***
"Kamu tau apa yang paling kubenci? pergi tanpa pamit" - Ahra.
"Ini aku, orang yang peduli padamu disaat kamu mengabaikanku" - Jiyong.
***
27 hari kemudian...
Ini sudah hari ke-27 sejak Ahra dan Jiyong tidak berkomunikasi, lebih tepatnya Jiyong menghilang dari kehidupan Ahra. Benar-benar menghilang seperti di telan bumi.
Ahra benar-benar benci akan hal ini, dia benci dengan Jiyong yang pergi tanpa pamit setelah dia benar-benar telah jatuh untuk nya.
Bahkan, Jiyong sudah tidak masuk sekolah selama 27 hari lamanya, dengan alasan alfa. Yah, memang Jiyong anak yang nakal, yang suka membolos. Tetapi, paling tidak dia membolos hanya sampai 3 hari, tak sampai 27 hari seperti ini.
ini yang membuat Ahra cemas. dia ingin berkunjung kerumah Jiyong, tapi.. ia tidak tahu dimana tempat tinggalnya.
Ahra benar-benar putus asa.. setelah hilangnya Jiyong dari hari-hari nya.. Ahra merasa ada yang kurang.
"Hiks.. "
Suara isakan Ahra yang terdengar memilukan siapun pasti yang mendengarnya akan merasa iba padanya.
seperti Sunhee, sahabatnya yang sekarang tengah duduk disampingnya di area kantin sekolah, Sunhee menatap Ahra iba.
Sunhee baru kali ini melihat Ahra yang terlihat kosong.. Karena, selama Sunhee berteman dengan Ahra ia tidak pernah melihat kekosongan pada sorot mata Ahra yang bulat itu.
Ahra akuin ia sangat muna. ia selalu marah-marah pada Jiyong, selalu mengusirnya saat Jiyong sedang mengganggunya, dan selalu mengabaikan Jiyong, tapi..
itulah Ahra, ia tidak bisa menunjukkan rasa yang sedang ia rasakan, Ahra hanya terlalu gengsi untuk menunjukkan nya.
"Hiks.. "
"Ahra, plis jangan nangis lagi, jangan buat gue bingung kayak gini. lo tau 'kan kalo Jiyong emang suka ngilang" Ucap Sunhee sambil mengelus pundak Ahra guna menenangkan sahabat nya itu.
Ahra menoleh, menatap manik Sunhee. lalu ia menghapus jejak air mata yang masih membekas di pipinya dengan punggung tangannya.
"Iya, tapi ini udah 27 hari. G-gue.. "
"Kangen?"
Sunhee membalikkan tubuh Ahra agar menghadapnya, dan mulai menatap nya lembut.
"Kenapa lo gak ungkapin aja perasaan lo dari awal kalo emang lo suka sama dia.. Ahra, gini ya sesekali lo harus lawan rasa gengsi lo, jadi lo lebih milih Jiyong pergi dari lo karena dia udah nyerah buat ngejar lo?" Ucap Sunhee serius.
Ahra terdiam sejenak, dan ia memeluk erat Sunhee, lalu beberapa detik kemudian suara isakan kembali terdengar.
Sunhee menghela nafas kasar, sambil membelai rambut hitam legam milik sahabatnya.
"Udah jangan nangis lagi, emang lo mau nangis sampe kapan?" Tanya Sunhee melepaskan pelukan Ahra dari dirinya.
"Sampe dia dateng.. " Balas Ahra sambil mengucek keda matanya yang sudah dipastikan bengkak akibat terlalu banyak menangis dari pagi.
"Ahra.."
Tiba-tiba sebuah suara bariton yang kedua gadis itu kenali membuat atensi Ahra dan Sunhee beralih pada pintu masuk kantin yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Seperti suara...
"Jiyong..?"
Jiyong menatap Ahra dengan sebuah senyum Fake.
Tanpa pikir panjang Ahra berlari kearah Jiyong, lalu ia memeluk lelaki tinggi itu dengan erat, seolah takut kehilangan untuk yang kedua kalinya.
Ahra tidak peduli, sekarang ia akan melawan rasa gengsi pada dirinya.
Dan kini mereka berdua menjadi pusat perhatian Siswa/i yang berada di kantin sekolah.
Jiyong tidak membalas pelukan Ahra, ia lantas melepaskan pekukannya dan mulai menarik Ahra untuk mengikutinya.
Hingga mereka tiba di taman belakang gedung sekolahnya. Ahra tidak tahu kenapa ia dibawa kesini oleh Jiyong.
"Ahr--"
"Kemana aja, kemana aja selama 27 hari ini!? kenapa lo gak masuk sekolah, kenapa lo gak gangguin gue, kenapa lo gak muncul dihadapan gue dengan muka konyol lo itu! Kenapa, kenapa Jiyong!?" Potong Ahra yang sudah kembali menahan tangisnya.
setelah berucap panjang itu, Ahra merasa gengsi dibuatnya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sambil menahan suara isakan yang bisa saja akan terdengar oleh Jiyong.
Jiyong menghela nafas kasar.
"Ahra, denger! gue capek. selama 3 tahun belakangan ini udah cukup bertahan. gue udah sabar dengan lo yang selalu ngabain gue! seberapa pun gue berusaha.. hasilnya nihil. lo gak suka sama gue 'kan!? Bahkan, gue sabar selama ini lo caci maki gue, lo marah-marah ini gue, lo nyuruh gue pergi. Apapun yang gue lakuin untuk lo ga ada artinya, Ahra.. " Ucap Jiyong mengungkapkan rasa yang terpendam di hatinya.
Dan entah kenapa, air matanya oun lolos begitu saja seiring dengan kata-kata yang ia lontarkan, yang tertahan sejak beberapa hati terakhir.
Jiyong menghapus kasar air matanya, lalu kembali menahan bendungan air di pelupuk matanya. air matanya pun tahu, seberapa lelah dan kecewanya dia saat ini.
dan dilain sisi, Ahra hanya bisa terisak. ia berpikir bahwa ini memang salahnya, ini memang salah Ahra. harusnya ia jujur dari awal dan tidak memperdulikan rasa gengsinya untuk mengungkapkan perasaanya. ini memang salahnya, ia seharusnya tidak menyalahkan Jiyong yang menghilang darinya, Ahra sadar pasti Jiyong sudah berada di titik lelahnya.
dan kali ini, Ahra benar-benar menyesal karena menuruti gengsinya.
"Maaf" Hanya kata itu yang mampu Ahra lontarkan saat ini. ia masih merasa takut untuk menjelaskan semuanya. Jiyong mungkin sudah terlalu kesal dan kecewa padanya.
"Setelah hari kelulusan minggu depan, gue benar-benar pergi dan hilang dari hidup lo. gue janji gak akan ganggu kehidupan lo lagi" Ucap Jiyong, yang membuat hati Ahra terasa berdenyut sakit dibuatnya.
ia mendengar perkataan Jiyong barusan, ia merasa hatinya ditikam ribuan paku menembus ulu hatinya.
"Jangan pergi Jiyong... "
Jiyong tersenyum, menepuk puncak kepala Ahra dengan pelan.
"Setelah ini.. lo bakal hidup tenang tanpa gangguan gue." Ucap Jiyong, sebelum ia berjalan meninggalkan Ahra yang terduduk diatas rumput dengan suara tangisan yang memilukan.
"Jiyong... gue sayang sama lo." Gumam Ahra, setelah Jiyong telah hilang dari pandangannya.
Ahra merasa untuk menjelaskan seluruh perasaanya pada Jiyong sudah terlambat, benar-benar terlambat.
dan lagi, ia merasa tak pantas untuk Jiyong si most wanted sekolahnya, ia hanya siswi biasa yang tidak berhak untuk bersama lelaki idaman para gadis.
***
END.