huh.“
Batu terus meluncur.
Mendapati pesawat yang melaju kencang.
Hingga terjadi lah bencana.
Bum!
“Nah.“
“Ini baru dua. Masih ada setidaknya dua puluh,“ ujar Alien.
“Banyak nya.“
“Itulah yang mengerikan.“
Kembali pesawat berdiam di bebatuan besar. Berusaha menempel dan ikut laju mengitari matahari. Lalu Alien berusaha bicara dengan rombongan penyerbu itu.
“Aku terus berusaha bicara, agar mereka mau mengerti kalau ini Cuma kesalahpahaman semata.“
Pesawat terus meluncur. Dari satu asteroid ke asteroid yang lain, supaya bisa mengecoh pasukan lawan. Sayang sekali begitu banyak nya musuh membuat gerakan mereka semakin terjepis saja. Bebatuan itu kini seakan menjadi masalah kemudian kala tak bisa dilakukan dengan kecepatan maksimal, takut tertabrak. Hingga akhirnya datang satu cegatan pesawat musuh yang sama untuk kemudian melepaskan tembakan lazer nya. Dan berhasil mengenai badaan pesawat mereka.
“Waduh kita kena.”
Untuk sedikit mengelak. Jadi kuncian mereka, sedikit longgar dan hanya mengenai badan pesawat sisi tepi saja.
“Gawat, ayo cepat kembali.”
Tahu pesawat sudah rusak Alien segera manauver untuk semakin jauh dan meninggalkan kepungan musuh yang kawan sendiri itu.
“Entah bisa menjangkau daratan apa tidak ini. Gawat. Tapi kita coba. Nanti kalau di bumi, kita ganti komponen rusak itu dengan kanibalan yang sejenis. Atau kita pasang dengan pesawat jadul saja,“ ujar Alien dengan mencoba mengemudikan secara manual. Banyak kmponen yang mati. Serta beberapa bagian lain nya sudah mulai padam. Belum lagi nanti jika ada hambatan datang saat hendak masuk ke atmosfer. Dan setelah nya pada lapisan terbawah, kalau-kalau terjadi turbulene akibat cuaca yang terkadang tak menentu. Maka mereka bakalan melenting dan berputar untuk terlempar entah jatuh di mana nanti.
“Wah, gawat ini.“
Pesawat terus meluncur, berusaha menjangkau bumi.