Tahun ini sepertinya hidup Lala sedikit berubah. Sekarang dia telah menjadi seorang mahasiswi di perguruan tinggi swasta. Kegiatannya juga sedikit melelahkan. Lala mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di bidang musik. Hal tersebut adalah salah satu faktor Lala sering mengeluh kecapekan
***
Sekarang Lala sedang bermain gitar sambil bernyanyi bersama Aldim, teman sekelasnya. Lala kenal dengan Aldim sejak pertama ospek. Mereka mulai akrab saat mereka satu kelompok di acara outbond (masih dalam lingkup ospek). Mereka pun bersahabat hampir setahun ini.
Lala dan Aldim sama-sama masuk UKM musik. Tapi mereka tidak satu band. Aldim direkrut band senior karena dia pernah mendapatkan tiga penghargaan pemain drum terbaik tingkat nasional saat dia masih SMP dan SMA. Sedangkan Lala, prestasi dalam bermain musik, yah.. bisa dibilang minim. Lala hanya bisa-bisaan aja main musik, tapi tidak untuk ditekuni terlalu dalam. Maka dari itu, Lala diposisikan sebagai vokalis dalam bandnya.
Bila sedang berdua saja, Lala dan Aldim sering menyanyikan lagu mandarin Ching Fei Te Yi, soundtrack dari Meteor Garden. Aldim banget tuh.. Anak jaman now mana tahu, hihihiiii
Lala mengiringi Aldim yang bernyanyi dengan fasihnya. Mereka terlihat sangat senang. Apalagi setelah ujian selesai.
Dari belakang, kapten pun memergoki mereka.
“Hei, ngapain kalian diluar, ayo cepat masuk dan latihan” kata Radith dengan galak.
“Hihh.. nggak tau orang lagi seneng ya..” gerutu Lala.
Aldim pun membantu Lala untuk berdiri.
***
Sudah empat jam lebih mereka latihan. Dua minggu lagi, mereka akan mengikuti lomba antar kampus. Hampir sebagian teman-teman pulang kecuali Lala, Aldim dan Renald dari band senior yang masih di studio. Renald adalah vice captain di UKM musik. Kakak senior paling baik, sabar dan pengertian. Tidak seperti Radith yang belagunya minta ampun se-kampus.
Lala, Aldim dan Renald bermain musik bersama. Aldim tetap pada posisinya sebagai drummer, Renald dan Lala bertukar peran. Lala berada di posisi bass, sedangkan Renald di posisi gitar plus vokalis.
Renald pernah mengusulkan untuk membuat band dengan tiga orang itu saja. Dan tentu saja tanpa sepengetahuan sang kapten.
***
Besoknya. Tidak ada latihan band. Lala duduk dibangku penonton lapangan basket sambil membaca buku mata kuliah Politik. Tiba-tiba suara teriakan yang histeris membahana didalam lapangan basket yang tertutup itu. Lala terkejut. Anak-anak UKM basket datang bersamaan dengan fans-fansnya.
Terlihat kapten tim basket cowok, siapa lagi kalau bukan kapten band senior di UKM musik, Radith.
“Maruk banget sih tuh orang, jabatan kapten dipakai semua. Nggak di band, nggak di basket. Pake sok keren pula, hiiihh” pikir Lala sambil mengepalkan tangannya.
Di mata fansnya, Radith itu sempurna. Ganteng, keren, pinter main musik, jago olahraga, canggih breakdance, dan kaya raya. Untuk masalah akademik, yah... rata-rata. Meskipun di lingkungan kampus Radith dikenal cuek, tapi tidak bagi Lala. Bagi Lala, Radith itu pengganggu. Padahal, Radith kalau sama cewek tuh kayak anti banget. Tapi, kenapa dia suka banget nggangguin Lala?. Duuuhhh....
Radith melihat Lala dan segera dihampirinya.
“Heh, kalo mau belajar jangan disini. Ini untuk latihan cowok-cowok keren” kata Radith.
“Iiihh.. Tapi aku duluan yang ada disini” jawab Lala.
“Kalo pengen belajar ya di perpus aja. Ini untuk latihan basket” balas Radith.
Lala diam. Dia menyadari kalau dia salah. Lala segera membereskan bukunya dan segera pergi.
“Heh, tunggu”
Lala berhenti dan menoleh ke arah Radith
“Nanti jangan pulang dulu. Tunggu aku”
“Iiihh.. males banget”
“Heh, pake bantah lagi”
“Duuuhh... kak Radith mau ngapain sih? aku pake di suruh nunggu segala”
“Udaaahh... banyak tanya”
“Aku mau pulang sekarang”
“Nggak boleh. Nanti kamu pulang sama aku”
“Hah?? Aneh banget sih. Ya terserah aku dong. Aku mau pulang sama Aldim”
“AKU BILANG ENGGAK YA ENGGAK”
Suara Radith menggema. Membuat seisi gedung basket itu diam. Sepi.
“Hiihh.. iya iya. Tapi nggak usah bentak gitu dong”, Lala menyerah
Radith tersenyum menang.
Lala berada di kantin bersama Aldim. Sambil menunggu Radith yang lamanya minta ampun.
“Beneran nih nggak pulang bareng aku?” tanya Aldim.
“Pengennya sih pulang bareng kamu. Tapi kak Radith tuh... nyuruh aku nunggu” jawab Lala.
“Tuh kak Radith... kalau gitu aku pulang duluan ya” kata Aldim sambil tersenyum, Lala menganggukkan kepala sambil cemberut.
Aldim pun menghilang dari penglihatan Lala. Sebelum Radith menghampiri Lala, Radith dihadang Vita, teman band plus seangkatan dengan Lala.
“Kak Radith mau pulang ya? Sama siapa?” tanya Vita manja.
“Sama orang” jawab Radith ketus.
“Siapa?” tanya Vita lagi.
“Heh, aku mau pulang sama siapa itu bukan urusanmu. Minggir!!” Radith marah.
Vita cemberut kesal.
Lala yang melihat kejadian itu langsung mengalihkan pandangan. Dan...
“Ayo pulang” Radith menyeret Lala.
Lala tersentak, “Duuuhh.. yang lembut dong kalo mau ngajak pulang. Asal nyeret aja”. Radith diam.
“Aku nggak mau pulang bareng kak Radith” kata Lala.
“Heh. Kamu bawel banget sih. Udaaahh diem aja” jawab Radith.
Ponsel Lala berdering.
“Halo.. Assalamualaikum.. Apa? Ngapain Bunda di gerbang kampus? Oke... Oke.. Iya.. Waalaikumsalam”, Lala mematikan ponsel sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Ngapain kamu senyum-senyum? Dari siapa tadi?” tanya Radith.
“Maaf ya, kak... Bundaku udah jemput aku. Karena kami akan pergi ke rumah nenek” jawab Lala tersenyum licik.
“Udaaahh... jangan bohong” kata Radith tidak percaya.
“Yeeee... siapa yang bohong. Ayo ikut aku kalau nggak percaya. Udah ah.. Bunda udah nunggu aku” kata Lala.
Radith membuntuti dari belakang. Sebenarnya Radith percaya, tapi dia ingin mengantarkan Lala. Radith pun bertemu dengan Ibunya Lala. Lala pun terkejut. Radith yang belagu dan sok keren itu berubah menjadi malaikat di depan Ibunya Lala. Dasar penjilat. Radith tersenyum lebar.
***
Senin. Hari yang aneh bagi Lala. Hampir semua orang di kampus menyapanya. Termasuk fans club Radith pun ikut menyapanya, meskipun dengan tatapan tajam. Lala segera lari ke studio.
“La, kamu kenapa? Kayak abis dikejar anjing aja” tanya Renald.
“Iya, kamu kenapa?” tanya Naya dan Janny bersamaan.
Lala masih mengatur nafasnya.
“Hari ini orang-orang di kampus ini pada aneh semua” jawab Lala.
“Aneh? Kenapa?” tanya Renald penasaran.
“Semua pada nyapa aku. Apalagi dari fakultas tekhnik, gila, banyak banget yang nyapa” jawab Lala bingung.
“Yeee... disapa gitu aja heran. Harusnya kamu—“ kata Dimas terpotong dengan datangnya Radith.
“Aku udah bilang kan, jangan masuk hari ini”
“Tapi aku harus masuk, kak. ”
Radith memanggil Aldim, “Aldim....”
Aldim menghampiri Radith. Lala makin bingung.
“dim, kamu antar Lala ketemu bu Nurida” suruh Radith.
“Tapi—“
“Udah cepat”
Aldim pun menurut. “Ayo, La. ”
Lala hanya melongo melihat Radith.
***
Hampir sejam Lala berada diruangan bu Nurida. Akhirnya Lala keluar juga dari ruangan itu. Dan dia melihat Aldim bersandar ditangga.
“Kamu ngapain disini?” tanya Lala.
“Nungguin kamu,” jawabnya.
“Dari tadi?” tanya Lala, Aldim mengangguk.
“Bukannya tadi aku udah bilang ya kalau nggak usah ditungguin” kata Lala.
Aldim diam.
Mereka pun turun. Tapi...
“Lala... kami mau bicara sama kamu,”
Mereka adalah Vita, Devi, Sanny dan fans club Radith. Vita, Devi dan Sanny sama-sama menyukai Radith. Meskipun Vita junior mereka, Vita nggak peduli. Yang penting bisa dapetin hatinya Radith.
“Kalian mau ngapain?”
“Dia itu bego banget ya!? Milih cewek yang kayak gini. Udah gendut, nggak kaya, jelek pula. Apalagi sekarang malah gandengan sama cowok lain,” ejek Sanny.
Lala baru sadar, Aldim menggandengnya.
“dim, kamu itu cowok baik-baik. Kamu jangan berurusan sama Lala. Apalagi sampai bersahabat. Reputasimu bisa hancur,” kata Vita.
“Dev, mana ponselku... Biar aku foto mereka dan aku kasi tau kalau ceweknya selingkuh. Dia harus buka mata lebar-lebar,” kata Sanny.
Sanny pun memotret Lala yang dengan ekspresi bingung serta Aldim yang masih diam menggandeng Lala. Setelah itu mereka pergi.
Seharian di kampus, Aldim terus bersama Lala.
“Sebenarnya mereka semua kenapa sih?” Lala bertanya-tanya.
Aldim tersenyum, “Gimana kalau kamu ikut aku? Biar kamu fresh... nggak stres,” ajak Aldim.
***
Tiga hari kemudian...
“Gimana perasaanmu?”
“Selama kamu ada terus didekat aku, aku ngerasa aman.”
Aldim pun tersenyum
“Tapi, kak Radith akhir-akhir ini juga ikutan aneh.”
Aldim tidak berkomentar
Drrrtt.. Drrrtt..
Message From : Kak Renald
Cepet kumpul di studio. SEKARANG!!
“Kak Renald nyuruh kita ke studio, dim”
“Ayo..”
***
Lala dan Aldim masuk ke studio. Mereka terkejut. Karena di sana juga ada Devi dan Sanny. Semuanya terlihat tegang. Lala mendekati Renald. Aldim masih berdiri di ambang pintu. Sedangkan Radith berdiri di balik drum, membelakangi yang lain.
“Kak, ada apa sih?” tanya Lala pada Renald.
Sanny yang mendengar pertanyaan itu langsung menjawab, “Salah satu anggota band disini akan di keluarkan” jawab Sanny tersenyum licik.
Lala terkejut plus bingung.
“DIAM KAMU, SAN” sahut Radith.
Radith berbalik badan.
“Saya sebagai kapten disini, kecewa dengan salah satu anggota di band kita. Dan... dengan kekecewaan ini, Saya ingin sekali mengeluarkan dia dari bagian band kita. Sebenarnya dia sangat paham dengan apa yang saya rasakan. Tapi justru dia telah berkhianat kepada saya,” jelas Radith sambil berpindah tempat, tepat didepan Aldim.
“dhit, jangan bawa masalah pribadi ke band” cegah Renald pada Radhit.
Tapi Radith tidak ingin mendengarkan perkataan temannya itu.
“Aldim...”
“Iya, kak”
“Kamu yang harus keluar dari band.”
Lala sangat terkejut. Apalagi Vita, Devi dan Sanny.
“Radith, kok Aldim sih... Harusnya Lala yang kamu keluarkan, bukan Aldim,” protes Devi.
Tanpa disuruh dua kali, Aldim langsung membereskan peralatan drumnya.
“Kak, ini apa-apaan sih? Kak Renald? Kak?? jawab dong...” Lala terus bertanya pada Renald, sedangkan Renald tidak bisa menjelaskannya.
Aldim pun selesai membereskan.
“Maaf, kak.. Aku sudah mengkhianati kak Radith. Perlu kak Radith tau, aku sedang melindunginya seperti yang kakak minta. Sekali lagi aku minta maaf, karena aku juga membohongi kak Radith tentang perasaanku ke dia,” bisik Aldim pada Radith.
Aldim pun keluar dari studio. Sebelum Lala menyusulnya, “Kak Radith keterlaluan” kata Lala sambil mendorong Radith.
***
“Aldiiiiiiimmm!!! Aldim berhenti!!!” teriak Lala.
Lala berdiri tepat didepan Aldim.
“Jangan keluar dari band. Lomba tinggal dua hari lagi, kamu nggak bisa ninggalin band gitu aja.”
“Kak Radith udah ngeluarin aku dari band,”
“Mungkin kak Radith cuma lagi emosi aja,”
“Udahlah... Kamu harus tekun latihan,”
“Aku juga bakalan keluar dari band,”
“Hei, kamu ngomong apa sih? Lala, aku bakalan marah kalau kamu sampai keluar dari band.”
“Aku nggak bakal ketemu kamu lagi,”
“Ya ampun ... La, kita satu kampus. Kita satu jurusan. Malahan kita sering banget satu kelas. Tiap hari kamu ketemu aku.”
“Aku tau, dim. Tapi beda kalau aku satu UKM sama kamu. Kita biasanya nyanyi-nyanyi bareng pake alat band. Biasanya juga bertiga bareng kak Renald. Kalau sekarang kamu nggak ada, bagiku hampa. Aku nggak mau itu, dim.”
Aldim langsung memeluk Lala.
Dua orang memperhatikan Aldim dan Lala...
“Lihat mereka, dith”
Radith diam, masih memperhatikan mereka.
“Apa itu bentuk rasa sayangmu terhadap Lala? Secara nggak sengaja, kamu sudah memisahkan persahabatan mereka.”
“Mereka nggak pisah. Toh tiap hari juga masih ketemu meskipun Aldim udah nggak seUKM bareng Lala. Aldim tau, nald, kalau aku sangat mencintai Lala. Aku menyuruhnya untuk melindungi Lala dari Vita, Devi dan Sanny. Karena aku tau, Aldim bersahabat dengan Lala. Tapi apa yang udah dilakuin Aldim, dia sudah merebut Lala.”
“Kamu termakan omongan Sanny, dith. Sekarang kamu terjebak dalam kesalahan yang kamu buat sendiri.”
“Maksudmu?”
“Lala akan memandang jelek kamu, dith. Lala akan terus menganggap kamu buruk.”
Radith terdiam.
“Sekarang terserah kamu. Kamu yang memutuskan dan kamu juga yang harus menerima apapun resikonya.”
Renald meninggalkan Radith sendirian di studio.
***
It’s show time.
Kampus Lala mengeluarkan tiga band. Band Lala tampil urutan ke-11, dua nomor setelah band Radith. Lala masih merasa sedih. Terlebih lagi, setelah Aldim keluar dari band, Lala merasa Aldim menjauhinya. Saat tampil, Lala yang biasanya sebagai vokalis dengan memainkan gitar untuk pelengkapnya, sekarang dia sebagai vokalis tanpa memainkan gitar. Jadi, dia benar-benar fokus untuk bernyanyi.
Lala ingin sekali Aldim ada untuk menontonnya dan memberi semangat. Meskipun dalam keadaan hati berantakan, Lala tetap profesional dalam menjalankan tugasnya. Dia dan bandnya tampil sukses.
Setelah turun panggung, dia melihat Radith berbicara serius pada seseorang.
“Ngapain kamu kesini? Aku udah bilang kan jangan dekati dia lagi.”
“Aku sudah menuruti kata-kata kak Radith untuk jauhin dia. Aku kesini cuma pengen liat dia tampil. Aku nggak akan menampakkan diri di depannya.”
“Aku sangat membencimu. Kamu sudah merebut dia dari aku.
“Maaf, kak.”
Tiba-tiba Radith memukul seseorang itu. Lala berlari menghampiri mereka. Lala mendorong Radith.
“Kak Radith apa-apaan sih?” tanya Lala kesal sambil melihat ke arah seseorang itu yang ternyata Aldim.
“Aku bisa jelasin, La.”
“APA YANG HARUS DIJELASIN? Kak Radith benci Aldim kan? TAPI NGGAK PERLU MUKUL DIA, KAK.”
“Iya aku sangat membencinya. Aku memukul dia juga ada alasannya. Aku bisa jelasin itu ke kamu.”
“AKU NGGAK BUTUH PENJELASAN KAKAK!”
Lala berlari meninggalkan mereka.
“LALA!! TUNGGU, LA!!! AKU SAYANG SAMA KAMU. AKU CINTA!!.”
Lala berhenti sejenak sambil menangis. Tapi dia tidak balik badan dan berlari lagi.
***
Lala duduk di jalan trotoar yang sepi dan hanya diterangi satu lampu jalan. Lala menangis. Dia bingung.
Aldim menghampiri Lala. Dan duduk disebelah Lala. Lala menoleh ke arah Aldim.
“Ngapain kamu kejar aku? Bukannya kamu jauhin aku?” tanya Lala sambil menangis.
“Maafin aku, La. Aku nggak bermaksud jauhin kamu” jawab Aldim.
Lala tidak bertanya lagi. Dia menyandarkan kepalanya ke bahu Aldim, tetap dalam keadaan menangis.
“Aku kan sudah janji sama kamu. Aku akan terus ngelindungi kamu.”
Lala diam.
“Kamu udah tau kan alasan kak Radith bersikap kayak gitu?”
Lala menganggukkan kepala.
“Terus??”
“Apanya yang terus?”
“Kamu juga sayang dan cinta kak Radith?”
“Meskipun dia belagu, nyebelin dan sok ngatur, aku sayang sama dia.”
Aldim sontak terdiam.
“Aku sudah menganggapnya kayak kakak aku sendiri. Aku sayang kak Radith sebagai kakak. Seperti halnya ke kak Renald.”
Aldim tersenyum, “Boleh aku mengakui satu hal?”
“Apa?”, Lala melihat Aldim bingung.
“Aku juga...”
“Hm? Juga apa?”
“Juga sayang banget sama kamu.”
Lala tersenyum malu.
“Udah, ah. Kamu laper ya? Tapi... aduh...”, Aldim memukul kepalanya.
“Kenapa?”
“Tunggu bentar ya...”
Aldim mengeluarkan gitar akustik yang dibawanya. Aldim menghampiri orang-orang yang sedang berkumpul, mendatangi toko-toko di sekitar daerah itu. Dia memainkan gitar sambil bernyanyi lagu andalannya. Ching Fei Te Yi. Lala tertawa kecil.
“Dia pede banget sih nyanyi lagu itu di hadapan orang banyak. Dasar nggak punya malu”.
Hampir setengah jam Aldim mondar-mandir untuk ngamen. Dalam waktu yang dibilang singkat itu, Aldim sudah dapat sepuluh ribu. Aldim pun kembali menghampiri Lala.
“Ayo kita makan!!” ajak Aldim.
“Ngapain kamu ngamen buat dapet uang sepuluh ribu?” tanya Lala.
“Jujur ya... dompet aku ketukar sama dompet lama aku. Dan dompet ini cuman ada lima ribu. Aku aja nggak bawa SIM , KTP sama STNK. Karena ada di dompet satunya” jawab Aldim.
“Ya ampun... kan bisa pakai uangku dulu. Biasanya juga gitu” kata Lala.
“Aku nggak mau lagi kayak gitu. Mulai sekarang kamu juga jadi tanggung jawabku” jawab Aldim.
“Hah? Aku masih tanggung jawab orangtuaku,” sahut Lala.
Aldim tersenyum nakal. Lala makin tidak mengerti ada apa dengan Aldim sekarang ini. Aldim berjalan sambil bernyanyi memainkan gitar. Lala membuntutinya ikut bernyanyi lagu mandarin itu.
***
Enam tahun kemudian...
Dear Diary,
Asik juga yah jadi seorang pelajar. Ceritanya lucu-lucu. Apalagi saat aku menjadi mahasiswi. Teman pertamaku adalah Aldim. Aku mulai merasakan bagaimana hidup itu, yah, dari awal aku kenal si Aldim. Sekarang aku bekerja di perusahaan swasta di bidang jurnalistik. Aku bekerja sebagai direktur fotografi. Sedangkan Aldim bekerja sebagai manager di salah satu perusahaan musik.
Sampai sekarang Aldim tetap menomorsatukan lagu mandarin itu, Ching Fei Te Yi. Lagu itu membawanya menjadi pemenang penyanyi (lagu) mandarin dua tahun lalu. Horeee.. Aldim emang keren banget. Padahal peserta lainnya rata² keturunan Cina, tapi kenapa Aldim yang jawa tulen bisa menang ya?. Hmmm... Bagi Aldim, lagu itu suatu keberuntungan. Hehehe...
Oh iya, aku dengar-dengar kak Radith udah punya anak. Hm.. Selamat ya, kak...
Kak Renald? Hari ini dia akan melangsungkan pernikahan. Iiihh.. senengnya. Aku pasti datang, kak. Nih aku udah siap-siap. Tunggulah kedatanganku, kak.
Udah dulu ya, aku harus berangkat ke pernikahan kak Renald.
Good Night
Syarla Noveandra
***