Aku pulang! Aku pulang! Yeah, akhirnya, aku pulang..! Setelah sekian lama, akhirnya, aku pulang!
Di atas ranjang, duduk bersila, setelah melepaskan kacamata yang tersangkut di telinga, seorang anak dara menutup sebuah buku yang ada di depannya.
Kemudian ia buru-buru meloncat turun.
Dia berlari ke luar kamar sambil teriak sekencang-kencangnya.
Apa yang ia teriakan?
"Selamat tinggal Masa depan...!"
Itulah yang ia teriakan.
Perempuan paruh baya yang sedari tadi sibuk menata piring di meja makan terkaget-kaget karenanya. Bahkan, ia hampir-hampir menabrak perempuan paruh baya itu. Untung, perempuan paruh baya itu gesit berkelit.
Begitu juga dengan lelaki tua yang duduk di sofa dengan motif bunga-bunga itu, satu-satunya sofa ada di ruang itu, yang posisinya berada persis di muka layar kaca, ia yang awalnya asyik mematukkan matanya ke layar televisi, menonton berita olahraga, ikutan kaget, sampai-sampai ia mengusap-usap dadanya, jangan bilang kalau jantungnya mau copot?!
Anak dara itu terus saja berlari, sambil berputar-putar di ruangan itu, ia terus saja meneriakkan hal yang sama, sampai seseorang dari arah bawah menginterupsi dengan suara yang kurang lebih sama kencangnya.
"Perduli setan dengan masa depanmu! Apa kau pikir kau hidup di hutan, hah! Darso sialan jika kau tak bisa menutup mulut anak mu, biar aku yang melakukannya!"
Lelaki yang duduk di sofa itu menggeleng lucu, kemudian berucap santai, sedikit teriak, agar orang yang berada di lantai bawah bisa mendengar suaranya. "Tenanglah, Darmin, sahabatku, ia hanya sedang berlatih akting. Kalau esok ia menjadi aktris terkenal kau juga akan kebagian."
"Jangan bermimpi, Darsa...!"
Si lelaki tua tak menanggapi, ia lebih memilih untuk melirikkan matanya ke si anak dara, yang terlihat agak sedikit kalem dari yang sebelumnya, tersenyum girang.
"Pa, akhirnya aku pulang..."
"Pulang!?"
"Iya, aku pulang, Pa."
"Memangnya selama ini kamu..."
Bukannya menanggapi kebingungan si lelaki tua, si anak dara malah mengalihkan wajahnya kepada si perempuan paruh baya yang posisinya berada persis di samping kirinya, yang sekarang tidak lagi sibuk menata piring makan, melainkan duduk menunggu kehadiran kedua orang yang sekarang sedang hidup dan menghirup udara yang sama dengan dirinya. "Ma, aku pulang."
Cuma disahut dengan anggukan dan isyarat tangan yang meminta si anak dara untuk segera duduk di sebelahnya. Si anak dara pun duduk, duduk persis di sebelah kanan si perempuan paruh baya.
"Ma, aku pulang!" Seru si anak dara dengan mata yang membelalak lebar, bibir merekah basah, bak sekuntum kembang sepatu yang mekar tersiram embun di pagi hari, kurang lebih begitulah rupa bibir merah itu kini.
Si lelaki tua bangkit dari sofa, berjalan ke meja makan, menghampiri si anak dara dan si perempuan paruh baya. Si lelaki tua duduk persis di sebelah kanan si anak dara, yang tak pelak membuat posisi si anak dara berada di tengah-tengah, diapit, lebih pasnya terapit.
"Kapan syutingnya?!" Si lelaki tua bertanya dengan gurat wajah penasaran. "Syuting!?" Si anak dara malah terheran. "Bukannya kamu lagi latihan akting?" Si lelaki tua ingin memastikan.
Si anak dara menepuk jidatnya.
Si lelaki tua bertambah bingung. "Memangnya kenapa!? Ada yang salah dengan pertanyaan, Papa!?"
"Papa, aku pulang!" Kata si anak dara sambil menuding-nuding dadanya. "Papa gak senang aku pulang?"
"Pulang dari mana?! Apa kau lupa kalau kau sudah hampir lima tahun ngejogrok di apartemen kumuh ini! Sejak kau lulus dari sekolah itu! Belum juga kau kulihat ke mana-mana!" Gerutu si lelaki tua.
"Papa lihat aku baik-baik," Si anak dara menjulurkan kedua tangannya ke wajah si lelaki tua, ditariknya wajah itu ke wajahnya.
"Apa kau pikir mataku rabun!?" Keluh si lelaki tua.
"Selamat tinggal masa depan. Selamat tinggal masa depan..." Si anak dara bangkit. Si perempuan paruh baya menahan. "Makanlah dulu,"
"Makan apa!? Makan angin!?" Geram si lelaki tua. Membelalakkan mata, menatap ke arah piring makan yang kosong melompong. Si perempuan paruh baya merespon. "Apa aku harus jual diri lagi!?"
"Emang masih ada yang mau!?" Sahut si lelaki tua, sinis.
Si anak dara tak ubahnya seekor kerbau, mendengus. "Gak ada yang perduli dengan diriku."
"Sejak kau melakukan kesalahan itu, kau pikir masih ada yang perduli dengan dirimu! Harusnya kau..."
PLAK...
Sebuah tamparan mendarat ke pipi kiri si lelaki tua.
"Tua Bangka sialan perempuan ini anakmu...!"
"Anakku!? Kau bilang apa!? Dia anakku!? Masak!?"
PLAK...
Kembali sebuah tamparan, pada pipi yang sama, tapi sekali ini datang bukan dari si perempuan paruh baya, melainkan...
"Sekali lagi kau ngomong seperti itu ku campakkan kau ke panti jompo!" Seru si anak dara, dengan telunjuk yang tertuding ke wajahnya. Sontak, si lelaki tua bergidik ngeri.
"Ma, ada apa berapa sisa uang simpanan ku?" Tanya si anak dara sambil membalik posisi tubuhnya, yang kini searah dengan si perempuan paruh baya.
"Tidak banyak," ucap si perempuan paruh baya lirih.
"Berikan semua itu kepada orang-orang yang membutuhkan." Ucap si anak dara lugas.
"Orang yang membutuhkan!?" Si lelaki tua bangkit berdiri. "Kau pikir apa aku tidak..."
"Kau masih punya tangan dan kaki," seru si anak dara, berbalik badan, menatap dengan sorot mata yang menantang. "Lagi pula itu uangku bukan uangmu!"
Si lelaki tua bergidik takut.
"Kenapa aku harus menyumbangkan semua sisa tabunganmu!?" Tanya si perempuan paruh baya dengan lembut.
"Karena aku telah berikrar untuk meninggalkan masa depan, Ma. Mulai hari ini aku bersumpah, untuk tidak lagi memikirkan masa depan. Aku mau hidup untuk hari ini, Ma. Aku tidak mau lagi hidup dengan semua kekhawatiran-khawatiranku akan masa depan. Aku mau hidup untuk hari ini, bukan untuk hari esok." Si anak dara berucap dengan gesture tubuh yang berapi-api, bersemangat ia.
"Hidup menderita? Seumur hidupmu!?" Lagi-lagi si lelaki tua memuntahkan kata-kata yang beraroma sinis.
"Tahu apa kau dengan penderitaan!?" Si perempuan paruh baya bangkit berdiri menudingkan telunjuknya ke arah si lelaki tua. "Sehari-hari kerjamu cuma..."
"Sudah, sudah. Jangan ribut-ribut lagi." Si anak dara melerai. "Malu sama tetangga."
"Sejak kau melakukan kesalahan itu apa kau pikir aku masih punya rasa malu!?" Seru si lelaki tua.
"Apakah kau tidak pernah melakukan kesalahan!? Seumur hidupmu!? Benarkah kau tidak pernah melakukan kesalahan?! Apakah selama ini kau lupa dengan dirimu, lupa kalau kau ini seorang lelaki?! Apakah itu bukan kesalahan!?" Tuding si perempuan paruh baya.
Si lelaki tua diam mematung.
"Aku tidak perduli siapa kalian di hari kemarin dan bagaimana kalian kelak di hari depan. Aku hanya peduli pada kalian di hari ini. Aku hanya ingin hidup bersama-sama kalian mengisi hari-hari sekarang, bukan kemarin ataupun esok." Si anak dara merengkuh kedua sosok yang ada di samping kiri dan kanannya. "Percayalah semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja. Hiduplah untuk hari sekarang, karena esok punya kekhawatiran-khawatirannya sendiri." Si anak dara merapatkan wajahnya kepada kedua sosok itu. "Ma, Pa, hiduplah untuk hari ini." Kata si anak dara mencium pipi kedua sosok itu secara bergantian.
"Bagaimana caranya?!" Tanya si lelaki tua.
Si anak dara menarik nafas dalam-dalam, sebentar kemudian ia menggeleng, kemudian berucap: "aku belum membaca bab yang selanjutnya."
"Sudah ku tebak ini pasti karena buku sialan itu! Motivasi-motivasi bodoh itu! Bagaimana mungkin kau bisa mempercayai omongan si sialan itu, sedangkan anaknya saja tidak dia... Dasar bedebah busuk...! Amuk si lelaki tua menjauh dari si anak dara, melemparkan balik tubuh rentanya ke sofa bermotif bunga-bunga itu, ke satu-satunya sofa yang ada di ruangan itu.
"Hanya ada satu cara untuk hidup dengan meninggalkan masa depan." Ucap si wanita paruh sambil mengusap rambut si anak dara.
"Apa, Ma?!" Tanya si anak dara dengan mata yang berbinar-binar.
"Memusnahkan racun itu. Membakar buku sialan itu, satu-satunya cara adalah dengan membakar buku sialan itu!" Gerung si perempuan paruh baya. "Aku bosan hidup menderita."