Terkadang cinta dapat menghanguskan,
terkadang cinta ini juga yang merajutnya.
bilamanakah aku dapat mempertahankan
kau pergi datang kembali dengan sejuta rasa.
Aku bukanlah yang terbaik untukmu, namun aku akan selalu menemani masa - masa sukarmu, meskipun kau menganggapnya tak pantas untukmu. Berulang kali aku berusaha memberikan yang terbaik untukmu, meskipun sesungguhnya aku sakit, tapi tak apalah semua kulakukan untuk menjaga cintaku padamu.
Aku berjuang diujung tanduk untuk menjadi bagian dari cintamu. Aku tau kau bertepuk sebelah tangan, karena sesungguhnya kau tidak mencintaiku sepenuhnya.
Aku adalah teruntukmu, tidakkah kau peduli sedikitpun untuk mengulurkan tanganmu menyambut cintaku, kasih sayangku dengan sedikit waktu yang ku punya?
*******
Celin, adalah kekasihku sebenarnya. Ia adalah wanita pertama dan yang terakhir yang aku cintai. Karena aku lelaki yang sesungguhnya tidak mudah untuk menyatakan cinta pada seorang wanita.
Menurutku Celin adalah wanita yang paling relevan untukku. Aku tau bahwa aku mengalami suatu penyakit, namun entah mengapa begitu kuatnya hasratku untuk memilikinya.
Aku sadar bahwa ini semua pada akhirnya adalah suatu kesia-siaan belaka. Tapi aku tak bisa membohongi perasaanku pada Celin. Setiap aku bisa melihat Celin , berarti bertambah pula umurku sehari. Aku sedang berjuang terhadap penyakitku, namun aku juga tak ingin kehilangan Celin.
Sungguh diluar pemikiranku dan khayalanku, jika ternyata Cintamu bertepuk sebelah tangan. Ada Dion juga dihatimu, dan ini membuat luka dihatiku, menghanguskan impianku untuk bersamamu sampai akhir hidupku.
Terpaksa kuhentikan langkahku sesaat bersamamu Celin, aku sayang kamu tetapi aku juga tak ingin diduakan olehmu. Jika cinta yang terucap darimu adalah ketulusanku, aku siap untuk merajutnya kembali bersamamu.
Sebuah goresan tangan dan sekuntum bunga melati yang diletakan dimeja ruang ICU rumah sakit itu teruntuk Celin, ia membukanya dan membacanya perlahan :
" Teruntukmu cinta,
bagiku kau adalah bunga melati
yang selalu harum bersemi di sanubariku
meskipun terkadang keindahanmu kau ijinkan yang lain menikmati,
namun aku tulus berharap asa padamu di dalam jiwa...
aku tau sang waktu yang selalu merindukan aku disetiap hari
Ia pula yang mengijinkan aku menikmati waktu setiap kali aku melihatmu hadir dipelupuk mata...
raga ini boleh berlalu dari hadapanmu,
namun cinta ini teruntukmu sekarang dan selamanya...."
aku yang mengasihimu.
LUKY
itulah puisi terakhir yang sempat ditulis Luky sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, dan sekuntum bunga melati sebagai tanda cintanya pada Celin.