Semua orang berhak bahagia. Benarkah itu? Lantas knp diriku tdk bahagia? Apakah pantas aku bahagia? Entahlah... Sulit untuk mengatakan hal itu.
Namaku Ahmad Reyhan, diumurku ke 10 thn ini banyak cobaan yg harus menimpaku dan juga kakakku. Begitu licin sekali cobaan yg tuhan berikan untuk anak anak sepertiku.
Dihari ulang tahunku, orang tuaku kecelakaan dan hari berikutnya kami harus diusir dari kontrakan. Kakakku mencabut sekolahnya dan kini kami gelandangan dibawah kolong jembatan tol. Kakak tdk ingin aku putus sekolah, krn itu kami masih tinggal di kota kelahiran kami.
Cacian, makian, selalu terdengar oleh kami. Orang tua kami kabur saat kepergok mencuri disebuah bank besar dan akhirnya meninggal tertabrak. Oleh krn itu mereka memaki kami dan menuduh kami sebagai keluarga pencuri. Jangan salah paham! Orang tua kami bukanlah seorang pencuri. Sebulan kemudian para polisi menemukan bukti bahwa orang tua kami tdklah mencuri, namun diakibatkan dipukuli masa orang tua kami melarikan diri dan kejadian itu muncul.
"Ini semua salah kalian semua!! Knp tdk percaya pada kami?! " Teriak marah diriku saat mengetahui kebenaran itu.
Nama baik keluargaku, orang tuaku tercemar dgn di sebut keluarga pencuri dan kini? Kebenarannya terbongkar terlambat, orang tua kami sudah meninggal meninggalkan kami sendiri.
Kakak menenangkan diriku, pelukan hangat kakak selalu membuatku tenang dan damai. Sungguh aku sangat merindukan pelukan ibuku. Bagaikan tersirat oleh apa, pelukan kakak sangat hangat untukku. Kata kata kakak, mampu membuatku tercekik juga sangat menenangkan.
"Saya sangat berterima kasih pada bapak bapak polisi sebelumnya krn sudah mengungkap kebenaran nya " Ucap kakakku berterimakasih pada para polisi itu.
Ada rasa tdk rela ataupun tdk suka, namun kakak ku sangatlah baik ia berbicara padaku waktu itu. 'Kita harus tetap melihat kedepan. Ada kalanya kita harus berhenti sejenak dari berlari dan kemudian melanjutkan nya' waktu itu aku sangat tdk paham maksud perkataan kakak. Kakak hanya tertawa kecil dan kemudian ia menjelaskan 'Suatu hari Rey pasti akan paham' Ujarnya
"Rey! Kakak dapat kerjaan!! Mungkin Kakak akan sering pulang larut malam. Apakah kau tdk apa apa digubuk baru ini sendiri? " Kata Kakakku senang namun khawatir padaku. Aku tdk ingin melihat kakak cemas.
"Aku tdk apa apa. Tapi.. Kakak sendiri, knp kakak menambah pekerjaan? Nanti kesehatan kakak menurun.. " Ucapku khawatir
"Tenang saja. Pekerjaan ini di toko roti, ibu ibu menawarkan nya pada kakak.. Yah, memang shift malam sih " Kata Kakak mengelus kepala rambutku
"Apa kau sudah makan? " Tanya kakak lagi
"Uhn. Aku sudah beli nasi bungkus untuk kakak juga.. " Ucapku memberikan satu nasi pada kakak
Kakak sumringah senang dgn perhatianku, ia selalu mencubit hidungku saat ia gemas dgn perilakuku. Mungkin, hanya orang tertentu yg dpt melihat sifat kakak yg penyayang begini. Bukan kakak ku jahat ataupun kejam, ia sering terlihat oleh orang orang mempunyai 2 kepribadian.
Kakak sangatlah ramah dan sopan, baik hati dan sangat penyayang. Namun, suatu hari aku pernah melihat sisi lain kakak. Saat tetangga yg dulu melukaiku dan mencaci maki diriku. Kakakku menatap tajam orang itu lalu entah apa yg diucapkannya tetangga waktu itu tdk pernah mencaci maki diriku lagi. Umur kami lumayan terpaut sangat jauh, jika sekarang umurku 10 thn kakakku berumur 17 thn.
Hari hari kami berjalan sangat damai dan tenang, kakak sangat pulang larut malam. Oleh krn itu aku selalu menunggu kakak kembali.
"Knp Rey blm tidur? " Tanya kakak duduk setelah membersihkan badannya
"Hn. Nunggu kakak pulang.. " Ucapku malu malu
"Knp? " Tanya kakak bingung
"A-aku hanya takut saja, lagipula aku tdk bisa tidur jika tdk ada kakak " Sambungku
Kakak tertawa kecil, mengusap usap rambutku lalu menyuruhku agar aku tidur dipangkuannya. Elusan hangat dan tenang mengalir di kepalaku mengantarkanku untuk tidur.
.
.
.
.
"Rey! Nanti kmu terlambat!! " Teriak kakak menyibak selimutku. Aku pun terbangun dan melihat sekelilingku yg ternyata sudah semakin siang
"Wahh!! Aku terlambat kak!! " Teriakku langsung bergegas mandi dan ambil roti saja
"Kak! Rey berangkat dulu!! " Ucapku pamit lalu langsung berlari
"Ya! hati hati!! "
Jarak dari sekolah dan gubuk lumayan jauh, apalagi aku harus berlari setiap hari. Kakak tdk bisa mengantarkan ku memakai sepeda yg ia dpt di tempat pembuangan dan diberikan oleh orang disana krn ia jg harus ketempat kerjanya.
Kakak harus banting tulang tanpa harus melanjutkan sekolahnya. Kudengar cita citanya ingin menjadi seorang Arsitek namun pada akhirnya ia harus merelakan hal itu. Saat pagi, kakak akan kewarung dan membantu mengantarkan pesanan pesanan. Siang hari, ia akan pergi ke Cafe untuk membersihkan tempat itu. Malam hari, kudengar ia bekerja di toko roti namun aku blm melihat sendiri ia bekerja sebagai apa disana.
"Reyhan! Hey? " Panggil Tio temanku disekolah
"Ada apa? " Jawabku malas
"Saat pertemuan wali nanti, siapa yg akan kau undang? " Tanya temanku khawatir
"Kakak ku.. " Ucapku heran melihat raut wajah Tio "Kenapa memangnya? " Tanyaku balik
"Apa kau yakin? Kudengar guru kita menyukai kakakmu.. " Kata Tio membisikan nya padaku.
Aku terkejut tdk percaya hal itu, bukannya apa walaupun umurku baru 10 thn, aku kelas 5 SD. Wajar bukan sudah sedikit mengerti arti kata suka? Namun, apa benar? Secara kan kakak umurnya 17 thn dan guruku terbilang sudah tua, sekitar 40 thn?
"Heh?! Benarkah itu?! " Teriakku tdk percaya
"Yah.. Kau harus hati hati " Saran Tio padaku. Aku pun hanya mengangguk antusias dan waspada.
"Aku harus melindungi kakakku!! "
Saat kakak kembali pun aku mengatakan undangan untuk kesekolah, kakak tersenyum dan mengusap usap rambutku. Pertanda dia akan kesana, namun ia harus ijin libur terlebih dahulu dari bosnya. Aku mengatakan agar kakak berhati hati pada guruku, menceritakan yg tdi Tio ucapkan padaku.
Bukannya takut atau apa, kakak malah tertawa dan mencubit hidungku.
"Ahahahaah... Oke oke~ tpi, adek kakak yg ini akan melindungi kakak bukan? " Kekeh kakak.
Mendengar hal itu aku pun sontak mengangguk yakin "Tentu saja! "
Kakak tersenyum lagi, ia menyuruhku agar tidur krn sudah malam.
Hari pertemuan wali murid pun datang, kakak setiap perjalanan hanya mengoceh hal yg tdk jelas tertawa melihatku yg dengan raut wajah yg siap menerka siapa saja. Namun aku tetap dlm pengawasan yg ketat! Utamakan kakak!!
Benar saja apa yg dikatakan oleh Tio, Pak guruku terus menatap kakak. Bahkan saat giliranku, pak guru menggantinya dgn temanku yg lain hingga kami paling terakhir.
"Ahmad Reyhan.. " Panggil pak guru kemudian kakak berdiri dan maju
"Kak.. " Panggil diriku. Kakak tersenyum lalu langsung duduk depan guruku.
"Rey, bagaimana dgn kakakmu? " Tanya Tio yg masih dikelas menemaniku. Sebenernya alasan utamanya bukan itu, krn kakak ku sangat cantik katanya.
Aku hanya bisa melihatnya dari belakang, melihat kakak dan guruku berbincang bincang entah apa itu aku tdk mendengarnya. Hingga aku melihat pak guru memegang tangan kakak ku, sontak aku langsung kesana dan menyingkir kan nya.
"Reyhan.. " Kejut Pak guru melihatku meraih tangan kakakku dan menatap tajam dirinya
"Bapak sudah tua! Aku tdk ingin memiliki kakak yg sudah kakek kakek! " Ucapku tajam memeluk tangan kakak
Pak guru itu hanya tertawa ringan dan kakak malah mencubit hidungku lagi.
"Siapa bilang bapak akan menjadi kakak iparmu? Bapak sudah menikah dan mempunyai anak, bapak ingin mengenalkan kakakmu dgn anak bapak " Ujar Pak guru itu.
Aku sangat malu, merah merona menjalar dipipi tembamku. Kakak bahkan tdk berhenti menggoda diriku.. Aku memilih kabur dan kemudian kakak juga sudah selesai.
"A-apakah kakak akan menerimanya? " Tanyaku malu malu saat kembali
"Hnm? Kenapa memangnya? " Tanya balik kakakku sembari mengayuh sepedanya
"Aku takut jika kakak menikah, kakak akan membiarkan ku. Kakak pasti akan bahagia dan mengurus suami juga anak anak kakak nanti " Ucapku
"Pasti bahagia sekali bukan? Namun.. Sekarang ini, kakak hanya ingin melihatmu tumbuh juga bahagia dibanding kakak " Ujar kakakku yg tdk aku mengerti lagi
"Kakak hanya ingin menjadi seorang kakak yg pantas untuk Reyhan " Senyum kakak mengembang. Ia kemudian mengajakku pergi ke toko roti tempat kerjanya
Hari ini adalah hari gajian kakak, lumayan banyak jika dibanding shift kerja kakak pagi dan siang. Ia mengajakku pergi dan membelikan sesuatu untukku.
"buku matematika!! " Seru diriku saat kakak memberikanku itu. Memang dari dulu aku menginginkan hal itu, namun krn ibu dan ayah tdk memiliki cukup uang krn itu aku blum mendapatkan nya. Namun, hari ini kakak memberiku hadiah yg sangat aku inginkan.
Aku sontak memeluk kakak dan senang berterimakasih krn hadiahnya.
"Suatu hari aku pasti akan membuat kakak bahagia.. "
3 tahun kemudian..
"Kakak! Lihat ini, aku juara satu olimpiade Matematika!! " Seru diriku berlari masuk ke kontrakan yg baru.
"Benarkah? " Tanya kakak ku antusias keluar dari dapur dgn wajah kotornya
Ia melihat diriku dgn piala juga medali yg terpasang dileherku. Ia menangis terharu kemudian meloncat memeluk diriku.
"Syukurlah.. Adek kakak memang hebat! " Seru kakak mengusap usap rambutku
"Hehe.. Ini juga berkat kakak, kakak yg mengajariku " Ucapku senang
"Kenapa dgn wajah kakak? " Tanyaku kemudian meraih cream yg belepotan di wajah kakak
"Kakak sedang mencoba bentuk baru. Bu Ilma bilang, bentuk bentuk desain kakak bagus.. Jdi kakak diajarkan bikin roti " Ujar kakak senang menyeka wajahnya
"Jadi, setiap hari Rey bisa makan roti buatan kakak dong!! " Seru ku saat itu meloncat loncat seperti anak kecil
"Permisi.. " Ucap seseorang didepan
"Kak.. Sepertinya ada tamu? " Tanyaku pada kakak. Kakak langsung bergegas ke depan, aku sendiri akan masuk kamar sebelum kakak memanggilku
Aku berjalan kedepan dan melihat salah satu teman sekelasku? Mungkin.. Membawa kertas kertas entah apa itu
"Uhmm.. Siapa kau? " Tanyaku bingung. Gadis itu hanya terkejut dan menunduk kembali
"Temanmu sendiri.. Apa kau lupa? " Datar kakak melihatku
"Benarkah itu? " Gumamku mengangguk
Gadis itupun memperkenalkan dirinya, kurasa memang benar kamk sekelas.. Gadis itu tetap menunduk dan memberikan kertas untukku. Saat kubaca, ternyata guru kelasku memintaku untuk mengajarinya materi IPA yg blm dia kuasai krn bulan depan dia akan mewakilkan sekolah kita untuk lomba IPA sekota.
"Baiklah.. Kmu datang sjaa kesini setelah pulang sekolah. Tapi.. Seminggu 3 hari saja ya? " Kataku setuju
Gadis itu tersenyum padaku kemudian mengangguk setuju. Entahlah.. Krn tdk mungkin juga setiap hari aku mengajarinya?
Aku harus membantu kakak saat ia membuat kue dirumah dan membantunya mendesain kuenya.
Hari hariku sangat berjalan dengan lancar. Bahkan saat kumengajar dirinya, entah mengapa jantungku berdetak sangat kencang. Saat ku ceritakan pada kakak, kakak hanya tersenyum dan tertawa.
"Kak! Aku serius!! Mungkin saja aku terkena sakit jantung! " Ucapku panik, namun kakak malah tambah keras tertawanya. Sesenang itukah dirinya saat aku sakit? :')
"Haha.. Kakak tdk tau kau ini bodoh atau apa. Mungkin suatu hari kau pasti akan mengerti " Ujar Kakak mencubit hidungku gemas
Kami sangat bahagia, walaupun aku hanya punya kakak seorang. Aku sangat menyayanginya hingga diriku cukup besar dan lebih kuat dari kakak. Meskipun umurku masih muda, tubuhku tumbuh dgn sangat cepat, bahkan tinggi badanku sudah melebihi tubuh kakak ku walaupun aku masih SMP kls 2.
Hingga kejadian yg membuat diriku trauma menimpaku...
Sekolah.. Kelas 8
"Reyhan.. Nongkrong kuy! " Ajak Tio yg kini juga ikut ke SMP yg sama dgnku
"Hiss.. Paan sih.. " Sahut ku risih kembali menutup wajahku
"Ow.. Ayolah!! Disana ada tempat stand makanan ringan yg baru! Masih ada promo lagi " Seru Tio menggoyang goyangkan tubuhku
Aku sangat risih dan malas menghadapinya, oleh krn itu aku pun mensetujukan saja. Pulang sekolah kmi berkunjung ke stand baru itu.
Saat Tio sedang memesan, aku tdk sengaja melihat teman sekelasku yg saat ini sedang dlm bimbingan belajarku di tarik paksa oleh seseorang berbadan besar juga memakai pakaian serba hitam.
Kupikir itu penculikan dan aku pun segera berlari kerahnya, tanpa kusadari banyak teman temanku dari sekolah yg dibawa masuk.
"Reyhan!! Mau kmn kau?!! " Teriak Tio namun aku tdk menghiraukan nya
Aku diam diam bersembunyi dan menunggu waktu yang tepat. Aku akan segera berbalik dan meminta bantuan krn ada sekitar 3 cewek juga 4 cowok yg dibawa masuk. Saat aku berbalik, tiba tiba punggung ku seperti terbentur oleh sesuatu yg sangat keras hingga aku pun terjatuh dan muntah darah..
"Bos! Sepertinya disini ada tikus kecil lagi " Ucap seseorang yg kurasa dialah yg memukulku hingga tak berdaya
Salah satu orang berbadan besar juga berpakaian rapi menghampiri ku dan meraih daguku agar mengadah kearahnya.
"Lumayan bagus, bawa saja dia.. " Ucap seseorang itu tersenyum jahat padaku
Entah apa yg diberikan oleh orang itu, saat aku menghirupnya kesadaran ku mulai memburam dan akhirnya aku tdk melihat apapun lagi.
.
.
.
Jika ditanya dimana aku? Entahlah aku tdk tau.. Yg jelas saat itu aku terbangun oleh suara suara yg seharusnya tdk aku dengar.
Teriakan, menangis, desahan, itu sangat mengganggu ku. Aku sangat terkejut dan takut! Bagaimana tdk? Saat aku terbangun aku dirantai dan sudah bertelanjang bulat? Aku tdk bisa kemana mana lagi. Saat kulihat sekelilingku, mereka juga sama sekitar 30 orang yg juga bertelanjang pasrah.
Namun, yg membuatku sangat sangat marah juga ketakutan lagi adalah gadis pendiam yg akhir akhir ini menggangguku, kini menangis gencar saat ditarik oleh seseorang dan memaksanya.
Seseorang bertubuh besar yg kurasa dia adalah bos nya kini menghampiriku dgn wajah sombongnya. Aku takut juga sangat marah, hanya satu orang yg terngiang ngiang dikepalaku. Kakak..
"S-siapa kau?! " Tanyaku gemetar
"Saya? Kmu tdk perlu tau siapa saya.. Saya akan mengajarkanmu tentang s*x dan memvideonya.. " Ujar orang itu
Aku sangat terkejut. Apa katanya? Dia akan jadi artis yg main sebagai film video porno? Yg benar aja!!
"Tidak!! " Kataku tegas
Aku sangat terkejut saat orang itu memukuli diriku namun itu hanya untuk ancaman. Jika aku tdk menurutinya, maka keluargaku yg akan disiksanya. Aku sangat terkejut, aku tdk ingin kakak tersakiti. Kakak sudah sangat banyak berkorban untukku selama ini.
Akhirnya akupun mau, bukan apa itu hanya krn ancaman. Berat hati aku menurutinya, dlm hatiku aku selalu mengucapkan maaf dan juga pertolongan dari kakak. Sungguh, aku tdk ingin mencemari gadis! Krn aku tau, betapa rapuhnya wanita itu.
"Maafkan aku.. " Gumamku berucap pada gadis yg menangis sudah di siapkan. Bahkan kamera sudah nyala aktif disana.
Tiba tiba tanpa kutau, suara gedoran pintu gedung cukup sangat kuat hingga pintu itu roboh.
*Brak!!
"Siapa disana?!! " Siap siaga para bodyguard orang itu menodongkan pistol pistol kearah seorang bertubuh kecil membawa pedang dan berjalan kedalam.
Suara pedang bergesek, membuat raut wajah para bodyguard itu keringat dingin. Mataku melotot horor saat kutau siapa dia..
"Ka-kakak... " Gumamku
"SIAPA YG BERANI MELECEHKAN ADIKKU HAH?! " Teriak kakak marah, aku tdk pernah melihat itu sebelumnya. Cukup membuatku takut dan bergidik ngeri..
"MANUSIA SAMPAH KALIAN SEMUA!! BERANINYA KALIAN MELECEHKAN ANAK ANAK?!! " Sambung kakak. Rambut kakak yg biasanya lembut tergerai kini menjadi seperti tdk terurus.
Bos itu memerintahkan anak buahnya agar menyerang kakak. Namun, dgn lincahnya kakak melompat dan menghindar dari peluru pistol itu. Aku melihatnya berlari kearah para bodyguard dan menepis pistol pistol menggunakan pedang.
Kakak sempat kuwalahan, ia terus memukul menyerang juga menghindar. Wajah cantiknya kini dipenuhi oleh darah, aku tdk tega melihat kakak seperti itu. Hingga saat aku membuka mataku, kakak sudah memelukku dgn erat dan hangat.
Kakak tdk mengatakan apa apa, aku hanya membalas pelukan kakak dan menangis di bahunya.
"Hiks.. A-aku takut kak... " Tangisku. Kakak masih tdk berbicara ia tersenyum padaku dan menghapus air mataku, mengusap kembali rambutku dan memelukku erat lagi.
Aku masih terus menangis walaupun kakak sudah menghapusnya berkali kali. Saat diriku sudah lebih tenang, aku melihat banyak polisi yg menangkap mereka. Membantu memenangkan para korban sepertiku. Untung saja dari yg kutau mereka belum ternodai. Namun, bukan berarti kejadian ini hilang begitu saja! kejadian ini pasti akan teringat terus oleh mereka dan juga diriku.
Tio berlari kearahku dan segera memberikanku selimut. Ia nampak menangis dan memelukku juga.. Kakak pamit dan menyerahkanku pada Tio
"Kakak akan berbicara pada para polisi itu sebentar.. " Ujar Kakak melepas pelukannya
"Kakak yg sudah bawa mereka kesini? " Tanyaku heran
"Hmm.. Bukan. Tio yg kakak suruh membawa mereka kesini.. Kakak langsung mengejarmu kau tau? " Kata kakak mencubit hidungku lagi
"Bagaimana kakak menemukanku? " Tanyaku lagi
"Nomer mobilnya. Untung Tio mengingatnya dan Kakak langsung lacak lewat para polisi " Jawab kakak
Entah sudah beberapa kali kakak melindungiku.. Berapa kali juga kakak menjadi inspirasiku.. Berapa kali juga kakak membuatku kagum..
Namun, itu semua hilang begitu aja..
Itu tdk ada lagi saat 3 thn kedepan...
Kakakku.. telah meninggalkanku.. pada saat diriku umur 17 tahun.
10 tahun kedepan...
Gadis kecil berumur 7 thn an yg saat ini berlari sangat riang, menggandeng seorang pemuda yg kini dipanggilnya Papa. Mengunjungi ke pemakaman..
Amara Resa
Pemuda tampan dan tinggi kekar itu berjongkok dan mengelus papan putih lisan yg berdiri tertuliskan nama disana. Senyuman dan jatuhnya air mata sangatlah membuat sesak dan tdk tau harus berkata apa.
"Papa, papa knp menangis? " Tanya lugu gadis itu. Pemuda itu menoleh kpd putrinya dan menyeka matanya dgn tangannya.
Papan nama yg terpasang jelas di jas pemuda itu pertanda ia seorang CEO dari perusahaan besar. Pemilik bernama Ahmad Reyhan.
"Raisa sayang, salam dulu ya.. Dia adalah Mama Raisa " Senyum Reyhan menyuruh putrinya mendekat
"Ini Mama? " Tanya polos Raisa ikut berjongkok dan juga mengelus papan lisan itu
"Mama, mama baik baik saja kan disana? Mama dan Papa tdk perlu khawatir pada Raisa.. Papa Reyhan yg akan jaga Raisa sampai Raisa besar " Ucap Raisa tersenyum
Ucapan Raisa membuat Reyhan tdk dpt membendung air matanya lagi. Jika itu dulu, pasti Resa akan menyeka air matanya dan memeluknya erat dan mengelusnya.
Seseorang menepuk pundak Reyhan. Gadis pendiam yg dulu kini suda resmi menjadi istrinya..
"Raisa sayang.. Kmu bermain sama Mama Ana dulu ya? Papa masih ada urusan dengan Mama Raisa " Ucap Reyhan dan diangguki antusias oleh Raisa. Ia berlari dan menggandeng tangan Ana istri Reyhan..
Dirasa sudah tenang, Reyhan kini duduk sembarang. Terserah tentang apa statusnya dan membuat bajunya kotor.
"Kakak.. "
"Kakak tau? Raisa sangat mirip denganmu bukan? Bahkan sifatnya mirip seperti ayahnya, Kak Danis " Cerita Reyhan sambil terus menyeka air matanya yg jatuh deras
"Ma-maaf aku baru bawa Raisa kemari.. Aku sangat sedih, mengapa Raisa harus kehilangan orang tuanya saat masih sangat bayi. Bahkan Kak Danis blm pernah melihatnya... "
"Ke-kenapa kak.. "
"Kenapa kakak meninggalkanku? "
"Aku sudah sukses kak.. Aku ingin kakak melihat itu dan kakak tdk perlu banting tulang lagi... Hiks.. "
Hening melanda, suara angin menerpa indra pendengaranku.. Perasaan hangat, bagaimana pelukan kakak lewat angin yg menyelimuti diriku. Senyuman kakak yg sering terpasang diwajahnya, elusan lembut dikepalaku, cubitan gemas dihidungku... Aku sangat merindukannya kak..
"Papa! Ayo makan dulu~~ " Teriak Raisa dibawah pohon yg amat rindang
"Yah!! "
"Kakak.. Aku pergi dulu ya? " Ucap Reyhan mengelus papan lisan itu lagi
"Kakak adalah segalanya bagiku. Orang tuaku... Saudaraku... Temanku.. Dan yg paling penting, kakak tdk gagal menjadi kakakku.. " Senyum Reyhan terpatri diwajahnya.
"Aku sangat bersyukur, kak Resa yg menjadi kakakku.. "
"Selamat jalan kak.. Semoga kita bisa berkumpul bersama disana ya? "
Ucapku berdiri, walaupun kakiku terasa sangat berat untuk meninggalkan makam kakak. Namun, masih ada yg harus kulindungi disini, didunia ini.. Keluargaku..
Kakak mengajarkanku banyak hal, arti keluarga, kasih sayang, dan cinta. Semua itu memiliki arti yg berbeda beda.. Kasih sayang kakak akan terus ada dihatiku.
Cobaan hidup yg harus kita lalui, kakak selalu ada untukku. Menggandeng tanganku dgn lembut dan hangat. Mendorongku terus berjalan kedepan, hingga aku dapat menggandeng tangan seseorang yg kucintai sendiri.
Banyaknya kakak didunia ini, aku sangat bersyukur kau adalah kakakku. Banyak sekali cobaan yg lebih berat yg harus kau tanggung, aku tdk tau seberapa besarnya tanggungan yg harus kau tanggung selama ini.
'Aku sangat menyayangimu, Kak Resa.. Selamat jalan.. '
Tamat~~