Pagi ini udara sejuk sekali. Aku sudah bangun dari jam 4 subuh tadi untuk sholat subuh dan sekarang jalan-jalan pagi, mumpung ada kuliah siang. Nggak biasanya aku bisa serajin ini bangun pagi-pagi tiap hari. Tapi sejak masuk semester 5, aku mulai hidup mandiri alias nge-kost dekat kampus. Sebenarnya sih antara rumah sama kampus lumayan dekat, kira-kira 45 menit sampai sejaman. Tapi, aku benar-benar pengen coba hidup mandiri. Lagian toh dibolehin juga sama Ibu dan Bapak. Heheee...
***
Kampus.
"Rena, kenapa cemberut?" tanyaku pada teman dekatku.
Rena nggak jawab. Malahan sekarang nangis.
"Lho?? Kamu kenapa sih? Ditanya malah nangis,"
"Mal, aku nggak pernah suka sama cowok sampai segininya," jawab Rena sesenggukan.
"Cowok????"
"Heem... semenjak adikku masuk kuliah, Tian berteman sama dia."
"Hah? Dia siapa? Aku nggak ngerti deh, Ren, apa yang lagi kamu omongin ini."
"Aku suka sama temannya Tian."
"Apa?? Kamu suka sama teman adikmu? Terus, kenapa kamu nangis?" Jujur aku bingung.
"Aku bingung, Mal. Aku udah bilang kalau aku suka sama dia."
"Bagus dong."
"Bagus sih bagus, masalahnya dia nggak jawab apa-apa."
Aku terdiam. Berpikir.
"Emmm.. mungkin dia masih pikir-pikir."
"Ya harusnya dia bilang dong. Nggak diam kayak kemarin," kata Rena sedikit dongkol.
"Kamu udah sering jalan sama dia?"
"Sering sih nggak terlalu. Tapi bisa dibilang sering juga sih."
"Ya udah, kamu tunggu aja. Kalau kamu nggak sabar nunggu dia ngomong, mending kamu tanyain langsung aja,"
"Ih, gengsi dong." jawab Rena sambil melotot.
"Kamu gimana sih, Ren, katanya kamu pengen tahu jawabannya!? Kemarin kamu cuman bikin pernyataan aja, kan? Nggak bikin pertanyaan. Gimana dia mau jawab kalau nggak ada pertanyaan!? Udah deh, buang tuh gengsi. Kalau emang kenyataan ditolak, justru enak, kamu udah nggak capek-capek lagi buat suka sama dia. Kalau ternyata diterima, kamu harus traktir aku. Hehehee..."
"Yeee... serius malah bercanda nih anak."
"Udah yuk, kita ke kelas. Bentar lagi kuliah dimulai."
Mereka pun berjalan menuju kelas Statistik.
"Oh iya, anak mana sih dia?" tanyaku.
"Universitas Wibaya. Anak semester 1"
Hah???, spontanitas aku terkejut.
"Tapi dia seumuran sama kita."
Aku tertawa bersama Rena menuju kelas Statistik.
***
Di kamar.
Aku melihat foto-foto yang ku pajang di pigora meja. Foto Ibu, Bapak, kakak, sahabat-sahabatku dan teman-teman dekatku semasa SMP dan SMA. Aku kangen mereka. Tapi aku bertekad nggak akan tinggal dirumah selama aku belum meraih apa yang ingin aku raih di kampus itu.
Meskipun aku kuliah di Universitas swasta, tapi ada yang ingin ku raih di kampus itu. Sesuatu yang gagal aku raih di semester 1. Dan sekarang aku berjuang sampai lulus nanti.
Tok..tok..tok...
"Mal.." panggil mas Arya.
Aku keluar dari kamar.
"Ada apa, mas?"
"Ikut aku ke kafe. Bawa laptopmu juga," suruh Mas Arya, aku pun mengiyakan.
Mas Arya adalah pemilik kafe di kost-an yang aku tempati. Ibunya yang mengelola kost-kostan.
Mas Arya adalah seorang progammer yang sukses mengelola kafenya. Tiap malam selalu ada aja program-program baru yang di download ke laptopku.
"Bentar ya, mas, aku ambil minum dulu," kataku.
Mas Arya pun sibuk membuka program dalam laptopku.
Arya.
"Hm.. foto siapa nih? Apa mungkin pacarnya Kamal?? Ciyeee... udah punya pacar, dia. Hah? *Adit, you'll never back for me ??* maksudnya apa dia nulis gini di foto cowoknya!? Tunggu... apa jangan-jangan orang ini yang diceritain Kamal ke aku? Kasian juga si Kamal.. tampang nih cowok sih baik-baik aja. Tapi kenapa dia malah berpaling ke cewek lain ketimbang harus sama Kamal?. Kayaknya Kamal masih sayang banget sama nih cowok, sampai-sampai fotonya masih ada di laptopnya.
"Mas Arya, mau masukkan program apa lagi ke laptopku?" tanyaku yang membuyarkan keseriusan mas Arya.
"Mal!! Bikin kaget aja kamu itu. Datang nggak bilang-bilang, jawab mas Arya yang gelagapan, Abisnya mas Arya serius banget. Nggak usah serius-serius, kenapa!? kataku.
Malam ini aku ngobrol banyak sama mas Arya sampai larut. Karena besok libur, jadinya ntar aja tidurnya.
***
Pagi ini, Rena ke kost-an. Dia ingin mengajakku untuk bertemu dengan calon pacarnya itu.
"Duuuhh, Rena.. Aku masih ngantuk banget nih," jawabku saat dibangunkan Rena.
"Siapa suruh begadang bareng mas Arya!? Udah tahu kalian doyan banget ngerumpi, diterusin aja sampai pagi," cerocos Rena.
Terpaksa aku bangun lebih awal seperti harihari biasanya.
"Kenapa sih harus ngajak aku buat ketemuan sama gebetanmu itu? Nggak ada orang lain, apa!?" keluh Kamal.
"Nggak ada Kamal sayaaaang.. Udah cepet sana mandi!!."
Hari ini Rena cerewet banget. Hhhrrrggggghh....
***
"Ngapain kita ke kampus Wibaya?" tanyaku.
"Kita akan bertemu dengan Ditya," jawab Rena.
Hah?, aku sedikit tertegun
"Gimana sih? Tadi di kost-an kan aku udah bilang."
"Oh, jadi nama gebetanmu itu Ditya? Tapi, kenapa mesti di kampusnya? Rame, lagi. Ada acara ya?" tanyaku sambil celingukan.
"Justru itu aku sekalian ngajak kamu. Banyak makanan disini. Kamu belum makan, kan?"
Dasar!!!, aku cemberut.
"Oke!! Kita masuk sekarang!!"
Aku dan Rena masuk ke kampus itu. Kampus itu sedang mengadakan festival tahunan. Makanya rame bangeeett.
Aku melihat-lihat sekitar kampus ini. Dulu, aku ingin sekali masuk ke kampus ini. Tapi... yah, sudahlah. Itu sudah berlalu.
"Ayo, Mal!! Ditya udah nunggu di kantin" ajak Rena.
Aku membentuk ekspresi kecewa pada Rena.
"Kok gitu sih mukanya!? Kenapa, Mal?" tanya Rena.
"Aku kan belum beli makanan, asal ngajak aja sih," jawabku yang benar-benar lapar karena memang belum sarapan.
"Di kantin kan ntar juga banyak makanan, biasanya malah lebih murah di kantin dari pada di stand bazar kayak gini. Lagian kamu tumben banget lapar di pagi hari. Biasanya kuat nahan nggak makan seharian. Kenapa? Nerveous? Harusnya kan aku yang deg-degan ketemu sama Ditya. Karena hari ini aku pengen langsung tanyain ke dia. Kamu kebiasaan deh kalo udah lapar mesti deg-degan. Aneh kamu itu, Mal. Udah yuk!! Kita beli di kantin aja," kata Rena.
Aku berpikir, aku emang lagi deg-degan sih. Tapi, kalau masalah belum makan, aku udah nggak pernah deg-degan lagi. Eh, tapi serius nih aku lapar banget.
Kantin.
"Tuh, si Ditya udah nunggu kita. Yuk!!" kata Rena.
Aku celingukan. Tapi tetap aja nggak kelihatan. Rena menghampirinya duluan. Aku berhenti karena melihat seseorang. Mas Arya. Aku pun menghampirinya.
"Mas Arya!!" panggilku.
“Kamal?? Kamu kesini juga? Kirain masih pules di kamar," jawab Mas Arya.
"Tuh, si Rena ngajak aku kesini buat nemuin kecengannya. Parah tuh anak,"
"Oh, aku kira kamu sendirian. Ya udah, bareng sama aku aja. Aku juga sendirian,"
"Sendiri??"
"Awalnya tadi aku juga di ajak sama teman, cuman sekarang mereka lagi jaga stand. Mumpung hari ini kafe baru buka sore, ya udah aku kesini aja."
"Kasian banget kamu, mas. Duduk sendirian di kantin orang, udah kayak anak hilang."
Mas Arya tertawa.
Dari tempat dia duduk, Rena memanggilku.
"Mas, ayo ikut aku. Nggak asik kan kalau aku sendirian sedangkan mereka asik ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon," ajakku pada mas Arya.
"Emangnya aku boleh gabung sama kalian?" tanya mas Arya.
"Boleh. Udah ayo!!."
Aku sampai di meja mereka. Sebelum Rena mengenalkanku pada Ditya, aku melihat ekspresi mas Arya yang aneh.
"Mal, kenalin ini Ditya," kata Rena.
Aku pun menoleh ke arah Ditya. Deg. Sekejap rasanya bumi berhenti berputar. Dan hanya menyisakan aku dengan Ditya.
"Adit??" kataku lirih.
Ku lihat dia pun sama kagetnya denganku.
Waktu kembali normal, saat suara Rena yang membuyarkan keterkejutanku.
Ya, Ditya adalah Adit. Orang yang pernah ada di kehidupanku saat aku masih SMA. Kami sama-sama diam. Pura-pura nggak saling kenal.
Adit mengulurkan tangannya.
"Ditya," katanya.
Aku masih diam sampai mas Arya menyenggol lenganku dan aku tersadar.
"Oh, aku Kamal," kataku yang masih terkejut.
Untung aja Rena nggak sadar dengan apa yang baru aja terjadi.
"Mal, katanya tadi kamu lapar. Pesan sana, gih. Aku panggilin mbaknya ya!?" kata Rena.
"Ren, nggak usah dipanggil. Biar aku sama Kamal aja yang kesana," sahut mas Arya.
"Tapi, mas. Kan penjualnya bisa dipanggil. Biar kalian nggak capek-capek kesana," jawab Rena.
"Nggak apa kok, Ren. Lagian penjualnya kan nggak tahu seleraku kayak gimana!?" kataku terpaksa tersenyum.
Rena menganggukkan kepala.
***
Aku dan mas Arya pun menghampiri penjual makanan.
Aku dan mas Arya memesan makanan yang kami inginkan. Aku masih terkejut dengan kejadian tadi.
"Jadi dia yang namanya Adit?"
"Iya, mas."
"Oh.."
"Eh, mas Arya kok tahu?" aku baru menyadari pertanyaan Mas Arya.
“Sorry ya sebelumnya. Aku pernah nggak sengaja lihat foto-foto di laptopmu. Terus... aku nemu foto yang kamu kasih nama Adit. Jadi, aku simpulkan kalau selama ini yang kamu ceritain ke aku tentang Adit, yaaahh... Adit yang ada di foto itu."
"Oohh.. Tapi, mas, kenapa aku harus ketemu dia lagi?" tanyaku nelangsa.
"Takdir, mungkin!?" jawab Mas Arya.
"Takdir???," aku bingung.
Aku dan mas Arya sudah kembali ke meja Rena dan Adit.
Aku pun mulai makan.
"Aku makan duluan ya? Laper," kataku.
Rena dan Adit menganggukkan kepala. Mas Arya cuman senyum ngeliat aku makan.
"Mas Arya, nggak pesan makan tadi?" tanya Rena.
"Udah makan kok," jawabnya.
Sepertinya Rena mau ngomong sesuatu kepada Adit.
"Eee.. mumpung ada Kamal sama mas Arya disini, aku mau tanya sesuatu ke kamu, Dit. Dan mereka berdua saksinya," kata Rena tersendat-sendat.
Aku menghentikan makanku.
"Kamu mau tanya apa?" tanya Adit.
Dan nggak tahu kenapa aku jadi semakin nelangsa diantara mereka semua.
"Dit, aku kan udah pernah bilang kalau aku suka sama kamu. Sekarang aku butuh jawaban dari kamu. Apa kamu mau jadi cowok aku?" tanya Rena.
Rasanya jantungku mau copot setelah mendengar pertanyaan Rena yang seperti itu.
Adit masih diam. Sepertinya dia bingung.
Sebelum Adit menjawab, dari kejauhan Tian memanggil Rena. Dan terpaksa Rena harus menghampiri adikknya itu.
"Maaf ya, Dit. Aku ke Tian dulu," kata Rena.
Tinggallah kami bertiga.
Mas Arya tiba-tiba berdiri.
"Mal, aku ke kamar mandi dulu ya!?" katanya.
Aku sudah tahu maksud mas Arya yang katanya ke kamar mandi. Dia sengaja meninggalkanku berdua dengan Adit.
Aku diam. Nggak tahu harus ngomong apa.
"Kenapa diam aja? Terusin makannya!! Katanya kamu lapar," kata Adit. Aku mengangguk sambil meneruskan makan.
Disela-sela makan...
"Gimana kabarmu, Mal?" tanya Adit.
"Eeee... aku baik-baik aja."
"Alhamdulillah kalau gitu. Masih suka makan nasi kebuli ya?" tanyanya menurutku nggak penting.
Aku mengangguk kaku.
"Mal, gimana menurutmu? Apa yang harus aku jawab dari pertanyaan Rena tadi?"
"Mmm.. Eeee... aku cuman bisa bilang, Rena itu baik. Jadi aku mohon, jangan bikin dia bingung. Kasi dia kepastian. Jangan nggantungin hubungan dengan orang sembarangan. Jangan lagi, Dit."
"Maaf, Mal." Suara penyesalan dari Adit.
Aku berdiri.
"Eee, Dit. Aku harus pulang. Tolong bilangin Rena, aku pulang bareng mas Arya. Makasih," kataku.
Aku pun segera mencari mas Arya untuk pulang. Aku nggak akan tahan lama-lama disana. Aku takut Rena segera menyadari sesuatu.
***
Sabtu pagi.
"Ar, tumben Kamal nggak kelihatan!? Dia pulang ke rumahnya?" tanya Mama.
"Nggak tuh, Ma. Aku nggak ngelihat dia keluar sama sekali," jawabku.
Mama memang seperti itu, selalu mencemaskan anak-anak kost disini kalau terjadi apa-apa.
"Mama mau ke kamarnya Kamal," kata Mama.
Hari ini nggak ada jadwal kemana-mana. Adapun, aku juga nggak bakal bisa ikutan.
"Aaarrrrggghhh... aku kenapa sih?? Nggak enak badan gini."
Tok...tok...tok...
Aku segera membuka pintu kamar. Malas sebenarnya. Hari ini aku nggak ingin diganggu siapapun.
"Nak Kamal... kamu sakit??"
"Ibu?? Nggak.. saya nggak apa kok, Bu."
"Ibu khawatir kamu kenapa-kenapa. Eh, kayaknya kamu pucat. Pasti kamu sakit," kata Ibu Mas Arya.
"Cuman nggak enak badan aja, Bu. Nanti pasti cepat sembuh," jawabku.
"Ya nggak bisa gitu, Mal. ARYAAAAA!!!! AMBILKAN OBAT DI LACI."
"Ibu, istirahat sebentar udah cukup kok," kataku tak enak.
Ku lihat mas Arya turun dan menghampiri kami. Bukan hanya mas Arya, tapi hampir semua penghuni kost.
"Mal, kamu kenapa?" tanya mbak Dina.
Pertanyaan yang sama juga dilontarkan beberapa teman kost lainnya.
Mas Arya memberikan obat pada Ibunya yang diberikan padaku.
"Sakit?" tanya mas Arya, aku hanya menggelengkan kepala.
"Heh, emangnya kamu bisa bohong dari aku? Dari pertama kamu nge-kost disini, kamu tuh nggak bisa bohongin aku," kata mas Arya. Aku cemberut.
***
Malam Minggu. Aku keluar kamar. Ku lihat mas Arya di depan kafe.
"Mal, kamu udah sehat?" tanya mas Arya, aku menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Aku menghampiri mas Arya.
"Aku pengen jalan-jalan, mas."
"Ayo!! Itupun kalau kamu udah benar-benar sehat."
"Emm.. mas Arya nggak ngurusin kafe? Kan lagi banyak pembeli tuh," kataku.
"Biarin. Kan masih ada pelayan yang lainnya. Masa aku kerja terus. Sekali-sekali refreshing, jalan-jalan di malam minggu."
"Ayo kalau gitu!!" ajakku.
Aku dan mas Arya jalan-jalan. Udara malam ini sangat dingin. Sedari tadi mas Arya mengkhawatirkan kesehatanku. Tapi aku nggak peduli. Toh, aku benar-benar sudah merasa sehat.
Tiba-tiba ponselku berdering...
"Assalamualaikum, Ren!?"
"Waalaikumsalam, Mal. Abis dari kampusnya Ditya, kamu kok nggak telpon aku sih?"
"Maaf, Ren. Kemarin aku harus cepat-cepat pulang," jawabku.
"Oke deh, aku maafin. Oh iya, ada kabar baik banget. Aku udah jadian sama Ditya," kata Rena riang.
Deg. Aku terdiam seketika. Mas Arya pun langsung bingung.
"Mal?? Kamu masih disitu?" tanya Rena diseberang sana.
Aku masih diam.
"Mal?? Kamal??"
"Hah? Maaf, Ren. Oh, selamat ya kalau gitu. Berarti kamu nggak sia-sia selama ini suka sama dia. Sekali lagi selamat ya," ucapku getir.
"Heem. Sama-sama. Ya udah kalau gitu. Aku cuman mau ngasi tahu itu aja kok. Wassalamualaikum, Kamalku sayaaaang!!"
"..wa..waalaikumsalam"
Tubuhku mulai gontai.
"Mal, meskipun kamu masih sangat sayang sama Adit, tapi kamu nggak mau ngatakan itu ke Adit dan ngerelain dia untuk Rena, jangan kayak gini. Kamu harus ikhlas, karena itu adalah pilihanmu. Lebih baik doakan mereka yang terbaik. Ya? Aku yakin kamu bisa hadapin ini semua," kata mas Arya.
Aku mulai menangis. Bukan karena menyesal melainkan karena kebodohanku yang selalu memendam rasa ini. Akhirnya aku pun kembali ke kost-an dengan perasaan sedikit hancur.
***
Lima bulan kemudian.
Hari ini Rena mampir ke kost-an. Katanya ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan.
Apa ya?. Apa jangan-jangan... ah, nggak mungkin.
“Kamal, aku mau bicara penting sama kamu," kata Rena.
Aku gugup dan takut.
"Bicara apa sih? Mau ngomong apa?"
"Mal, lusa aku harus berangkat ke Bandung. Aku pindah ke sana."
"Apa?? Ke..kenapa kamu pindah?"
"Papa aku pengen aku ada disana nemenin beliau. Tapi tenang aja, setelah lulus, aku akan cepat-cepat kembali ke sini," jawab Rena.
"Tian juga ikut pindah?" tanyaku.
"Enggak.. kamu tahu, nggak, siapa yang bakalan ikut aku ke
Bandung?"
"Siapa?"
"Ditya. Dia bakalan kuliah di Bandung juga sama aku. Dia baik banget ya. Ditya mau pindah demi aku. Katanya sih,"
"Beneran?"
Rena mengangguk semangat. Aku tersenyum ikut bahagia.
Tiba-tiba ada mobil Honda-CRV berhenti di depan kost-an.
Tian turun dari pintu kiri.
"Heh, ngapain kamu kesini?" tanya Rena.
"Ngembaliin laptop kak Kamal," jawab Tian.
"Kamu kayak nggak punya laptop aja sih," kata Rena.
"Bukan gitu. Di laptopnya kak Kamal banyak program-program bagus. Makanya aku minta. Saking banyaknya, aku harus pinjam sekalian laptopnya," jawab Tian.
Direbutnya laptopku dari tangan Tian.
"Program apa sih? Kok Kamal nggak pernah ngasi tahu aku!?" kata Rena penasaran.
"Gimana aku bisa ngasi tahu kamu kalau kamu sendirinya nggak tertarik!?" jawabku.
Rena mengutak-atik laptopku.
Ku lihat seseorang keluar dari pintu kanan mobil. Adit. Aku terkejut. Tian menoleh ke arah Adit berjalan. Seketika Tian menoleh padaku.
"Kak!?."
Aku tersenyum pada Tian dan menyapa Adit.
"Ditya? Kamu juga ikut kesini?" sapaku.
Rena menoleh senang.
"Sayang, kamu disini? Kamu mau aja sih ngikutin Tian. Bentar ya, sayang. Lagi asik nih!! Lagi lihat foto-foto narsisnya Kamal," kata Rena pada Adit.
Perasaanku nggak enak setelah mendengar perkataan Rena barusan.
Rena.
"Adit? Siapa nih? Kok Kamal nggak pernah cerita sih? Apa gebetan barunya? Aku buka aja deh foldernya,. Open.
"Apa? Ditya? Kenapa banyak foto-foto Ditya disini? Tapi.. Adit? Nama Ditya juga ada Aditnya. Tepatnya Aditya. Ya Allah... Kamal!?..
Aku menoleh Rena.
Deg. Dan ku lihat layar laptopku memunculkan foto Adit.
"Ren!!" panggilku.
Rena menoleh dan menghampiriku.
"Kamal!!!! JAWAB AKU!!! ADA HUBUNGAN APA KAMU DENGAN DITYA???"
Tubuhku bergetar hebat. Tian menghampiri kami.
"Ada apa sih, kak?" tanya Tian pada Rena.
Adit juga menghampiri kami. Rena segera mengambil laptopku dan menunjukkan apa yang sudah dilihatnya.
Aku, Tian dan Adit terkejut. Aku terdiam. Tian menoleh ke arahku. Aku bingung bagaimana menjelaskannya.
"Kamal!!! JAWAB, MAL!!!"
"Aku.. aku nggak ada hubungan apa-apa sama Ditya, Ren."
"LALU INI APA, MAL?? KAMU JAHAAAT!!!"
Tiba-tiba Adit menengahi kami.
"Ren, dengerin aku.."
"APA YANG BAKAL KAMU JELASIN, DIT? INI UDAH JELAS!!"
"DENGERIN AKU DULU!!!," Adit membentak Rena.
Rena terdiam.
"Aku dan Kamal saling kenal. Kami teman satu SMA. Dan perlu kamu tahu, aku pernah ada hubungan sama dia. Aku pernah sayang sama dia," jelas Adit.
"APA???????? Kenapa kalian nggak pernah cerita ke aku?"
"Karena memang nggak ada yang perlu diceritain ke kamu. Aku dan Kamal udah nggak ada hubungan apa-apa lagi." jawab Adit.
"Jawab aku, Dit!! Kamu masih sayang sama Kamal?" tanya Rena.
Adit menoleh ke arahku. Dan...
"Nggak, Ren. Sayang itu hanya masa lalu. Dan sekarang... aku sayang sama kamu. Bukannya aku udah janji sama kamu untuk hidup bareng kamu!? Kamu percaya kan sama aku?"
Aku tertunduk. Tian merangkulku.
"Rena, sekarang kamu harus minta maaf pada Kamal karena kamu nuduh dia jahat," pinta Adit.
Rena mengangguk.
Rena menghampiriku.
"Rena, maafin aku," kataku.
"Apa kamu masih sayang sama Ditya? Sampai kamu masih nyimpen foto-foto Ditya di laptopmu," tanya Rena.
Aku diam.
Tiba-tiba aku teringat perkataan mas Arya.
"Aku udah nggak sayang lagi sama dia,"
"Lalu apa maksud foto-foto itu?," tanya Rena yang membuatku bingung menjawabnya.
"Itu masa lalu, Ren. Aku belum sempat hapus foldernya. Oke, sekarang kamu bisa lihat. Aku akan hapus semua foto-foto ini dari laptopku, aku pun menghapus semua foto-foto Adit dari laptopku."
Namun sebenarnya sangat sakit bila menghapus semua kenangan yang ada di foto-foto ini. Files deleted!.
"Aku percaya kamu, Mal. Aku yakin kamu nggak akan mengkhianati aku. Aku maafin kamu. Dan aku juga minta maaf karena udah kasar sama kamu," kata Rena.
Kami pun berpelukan. Aku menahan tangis.
"Maafin aku, Ren," kataku sekali lagi.
Adit mengajak Rena pulang. Sedangkan Tian masih ingin tetap bersamaku. Akhirnya semua selesai.
"Kak. Maafin kak Rena karena udah bikin hati kak Kamal sakit," kata Tian.
"Rena nggak salah, yan. Aku yang bodoh karena mempertahankan ini semua. Dan merahasiakan semua dari Rena," jawabku.
***
Dua minggu kemudian, setelah keberangkatan Rena dan Adit ke Bandung.
Mas Arya mengetuk pintu kamarku.
"Ada apa, Mas?" tanyaku.
"Ini ada surat. Tadi yang ngasi cowok yang biasanya pinjam laptopmu itu lhoo," jawabnya sambil mengingat-ingat.
"Tian? Mana sekarang dia?" tanyaku.
"Udah pulang. Dia tadi keburu banget," jawab mas Arya.
"Ya udah. Makasih ya, Mas," kataku.
Aku membuka dan membaca surat itu...
Kamal,
Maaf kalau kami berdua nggak sempat pamit untuk berangkat ke Bandung. Pesawat kami berangkat tengah malam. Dan nggak mungkin untuk pamit kamu di tengah malam kayak gitu.
Kata Rena, kamu harus jaga diri baik-baik. Sering-sering hubungi dia. Rena nanti juga bakalan sering-sering hubungi kamu.
Mal, aku minta maaf untuk semua yang udah aku lakuin ke kamu selama ini. Aku ngerasa nggak pantas bahagia bersama Rena sedangkan mungkin perasaanmu hancur.
Jujur, aku sangat hancur. Tapi justru karena kamu, aku bisa hadapin ini semua. Mungkin ini memang udah jadi takdir kita. Aku menyesal, Mal. Andai waktu itu aku bisa bersikap tegas ke kamu, kejadiannya nggak akan kayak gini. Maafin aku!!. Aku sangat berharap kamu lebih bahagia dari pada aku.
Ya udah, kalau ada kabar dari kami, aku akan cepat-cepat kabari kamu. Makasih untuk selama ini.
-Adit-
Aku mulai menangis.
Ya Allah, semoga ini yang terbaik bagiku. Dan... bahagiakan mereka.
***
Empat tahun kemudian.
Aku pergi ke Green Cafe. Kafenya mas Arya. Setelah lulus kuliah, aku kembali ke rumah orangtuaku.
Aku melihat Erika berjalan ke arahku dengan lucunya. Ya, Erika adalah anak mas Arya yang masih berumur satu setengah tahun. Mas Arya menikah dua tahun lalu.
"Hai, sayaaaang!! Mana Ayah?" tanyaku pada Erika sambil menciuminya.
Dengan lucunya Erika memanggil Ayahnya itu.
Mas Arya pun muncul.
"Kamal?? Hei, kapan datangnya?" tanya mas Arya.
"Barusan kok. Oh iya, mas Arya mau ngasi sesuatu apa ke aku?" tanyaku.
"Oh, bentar aku ambilkan. Jagain anakku!! Jangan digemes-gemesin lhoo.. kebiasaan kamu itu kalau ketemu Erika. Dasar tante jahat!!" kata mas Arya.
Aku pun tertawa mendengar itu.
Mas Arya datang membawa sesuatu. Sepertinya undangan.
Hm? Undangan?. Perasaanku mulai nggak enak.
"Mal, gimana sama cowok di kantor kamu yang sering kamu ceritain itu?" tanya Mas Arya.
"Haduuuuhh.. tuh orang nyebelin banget deh. Tiap hari nggak ada bosannya bikin aku jengkel. Apalagi sekarang dia satu tim sama aku. Aaaaarrrrggghhh... hancur sudah hidupku," jawabku mengeluh.
"Mungkin dia suka sama kamu," goda Mas Arya.
"Hah? Nggak mungkin. Kalau suka dia nggak bakal bikin aku jengkel setengah mati."
"Cowok itu kalau PDKT, beda-beda caranya. Nggak selalu kayak Adit," kata Mas Arya.
"Hm? Mas Arya ngomong apaan sih!?"
"Nih!! Undangan pernikahan Adit sama Rena. Rena masih di Bandung sekarang. Rena sengaja nitipin ini ke aku. Karena dia cuman tahu nama alamat disini. Dia nggak hafal alamat rumahmu."
Aku mengambilnya dari tangan mas Arya. Aku baca undangan itu.
"Aku juga di undang," kata Mas Arya.
"Oh ya? Waaahhh... kita bareng aja kesana. Bareng Erika sama mbak Fani. Pasti seru tuh," jawabku.
"Heh, nggak sedih dengar pernikahan mereka? Malah ngajak bareng,"
Aku tersenyum.
"Enggaklah, mas. Aku malah senang dengar mereka menikah."
"Oooohh... ya iyalah kamu pasti bahagia. Karena sekarang kamu udah jatuh cinta lagi," goda Mas Arya.
"Hah?? Sama siapa?"
"Si cowok yang bikin kamu jengkel itu. Siapa namanya? Sean? Benar ya?"
"Hiiihhh... mas Arya kok gitu sih."
"Jujur aja... kamu kangen kan kalau si Sean itu nggak masuk kerja. Kamu bingung kan kalau si Sean itu kenapa-kenapa!? Ngaku deh," godanya lagi.
"Enggak kok..."
"Heh, ingat!! Fani sekantor sama kalian. Fani tahu gerak-gerik kalian. Dan Fani pasti cerita ke aku, kamu tetap nggak akan pernah bisa bohong sama aku. Sampai kapan pun itu."
Aaaaaaarrrrrrgggghhhhh... MAS ARYAAAAA!!!!!
***
Pernikahan Adit dan Rena.
Aku tersenyum pada mereka.
"Selamat ya!? Akhirnya datang juga hari ini," ucapku.
"Makasih ya, Mal" jawab Rena dan Adit.
Setelah mengucapkan selamat, aku memgambil makanan dan segera duduk di tempat duduk tamu.
Seseorang disebelahku, minumannya tumpah ke bajuku. Aku geram dan...
"SEAN??? NGAPAIN KAMU DISINI??" tanyaku terkejut.
"Kamal? Maaf ya... haduuuhh.. jadi bersalah gini deh aku," kata Sean.
Aku mengerutkan kening. Hiiiiihhh... SEAN! Aku tanya sama kamu. Ngapain kamu di sini? Nih anak emang suka bikin masalah ke aku," kataku.
"Haduuuhh... selalu galak. Bisa nggak sih kalem dikit!? Katanya kamu nggak ada teman kan buat ke acara ini, makanya aku kesini nemenin kamu," jawabnya.
Aku bingung. Tahu dari mana nih anak kalau ada acara disini.
"Tahu dari siapa kamu, aku ada disini??"
"Ada deeehhh."
Aku jadi ingat perkataan mas Arya.
Tapi.... kenapa aku jadi ngerasa nyaman banget ada Sean disini? Di saat aku harus melihat pernikahan Adit.
Oh Noooo!!!!..
MAS ARYAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!
***