Hembusan angin laut menerpa kulitku, musim panas di Oran Algeria, di pantai Ain turk aku berdiri menatap lautnya biru. Wisatawan hilir mudik di hadapanku. Aku berjanji pada diriku untuk melepaskan cinta yang telah lama singgah di hatiku. Di pantai ini aku melepas kerinduan dan di pantai ini pula aku aku harus merelakan nya dengan wanita yang sekarang resmi menjadi istrinya.
Tidak ada penyesalan, tidak ada duka yang harus terus kuratapi, Karna bagaimana pun aku memohon, dia tidak akan pernah menjadi milikku. Aku harus melupakan seseorang bernama Ahmed.
Pagi tadi saat dia mengucapkan ijab kabul, disanalah aku menjadi wanita paling menyedihkan, menangisi orang yang pernah ada dihidupku. Cukup sudah bagiku bersedih sekarang aku harus bangkit.
" Apa sedalam itu cintamu pada Ahmed?" Tanya Adrian mendekatiku, aku menoleh dan tersenyum.
" Dulu saat bersamanya, aku selalu bilang. Cintaku seluas samudra, setinggi gunung Himalaya. Dan sekarang aku mengerti makna ucapanku, ternyata cintaku terukur dan akan habis saat diujung" jawabku tertawa
" Mungkin sekarang kamu masih merasakan luka, tapi yakinlah waktu akan menyembuhkannya" ucap Adrian
" Iya, aku yakin tentang hal itu. Tapi berapa lama kita tidak akan tahu" balasku.
Adrian mensejajarkan tubuhnya denganku, kami berdua menatap lautnya biru, merasakan hembusan angin. Menatap deburan ombak
" Apa kamu masih akan tinggal dirumah Nabil?" Tanya Adrian lagi
" Entahlah, aku juga masih belum tahu. Yang aku tahu sekarang aku hanya ingin sendiri" jawabku
" Ha ha ha ha kamu mengusirku" tawa Adrian
" Kamu cukup pintar untuk mengerti bukan?" Ucapku
" Baiklah, aku akan meninggalkan mu sendiri. Tapi berjanjilah jangan larut dalam kesedihan. Tinggalkan semuanya disini" balas Adrian menepuk bahuku lalu pergi meninggalkanku
Hari sudah sore, aku berjalan meninggalkan pantai. Langkahku terhenti pada seorang pelukis dipinggir pantai.
"Bisa kah kamu melukisku?" Tanyaku
" Tentu saja nona" jawab pelukis itu
Aku duduk menghadap kearahnya, membiarkan sang pelukis, menggambar wajahku. Tidak perlu waktu lama lukisanku pun selesai. Aku melihat hasil lukisannya dan sedikit terkejut.
" Apa kamu harus sejujur ini melukisku?" Tanyaku, sang pelukis tampak bingung
" Apa ada yang salah nona?" Tanya nya kebingungan
" Kenapa aku tampak sedih disini?" Tanyaku lagi
" Aku hanya melukis yang aku lihat, dan sekarang ini hasilnya" jawab sang pelukis.
" Baiklah, ini upahnya. Jual lah lukisan ini. Jika tidak ada yang membelinya buang saja. Lukisanmu terlalu indah. Tapi aku tidak menyukai wajahku dilukisan itu. Kamu pelukis berbakat. Semoga Allah memberkatimu" ucapku sambil menyerahkan uang
" Tapi nona, aku tidak bisa menjualnya, kamu sudah membayarnya maka ambillah lukisan ini" ucap sang pelukis
" Berikan pada orang yang menyukainya" ucapku berlalu pergi.
Malam hari tiba, dan aku sepertinya tersesat. Aku bahkan tidak tahu dimana aku berada. Aku duduk di pinggir jalan. Kakiku terasa sakit, aku tidak tahu seberapa jauh aku berjalan. Aku menunduk memijit kakiku. Ku ambil ponselku berniat menghubungi Nabil atau Adrian tapi lagi-lagi aku terlalu sial hari ini. Ponsel ku mati. Kuhembuskan nafas pasrah.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti didepanku
" Maya" panggil seseorang mendekatiku, aku mengangkat wajahku. Ini pertama kalinya aku sangat senang melihat Nabil.
" Bagaimana kamu menemukan ku?" Tanyaku
" Kamu membuat semua orang khawatir, sekarang Ahmed pun sedang mencarimu" ucap Nabil membantu ku berdiri.
" Aku tidak tahu jalan pulang, ponselku pun mati" ucapku menunjukkan ponselku, Nabil menghembuskan nafas kesal.
" Sebentar aku hubungi Ahmed, agar dia pulang" ucap Nabil sambil meninggalkanku. Dan menghubungi Ahmed.
Nabil berbicara dengan Ahmed, terdengar suara Nabil sedikit emosi. Aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Bahkan Nabil mematikan ponselnya dengan kesal. Dia mendekatiku dan menyuruhku masuk kedalam mobil.
Kami tiba dirumah setelah perjalanan hampir 30 menit. Ibu Nabil langsung berhambur memelukku, begitupun Adik perempuannya. Mereka bergantian memelukku, aku merasa tidak enak telah membuat mereka khawatir. Kami masih dihalaman luar rumah Nabil saat ibu Ahmed memelukku. Mereka menangis, aku melihat tidak jauh dari kerumunan, Ahmed menatapku.
" Aku baik-baik saja, maaf membuat kalian khawatir." Ucapku
" Kamu putri kami nak, tidak akan kubiarkan kamu terluka" ucap ibu Ahmed memegang kedua pipiku.
" Terimakasih bibi, aku minta maaf" ucapku.
Adrian berlari begitu turun dari mobil, dia bersama Abed. Lalu memelukku.
" Aku bisa gila kalau kamu benar-benar hilang kali ini" ucapnya
" Maaf, aku janji tidak akan mengulanginya" ucapku melepaskan pelukannya.
Hari ini ditutup oleh kegaduhan yang ku buat. Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur, berharap hari ini cepat selesai saat aku tertidur. Aku baru saja memejamkan mata, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku tidak mengenal nomer ponsel yang tertera.
" Salaam" ucapku membuka pembicaraan
"Wa Alaikum salaam " suara diseberang sana, dan aku mengenali suaranya
" Aku di depan jendela kamarmu. Kita bicara sebentar" ucap Ahmed
Aku membuka jendela dan melihat Ahmed berdiri.
" Ada apa?" Tanyaku saat melihat Ahmed
" Apa kamu baik-baik saja?" Ahmed balik bertanya
" Kamu tidak perlu khawatir, pulanglah aku tidak ingin istrimu tahu tentang kita" jawabku pelan
" Tidak perlu takut, aku akan menceritakan padanya" ucap Ahmed
" Jangan gila, besok aku akan kekota. Dan pergi dari sini. Urusan kita sudah selesai" kali ini aku sedikit kesal pada sikap Ahmed
" Apa kamu yakin bisa meninggalkan tempat ini?" Tanya Ahmed tersenyum
" Maksudmu?" Aku balik bertanya
" Jangan membuat orang khawatir, ibuku terus menyalahkan ku saat kamu hilang. Dia begitu menyukaimu, bukan tidak mungkin kita akan dinikahkan" jawab Ahmed tersenyum kecil
" Itu tidak akan terjadi" Selak Nabil di belakang Ahmed. Kami berdua terkejut
" Pulanglah saudaraku, mau berapa banyak lagi kamu membuat Maya menangis. Biarkan dia menjalani hidupnya" lanjut Nabil menepuk bahu Ahmed
" Kamu tidak perlu ikut campur, ini urusanku" Ucap Ahmed kesal
" Sekarang dia menjadi urusanku. Maya tutup jendela dan tidurlah" Nabil berkata dengan tegas.
Aku keluar kamar, dan keluarga Nabil sedang berkumpul di meja makan. Aku mencium tangan ibu dan Ayah Nabil, Adrian juga sudah ada disana. Anehnya suasana dimeja makan agak tegang pagi ini
" Kakak, hari ini rencananya akan kemana?" Tanya Rania adik perempuan Nabil
" Aku akan kembali ke kota, dan mungkin akan ke Aljir" jawabku
" Aku minta maaf mba, aku harus kembali ke Jakarta. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan" ucap Adrian.
" Kapan?" tanya ku
" Setelah sarapan aku akan berangkat" Adrian menatapku lembut.
" Baiklah, aku akan berlibur sendiri seperti rencana awalku" ucapku tersenyum
Tiba-tiba seorang anak kecil berlarian dan duduk dipangkuan Nabil, dia terus berceloteh. Mengerti dengan keterkejutan ku ibu Nabil menepuk tanganku.
" Itu putra Nabil, Firas namanya. Dia baru kembali dari rumah neneknya" ucap Ibu Nabil
" Lalu dimana istri Nabil?" Tanya ku penasaran
Seorang wanita yang kuyakini istri Nabil datang membawa tas di tangannya, dia mencium punggung tangan Nabil, ayah dan ibunya. Dia menatapku dan tersenyum. Cantik khas wanita arab.dengan mata besar dan hidung yang mancung.
" Aku Soraya, istri Nabil" ucapnya mengulurkan tangan
" Aku Maya " jawabku membalas uluran tangannya
Selesai sarapan aku membantu Soraya merapikan meja makan, kami berdua terdiam. Tak ada perbincangan apa pun. Aku membawa piring kotor dan berniat mencucinya,
" Kamu tamu dirumah ini, biar aku yang mengerjakannya" ucap Soraya
" Tidak apa-apa, aku akan membantumu" ucapku . Soraya mencuci piring dan aku mengelapnya dengan kain.
" Sudah berapa lama kenal dengan suamiku?" Tanya Soraya
" Beberapa bulan" jawabku singkat
" Apa dia pernah bercerita tentangku" tanya Soraya lagi
" Sedikit, tidak banyak yang dia bicarakan tentangmu. Kami sering berbicara tentang Ahmed dan aku yakin kamu pun tahu" jawabku
" Iya, sedikit. Tapi dia lebih banyak menceritakan tentangmu" ucap Soraya
" Maksudmu?" Tanyaku
" Sebentar, aku akan menunjukkan padamu sesuatu" Soraya menyelesaikan pekerjaannya. Dia mengajakku masuk ke dalam kamarnya
Aku cukup tertegun melihat interior kamar Nabil yang seperti laki-laki single. Bukan seperti kamar seorang yang telah menikah. Yang membuatku terkejut. Lukisan yang kutinggalkan di pantai terpajang di dinding kamarnya.
" Sebelum aku berangkat ke rumah ibuku. Kami sempat bertengkar, soal keinginannya menikah lagi. Aku yang jengkel lalu pergi dari sini. Tapi saat aku kembali tadi pagi. Aku terkejut saat melihat lukisanmu. Apa Nabil benar-benar menginginkan mu?" Soraya duduk dipinggir tempat tidur
" Soraya, aku tidak menginginkan ini, dan lukisan ini aku tidak tahu kenapa bisa disini?" Ucapku duduk disampingnya
" Pernikahan kami perjodohan, dan selama ini aku tahu Nabil tidak mencintaiku. Dia hanya menunjukan baktinya kepada orang tuanya. Walaupun Firas telah hadir diantara kami, tetap tidak bisa membuatnya mencintaiku" ucap Soraya
"Demi Allah aku tidak ingin berniat merebut Nabil darimu" aku menggenggam tangan Soraya
Aku keluar dari kamar Nabil, dan menuju ruang tamu, Adrian sudah lengkap dengan jas dan kopernya. Dia menatapku dengan tatapan lembutnya, lalu mendekatiku.
" Jaga dirimu, aku akan kembali Minggu depan bersama ibumu' ucap Adrian
"Ibu? Ibu ingin menyusul ku?" Tanyaku terkejut
" Ya, dan dia senang saat aku bilang akan mengajaknya kesini" jawab Adrian, aku mengantarnya sampai dihalaman rumah Nabil.
Semua orang sudah kembali kedalam, tinggal aku dan Nabil diluar . Dia menendang-nendang kerikil kecil.
" Nabil, aku ingin bicara denganmu?" Ucapku
kami berjalan dilingkungan dan berhenti disebuah taman bermain. Aku duduk di bangku taman dan memandang Nabil yang terus saja memandangku.
" Kenapa lukisan itu bisa dikamarmu?" Tanyaku membuka pembicaraan
" Apa Soraya menunjukan padamu?" Ucap Nabil balik bertanya, dan aku menggangguk
" Saat aku kepantai aku melihat lukisan mu, aku bertanya pada pelukis itu. Kamu meminta dilukis, tapi tidak menyukai lukisannya. Aku ingin membelinya tapi dia menolak uangku. Dia bilang jika aku menyukainya, aku boleh membawanya. Dari dialah aku tahu kearah mana kamu berjalan" ucap Nabil sambil duduk disebelah ku.
" Tapi kenapa kamu meletakkan nya dikamarmu? Apa kamu tahu bagaimana perasaan Soraya?" Tanyaku lagi , Nabil menghela nafasnya
" Beberapa bulan lalu aku berkenalan denganmu, lalu kamu menceritakan hidupmu, kisah cintamu dengan Ahmed dan itu membuatku sakit. Aku tidak pernah merasakan perasaan sakit orang lain, tapi dengan mu berbeda. Setiap kamu bercerita ada pedih dan aku ikut terluka. Seiring berjalannya waktu aku menyadari aku jatuh cinta padamu" jawab Nabil
" Tapi aku tidak mencintaimu, bagaimana kamu melakukan hal ini pada Soraya?" Aku menoleh kearahnya.
" Awalnya dia marah dan membawa Firas ke rumah orangtuanya, tapi saat kami berbicara lagi. Akhirnya dia mengerti dan menyetujui nya" ucap Nabil
" Ini gila Nabil, aku tidak bisa melakukannya" balasku meninggalkan Nabil dibangku taman.
Aku yang sedang kesal berjalan dengan cepat dan tanpa sengaja aku menabrak seorang wanita muda.
" Maaf, aku tidak sengaja" ucapku membantu wanita itu berdiri, ya Tuhan ini istrinya Ahmed. Pekikku dalam hati
" Aku tidak apa-apa" ucap wanita itu
" Ahlem, apa yang terjadi?" Ahmed memegang tangan istrinya dan dia terkejut melihatku.
" Maaf, aku tidak sengaja menabrak nya tadi" ucapku
" Baiklah, lain kali berhati-hati" ucap Ahmed membawa Ahlem dan meninggalkan ku.
Dan pada saat itu aku mengerti, ini saatnya aku pergi meninggalkan Ahmed dan menjauh dari Nabil, aku tidak ingin menghancurkan hati wanita lain Karna kehadiran ku.
Aku membereskan bajuku dan memasukkan nya kedalam koper, Rania yang dari tadi bersamaku terus membujukku. Memahami perasaan kakaknya, begitupun dengan Soraya dan ibu Nabil. Keputusanku sudah bulat, aku tidak mau menjadi yang kedua.
" Mama" panggil Firas menarik bajuku, sejak kapan anak kecil ini memanggilku Mama? Aku mensejajarkan tinggi ku dengan Firas,
"Aku bukan mamamu, dia mama mu" tunjukku pada Soraya
" Abi bilang, kamu mama, jangan pergi ma" ucap Firas, aku menutup mataku. Tidak mungkin mengatakan hal yang tidak-tidak pada anak seusia Firas.
" Ibu, terimakasih untuk beberapa hari ini. Tapi sungguh aku tidak bisa melakukan ini" ucapku memeluk ibu Nabil
" Maya, demi Allah aku ikhlas. Menikah lah dengan Nabil" ucap Soraya menggenggam tanganku. Aku menggeleng.
" Kalian orang baik. Aku tidak bisa melakukan nya" ucapku. Aku berjalan menuju ruang tamu disana sudah ada Nabil, ayahnya dan Ahmed. Kenapa Ahmed ada disini? Masa bodoh lah.pikirku
" Ayah, terimakasih untuk beberapa hari ini. Aku sangat menyayangi keluarga ini. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku akan pergi." Aku mencium punggung tangan Ayah Nabil.
"Aku antar kamu" ucap Ahmed, aku menoleh kearahnya.
" Tidak, aku bisa pergi sendiri" ucapku, Nabil berdiri dan mengambil koperku. Dan memasukkannya kedalam mobil.
" Masuklah aku antar. Aku tidak mau kamu tersesat" ucapnya.
Aku duduk disebelah Nabil yang mengendarai mobil, tidak ada percakapan. Kami terdiam dengan pikiran masing-masing. Nabil sesekali menoleh kearah ku.
"Bawa aku ke pantai Ain turk. Aku ingin menghabiskan liburanku disana" pintaku. Nabil tidak menjawabku. Dia hanya mengendarai mobil dengan tenang.
Kami tiba disebuah rumah yang tidak terlalu besar, di dekat pantai Ain turk. Apa dia menyewakan 1 buah rumah untukku. -gila- pikirku.
" Aku akan menginap di hotel" tolakku.
" Kamu tidak mengenal tempat ini, dan kita tidak tahu mana dari orang-orang itu yang baik dan jahat, aku tidak bisa mengawasimu sepanjang waktu" ucap Nabil sambil membawa koperku kedalam rumah itu.
" Salaam" ucap Nabil sambil masuk kerumah itu, lalu ada seorang wanita tua menghampirinya,
" Nak Nabil, kamarnya sudah saya rapikan" ucap wanita tua itu.
" Bi, bawa dia ke kamarnya, jika dia butuh sesuatu. Telepon aku. Antar kemanapun dia ingin pergi. Jangan biarkan dia pergi sendiri . Dia pernah tersesat, dan aku tidak ingin itu terjadi lagi padanya" ucap Nabil, dan wanita tua itu mengangguk.
Nabil mengajakku duduk di sofa, dia menghembuskan nafasnya kasar, seperti lelah kesal dan frustasi.
" Bagaimana bisa Ahmed ada disana" tanyaku membuka pembicaraan
" Dia datang, setelah kamu bertemu dengan istrinya" jawab Nabil.
" Dengarkan Aku! Aku tidak akan memaksa kamu untuk menikah denganku, aku juga tidak bisa memaksakan perasaan mu padaku. Aku yang mengundangmu untuk datang kesini, setidaknya ijinkan aku bertanggung jawab padamu" lanjut Nabil
" Baiklah, sesukamu" jawabku singkat. Nabil berdiri, dan menoleh ke arahku.
" Aku bukanlah Ahmed, yang mengatakan cinta tapi tidak sanggup untuk menikahiku. Aku mencintaimu, dan InshaAllah aku akan menikahimu" ucap Nabil meninggalkanku..
" Nona, apa butuh sesuatu?" Tanya wanita tua itu. Aku menepuk sofa kosong disampingku memintanya untuk duduk.
" Pertama jangan panggil aku Nona, nama ku Maya, cukup panggil aku Maya . kedua siapa nama bibi?" Ucapku
" Nama saya fateemah." Jawab bibi fateemah
Aku duduk dikamarku, memikirkan semua yang terjadi padaku. Aku datang kesini hanya untuk mengucapkan selamat tinggal pada cintaku . Tapi kenapa aku terjebak disituasi seperti ini. Nabil, seorang pria baik. Tapi tidak terlintas di benakku akan menikahinya. Apalagi meyakiti wanita lain. Tiba-tiba bibi Fateemah masuk ke kamarku.
" Maaf Maya, bibi kira kamu diluar" ucap Bibi Fateemah
" Tidak apa-apa bi. Bi, kita jalan-jalan yuk" ajak ku.
Kami menyusuri pantai Ain turk, tidak bicara apa pun. Bibi pun hanya menemaniku.
" Bi, itu rumah siapa?" Tanya ku
" Itu rumah Nabil, dia membangunnya beberapa tahun lalu sebelum menikah dengan Soraya" jawab bibi Fateemah,
" Hubungan bibi dengan Nabil apa?" Tanyaku penasaran
" Saya kerabat jauh ibu Nabil, dulu Nabil pernah memiliki seorang kekasih. Tapi orang tua kekasihnya tidak setuju, akhirnya perempuan itu dinikahkan dengan orang lain. Nabil bekerja keras mengumpulkan uang untuk membangun rumah ini, dia bilang akan menempatinya dengan wanita yang dia cintai. Tapi takdir berkata lain usia Nabil yg sudah 30an memaksa nya menerima perjodohan. Nabil menikah dengan Soraya" cerita bibi Fateemah
" Lalu kenapa Nabil tidak tinggal disini dengan Soraya?" Tanyaku lagi, bibi Fateemah menoleh dan tersenyum padaku.
" Kamu wanita satu-satunya yang dibawa Nabil ke rumah itu. Dan mungkin akan menjadi penghuni tetap di rumah itu" jawab bibi Fateemah, aku tertawa mendengar jawaban bibi Fateemah.
Bibi Fateemah ijin pulang lebih dulu, aku duduk di tepi pantai. Hatiku terasa hampa. Kupandangi debur ombak yang berkejaran. Aku tak pernah bermimpi akan menginjakkan kakiku disini. Dinegara yang bagi sebagian orang sulit dikunjungi. Tapi disinilah aku berada sekarang. Aku datang untuk melepaskan cinta lamaku tapi keadaan memaksaku bertemu dengan Nabil.
Dikejauhan, aku melihat Nabil duduk menyendiri. Aku berdiri dan menghampirinya. Dia menoleh ke arahku.
" Kalau kamu bertanya sejak kapan aku mencintaimu? Aku akan menjawabnya, sejak pertama melihatmu. Aku sempat menolak perasaan ku. Aku takut Maya, aku takut pada cinta. Aku pernah terluka pada cinta. Saat aku mencintai dia, orang yang sangat kucintai. Dia harus meninggalkanku. Dan aku takut itu terulang lagi. Tapi, saat melihatmu terluka aku ingin sekali melindungimu, menjagamu. Aku ingin selalu disisimu, menjadi sandaran saat kamu menangis" ucap Nabil.
Aku duduk disebelahnya menatap dalam mata coklatnya, ada kesedihan dan luka. Sama seperti yang kurasakan. Ku hembuskan nafasku.
" Tapi apa kamu tidak memikirkan perasaan Soraya? Dia pasti juga terluka. Tidak ada satupun wanita yang ingin berbagi. Begitupun aku. Aku ingin jadi satu-satunya. Aku ingin bahagia tanpa menghancurkan hati wanita lain." Ucapku
" Iya ini semua salahku yang tidak bisa menahan perasaan ku padamu" sahut Nabil sambil menundukkan wajahnya.
Aku duduk disampingnya, menatap jauh kearah laut biru. Tanpa terasa air mataku menetes.
" Aku mengenalmu sebagai sahabat baikku, yang selalu ada saat aku bercerita. Yang mendengarkan semua keluh kesah ku. Yang selalu membuatku tersenyum saat aku sedih. Aku tidak pernah memikirkan akan menjadi orang ketiga didalam rumah tanggamu. Seandainya pun aku memiliki rasa untukmu. Akan kusimpan sendiri. Karna aku tidak mampu melihat wanita seperti Soraya terluka. Dia terlalu muda untuk ku lukai. Aku pun tidak akan sanggup bersaing dengannya. Aku harap kamu mengerti aku" ucapku menghapus airmataku. Dan berdiri meninggalkan Nabil.
Malam ini udara terlalu dingin, dimusim panas ini tidak pernah terjadi. Aku duduk di tempat tidurku menatap kearah jendela. Rasa rindu pada ibuku sudah tak terbendung. Ku ambil ponselku dan menelpon ibuku
" Assalamualaikum. Ibu" sapa ku saat ku tahu ibu menjawab disana
" Waalaikum salaam maya, kamu sehat nak?" Tanya ibu begitu mendengar suaraku.
" Aku sehat Bu, ibu bagaimana?" Tanyaku lagi pada ibu
" Ibu sehat nak. Kamu betah disana nak?" Suara ibu terdengar sedih
" Aku suka disini Bu. Aku tinggal di sekitar pantai Ain turk. Disini pemandangannya indah. Tapi..." Ucapan ku terhenti, bingung antara menceritakan pada ibu atau tidak. Aku takut ibu terkejut.
" Tapi kenapa nak? Apa ada sesuatu yang membebanimu?" Tanya ibu Begitu mendengar ku terhenti.
" Tidak ada Bu, aku akan kembali sesuai masa cuti ku." Aku memilih untuk tidak menceritakan pada ibu.
" Tunggu ibu nak, Adrian sedang mengurus keberangkatan ibu kesana" ada nada sedih terdengar.
Aku mengakhiri panggilan telepon dengan ibu, menghembuskan nafasku kasar. Mengapa berat sekali jalan hidup yang harus ku lalui. Ku ambil wudhu dan melakukan sholat malam dua rakaat. Kutengadahkan tanganku diakhir sholatku.
" Ya Allah ya Tuhanku, hanya padamu tempatku mengadu. Hatiku sedang bimbang, aku tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang, saat Nabil mengatakan cinta jujur hatiku berdesir. Ada perasaan bahagia, tapi aku tidak sanggup melihat wanita lain terluka. Aku tidak mungkin bahagia diatas penderitaan wanit lain. Berilah aku petunjukmu ya Rabb. Jauhkankah hal yang bukan hak ku , berikanlah sedikit kebahagiaan disisa umurku" aku berdoa meminta kebahagiaan ku.
Dua hari setelah pertemuan ku di pantai dengan Nabil, aku tidak pernah melihatnya lagi. Awalnya aku menutupi kegelisahan ku, mencoba tidak peduli. Tapi hari terus berganti. Dan hari ini tepat seminggu aku tidak melihat Nabil. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah. Aku berlari begitu melihat mobil Nabil yang datang. Aku terkejut ibu turun dari mobil Nabil.
" Maya, apa kabarmu nak?" Ucap ibu sambil memelukku. Nabil hanya diam sambil menurunkan koper milik ibu.
" Aku baik Bu, Adrian mana?" Tanya ku sambil mencari Adrian
" Adrian tidak bisa ikut. Kerjaannya banyak." Jawab ibu sambil merapikan hijabku.
" Nabil yang menjemput ibu di Indonesia" sambung ibu lagi.
Aku membawa ibu masuk ke dalam rumah. Kami duduk di ruang tamu. Ibu banyak bercerita tentang kebaikan Nabil selama dalam perjalanan. Senyum terus menghiasi wajah ibu. Senyum yang tidak pernah kulihat. Aku mengantar ibu masuk kedalam kamar. Setelah melihat ibu beristirahat aku keluar mencari Nabil.
Aku melihat Nabil sedang bicara dengan bibi Fateemah.
" Boleh aku bicara sebentar" ucapku, Nabil menoleh dan mengajakku keluar rumah.
" Bicaralah" ucapnya pelan
" Terimakasih, telah membawa ibuku kesini. Tapi kenapa tidak bilang padaku sebelumnya"
Nabil menoleh ke arahku, tatapannya tidak sehangat biasanya. Matanya tampak sendu.
" Ibu ingin membuat kejutan untukmu." Jawabnya pelan.
" Maafkan ibuku dan aku yang merepotkan mu" ucapku, Nabil menghela nafas, lalu berpamitan dan pergi dari hadapanku.
Aku mengajak ibu berkeliling, senyum ibu terus mengembang. Melihatku berbicara dengan masyarakat sekitar membuat ibu bahagia . Dia bahkan beberapa kali tertawa dan mengatakan aku sudah seperti orang lokal disini. Aku bertemu dengan pelukis yang dulu pernah melukisku. Kali ini aku meminta dilukis berdua dengan ibu. Aku tersenyum puas melihat hasilnya. Dan membawa lukisan itu pulang.
" Nanti disebelahnya lukisan pengantinmu ya nak" ucap ibu tersenyum. Aku tersenyum membalas ibu.
" Calonnya aja belum ada Bu" balasku
" Ya kita gak tau jodoh kapan datangnya, berjanjilah pada ibu. Jika suatu hari ibu meminta mu sesuatu maka kabulkanlah" ucap ibu sambil memegang kedua tanganku. Aku mengangguk yakin.
" Selama ini ibu tidak pernah meminta apa pun padaku. Jika suatu hari ibu menginginkan sesuatu pasti aku akan kabulkan" ucapku yakin
Dua hari ibu bersama ku dan bibi Fateemah. Tidak pernah seharipun ibu mengeluh. Tapi hari ini jam 7 pagi ibu belum juga keluar kamarnya. Aku yang menunggu ibu untuk sarapan mulai gelisah. Ku putuskan untuk masuk kedalam kamar ibu. Tampak ibu masih memakai mukena dan tertidur di atas sajadah.
" Bu bangun, kita sarapan dulu" ucapku membangunkan ibu, tapi ibu tak bereaksi apa pun. Aku memegang tangan ibu.
" Astagfirullah, bibi.... Bibi... Bibi Fateemah" panggil ku setelah memegang tangan ibu yang tampak dingin .
Bibi Fateemah masuk kedalam kamar ibu dengan tergesa-gesa
" Ada apa Maya?" Tanya bibi Fateemah
" Tolong bantu aku mengangkat ibu. Tubuh ibu dingin" ucapku, aku dan bibi Fateemah mengangkat tubuh ibu ke atas tempat tidur. Dengan perlahan aku membuka Mukena dan menggantinya dengan hijab yang biasa ibu pakai.
" Sebentar, bibi telepon Nabil dulu" ucap bibi Fateemah meninggalkan ku.
" Ibu bangun Bu, Maya gak punya siapa-siapa Bu. Jangan buat Maya takut" ucapku sambil menangis.
Tak lama bibi Fateemah mengeluarkan selimut tebal dan menyelimuti ibu.
" Tenanglah Maya, sebentar lagi Nabil datang membawa dokter" ucap bibi Fateemah menenangkanku.
Aku masih bersama ibu, sampai Nabil datang bersama dokter, Aku berhambur memeluk Nabil.
" Tenanglah, ibu pasti baik-baik saja" ucap Nabil mengusap pelan punggungku
"Aku hanya punya ibu, aku tidak ingin ibu meninggalkan ku" ucapku sambil terisak-isak
Dokter memeriksa ibu dengan teliti, dia lalu menghampiriku.
" Kondisinya sekarang sudah lebih baik, ibumu terkena serangan jantung. Sepertinya ini bukan yang pertama, bawa ibumu kerumah sakit, kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut." Ucap dokter, lalu menghampiri Nabil.
Aku memilih menghampiri ibu yang seperti nya sudah sadar. Ku peluk ibu dengan erat .
" Ibu tidak apa-apa nak. Jangan menangis" ucap ibu lemah
" Jangan buat Maya takut Bu" ucapku masih terisak.
" Ada yang ingin ibu katakan, jangan potong sebelum ibu selesai" ucap ibu, aku hanya mengangguk.
" Ada alasan kenapa ibu kesini menyusulmu. Nabil menghubungi ibu saat kamu menghilang. Dia memohon pada ibu untuk menikahimu dan menjagamu, dia tidak sanggup kehilangan ibu. Saat itu ibu tidak menjawab. Besok harinya kami melakukan video call bersama orangtuanya dan ada Adrian disana. Dia bersungguh-sungguh dan mencintaimu. Dia juga bilang bahwa sudah memiliki istri dan anak. Tapi dia tidak bisa memendam perasaannya. Ibu tidak bisa memaksamu, hidupmu adalah pilihanmu. Tapi keinginan terakhir ibu ingin melihatmu bahagia." Ucap ibu
" Kenapa ibu tidak memilihkan Adrian?" Tanyaku
" Apa menurutmu mantan suamimu akan diam saja, saat tahu kamu menikahi adiknya? Tidak Maya, ibu tidak ingin kamu menderita lagi" jawab ibu.
Nabil masuk kedalam kamar, sejenak dia terdiam menatap kami. Ibu memberi isyarat untuk mendekatinya.
" Kita harus ke rumah sakit sekarang Bu" ucap Nabil
" Ibu tidak perlu kerumah sakit, ibu sudah menyampaikan keinginanmu. Sekarang tugasmu membujuk wanita keras kepala ini. " Sahut ibu tersenyum.
Aku dan Nabil duduk dihalaman rumah. Kami terdiam tidak tahu harus berkata apa. Aku menatap kearah nya, Nabil menoleh kemudian menunduk.
" Kenapa tidak bilang padaku sebelumnya, aku tidak bisa membuat keputusan sekarang. Ada orang yang akan terluka jika kita bersama" ucapku
" Aku pun tidak akan memaksamu. Aku mengharapkan sebuah ketulusan bukan keterpaksaan. Jika pada akhirnya kamu bukan jodohku, aku berharap kamu bisa bahagia" balas Nabil.
Tiba-tiba ponselku berbunyi, sebuah video call dari Adrian. Nabil menatapku dan mempersilahkan untuk menjawabnya.
" Hai, apa kabar" sapa Adrian dengan senyumnya
" Hai, aku baik, kamu bagaimana?" Balasku
" Aku.... Aku sedikit patah hati sekarang. Ibu lebih menyukai Nabil dari pada aku hahaha" ucap Adrian tertawa, aku menatap mata sendu nya.
" Maafkan ibuku ya, dia hanya tidak ingin aku terluka lagi." Ucapku
" Maaf, aku harus berbohong padamu, saat Nabil bilang akan menjagamu seperti menjaga nyawanya sendiri, aku tahu dia tulus menyayangi mu. Apa pun nanti keputusanmu, aku cuma berharap kamu bahagia." Balas Adrian
" Terimakasih buat semuanya, aku hanya ingin bahagia apapun yang Allah putuskan untukku" ucapku pada Adrian.
" Ibu mu sakit, selama ini dia tidak ingin membuatmu khawatir, dia menyimpannya sendiri. Dia tidak ingin membuatmu bersedih." Ucap Adrian dan aku menoleh pada Nabil, Nabil mengangguk mengiyakan.
" Nabil, orang baik. Keluarga nya pun menyayangimu. Pikirkan lah. Aku harus bekerja lagi. Jaga dirimu. Kamu orang yang sangat berharga bagiku dulu kini dan nanti. Mencintaimu adalah hal terindah bagiku" ucap Adrian menutup teleponnya, aku melihat Adrian sempat menghapus airmatanya.
" Ibu, mengatakan semuanya saat bertemu di rumah mu. Kesehatan nya memburuk akhir-akhir ini, dia hanya ingin bersamamu disaat terakhirnya. Dia ingin kamu bahagia, hanya itu yang dia inginkan" Nabil menghapus airmatanya
Aku terdiam tak percaya, ibu tidak pernah mengeluh apa pun selama ini.
" Bawa aku bertemu dengan Soraya" ucapku, Nabil terkejut dengan ucapanku.
" Aku ingin bicara dengannya" sambungku lagi.
Aku meminta bibi Fateemah menjaga ibu selama aku keluar. Aku dan Nabil menuju rumah orangtuanya, berharap inilah yang terbaik. Kami tiba dirumah Nabil. Aku turun dari mobil dan masuk kedalam rumahnya.
"Assalamualaikum" ucapku. Ibu dan ayah Nabil tersenyum melihat kedatanganku.
" Waalaikum salaam" balas mereka, aku mencium punggung tangan mereka. Ibu Nabil memelukku hangat
Soraya keluar dari kamarnya begitu mendengar suaraku. Dia berhambur memelukku.
" Maya, apa kamu berubah pikiran?" Tanya Soraya melepas pelukannya
" Ayah, ibu , ijinkan aku bicara dengan Soraya" pintaku, Nabil menatapku.
Soraya membawaku kedalam kamarnya. Aku duduk di pinggir tempat tidurnya, Soraya duduk disebelah ku
" Aku tahu ini sulit bagimu, begitupun juga aku. Aku baru saja merelakan cintaku, melepaskan rasa dihatiku. Tapi aku dihadapkan pilihan, menjaga perasaanmu atau membuat ibuku bahagia" ku usap punggung tangan Soraya, mata ku pun terasa panas. Menahan air mataku yang sebentar lagi akan turun.
" Maya, aku ikhlas jika memang kamu bersedia menikah dengan Nabil. Ini juga baktiku kepada suami" balas Soraya . Soraya memelukku hangat.
Kami berdua keluar dari kamar, ku tatap mata Nabil. Lalu duduk disebelah ibu Nabil dan Soraya.
" Ibu, ayah Bismillah aku menerima lamaran Nabil untukku" ucapku yakin
" Alhamdulillah, terimakasih nak." Ibu Nabil memelukku. Nabil menghembuskan nafas lega.
Tiba-tiba Ahmed dan ibunya datang. Pandangan Ahmed menyiratkan emosi yang mendalam.
" Tidak nak, kamu tidak boleh menikah dengan Nabil, aku mohon padamu nak. Bersabarlah tunggu 3 bulan lagi. Ahmed akan menikahimu" ucap ibu Ahmed.
" Kakak, jangan seperti ini. Kamu tidak tahu apa yang sudah Nabil lalui untuk mendapatkan Maya, biarkan sekarang mereka bahagia " ucap ibu Nabil mendekati ibu Ahmed.
" Kamu juga tidak tahu, apa yang sudah Ahmed lalui selama berpisah dengan Maya. Ini salahku Karna tidak tahu hubungan mereka. Biarkan aku menebus kesalahanku" balas ibu Ahmed menangis.
Aku menatap Nabil dan Ahmed bergantian. Apalagi ini? Drama apalagi yang menimpa hidupku. Aku menunduk dan memejamkan mata.
" Ibu" panggilku, mereka berdua menoleh ke arahku
" Aku bukan barang yang bisa kalian perebutkan, hidup ku adalah pilihanku" aku menjeda ucapanku.
" Tiga tahun aku menunggumu, pernahkah kamu mencarimu? Meminta maaf padaku? Tidak pernah bukan? Aku mencintaimu dalam rasa sakitku, menunggu mu. Sampai Nabil datang mengatakan hari pernikahan mu. Aku yang merasa harus mengakhiri cintaku memutuskan datang kesini." Aku menatap Ahmed, tanpa terasa air mataku membasahi pipiku.
" Nabil, aku tahu bagaimana perasaan mu. Mencintai wanita lain walaupun dirimu terikat Pernikahan itu sulit. Tapi beberapa Minggu di dekatmu membuat ku tahu, betapa besar cintamu pada ku. Bahkan kamu rela menjemput ibuku demi melihat senyum ibuku" kali ini kutatap Nabil.
" Aku sudah memutuskan menikah dengan Nabil, dengan segala konsekuensinya. Biarkan aku bahagia dengan pilihanku." Putus ku menghapus airmataku
" Apa kamu yakin mencintai Nabil? Atau rasa terimakasih mu saja?" Tanya Ahmed, aku menoleh kearahnya.
" Cinta atau tidak, aku memiliki hak untuk tidak menjawabnya. Urusan hatiku adalah urusanku sendiri. Terimakasih telah perduli padaku. Saat aku melihatmu mengucapkan ijab kabul, luruh sudah semua cintaku. Dan aku sadar, kamu bukan untukku." Aku bediri berjalan mendekati ibu Ahmed
" Ibu, terimakasih telah menyayangiku seperti anakmu sendiri. Aku dapat merasakan kasih sayangmu. Tapi, Ahmed telah meninggalkanku lebih dulu. Ini bukan salahmu, ini adalah takdir Allah. Sampai kapan pun aku akan menyayangimu seperti ibuku sendiri" aku memeluknya, Isak tangis ibu Ahmed menyesakkan dadaku.
Aku kembali ke rumah, kami masih di dalam mobil saat Nabil mengajakku bicara. Dia tidak menatapku, pandangan nya lurus kedepan
" Apa yang terjadi padamu dulu adalah masa lalu mu. Entah itu dengan mantan suamimu atau dengan Ahmed. Aku hanya ingin kita menatap masa depan kita" ucapnya
" InshaAllah aku siap" balasku
Aku menatap wajah ibu yang tenang saat tertidur, aku selama ini lalai akan kesehatan nya. Aku menyesal tidak memperhatikan nya selama ini. Ibu membuka matanya dan tersenyum padaku.
" Kamu sudah pulang nak. Bagaimana keputusan mu?" Tanya ibu mencoba duduk, aku membantunya duduk diatas tempat tidurnya.
" Aku menerima Nabil Bu, aku mencintainya" ucapku. Ibu kembali tersenyum
" Ambilkan berkas di koper ibu nak" pinta ibu. Aku mengambil amplop coklat didalam koper ibu.
" Adrian yang mengurus segalanya, setelah kembali dia mengatakan ikhlas melepasmu lagi. Ibu meminta tolong padanya dan semua selesai dalam tiga hari. Seandainya dia bukan adik satria, ibu pasti memilihnya untukmu" ibu mengeluarkan berkas untuk ijin ku menikah. Translate ijazah ku dan semua yang aku butuhkan.
" Ibu tidak tahu akan berapa lama lagi bersamamu, Nabil sudah tahu kondisi ibu. Semua Sudah diurus keluarganya. Semoga kalian bisa bahagia selamanya" aku memeluk ibu dan menangis dalam pelukannya
Rumah yang kutempati sudah dihias begitu rupa, aku menggunakan gaun putih, riasan wajahku pun sudah selesai. Hena ditanganku tampak cantik menghiasi tanganku. Ibu tersenyum melihatku. Dua hari ini kondisi ibu memburuk, pernikahan ku dipercepat. Beberapa kerabat Nabil ikut menjadi kerabatku. Dan ada beberapa orang dari kedutaan hadir, mereka adalah teman-teman dari Adrian.
Aku masih didalam kamarku, saat Nabil masuk kedalam rumah dengan pakaian adat, dia tampak gagah. Aku menyaksikan nya dalam televisi yang sengaja disiapkan untukku agar dapat melihatnya mengucapkan ijab kabul. Sekilas aku melihat Soraya dan Firas. Ibu menggenggam tanganku. Aku menoleh kearahnya, dan melihat dia tersenyum.
Nabil mengucapkan ijab kabul dengan yakin. Dan sekarang aku resmi menjadi istri seorang Nabil Amraoui. Aku menghapus airmataku dengan tissue. Nabil masuk kedalam kamar untuk menjemputmu keluar. Tampak senyum diwajahnya, senyum yang belum pernah kulihat selama ini. Nabil menghampiriku, mencium keningku.
" Nabil, ku serahkan dia padamu, bimbing dia agar menjadi istri yang baik tegurlah dengan lembut bila dia melakukan kesalahan." Ucap ibu pelan.
" Maya, Nabil sekarang sudah menjadi suamimu. Patuhilah segala ucapannya selama itu dijalan Allah. Ingat nak, Nabil bukan milikmu sendiri, belajarlah untuk bijaksana. Karna surgamu bersamanya" ucap ibu lagi. Aku menggangguk.
Aku berjalan disisi Nabil, menemui ibu dan ayah Nabil, mereka memelukku. Aku mendekati Soraya dan Firas.
" Terimakasih Maya" ucap Soraya dengan airmata yang berderai. Aku yakin saat ini dia pun sakit melihat suaminya menikahi wanita Lain.kami saling berpelukan dan menguatkan. Aku mensejajarkan tinggiku dengan Firas.
" Mama" panggilnya, aku mengangguk. Dan mencium kening Firas.
Aku melepaskan hijab dan membersihkan sisa riasan diwajahku. Nabil termenung saat masuk kedalam kamar, aku menoleh kearahnya.
" Mau mandi sekarang atau mau minum kopi dulu?" Tanyaku mengambil hijab untuk menutup kepalaku. Nabil memegang tanganku menghentikan ku memakai hijab.
" MashaAllah, kamu cantik sekali" ucapnya terus menatapku. Aku menunduk malu.
" Maaf, dulu aku tidak bisa menjaga diriku. Membiarkan pria lain menyentuhku" ucapku
" Aku sudah mengatakan padamu, aku tidak perduli masalalu mu. Kita akan memandang masa depan dan itu bersamaku" ucap Nabil membawaku dalam pelukan.
Nabil mengecup keningku lama, dia menatap mataku. Lalu mengecup bibirku.
" Bolehkah aku melakukannya sekarang?" Tanya nya. Aku mengangguk
" Bismillahirrahmanirrahim" ucapnya. Dengan penuh kelembutan Nabil mencium bibirku. Dan malam itu menjadi malam pertama kami.
Ternyata, kemarin menjadi hari terakhir ibu untuk bahagia. Dan aku memenuhi keinginan terakhirnya.
Hari ini aku menemukan ibu sudah tidak bersamaku. Dia menutup matanya dengan damai, senyum tercetak jelas di wajahnya. Aku membaca surat terakhir yang ibu tulis untukku.
" Anakku sayang, tidak ada yang lebih membahagiakan saat melihatmu menggunakan gaun pengantinmu dan tersenyum. Setidaknya ibu sudah tenang meninggalkanmu dengan Nabil.
Ibu ingin dimakamkan disini bersamamu selamanya disini ditempat yang kamu cintai. Berbahagialah nak, krna kamu berhak bahagia. Setelah semua yang kamu lewati"
Aku termenung dikamarku setelah pemakaman ibu, separuh jiwaku hilang. Ternyata ibu tidak ingin aku sendirian. Dia menitipkan ku pada Nabil, laki-laki yang sekarang menjadi suamiku. Aku menatap punggung Nabil saat dia menunaikan sholat malam. Tiba-tiba bahunya bergetar, Nabil menangis diakhir sholatnya. Aku turun dari tempat tidur dan menyandarkan kepalaku dipunggungnya. Kami menangis bersama, lalu dia berbalik dan memeluk ku erat.
" Terimakasih sayang, aku akan menjagamu seperti janjiku pada ibu, akan ku buat harimu bahagia dan tidak ada airmata lagi" ucapnya, aku terdiam tak mampu berkata apa pun.
Hari-hari ku begitu bahagia, walaupun tidak bisa bersama Nabil tiap hari, dan aku tidak mempermasalahkan hal itu. Aku mulai membuka usaha bunga. Untuk mengisi waktuku. Bibi Fateemah dan putranya Aziz membantuku ditoko bunga.
Musim dingin pertama di Algeria membuatku sulit beradaptasi. Hari ini aku tidak bisa bangun dari tempat tidurku. Kepalaku sakit sekali. Nabil yang sedang bersiap untuk bekerja membuatkan ku air jahe untuk menghangatkan tubuhku
" Hari ini tidak usah ke toko biar Aziz yang mengurusnya" ucapnya mengecup keningku.
" Sayang, hari ini ada aku ingin ke rumah sakit, kepalaku sakit sekali" ijinku, Nabil menatapku.
" Aku antar" ucapnya
" Tidak perlu sayang. Hari ini waktumu untuk Soraya dan Firas, aku akan diantar bibi Fateemah, lagi pula aku hanya sebentar disana" aku mengusap pipinya yang ditumbuhi bulu-bulu.
" Baiklah kabari aku apa kata dokter" ucap Nabil lalu mengecup bibirku.
Aku berada di rumah sakit, beberapa pemeriksaan dilakukan untukku.
"Nyonya, aku sarankan untuk melakukan CT scan, Karna saya curiga ini bukan sekedar sakit kepala biasa" ujar dokter
" Tapi bisa kah dokter menunggu sebentar. Aku sudah membuat janji dengan dokter kandungan" ucapku.
Bibi Fateemah menggenggam tanganku saat dokter menyatakan kehamilanku. Dia ikut bahagia.
" Bibi, akan bilang Nabil tentang kehamilanku nak" ucap bibi Fateemah, aku menggeleng.
" Biar aku saja bi" ucapku.
Kami kembali ke ruangan dokter umum. Mereka mempersiapkan ku untuk CT scan. Bibi Fateemah terus bersamaku. Aku berharap semua baik-baik saja. Tapi keberuntungan tidak bersamaku kali ini. Saat kembali ke ruangan dokter, disana terdapat dua dokter lain.
" Nyonya, apakah suamimu ikut bersamamu?" Tanya dr. Shiren dokter kandunganku
" Tidak dok, dia sedang bekerja" jawabku. Ketiga dokter tampak tegang.
" Tidak apa-apa dok, katakan saja hasilnya padaku" ucapku lagi.
" Dari hasil pemeriksaan, maafkan kami nyonya. Ada kanker di otak kirimu. Dari perkiraan kami, ini memasuki stadium 4" salah satu dokter menjelaskan padaku.
Bibi Fateemah terkejut bahkan sampai meneteskan air matanya.
" Apa tidak ada obat untuk menyembuhkan nya?" Tanyaku mencoba tegar
" Kamu harus memilih, hidupmu atau bayimu" ucap dr. Shiren
" Maksud dokter?" Aku seperti tersambar petir kali ini.
" Obat untuk kanker dan terapi akan membuat janinmu tidak berkembang" ucap dr. Shiren lagi.
" Kalau begitu aku tidak perlu obat itu, aku ingin bayiku. Ini anak pertamaku" luruh juga airmataku.
Aku tidak mungkin membunuh buah cintaku.
Aku pulang dalam keadaan tidak baik. Bibi Fateemah membawaku ke kamar,
" Bi, aku mohon jangan bilang apa pun pada Nabil, ini menjadi rahasia kita. Aku tahu dia akan sangat bahagia mendengar kehamilanku. Itu sudah cukup bagiku" aku menggenggam tangan bibi Fateemah
" Iya nak, bibi tidak akan bilang apa pun" ucap bibi memegang pipiku dengan kedua tangannya.
Malam ini Nabil tidak pulang kerumah, aku bersujud diatas sajadahku, sujud syukur ku atas rezeki Allah. Janin ini yang sudah ditunggu Nabil selama 6 bulan ini. Aku menengadahkan tanganku.
" Ya Allah pemilik seluruh alam semesta, terimakasih atas rezekimu, kuatkanlah dia yang masih didalam rahimku, ijinkan aku melihatnya walau hanya sebentar. Aku ingin melihat buah cintaku. Ya Allah pemilik seluruh jiwaku, berikanlah kesehatan padaku. Paling tidak sampai bayi ini lahir. Aku berserah padamu. " Airmataku luruh.
Jam menunjukan pukul 2 pagi. Mataku tidak juga terpejam. Aku mengambil ponselku menatap wajah Nabil, aku merindukan dirinya. Tapi tidak berani menelponnya. Aku akhirnya keluar kamar dan duduk diruang tamu, aku duduk disofa menatap kearah pintu berharap Nabil datang padaku, tak pernah kurasakan rindu seperti ini.
Aku terbangun saat mendengar suara Adzan, kuambil wudhu dan melakukan sholat wajib. Selesai sholat, aku kembali duduk di ruang tamu, aku menggunakan jaket tebal. Udara dingin menusuk kulitku. Bibi Fateemah mendekati ku dan duduk disebelah ku. Ku letakkan kepalaku di bahu bibi Fateemah.
" Apa tidak sebaiknya Nabil tahu hal ini nak?" Tanya bibi Fateemah
" Dia pasti akan memilihku, aku tidak ingin itu terjadi. Aku ingin ini menjadi hadiah terakhirku untuknya" aku menangis dibahu bibi Fateemah, aku menghapus airmataku saat mendengar deru mobil Nabil, aku tidak ingin melihatku menangis.
" Assalamualaikum" ucap Nabil sambil berjalan ke arahku, aku berjalan kearahnya dan langsung memeluknya. Nabil mengecup keningku.
"Waalaikum salaam" sahutku dalam pelukannya.
" Ada apa sayang, apa kamu begitu merindukanku?" Ucap Nabil sambil membenarkan jaket yang kugunakan.
" Aku sangat merindukanmu" ucapku kembali memeluknya.
" Ha ha ha, ini seperti bukan istriku" ucap Nabil sambil tertawa, aku membawa Nabil ke kamar. Dan duduk di pinggir tempat tidur
" Bagaimana hasil pemeriksaan dokter kemarin?" Tanya Nabil sambil mengganti bajunya.
" Kamu tidak bekerja?" Tanya ku melihatnya mengganti dengan baju rumahan.
" Malas sekali hari ini keluar rumah sayang, udara terlalu dingin." Ucap Nabil duduk disebelah ku
" Aku ingin dipeluk sambil tiduran" pintaku manja, Nabil lalu berbaring di tempat tidur sambil merentangkan tangannya. Aku mengambil hasil USG dari dr. Shiren dari bawah bantal.
" Kamu hamil sayang?" Ucap Nabil setelah melihat hasil USG dan mencium seluruh wajahku.
Nabil memelukku sambil sesekali membelai rambutku. Lalu memandangi foto USG. Dia tersenyum melihat foto USG. Aku tidak akan menghancurkan kebahagiaan nya dengan kabar buruk. Biar ini menjadi rahasiaku.
Kehamilan pertama ku memang sangat lemah ditambah penyakit ku. Tapi, aku tidak mau Nabil setiap hari di rumah. Aku ingin dia tetap bersikap adil. Toko bunga sudah dijalankan oleh Aziz, aku sudah tidak bisa melakukan hal berat. Hari ini Nabil datang dengan Firas, Firas tampak bahagia sekali mendengar akan mempunyai adik. Dia berceloteh akan menjaga adiknya, dan hal-hal lucu.
"Kapan jadwal kontrol ke rumah sakit sayang?" Tanya Nabil mengusap perutku yang sudah membucit.
" Besok sayang" jawabku mebersandar di dadanya.
" Aku antar kamu besok" aku ingin melihatnya, aku menoleh
" Jangan sayang, besok kamu harus bersama Soraya, aku tidak ingin kamu lupa kewajiban mu" ucapku.
" Tapi, aku tidak pernah mengantarmu. Kali ini aku antar ya?" Nabil merajuk. Aku tersenyum.
"Bulan depan ya." Sahutku tersenyum.
" Bulan ini bulan ketujuh, dan aku tidak pernah bersamamu saat kontrol' suara Nabil sedikit emosi. Aku usap tangannya, menenangkan Nabil.
" Aku mohon, jangan seperti ini" aku kecup pipinya.
Pagi ini aku terbangun, aku merasakan tidak nyaman di perutku. Aku mencoba menahannya, aku tidak ingin Nabil tahu.
" Sayang kamu pucat sekali, kamu sakit?" Tanya Nabil saat sarapan
" Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah" jawabku.
" Bibi, nanti mobil aku tinggal, suruh Aziz mengantarkan kalian kerumah sakit. Kalau ada apa-apa sama Maya hubungi aku secepatnya " ucap Nabil saat bibi Fateemah menyiapkan sarapan.
" Iya nak" jawab bibi Fateemah sambil melirik kearah ku
Nabil berangkat menggunakan taksi. Baru saja Taksi yang ditumpangi Nabil. Aku merasakan sakit kepala hebat.
" Bi" panggil ku lemah
Aku membuka mataku, disisiku Nabil sedang menangis, aku ingat sebelum aku pingsan aku dirumah. Tapi sekarang aku melihat alat-alat rumah sakit di tubuhku.
" Sayang" panggilku, Nabil menoleh ke arahku.
" Kenapa, kenapa kamu merahasiakan nya padaku? Apa aku tidak cukup berarti bagimu" ucap Nabil menangis
" Maafkan aku. Aku tidak ingin kamu memilihku dari pada bayi kita" jawabku lemah.
" Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku mencintaimu" ucapnya lagi terisak.
" Apa kata dokter sayang? Bayi kita laki-laki atau perempuan?" Tanya ku menghapus airmatanya.
" Bayi kita sehat. Dari hasil USG dia perempuan" jawab Nabil mengecup punggung tanganku
" Kapan dia akan hadir?" Tanyaku lemah
" Dia harus segera dilakukan operasi. Kondisi mu terus menurun" Nabil kembali menangis
" Aku tidak apa-apa, aku akan melihat dia lahir dan menggendongnya. Aku akan menyusuinya dan membesarkannya" aku meneteskan airmata .Nabil memelukku dan tangisnya semakin pilu. Kami menangis.
POV
Maya terbaring lemah di brankar rumah sakit, wajah pucatnya membuat Nabil tak henti-hentinya menangis. Seluruh keluarga Nabil terkejut setelah Nabil memberitahu kondisi Maya. Mereka berkumpul di rumah sakit.
" Tuan Nabil, bisa kita bicara" ucap dokter Shiren
" Iya dok. Kita bicara disini, saya tidak mau meninggalkan Maya sendiri" ucap Nabil.
" Kondisi nyonya Maya sangat lemah, kita harus mengeluarkan bayinya. Setelah operasi Caesar kita akan melihat perkembangan nya. Jika masih memungkinkan kita bisa melanjutkan pengangkatan sel kankernya." Ucap dokter Ramzy
" Lakukan yang terbaik dokter" ucap Nabil.
" Baiklah ruang operasi akan kami siapkan. Berdoa lah semoga nyonya Maya bisa kuat" dokter Ramzy menepuk bahu Nabil.
Nabil keluar ruangan Maya dan bertemu dengan keluarganya, ibu, ayah dan Soraya ada disana. Nabil berhambur memeluk ayahnya dan menangis.
" Ayah, apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa kehilangan Maya, aku tidak bisa hidup tanpa Maya" Nabil menangis diperlukan ayahnya.
" Berdoa nak, InshaAllah Maya kuat" ucap ibu Nabil menepuk punggung Nabil pelan.
Persiapan operasi Caesar sudah siap. Maya akan memasuki ruang operasi.
" Sayang, kamu harus kuat. Emily butuh kamu" ucap Nabil. Maya tersenyum
" Kamu sudah menemukan nama untuknya" ucap Maya lemah.
" Bibi Fateemah bilang, kamu ingin memberi nama Emily pada putri kita. Kamu yang memberikan dia nama" Nabil berusaha menahan airmatanya.
" Terimakasih sayang, aku akan mencintaimu selamanya. Terimakasih untuk cinta yang kamu berikan padaku." Maya lagi-lagi tersenyum.
" Kamu adalah bidadari yang Allah kirim untukku. Tempatmu disini tidak akan tergantikan" balas Nabil menepuk dadanya.
Kondisi didepan ruang operasi sangat tegang, Nabil duduk terdiam menunggu jalannya operasi. Sampai seorang suster keluar.
" Tuan Nabil, bayi cantiknya sudah lahir dengan sehat dan selamat. Silakan keruang sebelah untuk mengadzani" ucap suster
" Istri saya bagaimana sus?" Tanya Nabil
" Pasien masih ditangani dokter Shiren. Kita berdoa saja ya tuan" jawab suster
Nabil memasuki ruangan sebelah, digendongnya bayi cantik. Nabil mulai mengadzani anaknya.
" Sayang, mama mu sedang berjuang. Kita berdoa semoga mama bisa sehat lagi" Nabil mencium putri kecilnya dan menangis. Tiba-tiba terdengar kegaduhan diruang operasi. Nabil memberikan putri kecilnya pada suster. Dan keluar ruangan, ibu dan ayahnya terlihat tegang.
" Ada apa Bu?" Tanya Nabil
" Kondisi Maya terus menurun" jawab Soraya mendekati Nabil. Nabil mengusap wajahnya kasar.
" Sholat lah nak. Ibu dan Soraya akan menunggu disini" ucap ibu mengusap bahu Nabil. Nabil mengangguk dan meninggalkan kamar operasi.
Sepanjang sholat, Nabil tidak kuasa menahan airmatanya, rasanya baru kemarin dia melihat senyum Maya, Maya bercerita akan mendidik anaknya sehebat suaminya dan kuat seperti dirinya. Tapi hari ini Nabil melihat Maya terbaring lemah. Bahkan tidak bisa membuka matanya. Ditengadakan kedua tangannya.
" Ya Allah ya Tuhanku, istriku sedang berjuang. Berikanlah sedikit mukjizat mu. Kuatkanlah dia, aku belum siap kehilangannya. Bahkan dia belum melihat putri kecilnya, putri yang dia jaga selama 7 bulan dalam kandungan nya. Aku ingin melihat dia tersenyum seperti biasa. Ya Allah wahai engkau pemilik bumi dan seisinya, kabulkanlah doa ku" doa Nabil diakhir sholatnya.
Tiga jam Maya berjuang diruang operasi, akhirnya dokter Shiren keluar dari ruang operasi.
" Tuan Nabil, keadaan nyonya Maya masih dalam masa kritis, kita akan menunggu sampai dia stabil. Setelah itu dokter Ramzy akan melakukan operasi pengangkatan sel kankernya. Kita berdoa sama-sama semoga nyonya Maya bisa melewatinya" ucap dokter Shiren.
Nabil masuk keruang ICU, Maya terbaring lemah. Wajahnya yang biasa tersenyum kini tak terlihat seperti biasa. Nabil duduk disampingnya, menggenggam tangannya.
"Sayang, Emily sudah hadir diantara kita. Dia cantik sekali seperti mamahnya. Matanya seperti mataku, persis seperti yang kamu inginkan. Bangun sayang, jangan kamu tinggalkan aku seperti ini. Aku tidak sanggup sayang" ucap Nabil penuh haru,
ujung mata Maya mengeluarkan airmata, seakan mendengar apa yang Nabil ucapkan.
Malam hari saat Nabil tengah tertidur, Maya membuka matanya. Tangannya membelai lembut rambut nabil. Nabil yang terkejut langsung mengangkat wajahnya.
"Sayang kamu sudah bangun" ucap Nabil mengecup punggung tangan Maya,
" Aku ingin lihat Emily" ucap Maya lemah,
Nabil langsung memanggil dokter.
Suasana ruangan ICU sangat sepi Nabil berdiri menunggu dokter memeriksa keadaan Maya.
" Tuan Nabil, nyonya Maya sudah melewati masa kritisnya. Tapi kami belum bisa melakukan tindakan. Kita harus menunggu kondisi nyonya stabil. Selama ini dia tidak meminum obat kanker yang kami berikan. Dia selalu bilang, dia ingin putrinya sehat. Kita hanya bisa berdoa semoga nyonya bisa cepat pulih agar bisa segera kita lakukan operasi" ucap dokter Ramzy
Nabil mendekati Maya yang sudah membuka matanya, dia tersenyum sedikit menutupi kegelisahan yang dia rasakan.
" Putri kita sekarang di inkubator, sekarang kamu harus kuat dulu. " Ucap Nabil
" Sayang" panggil Maya pelan
" Iya sayang" sahut Nabil
" Jika aku tidak bisa mendampingimu lagi, berjanjilah jangan bersedih" ucap Maya, Nabil tak kuasa menahan airmatanya. Dipeluknya Maya dan menangis.
" Jangan katakan itu, kita pasti bersama sampai tua nanti" Isak tangis Nabil tak terhentikan.
" Emily, aku ingin melihat putriku" bisik Maya pelan.
Nabil akhirnya meminta dokter untuk mengizinkan Maya melihat putrinya. Nabil menggendong putrinya dan meletakkan di dada Maya.
" Putri kecil mama, kelak jadilah wanita tangguh seperti ayahmu, jagalah kehormatan mu. Dan jadilah wanita yang lembut baik lisan dan perbuatan. Maafkan mama yang tidak bisa bersamamu" Maya mengecup kening bayi mungil yang tampak pulas.
Maya melihat kearah Nabil dan tersenyum. Perlahan Maya menutup matanya dan menghembuskan nafas terakhir. Nabil mengangkat Emily dan diberikan kepada suster. Di belainya wajah cantik yang tampak pucat itu. Air mata tak henti mengalir dari kedua matanya.
Dipemakaman, nampak Nabil masih enggan untuk meninggalkan Maya dipembaringan terakhirnya. Dia terus mengusap nisan yang tertulis nama wanita yang dia cintai. Bibi Fateemah menepuk bahu Nabil pelan.
" Maafkan bibi, yang menutupi nya dari mu. Dia sangat mencintaimu. Maya meninggalkan surat untukmu" ucap bibi menyerahkan sebuah amplop cantik.
Nabil duduk ditempat tidurnya, sembari mengusap bantal yang selama ini digunakan Maya. Dibukanya amplop cantik yang diberikan bibi Fateemah.
' Sayangku, hidupku, matahari ku, berbagai pujian untukmu tak kan cukup untuk mengungkapkan rasa cintaku untukmu
Maafkan aku yang menutupi segalanya padamu, aku tidak ingin kamu memilihku dari pada bayi kecil yang sedang tumbuh di kandungan ku.
Jika tuhan memisahkan kita dengan kematian, percayalah kita akan berkumpul di syurganya kelak.
Bila saat itu tiba, aku ingin kamu tahu. Kamulah pemilik hati ini. Dan aku sangat mencintaimu. Jangan bersedih sayang, ada Emily yang akan menemanimu nanti.
Aku mencintaimu Nabil Amraoui, "
----- TAMAT ------